[EXOFFI FREELANCE] Sunflower (Chapter 8)

sunflower-bridal-bouquet

Judul                     : Sunflower Chapter 8

Author                  : Himawari

Length                  : Chapter

Genre                   : Sad Romance

Rating                   : PG-17

Main Cast            : Xi Luhan, Lee Dae Ah

Oh Sehun

Disclaimer           : Ini fanfiction murni dari pemikiran saya sendiri terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

Preview Chapter 7

Dua mobil jeep berlogo panda dengan bendera China telah tiba di depan Kantor pusat konservasi satwa liar Pulau Samo. Luhan dan teman lainnya sudah bersiap di halaman untuk menyambut kedatangan para relawan dari China tersebut. Para rombongan pun segera turun dan menuju ke gedung sederhana tersebut untuk disambut. Selagi menyambut relawan dari negeri tirai bambu itu, Luhan dan Sehun terkejut bukan main melihat teman SMA-nya berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

“Lee Dae Ah?”

“ Luhan, Sehun?”

Ketiganya saling membelalakkan mata terkejut dengan kedatangan orang di depannya. Langsung saja Luhan menghampiri gadis itu dan menjabat tangannya sambil mengacak pelan surai Dae Ah. “Rupanya kau menjadi dokter hewan sekarang. Kau terlihat semakin cantik, Dae Ah ya.” Pujian Luhan sontak membuat pipi gadis itu merona. “Ah kau bisa saja Luhan-ah.” Balas Dae Ah. “Oh iya, kau akan menjadi partner Sehun kali ini, dia pasti bahagia sekali. Jadi, jangan buat dia kecewa lagi ya.” Ujar Luhan yang hanya mendapat respon senyuman dari Dae Ah. Sehun yang sedari tadi berada tidak jauh dari merekapun mulai melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Dae Ah. “Senang bertemu denganmu Dae Ah.” Gadis itupun membalas uluran tangan Sehun sambil tersenyum manis pada namja tersebut. “Aku juga, kau terlihat berbeda Sehun-ah. Tidak menyangka kita bisa memilih profesi yang sama.”jawab Dae Ah. “Kau juga terlihat berbeda, aku harap kita bisa jadi partner yang baik.” Dae Ah kembali tersenyum mendengar perkataan Sehun. “Sehun-ah kau bisa ajak Dae Ah keliling terlebih dahulu. Kurasa kalian butuh waktu berdua untuk melepas rindu kalian.”ucap Luhan yang membuat air muka Dae Ah langsung berubah masam, ia tersadar bahwa sudah tidak ada harapan untuk memiliki hati namja tersebut mengingat ia sudah menikah. Kenyataan yang begitu pahit membuatnya sulit untuk menelannya.

“By the way, kenapa kau bisa ada di sini? Kudengar kau tampil di TV.” tanya Sehun memulai pembicaraan. Dae Ah menyesap sebentar secangkir kopi panasnya sebelum menjawab pertanyaan dari temannya ini. “Aku tidak tau, tiba-tiba saja ada orang lain yang menggantikanku di acara tersebut, dan mereka malah memberiku tiket pesawat untuk ke sini. Sepertinya ada orang berkuasa yang ingin menjauhkanku dari anaknya. Tapi, bagus juga di sini aku malah bertemu denganmu dan Luhan.” Ucapnya sambil menatap lurus pemandangan hijau di depannya yang menyejukkan mata. Sehun mengangguk mendengar penjelasan dari temannya itu. “Bukankah pemandangan di sini sangat indah? Itulah yang membuatku nyaman di sini, aku yakin kau akan betah di sini dan enggan untuk kembali ke China.” Dae Ah hanya tertawa ringan, membenarkan perkataan Sehun tadi. Menurutnya, di sini tidak buruk tidak ada suara bising kendaraan, tidak ada polusi, tenang dan juga sejuk. Walaupun ia harus tabah karena setiap hari harus melihat Luhan yang membuatnya sakit hati. “ Memangnya sudah berapa lama kau tinggal di sini Sehun?” tanya Dae Ah. “Sekitar 6 bulan.” Jawab Sehun lalu menyesap kopinya. “Luhan juga?” tanya Dae Ah kembali. “Iya, tapi setelah 3 bulan dia kembali ke Korea untuk persiapan pernikahannya. Dan kembali kesini sebulan yang lalu setelah pernikahannya gagal.” Mendengar hal itu, Dae Ah yang sebelumnya sedang meneguk kopinya langsung tersedak karena terkejut. Ia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya sangat gembira mendengar berita tersebut. Uhk Uhk. “Gwaenchanayo?” gumam Sehun sambil menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu. Di dalam hatinya, ia tau bahwa Dae Ah pasti senang sekali mendengar berita tadi. “Na gwaenchanha, aku hanya terkejut, kukira ia benar-benar sudah menikah. Memangnya kenapa kok bisa gagal?” Ucap Dae Ah. “Sebenarnya mereka di jodohkan, Luhan juga tidak benar-benar menyukai gadis itu dan juga sebaliknya. Gadis itu yang membatalkan pernikahan mereka karena mendapat surat bahwa ia lolos beasiswa Master di Inggris.” Sedangkan Dae Ah yang mendengarnya hanya bisa menganggukkan kepalanya. “Ok, sekarang aku akan menemanimu berkeliling di tempat konservasi.” Ajak Sehun lalu menggandeng tangan Dae Ah dan membuat gadis itu mengikuti langkahnya.

“ Ini kandang orangutan, yang itu namanya Dibi dia baru saja sembuh dari luka tembak. Aku yang merawatnya selama ini.” Dae Ah bergidik ngeri mendengar kata tembak dan menatap iba seekor orangutan di depannya. Matanya kembali mengikuti arah mata Sehun mengamati satu ekor lagi orangutan yang sedang hamil. “Namanya Sally, dia sedang hamil mungkin sebentar lagi bayinya akan lahir.” Dae Ah mengangguk paham akan penjelasan namja di sampingnya ini. Selanjutnya Sehun melangkahkan kakinya menuju kandang harimau di sana terdapat satu harimau yang sedang tertidur pulas. “ Dia Jackson, kau harus berhati-hati dengannya kalau marah ia sangat menakutkan. Awwrrrr.” Dae Ah mencubit gemas hidung Sehun yang membuatnya terkejut atas raungan namja itu. “Kau sungguh menakutkan tuan Oh.” Cibir Dae Ah. “Sebenarnya masih adalagi yang belum aku kenalkan padamu tapi kita harus segera ke markas sekarang.” Dae Ah mengangguk dan kembali mengikuti Sehun.

Luhan terlihat sibuk menata beberapa makanan di meja makan bersama anggotanya yang lain. Tak lama kemudian mereka telah duduk dengan rapi menunggu untuk mengisi perut mereka. “ Where is Sehun?” tanya seorang anggota yang menyadari ketidak hadiran namja tersebut. “I am here.” Ucap Sehun yang tiba-tiba datang bersama Dae Ah di belakangnya. Langsung saja mereka mengambil tempat duduk, Dae Ah berada di antara Sehun dan Luhan. “ Sudah selesai kencannya?” tanya Luhan menggoda Dae Ah. “Kencan apanya?”jawab gadis tersebut kesal. Selanjutnya mereka memulai makan siang mereka setelah itu anggota baru memperkenalkan diri dan kemudian Luhan menyampaikan hal-hal penting yang harus mereka lakukan di sini. Dan juga ia mengumumkan bahwa nanti malam akan ada pesta penyambutan anggota baru.

Dae Ah sedang menata bajunya dan meletakkannya ke lemari pakaian. Kamar barunya tidak terlalu buruk ia menyukai konsepnya, sangat natural. Di sana, ia tidak sendiri ada seorang teman yang akan jadi roomatenya, namanya Betty ia Pecinta Lingkungan dari Turki dan sudah sebulan yang lalu berada di sini. Tok Tok Tok. Mendengar suara ketukan pintu Dae Ah pun langsung membukanya melihat siapa yang datang. Ia terkejut melihat Luhan berdiri di ambang pintu kamarnya. “Bagaimana kamarmu, kau suka?” tanya Luhan. “I..iiya.” jawab Dae Ah gugup. “Aku ingin mengajakmu ke pasar untuk membeli bahan-bahan pesta nanti, kau tidak sibukkan?” tanya Luhan yang langsung saja mendapat anggukan dari Dae Ah. Gadis itupun kembali ke kamarnya dan segera mengambil jaket dan tas slempang kecilnya. Ia kemudian mengikuti Luhan menuju mobilnya.

‘Brrmmm’ Luhanpun segera melajukan mobilnya menuju pasar yang terletak di pusat kota pulau itu. Sedangkan yeoja di sampingnya hanya mengalihkan pandangannya ke jendela menikmati semilir angin sejuk yang berhembus melewati jendela mobil yang sengaja tidak ia tutup, sesekali ia mengulas senyum melihat hamparan hijau yang menyejukkan mata. Sudah lama tinggal di kota besar membuatnya jarang menikmati suasana asri seperti ini.

Everytime I see you geudae nuneul beoltaemyeon

Jakku gaseumi tto seoleyeowa

Nae unmyeonghi jyo sesang kkeutchirado

Jikyeo jugosipeo dan han saram (Chen ft. Punch Everytime OST DOTS)

Seketika Dae Ah langsung menoleh ke arah namja di sampingnya setelah indra pendengarannya menangkap suara dari speaker mobil tersebut. “Suasana terlalu sepi jadi aku nyalakan musiknya. Bagaimana kau suka?” Dae Ah menganggukkan kepala. “Aku suka lagunya.” Ucap Dae Ah. “Perjalanannya masih jauh, kalau kau mengantuk tidur saja.” Gumam Luhan dengan mata yang masih terfokus pada jalanan berkelok di hadapannya. “Hei, kita sudah tujuh tahun tidak bertemu kenapa kau hanya diam saja, tidakkah kau penasaran tentang kehidupanku selama ini.” Luhan kembali mengeluarkan suaranya tidak tahan suasana canggung diantara mereka. “Kau ingin aku bertanya apa?” tanya Dae Ah. “Sudahlah lupakan saja, kau memang tidak tertarik dengan cerita hidupku Dae Ah-ya, Oh ya bagaimana denganmu? Ku dengar kau berpacaran dengan orang kaya di sana, lalu kenapa kau meninggalkannya dan malah kesini?” Dae Ah tersenyum menanggapi perkataan Luhan, bukannya ia malah sangat tertarik untuk mendengar cerita Luhan tapi ia hanya menahannya. “Kita sudah putus makanya aku di sini.” Luhan mengerutkan keningnya seolah meminta penjelasan lebih dari yeoja itu. “Kau pasti sangat sedih karena gagal jadi Cinderella.” Goda Luhan. “Iya, bahkan aku di usir dan diasingkan di sini, Luhan-ah.” Ucap Dae Ah dibuat semelas mungkin membuat Luhan tertawa melihatnya. “Tapi berkat itu kau bisa bertemu dengan pangeran lainnya yang lebih tampan dan ia sedang berada di sampingmu saat ini.” Ucap Luhan membuat Dae Ah mendesis mendengarnya.”Kau percaya diri sekali sih, Oh ya bukannya kita senasib kau juga gagal menikah dengan pacarmu itu kan?” “Hey, siapa yang memberi taumu? Ucap Luhan terlihat kesal. “Sehun yang memberitahuku, bahkan pacarmu lebih memilih beasiswanya daripada dirimu. Sungguh menyedihkan.” “Ah itu tidak masalah sih bagiku, toh kita juga hanya dijodohkan.” Ucap Luhan. “ Oh ya, aku penasaran dengan Sora apa kalian sudah putus?” “Hahaha,,, bukankah kalian bermusuhan? Sudah baikan belum?” gumam Luhan sambil tertawa mengingat perkelahian Dae Ah dan mantan pacarnya dulu. “Aku putus dengannya sudah lama.” Lanjut Luhan, Dae Ah yang mendengarnya menghela nafas lega. “Kau senang ya?” tanya Luhan. “Iya, dia itu tidak cocok untukmu.” Ucap Dae Ah yang membuat Luhan tersenyum. “Kau sok tau.”goda Luhan lagi.

Akhirnya merekapun sampai di pasar dan segera membeli bahan-bahan yang ada di dalam catatan kecil di tangan Dae Ah. Setelah hampir tiga puluh menit mengelilingi tempat itu untuk berbelanja merekapun segera kembali ke mobil dengan dua kantung plastik tebal yang di bawanya.

***

Luhan turut menyumbangkan suaranya untuk memeriahkan pesta penyambutan, sedangkan yang lain ada yang memanggang barbeque dan mempersiapkan minuman. Sehun dan Dae Ah terlihat sedang menuangkan jus ke beberapa gelas di atas meja sesekali mereka ikut bernyanyi lagu yang di bawakan Luhan. Merekapun bersenang-senang malam itu sampai larut sebelum melaksanakan tugas yang berat esok hari.

Seorang yeoja terlihat sedang memakai jas putih kebanggaannya setelah itu ia menata rambutnya membuat penampilannya sempurna hari ini. Sedangkan Sehun yang juga memakai jas putih terlihat sedang mengecek beberapa persediaan obat-obatan, matanya dengan teliti menelurusi benda yang tersusun rapi di dalam lemari kaca tersebut sesekali tangannya menuliskan sesuatu di buku catatan yang ada di tangannya.

“Ada yang bisa aku bantu?” Sehun langsung saja menoleh mendengar suara yang mengajaknya berinteraksi. Ia pura-pura menghela nafas kesal melihat yeoja di depannya.

“Baru hari pertama kau sudah terlambat.” Omel Sehun pada gadis itu.

“Mianhae, aku tidak tau kau datang sepagi ini. Jadi apa yang harus aku kerjakan sekarang?” Sehun menghentikan aktivitasnya mengecek persediaan obat-obatan dan memberikan buku catatan dan bolpoin itu pada Dae Ah.

“Kau lanjutkan ini saja, kau centang daftar yang ada dan tulis berapa jumlahnya. Setelah itu kau cek keadaan Dibi dan Sally untuk Jackson biar aku yang mengurusnya. Kau mengerti?” Dae Ah mengangguk paham.

“Oh ya, aku akan ke hutan bersama Luhan dan yang lain ada rusa yang terjebak dan ia terluka. Aku harus kesana karena tidak mungkin untuk membawanya kemari. Kalau kau butuh bantuan kau bisa bilang ke paman Jack.” Terang Sehun.

“Iya, aku mengerti.”

“Baiklah aku pergi dulu, kerjakan tugasmu dengan baik ya.” Ucap Sehun sambil menepuk bahu gadis itu.

“Iya, kau juga hati-hati ya,” ucap Dae Ah yang langsung membuat Sehun mengacungkan jempolnya.

***

Luhan bersama timnya menyusuri hutan untuk menyelamatkan rusa itu. Suara kicau burung yang terdengar seakan menghidupkan suasana di hutan belantara tersebut. Jalanan yang lembab dan terjal dengan akar-akar pohon besar yang timbul di permukaan tanah tersebut seakan menjadi rintangan bagi mereka yang ingin melewatinya di tambah pencahayaan yang kurang karena sinar matahari yang terhalang oleh dahan-dahan pohon yang menjulang tinggi. Tapi mereka semua sudah terbiasa akan hal ini sudah bertahun-tahun mereka berlatih untuk ini tak mustahil jika dalam waktu yang sedikit lebih cepat mereka sudah sampai dan melihat seekor rusa jantan yang kakinya terjepit oleh batang pohon yang tumbang, terlihat beberapa bercak darah akibat itu. Sehun segera mendekati rusa yang terlihat kesakitan itu dan meminta yang lain untuk mengangkat batang pohon yang lumayan besar itu. Sehun dengan keterampilannya sebagai veterinarian mengobati kaki rusa itu dengan cermat, kemudian mereka membawanya ke konservasi untuk mendapat pengobatan yang lebih.

“Finish.” Ucap Dae Ah sambil meregangkan kedua lengannya setelah selesai mengerjakan tugas pertamanya, lalu ia menaruh buku itu ke meja Sehun. Ia melihat meja temannya tersebut berantakan dan ia pun merapikannya, tidak sengaja ia melihat foto namja itu dengan Luhan di bingkai yang di letakkan di sebelah tempat alat tulis, ia kemudian mengambilnya dan memandang foto tersebut sambil tersenyum. ‘Mereka benar-benar sahabat sejati’ ucapnya dalam hati. Kemudian ia menaruh kembali bingkai tersebut dan meninggalkan meja Sehun. ‘Tuk’ Dae Ah membalikkan badannya setelah mendengar suara benda jatuh, ternyata bingkai foto tadi, ia pun menempatkannya seperti semula. “Kenapa bisa jatuh” ucapnya heran, entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak tapi ia pun segera menepis prasangka-prasangka buruk dalam pikirannya.

Luhan bersama timnya kembali menyusuri hutan untuk kembali ke konservasi sambil membawa rusa malang tersebut. Ia berjalan di belakang sambil membawa tongkat yang berasal dari ranting pohon. ‘Srek’ saat melewati jurang tiba-tiba mereka mendengar suara orang terpeleset dan ternyata itu adalah Luhan. Ia kurang memperhatikan jalan sehingga bisa terperosok jatuh dan kepalanya membentur batu, Sehun yang berada di dekat Luhan dengan sigap menolong Luhan dan membawanya yang tidak sadarkan diri ke atas. Ia memberikan pertolongan pertama pada sahabatnya itu dengan peralatan medis yang di bawanya. “Benturan di kepalanya membuat luka yang lebar sehingga harus di jahit, aku tidak bisa melakukanya di sini, sebaiknya kita cepat membawanya ke camp.”

Dae Ah yang sedang memeriksa tekanan darah Dibi tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan Luhan yang sedang tidak sadarkan diri di bopong oleh teman-temannya. Ia kemudian segera meletakkan Dibi kembali ke kandang dan mencari Sehun.

“Sehun-ah apa yang terjadi?” Tanya gadis itu khawatir.

“Luhan tadi terpeleset dan kepalanya membentur batu, aku harus segera mengobatinya.”

“Omo! Baiklah aku akan membantumu.”

To Be Continued

3 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Sunflower (Chapter 8)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s