[EXOFFI FREELANCE] Homeless Girl – (Chapter 1)

photogrid_1479033454364

Homeless Girl

 

Tittle                          : Homeless Girl (Chapter 1)

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Lee Ah Reum (OC)
  • Do Kyungsoo / D.O (EXO)
  • Na Jaemin (NCT Dream)
  • Lee Jihoon / Woozi (Seventeen)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Boo Seungkwan (Seventeen)

 

Other Cast                :

  • Kang Chanhee / Chani (SF9)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Byun Baekhyun (EXO)
  • Jeon Somi (I.O.I)
  • Im Yoona (SNSD)

 

Genre                        : Slice Of Life, Comedy, Drama, School life, and Romance

 

Rating                        : PG

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

—The Girl Who Didn’t Have Anything—

*Ah Reum POV*

 

Kuselonjorkan kakiku yang sudah bekerja keras hari ini, kuhirup oksigen sebanyak-benyaknya sampai udara memenuhi paru-paruku. Sial, kenapa orang-orang itu sentimental sekali sih?!. Bertindak berlebihan seolah aku mau mencuri segala harta berharga yang mereka miliki. Toh kita sama-sama orang tak punya, harusnya tidak perlu sekejam itu menuduhku sembarangan.

 

“Hosh…hosh…hosh…”

 

Sial, nafasku masih belum teratur. Belum lagi jantungku yang kelelahan memompa darah di dalam tubuh, aku takut, dia akan meledak karena kecerobohanku. Bisa kurasakan sekujur tubuhku memanas dan keringat mengucur dengan deras. Ugh, rupanya musim panas masih belum berakhir, malah ini adalah yang terparah. Kepalaku pusing hanya dengan tiupan angin panas yang menerpa kulit kepalaku, membuatku ingin memaki benda langit berwarna kuning cerah yang merupakan pusat tata surya itu, matahari.

 

“Arrgh! Dasar brengsek!”

 

Akhirnya keluar juga umpatan itu. sungguh mulutku gatal ingin mengatakannya, jika bagi kalian yang tidak suka mendengar kata-kata kasar, yang kalian anggap tak sopan itu, lebih baik jauhi aku.

 

Atau jika bertemu dengan gadis gembel yang memakai sweater putih bergaris dibalut jaket denim lusuh, bercelana jeans yang sedikit robek dibagian lutut kiri -mereka bilang ini mode padahal celanaku robek karena sudah butut-, bersepatu merah yang berusia lebih dari lima tahun, tak lupa menenteng tas ransel besar berisi pakaian dan peralatan hidup… jauhi dia, karena dia adalah aku. Alasannya? Tidak ada.

 

Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Oke, namaku Lee Ah Reum. Nama yang cantik bukan? Tentu saja!. Jika kalian pikir nama itu diberikan oleh ayah atau ibuku, maka tebakan kalian salah besar!. Nama itu merupakan hibah alias sumbangan yang diberikan oleh adik angkat ayahku -aku biasa menyebutnya bibi, oh iya, seluruh anak kakek dan nenek dari pihak ayah adalah anak angkat-. Karena hubunganku dengan bibi tak begitu baik maka aku tak akan menceritakannya disini, apalagi ini adalah ceritaku, jadi kita tak usah bahas soal bibiku.

 

Asalku dari kota Busan dan usiaku dua puluh tahun, ugh, sebenarnya dua puluh satu tapi masih beberapa hari lagi jadi mari kita anggap aku masih dua puluh oke?. Aku adalah seorang pengangguran di kota Seoul yang terbilang kota mewah ini. Oh tidak, lebih tepatnya aku ini adalah gembel, gelandangan yang tak punya tempat tetap untuk berteduh dari terik matahari maupun dinginnya udara malam. Kalau sebutan kerennya, aku adalah seorang pengembara.

 

Gila!, sudah tak punya apa-apa pun masih tetap sok keren!. Caciku dalam hati. Sebenarnya niatku pergi ke ibukota Negara adalah untuk melanjutkan sekolah di salah satu universitas ternama Korea. Sayangnya gadis nekat yang hanya mengandalkan beasiswa ini gagal di ujian masuk, serta rencana untuk mencari pekerjaan dahulu pun tak berjalan mulus sebab lamaranku selalu ditolak diperusahaan manapun.

 

Aku tahu, aku hanya lulusan SMA teknik Busan. Tapi setidaknya nilaiku cukup memuaskan dan seharusnya bisa memenuhi kriteria mereka. Sayangnya, perusahaan-perusahaan itu sedang tak membutuhkan tenaga instansi listrik. Jadilah sekarang aku harus luntang-lantung padahal jika aku kembali ke Busan, aku bisa mendaftar di perusahaan kawan ayah jadi tak perlu hidup susah begini.

 

Tapi aku menolak. Alasannya?… tentu saja gengsi yang besar!. Aku punya harga diri yang tinggi sehingga aku tak mau merepotkan keluargaku lagi, bahkan tak sanggup mengaku pada mereka kalau aku ini gagal. Karenanya aku berbohong dan menelpon ibu seminggu sekali, mengatakan padanya bahwa aku sedang bekerja sambil menunggu panggilan masuk di universitas.

 

“Universitas pantatku!” kesalku sambil berdiri, hendak melanjutkan perjalanan mencari kitab suci -euh, maksudku mencari makan dengan uang sisa yang pas-pas-an.

 

Aku terlalu sibuk mengumpat sampai tak sadar bahwa ada orang lain yang juga sedang menunggu bus lewat di halte tempat aku singgah ini. Aku segera membungkuk, meminta maaf atas ketidaksopananku pada seorang nenek tua, seorang ibu dan anaknya yang berusia sekitar lima tahunan, serta pria tinggi bermasker hitam yang menunggu sambil berdiri. Mereka semua menatapku tajam, yah tentu saja kecuali anak kecil lima tahun yang masih polos itu, karenanya aku putuskan untuk segera pergi darisana.

 

“Benar-benar sial!. Sekarang, aku harus cari kerja dan tempat tinggal dimana?” gerutuku pelan, kali ini berusaha agar suaraku tak didengar oleh orang lain yang kulewati.

 

***

 

“Nona, tugasmu hanya membersihkan sampah yang ada di halaman depan dan halaman belakang, juga taman sekolah serta gudang yang letaknya terpisah dari gedung utama…”

 

Telingaku menajam dan kepalaku mengangguk spontan begitu tuan penjaga sekolah ini mulai menjelaskan pekerjaan yang harus kulakukan. Bagus sekali, hanya dengan memasang muka memelas serta menunjukkan sertifikat kelulusan yang aku punya, pihak dari SMP Myungwoon bersedia menerimaku sebagai…

 

PETUGAS KERSIHAN SEKOLAH! YEY!.

 

“Mulai besok kau bersihkan toilet serta gudang olahraga, dan kau bisa gunakan ruang tak terpakai itu sebagai tempat tinggal… sesuai dengan kesepakatan pak kepala sekolah.”

 

Setelah selesai menjelaskan seluruhnya padaku, tuan penjaga sekolah berkepala botak tersebut segera pergi melanjutkan pekerjaannya, duduk di pos sambil menikmati secangkir kopi hangat seraya menonton siaran ulang pertandingan bola kemarin malam. Hebat! Tak kusangka masih saja ada orang yang ‘makan gaji buta’ di jaman sekarang.

 

“Baiklah, mari kerjakan tugas mulia ini!” kataku dengan helaan nafas panjang sebagai awal untuk menghabiskan tenaga hari ini.

 

Memang, bekerja sebagai petugas kebersihan sekolah tak begitu membanggakan, apalagi jika teman sekolahku tahu, aku akan sangat malu. Namun Lee Ah Reum punya cara untuk bertahan hidup, meski bekerja disini hanya seminggu. Toh SMP Myungwoon ini terkenal elite dan bergengsi, setidaknya gedung mewah ini mampu membangkitkan ingatanku tentang masa-masa sekolah.

 

“Oke, kerjakan halaman belakang dahulu. Selesaikan sebelum bel istirahat berbunyi.” Ujarku mengingatkan diri sendiri, akan tampak lebih memalukan jika murid disini menyadari ada pegawai baru yang masih muda, dimana harusnya kuliah, dan bukannya berkutat dengan sapu dan tong sampah besar sepertiku.

 

‘Ding Dong Ding Dong’

 

Jika saja yang aku dengar adalah lagu hip hop yang penikmat musik bilang nadanya catchy-easy-going apalah itu, maka aku akan bekerja lebih giat tanpa harus repot memasang earphone di telinga. Sayangnya deretan nada yang aku dengar tadi adalah bel istirahat, pertanda murid-murid berkantong tebal itu akan pergi ke kantin yang jaraknya sekitar seratus meter dari sini, dan jalan satu-satunya untuk pergi dari gedung sekolah menuju kantin adalah halaman belakang tempat aku berada.

 

Aku harus berikan tepuk tangan keras pada takdir yang lucu ini, bukan?.

 

“Pegawai baru kah?”

 

“Masih muda! Sepertinya seumuran dengan kakakku!”

 

“Haaah~ aku tak menyangka masih saja ada orang gagal seperti dia di dunia ini.”

 

“Mungkin dia orang miskin yang tak sanggup menyelesaikan sekolah makanya kerja jadi budak?”

 

Iya, benar, TEPAT SEKALI ANAK SIALAN!. Aku memang orang miskin yang tidak punya biaya untuk kuliah, PUAS?!. Tapi aku bukan menjadi budak, dasar sok kaya!. Anak-anak ini, usia baru seperempat jalan kata-katanya sudah menyakitkan hati. Yak! apa itu yang kalian pelajari disekolah?!, bentakku, membatin tentunya. Huft, sepertinya tak ada pilihan lain selain meneruskan pekerjaan, masa iya aku mau istirahat padahal tugas baru saja diberikan?.

 

“Hei! Bagaimana kalau kita lakukan seperti biasanya?”

 

“Ide bagus! Kali ini giliran Seung Pyo!”

 

Meski sering digunakan untuk mendengar musik dengan volume tinggi, tapi telinga ini masih berfungsi dengan baik. Makanya aku langsung menaruh curiga pada pembicaraan tiga anak berwajah jahil yang sekarang berjalan kearahku, bersiap sedia jikalau mereka memang mau berbuat macam-macam.

 

Ajhumma! ada kecoak terbang!”

 

Setelah berteriak, salah satu anak melempar sesuatu berukuran kecil dan berwarna hitam agak kecoklatan kearahku. Murid wanita yang tak sengaja lewat pun langsung menjerit sambil melompat tak karuan. Begitu sadar apa yang mereka takutkan tidak ada disekitar mereka -melainkan tertangkap tangan olehku, berubahlah tatapan takut itu menjadi heran dan terkesan jijik pada diriku yang hanya terdiam sambil menangkupkan tangan.

 

“Di-dia…” anak yang melempar tergagap,

 

“…memegang kecoaknya?” lanjut bocah satunya.

 

Kubuka telapak tanganku, sehingga serangga kecil itu mengepakkan sayapnya seraya terbang ketakutan menghindariku. Seolah tak cukup dia yang menjadi hewan paling ditakuti, kini akulah orang yang menjadi pekerja paling dihindari di SMP Myungwoon. Selamat!.

 

***

 

“Permisi, nona…”

 

Kepalaku mendongak begitu mendengar suara berada di dekatku. Sambil sedikit menggerutu karena tidur siangku diganggu, aku pun mendongak, siapa tahu itu Kepala Sekolah atau petugas keamanan hendak memberikan makanan. Tapi tidak, yang mengusikku adalah murid berseragam SMP Myungwoon dimana dia tengah menyodorkan sekaleng minuman ringan kepadaku.

 

“Apa?” tanyaku ketus.

 

Dia tersenyum simpul, menunjukkan lesung pipi yang manis. Terlihat begitu tampan, kuakui, tapi aku tak mau jatuh hati pada bocah ingusan atau malah menganggapnya malaikat hanya karena punya rupa yang enak dipandang.

 

“Kulihat anda kelelahan membersihkan halaman depan dan belakang sekolah, karena itu saya pikir minuman ini bisa mengembalikan energi yang hilang.”

 

“Sedang syuting iklan, eoh?”

 

“Eh?”

 

Mata minusku bisa menangkap kumpulan siswi yang sepertinya adalah penggemar anak di depanku ini. Hebat, sejak SMP sudah menjadi idola para wanita. Dan daripada membuat masalah dengan para fans itu, lebih baik segera kuterima ‘kebaikan kecil’ anak ini lalu mencari tempat istirahat lain yang lebih tenang.

 

Noona tunggu!”

 

Aku menoleh dan memicingkan mata. Apa dia bilang? Noona? Sok akrab!. Melihat perubahan ekspresiku sepertinya dia sudah mengerti bahwa aku tak suka dia seenaknya memanggilku dengan sebutan noona.

 

“Euh… tidak boleh memanggil ‘noona’ ya?”

 

Sudah tahu malah ditanyakan. Aku benci basa-basi yang seperti ini.

 

“Iya. Tidak boleh.” Jawabku dengan penuh penekanan pada setiap kata. Ada yang aneh dengan anak ini, tapi aku masih belum tahu apa itu dan aku tak mau tahu lebih lanjut.

 

“Aku hanya ingin akrab dengan noo-nim.”

 

Huh, dia keluarkan gaya imutnya. Apa aku harus menerimanya? Of course NO!. Tapi kemudian aku berfikir untuk memanfaatkannya dengan menyuruh membelikan makanan atau minuman. Toh dia juga tidak sedang mengajakku berkencan.

 

“Oke.” Tukasku, “Tapi kau tetap tak boleh memanggilku noona atau bahkan bicara menggunakan banmal padaku.”

 

“Euh…” dia berfikir, sepertinya agak keberatan. “Setuju!”

 

“Namaku Na Jaemin, kalau noo – maksudku anda?”

 

Kuhela nafas panjang, semoga hariku disini tak semakin berat karena anak bernama Jaemin ini.

 

“Aku Lee Ah Reum. Panggil saja Ah Reum-ssi. Dan baiklah, kau boleh bicara santai padaku. Aneh sekali mendengar kau bilang ‘anda’ padaku.”

 

***

 

“Sialan sekolah ini! baru sehari menginap sudah banyak sekali penunggu yang mengganggu!” seruku sambil berjalan keluar gerbang utama.

 

Bagaimana aku tidak kesal?!, baru saja aku mau tidur dan mulai menutup mata, suara-suara aneh dari ruangan sebelah -yang baru kuketahui adalah ruang praktek biologi- sudah mengusik pendengaranku. Awalnya kuacuhkan begitu saja, sayangnya gangguan kecil itu lama-lama berubah menjadi penampakan sesosok wanita misterius berambut panjang yang punya wajah menyeramkan. Dan meskipun wanita itu menunjukkan ‘keramah-tamahannya’ dengan tersenyum lebar- sampai aku tak tahu seberapa panjang garis bibirnya-, aku tak sanggup berada diruangan tadi lama-lama. Lebih baik untuk hari ini aku mencari kedai yang buka dua puluh empat jam penuh, meminta kebaikan hati pemiliknya agar aku bisa menginap dengan bayaran ‘jasa’.

 

“Hei nona! Mau kemana malam-malam begini?”

 

Langkahku berhenti dan tubuhku langsung kaku begitu suara paman berwajah menyeramkan menghadang jalanku. Tidak, tidak, dia jelas-jelas manusia karena kakinya menapak pada aspal jalanan. Sayangnya meski beliau adalah manusia, apa ada jaminan manusia tidak lebih buruk dari hantu?.

 

“Euh… saya mau pergi ke kedai dekat sini,” kataku masih mencoba sopan, “Permisi…”

 

“OHOI!”

 

Hampir saja aku tersandung kaki sendiri jika tak segera menyeimbangkan tubuh lagi. Ya ampun… serangan jantung mendadak, semoga Tuhan masih memberiku umur panjang, setidaknya sampai aku bisa melewati pria-pria yang tengah berkumpul dipinggir jalanan sepi sambil menegak soju ini.

 

Ajhussi, sepertinya kau mabuk, lebih baik biarkan aku pergi oke?” pintaku sambil tersenyum canggung. Tidak, sebenarnya aku cemas. Kalau aku dibunuh bagaimana? Lebih-lebih diperkosa lalu tubuhku dipotong jadi lima bagian lantas dibuang ke sungai Han!.

 

“Ya kami memang sedikit mabuk, cuma sedikiiiit sekali. Karena itu…” pria ini mulai memegang bahuku, “…ikutlah-”

 

Aku terkejut. Bukan karena paman ini bilang ‘Aku cuma minta kau untuk membenarkan closetku yang mampet kok’ lalu terdengar suara kambing mengembik selayaknya yang terjadi di drama komedi kebanyakan. Tapi aku kaget karena seorang pria tinggi, berpakaian serba hitam, serta bermasker dengan warna senada tiba-tiba datang merangkulku seraya menepis tangan pria tua yang sedari tadi kupanggil Ajhussi itu.

 

Ajhussi, maaf, tapi pacarku sibuk jadi tak bisa menemani kalian minum.”

 

“Eoh?”

 

pria tinggi yang berdiri disampingku ini menarik tubuhku kepelukannya ketika wajah sang ajhussi menunjukkan ketidakpercayaan. Jika saja bukan disituasi mendesak, sudah kupatahkan lengan pria tak dikenal ini.

 

“Aih!, aku paham! Aku paham!. Baiklah, nikmati waktu kalian berdua!” kudengar paman itu menyerah. Bagus, setelah ini aku harus berterima kasih pada pahlawan bermasker hitam ini. Heran, sejak tadi aku terus menemui pria tinggi yang memakai aksesoris hitam yang sama. Jangan-jangan…

 

Hah! Mana mungkin!. Paling-paling ini cuma suatu kebetulan saja. Kau tahu, aku tak begitu percaya takdir atau macam-macam hal romantis yang muncul dalam drama. Jadi tak mungkin pria penolongku ini adalah pria yang sama dengan laki-laki bermasker di halte bis tadi siang.

 

“Bagaimana? Dia bilang apa?”

 

Telinga tajamku mendengar pembicaraan pria-pria mabuk tadi.

 

“Sudahlah! Sepertinya sudah menjadi nasib kita terlantar didepan rumah sendiri.”

 

“Kau memang bodoh!, memangnya siapa suruh mabuk berat dan menghilangkan kuncinya huh?!”

 

Ap-apa barusan mereka bilang?. Kami -aku dan pria bermasker- segera melepas pelukan kami dan menatap pria-pria itu dengan mata membulat. Jadi, maksud mereka mendatangiku tadi…

 

“Lalu? Kenapa gadis itu menolak dan tiba-tiba pacarnya datang?”

 

“Entahlah, aku cuma mau minta tolong untuk pinjam ponselnya agar kita bisa menelpon pihak perumahan. Tapi sepertinya dia salah paham dan pria itu datang untuk melindunginya.”

 

“Ya ampuuuun… banyak sekali orang yang gampang sekali berfikiran buruk… aigoooo…”

 

Meski disini bukan tempat peternakan kambing atau ada yang memelihara kambing. Tapi aku bisa mendengar suara-suara hewan bertanduk melingkar itu dikepalaku. Dasar memalukan!.

 

“Hooo, mereka melihat kearah kita!”

 

Aigoo nona, tak masalah, kau dan pacarmu itu bisa pergi sekarang!”

 

“Apa-apaan? Gadis seperti itu bisa punya pacar juga?”

 

“Aissh! Anggap saja begitu, bodoh!”

 

Kutundukkan kepalaku. Ya Tuhan… cobaan apalagi yang engkau berikan padaku ini. kulirik pria asing yang sudah sok menjadi pahlawan ini. Jika saja dia tak datang dan pura-pura jadi kekasihku, maka aku tak akan salah sangka pada pria-pria itu dan malah mempermalukan diri sendiri!.

 

“Yak! kau mau kemana?!”

 

Kukejar pria tersebut sebelum dia kabur setelah perbuatan konyol yang sudah ia lakukan.

 

“Pulang, mau kemana lagi memangnya?”

 

Aku punya ide tentangnya. Dengarkan aku baik-baik, akan aku ajari kalian bertahan hidup didunia yang kejam ini.

 

Pertama, hilangkan rasa malu yang masih tersisa dan tingkatkan sikap ‘tidak tahu diri’ yang kalian miliki.

 

“Setelah membuatku malu kau mau pulang begitu saja?!”

 

“Lalu aku harus bagaimana?. Aku kan hanya mau menolongmu saja.”

 

Untuk kasus seperti ini, dimana kau telah dirugikan secara tak langsung, kau harus berani dan tegas. Selain itu pancing sang target agar masuk dalam jebakan kita.

 

“Mereka ternyata orang baik! Kau sudah mencemarkan nama baik mereka!”

 

“Aku?” dia mendengus seraya bersedekap, “Hoi! Awalnya kau juga menganggap mereka begitu kan?”

 

Sepertinya dia bukan tipikal orang yang mudah ditipu dengan mudah. Disaat seperti ini, kita harus putar otak dan segera membalas kata-katanya dengan cepat. Jika tidak, maka kau sendiri yang akan disalahkan dan lebih malu lagi.

 

“Hoi pria bermasker yang aneh! Aku kan tidak minta bantuanmu. Lihat! Karenamu aku harus menanggung malu. Aku sudah dirugikan! Setidaknya kau harus ganti rugi sebelum minggat begitu saja!”

 

Dia mendengus sebal, dan aku bisa menebak pria itu tengah tersenyum sinis dibalik masker hitamnya. Kalau sudah begini pilihannya ada dua, dia meremehkanku dan membuang isi dompetnya dijalan, pertanda aku harus memungutnya jika butuh uang. Atau dia akan mengancamku sambil memainkan ponselnya seolah hendak menelpon polisi. Tentu saja tidak akan menelpon sungguhan. Dia tak punya cukup bukti untuk menuduhku dan membuat laporan dikantor polisi cukup merepotkan.

 

Mataku berbinar saat dia mulai mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Good choice!.

 

“Berapa yang kau butuhkan? 10.000 won? 50? Atau… 100?”

 

Sebisa mungkin aku menahan seringaian, kali ini kalian tidak boleh pura-pura kesal karena diremehkan. Terima saja tawarannya! Toh kita tak bakal ketemu lagi. Ingat kataku, hal-hal semacam takdir itu tak ada! Semuanya hanya kebetulan. Percaya saja pada Lee Ah Reum!.

 

“100.000 won, kurasa ini melebihi gajimu kan?” ia serahkan berlembar-lembar uang padaku dengan jumlah yang pas dengan ucapannya. Woah! Lama tak berjumpa kawan-kawan!.

 

“Bicara seolah tahu dimana aku bekerja.” Gumamku.

 

“Baiklah, sampai jumpa lagi besok. Semoga kau tidak terlambat kerja, Lee Ah Reum-ssi!”

 

“Iya tak masalah-”

 

Tunggu! Apa dia bilang tadi?… si-siapa yang dia panggil tadi?. Tidak mungkin… namaku kan?.

 

Perlahan dia berjalan mundur, masih terus menatapku. Tangannya bergerak kearah wajah, menurunkan masker hitam itu perlahan sehingga sedikit demi sedikit aku bisa melihat keseluruhan mukanya.

 

Senyuman itu…

 

Bibir tipis itu…

 

Aku…

 

Tidak kenal. Memang siapa dia? kenapa bisa tahu namaku? Kepala sekolah kah?.

 

“Eih! Mana mungkin!. Setahuku kepala sekolah kan berkepala botak seperti penjaga sekolah yang makan gaji buta itu!.”

 

Tiba-tiba sebuah nama terlintas di otakku setelah pria tadi sudah tidak berada didekatku lagi.

 

Oh Sehun.

 

“Hmmm, siapa itu Oh Sehun?” tanyaku pada diri sendiri sambil bergaya ala detektif.

 

Ah tidak tahu! Tidak ingat! Sepertinya otakku semakin menyusut. Atau mungkin itu cuma nama karakter hayalan yang kubuat dalam cerita fiksi saat SMP dulu. Sebaiknya aku berhenti menulis cerita-cerita itu, toh tak banyak yang mau membacanya.

 

“Lebih baik pikirkan uang yang baru saja kau dapat Lee-Ah-Reum ahay!”

 

Ya benar. Memangnya apa yang lebih penting di dunia ini dari pada uang?.

 

 

 

~To Be Continue~

PhotoGrid_1479033454364.jpg

 

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Homeless Girl – (Chapter 1)

  1. Wiiii aku udah 2 kali baca tapi baru bisa komen sekarang, mian huhu
    tapi tetep seru dan bikin ngakak sendiri kayak orang gila meskipun emang aslinya gila ehh
    kerennnn penasaran sama kelanjutannya, semoga cepet di post ya authornim
    aku nantikan lohh ffnya, pokoknya aku pada D.O*plakk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s