[EXOFFI LINE@] My Last Four Words For You (Chapter 5-END)

myhome_4

[FF from adders] My Last Four Words For You [Chapter 5-END]

Title:My Last Four Words For You
Author:dkdina
Length:Chaptered
Genre:Romance
Main Cast:Kyungsoo,Kim Joon Myun,Han Yoo Ra
Disclaimer:Fanfiction ini asli buatan saya sendiri. Ide, cast, latar, dan alur berasal dari pikiran saya sendiri. Jika ada kesamaan, itu merupakan sebuah ketidaksengajaan.
Author’s Note:FF ini pernah dipublish di facebook dan blog pribadi

~Happy Reading~

Air mata tak bisa berhenti mengalir dari mata wanita berusia setengah abad yang sedang duduk di kursi rumah sakit.
“Eomma, maafkan aku,” seorang pria berlutut di depan ibunya, lututnya menyentuh lantai rumah sakit yang dingin. Wanita itu tidak bisa menghentikan tangisannya dan ia tidak kuasa memarahi pria di depannya karena pria itu juga darah dagingnya.
“Eomma, ini semua salahku,” ucap pria itu lagi.
“Kenapa kau bisa melakukan hal seperti ini pada adikmu sendiri?” akhirnya wanita itu bisa mengeluarkan suaranya yang serak karena tenggorokannya terasa tercekat merasakan kesedihan yang sangat mendalam.
“Mianhae, Eomma.”
“Kenapa kau melakukan ini, Joon Myun? Siapa yang mengajarimu melakukan sesuatu yang jahat seperti ini? Apa ibu pernah menyuruhmu melakukannya? Apakah mendiang ayahmu pernah mengajarimu seperti itu?”
Joon Myun menggelengkan kepalanya pelan.
“Ibu tidak menyangka anak ibu yang sudah ibu besarkan dengan sepenuh hati tega melakukan hal seperti ini pada adik kandungnya sendiri. Ibu benar-benar tidak percaya. Apakah kau anakku? Apakah kau anak ibu? Kenapa kau melakukan hal seperti ini? Kau lihat Kyungsoo sedang terbaring lemah di dalam sana? Kau tahu betapa dingin tangannya ketika ia terbaring tak berdaya di jalan tadi? Kau tahu?” tangisan wanita itu terpecah kembali. Joon Myun menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba dari ujung koridor terlihat seorang wanita berlari ke arah ibu Kyungsoo dan Joon Myun. Saat wanita itu tiba di tempat tujuannya, saat itu juga seorang dokter keluar dari kamar rumah sakit. Ibu Kyungsoo dan Joon Myun segera bangkit dan mendekati dokter itu. Ibu Kyungsoo yang melihat wajah dokter tampak tidak baik mulai merasa cemas.
“Bagaimana, Dokter? Kyungsoo baik-baik saja, bukan?” ibu Kyungsoo tidak berbasa-basi lagi dan segera menanyakan keadaan Kyungsoo.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Hening. Tidak ada suara di sana.
“Dokter?” ibu Kyungsoo berusaha menyadarkan dokter yang tidak merespon apapun.
“Maafkan saya, Bu. Saya sudah berusaha sekuat tenaga, namun anak Ibu tidak bisa terselamatkan.”
Ibu Kyungsoo serasa diguyur dengan air es, ia tidak percaya dengan kata-kata dokter. Ia segera memasuki kamar rumah sakit dan mendekati Kyungsoo yang tampak sangat pucat. Tangisannya terpecah seketika. Bagaimana tidak? Seorang ibu harus melihat anaknya terbaring lemas di kasur rumah sakit dan sudah tidak bernyawa lagi, ibu mana yang tidak menangis jika dihadapkan dengan keadaan seperti itu. Yoo Ra yang wajahnya kini sudah penuh dengan air mata segera menyusul ibu Kyungsoo, dua wanita itu menangis di depan badan Kyungsoo yang sudah tidak bernyawa lagi.
Sementara Joon Myun merasakan tubuhnya sangat lemas dan kakinya tidak mampu menopang tubuhnya lagi, lututnya tertekuk jatuh ke lantai rumah sakit. Walaupun ia seorang pria, namun ia tidak mampu menyembunyikan air matanya di keadaan seperti ini. Ia merasa sangat tidak berdaya dan tidak berguna. Air mata tidak henti-hentinya mengalir dari mata Joon Myun. Ia tidak kuasa melihat adiknya lagi, apalagi dalam keadaan tidak bernyawa. Ia merasa sangat malu. Malam itu, seperti hujan yang terus mengguyur bumi, air mata juga tak henti-hentinya mengalir dari berpasang-pasang mata keluarga kecil dengan banyak cerita ini.
***
Orang-orang yang menghadiri pemakaman Kyungsoo sebagai rasa simpati, satu-persatu mulai meninggalkan makam Kyungsoo. Kini tinggal tiga orang yang berada di depan gundukan tanah tempat Kyungsoo dikuburkan.
“Kyung… Hyung minta maaf. Hyung benar-benar minta maaf. Hyung memang bukan kakak yang baik untukmu. Maaf kau harus mempunyai kakak seperti aku, Kyung,” Joon Myun mengusap batu nisan dimana nama Kyungsoo terukir di sana.
“Kyungsoo putraku, kau adalah putra ibu yang baik. Ibu bangga padamu, Kyungsoo. Maafkan ibu yang selama ini tidak bisa membelikanmu pakaian bagus, sepatu bagus, dan tas bagus seperti milik temanmu. Maafkan ibu, Kyungsoo.”
Joon Myun yang melihat ibunya menangis tersedu-sedu semakin merasa bersalah, ia menepuk bahu ibunya berusaha menenangkannya. Ia merasa sangat malu dengan ibunya, namun ia tidak bisa diam saja melihat ibunya menangis seperti itu.
“Ibu, jangan menangis lagi, Bu. Lebih baik kita pulang sekarang. Langit sudah mulai mendung.”
Akhirnya, mereka bertiga meninggalkan makam Kyungsoo dengan diselimuti kesedihan yang begitu mendalam.
***
Satu bulan kemudian….
“Apakah kau sudah lama menungguku?” Joon Myun segera duduk di sebelah wanita bernama Han Yoo Ra. Mereka berada di sebuah taman dengan banyak pohon maple.
“Aniyo.”
“Ada apa?”
“Bagaimana keadaan bibi sekarang? Apa dia masih sering menangis malam-malam?” Yoo Ra menatap Joon Myun.
“Ehm,” Joon Myun hanya menganggukkan kepalanya pelan.
“Dia pasti masih sangat sedih.”
“Tentu. Apa kau menyuruhku datang ke sini hanya untuk itu?” Joon Myun menatap Yoo Ra bingung.
“Tentu saja tidak. Oppa, kurasa aku harus memberitahumu ini,” Yoo Ra mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ia menyerahkannya pada Joon Myun.
“Apa ini?”
“Kau akan tahu setelah kau membacanya,” Yoo Ra menunjuk benda itu dengan dagunya mengisyaratkan agar Joon Myun membacanya. Joon Myun segera membaca benda di genggamannya, sebuah surat tanpa amplop. Setelah ia selesai membacanya, surat yang ada di genggamannya jatuh ke tanah.
“Ini? Benarkah ini? Kyungsoo? Bagaimana bisa?”
“Dokter itu yang memberikannya padaku, dia bilang Kyungsoo sempat sadar. Walau keadaanya sangat kritis, ia berkemauan keras untuk menulis surat ini. Dia menitipkannya pada dokter dan ingin dokter itu menyerahkannya padaku setelah dia dimakamkan. Dia tidak ingin keluarganya mengetahuinya karena ia tidak ingin membuat kalian sedih. Itulah yang dokter itu katakan padaku,” sinar matahari yang menyinari wajah Yoo Ra membuat matanya yang berkaca-kaca semakin tampak jelas.
“Lalu, kalau dia sempat sadar kenapa dokter tidak memberitahu kami dan menyuruh kami bertemu dengannya?”
“Kyungsoo yang menyuruh dokter itu untuk tidak memberitahumu dan ibumu, dia tidak mau kalian bersedih melihatnya tidak berdaya. Dia tidak mau mengungkapkan ini semua karena dia tidak ingin kalian bertambah sedih setelah kematiannya. Tapi, kenapa dia jahat padaku? Kenapa dia mengatakannya padaku? Apa dia tidak berpikir aku juga bersedih mengetahui hal ini?” air mata Yoo Ra mulai mengalir, namun ia segera menghapusnya.
“Tapi, aku rasa Kyungsoo anak yang sehat. Bagaimana bisa dia mengidap penyakit itu?”
“Entahlah, apa dia merokok?”
“Tentu saja tidak.”
“Kalau begitu, mungkin dia sering mengisap asap rokok?”
“Mana mungkin. Di keluarga kami tidak ada yang merokok,” Joon Myun mengerutkan dahinya.
“Kalau begitu pasti karena faktor lain,” Yoo Ra terlihat membereskan tasnya, “Oppa, aku serahkan surat ini padamu, jadi kau harus menjaganya baik-baik. Dan kau tahu kan aku tidak mungkin bisa melakukannya? Tolong maklumi aku, Oppa. Karena saat ini, Kyungsoo masih ada di hatiku,” Yoo Ra bangkit dari kursi taman itu dan berjalan meninggalkan Joon Myun.
Tatapan Joon Myun kosong. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Namun, tiba-tiba ia ingat kalau Kyungsoo pernah bekerja paruh waktu di kontruksi bangunan, pasti dia banyak menghirup asap-asap yang ada di sekitarnya hingga membuatnya menderita penyakit mengerikan itu. Ingatan saat ia melihat bercak darah di kerah Kyungsoo pun terputar di otaknya, Joon Myun benar-benar tidak percaya. Jadi, Kyungsoo selama ini menyembunyikan fakta itu dengan sangat baik.
“Kyungsoo-ya. Kenapa kau melakukan ini? Kenapa, Kyungsoo? Kau menyembunyikan penyakitmu dan kau menyuruh dia mencintaiku. Apa kau pikir aku masih bisa mencintainya saat kau harus pergi dari dunia ini karena aku mencintainya? Apa kau tidak tahu betapa malunya aku padamu? Tapi kau justru menyuruhnya mencintaiku,” Joon Myun menundukkan kepalanya, air matanya menetes hingga membasahi secarik kertas yang terjatuh di tanah.

Untuk Yoo Ra,
Yoo Ra-ya, saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Kau tahu, aku sudah lama memendam perasaanku padamu. Kita baru saja dekat, tapi sekarang kita harus berpisah. Rasanya tidak adil jika kau tidak mengetahui rahasia-rahasiaku. Aku sebenarnya ingin menceritakan rahasiaku ini pada seseorang, tapi aku tidak bisa melakukannya. Tapi kurasa, setidaknya kau harus tahu.
Harus kumulai dari mana, ya? Baiklah, ada satu rahasia yang sudah selama dua tahun ini aku sembunyikan. Kau tahu, sebenarnya aku mengidap penyakit kanker paru-paru. Kau pasti tidak menyadarinya, kan? Aku yakin tidak ada seorangpun di dunia ini yang menyadarinya. Terkadang aku bangun tengah malam karena aku muntah darah, untungnya eomma dan hyung sudah tidur. Yang paling merepotkan jika darah itu keluar saat siang hari, aku harus berlari dengan cepat ke kamar mandi, kalau aku terlambat sedikit saja, mungkin eomma dan hyung akan langsung mengetahuinya.
Tapi, sebenarnya bukan ini masalah pokok yang ingin aku katakan. Aku sangat berharap kau bisa menjadi pendamping hidup hyung-ku. Dia sebenarnya diam-diam menyukaimu. Kau pasti tidak menyadarinya, kan? Dia itu memang pemalu. Yoo Ra-ya, kau bisa kan mencintainya untukku? Kau bisa kan mencoba mencintainya? Dia kan hyung-ku, kau pasti bisa melakukannya. Dan ada satu hal lagi yang ingin aku katakan, kau bisa kan mengatakan kalimat yang tidak bisa aku katakan ini? Tolong katakan ini untukku pada hyung-ku, mungkin ini terlihat menggelikan tapi tolong katakan ini, hanya empat kata ini, “Saranghaeyo, Kim Joon Myun.”
~Kyungsoo

~END~

#EXOFFI #MyLastFourWordsForYoudkdina

One thought on “[EXOFFI LINE@] My Last Four Words For You (Chapter 5-END)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s