[EXOFFI FREELANCE] SHATTERED (Oneshot)

cover1

 Tittle/judul fanfic: SHATTERED

 Author: baekbby

 Length: Oneshot

 Genre: romance, angst

 Rating: PG-15

 Main Cast & Additional Cast: Byun Baekhyun, Park Hayeon (OC)

 Summary: . Dan Ketika mata lelaki itu tanpa sengaja menangkap gambaran kejadian yang berhasil membuat hatinya remuk untuk kesekian kali, ketika itu pula dia menyadari bahwa posisinya di dunia ini adalah sebagai orang yang disakiti.

 Disclaimer : cerita ini hasil kerjasama saya dengan partner saya yang tidak bisa saya sebutkan disini. Dilarang mengambil ataupun mempublikasikan cerita ini tanpa seizing author.

 Author’s note: pernah di publish di wattpad

Satu titik dalam kehidupan ketika engkau berpikir, apa artinya dirimu di dunia fana ini ? Apakah terlahir sebagai orang yang akan disakiti ? Ataukah orang yang akan menyakiti ? Keduanya terdengar tidak menyenangkan. Jika disuruh untuk memilih, kamu pasti akan menolak. Kamu akan memilih untuk diam, tidak disakiti dan tidak menyakiti. Begitu juga dengan lelaki itu. Tapi ada titik lain dalam kehidupan ketika kamu menyadari dimana posisi mu di dunia ini. Kamu mau tidak mau harus menerima kenyataan itu. Dan Ketika mata lelaki itu tanpa sengaja menangkap gambaran kejadian yang berhasil membuat hatinya remuk untuk kesekian kali, ketika itu pula dia menyadari bahwa posisinya di dunia ini adalah sebagai orang yang disakiti.

. . . . . . . . □■□■●○●○●■□■□ . . . . . . . . .

“Park Hayeon-ssi!.” Aku berhenti melangkah ketika indra pendengaranku menangkap suara seseorang yg memanggil namaku tanpa embel-embel “dokter” didepannya.

Lekas saja aku berbalik. Menemukan lelaki bertubuh mungil setengah berlari mengahampiriku dengan wajah lelahnya yg terlihat gusar.

Lelaki itu Byun Baekhyun. Temanku semasa Sekolah Menengah Atas. Hidupnya sempurna, dia tampan dan kaya raya, dia memiliki segudang prestasi dan kemampuan. Anak tertua keluarga Byun keluarga yg disegani dan dihormati. Aku kehilangan kontak dengannya ketika kami memasuki bangku perkuliahan. Baekhyun belajar bisnis di Seoul dan aku sendiri mendapatkan beasiswa di Harvad Unniversity untuk menyelesaikan pendidikan Kedokteran di Amerika.

“Yah! Park Haeyon-ssi!” Baekhyun memanggil. Membuatku seutuhnya fokus padanya. Dia mengatur nafasnya sebentar kemudian menatapku. “Aku mencarimu, tolong aku!”.

“Ada apa Baekhyun-ah?”. Aku mengelus punggungnya perlahan,terlihat gurat ke khawatiran diwajahnya. “Katakanlah dgn tenang”

“Adik ku,Byun Minho! Dia..dia demam tinggi” Baekhyun memberi jeda untuk menghirup udara, suaranya terdengar lirih. “Aku tidak memiliki uang untuk merujuknya bahkan hanya sekedar rawat jalan”.

Tepat sejak saat itu. Ketika aku ditugaskan untuk menjalankan praktik disebuah desa kecil dinegaraku busan,Korea Selatan. Aku bertemu dengannya-Byun Baekhyun-orang yg pernah singgah dihatiku membuatku jatuh cinta padanya. Bahkan hingga sa’at ini.

“Sudah berapa lama dia demam?”

“Hampir seminggu”

“Lalu,dimana dia sekarang?!”

“Ada dirumah”. Aku lekas menariknya bersamaku,aku tau dimana tempat tinggalnya sekarang “Ayo!”.

Baekhyun bukan lagi dia yg dulu. Pakaian lusuhnya,wajah kusamnya,tubuhnya yg tidak terawat memberitahuku.

“Tolonglah sembuhkan dia,hanya dia yang ku miliki saat ini”

…………………………………………………………………….

Kedua kakak beradik terlihat tengah berbincang-bincang berdua, sesekali tawa renyah mengisi kesunyian lorong rumah sakit kecil pagi itu.
Aku tidak berniat mengganggu waktu bersama mereka,tidak saat Minho-adik Baekhyun melihat dan memanggilku.

“Ne, Minho-ah. Ada apa?bagaimana kabarmu?” Aku tersenyum padanya. “Aku baik,sangat baik” Katanya dengan semangat. “Noona.. bolehkah aku bermain ditaman. Baekhyun-hyung membawaku menaiki kursi roda ini,tapi katanya menunggu persetujuan noona dulu”

“Minho-ah sedang bosan ya?”. Dia mengangguk dengan wajah memelas. Pandanganku segera beralih menatap Baekhyun beruntung lelaki itu tersenyum dan mengangguk padaku.

“Baiklah,noona akan membawamu berjalan-jalan ditaman. Tapi sebentar saja ya?” Kataku,mengambil alih tempat Baekyun. “Ne!”

Pelan-pelan aku mendorong kursi roda Minho menuju taman rumah sakit dengan Baekhyun yg mengekor dibelakang kami. Rumah sakit ini kecil seperti klinik di Seoul, tidak membutuhkan waktu lama untuk menuju taman yg terletak dibelakang gedung putih-putih ini.

“Pemandangannya indah ya noona”. Tanya-nya ketika sampai di taman rumah sakit. Manik Minho menatap sekeliling dengan senyum cerah terpatri diwajahnya. Aku bergumam setuju.

“Seharusnya Baekhyun-hyung membawaku kesini. Aku bosan berada dalam ruangan”. Minho mengerucutkan bibirnya,benar-benar sangat lucu diusianya yg menginjak tujuh tahun. “Aku bosan berada diruangan itu berhari-hari”

Aku mengusak rambutnya pelan “Makanya… Minho-ah harus rajin minum obat ya… Agar lekas pulang kerumah”. Wajah pucat Minho mendongak penuh tanya “Benarkah itu Baekhyun-hyung?”

“Benar Minho-ah, dengar apa kata Haeyon-noona ya”

“Tapi, dari dulu aku ingin pulang Baekhyun-hyung tidak membawaku pulang juga”. Baekhyun terdiam,akupun ikut terdiam. “Ibu dan Ayah lama sekali bekerjanya. Mereka melupakan kami”

“Itu tidak benar Minho-ah”. Baekhyun berjongkok didepannya menangkup kedua pipi chubby anak itu. “Itu tidak benar,Mereka selalu mengingat kita dan melihat kita. Hyung janji akan membawamu pulang”.

“Benarkah?”

“Benar..”

“Janji?”

“Janji!” Baekhyun menautkan kelingkingnya di kelingking kecil milik Minho. Aku tak dapat menghentikan senyumku ketika melihatnya.

Terhitung sudah empat hari Minho dirawat dari hari dimana aku dan Baekhyun mengantarnya kesini. Demamnya sangat parah karena tidak segera ditangani waktu itu. Sekarang,aku sendiri yg menanganinya tanpa pungutan biaya. Untuk biaya obat-obatan aku yg telah menanggungnya mengingat orang tua Baekhyun dan  orang tuaku bersahabat. Aku sempat marah karena ayahku tidak menceritakan peristiwa naas yg menimpa keluarga Byun tiga tahun lalu.

Tuan Byun, Byun Baeksong adalah ayah Baekhyun dan ibunya Byun Min-ah tewas pada hari ulang tahun Putra sulungnya itu. Kecelakaan besar yg merenggut nyawa ibu dan ayahnya. Minho memiliki trauma hebat sehingga ingatannya tidak mampu merekam kejadian mengerikan itu dalam memory nya. Sedangkan Baekhyun sendiri mengalami depresi berat sehingga tidak mampu mengambil alih posisi sang ayah diperusahaan. Semua hancur begitu saja. Perusahaan Byun bangkrut dengan waktu singkat.

Baekhyun mengasingkan dirinya di desa kecil ini dengan membawa Minho bersamanya. Baekhyun sendiri merupakan salah satu pasienku dengan gangguan kejiwaan, karena riwayatnya dia tidak dapat memiliki pekerjaan. Selama setahun aku merawatnya dia berangsur membaik,dia hanya ingin bersamaku karena dia mengenalku. Bersukur dia terbuka kepadaku, dengan begitu dia tidak merasa kesepian dan merasa lebih tenang.

Setahun yg lalu dia adalah pasienku. Dan sekarang dia telah pulih dari tekanan buruknya.Belum hilang senyum diwajahku aku merasa pundakku ditepuk beberapa kali.“Park Haeyon” itu Baekhyun.

“Hmm?!”

“Kau melamun?”

“T-tidak” Aku menggeleng. “Dimana Minho?”

Baekhyun tertawa kecil memandangku,kemudian menunjuk pohon rindang besar tidak jauh dari kami. Minho-anak itu berteduh dibawahnya dengan bunga-bunga cantik pada genggaman tangan mungilnya.

“Dari tadi kami memanggilmu dan menunggumu disana,tapi kau tidak mendengar? Jadi, aku mendatangimu”. Aku menggigit bibir bawahku,tentu saja aku tidak enak. “Maaf Baekhyun-ah, mari kita kesana”

Baru saja aku melangkah, tangan besar menarik lenganku. “Haeyon” Aku memandangnya. “Terimakasih, Terimakasih banyak”.

.
.
……………………………………………………………………….
.
.

Smart phone tipis bergetar diatas meja kerjaku. Karena aku sibuk, aku menggeser icon hijau tanpa melihat siapa pemanggilnya.

“Yeobboseo”

“Yah! Haeyonnie.. dimana wajahmu?”

“Chanyeol-hyung?” Aku cepat mengambil ponselku, benar saja. Wajah Oppa ku itu memenuhi layar panggilan.
Ternyata dia melakukan vidio call.

“Bagaimana kabarmu”

“Baik. Oppa ?”

“Sukurlah, aku juga baik. Bagaimana pekerjaan mu?”

“Berjalan lancar, Oppa? Apa tidak bekerja?”

“Aniyoo” Chanyeol oppa mengibaskan tangannya. “Aku merindukanmu. Kau tidak merindukanku?”

“Aku?”. Aku terdiam sebentar sebelum menggeleng. “Tidak..”

“Kau jahat sekali Haeyon kau sama sekali tidak-”

“Aku menyayangimu, lebih dari merindukanmu”

“Jangan membual” Chanyeol oppa terkekeh kecil. “Aku tau kau menyayangi Byun Baekyun si mata eyeliner itukan?”

Aku memutar bola mataku “Dia tidak memakai eyeliner lagi Oppa”

“Sayang sekali,padahal dia tampan menggunakan itu”

“Oppa.. tanpa eyeliner pun Baekhyun tetap tampan” Aku mengatakan itu dengan terpejam dan senyum yg mengembang. Dan aku yakin Chanyeol-oppa pasti mengejekku dengan wajah pura-pura jijiknya.

“Haeyon” Chanyeol oppa memanggilku. Aku membuka mata untuk melihat wajah tampannya dan telinganya yg lebar.“Kau menggelikan”

Sialan Chanyeol Oppa.

Aku membuka mulut untuk memakinya,tapi ketukan dipintu ruang kerjaku membuatku berpaling. Aku menatapnya sebentar. Berteriak meminta waktu sebentar lagi. Kemudian berpamitan dengan Chanyeol-Oppa karena sepertinya ada yg menungguku. Aku juga berjanji akan menghubunginya lain kali.

“Kau akan merindukanku” Chanyeol-Oppa tersenyum mengejek, aku melihat tatapan sayang pada matanya. “Jika terjadi sesuatu,hubungi aku. Aku mengkhatirkanmu”

Aku mengangkat satu tanganku. Melambai kepadanya. “Baiklah, bye…”

Aku menyimpan ponselku dimeja,kemudian beranjak membukakan pintu. Aku terkejut mendapatkan Yonhye-asistenku berkeringat dingin dengan jemarinya yang bertaut.

“Ada apa Yonhye?!” Aku ikut panik. “Apa terjadi sesuatu yg buruk?”

“Minho..” Yonhye menelan ludahnya,kasar. “Minho,anak itu kejang-kejang Haeyon-nim. Badannya panas,dia berkeringat. Tetapi telapak tangan dan kakinya amat dingin sekali!”

“Apa tidak ada yg menanganinya?!” Aku jadi emosi mendengarnya, apakah tidak ada dokter lain yg berjaga selain diriku.

“dr.Lee sudah menanganinya Haeyon-nim, tapi-” Aku muak, aku lebih memilih berlari menembus lorong, meninggalkan Yonhye yg sgt lambat berbicara, tidak peduli betapa banyak orang yang berlalu lalang disana dan mengabaikan orang yang menyumpahi ku karena menabraknya. Aku terus berlari. Dalam mataku hanya menangkap sesuatu jauh di ujung sana. Dan itu jelas kamar rawat Minho.

Aku menerjang pintunya dengan kasar, tidak sabaran. dr.Lee baru saja selesai menangani Minho dia menghampiriku dengan menyodorkan catatan hasil pemeriksaannya kepadaku. Aku menerimanya dan berterimakasih. Setelah itu dia pergi.

Aku menyimpan catatan itu diatas nakas. Aku mengampiri Minho, ku seka keringat yg membanjiri tubuhnya sebelum ku kompres kepalanya yg terasa panas. Dia terus saja menggumamkan nama Baekhyun, Hyung nya.

“Minho-ah, ini noona.. Haeyon noona.. noona disini.. tenanglah” Aku berbisik tepat ditelinganya. “Baekhyun-hyung akan segera datang”

Tanganku menggenggam erat tangannya. Sangat basah dan dingin. Aku membisikkan kalimat-kalimat penenang untuknya . Tanganku yg lain tak lupa mengusap-usap rambutnya dengan sayang.
Minho bergumam-gumam pelan. Setelah itu dia kembali tenang. Deru nafasnya kembali teratur.

Aku mendekatkan diri kepadanya menangkup wajahnya dengan tanganku. Menyeka sisa-sisa keringat diwajahnya. Aku ingin berbalik. Ketika tangan kecil itu menahan kepergianku.
“Noona…” Suaranya serak. Kutatap wajahnya lekat-lekat. “Noona,Baekhyun-hyung..” Minho membuka matanya,tatapannya sendu.

Tiba-tiba Minho bergerak mencoba duduk. Aku segera membantunya kuambil bantal sebagai penyangga tubuhnya. Aku merogoh saku di Jas ku berniat menghubungi Baekhyun tapi aku baru menyadari aku melupakan ponselku yang tersimpan dimeja kerja. Sial.

“Minho-yah?!..” Aku menoleh,bersukur kepada tuhan. Baekhyun datang diwaktu yg tepat.

Minho mengangkat kedua tangannya minta digendong manja. Dalam dekapan Baekhyun dia bersandar dengan tenang pada dada bidang lelaki itu. Aku dapat melihat rasa sayang yg besar dalam diri Baekhyun untuk Minho.

“Minho terus saja memanggil namamu,tapi aku melupakan ponselku” Baekhyun menatapku dengan tenang dan mengangguk.

“Yonhye-nim telah menghubungiku” Katanya sambil tersenyum. Yonhye? Ternyata dia datang untuk memintaku menghubungi Baekhyun. Aku jadi merasa bersalah.

“Aku terlambat datang?”
Aku menggeleng dan mendekatinya. “Kau datang diwaktu yang tepat”.

.
.
.
. . . . . . . . .  . . . . . . . . .

.
.
.

Aku berjalan dengan sebuket bunga mawar putih di tanganku.  Ku usap lembut nisan yg menyapa sebelum aku meletakkanya diatas gundukan tanah yg masih baru.

“Minho-ah” suara itu terdengar pilu. “Maafkan aku, kumohon Maafkan aku”.

Aku mengelus pelan bahu Baekhyun yg bergetar hebat, dia terisak-isak ditempatnya. Sesekali baekhyun menyeka airmatanya yg jatuh.

Aku mendekat. Merengkuh tubuhnya  membantunya berdiri. “Aku akn mengantarmu” Baekhyun diam saja,namun tdk juga menolak.

Aku melajukn mobilku mengantarkan baekhyun ke kediamannya. Diperjalanan kmi saling diam, aku sangat gatal untuk mengajaknya mengobrol. Namun aku mengurung niatku,mendapati raut wajahnya yg kentara dengan gurat kesedihan.

Ketika sampai, baekhyun segera mlepas salbethnya. Memasuki rumah minimalisnya dgn lunglai.

“baekhyun” aku mengekor. Dia brhenti kmudian tanpa memandangku dia bergumam sebagai jawaban.

“aku akan menemanimu” kali ini baekhyun menoleh,aku terpaku ditempat.
“tidak”

“apa?”

“tidak usah”

“tapi baek”
Baekhyun mengangkat tangannya “pergilah”. aku terdiam “Ku mohon pergilah,aku ingin sendiri”.

Baekhyun meninggalkn ku didepan pekarangan rumahnya. Aku menatap nanar punggung baekhyun hilang dibalik pintu. Teringat seberkas kejadian memilukn kemarin. Pasca kritisnya Minho tempo hari aku sangat yakin Minho-ah baik baik saja. Dia bahkan bermanja manja dgn hyungnya. Tertidur dengan nyaman didada bidang baekhyun saat itu.
Saat tertidur dalam dekapannya. Perlahan Baekhyun merebahkan kembali dongsaengnya keatas kasur, Minho terlelap sangat nyenyak. Aku memutuskan menemani baekhyun menjaga Minho.

Kebetulan hari itu aku tidak sedang praktik. Kejanggalan menghampiriku,ketika hampir sepuluh jam Minho-ah tidak kunjung bangun juga. Awalnya aku hanya ingin membangunkannya untuk meminum obat. Berniat membunuh fikiran negatifku,aku segera denyut nadinya. Tidak berdenyut. Dan jantungnya tidak berdetak.
Aku memeluk tubuhnya yang sudah mendingin. Minho-ah meninggal dalam tidurnya.

Baekhyun sempat memaki ku karena aku mengatakan bahwa Minho telah pergi.
Bahkan lelaki itu tdk mengizinkn petugas membersihkan raga dongsaengnya. Beruntung baekhyun dapat bertindak waras dalam fikirannya yg sedang kalut. Setelah lama dalam sedihnya dia membiarkan mereka membawa jenazah dongsaengnya .

Aku masih ingat wajah Minho yg damai dengan seulas senyum samar menghiasi bibirnya. Dgn stelan jaz rapi Minho sangat tampan. Walaupun mereka tidak memiliki keluarga didesa ini tapi penduduk disini sangat mengenal mereka. Terutama minho,yg ramah dan riang. Mereka mengantar minho keperistirahatan terakhir.

Aku sgt menyesal tidak dapat mengantar minho ke pemakaman. Tapi aku menymptkn diri kesana stlh menyelesaikn urusanku.Aku membawa sebuket mawar putih kesukaannya seblum mengunjungi Minho dirumah terakhirnya. Aku yakin aku sangat terlambat,namun disana,byun baekhyun. Msh setia memandangi makam adiknya.

.
.
. . . . . . . . ●○●○●○●○●○●○●○● . . . . . . .
.
.

Setengah jalan aku meninggalkan baekhyun sendiri di rumahnya. Aku berteriak frustasi dengan gejolak di dadaku, Hatiku sgt mengkhawatirkannya tapi fikiranku menolak kenyataan itu.
Sial.
Aku memutar stir mobilku. Berbalik arah. Hatiku menguasai fikiranku saat ini. Belum sampai di kediamannya aku melihat sosok pamiliar berlari berlawanan arah. Aku menepikan mobilku, menutup pintu dengan membantingnya. Mengejar Baekhyun tanpa mempedulikan hujan yg mulai turun kepermukaan.

.
.

Baekhyun berlari. Terus berlari di bawah guyuran hujan deras. Air matanya mengalir tiada henti, seperti halnya hujan yang tiada henti membasahi nya. Rintikkan besar air hujan seakan mencoba untuk menghapus air matanya, walau itu terlihat percuma. Jantungnya berdetak tak beraturan, memompa setiap amarah dan rasa sakit yang berkecamuk di dalam hatinya. Semuanya telah berakhir. Hancur berkeping-keping seolah berhamburan keluar dari raganya. Detik itu, ia ingin pergi. Menghilang dari cacian kejam dunia ini. Ia ingin menghilang dalam bayangan, menghilang dalam diam sehingga tak seorang pun bisa melihat betapa hancur dirinya.

Curamnya tebing terhampar luas di depan matanya yang basah. Sekujur tubuhnya bergetar, kakinya melangkah kecil menuju ujung tebing curam itu. Ia ingin terjun. Mungkin inilah waktu untuknya menyusul malaikat yang telah terlebih dahulu meninggalkannya. Mungkin inilah waktu untuk mengakhiri semua penderitaannya.

Kaki kanannya sudah siap melangkah memasuki tebing curam, lalu dengan sepersekian detik, lengan baekhyun ditarik dengan cukup kuat hingga membuat baekhyun dan orang yang menariknya terjatuh menghantam ranting-ranting pohon besar. Suara teriakan kesakitan terdengar menggemah memecah suara deru hujan. Tapi, itu bukanlah teriakan dari baekhyun, melainkan suara seorang perempuan yang telah menyelamatkan nyawanya.
Teriakan perempuan itu tanpa disadari telah menambah lagi luka dalam hati baekhyun. Membuat dirinya semakin menyesal pernah terlahir di dunia fana ini. Mungkin air matanya akan terus mengalir dalam diam dan luka-luka di hatinya akan terus menganga tak akan pernah tertutup, selamanya.

.
.
.

“Aku harus pergi. Tak sanggup untuk diriku kahilangan 1 lagi malaikat cahaya dalam hidupku. Aku hanya pembawa malapetaka untuk mu. Maafkan aku, Haeyon”. Aku mendongak memandangnya, Baekhyun mencoba berdiri dari tubuhku. Aku segera menariknya kembali. Membuanya menindih tubuhku,lagi.

“Apa yg kau lakukan hah!” aku meneriakinya, kakiku sangat sakit tapi hatiku lebih sakit lagi mendengar kata-kata bodoh itu dari mulutnya.

“Jangan berfikir aku senang kalau kau meninggalkanku!”  Suaraku serak dan bergetar. Aku menangis.

“Haeyon” Baekhyun membenarkan posisinya. Memandangku dengan mata merahnya. “Jangan halangi aku untuk pergi. Aku pembawa mala petaka!aku pembawa sial!”

“Tidak ada alasan untukku bernafas lagi”

“tidak bisakah kau menjadikanku alasan?!” Baekhyun terdiam. Wajahnya menatap lurus kedepan.
“Baekhyun-ah!” aku memukul mukul dadanya sambil terus menangis. Aku tidak ingin kehilangannya sungguh.

“Aku mencintaimu Haeyon” Baekhyun menggenggam pergelanganku. Membuatku berhenti memukulinya. “Tapi aku tidak ingin menyakitimu”

Bodoh!Aku menamparnya. Berharap baekhyun sadar dengan apa yg dia ucapkan. Namun baekhyun malah tersenyum dan beranjak berdiri. Susah payah aku juga berdiri dengan bertumpu pada pohon besar dibelakangku.

“Baekhyun, jangan gila! Kau harus menenangkan-”
“Ya!” aku tercekat. Baekhyun membentakku keras. “Ya!Ya!Ya! Aku memang gila dan tidak waras karena aku tidak mampu menanggung beban diatas punggungku!”

“Jika boleh aku memaki tuhan aku akan memakinya dengan senang hati”. Itonasinya merendah,Baekhyun melemah. Aku meraih pundaknya namun ia menepis tanganku. Membuatku hampir jatuh terduduk jika aku tidak sigap berpegangan.

“Aku bukan Byun Baekhyun tiga tahun lalu”

“Aku tau”

“Kau tidak tau menahu dengan kisah hidupku”

“Aku tau!”

“kau tidak tahu!”

“Ibu dan ayahmu meninggal disaat hari ulang tahunmu. Kecelakaan besar menimpa kalian,  hanya kau dan minho-ah yg selamat. Kau mengasingkan dirimu disini. Kau memiliki depresi berat karena itu”. Aku mengambil udara untuk bernafas. Sekilas memandang wajah Baekhyun.
“Dan aku bertemu denganmu disini. Menjadi pasien dengan rujukan kejiwaan”.

Baekhyun menangis bahkan lebih parah dia juga tertawa. Kondisi yg sangat memilukanku.
“Orang tuaku meninggal karena aku” Aku menggeleng. “Akulah penyebabnya!” erangnya.

“Tidak baekyun..bukan kau”

“Itu bukan kecelakaan namun pembunuhan, akulah yg membunuh mereka”. Aku terdiam, menatapnya tak percaya. Baekhyun tidak akan melakukan itu. Sungguh aku tak percaya.

“Kau berbohong!”. Baekhyun tertawa keras memandangiku. Dirinya kini sungguh membuatku takut.

“Akan kuperlihatkan padamu”. Baekhyun membuka kasar kemejanya yg basah, topless. Dia menarik tanganku menyentuh goresan halus disekitaran dadanya. Luka jahitan, aku mengernyit.“Disini, tertanam jantung Byun Min-ah”

Airmataku semakin gencar keluar,membuat pandanganku menjadi rabun oleh air mata. Kutarik tanganku membungkam mulutku sendiri. Aku menangis sejadi jadinya.

“JIKA AKU TIDAK MEMAKSA KEDUA ORANG TUAKU UNTUK PERGI BERLIBUR SAAT ITU INI TAK AKAN TERJADI!”
Baekhyun berteriak disusul oleh petir yg bergemuruh. “Tidak kah kau mengerti Haeyon?andainya aku tidak meminta berlibur untuk hadiah ulang tahunku tidak akan ada kecelakaan itu! Merenggut nyawa ayah ditempat kejadian! Ibu yg merelakan jiwanya demi aku yg tak berguna! Minho pergi ditengah penyakitnya!” Baekhyun terisak.
“Karena aku yg tak dapat merujuknya kerumah sakit dikota besar”..

Terdapat amarah dalam matanya. Amarah kepada dirinya sendiri.

“Kau salah mengerti baekhyun-ssi”

“Apa yg tidak aku mengerti?!”

“Kau bukan pembawa sial, kau bukan-”

“Aku pembawa sial!”

“Semua terjadi bukan semata karenamu ini hanya tak-”

“Aku seorang pembunuh!”

“Baekh-”

“Aku tak berguna!”

“KAU HANYA TIDAK DAPAT MENERIMA TAKDIR KELUARGAMU!!!” Cukup sudah. Aku memeluknya. Memeluknya dengan sangat erat seolah kami akan berpisah saat itu juga.

“Tugas ku telah selesai bulan kemarin dan aku memilih menemanimu disini. Menghabiskan sebagian waktuku hanya untuk memperhatikan kondisimu. Memberikan kasih sayang dan kehangatan hanya untuk mu. Aku meninggalkan kewarasanku karenamu. Lebih memilih bekerja di rumah sakit kecil bahkan gajihnya lebih sedikit dari uang sakuku di Amerika, karena aku tidak ingin jauh darimu”. Aku merasakan lengannya melingkari pinggangku. Baekhyun membalas pelukanku.

“Kumohon Baekh,jangan seperti ini”.. Baekhyun menggeleng pada puncak kepalaku. “Maafkan aku Park Haeyon”

Kami terdiam cukup lama, bunyi guyuran air hujan yg deras terdengar jelas. Aku bergetar karena isak tangis. Gigiku bergelatuk nyaring. Aku menggigil kedinginan.

“Park Haeyon”.. Baekhyun memanggil namun aku tak bergeming.

“Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri”

“Aku hanya tidak ingin menyakitimu”

“Nyatanya kau menyakitiku”

“Aku tidak ingin membebanimu”

“Nyatanya kau membebaniku” Baekhyun menarik dirinya dariku. Menangkup wajahku. Menatapku dengan dua mata sembapnya. “Kalau begitu berhentilah, aku tidak ingin kau terbebani oleh cintamu”.

Aku ingin memakinya namun Baekhyun membuatku terdiam. Kepalanya bergerak mendekatiku. Mengikis jarak diantara kami, hingga bibirnya menempel pada bibirku. Baekhyun menciumku begitu dalam. Lembut dan membahagiakan. Membuatku terbuai. Begitu hangat. Aku terlena. Terhipnotis. Aku terlarut dalam ciumannya.

Baekhyun melepas ciuamannya dengan tersenyum. Menyapu bibirku dengan ibu jarinya. Tiba-tiba saja ia melangkah mundur dengan perlahan, kembali menciptakan jarak diantara kami.

“Park Haeyon, apa yg akan kau lakukan jika aku mati lebih dulu?”

Tanganku bergetar ingin meraihnya,tidak ada satu kata yg lolos dari mulutku. Aku menggeleng sebagai jawaban. Aku menangis. Aku sangat takut.

Sekali lagi, Baekhyun tersenyum tulus padaku. Semua terasa cepat terjadi begitu saja. Baekhyun terjun dari atas tebing curam itu membuatku memekik berteriak memanggil namanya.

“BYUN BAEKHYUN!!!!!!”

.

.

Belum ada rintik,Namun belum sesap hujan kmarin .
Mngingat jatuhnya hujan,mngingat jatuhnya cintaku padamu.
Hari berganti, berulang.
Namun tak ada kemarau yg benar bisa mengeringkan ingatan itu.
Dan bila ingatanmu melupakannya,yg selaluku tunggu adalah musim penghujan,tuk ingatkanmu.
Memutarkanku memori di waktu lalu,perihal aku yg prnah menjadi puisi penuh semu malu-malu padamu.
Penulis kata gerimis yg basah
oleh rindu tak tahu malu.
Aku pernah, dan itu – masih.
Namun bila rentang musim tak berpenghujan, berlarut.
Adalah aku hanyalah jelma dekap dan peluk pendekap bagi ingatanku.
Pemeluk bagi ingatanmu,
Maka tak akn ada yg sesap, menguap,hilang mnjadi tiada..
Tak akan ada ingatan yg pergi-
meski hujan meniada.
Karna pada terik panas, selalu ada malam yg menyisa basahnya embun membasahi ingatanku, mngingatkanmu.
Masih panjang kemarau menerik,
Namun tak ada yang tandus dalam ingatan..

.
.
……………………………………………………………………….
.
.

“Baekhyun, kau dapat melihatkukan? Aku membawa bunga bunga indah untuk mu”. Aku tersenyum pilu, lantas menaruhnya didepan nisan itu.

“Semoga kau menyukainya ya”. Segera aku menyeka air mataku. Setelah mengucapkan salam perpisahan aku berbalik menuju mobilku terparkir. Hari ini aku kembali ke Seoul setelah tiga hari pasca sepeninggal Baekhyun. Aku sangat terpuruk dan kehilangan. Mungkin dengan caraku pulang,aku bisa lekas melupakannya.

Dengan santai aku mengendarai mobilku. Hingga tiba di jalan raya nan ramai kota seoul,hari sudah menjelang malam.

Park Chanyeol’s calling..
Aku menepikan mobilku saat mendapati panggilan masuk.

“Yeobboseo Oppa”

“Haeyon, sudah dimana?” aku melihat-lihat sekitar. “Aku sudah memasuki kawasan seoul oppa”

“Benarkah? Apa kau tidak keberatan membelikanku kimbab?aku sangat lapar”

“Ah.. arra arra,tak masalah,sudah duluya”

“ya,gomawo Haeyonnie”

“Ne”

Aku menutup telfon, menyimpannya kedalam tas selempangku. Aku menurunkan kaca mobilku, melihat-lihat sekitar. Kebetulan ada mini cafe disebrang jalan. Jika aku kesana, harus berputar dulu. Putarannya juga sangat jauh. Maka dari itu aku turun dari mobilku, membiarkannya terparkir dipinggir jalan.

Sampai desebrang aku memesan kimbab untuk empat orang, termasuk ibu dan ayahku. Setelah menunggu pesananku selesai, aku membayarnya dan tersenyum berterimakasih.

Aku menyebrang jalan untuk mencapai mobilku, aku tersenyum senang mengingat akan bertemu oppa dan kedua orang tuaku. Namun cahaya terang membuatku menyipitkan mata,aku berpaling memandang cahaya apa itu. Aku menurup kedua mataku,klakson mobil memekakan telingaku. Aku tak dapat bergerak lagi, ketika benda besar itu menimpaku aku terlempar jauh. Terguling-guling diatas aspal hingga menabrak bahu jalan. Kebisingan terdengar samar ditelingaku. Aku dapat merasakan kepalaku basah hingga bajuku.

Badanku terasa sakit, kepalaku sakit. Aku terbatuk batuk memuntahkan banyak cairan pekat merah berbau anyir dari mulutku. Pandangku berat dan berbayang, hingga aku benar-benar tak dapat melihat apapun lagi. Semuanya menggelap. Aku kehilangan kesadaranku.

.
.
.
.
.
.
.

.

“Park haeyon”

“Apa yang kau lakukan jika aku mati lebih dulu?”

.
.
.
.
.
.

.

“Aku akan menyusulmu”
.
.
.
.
.

.:.:.:.:.:.:.:.:..:. E N D .:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s