[EXOFFI FREELANCE] Shouldn’t Have (Chapter 4)

1440856484558

by bebebaek_

Prolog | chapter 1 | chapter 2 | chapter 3

Main cast : Park Ae Yeon (oc), Oh Se Hun (EXO)

Addicional Cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc),

Kim Ra Ra (oc), Byun Baekhyun (EXO), Song Ji Min (oc)

Kim Jong Dae (EXO)

Genre : family, marriage life, sad, romance

Length : Chaptered| Rating : PG 15

Hasil khayalan murni, don’t plagiat.

“Cerita ini sudah pernah dipublish di akun wordpress pribadi bebeb (BABY BEE) https://beebbaek.wordpress.com dengan judul yang sama”

Sorry typo-.-

.

.

.

Ae yeon berhenti berlari dengan nafas terengah-engah dan kedua tangan berada disisi pinggangnya, tidak lama setelahnya Ji Min sang sahabat juga berhenti tepat disampingnya. “Yak ae yeon-ah, kau berlari terlalu cepat” protes Ji Min.

“Namanya juga lari, kalau tidak cepat namanya jalan bukan lari”

“Ishhhh kau benar-benar” cemberut Ji Min lantas Ae yeon hanya tersenyum dan menyeka keringat dikeningnya dengan handuk kecil dibahunya.

“Kajja, kita pulang” ajak Ae yeon.

“Chankkaman,” cegah Ji Min.

“We ?”

“A-aku sedang menunggu seseorang, mungkin sebentar lagi dia akan datang”

“Hhmmm seseorang ? nugu ?” Tanya Ae yeon dengan wajah bingung

“Hhmmm” Ji Min menautkan jari jemarinya “Namja, Namjachingu baruku”. Lanjut Ji Min setelahnya dengan senyum malu-malu.

“Mwo ? Nugu ? Kapan kalian mulai berkencan” kaget Ae yeon yang direspon hanya dengan senyuman dari Ji Min.

Beberapa menit berlalu sampai akhirnya dua namja dari arah berlawanan berjalan kearah Ae yeon dan Ji Min, salah satu namja melambaikan tangannya semangat dengan senyuman lebar di bibirnya, sedangkan satu namja lainnya berjalan disampingnya dengan santai dan wajah datar, sepasang earphone menempel dikedua telinganya dan satu tangannya memegang handphone yang tersalur dengan earphone tersebut membuat namja itu terlihat dingin.

“Apa kau menunggu lama ?, mian membuatmu menunggu” sapa namja yang melambaikan tangannya tadi.

“Eoh, gwenchana. Kami baru saja selesai memutari taman ini” jawab Ji Min dengan senyum manisnya.

“Jadi kalian lari pagi ?”

“Ne”

“Eoh, aku tidak tahu jika saja kau memberitahuku mungkin aku akan ikut lari pagi bersama” kata namja itu lagi.

“ah benar, kenal kan ini sahabatku Park Ae yeon” kata Ji Min memperkenalkan

Ae yeon megulurkan satu tangannya dan disambut oleh namja di depannya dengan senyum mengembang lantas berkata “perkenalkan aku kim jong dae”.

Setelah melepas jabatan tangannya jong dae memalingkan pandangannya kesamping, mendapati yang dicari tidak ada jongdae kembali memutar tubuhnya mengerahkan pandangannya dan menemukan teman yah namja yang bersamanya tadi ada dibelakangnya beberapa meter, masih sibuk dengan handphonenya. Jongdae tidak memanggilnya karena dia tau itu akan sia-sia yah jongdae masih sadar sekarang ini temannya itu sedang memasang earphone dikedua telinganya. Jongdae lantas berlari kearah namja itu dan mengajak namja itu kearah Ji Min dan Ae yeon.

Setelah tiba di hadapan Ji Min dan Ae yeon jongdae tersenyum dan berkata “Kenalkan ini temanku Oh Se Hun”. Jongdae merangkul bahu Sehun.

Ji Min ternsenyum dan menjawab “Song Ji Min imnida” yang di balas sehun dengan senyuman tipis.

“Park Ae Yeon imnida” kata Ae yeon dan setelahnya ekspresi ae yeon berubah wajahnya nampak mengingat – ingat. Yah wajah namja di depannya terasa tidak asing baginya, hanya saja ae yeon sama sekali tidak ingat dimana dia pernah bertemu namja itu.

Tidak beda dengan ae yeon, sehun juga beku ditempatnya menatap gadis di depannya. Gadis yang selama ini sering secara tidak sengaja selalu hadir di kesehariannya dan entah kenapa beberapa hari ini sukses membuat sehun selalu memikirkannya.

Keduanya masih terdiam, sehun masih memandang dalam gadis di depannya dan Ae yeon masih mengingat-ingat sampai akhirnya ae yeon bersuara “Eoh, kau….” Ae yeon menunjuk Sehun “Bukan kah kau yang pernah kutabrak waktu itu dipenyeberangan jalan ?” ingat ae yeon akhirnya yang hanya di jawab sehun dengan senyuman tipis.

“Ah benar, mian waktu itu aku terburu-buru” lanjut Ae yeon.

“Gwenchana” jawab sehun akhirnya.

“Eohh.. kalian sudah saling kenal rupanya” Jongdae ikut bersuara.

“Ahh tidak, waktu itu aku menabraknya secara tidak sengaja. Yah aku terburu-buru” jawab Ae yeon.

“Begitu ? eyyy itu sama saja, intinya kalian sudah saling kenal” kata Jongdae sekenanya.

“Cham, karena kalian sudah saling kenal tidak apa-apa bukan jika kami tinggal” lanjut Jongdae “kami mau berkencan, iyakan sayang” jongdae merangkul bahu Ji Min yang dijawab yeoja itu dengan senyuman.

“Apa tidak apa-apa Ae yeon ah ?” Tanya Ji Min.

“Eoh, Gwenchana. Kalian berkencanlah” jawab Ae yeon dengan senyuman canggung.

“Gomawo, Ae yeon-ah” Jongdae tersenyum “Ahh sehun, aku titip sahabat yeojachinguku ne ?” jongdae kembali tersenyum dan berlalu setelahnya.

Sehun hanya memandang kepergian pasangan baru itu dengan wajah datar “ckckc, dasar anak itu” kata sehun setelahnya.

Setelah kepergian Ji Min dan Jongdae keheningan menyelimuti Ae yeon dan sehun sampai akhirnya Sehun bersuara “kau mau kemana ?”

“Aku, entahlah. Mungkin akan kerumah sakit” jawab Ae yeon sekenanya karena memang dia tidak memiliki jadwal apapun hari ini.

Sehun tersenyum, dia memandang wajah gadis yang kini berada disampingnya lekat, entahlah perasaan aneh itu muncul lagi. Yah perasaan yang aneh, rasanya ada sesuatu dalam dirinya ingin keluar. Entahlah rasa itu masih terlalu asing baginya. Pada akhirnya sehun hanya tersenyum kembali. “Mau jalan-jalan sebentar ?” tawar sehun.

“Baiklah”

“Kau tidak berkerja di rumah sakit hari ini ?”

“Eoh, bagaimana kau tau aku…” wajah ae yeon bingung

“Bukan kah tadi kau mengatakan akan kerumah sakit ?”

“Iya, tapi aku tidak mengatakan aku berkerja di rumah sakit” Ae yeon masih bingung.

“Ahhh itu” sehun tersenyum “waktu kau menabrakku aku tak sengaja membaca lembaran laporanmu” jawab sehun akhirnya.

“Ohhh.. itu” Ae yeon tersenyum akhirnya “Sekali lagi maaf atas kejadian hari itu”.

Keduanya berjalan beriringan sampai akhirnya mereka duduk dikursi taman setelah berjalan agak jauh. Sehun berdiri setelahnya dan berkata “Tunggu sementar aku akan membeli minuman”

“Eoh” Ae yeon terkejut dan mengangguk setelahnya.

Aneh mereka baru saja bertemu tapi rasanya sudah begitu dekat. Entah mengapa ae yeon merasa nyaman saat dekat dengan sehun. Banyak pikiran melayang dibenak ae yeon sampai akhirnya sehun datang dan menyodorkan cup ice coffe latte kepadanya “Hhmm gomawo”.

Sehun tersenyum “Kajja aku akan mengantarkanmu”

“Tidak perlu repot, aku akan pulang sendiri dan aku akan mampir ke rumah sakit sebentar”

“Gwenchana, aku tidak merasa repot. Baiklah aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit” kata sehun lagi dan akhirnya keduanya masuk kedalam mobil Lamborghini Murcielago LP 640 milik Sehun dan melaju memecah jalan menuju rumah sakit.

.

.

.

“Aku pulang…” kata Ae yeon setibanya di rumah.

“Kau sudah pulang ? tidak biasanya kau keluar rumah di hari liburmu” kata chanyeol.

“Hhmmm, aku keluar salah, dirumah juga kau ejek”

“Jelas saja, kau hanya tidur dan menggangguku jika di rumah”

“Ya sudah aku akan berjalan-jalan saja di hari liburku, jadi oppa tidak terganggu” Ketus Ae yeon.

“Eyyyyy, Park Ae Yeon. Sepertinya kau sedang dalam mood yang bagus” goda Chanyeol.

“Eyyy oppa, aku memang selalu dalam mood yang bagus”

“Benar, dongsaengku memang selalu ceria” kata Chanyeol lagi lalu mencupit pipi Ae yeon.

“Yak, oppa sakit. Lepaskan aku”

“Okay okay, dongsaeng manisku..” goda chanyeol lagi

“Baiklah Oppa kerenku, dongsaeng manismu naik dulu ne”

“Oh geureuh” Chanyeol tersenyum setelahnya. Sementara ae yeon naik menuju kamarnya.

.

.

.

Di dalam kamar yang luas dengan sedikit penyinaran, sehun sedang berbaring diatas tempat tidurnya yang luas, tangannya sedang memegang benda pesegi dengan layar sensitif itu dengan wajah gusar. Yah sejak pertemuan pertama mereka diacara kencan temannya Kim Jong Dae, Sehun selalu merasa gelisah terkadang sehun tersenyum mengingat hari itu, sehun juga pernah berfantasi bertemu kembali dan berjalan-jalan dengan Ae yeon dan terkadang Sehun juga sangat ingin menemui gadis itu lagi.

Sehun masih gusar setelah beberapa saat yang lalu jong dae menelponnya dan menanyakan ini itu tentang apa saja yang sehun dan ae yeon lakukan setelah ditanggal olehnya. Yah itu memang sifat khas Jongdae, selalu memberi kesempatan kepada temannya untuk mendekati seorang gadis.

Awalnya sehun tidak menanggapi dan hanya menjawab pertanyaan jongdae sekenanya, Namun setelah beberapa kali dipancing oleh pertanyaan-pertanyaan menjurus dari Jongdae akhirnya sehun jujur mengatakan dia ingin kembali bertemu gadis itu yang jelas dijawab jongdae dengan tawa yang menggelegar.

Beberapa saat setelah Sehun menutup sambungan teleponnya dengan jongdae sebuah pesan masuk. Sehun lantas kembali memegang benda persegi itu. Sehun tertegun menemukan pesan teks dari jongdae berupa deretan angka yah sebuah kontak dan itu kontak Ae yeon. Jangan tanyakan bagaimana Jongdae menemukannya karena sudah bisa dipastikan setelah menutup sambungannya dengan sehun, jongdae pasti menghubungi Ji Min-kekasih barunya dan melancarkan kata-kata andalannya hingga akhirnya mendapatkan kontak Ae yeon. Yah Jongdae memang ahli dalam hal ini.

Masih memandangi deretan angka di handphonenya ekspresi sehun sama sekali belum berubah. Sehun tidak berani menekan tombol hijau karena setelahnya sehun tidak tahu harus berbicara apa. Sehun melempar handphonenya kesamping dan berbalik memunggunginya namun beberapa menit kemudian sehun kembali mengambilnya dan menyalakannya. Masih mengumpulkan keberanian sehun akhirnya terlarut dalam kantuknya lantas namja itu tertidur dan masuk kealam mimpi.

.

.

.

Keesokan harinya, pagi-pagi sehun berangkat menuju kantor untuk menyelesaikan beberapa urusan dan meeting dengan beberapa klien. Setelah semuanya selesai sehun dengan wajah lelah duduk dikursinya kembali memandang layar handphonenya. Dan entah mendapat keberanian dari mana setelah beberapa saat memandang dingin layar handphonenya sehun menekan tombol hijau dan menempelkan benda itu ketelinganya.

“yeoboseyo…” suara seorang gadis diseberang sana.

Sejenak sehun tertegun tidak bersuara

“yeoboseyo…” suara gadis itu lagi

“Ahh ne, yeoboseyo”

“Maaf ini siapa ?”

“Ahh ini aku oh sehun, maaf jika mengganggumu”

“Ne, dari mana…” Ae yeon menggantung kalimatnya.

“Itu, aku mendapat kontakmu dari jongdae, mungkin dia mendapatkannya dari sahabatmu”

“Ahh ne”

“Apa kau sibuk ?”

“Ne, emmm ya aku sedang memeriksa anak-anak, we ?”

“Tidak, hanya saja. Kapan kau memiliki waktu luang ?” Tanya sehun lagi

“Mungkin jam makan siang”

“Apa kau bisa keluar ?”

“Hhmmm sepertinya akan sulit”

“Apa aku boleh menemui dirumah sakit ?”

“Ne ?”

“Ahh, aku hanya bosan. Di kantor pekerjaanku sudah selesai. Apa aku boleh ?”

“Yah.. tentu”

“Baiklah, sampai ketemu” jawab sehun semangat.

Setelah sambungan terputus Ae yeon merasa wajahnya memanas entahlah setelah beberapa saat lalu berbicara dengan sehun yang baru kali ini menelponnya entah mengapa menjawab deretan pertanyaannya terasa begitu sulit.

Tidak lama berselang Sehun tiba di rumah sakit Hwangju dan berjalan menuju ruang rawat anak, setibanya di depan ruangan sehun masuk dan mengedarkan pandangannya, lantas dia tersenyum mendapati gadis yang selama seminggu ini sangat ingin dia temui, gadis yang selalu muncul difantasinya. Yah ae yeon sedang memeriksa seorang anak lelaki dengan wajah ramahnya dan sesekali tersenyum membuat anak lelaki itu ikut tersenyum.

Sehun berjalan menghampiri bangsal tempat ae yeon memeriksa anak lelaki itu. Tepat di belakan Ae yeon sehun menghentikan langkahnya dan kembali memandang gadis itu lekat hingga ujung bibirnya kembali tertarik membentuk sebuah senyuman.

“Euu.. siapa ahjusshi ini ?” kata anak lelaki itu

Ae yeon lantas menegakkan posisi duduknya dan berpaling melihat kearah pandangan anak lelaki itu. Setelah mendapati orang yang dimaksud adalah sehun, ae yeon lantas tersenyum dan bersuara “kau sudah tiba ?”

“Hhmm, baru saja” jawab Sehun

“Noona, apa ahjusshi ini namjachingu noona ?”

Mendengar pertanyaan mendadak seperti itu sukses membuat ae yeon tertegun lama dan sehun jangan harap dia akan menjawab karena sama sehun juga terkegut dengan pertanyaan anak lelaki itu.

“T-tidak, dia teman noona” jawab ae yeon akhirnya dengan gugup

Mendengar jawaban ae yeo nada rasa kecewa di benak sehun tapi itu semua memang benar pada kenyataannya mereka memang baru bertemu dua kali.

“Baiklah, karena kau sudah tidak apa-apa, noona akan pergi tapi nanti suster akan membawakan makan siang untukmu , habiskan ne ?”

“Baik, noona”

Ae yeon tersenyum dan setelahnya berjalan menuju sehun “Ayoo kita kekantin”

“Eoh, baiklah”

Setibanya dikantin rumah sakit, Sehun duduk dikursi kosong dekat jendela kaca yang mengadap ketaman belakang rumah sakit. Sementara ae yeon mengambil dua nampan makanan dengan menu sup kimchi hari ini.

“Ini, makanlah”

Sehun memandang nampan yang diletakkan di depannya.

“We ? kau tidak suka?”

“Ahh, ani aku akan memakannya. Kebetulan aku belum makan siang”

Ae yeon hanya tersenyum dan itu membuat sehun memandangnya lama, memperhatikan ae yeon makan sendok demi sendok sup ke dalam mulutnya yah sehun menyukainya dan perasaan aneh itu muncul kembali.

“Ehemm, anak lelaki itu keterlaluan ?” Sehun membuka suara

“Hmmm, we ?”

“Ya, anak itu keterlaluan dia memanggilmu noona, sedangkan aku dia menyebutku ahjusshi”

Kalimat sehun barusan sukses membuat ae yeon tertawa dan lagi sehun terpaku memandangnya.

“Yak, jangan terlalu diambil hati, anak kecil memang seperti itu”

“Hmmmm, ya tentu”

Setelah selesai makan siang keduanya berjalan menuju pintu utama

“Setelah ini kau akan kemana ?” Tanya Ae yeon

“Aku ada meeting dengan klien”

“Ahh baiklah sampai jumpa”

Sehun menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menghadap ae yeon

“Gomawo, telah menemaniku makan siang” yang dijawab ae yeon hanya dengan senyum yang sangat manis di mata sehun “sampai jumpa” lanjut Sehun setelahnya dan kemudian masuk kedalam mobilnya melaju menuju kantornya.

.

.

.

Malam ini sehun pulang terlambat karena beberapa proyek barunya yang memerlukan banyak perhatian. Setelah memarkirkan mobilnya, sehun masuk ke dalam rumah mewah miliknya yah mungkin akan menjadi miliknya kelak. Sehun mendapati lampu utama telah mati mungkin orang-orang telah terlelap. Sehun naik menuju kamarnya, saat menuju kamarnya sehun mendengar suara samar-samar dari ruang kerja aboejinya. Penasaran sehun berdiri di depan pintu ruangan tersebut.

“Apa ? Aboenim melakukan itu ? tapi mengapa, mengapa beliau tidak memberi tahu kita ?” kata nyonya Oh gusar.

“Mungkin aboeji berencana kan memberi tahu kita, hanya saja….” Kalimat tuan Oh menggantung mengingat suatu kejadian pahit menimpa kedua orang tuanya.

“Ahh, maafkan aku yeobo. Aku tidak bermaksud…” kata nyonya Oh merasa bersalah

“Gwenchana yeobo-ya..”

“Jadi abeonim menjodohkan sehun dengan siapa ?” Tanya nyonya oh yang sukses membuat Sehun yang mendengar dari luar ruangan terkejut dan semakin menajamkan pendengarannya.

“Dengan anak bungsu keluarga Park” jawab tuan Oh

“Park Chan Seul ?”

“Ne, dengan putri Park Chan Seul . Park Ae Yeon” Kalimat yang keluar dari mulut tuan Oh membuat sehun membatu di tempat, yah sehun merasa tidak percaya hanya saja dia bahagia, sehun yakin ae yeon yang gadis yang dimaksud aboejinya adalah ae yeon yang dia kenal, yang selalu ingin ditemuinya, yang yah sukses mencuri perhatian sehun.

Setelah tersadar sehun beranjak menjauh dari tempatnya berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, sehun yang diliputi keyakinan jika itu adalah ae yeon yang kini dia pikirkan tidak lagi mendengarkan pembicaraan kedua orangnya. Sehun juga lupa dengan hubungannya dengan gadis bernama Ra Ra, ya sehun melupakan hal itu karena seorang gadis yang baru dikenalnya.

Sementara itu diruang kerja tuan Oh, keduanya masih membicarakan masalah perjodohan itu

“Tapi bagaimana dengan keluarga tuan kim ? bukan bermaksud tidak ingin melaksanakan wasiat itu hanya saja.. tuan kim tidak akan terima jika kita membatalkan perjodohan sehun dengan putrinya” kata nyonya oh penuh kekhawatiran.

“Itu juga yang aku pikirkan yeobo-ya, tuan Junsu sangat berkuasa. Dia tidak akan membiarkan kita hidup dengan tenang setelah mempermalukan keluarganya” kata tuan Oh sama gusarnya.

“Sudahlah yeobo, ini sudah larut kita pikirkan nanti saja jalan keluarnya” kata nyonya Oh akhirnya.

.

.

.

Beberapa minggu terakhir Sehun dan Ae yeon semakin dekat, sering makan bersama. Berjalan-jalan dihari libur dan sering bertukar kapar lewat pesan. Yah itu semua terjadi begitu saja entahlah mereka dengan cepat bisa begitu dekat.

Hari ini tepat sebulan lagi acara pernikahan Chanyeol dengan Hyejin, Ae yeon di dapuk oleh hyejin untuk menemaninya melakukan fitting baju pengantin di sebuah butik ternama di pusat Garosugil, Sinsa-dong, Ae yeon memang sudah mengatakan bahwa dia akan datang terlambat karena kesibukannya dirumah sakit jadilah Hyejin dan Chanyeol tiba terlebih dahulu dibutik.

Ae yeon bergegas menuruni anak tangga rumah sakit, yah dia tidak menggunakan lift Karena memang sedang terburu-buru. Saat tiba di depat pintu utama rumah sakit Ae yeon berhenti mendapati sehun di depannya.

“Yak, kenapa kau berlari ?”

“A-ku s-sedang buru-bur-u” jawab Ae yeon ngosngosan

“Kau ada janji ?”

“Ne, aku berjanji akan menemani chanyeol oppa dan hyejin eonni fitting baju pernikahan mereka, eottokke aku sudah sangat terlambat” panic Ae yeon.

“Baiklah, kajja aku antar”

“Ne ?” ae yeon tertegun.

“Bukan kah kau katakan kau sedang buru-buru dan sudah sangat terlambat”

“Ne”

“Bukankan dengan mobil akan sedikit lebih cepat, kajja” ajak sehun kemudian menarik lengan ae yeon dan menuntunnya masuk ke dalam mobil sehun disamping kemudi. Lantas mobil melaju menuju butik.

Setibanya di butik tempat hyejin dan chanyeol melakukan fitting baju pernikahan, ae yeon bergegas masuk yang di ikuti Sehun dengan tenang dibelakang.

“Eonni mianhae, aku terlambat. T-tadi salah satu pasienku sangat rewel” Ae yeon langsung menjelaskan dengan nafar berderu.

“Gwenchana Ae yeon-ah, lagi pula kami baru akan memulainya” jawab hyejin lembut.

“Benarkah, syukurlah” kata ae yeon lega.

Melihat seseorang dibelakang ae yeon sejak kedatangan Ae yeon tadi, Hyejin merasa penasaran siapa namja itu dan akhirnya hyejin menarik ae yeon lebih dekat “Yak, yak siapa namja tampan bersamamu itu ?” Tanya hyejin dengan suara pelan.

Ae yeon tersadar, dia baru saja melupakan kehadiran sehun yang telah mengantarkannya “Eoh, dia Sehun temanku” jawab Ae yeon polos.

“Eyyyy benarkah ? sepertinya bukan sekedar teman melihat dia mengantarkanmu seperti ini” goda Hyejin.

“Benar eonni, aku tidak berbohong” Ae yeon tiba-tiba kesal.

Hyejin tersenyum lembut “Benarkah ? tapi ae yeon-ah apa kau menyukainya?” Tanya hyejin lagi.

“Eonni…” Ae yeon benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi karena merasa malu dengan godaan dari calon kaka iparnya itu. Beruntung setelah itu seorang namja keluar dari kamar ganti menggunakan setelan tuksedo putih dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Yah oppanya terlihat sangat keren ditambah dengan tinggi badannya yang menjulang dan rambut hitamnya yang disisir rapi tanpa poni.

“Apa yang sedang kalian bicarakan ?” Tanya chanyeol penasaran.

“Itu chanyeol-ah, ae yeon sedang…”

“Eonni !!” teriak ae yeon memotong kalimat hyejin. “oppa kau benar-benar keren dengan pakaian seperti itu” lanjut ae yeon setelahnya sengaja mengganti topik.

“Tentu saja aku memang keren” jawab chanyeol super percaya diri

“ckck, aku salah memuji, dia besar kepala akhirnya” kata ae yeon lemah

“Yak. Apa yang kau katakan” Tanya chanyeol

“Tidak ada oppa” elak ae yeon.

“Ehemmm, ae yeon-ah apa temanmu tidak kau kenalkan kepada kami ?” Hyejin kembali membahas teman ae yeon karena masih penasaran.

“Teman ? jadi kau bersama temanmu ?” Tanya chanyeol

“Ne, chagi. Dia diantar..” hyejin memelankan suaranya “teman tampannya” lanjut hyejin dan ditatap dingin oleh ae yeon.

“mana, ayoo kenalkan padaku” chanyeol ikut penasaran.

“Eoh baiklah” ae yeon akhirnya berjalan kearah sehun dan mengajaknya menghampiri dua orang menyebalkan yang sangat dia sayangi.

“Oppa, eonni kenalkan ini sehun temanku” kata ae yeon.

“Oh Se Hun imnida” kata sehun lalu membungkuk.

Hyejin tersenyum kepada sehun yang dibalas sehun dengan senyuman kembali. Tapi berbeda dengan chanyeol, oppa ae yeo tersebut sejenak diam terlihat berfikir.

“Oh Se Hun ? apa dia anak dari keluarga Oh yang dimaksud Appa ? Apa dia lelaki yang dijodohkan dengan Ae yeon ? apa mereka sudah mengetahuinya?” banyak pertanyaan bermunculan dibenak chanyeol setelah mendengar nama Oh Se Hun.

“Yak, chanyeol-ah kenapa kau hanya diam” bisik hyejin merasa tidak enak dengan sehun

Chanyeo tersadar dan akhirnya bersuara “Eoh, ahh chanyeol imnida, oppa ae yeon” jelas chanyeol.

“Ne” jawab sehun sopan.

.

.

.

Pagi diawal pekan memang sangat melelahkan, yah banyak pasien berdatangan terlebih anak-anak yang menangis membuat kuping bahkan kepala bisa saja berdenyut. Tidak terkecuali dengan Ae yeon walaupun telah terbiasa dengan tangis dan ocehan dari anak-anak tetap saja disaa dia kelelahan hal-hal itu bisa membuatnya sakit kepala.

Saat Ae yeon sedang kelelahan dan kepalanya berdenyut Ji Min datang, bukan ingin menghibur atau mengajaknya beristirahat tapi kedatangan Ji Min menambah sakit kepala yang mendera Ae yeon. Yah semenjak pagi Ji Min selalu merengek mengajak Ae yeon untuk ikut dengannya sore nanti setelah pergantian tugas. Bukan tidak mau hanya saja kali ini ae yeon lebih memilih untuk beristirahat diruang istirahat yang disediakan rumah sakit. Yah ae yeon dan ji min minggu ini memang full bertugas di ruang rawat inap anak jadi tidak memungkinkan keduanya untuk pulang kerumah.

Ji Min terus merengek, mengiming-imingi ae yeon dengan berbagai tawaran, berhasil yah ae yeon lelah semakin lelah mendengar rengekan sahabatnya itu yang tidak akan berhenti sebelum iya mengiayakannya. Akhirnya ae yeon menyetujui untuk ikut bersama mereka yang akhirnya berhasil merubah ekspresi memelas Ji Min menjadi senyum mengembang.

Waktu pergantian shift akhirnya tiba, Ji Min masih dengan senyum mengembang menemui ae yeon dan bergegas mengajaknya keluar.

“Yak, tunggu aku melepas jas-ku” protes Ae yeon

“Ne, baiklah” jawab Ji Min masih dengan senyum.

Setelah melepas jas-nya dan mengambil tasnya akhirnya ae yeon berjalan kearah Ji Min.

“Kajja..” kata Ji Min sebelum mengamit lengan Ae yeon dan berjalan menuju pintu utama.

.

.

.

Setibanya di caffe tempat janjian Ji Min dan Jongdae, keduanya masuk dan mengedarkan pandangan ke sekeliling isi caffe. Akhirnya mereka menemukan dua namja duduk disamping meja yang berdekatan dengan kasir.

Ae yeon terkejut melihat ada sehun disamping jongdae tersenyum kearahnya. Dan itu membuat ae yeon tidak tahan untuk tidak membalas senyumnya.

“Yak, kau tidak menyesal bukan ikut denganku” bisik Ji Min menggoda.

“Issshhhh, kau…” ae yeon memasang ekspresi kesal menghadap pada Ji Min yang tidak dihiraukan olehnya.

Akhirnya keduanya berjalan mengahampiri jongdae dan sehun lantas duduk di kursi kosong didepan kedua namja tersebut.

Lama mereka saling berbicara, sesekali bahkan jongdae melontarkan kalimat-kalimat rayuannya yang manis bagi Ji Min namun ingin membuat muntah bagi ae yeon yang mendengarnya. Sehun hanya tersenyum miring tiap kali jongdae melontarkan kalimat dan janji-janjinya.

Suasana tetap hangat dan menyenangkan sampai akhirnya seorang yeoja menggunakan dress biru muda selutut dengan rambut hitam panjang tergerai indah masuk kedalam caffe dan berjalan kearah mereka berempat. Sehun yang meliat terlebih dahulu menyadari akan adanya kekacauan setelah ini, namun sehun hanya diam pura-pura tidak menyadari kehadiran yeoja itu sampai akhirnya yeoja tersebut berhenti tepat disamping meja mereka.

“Yak, Kau Kim Jong Dae, jadi ini pekerjaanmu selama ini ?” kalimat pertama yeoja tersebut yang sukses membuat mata jongdae terbelalak dan kedua yeoja di depannya bingung.

“Hemm, baru ku tinggal beberapa bulan untuk mengurus berbagai persiapan pernikahan kita, jadi ini yang kau lakukan ?, kau berselingkuh ? bermain wanita lagi ? kau mau kita putus dan pernikahan kita batal eoh ?” cecar yeoja tersebut.

“A-an-ni yunmi-ya, mereka.. mereka hanya temanku” elak jongdae gugup dan itu membuat Ji Min mengerti situasi lantas dia merasa kecewa dan dibodohi selama ini.

“Teman katamu ?” Tanya Ji Min “Yak, dasar buaya.. ternyata kau lelaki brengsek” lanjut Ji Min lantas yeoja itu menampar jongdae dan keluar dari caffe setelahnya.

“Kauu..” geram yunmi lalu menarik salah satu telinga jongdae. “Kau sama sekali tidak berubah, kau tidak menghargaiku yang susah payah mengurus pernikahan kita dikampung halamanmu eoh ?” lanjut yunmi.

“Tidak, yunmi-ya, aku hanya bermain-main. Aku hanya mencintaimu. Aku tidak mau putus dan batal menikah denganmu” rengek jongdae.

Yunmi masih menarik telinga jongdae dan kali ini yunmi menariknya keras “Auuu” pekik jongdae “Maaf yunmi-ya, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya”

“Ayoo ikut aku sekarang, pulang” perintah yunmi.

“Ne, tapi tolong lepaskan telingaku. Ini sakit” pinta jongdae dan bukannya dilepaskan oleh yunmi, dia malah kembali menarik telinga jongdae keras. Lalu menarik peria itu keluar dari caffe.

Selepas kepergian Ji Min, Jongdae dan tunangannya. Sunyi menyelimuti ae yeon dan sehun. Mereka masih tertegun, kagum dengan apa yang mereka liat barusan. Setelah beberapa saat ae yeon tersadar bagaimana dengan kondisi sahabatnya saat ini dia pasti sangat sedih. Lantas ae yeon berdiri yang ditatap bingung oleh sehun “kau mau kemana ?”

“Kerumah sakit. Kurasa Ji Min memerlukanku sekarang, dia pasti sangat sedih”

“Baiklah, akan ku antar” tawar sehun. Keduanya berlalu keluar dari caffe dan masuk kedalam mobil sehun.

Selama diperjalanan ae yeon bertanya apakah selama ini sehun tahu jika jongdae sebenarnya telah memiliki tunangan yang dijawab jujur oleh sehun.

“Aku tahu, itu memang sifat jongdae”

“Kau tega tidak memberi tahukannya kepada Ji Min”

“Aku akan tega dan jahat jika memberitahukannya, kau tau jongdae temanku”

“Ahh benar, kau pasti membela temanmu, sama denganku yang membela sahabtku”

“Nah kau cerdas ae yeon-ah, aku tidak perlu menjelaskannya” lalu sehun tersenyum setelahnya yang dibalas ae yeon dengan senyuman pula mendapat pujian dari sehun.

Sesampainya di depan rumah sakit, ae yeon turun dari mobil sehun lalu berjalan menuju sisi kemudi tempat sehun menyetir. “Gomawo, sehun-ah”

“Ne, masuklah dan hibur sahabtmu, aku pulang”

“Ne”

Sehun menyalakan mesin mobilnya lantas Ae yeon kembali memanggilnya “Sehun-ah”

Merasa dipanggil sehun menoleh kearah ae yeon

“Hati-hati” kata ae yeon pelan dan tersenyum setelahnya.

Sehun yang mendengar dan melihat tingkah malu-malu ae yeon lantas ikut tersenyum kearah ae yeon lalu melajukan mobilnya.

.

.

.

Bel dikediaman tuan Oh bebunyi, dan segera dibuka oleh bibi song yah pelayan di kediaman keluarga Oh

“Apa tuan dan nyonya Oh ada ?” Tanya seorang lelaki seusia tuan Oh setelah bibi song membuka pintu kediamanan keluarga Oh.

“Ne tuan, akan segera saya panggilkan, silahkan masuk”

“Hmmm baiklah” kata lelaki tersebut lalu duduk diruang tamu kediaman keluarga Oh.

Bibi song naik keatas memanggil tuan dan nyonya oh tentang tamu yang menunggu mereka dibawah. Setelah menyampaikannya bibi song turun menuju dapur dan menyiapkan jamuan untuk tamu tersebut.

Tuan dan nyonya Oh turun lantas terkejut karena tamu yang menunggu mereka adalah Tuan Kim yah Kim Junsu.

“Hahahaha, mengapa sepertinya kau kaget sekali Ji Hun-ah” kata tuan Kim setelah melihat ekspresi calon besannya tersebut.

Tersadar akan ekpresi terkejutnya yang sangat kentara tuan Oh lantas tersenyum “Yah, ada apa tuan Kim tiba-tiba datang ke kediaman kami” Tanya tuan Oh.

“Hahahaha, ani. Aku hanya ingin lebih dekat dengan calon besanku” jawab tuan Kim ringan.

Tuan dan nyonya Oh lantas diam, bingung harus berkata apa sementara ada wasiat yang harus mereka jalankan namun sosok Tuan Kim yang sangat berkuasa tidak sanggup mereka lampawi.

Bibi song datang dengan nampan beirisi jamuan untuk Tuan Kim yang menyadarkan tuan dan nyonya Oh, lalu nyonya oh menata jamuan tersebut di meja.

“Ehem, begini. Bagaimana dengan rencana pertunangan nak Sehun dengan Ra Ra putri kami” Tanya tuan Kim to the point

“Bukankah itu sudah kita bicarakan, bahwa pertunangan anak-anak kita akan kita laksanakan 5 bulan lagi” jawab tuan Oh.

“Ah ya, tapi bagaimana jika acara pertunangan tersebut kita batalkan saja”

Tuan dan nyonya Oh lantas terkejut “Apa batalkan ? apa ini takdir atau bantuan dari Tuhan untuk melaksanakan wasiat tersebut” kata hati nyonya Oh.

“Hahahaha” Tuan Kim kembali tertawa “Kalian tegang sekali, maksudku bukan membatalkan seperti itu tapi bagaimana jika acara pertunangan kita batalkan saja dan langsung melaksanakan acara pernikahan saja, toh pada akhirnya mereka akan menikah juga jadi buat apa membuang-buang waktu bukan ?” Lanjut tuan oh yang sekali lagi sukses membuat tuan dan nyonya Oh terkejut.

“Pernikahan ?” Kaget tuan Oh.

TBC

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s