[EXOFFI FREELANCE] Old Wounds -(Chapter 1)

20161111132030.jpg

JiYeol Park Present

Old Wounds (Chapter 1)

Staring

EXO’s Kai

OC’s Kim Jisoo

EXO’s Sehun

Genre

Romence, Idol – life, Merried!, Angst.

Lenght

Chaptered

Rating

PG 17

disclaimer

This story is pure mine. Dont read if you dont like this story, this story just a fiction with alternative universe plot. Hope you like this story and try to be a good readers, dont bash and give me your comment. Thanks!

 

 

.

.

.

.

.

.

.

.

 

Aku terjebak dalam sebuah pernikahan tak berujung dan menyakitkan, disisi satu aku harus mempertahankan pendirianku sebagai seorang perempuan dan disisi lain aku harus menyelamatkan hidup kedua orangtuaku. Aku, hampir terjatuh jika saja kedua kaki ini diterpa lagi oleh angin kencang yang tak mungkin aku hadapi sendiri. Aku juga tidak berani meminta orang lain untuk membantuku menghadapi angin ini, aku tidak ingin menyusahkan mereka dan ini sungguh menyedihkan.

 

 

Aku, Kim Jisoo. Harus membuang jauh jauh impianku untuk bisa menjadi seorang publik figur karna penyakit yang menderaku selama sepuluh tahun belakangan, dan kini aku hanya akan menempuh jalan lain. Yaitu meniti cita citaku yang lain, aku ingin menjadi pengacara. Tapi keadaan ekonomi keluargaku tengah runtuh kedasar sehingga ayahku memiliki banyak hutang pada para rentenir, dan salah satu rentenir itu sangat menantikan saat saat dimana ayah mencapai titik lemahnya agar ia bisa menggapaiku sebagai jaminan. Ia ingin aku menikahi putranya, dan tentu saja ayah serta ibuku menentangnya dengan keras. Tapi aku malah mengalah karna iming iming yang akan mereka berikan pada keluargaku jika aku menikah dengan anak mereka, mereka akan melunasi semua hutang ayahku dan membantu keluargaku untuk bangkit lagi. Memang siapa yang tidak tergiur?

 

 

Sehingga kini aku terjebak dalam pernikahan tak berujung dan serba salah. Salah, jika aku memilih berhenti maka aku akan sangat berhutang budi pada keluarga suamiku. Salah juga jika aku memilih untuk tetap bertahan sementara aku tidak bisa lagi terlalu bebas seperti dulu dan mengalami banyak tekanan dalam menjalani pernikahan yang kukira akan mulus saja entah sampai kapan, tapi ternyata tidak. Suamiku selalu benar, dan aku selalu salah. Dan aku mengerti, ia tidak menyukai pernikahan ini karna ia tidak pernah memandangku sebagai seorang perempuan yang telah resmi secara hukum sebagai istrinya. Ia hanya menganggapku sebagai perempuan benalu yang selalu memanfaatkan keluarganya, itu menyedihkan tapi tak selamanya salah. Karna sedikit banyak aku memang mengharapkan uang yang selalu diberikan ibu mertuaku untuk aku berikan lagi pada kedua orangtuaku yang tengah sakit, kenyataan itu membuatku merasa hina disaat bersamaan.

 

 

Aku kenal siapa suamiku, dia adalah sosok yang dulu sering aku tonton saat tampil ditelevisi bersama teman teman grupnya, ia yang didepan dan dibelakang layar berbeda. Semua idol kurasa memang begitu, mereka dituntut untuk tampil sebagai sosok yang sempurna. Ia bukan orang yang ramah; setidaknya didepanku, dia juga bukan orang yang hangat, tapi ia juga bukan orang yang jahat, walaupun didalam pikiranku pria itu kini sudah mencukupi untuk aku beri label kejam.

 

 

Aku tidak pernah menuntut banyak, sungguh. Selama uang dari ibunya terus mengalir ke rekening ayahku, aku tidak mempermasalahkan intensitasnya pulang keapartemen kami yang bahkan bisa aku hitung dengan jari selama setengah tahun belakangan. Aku tidak perduli dengan dengan rumor kencannya diluar sana, karna sedari awalpun aku telah tahu diri bahwa ia tak pernah rela menikahiku sehingga cepat lambat aku akan menemukan berita yang mengatakan bahwa pria itu memiliki hubungan dengan seorang perempuan. Dan aku tahu apa yang ia lakukan dibelakang layar, ia berkencan dengan seorang gadis, mereka tidur diapartemen yang sama, mereka berkencan dibelakangku. Aku tahu semua dari ibu mertuaku, dia sangat menyayangkan dan menyesali kelakuan kurang ajar putranya. Tapi aku dengan baiknya mengatakan itu wajar, bahwa ia masih muda dan masih memiliki banyak rasa penasaran. Aku meyakinkan wanita itu, bahwa suamiku itu akan sadar nantinya dan berhenti sendiri. Walau semua adalah kebohongan, aku tahu ia tak akan kembali karna penantian akhirnya hanyalah gadis itu, aku hanyalah sebagai persinggahan sementara.

 

 

Dan berusaha untuk menyembunyikan kebenaran bahwa aku bahkan lebih muda dari suamiku, aku dengan bodohnya bersikap sok dewasa padahal aku juga ingin mengamuk dan menyesali jalan hidupku yang ternyata rumit ini. Aku tidak mencintainya, tapi selayaknya seorang istri aku akan cemburu dan merasa kurang nyaman juga ketika mendengar suaminya dekat dan bahkan berkencan dengan gadis lain. Itu membuat hidupku seperti sebuah permainan tak berharga, seharusnya ia mengatakan tentang hubungannya terlebih dulu padaku dan berusaha keras untuk menutupinya demi harga diriku. Tapi, jangankan menganggap tinggi harga diriku, dia bahkan menganggapku sama hinanya dengan gadis jalang diluar sana.

 

 

 

**

 

 

 

“Oh, kau datang.” Ucap Jisoo seadanya tanpa menoleh kearah sosok yang berjalan didepannya.

 

 

“Hm.” Sosok itu ikut menjawab seadanya.

 

 

Pria itu sibuk melepas mantel coklat yang ia pakai dan menaruhnya asal disandaran sofa dekat jisoo duduk bersimpuh sambil membaca majalah sekarang. Gadis bersurai hitam itu mengalihkan atensinya dari majalah, menaruh majalah itu kembali ketempat asalnya kemudian memungut mantel milik suaminya yang tergeletak disandaran sofa hitam tersebut. Sementara pria itu berjalan lunglai kearah dapur.

 

 

Seperti sudah kebiasaan. Jisoo mulai hafal dimana pria itu biasa menaruh mantelnya, dan kini jisoo menggantungkan mantel coklat tersebut disebuah gantungan dekat lemari pakaian mereka. Gadis itupun kembali lagi menuju arah dapur menyusul suaminya, yang kini telah duduk lesu disalah satu kursi meja makan. Terlihat lelah, ia bahkan tengah menutup matanya.

 

 

“Kau lapar?” Tanpa perlu bertanyapun sebenarnya jisoo sudah tahu bahwa suaminya itu tengah menahan lapar, ia hanya sedikit mengusung formalitas.

 

 

“Masak apa saja.” Jawab pria itu singkat.

 

 

Jisoo melirik sebuah jam yang terpatri didinding belakang pria itu, sudah hampir jam dua belas malam. Sebenarnya hal ini lebih baik dari saat awal pernikahan, pria itu bahkan tak sedikitpun menghiraukan eksistensi jisoo diapartemen itu dan pernah meninggalkan acara sarapan pagi tanpa mencicipi satupun makanan diatas meja. Tapi itu dulu, kini pria itu mulai bisa sedikit bersikap manusiawi pada perasaan jisoo. Setidaknya sedikit karna jisoo juga tidak terlalu berharap lebih.

 

 

Gadis itu tanpa sadar menguap karna kantuk yang tiba tiba menderanya. Tangannya tanpa sadar terus bergerak memotong sosis yang akan ia goreng sebentar lagi, seperti sudah sangat terbiasa. Ia hanya perlu memasak nasi goreng kimchi dengan tambahan sosis untuk makan malam suaminya, karna entah kenapa pria itu seperti sangat menyukai nasi goreng kimchi. Sembari menunggu air panas yang tadi ia panaskan gadis itu memulai prosesi menggoreng dan memasukkan semua bahan kedalam wajan yang panas.

 

 

Semua selesai, jisoo mengambil piring besar dirak piring kemudian menaruh nasi goreng yang baru ia masak disana dan menambahkankan potongan sosis serta telur mata sapi keatas nasi goreng yang masih mengepul panas. Ia juga membuat teh hijau yang ia taruh bersamaan keatas meja, tepat dihadapan suaminya yang telah menunggu sejak tadi dan beberapa kali terpergok tengah mengamatinya.

 

 

“Kai, Kau datang tiba tiba sekali.” Gumam jisoo sembari menarik kursi dihadapan suaminya.

 

 

“Apa kau selalu seperti ini? Menungguku?” Tanya jongin sembari memasukkan suapan pertama kedalam mulutnya dengan suara tak berminat.

 

 

“Tidak, aku hanya sedang menonton sebuah film yang baru ku beli.” Kilah jisoo.

 

 

“Jangan terlalu sering keluar sendiri, para wartawan sering menguntitku pergi ke apartemen ini. Semua hanya masalah waktu sampai mereka berubah pikiran dan tak memikirkan uang lagi.” Sahut jongin.

 

 

Gadis itu hanya bisa mengangguk lemah.

 

 

Semua bohong. Jisoo memang kadang menunggu jongin hingga tengah malam. Kalau ia tidak bisa menjadi istri yang benar benar dianggap sebagai ‘istri’ oleh jongin, maka biarlah dia bersikap layaknya istri yang baik untuk dirinya sendiri. Agar ia tidak merasa seperti sampah dikehidupan pria itu.

 

 

“Kau sudah makan malam? Kau juga sudah meminum obatmu? Aku tidak mau nantinya menemukan mayat membusuk diapartemenku.” Ucap jongin acuh.

 

 

Jisoo hanya mengangguk lemah, ras kantuk sudah sangat mengganggunya sehingga ia terlalu kehilangan mood untuk menanggapi ucapan jongin.

 

 

“Taruh saja piring kotor itu diwestafel bersama piring kotor lain, aku akan mencuci mereka besok pagi. Aku duluan.”

 

 

Jisoo berdiri dari kursinya. Jongin menatap punggung jisoo yang berbalik menjauhinya. Sekilas ia menghentikan acara makannya dan memperhatikan langkah dari gadis berpiyama biru muda tersebut dengan pandangan tak terbaca. Setelah jisoo benar benar menghilang dibalik dinding jongin melanjutkan kembali acara makannya yang sempat tertunda.

 

 

Ponsel yang berada diatas meja berdering dan menyita perhatian jongin. Ia melirik sebentar dan mendapati nama Krystal tertera disana, tanpa bubibu pria itu menjawabnya. Sehingga kini ia bicara sambil makan.

 

 

“Oeh, kau belum tidur?”

 

 

Senyum jongin sekilas muncul saat ia melemparkan kata pertama untuk si penelpon diseberang sana.

 

 

 

 

**

 

 

 

 

Jongin berusaha keras untuk tidak terlalu menimbulkan bunyi yang berisik saat membuka pintu kamar, berharap banyak bahwa gadis yang tengah bergelung didalam selimut biru tua itu sudah tertidur pulas. Lampu dikamar sudah dimatikan semua sehingga sumber cahaya dikamar itu hanya berasal dari dinding kaca yang tirainya terbuka menampakkan sinar bulan setengah dan cahaya dari gedung gedung pencakar langit yang belum tidur disekeliling mereka.

 

 

Sedari awal jongin memang sengaja membeli apartemen itu karna kamar utamanya memiliki dinding kaca yang membuat penghuninya bisa melihat pemandangan luar dengan leluasa. Jongin tahu benar dari ibunya bahwa jisoo bukanlah gadis yang suka berjalan jalan keluar rumah dan lebih menyukai aktivitas didalam ruangan terutama kamar, dan jongin berharap jisoo tidak terlalu merasa terkurung lagi setelah pindah kekamar utama itu. Sejak awal jongin tidak bermaksud untuk bersikap jahat pada jisoo, tapi mengingat tujuan gadis itu menerima pinangan ibunya hanya untuk uang. Jongin mulai tidak menyukai sifat jisoo yang terkadang memang materialistis walau nyatanya gadis itu memang terlihat sederhana dari tampak luar. Ditambah gadis itu bukanlah gadis yang suka berjalan jalan tak jelas apalagi pergi ke mall untuk sekedar berbelanja, gadis itu hanya akan pergi keluar saat kuliah ataupun berbelanja bulanan. Sebenarnya jisoo cukup baik dan wajah gadis itu tentu sudah lebih dari cukup untuk membuat jongin terpikat, tapi jongin sangat objektif. Ia bukanlah orang yang memandang seseorang dari wajahnya saja, sehingga sampai saat ini pria itu belum berani untuk membuka jalan pada hubungan yang lebih serius dan intens layaknya suami istri bersama jisoo. Ia takut membangun komitmen bersama gadis itu, terlebih sekarang ia memiliki seorang gadis yang ia cintai dan sudah ia kagumi sejak bertahun tahun lalu.

 

 

Rasa letih tak menyurutkan niatan awal jongin untuk pergi membersihkan diri. Ia bicara dengan krystal selama hampir satu jam diruang tengah, dan jongin harap suaranya yang berisik dan kadang diiringi tawa itu tak menggangu tidur jisoo. Seharusnya jisoo sadar bahwa dirinya masih memiliki hati dan tidak akan membuat gadis itu merasa tidak nyaman selama berada didalam rumahnya dan menjalin hubungan terikat bersamanya.

 

 

Pria itu masuk kedalam kamar mandi sembari membawa sebuah handuk. Mengisi bak mandi dengan air hangat kemudian melepas semua kain yang melekat pada tubuhnya, membiarkan air hangat itu menyentuh setiap inci permukaan kulitnya yang lelah. Jongin menyalakan musik dengan mode acak hingga akhirnya sebuah lagu ballad berjudul I’m Young terputar, jongin lupa bagaimana caranya lagu itu bisa masuk kedalam memori ponselnya namun ia cukup menyukai lagu itu sehingga membiarkan lagu itu terus mengalun mengisi keheningan dikamar mandi tempatnya berendam sekarang.

 

 

Jongin memikirkan lagi tawaran suho untuk membantunya mengurus perceraian. Tapi perceraian sangat pantang dilakukan dalam keluarga jongin, dan pria itu juga tidak berniat untuk mengotori lembaran kehidupannya dengan perceraian. Sehingga kini pria itu menyesal, disaat ia sudah mendapatkan orang yang ia cintai ia malah terjebak dalam pernikahan. Andai saja jongin tidak mendapatkan krystal, pasti kini pria itu belajar untuk menerima jisoo sebagai gadis yang telah menjadi istrinya.

 

 

Tapi semua itu juga terlihat mustahil disaat bersamaan, ia membenci jisoo sekuat apapun ia berusaha untuk menerima gadis itu sebagai pendamping hidupnya.

 

 

Jongin mengambil ponselnya, mematikan musik dan mencari sebuah kontak bernama Sehun didaftar kontaknya. Cukup memakan waktu lama hingga panggilan itu akhirnya tersambung.

 

 

“Apa?” Sahut pria diseberang sana dengan suara parau.

 

 

“Aku tahu kau dan istriku memiliki hubungan dimasa lalu, sekarang apa kau tidak berniat untuk mendekatinya lagi?”

 

 

“Apa yang kau bicarakan?” Sahut sehun kesal.

 

 

“Diamlah dan dengarkan. Aku tahu kau masih sering menghubunginya, apa kau tidak berniat untuk mendekatinya lagi?”

 

 

“Sebenarnya apa yang kau inginkan?!” Suara sehun terdengar mendesis, mungkin takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.

 

 

“Dekati dia lagi, hanya itu.” Balas jongin.

 

 

 

-TBC-

 

 

AILANA’s note…

 

Ehem. Ehem. Mohon perhatiannya sebentar. Saya sebagai teman yang baik cuma mau menyampaikan bahwa FF ini murni hasil pemikiran dan ketikan dari JiYeol Park, saya cuma ngirimin dan nulisin cuap cuap akhir. Begini, setelah mendapatkan piala juara pertama lomba nulis cerpen kemaren*Katanya bukan pamer si* JiYeol jadi agak minder buat nulis, katanya dia berasa terbebani gitu sama si piala *Iya, temen gue emeng sengklek* Ditambah sekarang dia lagi ngalamin stress pre- lomba pidato bahasa inggris, ya tambah minder deh jadinya. Jadilah FF ini diserahkan ketangan saya buat ngirimin dan ngasih cuap cuap, dia cuma nulis aja selama masa lomba itu. Jadi mohon doanya aja biar ini anak gak mengalami lagi masa masa labil biar dia terus lanjutin FF nya.

 

Dan bagi pembaca Fobidden Love, si JiYeol bilang dia udah nulis nyampe beberapa chapter tapi belum nemuin momen yang cocok buat ngirim FF itu. Saya udah maksa dan beberapa kali nistain dia tapi itu anak ngeyel mulu dan sampe sekarang belum niat untuk ngirim Forbidden Love, padahal dia terus lanjutin FF debutnya itu.

 

Dan saya bingung juga kenapa tiba tiba dia mau ngirim FF yang sudah berkarat di file ini, mungkin bawaan mood. Saya juga nunggu lanjutan beberapa ff yang belum dia kirim tapi udah nyampe banyak chapter :v. Ya maklumin deh, masih seumuran somi anaknya makanya dede masih labil-_-. Tapi lebih labilan JiYeol sih daripada somi, dede somi mah unyu:@

 

 

10 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Old Wounds -(Chapter 1)

  1. Penasaran untuk yang selanjutnya. Apakah sehun akan dekatin jisoo lagi atau jongin akan mulai jatuh cinta sama jisoo, semuanya penasaran. Dan apasih penyakit jisoo ?
    Lanjutkan ya authornim

    • Maaf ya JiYeolnya gak bisa ngebales comment kali ini, jadi biarlah saya yang balas karna ff ini sudah diserahkan sama saya^^. Kamu penasaran? Sama, saya juga hehe. But thanks for reading this fanfic and comment^^

  2. ohh jadi ini ff punya author “forbiddden love”… bagus ff nya bikin minat saya buat baca tapi jadi…. ini bakal dilanjut ga nih ko kayanya ga yakin gitu buat ngelanjutnya kan sayang nih udh di post nyampe sini. semoga ada waktu buat dilanjut

    • FF mana dulu nih yang dimaksud? Kalo forbidden love katanya emang bakal dilanjut, sayang gitu FF debut. Dan FF ini juga bakal dilanjut, walau katanya slow update. Saya cuma menyampaikan^^, but thanks for reading and comment.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s