[EXOFFI FREELANCE] Blind – (Chapter 4)

FF BLIND(1).jpg

Title : BLIND

Author : BanHana Chance

Cast :

-Park Chanyeol {EXO K}

-Jang Nina {OC}

Support cast :

-Jang Nara {OC}

-Bobby {IKON}

Genre : Sad, Romance, Schooll life

Length : Chaptered

Rating : PG17

 

Disclaimer : FF INI MURNI DARI IMAGINASI AUTHOR. DILARANG KERAS PLAGIAT

 

Summary : Impian Park Chanyeol sebagai pemain basket tingkat internasional kandas di tengah jalan akibat penyakit yang di derita-nya dan juga pengorbanan-nya untuk memperjuangkan cinta-nya. Akankah sang dokter bisa menyelamatkan-nya? atau justru Chanyeol harus menggantung semua harapan terbesar-nya.

Dari tadi Chanyeol begitu gelisah melihat Bobby yang terus memperhatikan Nina saja. Ntah apa yang akan dilakukan Bobby selanjut-nya. Yang jelas Chanyeol tidak rela jika Bobby mendekati Nina.

 

“Awas saja jika kau berani menyentuh Nina walaupun sehelas rambut-nya saja.” Ucap Chanyeol dalam hati-nya.

 

Wajar saja selama ini Bobby belum pernah sekalipun memperlihatkan perasaan-nya kepada Nina dan dia cenderung santai. Jadi Nina tidak merasakan apapun yang mengganjal selama dia berada di keliling Bobby. Justru malah Chanyeol yang terlihat sangat gelisah. Karena dia sudah terbawa emosi oleh ucapan dari Bobby yang menyinggung tentang Nina.

.

.

~oOo~

{Author POV}

 

Jam istirahat sudah mulai. Semua siswa berhamburan untuk pergi ke kantin ataupun taman. Tak terkecuali dengan Nina dan Chanyeol. Namun kali ini Bobby hanya diam saja di tempat duduk-nya. Saat semua siswa sudah tidak berada di kelas, kali ini Bobby tengah menulis sebuah surat. Ntah surat itu ditujukan kepada siapa, yang jelas sepertinya akan ada hal buruk.

.

.

.

~oOo~

“Chagi kau mau pesan apa?” tanya Nina kepada Chanyeol.

“Terserah kau saja chagi, aku sedang tidak nafsu makan sekarang.” Ucap Chanyeol malas.

“Wae? Apa kau sakit?” tanya Nina khawatir sambil menempelkan punggung tangan-nya ke kening Chanyeol.

“Aniyo chagi, gwaenchana….” ucap Chanyeol agar Nina tidak mengkhawatirkan-nya.

.

.

Sementara itu dari dalam kelas Bobby tengah menyuruh seorang teman-nya untuk memberikan surat itu kepada seseorang. “Ingat, berikan surat ini saat namja itu tidak bersama-nya.” bisik Bobby. “Baiklah Bobby-ssi.” Jawab-nya lalu pergi meninggalkan Bobby. “Hahaha lihat saja kau Park Chanyeol. Kau akan menyesal.” Ucap Bobby tersenyum menyeringai sambil mengawasi seseorang dari kejauhan.

 

Kring….kring….kring…..

 

Jam istirahat sudah selesai. Nina dan Chanyeol hendak pergi ke toilet dulu.

“Chagi kau tunggu disini dulu neh? Aku mau ke toilet dulu, tidak lama kok.” Ucap Chanyeol.

“Ah neh chagi.” Jawab Nina.

.

.

Nina memilih untuk berdiri di dekat kantin sekolah-nya dekat dengan toilet pria sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku-nya. kali ini Chanyeol terbilang cukup lama berada di toilet-nya membuat Nina jengah dan akhir-nya dia memutuskan untuk mencari tempat duduk. “Dasar Park Chanyeol gila.” Umpat Nina sambil mendengus kesal. Saat menunggu Chanyeol di dekat kantin, tiba-tiba ada salah seorang siswa namja mendekati Nina.

 

“Nina-ssi, aku disuruh memberikan ini untuk-mu.” Jawab namja itu sambil memberikan sepucuk surat untuk Nina.

“Nde…? ah neh, khamsahamnida…” ucap Nina sambil membungkuk-kan badan-nya.

 

Sesaat setelah itu Nina membuka isi surat itu. Disitu tertulis,

“Nina…kutunggu kau di atap sekolah, jika dalam waktu 5 menit kau tidak datang, maka Chanyeol akan dalam bahaya.” Nina meremas surat itu kuat-kuat.

 

Tanpa berfikir panjang Nina langsung berlari menuju ke atap sekolah. Dia takut terjadi apa-apa dengan Chanyeol karena dari tadi dia tidak muncul-muncul juga.

“Pantas saja kau lama sekali di toilet Park Chanyeol gila. Aishh kau itu selalu ceroboh.” Umpat Nina mentah-mentah mengetahui kecerobohan Chanyeol itu.

.

.

~oOo~

 

“Ah….lega-nya….tadi malam aku makan apa ya kok perut-ku sakit sekali.” Ucap Chanyeol sambil mengancingkan resleting di celana-nya.

.

.

Dan saat keluar dari toilet, Terlihat Chanyeol begitu kebingungan mencari keberadaan Nina.

“Kemana gadis itu pergi.” Ucap Chanyeol sembari melihat ke segala arah namun mata-nya tidak menemui sesosok gadis yang dicari-nya.

 

“Yak kau tahu Nina dimana?” tanya Chanyeol kepada saah satu siswa namun mereka tidak tahu dimana Nina.

“Apa kau tahu dimana Nina?” tanya nya kepada siswa yang lain. Namun jawaban-nya tetap sama.

 

Kali ini Chanyeol bertanya kepada petugas kantin.

“Permisi ahjusi, apa kau melihat Nina? Dia tadi menunggu-ku disini. Kau tahu dia dimana?” tanya Chanyeol mulai khawatir.

“Ah Nina? Dia tadi bertemu dengan Jungwoon disini, kulihat dia memberikan sesuatu kepada Nina. Coba kau tanya dia saja.” Ucap Ahjusi itu.

“Ah neh khamsahamnida ahjusi.” Ucap Chanyeol membungkukkan badan-nya lalu pergi mencari Jungwoon berada.

.

~oOo~

Kali ini Chanyeol tengah mencari Jungwoon. Kebetulan sekali Jungwoon hendak masuk ke dalam kelas dan Chanyeol langsung menghentikan-nya.

.

“Yak…!!! Jungwoon-ssi.” Teriak Chanyeol membuat Jungwoon terkejut lalu melihat Chanyeol dengan sangat gugup.

“Kudengar kau memberikan sesuatu kepada Nina. Cepat katakan dimana Nina sekarang.” Tanya Chanyeol penuh selidik.

“A..A…Aku…tidak tahu Chanyeol-ssi.” Jawab-nya gugup.

“Bohong…cepat katakan dimana Nina sekarang atau aku akan menghajar-mu.” Bentak Chanyeol sambil menarik kerah baju Jungwoon.

“Baiklah-baiklah….aku katakan tapi kau jangan memukul-ku.” Ucap-nya lalu Chanyeol melepaskan cengkraman-nya membuat Jungwoon sedikit gugup.

“Nina….sekarang sedang menuju atap gedung. Bobby yang merencanakan semua ini. Tapi aku tidak tahu apa yang akan dilakukan-nya. Aku hanya menjalan-kan perintah-nya saja.” Jelas Jungwoon.

 

“Sial…..” umpat Chanyeol dan tanpa habis fikir dia langsung berlari ke atap gedung untuk mencari Nina.

.

.

~oOo~

@Atap Gedung.

Nina kali ini tengah mencari sosok Chanyeol yang kata Jungwoon tadi berada di atap gedung.

 

“Chagiyaa…..!!!! eodigha….!!!!” teriak Nina mencari Chanyeol. Namun tidak ada jawaban sama sekali.

“Hiks….aku tidak ingin terjadi apa-apa pada dirimu chagiya….!!! teriak Nina sangat khawatir dan mulai menitihkan air mata.

 

Bbrruuukkkk……

Terdengar suara benda jatuh membuat Nina sangat terkejut.

“Nuguseyo….?” tanya Nina ketakutan.

 

Tiba-tiba muncul sesosok Bobby membuat Nina semakin merasa kesal. Nina menghapus air mata-nya kasar.

“Oh….jadi kau yang membuat semua rencana ini? Apa mau-mu sebenar-nya?” tanya Nina kesal.

“Ani….aku tidak ingin apa-apa dari-mu, aku hanya ingin bersama-mu saja sekarang.” Jawab Bobby enteng.

“Mwo….maksud-mu?” tanya Nina heran karena dia tidak tahu kalau selama ini Bobby menyukai-nya.

 

Perlahan Bobby mendekatkan badan-nya ke arah Nina membuat Nina berjalan mundur untuk menghindari Bobby.

“Apa yang akan kau lakukan eoh? Menjauhlah Bobby-ssi atau aku akan berteriak.” Ancam Nina gugup.

“Hahaa berteriaklah sekencang mungkin karena tidak akan ada orang yang bisa mendengar-mu.” Ucap Bobby enteng.

“Kau jangan gila. Cepat menjauhlah dariku…!!!!” teriak Nina dan kali ini langkah kaki Nina terhenti karena di belakang-nya sudah terdapat dinding dan membuat Nina tidak bisa pergi kemana-mana.

 

“Menjauhlah dari-ku…!!!!” teriak Nina namun dengan sigap Bobby langsung membungkam bibir Nina dengan bibir-nya paksa.

Bobby terlihat begitu bersemangat mencium Nina kali ini bahkan dia dengan senang hati melumat bibir Nina dengan ganas. Nina berusaha mendorong Bobby sekuat tenaga-nya, namun tenaga Bobby lebih kuat dari Nina.

Nina benar-benar tak kuasa menahan tangis-nya karena dia merasakan sakit pada bibir-nya. Tanpa ampun Bobby begitu arogan dalam melumat bibir Nina dengan kasar.

Nina tidak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangan-nya dipegang oleh Bobby. Jelas saja Nina kalah karena tubuh-nya begitu kecil dibanding-kan dengan Bobby.

.

.

Dari kejauhan Chanyeol terlihat begitu lemah. Mata-nya menatap kosong karena melihat hal yang seharus-nya tidak dilihat-nya yaitu sang kekasih tengah berpagutan dengan musuh-nya sendiri.

 

Perlahan Chanyeol berjalan menuju ke arah Nina dan Bobby dengan lemah. Tersadar ada seseorang di samping-nya, Bobby mulai melepaskan ciuman-nya dan melihat ke arah Chanyeol dengan terkejut termasuk Nina.

 

“Chagiya….” ucap Nina dengan lirih.

Chanyeol hanya menatap sendu raut wajah Nina yang terlihat begitu menyedihkan. Terlebih dengan bibir Nina yang memerah akibat ciuman panas-nya dengan Bobby dan saliva yang masih berceceran di setiap sudut bibir Nina. Dengan tatapan kosong ke arah Bobby, Chanyeol langsung menarik tangan Nina dan membawa-nya pergi meninggalkan Bobby sendiri saat itu.

 

“Kenapa dia diam saja? Kenapa dia tidak memukul-ku?” ucap Bobby heran.

.

.

~oOo~

“Chagiya….” ucap Nina lirih namun Chanyeol tetap saja diam dan merapikan baju Nina dengan lemah.

“Mianhae…..” ucap Nina sekali lagi dan kali ini Chanyeol menatap wajah Nina dengan sendu.

Chanyeol mulai mengambil tisu dan diusapkan-nya pada bibir Nina.

“Hiks….kenapa kau melakukan ini chagi? Kenapa kau tidak marah?” tanya Nina sedih.

 

Tiba-tiba Chanyeol meraup bibir Nina dengan lembut. Nina merasakan kekecewaan pada diri Chanyeol sekarang. Chanyeol begitu menikmati ciuman-nya dengan Nina. Dia tidak mempedulikan kalau ini adalah toilet pria.

 

Nina juga merasakan ada yang basah jatuh di pipi Nina dan ternyata itu adalah air mata Chanyeol. Perlahan Nina mulai melepaskan ciuman-nya dan menatap mata Chanyeol.

“Kenapa kau menangis chagi?” tanya Nina tetapi Chanyeol melanjutkan ciuman-nya dengan Nina tanpa menjawab pertanyaan dari Nina.

.

“Aku tahu chagi apa yang kau rasakan saat ini. Mianhae….” ucap Nina dalam hati-nya.

.

.

~oOo~

Nina berjalan kerumah-nya dengan gontai. Dia terlihat sangat kacau saat ini. Tatapan-nya terlihat kosong dan bahkan dia terlihat seperti orang yang sangat frustasi. Saat hendak memasuki rumah-nya tiba-tiba Nara datang dan memarkirkan mobil-nya.

 

“Nina-ah….tunggu…” teriak Nara yang barusaja turun dari mobil-nya namun tidak mendapat jawaban sama sekali dari Nina. Nara pun berlari menghampiri Nina.

“Yak…! kenapa kau hanya diam saja?” sapa Nara namun Nina hanya menatap-nya kosong dan berlalu meninggalkan Nara begitu saja.

“Mwo…? dia kenapa?” ucap Nara heran. “Entahlah….ahhh capek sekali hari ini.” Sambung Nara sambil merentangkan kedua tangan-nya lalu memasuki rumah-nya.

.

.

Sementara itu Nina terlihat begitu sedih. Sesampai-nya dikamar dia langsung merebahkan tubuh-nya diatas ranjang milik-nya. Dia menatap langit-langit kamar-nya.

Tanpa dia sadari, air mata Nina jatuh begitu saja. Dia tidak menyangka Chanyeol akan mengatakan hal seperti itu kepada-nya tadi siang.

 

#Flashback

Chanyeol kali ini tengah melepaskan ciuman-nya dengan Nina. Chanyeol menatap intens mata Nina.

“Nina-ah.” Panggil Chanyeol lirih.

“Neh?” jawab-nya.

“ kita akhiri saja hubungan kita sekarang. Mianhae.” Ucap Chanyeol sambil melepaskan gelang pemberian Nina saat mereka pertama kali berkencan.

Nina terlihat begitu lemah. Genggaman tangan Nina mulai melemah.

“Jadi kau ingin melepaskan-ku sekarang?” tanya Nina sambil terisak.

“Neh….mianhae.” jawab Chanyeol lalu pergi meninggalkan Nina begitu saja.

“Setidak-nya katakan dengan jelas apa alasan-nya.”

“Shirreo.” Tolak Chanyeol lalu pergi meninggalkan Nina begitu saja.

Tubuh Nina terjatuh di atas lantai yang dingin. Dia tidak menyangka orang yang dia cintai selama ini pergi meninggalkan-nya begitu saja. bahkan bisa dikatakan dengan kata yang cukup menyakitkan.

#Flashback_end.

 

“Cih…..dasar namja gila. Kau membuat-ku menangis lagi Chanyeol-ah.” Ucap Nina sambil menangis memeluk guling dikamar-nya.

.

.

~oOo~

Chanyeol hanya berdiam diri di depan balkon dekat kamar-nya. Pandangan-nya terlihat kosong. Hati-nya begitu kacau karena dengan berani dia mengambil keputusan yang begitu sulit.

 

“Kenapa aku melakukan semua ini.” Ucap Chanyeol.

“Apa yang kulakukan ini benar.” Kali ini dia menatap jam tangan-nya

“Bukan-kah ini salah Bobby. Kenapa aku memutuskan Nina begitu saja.” Ucap-nya penuh penyesalan.

 

Chanyeol terlihat begitu menyesal atas apa yang dia lakukan terhadap Nina.

“Haish……sial….” ucap Chanyeol mengacak rambut-nya kesal.

Namun saat hendak pergi menuju kamar-nya tiba-tiba kepala Chanyeol terasa sangat pening.

“Ahh…..” rintih Chanyeol sambil memegang kepala-nya.

Chanyeol berjalan menuju kamar-nya dengan gontai. Mata-nya juga terasa buram. Tidak lama kemudian dia sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

.

.

Ninu…ninu…ninu…… #Suara_ambulan.

.

.

~oOo~

“Kenapa Chanyeol tidak masuk hari ini?” ucap Nina dalam hati-nya.

“Apa dia sakit ya.” Sambung-nya.

Tiba-tiba ponsel Nina bergetar. Dan ternyata ada pesan dari Nara.

 

From : Nara eonni.

“Nina-ah Chanyeol masuk rumah sakit hari ini. Seperti-nya dia sakit. Dari tadi dia belum siuman. Nanti pulang sekolah kau ke rumah sakit neh jenguk dia.”

 

Nina memutar bola mata-nya malas.

“Untuk apa aku menjenguk-nya?” ucap Nina malas. “Aku kan sudah tidak ada hubungan dengan dia. Untuk apa aku peduli dengan-nya. Park Chanyeol adalah namja menyebalkan yang tega memutuskan aku seorang Nina gadis paling cantik di SM High Schooll ini.” Ucap Nina sambil mengibaskan rambut-nya ke belakang.

Namun hati-nya terasa gelisah. “Tapi Chanyeol sakit apa? Apa begitu parah?” ucap-nya sekali lagi.

“Huhh entahlah…..semua ini begitu sulit bagi-ku.” Sambung-nya.

.

.

Beberapa menit kemudian Bobby datang dan Nina menatap mata-nya kesal. Dia begitu marah kepada Bobby atas apa yang dilakukan-nya kemarin siang.

Karena merasa sangat kesal Nina pun menghampiri Bobby.

“Ikut dengan-ku sekarang. Aku ingin berbicara dengan-mu.” Ucap Nina dan Bobby yang barusaja datang hanya mengernyitkan alis-nya heran.

.

.

~oOo~

@Atap Gedung Sekolah.

 

Dari tadi Nina hanya berdiri membelakangi Bobby.

“Cepat apa yang ingin kau katakan.” Ucap Bobby tidak sabar.

Nina pun mulai membalik-kan badan-nya dan berdiri tepat di depan Bobby.

“Katakan kepada-ku sebenar-nya apa yang kau dan Chanyeol sembunyikan dari-ku.” Ucap Nina penasaran.

“Kau ini bicara apa?” tanya Bobby.

“Cepat katakan atau aku akan loncat ke gedung ini.” Ancam Nina membuat Bobby terkejut.

“Yak…!!! neo micyeoseo? Apa yang kau lakukan eoh?” bentak Bobby kesal.

“Cepat katakan…!!!” teriak Nina kesal.

“Neh….neh…arraseo… aku akan mengatakan-nya kepada-mu.” Ucap Bobby kesal.

 

Bobby mulai menarik nafas-nya panjang.

“Sebenar-nya selama ini aku tidak berniat berbuat jahat dengan-mu ataupun Chanyeol.” Ucap Bobby.

“Maksud-mu?” tanya Nina heran.

“Aku mulai membenci-nya bukan karena bola basket ataupun aku menyukai-mu. Itu hanyalah alasan-ku saja untuk menjatuhkan Chanyeol.” Jawab Bobby.

“Aku masih belum mengerti maksud-mu.” Ucap Nina.

 

“Sebenar-nya 10 tahun yang lalu Eomma ku bercerai dengan Appa karena Appa-ku berselingkuh dengan Eomma Park Chanyeol.” Nina terlihat begitu terkejut. Namun dia urungkan niat-nya dan memilih mendengarkan cerita Bobby selanjut-nya. “Aku tidak tega melihat Eomma setiap hari merasakan kepedihan sendiri. Maka dari itu aku menyuruh Eomma menikah lagi. Karena aku merasa sangat benci dengan Appa, akhir-nya aku menyuruh Appa baru-ku untuk menipu perusahaan milik Appa dan ternyata Appa kandung-ku adalah suami dari Eomma Park Chanyeol. Karena dendam dalam diriku belum terbalaskan sampai sekarang, aku tetap berniat ingin menghancurkan Park Chanyeol. Apa jawaban-ku membuat-mu puas?” tanya Bobby.

 

Nina terlihat begitu lemah dan tubuh-nya menggigil ketakutan.

“Neo….apa yang akan kau lakukan kepada Chanyeol hah?” tanya Nina ketakutan.

“Entah….yang jelas aku akan menghancur-kan hidup-nya karena Eomma Chanyeol telah membuat Bobby yang dulu-nya pendiam dan selalu diberikan kasih sayang oleh kedua orang tua yang utuh kini berubah menjadi Monster.” Jawab Bobby lalu pergi meninggalkan Nina begitu saja.

.

.

~oOo~

Chanyeol kini tengah tersadar dari pingsan-nya. Kepala-nya terasa begitu pening.

“Ahh….” rintih Chanyeol sambil memegang kepala-nya.

“Kau sudah bangun?” tanya Nara yang kebetulan berada di ruangan Chanyeol.

Chanyeol terlihat begitu terkejut karena dia saat ini berada di rumah sakit, bukan dikamar-nya.

 

“Yak….!!! kenapa kau berada disini?” tanya Chanyeol kepada Nara.

“Kau kemarin pingsan dan kedua orang tua-mu membawa-mu kemari.” Jawab Nara kepada Chanyeol.

 

Namun Chanyeol merasakan mata-nya buram dan bahkan dia tidak bisa melihat wajah Nara dengan jelas.

Berulang kali Chanyeol mengucek-kucek mata-nya.

“Kau kenapa?” tanya Nara heran.

“Kenapa mata-ku sangat buram.” Ucap Chanyeol sambil mengedip-kedipkan mata-nya berulang kali.

“Berbaringlah. Biar aku cek mata-mu.” Suruh Nara lalu dia mulai memeriksa mata Chanyeol.

“Hm….mungkin ini karena efek dari sakit kepala-mu itu. Baiklah kau boleh pulang sekarang. Aku akan memberikan-mu kacamata. Kalau mata-mu masih terasa buram kau bisa periksa lagi besok. Arraseo?” ucap Nara.

“Neh arraseo noona.” Nina hanya tersenyum mendengar jawaban Chanyeol barusan. ‘Noona’ panggilan yang manis menurut-nya meskipun pada awal-nya dia tidak menyukai panggilan itu.

.

.

~oOo~

@Ke esokan harinya…..

 

Hari ini terihat sama seperti biasa. Tidak ada yang special, apalagi dengan Nina. Dia masih saja tetap memikirkan Chanyeol. Sampai kapan-pun perasaan Nina kepada Chanyeol tetap saja dan tidak akan pernah hilang.

Lain hal-nya dengan Park Chanyeol. Dia terlihat sangat bersemangat hari ini karena dia sudah diperbolehkan bermain basket oleh tim-nya.

.

.

Suasana terlihat begitu mencekam karena Bobby dan Chanyeol kini tengah berada ditengah lapangan. Chanyeol memutuskan untuk keluar dari tim basket lama-nya karena posisi captain di tim Chanyeol telah di ambil alih oleh Bobby.

 

Kali ini Bobby menjabat tangan Chanyeol.

“Senang bertemu dengan-mu lagi Park Chanyeol di lapangan yang sama.” Ucap Bobby dengan nada seperti meremehkan.

Chanyeol-pun tersenyum kecut ke arah Bobby.

“Cih….senang bertemu dengan-mu lagi Bobby. Sudah lama sekali aku tidak mempermalukan-mu bersama tim lama-mu.” Ejek Chanyeol membuat Bobby naik darah.

“Apa maksud-mu?” tanya Bobby sedikit menaik-kan nada suara-nya.

“Kau boleh saja mengambil tim basket lama-ku kalau itu membuat-mu senang. Cih…aku merasa kasihan kepada-mu.” Ucap Chanyeol mengejek lalu pergi meninggalkan Bobby.

 

Bobby mengepalkan kedua tangan-nya karena merasa diejek oleh Park Chanyeol.

“Awas saja kau Park Chanyeol. Kali ini aku tidak akan membiarkan-mu tersenyum walau hanya sedetik saja.” Ucap Bobby dalam hati-nya lalu melempar bola basket itu sangat keras.

.

.

~oOo~

Semua siswa terlihat sangat bersemangat berlari menuju ke lapangan basket. Nina yang barusaja dari perpustakaan itu heran dengan apa yang sedang terjadi.

 

“Woahh…jinjja….Chanyeol oppa main lagi?” ucap salah satu siswa itu dengan senang.

“Neh…kudengar dia keluar dari tim-nya dulu.” Ucap siswa lain-nya.

“Woahh daebbak, sudah lama sekali aku merindukan Chanyeol oppa bermain basket lagi.” Ucap siswa lain-nya lalu berlari menuju lapangan.

Nina begitu terkejut mendengar perbincangan siswa yeoja tadi karena siswa tadi termasuk salah satu penggemar Park Chanyeol.

 

“Maldho andwe…..apa benar Park Chanyeol bermain basket lagi? Lalu kaki-nya.” Ucap Nina lalu menghentikan salah satu siswa yeoja yang tengah berlari menuju lapangan.

“Ah…tunggu sebentar. Apa Park Chanyeol bermain basket lagi?” tanya Nina kepada siswa itu.

“Yak..! bukan-nya kau ini yeojachingu-nya? Kenapa kau tidak tahu kalau Chanyeol oppa bermain basket lagi.” Bentak siswa tersebut kepada Nina.

“Mianhae aku hanya bertanya. Jeosonghamnida…”

“Ck selera Chanyeol oppa benar-benar rendah. Kenapa dia bisa memilih yeoja seperti-mu. Benar-benar menyebalkan.” Umpat gadis itu lalu pergi meninggalkan Nina dengan tatapan sinis.

 

Wajar saja di sekolah itu tidak ada yang menyukai Nina karena Nina adalah kekasih dari Park Chanyeol. Chanyeol adalah namja paling popular di sekolahan-nya. Tidak heran banyak siswa yang merasa iri dengan Nina.

 

“Aku kan tanya baik-baik, kenapa mereka begitu sinis menanggapi-nya. Lagian aku dan Chanyeol sudah putus. Kenapa mereka masih saja membenci-ku.” Ucap Nina sedih.

.

.

~oOo~

@Lapangan Basket.

 

Semua siswa yeoja berteriak histeris karena Chanyeol dan Bobby kali ini tengah bertanding basket di lapangan.

“Oppa…..!!! saranghaeyeo……!!!! teriak siswa yeoja itu.

“Oppa…..kau pasti bisa…hwaitting….!!!!

“Park Chanyeol…..!!!!”

“Oppa……”

Hiruk-pikuk di lapangan itu terdengar sangat ramai.

 

Bobby merasa begitu kesal karena tidak ada satu-pun siswa yang meneriaki-nya. Padahal saat Chanyeol tidak diperbolehkan bermain basket, semua yeoja itu sangat bersemangat menyemangati-nya. Namun kali ini suara teriakan itu beralih kepada Chanyeol.

 

“Sial……Park Chanyeol benar-benar ingin mati sekarang.” Ucap Bobby dalam hati-nya sambil mengepalkan kedua tangan-nya.

 

Pprriiitttt……….suara peluit pertanda pertandingan dimulai sekarang.

Chanyeol dan Bobby bermain sangat bagus. Benar-benar tak disangka Park Chanyeol bermain dengan bagus setelah satu tahun berhenti sebagai pemain basket.

Hampir setengah permainan Park Chanyeol berhasil memasuk-kan poin banyak mengalahkan Bobby.

“Sial…..” umpat Bobby kesal.

“Kenapa dia begitu bagus bermain-nya. Padahal kan dia sudah lama tidak bermain basket.” Ucap-nya.

.

.

Nina kali ini sampai di lapangan dengan nafas terengah-engah.

“Hosh…hosh…huh….apa aku sudah terlambat?” ucap Nina sambil mengatur nafas-nya.

 

Mata Nina mencari sosok Chanyeol di lapangan. Dan kali ini dia benar-benar terkagum dengan permainan bola Chanyeol yang begitu bagus. Tidak terlihat seperti orang yang barusaja berhenti bermain basket selama satu tahun.

 

“Kau pasti bisa Chanyeol-ah.” Ucap Nina dalam hati-nya dengan mata berkaca-kaca.

Namun disaat perminan hampir saja selesai, tiba-tiba kepala Chanyeol terasa begitu pening. Dia menghentikan langkah kaki-nya dan Bobby kali ini berhasil merebut bola yang dipegang Chanyeol dan dia berhasil memasuk-kan bola itu.

 

“Yak….!!! apa yang dia lakukan eoh?” teriak salah satu yeoja.

“Chanyeol oppa cepat apa yang kau lakukan?” teriak lain-nya.

“Oppa….kau kenapa?”

“Bobby itu begitu licik…!!!”

 

Beribu-ribu umpatan keluar dari mulut penonton karena Chanyeol hanya diam saja sambil berkali-kali memegang kepala-nya.

Nina membelalak-kan mata-nya melihat Chanyeol terdiam ditengah lapangan dan memegang kepala-nya yang terasa pening.

“Kau kenapa Chanyeol-ah?” ucap Nina dalam hati-nya.

 

Karena begitu pening-nya, mata Chanyeol kembali terasa buram, bahkan dia tidak bisa melihat dimana bola basket itu.

Berkali-kali dia mengedip-kedipkan mata-nya. Dengan langkah gontai Chanyeol berusaha merebut bola itu dari Bobby. Namun karena tak kuasa tiba-tiba dia ambruk.

Bbrruukkk……

 

“Oppa…..!!!!” teriak semua yeoja itu dan berdiri hendak menemui Chanyeol termasuk Nina.

“Chanyeol-ah…..!!!!” teriak Nina lalu dia berlari ke tengah lapangan dan memeluk Chanyeol dengan erat.

 

“Chanyeol-ah ireona….!!!” teriak Nina karena Chanyeol tiba-tiba tergeletak lemah.

Bobby yang melihat kejadian itu langsung meninggalkan lapangan itu begitu saja.

 

“Yak….!!! apa yang gadis itu lakukan eoh? Cepat bawa Chanyeol oppa kerumah sakit.” Teriak salah satu yeoja itu.

“Dasar gadis jalang. Kenapa kau hanya memeluk Chanyeol oppa…!!!!”

“Cepat bawa dia ke rumah sakit bodoh…!!!!!”

“Yakkkk…..!!!!!! palliii…..!!!!!”

 

Karena merasa banyak sekali yang memojok-kan nya, akhir-nya Nina pun melepaskan pelukan-nya kepada Chanyeol dan membiarkan petugas kesehatan membawa Chanyeol kerumah sakit.

.

.

Salah satu yeoja penggemar itu menghampiri Nina dengan tatapan sinis.

“Kau fikir membiarkan Chanyeol oppa dalam pelukan-mu itu bagus? Justru kau bisa membunuh-nya karena tidak cepat-cepat membawa-nya kerumah sakit.” Ucap yeoja itu dengan sinis sambil mendorong tubuh Nina ke belakang.

“Mentang-mentang kau ini yeojachingu nya, kau bisa seenak-nya mengumbar kemesraan di depan umum?” ucap yeoja lain-nya sambil mendorong bahu Nina dengan keras.

 

Tak sadar air mata Nina mulai menetes.

“Hiks….kalian tidak tahu apa yang kurasakan, jadi kalian tidak pantas berbicara seperti itu.” Ucap Nina sedikit membentak.

“Mwo….tidak pantas? Kau yang tidak pantas bersanding dengan Chanyeol oppa.” Teriak yeoja itu.

“Kau tidak perlu berkata kasar seperti itu. Satu hal yang perlu kalian ketahui. Aku dan Chanyeol sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.” Ucap Nina lalu pergi meninggalkan yeoja-yeoja itu.

“Baguslah kalau kalian sudah putus.” Teriak yeoja itu namun Nina tetap saja tidak menghiraukan perkataan mereka.

TBC……

Bippp….biippp…biippp……

Selalu saja author mengatakan kata mianhae. Mianhae karena kependekan dan alur-nya kecepetan serta ceritanya yang kurang menarik.

Semoga kalian semua suka dan sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Jangan lupa RCL yaaa

Anyeonghaseyeo…..

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Blind – (Chapter 4)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s