[EXOFFI Facebook] Our Married

10420201_683611055089615_5085765792653720433_n

Title : “Our Married”
Author : @ByunRa93
FB : Choi Byunra
Blog : http://ditha93fanfiction.wordpress.com
Cast : Byun Baekhyun, Choi Eunra (You), and others
Rating : Bebas dikonsumsi semua umur. Tidak menimbulkan efek samping karena tidak mengandung kafein.. :3
Genre : Married Life, Family, Romance
Length : Oneshoot
Disclaimer :
Don’t bash..! It’s just for fun! It’s BaekRa Territory..!
This Fan fiction is totally MINE..!! Don’t Copas,, Don’t PLAGIAT..!! SIDERS semoga insyaf!
NB: Choi Eunra adalah kalian semua yang membaca FF ini..

_Happy Reading…………

Pernahkah kau merasakan merindukan seseorang hingga kau berada dalam sebuah ketakutan besar dalam dirimu? Sebuah ketakutan yang membuatmu tersiksa. Tiap hari kau selalu mengingatkan dirimu sendiri untuk tidak lagi memikirkan tentangnya, tapi yang selalu terjadi adalah ingatan akan orang itu yang selalu melekat kuat dalam memori otakmu. Seberapa keras usahamu untuk membencinya, seberapa besar usahamu untuk melupakannya seolah terbuang percuma. Hanya dia dihatimu. Hanya bayangannya yang selalu ada dalam setiap matamu memandang. Hanya suaranya yang bisa kau dengar dalam tiap alunan yang mendentum. Sejauh apapun kau melangkah, tujuan hidupmu hanyalah satu. Satu titik akhir dimana kau berlabuh hanyalah dia.
Dia, orang yang paling kau cintai justru adalah orang yang paling membuat hatimu terluka. Tapi yang terjadi disini, hanya dengan mencintainyalah kau dapat bertahan hidup. Kau tampak begitu lemah karenanya, karena cintamu padanya yang seolah buta dan tak mengenal arah. Tapi mencintainya adalah satu alasan mengapa kau hidup, berdiri dan bertahan menatapi mentari yang terus bersinar…

This Fanfiction Begins ……………………………… :: Our Married ::

Gelapnya sang malam telah perlahan mulai tergantikan seiring gerakan sang surya yang sedikit demi sedikit mulai tampak, walaupun pada kenyataannya kabut pagi dan sisa-sisa gelap masih menguasai hamparan luas langit di atas sana. Dua pintu kaca berukuran besar itu masih terbuka. Angin juga masih menghempaskan tirai putih yang menjadi penghalang balkon dengan tenang. Udara dingin jelas terasa, mengingat ini adalah minggu keempat musim gugur di Korea. Di sudut ruangan itu, termometer sudah menunjukkan angka minus yang jelas membuat semua insan menggigil karena dingin yang terus mengoyak kulit dan tulang mereka. Tapi nyatanya kini ia masih disana, duduk meringkuk di atas lantai sudut kamarnya sambil memeluk kedua lututnya tak berdaya. Ia terlihat menyedihkan. Kuku-kuku kakinya tampak biru, bahkan kulit kakinya yang putih semakin terlihat pucat. Duduk pada lantai kamar yang terbuat dari marmer tanpa alas kaki, harusnya ia merasa kedinginan, tapi toh bagi Eunra semuanya tak lagi dapat ia rasakan. Siksaan dalam hatinya jauhlah lebih menyakitkan dari itu. Bahkan dalam tidurpun ia selalu merasakan rasa kosong yang sulit untuk ia tepis. Hembusan angin yang semakin kencang mulai mengoyak helaian rambutnya, seolah tengah mencoba membangunkan gadis itu dari tidur singkatnya. Bahu Eunra terlihat bergerak pelan sebelum ia mulai mengangkat kepalanya dan benar-benar membuka matanya yang tampak sayu. Kantung matanya tampak kehitaman, memperlihatkan betapa sulit baginya untuk tidur dan sekedar memejamkan matanya. Sesaat, Ia masih terdiam, masih berharap semua ini mimpi. Masih berharap semua kejadian buruk yang terjadi hanyalah seuntai mimpi buruk yang akan begitu saja hilang saat ia terbangun. Tapi saat ia menatap tempat tidur di atas sana yang terlihat kosong, ia baru menyadari semua ini nyata. Laki-laki itu lak lagi berada disana. Suaminya tak lagi berada di sisinya. Menyadari akan hal itu, Eunra berusaha untuk bangkit dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. Langkahnya yang tak seimbang membuatnya hampir terjatuh kalau saja ia tak dengan sigap berpegangan pada sudut nakas di sampingnya. Rasa itu kembali datang, perasaan kosong yang begitu menyakitkan. Choi Eunra memanglah sosok yang sangat ceroboh. Keseimbangan tubuhnya memang terhitung buruk. Tak jarang ia terjatuh di pagi hari, saat tubuhnya belum sadar sepenuhnya dari mimpinya. Namun saat ini yang berbeda hanyalah, tak ada lagi Baekhyun yang selalu menahannya. Tak ada lagi Baekhyun yang selalu melindunginya, memapah tubuhnya di pagi hari untuk ke kamar mandi agar ia tak terjatuh. Benar, tak ada lagi sosok itu. Sepertinya Eunra harus mulai bersiap untuk kehilangan pegangannya. Ia harus bersiap untuk kehilangan sosok yang masih sangat ia cintai. Ia menangis. Lagi-lagi yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dalam diam.

Mata Eunra menatap kosong ke arah selembar kertas putih di dalam map yang terbuka di atas nakasnya. Sesaat jantungnya seperti terhenti saat membaca deretan huruf yang tertulis di atasnya. ‘Surat Cerai’ itu memang telah ia tanda tangani kemarin, tapi jujur saja hatinya masih begitu berat untuk memberikannya pada Baekhyun. Dalam hati kecilnya masih terus menjerit, memintanya mempercayai suaminya. Tapi egonya tak lagi bisa memaafkan Baekhyun. Bukan Eunra tak mencoba memahami suaminya, tapi laki-laki itulah yang telah melanggar aturan hidup, prinsip yang selama ini dipegang teguh oleh keduanya. Eunra tak akan semarah ini kalau saja Baekhyun tak membohonginya dan pergi berdua dengan gadis lain. Mereka bahkan berciuman secara terang-terangan. Eunra mendesah geram ketika gambaran foto itu kembali mencuat dalam benaknya. Ia meraih ponsel miliknya dan menekan panggilan cepat nomor 1 pada ponselnya. Yang terdengar setelahnya hanyalah bunyi nada sambung yang terus berdering teratur. Hal yang jauh berbanding terbalik dengan detak jantungnya yang seolah berhenti bekerja. Tubuhnya terasa begitu lemah hingga ia memutuskan untuk duduk di pinggiran tempat tidurnya sambil menggenggam erat map biru di tangannya.
“Yoboseo..” saat suara itu bisa ia dengar, paru-parunya seperti menemukan sebuah asupan yang membuatnya kembali bekerja. Ia menemukan oksigennya. “Yoboseo, Ra-ya..” ulang Baekhyun saat tak juga mendapatkan jawaban dari istrinya.
“Bisakah kita bertemu hari ini?” mati-matian Eunra berusaha membuat suaranya terdengar datar, namun yang ia lontarkan justru sebuah suara dengan nada yang bergetar, menahan tangisnya yang meronta.
“Tentu. Tentu kita harus bertemu. Sudah hampir dua minggu kau mengusirku dari rumah. Aku merindukan Hyunra, Ra-ya..”
Eunra semakin mengeratkan genggamannya pada map biru di atas pangkuannya. Hatinya bak terhujam sembilau yang amat tajam. “Aku akan menemuimu di kafe setelah mengantarkan Hyunra ke sekolah” sela Eunra singkat dan kemudian mengakhiri sambungan telponnya. Tangis kembali terdengar dari bibir ranumnya. Mendengar suara laki-laki itu, membuat rasa rindu dalam hatinya kembali membuncah, meletup-letup tak tertahankan. Rasanya ingin gadis itu berlari ke arahnya dan memeluk suaminya erat-erat sambil mengatakan jika ia merindukannya. Eunra tertunduk dalam dan tangannya menutup bibirnya rapat-rapat takut anaknya akan mendengar tangisnya yang memilukan.

“Eomma…” suara gadis kecil itu mulai terdengar samar. Eunra menghapus air matanya dan berusaha merapikan penampilannya yang terlihat kacau sebelum pintu kamar itu terbuka. Ia menyisir rambut panjangnya yang berantakan dengan sela-sela jarinya dan membenarkan letak piyama yang ia kenakan.
“Eomma..” pantau Hyunra lagi. Kini pintu itu benar-benar terbuka dan gadis kecil yang baru berusia lima tahun itu berjalan ke arah ibunya. Eunra tersenyum, walaupun jelas senyum itu terlihat ia paksakan. Ia berjongkok, menyeimbangkan tinggi tubuhnya dengan putri kecilnya dan kemudian membawa gadis itu dalam gendongannya.
“Anak eomma sudah bangun..? Bagaimana tidurmu? Kau memimpikan Eomma dalam tidurmu?” Eunra mencubit kecil hidung putrinya dan mengecup pipinya penuh cinta.
“Aku melihat appa dalam mimpiku” Eunra tercekat. Ia menelan salivanya susah. Bahkan anaknya merindukan laki-laki itu. Harus bagaimana ia bersikap sekarang.
“Kau hanya memimpikan Appa? Kau tak memimpikan Eomma?”
“Aku merindukan Appa, eomma. Appa eodisoyo..?” ujar Hyunra yang terdengar begitu polos. Nada manja khas anak usia lima tahun yang jelas tak di buat-buat. Eunra tau ia tak mungkin menghalangi perasaan rindu putrinya, ia juga tak mungkin menghapus ikatan darah diantara keduanya. Tapi ia tak mungkin membiarkan laki-laki yang telah mengkhianatinya itu kembali dalam kehidupan mereka. Ia tak semudah itu memaafkan suaminya. Pada akhirnya ia tak lagi bisa menjawab pertanyaan putrinya. Ia justru mengalihkan pandangannya ke segala arah dan seolah menghindari tatapan putri kecilnya yang amat polos. “Eomma wae..? Appa eodiso..?”
“Hyunra-ya, bukankah kau harus sekolah? Kajja Eomma akan memandikanmu..” Eunra membawa Hyunra ke kamar mandi, berusaha membuat gadis kecil itu lupa akan pertanyaannya. Sedang Hyunra kecil hanya bisa diam dan membiarkan sang ibu memandikannya tanpa bertanya lagi.

Eunra terlihat merapikan kembali pakaian seragam putrinya. Ia membenarkan letak dasi kupu-kupu di leher Hyunra sebelum akhirnya memakaikan sweater hangat di tubuh kecil putrinya. Ia tersenyum getir dan memeluk erat tubuh Hyunra. Menahan perasaan perih tatkala ia melihat sosok Baekhyun di wajah cantik putrinya. Ia kemudian beralih pada meja ruang makan dan mengoleskan selai coklat pada dua lembar roti yang sedang ia bawa.
“Hyunra-ya, eomma sudah buatkan susu strawberry kesukaanmu. Minumlah..” ujarnya sambil memasukkan roti pada kotak bekal Hyunra.
“Eomma, nanti Baekhyun appa yang akan menjemputku kan?”
Eunra menghentikan sejenak gerakan tangannya, ia kembali membeku mendengar pertanyaan putrinya, kemudian sedetik berikutnya terlihat berusaha menormalkan kembali ekspresi wajahnya agar tak membuat putrinya merasa curiga. Ia segera menutup kotak bekal milik Hyunra dan memasukkan benda itu dalam tas kecil berwarna pink yang terletak di dekatnya. Eunra kemudian berjalan menghampiri anaknya. Jari-jari tangannya membelai lembut rambut panjang Hyunra, seolah tengah meminta putri kecilnya untuk mengerti dan berhenti menanyakan tentang appanya. “Hyunra-ya, dengarkan Eomma. Baekhyun appa tak akan menjemputmu lagi. Baekhyun appa sangat sibuk dengan pekerjaannya. Mulai sekarang eomma yang akan menjemputmu. Eomma juga akan mengantarmu tiap pagi. Dan kita bisa bermain sepulang kau dari sekolah. Eomma akan mengajakmu ke taman hiburan. Ah, bagaimana kalau membeli boneka baru untukmu. Kau mau..?”
“Ne eomma.. Tapi bisakah kita pergi bersama? Aku ingin Baekhyun appa juga pergi ke taman hiburan” jawab Hyunra dengan raut wajahnya yang jelas tampak begitu kecewa. Lagi dan lagi, yang Eunra bisa hanyalah membujuk putrinya untuk mencoba mengerti.
“Baiklah, eomma akan mencoba mengajak appa nde. Kita sudah terlambat, kajja eomma akan mengantarmu ke sekolah..”

***

@ARMY’s Cafe – Gangnam , 08.00 A.M

Seorang laki-laki bertubuh mungil itu tampak menunggu di sudut kafe dengan begitu resah. Pandangannya sedari tadi terus bergerak liar menatap jalanan di luar melalui jendela kaca besar di sampingnya. Kedua jari-jari tangannya saling terpaut dan meremas, sedang giginya tak henti menggigit daun bibir bawahnya tak tenang. Sejenak ia menatap pantulan dirinya dari balik kaca jendela yang mengembun, memastikan bahwa penampilannya telah terlihat rapi dan menarik. Ia tau istrinya suka dengan warna putih, karena itu ia sengaja menggunakan kemeja putih yang terlihat begitu pas untuk ia kenakan. Ia membenarkan letak surai hitamnya dan kemudian sebuah senyum kecil tampak melalui sudut bibir merahnya. Dalam hati, Baekhyun terus berharap bahwa istrinya akan memaafkannya dan kembali padanya. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa itulah alasan Eunra memintanya bertemu hari ini.
“Aku bahkan datang jauh lebih awal karena terlalu bersemangat. Kuharap kau akan mengerti Ra-ya..” gumam Baekhyun penuh harap. Ia terus saja menunggu tanpa lelah hingga 30 menit setelahnya seorang wanita tampak berjalan mendekat. Tubuhnya tak terlalu tinggi, rambut panjangnya yang kecoklatan menjuntai lurus, menambah kecantikan yang terpancar melalui wajahnya yang tampak pucat. Balutan dress cream selutut tampak semakin membuatnya cantik. Baekhyun hendak berdiri dan menyambut kedatangannya, tapi Eunra seolah tak mengijinkan hal itu. Wanita itu lebih dulu duduk di kursi yang terletak di hadapan Baekhyun dan berusaha terlihat tegar di hadapan suami yang jelas-jelas telah mengkhianatinya.
“Lama tak bertemu, kau terlihat baik-baik saja.. Aku—“
“Tentu aku baik-baik saja. Apa yang kau harapkan dariku? Melihatku terluka dan menangis tersedu-sedu?” sela Eunra cepat. Ia membuang pandangannya yang tadi sempat bertemu dengan sorot teduh mata Baekhyun. Jujur ia begitu merindukan mata itu, tapi ia tak mungkin membuat dirinya tampak begitu lemah.
“Ra-ya, kau masih marah..” tegur baekhyun yang tampak lemah.
“Anio. Aku tak akan membuang energiku hanya untuk marah padamu. Tak ada alasan bagiku untuk marah. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Karena itulah aku memintamu untuk bertemu.” Eunra mengeluarkan sebuah map biru dari dalam tasnya. Ia menyodorkan benda itu dihadapan Baekhyun dan menunggu laki-laki di hadapannya tergerak untuk membaca isi yang tertera di dalamnya.
Tak banyak bicara Baekhyun membuka isi map biru yang berada di hadapannya. Awalnya tak ada pikiran yang buruk akan hal itu, namun ekpresi Baekhyun terlihat jauh berubah setelah membaca deretan kalimat yang tertera jelas disana. “Ige mwoya?” ucap Baekhyun dengan sedikit memekik. Ia sepertinya terlihat begitu marah.
“Bukankah itu yang kau butuhkan? Lalu kenapa kau menunjukkan ekspresi seperti itu Byun Baekhyun-ssi?”
“Mwoya? Byun baekhyun-ssi? Sejak kapan kau memanggilku seperti itu Ra-ya!”
Eunra terlihat tersenyum kecil melalui sudut bibirnya. Bukan sebuah senyum bahagia, melainkan sebuah senyum miris yang terlihat menyedihkan. “Sudahlah. Aku rasa tak ada lagi yang perlu kita debatkan disini. Inilah titik akhirnya Byun Baekhyun. Maafkan aku baru melakukannya sekarang. Aku yakin kalian sudah menunggu terlalu lama untuk ini. Maafkan aku yang tak pernah menyadari dimana letak posisiku. Suatu saat nanti jika aku bertemu dengan Soyeon eonni, aku akan meminta maaf padanya. Dengan menandatangani surat itu, aku telah melepaskanmu Byun Baekhyun-ssi. Tak ada lagi hubungan diantara kita. Aku harap dengan itu kau akan bisa bahagia”
“APA YANG KAU KATAKAN BYUN EUNRA!” suara Baekhyun yang terdengar sedikit lebih tinggi dengan penekanan di setiap katanya. Ia jelas terlihat begitu geram.
“Hyun, aku tahu dari dulu pernikahan ini hanyalah sesuatu yang telah diatur oleh para tetua untuk kita. Aku tau kau tak pernah mencintaiku. Jauh sebelum kau mengenalku, kau sudah lebih dulu mencintai Soyeon eonni. Aku hanyalah penghalang bagi kalian. Maaf, tolong maafkan aku dan Hyunra yang telah hadir dan mengusik kehidupan kalian. Aku tak akan lagi muncul dihadapanmu setelah ini. Aku akan membawa Hyunra pergi agar kau bahagia. Walaupun kebahagiaan itu bukanlah bersamaku.”
“Apa kau gila? Hanya karena foto-foto sialan itu kau jadi seperti ini? Harus berapa kali ku jelaskan kalau foto itu tak seperti yang kau kira Ra-ya! Kami tak benar-benar berciuman! Mengertilah! Kenapa kau begitu kekanak-kanakan Choi Eunra!”
“Aku sedang tak berniat berdebat denganmu Byun baekhyun-ssi. Tak bisakah kita akhiri semua ini baik-baik?” sejenak keduanya sama-sama terdiam. Berusaha membaca pikiran masing-masing melalui sorot mata yang sama-sama terlihat menyimpan luka.
“Tolong jangan hanya memikirkan egomu Ra-ya. Tak pernahkah kau berfikir dampaknya bagi Hyunra?”
“Jangan khawatir. Dia anakku. Dia tanggung jawabku sepenuhnya. Aku akan menjaganya, mendidiknya dan merawatnya dengan baik—“
“Aku juga adalah ayahnya Choi Eunra! Kau ingin memutuskan ikatan darah antara aku dan Hyunra! Aku tak akan pernah menandatangani surat ini!” Baekhyun melemparkan map biru itu diatas meja. Menolak mentah-mentah atas keputusan konyol yang baru saja istrinya buat. Ia tahu pernikahan ini hanyalah sebuah perjodohan antara dua keluarga. Hanya sebuah hubungan bisnis yang sama-sama menguntungkan perusahaan keluarga Choi dan perusahaannya, tapi dibalik semua itu Baekhyun benar-benar mencintainya. Tak ada wanita lain di hatinya.
“Yang jelas itulah keputusan yang telah kubuat Hyun. Selamat tinggal..” Eunra buru-buru meraih tas jinjingnya dan berusaha melarikan diri dari keadaan yang begitu sulit untuknya. Ia tak ingin air matanya terjatuh di hadapan pria itu. Eunra benar-benar tak ingin membuat dirinya terlihat menyedihkan. Ia berusaha berdiri dengan cepat saat hak sepatunya justru tak seimbang dan hampir membuatnya terjatuh kalau saja Baekhyun tak dengan sigap menahan tubuhnya. Kini wanita itu berada dalam pelukan suaminya.

Harum aroma pinus menyeruak dari tubuh itu. Harum khas suaminya yang begitu ia rindukan. Harum parfum favorit Eunra selama ini. Eunra berusaha menolak kinerja otaknya yang terus menginginkan bersandar pada tubuh itu. Tapi hasrat dan tubuhnya tetaplah tak bisa semudah itu untuk ia kendalikan.
“Lihatlah, kau masih seperti ini. Begitu ceroboh. Lalu apa kau akan merawat Hyunra dengan baik dengan keadaanmu yang seperti ini?” celetukan Baekhyun membuat Eunra kembali tersadar dalam kondisinya. Ia segera melepaskan tangan-tangan Baekhyun dari tubuhnya. Sorot matanya menghundus tajam menatap manik mata Baekhyun.
“Itu urusanku. Kau tak perlu khawatir. Hyunra putriku, tak mungkin kubiarkan dia terluka!” sesaat setalah menyelesaikan ucapannya Eunra segera berbalik dan berjalan cepat untuk pergi dari sana. tangisnya sudah begitu saja turun bahkan sejak ia berbalik membelakangi suaminya.

***

Eunra masih terus merunduk di atas meja kerjanya. Tumpukan naskah di hadapannya sama sekali belum ia sentuh. Bahkan air matanya masih begitu sulit untuk ia hentikan. Ia hancur. Perasaannya benar-benar terlalu sulit untuk bisa di kendalikan. Sejak awal harusnya ia tahu Baekhyun tak mencintainya. Harusnya ia tak mempercayai pria itu dan menyerahkan seluruh hidup dan masa depannya pada Baekhyun. Dan harusnya Eunra tak terlalu bergantung padanya, sehingga ia tak harus sebegini hancur ketika perpisahan itu datang. Yang ia inginkan saat ini hanyalah menangis, melepaskan segala sakit dalam ulu hatinya yang terus menghujam.
“Kau baik-baik saja noona..?” tanya Taehyung yang tampak ragu. Sedari tadi ia memang telah lama menunggu di sudut meja kerjanya yang hanya beberapa meter dari tempat wanita itu duduk. Harusnya tak begitu sulit bagi Taehyung untuk menjangkau wanita itu, tapi yang ia lakukan sedari tadi hanyalah duduk menatapi wanita yang ia sukai sambil menunggu keadaannya sedikit membaik. Baginya butuh waktu yang begitu lama, hingga akhirnya ia memberanikan dirinya untuk bangkit dari kursinya dan menghampiri tempat dimana Eunra sedang duduk merunduk. Taehyung menyodorkan secangkir kopi di hadapan Eunra, mencoba memahami rasa sakit yang kini ia rasakan dan mencoba membuat beban di pundak Eunra sedikit terasa ringan dengan sentuhan tangannya yang kini berada di bahu Eunra. Eunra menghapus sisa-sisa air mata di pelupuknya, mencoba tersenyum tatkala kini manik matanya dan Taehyung tampak bertemu pandang.
“Gomawo..” gumam Eunra singkat.
“Noona, sudahlah. Jangan seperti ini. Sampai kapan kau akan menangis seperti ini noona..”
“Gwenchana Taehyungie. Nan Gwenchana..”
Taehyung terdiam. Ia tak lagi berusaha mencoba membuat Eunra membuka dirinya. Setidaknya Taehyung cukup tahu jika wanita itu memang sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk sekedar berkeluh. Yang bisa Taehyung lakukan hanyalah mencoba menenangkan.
“Editor Choi dan kau Taehyunggie, Sajangnim meminta kalian untuk segera ke ruang rapat.” Seru salah seorang pegawai yang berhasil mengintrupsi kecanggungan yang sepat menyeruak di sana. Eunra melirik sejenak jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, menggumam pelan dan sedikit meruntuk saat ia menyadari ini sudah pukul 11.00 siang.
“Waeyo noona..?”
“Aku harus menjemput putriku..” Eunra tampak sedikit gusar. Ia masih mengemasi berkas-berkas di atas mejanya, namun pukiran dan matanya terus tertuju pada jam di lengan kirinya dan Hyunra. Ia harus menjemput Hyunra, tapi ia juga tak bisa begitu saja meninggalkan rapat kali ini. Ia bahkan sempat mendapatkan surat peringatan dari perusahaan tempatnya berkerja karena keteledorannya terhadap waktu. Berulang kali ia terpaksa meninggalkan jam kerjanya hanya untuk menjemput Hyunra di sekolahnya. Jujur, itu sama sekali tak mudah bagi Eunra. Tanpa Baekhyun ia tak bisa melakukan segalanya dengan mudah. Dulu saat Baekhyun masih bersamanya, ia yang akan selalu mengantar dan menjemput dirinya serta Hyunra. Ia bahkan tak perlu kerepotan mengurus putri kecilnya itu, karena Baekhyun selalu memberikan banyak waktunya untuk keluarga. Tapi kini, Eunra harus berusaha keras untuk menjalani semua ini sendiri. Ia bukan hanya harus mengerjakan pekerjaan rumah, tapi juga pekerjaan kantor dan mengurus putri kecilnya.
“Aku bisa menjemputnya noona..” tawar Taehyung yang saat itu juga mendapatkan gelengan keras dari kepala Eunra.
“Tidak. Kau juga tak boleh meninggalkan rapat kali ini.” Wanita itu terus memutar pandangannya resah. Ia mengetuk-ngetukkan ujung jarinya di atas meja kerjanya bingung. Kemudian ia mulai teringat akan sosok kakak sepupunya. Eunra mengeluarkan ponsel putih dari dalam tasnya, bergegas mencari sebuah nama disana dan segera menghubungi sang kakak.
“Yoboseo, Hyein eonni..” sapa Eunra gusar. Ia belum mendengar suara kakak sepupunya, tapi ia bisa mendengar jelas suara tangisan keponakan kecil yang baru dua bulan ini meramaikan keluarga kakaknya.
“Oh ya Tuhan, Hyeyeol-ah aku mohon berhentilah menangis..” suara Hyein terdengar begitu lelah. Ia bahkan sampai melupakan telepon di genggamannya dan mengabaikan sapaan Eunra yang tadi sempat ia dengar.
“E-Eon-Eonni..” tegur Eunra melalui ponselnya. Kali ini Hyein memberikan sebuah respon atas panggilannya.
“Ne, Ra-ya. Waeyo?”
“Apa Hyeyeol masih sakit?”
“Hmmm..” gumaman singkat dari Hyein cukup membuat Eunra merasa tak enak. “Ada apa kau menelepon?”
“Eonni-ah, sebenarnya aku ingin minta tolong padamu” wanita itu memilin blazer hitam yang ia kenakan dengan resah.
“Ada apa?”
“Apa hari ini Chanyeol oppa menjemput Chansoo? Sebenarnya aku ingin minta tolong. Tiba-tiba saja aku harus menghadiri sebuah rapat yang sangat penting. Dan kau tahu bukan ini sudah saatnya aku menjemput Hyunra di sekolah. Kalau tak keberatan, bisakah Chayeol oppa juga menjemput Hyunra? Bukankah jarak sekolah Hyunra dan Chansoo tidaklah terlalu jauh. Eonni, aku—“
“Aku tahu..” potong Hyein cepat. “Kupastikan Chanyeol oppa akan menjemputnya”
“Ah ne.. Gamsahamnida eonni. Jeongmal gamsahamnida..” Eunra membungkukkan badannya berulang-ulang. Walaupun sebenarnya semua itu percuma, karena Hyein tak akan bisa melihat bagaimana berterimakasihnya wanita itu saat ini.
“Tak perlu merasa sungkan. Aku tahu betapa sulitnya kau menyesuaikan diri tanpa dia..”
Eunra kembali merunduk dalam. Beban berat itu seperti semakin sulit untuk ia pikul sendiri.
“Kau bisa minta tolong apapun pada kami. Kami akan selalu ada di sampingmu. Tak perlu merasa sungkan ataupun tak enak”
“Gomawo eonni..” gumam Eunra lirih.

***

“Ahjussi….” teriakan kecil itu terdengar melengking keras dari bibir Hyunra. Gadis kecil itu berlari ke arah Chanyeol yang memang tengah menunggu di depan gerbang sekolah keponakannya. Chanyeol berjongkok, ia merentangkan kedua tangan panjangnya dan menunggu gadis kecil itu berlari ke dalam pelukannya. Ia memeluk erat leher Chanyeol dan membiarkan sang paman menggendongnya. Chanyeol menatapi wajah Hyunra yang kemudian terlihat murung. Anak sekecil dia memang tak begitu pandai mengekspresikan perasaannya, tapi jelas Hyunra kini tampak sedih.
“Wae..? Kenapa keponakan paman seperti ini eoh..? Kau tak suka paman menjemputmu?”
Hyunra dengan polos menggelengkan kepalanya dan terlihat semakin dalam menekuk wajahnya.
“Kau ingin sesuatu? Bagaimana kalau kita membeli ice cream? Kau mau?” bujuk Chanyeol. Tapi lagi-lagi Hyunra menggeleng dan menolak.
“Ahjusshi, Baekhyun appa eodiya?”
Chanyeol mendesis. Ia membelai pipi merah Hyunra lembut dan begitu saja memeluk Hyunra dalam dekapannya, mencium dahi keponakannya dengan rasa iba. Ia tak bisa membayangkan jika gadis kecil ini selalu menanyakan hal yang sama pada ibunya. Chanyeol jauh lebih khawatir pada kondisi Eunra saat ini.
“Baekhyun appa, tak bisa menjemputmu. Ahjusshi yang akan menjemputmu”
“Wae..? Wae ahjusshi?”
“Baekhyun appa sedang berkerja. Hari ini kau tinggal di rumah ahjusshi ne. Kau bisa bermain bersama Chansoo dan Hyeyeol..” namja jakung itu terus mencoba mengalihkan perhatian Hyunra agar tak terus menanyakan keberadaan Baekhyun.
“Appa.. Palliwa..” teriak Chansoo yang mengeluarkan kepalanya melalui kaca jendela mobil yang terbuka. Anak laki-laki yang baru berusia 7 tahun itu tampak tak sabar menunggu ayahnya. Chanyeol menatap kembali wajah Hyunra dan tersenyum, “Kajja Hyunra-ya..” ujarnya yang sesaat kemudian kembali ke dalam mobil putih yang terparkir tak jauh dari sana.

Angin di luar sana tampak berhembus kencang. Bunga-bunga sakura yang tubuh di taman belakang kediaman Chanyeol dan Hyein tampak berjatuhan, terbang dan terbawa angin hingga sampai pada balkon kamar mereka di lantai atas. Hyein terlihat merunduk di atas tempat tidurnya, meletakkan Hyeyeol yang sedari tadi terlelap dalam gendongannya dengan amat pelan pada tempat tidur King Size miliknya. Tangan-tangan panjang Hyein meraih sepasang guling kecil dan meletakkannya di samping kiri dan kanan putrinya yang terlelap. Ia mengecup pelan kening Hyeyeol dan sejenak menghembuskan nafas lega dari bibirnya.
“Akhirnya dia bisa tidur dengan nyenyak..” gumam Hyein yang memang tampak lelah.
“Eommaaaaaa…” teriakan itu begitu memekik keras, hingga tubuh Hyeyeol sempat terjingkat kaget tapi setelahnya Hyeyeol tampak menggeliat dan kembali terlelap. Hyein cepat-cepat berjalan keluar dari dalam kamarnya. Ia segera menghampiri Chansoo yang tepat berada di depan pintu kamarnya dengan Chanyeol yang mengekor di belakangnya sambil menggendong Hyunra yang masih terlihat murung.
“YAK, Chansoo-ya jangan berisik. Adikmu bisa terbangun..” tegur Hyein kesal pada anaknya.
“Eomma, aku lapar..” ujar Chansoo
“Ne, pergilah ke kamarmu. Ganti baju dan turun ke bawah. Eomma siapkan makan siang untuk kalian”

***

Hyein menuangkan nasi di atas piring Chansoo. Ia kemudian meletakkan beberapa potong udang dan ikan di atas piring putranya kemudian membiarkan namja kecil itu untuk memakan makan siangnya. Ia beralih pada Hyunra yang juga duduk di meja makan. Matanya terlihat menatap gadis kecil itu sendu. Ia tahu keponakannya begitu merindukan Baekhyun, tapi ia juga tak sanggup melihat adik sepupunya harus menderita lebih jauh karena pria itu. Hyein tahu Eunra benar-benar dalam keadaan yang sulit. Adiknya harus berkerja dengan begitu keras untuk Hyunra dan hidupnya. Chanyeol sudah kembali ke kantornya. Tak ada orang lain disana kecuali dirinya dan anak-anaknya. Membuatnya merasakan penderitaan yang mungkin saat ini tengah adiknya alami. Hyein berjalan mendekati Hyunra yang sedang tertunduk. Ia membelai helaian rambut panjang Hyunra dan berbisik di telinganya.
“Kau ingin makan sesuatu? Ahjumma suapi nde..?” Hyein memotong ayam di piring Hyunra dan menyuapkannya kecil di mulut gadis itu. Hyunra hanya menurut. Ia mengunyah makanannya dalam diam. Tapi dari tadi gadis itu terus memperhatikan ke arah udang di atas meja. Hyunra terus mengamatinya dalam diam. Kemudian ia mulai memberanikan dirinya untuk menunjuk udang dengan telunjuknya sambil menarik-narik kecil lengan baju Hyein.
“Ahjumma..” panggil Hyunra yang kemudian menunjuk ke arah udang itu lagi. Hyein mengikuti arah telunjuk Hyunra dan ia sepertinya tau apa yang gadis itu inginkan. Hyein membalikkan tubuh Hyunra, meminta keponakannya itu untuk melihat ke arahnya.
“Hyunra-ya, kau tak boleh memakannya. Kau punya alergi terhadap udang” Melihat anak itu tak merespon Hyein kembali memperingatkan. “Tidak boleh makan udang. Kau bisa sakit. Arraseo..?” Hyein kembali menyuapi putri kecil Eunra itu dengan sesuap nasi. Tapi sepertinya Hyunra masih belum puas. Ia masih mengamati udang itu baik-baik. Ia tahu jika memakan itu dia akan sakit, karena itu sedari tadi ia bahkan tak berani menyentuhnya. Ia memang masih kecil, tapi ingatannya tentang rasa sakit itu masih begitu melekat kuat. Ia pernah mengalami alergi yang membuatnya sesak nafas dan gatal-gatal karena ia memakan udang. Tapi ingatan kecil Hyunra masih bisa membayangkan bagaimana appa dan eommanya khawatir saat itu. Ia bahkan tertidur diantara eomma dan appanya yang semalaman begadang demi menjaganya. Tertidur dalam dekap kasih ibu dan ayahnya. Hyunra rindu saat-saat itu. Saat dimana ia bisa tidur bersama dengan eomma dan appanya. Ia rindu pelukan hangat kedua orang tuanya. Bahkan rindu itu membuatnya berfikir untuk kembali merasakan sakit yang dulu sempat dirasanya. Hyunra tahu, ia harus memakan itu agar bisa berkumpul kembali dengan appa dan eommanya. Hyunra mengulurkan tangannya, ia berusaha menjangkau udang di sana untuk ia makan. Tapi dengan sigap Hyein menghentikan gerakan tangannya. Sang ahjumma kembali menatap Hyunra dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak sayang. Kau tak boleh memakannya!” tegur Hyein dengan nada rendah.

‘Oeeekkk.. Oeeekkk..’ suara tangis bayi menggema disana. Hyein berdiri dengan gusar dari kursi makan di samping Hyunra. Ia menatap gadis kecil itu sejenak.
“Hyunra-ya, kau bisa makan sendiri bukan? Ahjumma harus ke atas.”
Pelan-pelan Hyunra mulai mengangguk kecil. Membuat Hyein yakin untuk meninggalkannya disana. “Chansoo-ya, kau jaga Hyunra nde..!”
“Ne eomma..” dan setelah itu Hyein benar-benar pergi. Ia terlihat berlari kecil untuk segera menghampiri putri kecilnya yang memang tengah sakit.
Melihat sang ahjumma telah pergi Hyunra terlihat memanjat kursinya. Ia berdiri di atas kursi makan dan berusaha meraih udang di piring makan Chansoo dan memakannya.
“Hyunra-ya, kau tak boleh memakannya!” runtuk Chansoo yang berusaha mengeluarkan udang dalam mulut Hyunra, tapi ia tak bisa. Hyunra terus mengunyah dan menelan itu. Hingga sesaat setelahnya Hyunra mulai terlihat sulit untuk bernafas. Ia duduk di atas meja makan dan memegangi dadanya lemah.
“Eomma….” teriak Chansoo keras. Ia masih memegangi bahu Hyunra yang hendak terjatuh di atas meja. “Eomma..” teriak Chansoo lagi. Ia sudah tak bisa menahan lagi tubuh Hyunra, hingga kini Hyunra terbaring di atas meja. Chansoo membiarkannya. Ia segera berlari ke atas untuk menghampiri eommanya.
“Eomma, Hyunra mati. Dia tak bergerak eomma!” teriak Chansoo sambil menangis histeris.
“Chansoo-ya, apa yang kau katakan? Ada apa?”
“Hyunra mengambil udangku dan memakannya. Kemudian Hyunra mati. Tubuhnya tak bergerak eomma”
“Ya Tuhan..” Hyein segera berlari turun sambil masih menggendong Hyeyeol yang menangis. Ia panik. Sangat panik ketika melihat Hyunra tak lagi berdaya. Ia masih melihat gadis kecil itu bernafas. Tapi semakin lama nafasnya semakin tak teratur dan berat.
“Eomma, igo..” Chansoo mengulurkan telepon rumah pada ibunya yang terlihat bingung. Hyein segera meraih gagang telepon dan menghubungi Chanyeol, suaminya.

‘truut.. truuut.’ Bunyi nada sambung yang terdengar membuat Hyein mengerang frustasi. Ia terus berusaha membangunkan Hyunra, tapi konsisi gadis itu semakin mengkhawatirkan. Tubuhnya demam dan nafasnya tak lagi teratur.
“Yoboseo noona..” suara sahutan terdengar dari ponsel Chanyeol. Suara itu. Ya, Hyein tahu suara itu milik siapa.
“Baekhyun-ah, Chanyeol eodiya..?”
“Aku tak tahu noona. Ponselnya tertinggal di ruanganku. Waeyo? Apa terjadi sesuatu yang buruk?”
“Hyunra..” Hyein terdengar ragu. Ia jelas masih ragu. Haruskah ia memberitahu laki-laki itu tentang kondisi Hyunra? Tapi tak ada waktu lagi. Hyunra harus segera mendapatkan pertolongan.
“Hyunra? Ada apa dengan Hyunra, noona?”
“Hyunra memakan udang, dan dia tak bernafas setelahnya..”
“MWO..?!”

Baekhyun segera mematikan ponsel itu dan berlari keluar dari ruangannya. Ia terus berlari secepat yang ia bisa untuk segera sampai di lobby. Dengan gusar Baekhyun masuk ke dalam mobilnya dan memacunya cepat membelah jalanan kota Seoul yang padat. Berulang kali ia memukul kendali mobilnya, menekan bel itu secara terus menerus agar mobil-mobil di hadapannya menjauh. Ia bahkan tak peduli dengan hal lain. Yang ia tahu, ia harus segera sampai di rumah Hyein.
‘Ting.. tung.. ting.. tung.. ting.. tung..’ ia terus menekan bel rumah Hyein dengan cepat. Saat pintu terbuka Baekhyun seera menerobos masuk dan mencari dimana keberadaan putrinya.
“Dia di meja makan” seru Hyein yang tak bisa berlari karena Hyeyeol yang terus menangis di gendongannya
Baekhyun segera berlari masuk dan lututnya seakan lemas ketika mendapati putrinya tergeletak tak berdaya. Ia kembali berlari, merengkuh tubuh Hyunra dan mendekapnya erat dalam gendongannya. Ia menatap Hyein sekilas. Wanita itu sedang menggendong Hyeyeol dan di bawah sana Chansoo terlihat bersembunyi di balik kaki ibunya takut.
“Noona, aku harus membawa Hyunra..” nada suara laki-laki itu terdengar tegas dan tak terbantahkan. Sebenarnya Hyein ingin menghalanginya, ia tak bisa menyerahkan Hyunra begitu saja tanpa seijin Eunra, tapi Baekhyun tak bisa lagi dihentikan. Sorot mata namja itu bahkan menghundus tajam, menghujami mata Hyein tanpa celah.
“Baekhyun-ah, kau tak boleh membawa Hyunra..! tidak..!!” cegah Hyein. Ia mencoba menghalangi langkah Baekhyun yang tengah menggendng putri kecilnya.
“Noona menyingkirlah..!”
“Tidak Byun Baekhyun! Tidak!”
“Noona dia putriku! Aku tak bisa melihatnya seperti ini..!” Baekhyun menerobos pertahanan Hyein dan membawa putrinya pergi bersamanya.
“Maafkan aku noona..” ujar laki-laki itu sebelum benar-benar melewati tubuh Hyein.

***

Baekhyun’s Apartment, Gangnam District – South Korea
18.00 PM

“Dokter bagaimana keadaannya?”
“Sudah 4 jam setelah obat itu bereaksi. Demamnya belum sepenuhnya turun tapi aku rasa obat itu berkerja dengan baik.”
“Kau yakin Hyunra akan baik-baik saja?” tanya Baekhyun lagi dengan wajah yang ribuan kali lebih tenang dari sebelumnya.
“Ne. Dia akan baik-baik saja. Aku rasa aku harus kembali Hyun. Jaga putrimu..” Dokter Kang menepuk pelan lengan Baekhyun dan tersenyum ke arahnya.
“Ne, gamsahamnida..”
Baru saja Baekhyun berniat mengantarkan dokter Kang keluar, tapi seseorang dengan begitu gopoh menerobos pintu kamarnya. Wanita itu disana. Ia tampak sangat kacau saat berlari menghampiri tempat tidur dimana putri kecilnya tengah terbaring. Bahkan Eunra tak sedikitpun menyadari dan peduli pada sosok Baekhyun dan sang dokter yang baru saja ia lewati. Dokter Kang dan Baekhyun sempat terdiam sejenak menatapi Eunra, kemudian Baekhyun kembali mengintrupsi dan berniat melanjutkan langkahnya untuk mengantar sang dokter.
“Tidak perlu mengantarku. Aku rasa istrimu jauh lebih membutuhkanmu Hyun..” dokter Kang kembali mnatap Eunra dan kemudian berbalik dan pergi dari sana.

“Byun Hyunra, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini sayang..” rancau Eunra sambil memeluk tubuh putrinya. Air mata itu tak lagi bisa ia bendung.
“Setelah demamnya turun, ia akan baik-baik saja”
Eunra memutar bola matanya, menatap ke sisi lain dari tempat tidur itu. Tempat dimana sosok suaminya tengah berdiri menatapi wajah putrinya sendu. Ia membuang tatapannya penuh kebencian. Ia meremas seprei tempat tidur di samping kepala Hyunra, meredam amarahnya, kemudian mencoba mengangkat tubuh Hyunra dari sana.
“YAKK..! apa yang kau lakukan?” pekik Baekhyun. Ia mencengkeram lengan Eunra dan menghentikan tingkah konyol wanita itu.
“Lepaskan!” teriak Eunra. Ia kembali menyentuh tubuh Hyunra, mencoba kembali menggendong tubuh tak berdaya itu dalam dekapannya.
“Kau pikir apa yang kau lakukan Choi Eunra!” teriak Baekhyun marah.
“Lepaskan aku! Aku akan membawa putriku pergi dari sini!”

‘Arrgh..’ ringis eunra saat merasakan sakitnya cengkeraman Baekhyun yang menarik lengannya untuk menjauh. Ia menepis lengan laki-laki itu kasar. Menatapnya dengan tatapan dingin yang penuh kebencian.
“Kau bisa melukainya Ra-ya. Lihatlah, Hyunra sedang beristirahat. Biarkan dia tidur dengan nyenyak..”
“Tak perlu berpura-pura peduli padanya!”
“Aku tidak sedang berpura-pura Ra-ya..”
“Dia putriku. Aku bisa menjaganya sendiri!”
“Kau selalu mengatakannya, tapi lihatlah. Apa yang kau lakukan hingga Hyunra seperti ini? Kau tidak bisa menjaganya seorang diri Choi Eunra-ssi..!”
“Kau punya waktu untuk mengkhawatirkan kami? Kalau kau punya begitu banyak waktu, sebaiknya kau gunakan untuk memikirkan tentang rencana pernikahanmu dengan Soyeon eonni!”
“CHOI EUNRA..!!” teriak Baekhyun keras. Ia mencengkeram kedua bahu Eunra dan mentap wajah wanita itu marah.
“Berhentilah mengatakan omong kosong Ra-ya..!!” desis Baekhyun.
Bibir Eunra bergetar. Tangis begitu saja pecah dari pelupuk matanya. Ini adalah pertama kalinya Baekhyun membentaknya. Ia tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, sampai di saat seperti ini Eunra bingung akan apa yang harus ia lakukan. Ia hanya diam sambil membuang pandangannya agar tak lagi menatap mata Baekhyun.
“Eomma..” rancau Hyunra lirih. Gadis kecil itu membuka sedikit matanya, menatap sayu ke arah eomma dan appanya yang tengah bersitegang. Secepat yang ia bisa Eunra menampik lengan Baekhyun di tubuhnya. Ia berlari kecil dan duduk di tepian tempat tidur sambil memandangi putrinya.
“Eomma, appo..” rintih Hyunra yang terdengar miris.
“Dimana? Katakan pada Eomma bagian mana yang sakit.”
Hyunra menepuk-nepuk pelan bagian tempat tidur di sampingnya. Memberikan isyarat pada eommanya untuk menemaninya. Eunra tahu maksud putrinya, tapi ia masih tetap merasa ragu. Sejenak ia menatap ke arah Baekhyun, seperti meminta ijin untuk menggunakan tempat tidurnya. Bagaimanapun ini bukanlah rumahnya. Ini apartemen bBekhyun, jadi Eunra rasa ia tak bisa seenaknya menggunakan tempat ini tanpa seijin Baekhyun. Tentu saja baekhyun mengangguk. Hingga kini ia melihat wanita itu mulai membaringkan tubuhnya di samping Hyunra dan memeluk tubuh lemah putrinya penuh cinta. Hyunra tersenyum, ia kemudian menatap ke arah appanya dan bergumam untuk memanggilnya.
“Appa..” tegurnya pelan. Baekhyun berjalan mendekat dan menatap putrinya teduh. Hyunra kembali menggerakkan tangannya di sisi lain tempat tidur dan memberi isyarat pada sang appa untuk turut berbaring disana.
“Hyunra-ya, sebaiknya kau tidur bersama eomma ne..” Elak Eunra yang terus membujuk putrinya untuk tak lagi meminta Baekhyun berbaring disana. Dengan lembut Eunra menarik tubuh kecil Hyunra mendekat ke arahnya, memeluknya hangat dan mengelus puncak kepalanya. Tapi lagi-lagi Hyunra mencoba melepaskan pelukan eommanya. Ia kembali menatap ke arah appanya. Baekhyun tersenyum. Ia segera menyingkap selimut di sisi lain tempat tidur itu dan masuk ke dalamnya. Kemudian jari-jari lentik milik Baekhyun ikut melingkar pada pinggang Hyunra dan memeluknya erat.
“Appa, bogoshipo..” ujar Hyunra. Ia memeluk dan mencium pipi appanya. Saat itu Eunra sempat merasa risih. Ia berniat bangkit dari posisi tidurnya kalau saja Baekhyun tak menahannya. Ya, laki-laki itu memang masih mendekap tubuh putrinya erat. Tapi tangannya juga tengah menahan lengan Eunra di balik tubuh Hyunra, membuatnya tak bisa bergerak dan tetap berbaring di sisi lain tempat tidur itu.
“Tidurlah Hyunra-ya.. Appa akan memelukmu..” gumam Baekhyun. Ia membelai punggung putri kecilnya dan sesekali mengecup lembut puncak kepala Hyunra. Eunra hanya terdiam. Ia tak lagi mencoba untuk bangun dan menghindar karena ia tahu putrinya butuh kenyamanan untuk beristirahat. Ia hanya berbalik, menatapi dan mengelus punggung Hyunra yang juga dibelai lembut oleh jari-jari lentik milik Baekhyun. Ia terus memperhatikan keduanya, sampai tanpa ia sadari hatinya menghangat. Rasa itu kembali hinggap di relung hatinya. Rasa rindu, rasa cinta, dan rasa ingin mempertahankan juga memiliki sosok itu seutuhnya.

Eunra berdiri saat ia rasa putrinya sudah benar-benar tertidur. Perlahan ia berjalan ke arah balkon kamar apartemen itu dan berdiri di pagarnya sambil menatap jauh ke arah hamparan langit malam yang tampak gelap. Hembusan nafasnya masih tak teratur seiring dengan rasa hangat yang juga masih terasa pekat di hatinya. Ia kembali bimbang. Harus bagaimana ia bertindak? Harus bagaimana ia sekarang? Semuanya terasa begitu berat.
“Aku rasa kita perlu bicara Ra-ya..” suara laki-laki itu tertangkap indera pendengarannya. Perlahan semakin dekat dan kini seolah tengah menggelitik daun telinganya. Ia membeku saat ia benar-benar bisa merasakan kedua lengan yang kini melingkar posesif di pinggangnya, memeluknya dan menyandarkan kepalanya di bahu Eunra.
“Baekhyun-ah..!” tegur Eunra. Ia berjingkat, melepaskan lengan baekhyun di pinggangnya dan berbalik menatap pria itu tajam. “Apa yang kau lakukan!”
“Ra-ya, sampai kapan kau akan bersikap seperti ini? Lihatlah, bahkan karena keegoisan kita Hyunra harus terluka.” Tak ada respon yang wanita itu berikan. Tubuhnya masih tetap berdiri lemah sambil bersandar di pagar pembatas balkon. Ia masih membuang mukanya malas.
“Sudah berulang kali kujelaskan padamu. Kejadian malam itu tak seperti yang kau bayangkan. Ya, Soyeon noona memang menjemputku. Itu memang benar. Tapi tidak dengan ciuman dan berbagai skandal yang muncul Ra-ya. Aku—“
“Sudah berulang kali juga kukatakan, aku tak peduli. Aku tak ingin mendengar semua penjelasanmu Hyun! Semua sudah terlampau jelas untuk bisa kumengerti. Bukankah aku sudah meminta maaf? Bukankah aku sudah melepaskanmu? Apa semua itu belum cukup? Haruskah aku pergi dari negara ini?”
“APA YANG KAU KATAKAN!” Baekhyun benar-benar membentak. Wajahnya memerah marah. Sedang jari-jari tangannya mengepal hebat. Eunra hanya tersenyum getir menahan tangisnya.
“Sudah dua kali. Dua kali kau membentakku seperti ini.” Gumam Eunra lirih. Ia menghembuskan nafas dari bibirnya sulit. Otot-otot di lehernya tertarik saat hatinya kembali tergores luka yang sangat dalam.
“Ra-ya, bukan seperti itu. Mianhae..” Baekhyun terus berusaha menahan lengan Eunra saat wanita itu mulai berjalan pergi. Eunra tetap bersikeras hingga sekali lagi Baekhyun harus berbuat kasar. Ia menyentakkan lengan Eunra keras, membuat wanita itu berbalik dan menatapnya. Kemudian Baekhyun mencengkeram kedua bahu istrinya dan menghujamkan pandangannya yang tajam ke arah manik mata teduh Eunra.
“Choi Eunra, aku mencintaimu. Tak peduli bagaimana perasaanmu padaku saat ini. Tapi aku tetap mencintaimu. Mengertilah, hanya kau yang ada di hatiku Ra-ya! Tak ada wanita lain. Tak juga Soyeon noona. Aku hanya membantu Soyeon noona malam itu. Dia menciumku dalam mobil itu, semata-mata hanya untuk menyelamatkan karirnya. Tak ada niatan lain dalam diriku Ra-ya. Jebaaall..”
Bibir Eunra bergetar, linangan air mata itu seolah tak henti menerobos keluar dari pelupuknya yang berat. Ia tahu suaminya tak sedang berbohong. Baekhyun tak pernah seserius ini sebelumnya. Ia juga tak pernah sekukuh ini pada argumennya. Sampai Eunra benar-benar yakin ia sedang tidak berbohong.
“Ra-ya, kau boleh membenciku, kau boleh menghukumku, tapi ingatlah akan Hyunra. Kita harus memikirkan bagaimana perasaan putri kecil kita. Ikatan yang terjalin diantara kita bukan hanya sebuah ikatan cinta antara dua orang. Kita punya Hyunra diantara kita. Kebahagiaan Hyunra masih menjadi prioritas utama kita bukan?”
Eunra masih menggigit bibir bawahnya tanpa menjawab.
“Jawab aku!” tukas Baekhyun. Wanita itu masih tetap tak menjawab.
“Kau lihat, kau masih begitu kekanakan Choi Eunra! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri! Kau belum siap untuk menjadi seorang ibu!”
“Tutup mulutmu Hyun! Kau pikir kau sudah menjadi Appa yang baik bagi Hyunra?!”
“Tidak. Aku tak pernah merasa menjadi appa yang baik bagi Hyunra. Dan aku juga bukan suami yang baik karena terus menyakitimu. Karena itu, karena itu mari kita belajar menjadi orang tua yang lebih baik! Mari kita juga belajar menjadi sepasang suami istri yang baik” Baekhyun menghela nafasnya berat. “Aku mohon berhentilah bersikap seperti ini. Kau tahu bukan aku tak sedang berbohong. Seumur hidupku, aku tak pernah membohongimu Ra-ya..”

Wanita itu terisak. Kedua lengannya yang bebas memeluk tubuh Baekhyun, melingkar di pinggangnya dengan kepalanya yang bersandar pada dada bidang suaminya. Ia selalu mencoba bersikap tegar. Ia selalu menahan hasrat dirinya agar tak melihat dan merindukan lagi sosok itu. Tapi pada kenyataannya ia hanyalah wanita lemah yang benar-benar sedang merindukan suaminya. Ia percaya, hati kecil Eunra masih senantiasa mempercayai tiap tutur kata yang terucap dari bibir suaminya. Ia tak mungkin minta maaf. Tidak. Harga diri seorang Choi Eunra tak mungkin membiarkan gadis itu untuk meminta maaf dan mengalah pada suaminya. Jadi hanya melalui sebuah pelukan itu, Eunra harap suaminya akan mengerti. Ia harap Baekhyun akan benar-benar mengerti dengan apa yang kini ia rasakan, akan kepercayaan yang baik dulu, sekarang dan sampai kapanpun tetap selalu ada untuknya. Baekhyun tersenyum. Ia membalas pelukan Eunra di tubuhnya.
“Gomawo Ra-ya..” bisik Baekhyun lirih, kemudian ia menarik tubuh wanita itu. Membuatnya mendongak dan menatapnya. Pelan-pelan Baekhyun mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut kening Eunra yang berkerut kecil.
“Kau memaafanku bukan?” tanyanya ragu.
Eunra belum menjawab. Tidak, dia belum benar-benar menjawab karena di saat Baekhyun menanyakan hal itu ponsel disakunya berdering nyaring. Ia terlihat merogoh saku blazzer hitam yang ia gunakan dan mengambil ponselnya. Eunra berdeham sejenak, menarik tubuhnya menjauh dan berjalan ke sudut balkon saat melihat nama Taehyung di layar ponselnya. Saat berada di posisi yang cukup jauh dari Baekhyun barulah wanita itu menjawab panggilan ponselnya, walaupun jelas ia tengah terlihat ragu.
“Noona eodiya? Apa kau baik-baik saja? Kau sedang di rumah sakit? Apa kondisi Hyunra baik? Kenapa mematikan ponselmu? Kau tau betapa bingungnya aku mencarimu. Noona—“
“Taehyung-ie, naneun gwenchana..” potong Eunra lirih. Ia tahu pria itu khawatir. Ia tahu Taehyung terlampau peduli padanya, dan ia juga tahu Taehyung mencintainya.
“Kenapa kau pergi seorang diri? Kau bisa memberitahuku, aku akan menemanimu noona. Bukankah sudah kukatakan, Aku mencintaimu noona. Kau tak perlu merasa sungkan, kau tak perlu merasa tak enak padaku. Aku akan menjagamu dan Hyunra. Aku bersedia menggantikan posisi Baekhyun hyung di hatimu..”
Eunra berniat menghentikan ucapan Taehyung sedari tadi, tapi ia tak bisa. Sejak Eunra menjauhkan dirinya tadi, Baekhyun sudah berjalan mengikutinya dan kini ia memeluk pinggang Eunra erat sambil menempelkan telinganya di bagian belakang ponsel Eunra, mendengarkan dengan begitu jelas apa yang pria di ujung ponsel itu sampaikan pada istrinya. Baekhyun tersenyum miring. Sebuah senyum dingin yang membunuh. Ia merebut paksa ponsel Eunra, membuat sang empunya meronta sambil berusaha meraih kembali ponsel putih miliknya yang sekarang berada di telinga kanan Baekhyun.
“Hyun kembalikan ponselku..” dengus Eunra yang sama sekali tak dihiraukan.
“Diamlah dan biarkan aku bicara dengannya!” Baekhyun mengaktifkan speaker di ponsel itu dan meletakkannya di jarak yang cukup dekat dengan bibirnya.
“Kim Taehyung-ssi..” tegur Baekhyun singkat. ia masih menatap lekat-lekat wajah istrinya ketika berujar. Seolah ia juga tengah memperingatkan wanita itu dengan tegas.
“Kalian sedang berselingkuh di belakangku?”
“H-Hyu-Hyung..” ujar Taehyung gugup.
“Taehyung-ah, aku tahu kau sudah begitu baik pada istri dan anakku. Kau bahkan selalu menyempatkan dirimu untuk menjemput Hyunra di sekolahnya. Kau melakukan berbagai hal yang biasa kulakukan. Dan karenamu wanita di hadapanku ini selalu merasa tertolong. Hari ini, ijinkan aku mewakilinya berterima kasih padamu. Tapi Taehyung-ah, dia seutuhnya milikku. Tak akan kubiarkan siapapun mendekatinya, jadi sebaiknya kau mengerti dan tak lagi membuat kecanggungan diantara kita.”
“Aku tahu hyung. Jangan pernah menyalahkan noona, karena ia sama sekali tak pernah membalas perasaanku. Hati, cinta dan tubuhnya hanya milikmu. Kau tak perlu meragukannya..”
Baekhyun tersenyum saat mendengar kata demi kata yang Taehyung ucapkan. Berbanding terbalik dengan raut wajah Eunra yang jelas terlihat mengumpat kesal.
“Tapi Hyung, jika sekali lagi kau membuatnya terluka, mengkhianatinya, maka aku benar-benar tak akan pernah mengalah lagi padamu. Akan kupastikan aku akan merebutnya darimu!!”

‘PHIP’ sambungan telpon itu benar-benar terputus. Baekhyun berdecah kesal. Ia melemparkan kembali ponsel itu pada Eunra dan berjalan mendekati wanita itu, menyudutkannya diantara pagar balkon dan tubuhnya.
“Choi Eunra-ssi, kau berselingkuh!” tuduhnya tajam. Eunra mencoba mendorong tubuh Baekhyun di hadapannya. Ia mencoba membebaskan dirinya dari tawanan laki-laki itu. Tapi tetap saja, ia tak sedikitpun membuat tubuh Baekhyun bergerak.
“Kaulah yang berselingkuh!” balas Eunra tajam. Keduanya saling menatap sengit dan berperang dingin melalui tatapannya. Beberapa saat setelahnya Baekhyun justru merengkuh tubuh wanita itu dalam dekapannya. Memeluknya erat dan menyandarkan kepala Eunra di dadanya.
“Aku merindukanmu Ra-ya.. Aku benar-benar merindukanmu istriku..” rancaunya.
“Istriku? Aku belum memutuskan untuk memaafkanmu Byun Baekhyun-ssi..!!” tegas Eunra.
“Dan akan kupaksa kau untuk memaafkanku”
“Kau Gila..!!”

***

Baekhyun’s Apartement, 09.00 A.M
Dingin tak lagi terasa menusuk kala sang mentari di ujung sana mulai menggeser sisa-sisa dingin semalam dengan cahaya dan hangat sinarnya yang nyaman. Wanita itu menggeliatkan tubuhnya, melenguh lirih sambil perlahan membuka kedua mata sayunya. Ia menatap ke samping kanannya ketika merasakan tangan kecil putrinya masih melingkar erat di lehernya. Eunra mengangkat tangan putrinya, kemudian ia bergerak bangun dan meletakkan kembali tangan-tangan kecil itu di atas tempat tidur. Ia bergerak menyentuh dahi Hyunra, merasakan suhu tubuh putrinya yang semalam masih begitu tinggi. Sedetik kemudian Eunra tersenyum. Ia mendesah lega saat mendapati suhu tubuh anaknya tak lagi tinggi. Ia mengecup kening Hyunra dan membelai helaian rambut panjangnya pelan. Kemudian pandangan wanita itu mengedar ke seluruh penjuru ruangan yang kosong. Ia mencari sosok yang semalam menemaninya begadang untuk mengganti kompres di kening Hyunra dan juga membantunya meminumkan obat penurun panas untuk putrinya tiap dua jam sekali. Eunra merenung, tersenyum singkat saat bayangan sosok Baekhyun tadi malam teringat di benaknya. Sejujurnya pria itu tetap sama. Ia tetaplah seorang Byun Baekhyun yang begitu memperhatikan putrinya. Dan dengan mempertimbangkan berbagai faktor Eunra rasa dia bisa memaafkan laki-laki itu sekarang. Setelah ia benar-benar menunjukkan cinta dan kasih sayangnya untuk keluarga kecil mereka.

Eunra merentangkan kedua tangannya, menguap lebar dan kemudian menggerakkan lehernya memutar sebagai bentuk relaksasi. Ia merasa tidurnya semalam benar-benar nyenyak. Ia bahkan tak menyadari jika saat ini jarum jam dinding di depannya mulai menuju pada angka 9. Yang ia rasakan, seluruh tubuhnya terasa segar. Lelah dan beban berat di pundaknya bagai hilang tanpa sisa. Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia bisa tidur nyenyak setelah pria itu meninggalkannya. Sudah hampir dua minggu ia selalu terjaga di tiap malamnya. Tidur seperti sebuah hal menakutkan untuknya, karena setiap malam datang dan ia mulai memejamkan matanya bayangan, ingatan dan sentuhan pria itu selalu menghantui. Tapi kemarin, saat pria itu tertidur disamping Hyunra. Saat tubuhnya berada di jarak yang bisa ia jangkau, Eunra merasakan sebuah kenyamanan. Ia bisa terlelap jauh dalam dunia mimpinya.
“Oh tidak, aku harus membuat bubur untuk Hyunra..” gumam Eunra. Ia bergegas bangkit dari tempat tidur, membenarkan letak selimut Hyunra dan segera menuju dapur.

Eunra membuka satu persatu lemari dapur di apartemen Baekhyun, mencari apapun bahan makanan yang bisa ia masak untuk sarapan selagi menunggu bubur yang ia buat matang. Ia terdengar mengendus kesal saat tak ada bahan makanan disana. Hanya beberapa bungkus ramen dan beberapa makanan instan.
“Apa dia selalu memakan makanan seperti ini? Namja bodoh!” umpat Eunra. Ia membuka rak almari terakhir dan menemukan sebungkus spageti dan beberapa botol saus. Wanita itu mengangguk yakin, kemudian mulai memasaknya.
Di lain sisi Baekhyun baru saja masuk ke apartemennya dengan beberapa kantung plastik berisikan pakaian untuk istri dan anaknya yang baru saja ia beli, di kedua tangannya. Ia menajamkan hidungnya, mengendus-endus bau yang menyeruak di indra penciumannya. Namja itu menghentikan langkahnya, sejenak tertegun saat menyadari bau makanan yang kini ia cium. Baekhyun mengernyit, ia mengurungkan niatnya untuk ke kamar dan justru berbalik menuju dapur. Yang jauh membuat laki-laki itu terkejut adalah sosok Eunra yang kini berdiri di patri dapur.
“Ya Tuhan Ra-ya..” gumam namja itu refleks. Eunra sontak mendongakkan wajahnya dan menatap suaminya datar. Baekhyun meletakkan kantung-kantung plastik yang ia bawa di meja dapur dan segera menghampiri Eunra untuk menyentuh dahi wanita itu.
“Kau tidak sedang sakit bukan? Apa kau terjatuh? Kepalamu membentur sesuatu?” tanya Baekhyun khawatir.
“Apa yang kau lakukan!”
“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan Choi Eunra?” ia menatap takut ke arah istrinya yang masih sibuk mencampur spageti dengan beberapa saus di atasnya.
“Kau tak lihat aku sedang membuat sarapan?”
“T-Tapi kau benci dapur. Kau tak pernah suka berada di dapur, apa lagi memasak..”
Eunra memindahkan spageti yang sudah matang pada piring-piring di hadapannya, mengambil sebuah garpu dan mencobanya.
“Benarkah? Aku tak ingat akan hal itu” jawab Eunra sambil mengangguk-anggukkan kepalanya saat merasa spageti buatannya cukup lezat.
“Apa sebegitu lamanya kita berpisah? Sampai aku tak lagi mengenal istriku..”
Eunra hanya menggerdikkan bahunya tanpa jawaban.
“Eommaaaaaa…” suara tangisan terdengar dari dalam kamar. Eunra seperti terlihat gopoh sementara tangan-tangannya sedang sibuk memindahkan bubur di panci yang lebih kecil.
“Aku akan melihat Hyunra. Kau lanjutkan saja” ujar Baekhyun yang seolah mengerti kerepotan istrinya.

Baekhyun berjalan ke meja makan dengan sosok Hyunra yang merapat di gendongannya, sementara Eunra tengah sibuk menyiapkan sarapan disana.
“Eoh, putri eomma sudah bangun. Kau merasa jauh lebih baik chagi?” seru Eunra sambil meraih Hyunra dari gendongan sang appa.
“Ne eomma. Gomawo..” Hyunra kecil tersenyum. Ia memeluk eommanya dan kemudian mengecup pipi kanan ibunya lembut.
“Aigo, anak eomma manis sekali..” Eunra mencubit ujung hidung Hyunra pelan dan membalas ciumannya. “Sudah saatnya kau makan. Kajja, eomma akan menyuapimu..” ia menurunkan Hyunra dari gendongannya dan mendudukkan gadis kecil itu di atas kursi makan. Ia kemudian teringat akan Baekhyun. Dengan berdeham kecil Eunra mulai berbalik dan menatap suaminya.
“Duduk dan makanlah..” ujar Eunra canggung. Ia memang sengaja menyibukkan dirinya dengan menyuapi Hyunra, tapi sebenarnya sedari tadi ia terus mencuri pandang ke arah Baekhyun yang masih memperhatikan makanannya takut.
“Kau tidak memasukkan racum dalam spageti ini kan?” sindir Baekhyun
Eunra menatap sinis laki-laki itu, kemudian ia beralih pada anaknya. “Hyunra-ya, kau ingin mencoba spageti eomma?” saat Hyunra mengangguk Eunra menyuapkan spageti dalam mulut putrinya. Dan Baekhyun hanya bisa tersenyum masam manakala putrinya justru memuji masakan eommanya. Pelan-pelan Baekhyun memakan spageti di piringnya tanpa ragu.
“Waaah, daebak. Kau benar-benar belajar memasak?” ujar Baekhyun terkesima.

‘Tiiiiittt..’ suara pintu apartemen yang terbuka membuat kedua dewasa itu terkejut. Eunra menatap ke arah Baekhyun, seolah bertanya siapa yang telah menerobos masuk ke dalam apartemennya. Namun sesaat kemudian semuanya tampak jelas. Seorang wanita bertubuh mungil terlihat berdiri disana. Rambut coklatnya terurai panjang, sedang tubuh dan dandanannya terlihat jauh berbanding terbalik dengan usianya yang 4 tahun lebih tua dari Baekhyun. Soyeon, wanita itu tersenyum pada Baekhyun. Sebuah senyum yang berhasil menyulut api amarah dalam diri Eunra.
“Hyunra-ya, kajja kita pergi. Sepertinya appa sedang ada tamu..” dengus Eunra marah. Wanita itu memaksa putrinya, menggendongnya dan hendak membawanya pergi tanpa menghiraukan sarapan yang belum benar-benar selesai.
“Tidak Ra-ya! Aku tak mengijinkanmu pergi!” tukas Baekhyun
“Apa ini adalah tempat yang selalu kalian gunakan untuk bertemu? Lihatlah, ia bahkan tau sandi apartemenmu Hyun!” Eunra mengeratkan pelukannya di tubuh Hyunra, mencium puncak kepala putrinya yang juga tengah memeluknya takut.
“Ra-ya jebaal..! Aku memang menyuruh Soyeon eonni kemari. Tapi bukan untuk berselingkuh. Aku ingin dia menjelaskan semuanya padamu!”
“Ne. Apa yang Baekhyun katakan benar. Aku datang untuk menjelaskan semua padamu. Eunra-ya mianhae. Aku tahu aku telah banyak melukaimu. Semua ini karena keegoisanku, karena popularitas grup ku yang menurun, aku sebagai leader harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan grup kami. Kau tahu, berada di dunia hiburan itu sangatlah sulit. CEO kami meminta aku membuat skandal agar saham perusahaan yang di ambang batas kebangkrutan naik. Aku memanfaatkan Baekhyun disini” Soyeon terlihat merunduk dalam.
“Malam itu aku sengaja menghubungi Baekhyun. Aku menjemputnya pukul dua pagi. Dengan berdalih membicarakan kerjasama, aku membawanya ke sebuah parkiran mobil. Dan dengan sengaja kubuka kap mobilku dan menyalakan ponselku kemudian mengarahkannya ke wajahku ketika aku menciumnya. Pihak perusahaan dan wartawan sudah berada disana. Itu semua rencanaku, dan Baekhyun sama sekali tak tau tentang itu. Maafkan aku Eunra-ya..”
“Eonni—-“
“Kau tau, Baekhyun marah padaku. Ia benar-benar marah saat berita itu tersebar”
“Eonni! Tak ku sangka kau akan tega melakukan hal seperti ini padaku! Tidakkah kau tau Baekhyun memiliki seorang istri? Tak pernahkah kau memikirkan tentang perasaanku? Karenamu aku membenci suamiku, karenamu aku mengusir suamiku, karenamu aku hampir bercerai darinya, dan karenamu putriku hampir meninggal! Eonni, kau adalah orang yang paling kejam yang pernah kukenal!” eunra menutup bibirnya, tersedu ketika ia harus menahan semua amarahnya.
“Mianhae Ra-ya. Mianhae..”
“Sudahlah. Noona, gomawo sudah bersedia datang dan menjelaskan semuanya, tapi kurasa sebaiknya kau kembali noona..”
Soyeon mengangguk. Ia terus menatap Eunra dan putrinya sambil sekali lagi menggumamkan kata maaf sebelum ia benar-benar pergi. Baekhyun segera memeluk tubuh istrinya.
“Sudahlah Ra-ya..” tenangnya
“Mianhae.. Mianhae byunnie..”
“Ne…”

***

Taman Hiburan, 19.00 PM

Disinilah keluarga itu sekarang. Di sebuah jembatan kayu yang dihiasi lampion-lampion disepanjang jalannya. Setelah berbagai cobaan yang telah mereka lalui, keduanya ingin sejenak menghabiskan waktunya untuk memandang ke arah langit malam di atas sana yang luas dan bertabur bintang. Hyunra, gadis kecil itu sdah terlelap di bahu ayahnya, sedang kedua orang tuanya masih berdiri, menyandarkan tangannya pada pembatas jembatan berwarna merah itu. Keduanya sama-sama terdiam dan hanya menatap jauh ke arah danau dan langit.
“Biarkan aku menggendong Hyunra. Aku tahu kau lelah Hyun” tutur Eunra. Ya, ia yakin suaminya lelah setelah seharian menggendong putri kecilnya dan berkeliling di taman hiburan ini.
“Anio. Aku baik-baik saja..” elak Baekhyun. Ia kembali melirik jam di lengan kirinya.
“Waeyo?”
“5 menit lagi akan ada pesta kembang api”
“Benarkah?”
Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya singkat. Setelahnya hening kembali mengisi.
“Byunnie mianhae. Aku harusnya percaya dan mendengar penjelasanmu dan bukan bersikap kekanakan dengan mengusirmu dari rumah.”
“Gwenchana. Kau tahu, ini akan menjadi sebuah pelajaran yang berharga di kehidupan pernikahan kita” Eunra mengangguk menyetujui.
“Ra-ya, setelah ini jangan lagi meragukanku. Pernikahan ini memang adalah sesuatu yang telah para tetua atur untuk kita. Tapi percayalah bahwa sampai kapanpun aku akan tetap mempertahankannya. Kau dan Hyunra, kalian berdua adalah bahagiaku. Kalian adalah matahari, pusat kehidupan dan kehangatan untukku. Aku selalu mencintaimu..”
“Baekhyun-ah..” mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. Ia mengapit lembut sebelah lengan suaminya yang bebas dan menyandarkan kepalanya di lengan pria itu.
“Happy Baekra day..” celetuk Baekhyun
“Nde..?”
“Kau tak ingat sekarang tanggal berapa? Ini 27 November chagi. Happy anniversary..”
“Kau mengingatnya?”
“Bukankah kau selalu marah tiap kali aku melupakannya? Karena itu aku selalu mengingat hari ini. Hari dimana kau menjadi milikku seutuhnya, selamanya..” keduanya saling menatap dalam dan intens. Tak ada ucapan, tak ada jawaban, yang ada hanya tatapan lembut penuh cinta.
“Saranghae Choi Eunra..”
‘Dooorr.. Door..’ bunyi letupan kembang api di langit malam itu terdengar memekik. Cahaya warna-warni menyembur disana, seperti tengah merayakan sesuatu yang entah apa. Baekhyun membenarkan gendongannya di tubuh Hyunra, kemudian ia mendekatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya, kemudian mencium lembut kening wanita itu lama. Sangat lama..

“Terimakasih telah bersedia menjadi istriku. Terimakasih telah

5 thoughts on “[EXOFFI Facebook] Our Married

  1. so sweet abis,mewek deh gue😦😦😦 ,alurx bikin hati panas trus adem lg disaat dua pasangan in kembali bersatu,hah,pengen deh punya kehidupan rumah tanggak ky mreka nanti,😛😛😛

  2. Yeah, akhirnya happy ending, ku kira bakal sad ending 😭😭😭 alurnya bener2 bagus ss!!! Author jjanggg!!!! 👍👍👍👍👍 btw, ini pertama kalinya aku baca ff marriage life yg kagak ada kiss scene nya, tapi ttp sweetttt!!!! Aduhhh, author bisa aja dehhh😆😆😆

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s