[Oneshoot] Catch Me If You Can | by L.Kyo

tumblr_nn44olvqjk1un6thko2_500

Title: Catch Me If You Can | Author: L.Kyo | Cast: Kim Joomyeon (EXO), Bae Joohyun (Red Velvet) | Genre: Fluff, Romance | Rating: PG-15 | Lenght: Vignette | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

 

[ http://agathairene.wordpress.com/ ]

 

—oOo—

 

H A P P Y  R E A D I N G

 

 

Rasanya Joohyun dalam zona tak nyaman. Salah besar jika ia takut dengan para pria. Semenjak putus dengan kekasih lalunya dan pada akhirnya memilih jomblo. Yang bahkan sudah awet selama dua tahun.

 

Heol, Joohyun memang mempermasalahkan hal itu. Selain umurnya sudah 25 tahun, memang bukan waktunya lagi untuk bermain-main dengan namanya cinta. Dan jujur saja, Joohyun seakan mati rasa saat beberapa pria mencoba mendekatinya. Dan pada hasil akhirnya mereka pun menyerah.

 

Kalau kata teman-temannya, mungkin saja Joohyun ada kelainan jantung. Makanya detak jantungnya saja sama sekali tidak berfungsi. Jika Joohyun mendengarkan alasan tak masuk akal itu, ia tak akan segan untuk menjentikkan jari ke bibir mereka.

 

Tapi beda lagi dengan Kim Joomyeon. Bagi Joohyun, lelaki itu tak normal. Malah Joohyun sudah berulang kali mengabaikan semua pesan SNS darinya. Dan darimana Joomyeon bisa mendapatkan semua kontak SNSnya. Apa lagi jika kalimat andalannya seperti,

 

‘Hai’

‘Selamat pagi’

‘Joohyun-ah, kau sedang apa?’

‘Apa kau tidur dengan baik?’

‘Selamat tidur. Sampai jumpa di Kantor besok’

 

Joohyun saja sampai hapal dengan semua pesannya. Tidak nyaman? Tidak juga. Lebih tepatnya ia tak tahu harus mulai menjawab darimana. Apalagi ia jarang berinteraksi dengan lawan jenis. Tepatnya ia lebih berhati-hati.

 

Teman-temannya bahkan terus menyalahkannya. “Ya! Bae Joohyun! Ada apa denganmu ini?” Joohyun hanya menatap tak mengerti. Harus butuh ekstra kesabaran jika memberikan beberapa paragraf petuah untuk Joohyun. “Kau jual mahal ya? Joomyeon sudah mengirimimu pesan berkali-kali tapi kau hanya membacanya? Kenapa kau kejam sekali sih”.

 

Lagi-lagi Joomyeon. “Dia melakukan itu juga karena kalian”. Joohyun benar. Ia dan Joomyeon adalah angkatan yang sama, masuk ditempat kerja dan ruangan sama. Bahkan mereka berbicara biasa seperti layaknya teman umumnya. Dan entah kenapa Bos mereka tak henti-hentinya membuat sebuah gosip.

 

Joohyun memang santai tapi Kim Joomyeon seolah menanggapinya. Awalnya hanya sebuah candaan godaan penghibur ditempat kerja, namun lambat laun semua berubah. Dimulai saat Joomyeon mulai memberikan makanan saat ia pergi ke luar kota, mengajaknya makan siang berdua, menawarinya jalan-jalan dan banyak kejadian sifat aneh Joomyeon.

 

Dan Joohyun tahu Joomyeon sudah memulai rasa padanya. “Bae Joohyun. Hai”. Joomyeon menepuk bahunya dan bersamaan disambut teriakan teman sekantor mereka. ‘Heol, jangan membuat kehebohan lagi’. Joohyun hanya bisa berteriak dalam hati. Jika ia menyangkal, itu akan terus berlanjut. Jika ia diam, ia juga akan tetap disalahkan.

 

“Oh ya, baca pesanku di SNSmu jika kau sempat ya. Aku pergi dulu”. Joomyeon berbisik dan lagi-lagi di sambut sorakan lainnya. Dan Joohyun penasaran. Tapi bukankah akan tetap sama seperti biasanya? Helaan nafasnya begitu kentara dan Joohyun kembali melanjutkan pekerjaannya.

 

***

 

Bagi Kim Joomyeon, sosok misterius Bae Joohyun membuatnya dilanda cinta gila. Sebelum tak ada pria melamarnya, tidak salah jika ia terus mengejarnya. Kata orang-orang, Joomyeon terkena sindrome cinta lokasi. Rasa itu bagaikan listrik yang mendadak menyerang jantungnya. Itu semua karena sorakan temannya.

 

Awalnya Joomyeon iseng menanggapinya, bahkan Joohyun pun tak masalah. Tapi karena cinta tumbuh karena terbiasa, rasa itu benar-benar tumbuh. Dimana ada fase saat ia ingin mengenal Joohyun lebih dekat, aktivitas apa yang sering dilakukan, makanan favorit atau warna kesukaan sekalipun. Apalagi saat Joomyeon mengenang kemajuan pesatnya sejak 2 bulan yang lalu.

 

“Joohyun-ah, kau suka coklat kan? Kebetulan sepulang dari Busan di rumah nenekku, kebetulan disana sedang panen coklat. Dan aku membawakan sedikit olahan coklat, yah walaupun aku mengolah sendiri. Aku tidak tahu manisnya pas denganmu atau tidak”. Joomyeon memberikan coklat itu ragu. Gadis itu hanya memandangnya dalam diam.

 

Namun kedua tangannya menadah, bermaksud akan menerima pemberian Joohyun. “Kau membuatnya?” Mungkin Joohyun tak yakin. Ya mungkin karena ia tak percaya jika lelaki pun bisa aja nekat untuk membuat sebingkis batangan coklat untuk sang pujaan.

 

Namanya cinta gila, mengharapkan suatu pujian atau penerimaan atas usahanya sudah membuat Joomyeon mabuk kepayang. “Terimakasih”. Kurva bibir Joomyeon melengkung, seakan puas dengan kalimat yang begitu terdengar manis. “Aku akan membuatnya lebih enak lain kali. Jika tidak enak, bilang saja padaku”.

 

Joomyeon membalikkan badannya ingin berlalu, namun ada satu hal kesempatan yang mungkin Joohyun mau. “Joohyun-ah!” Gadis itu mendelik, dengan tangan kananya masih menggegam coklat buatannya. “Nanti siang kita coba makan di Caffe baru depan sana! Aku rasa, itu terlihat enak”. Joomyeon menggigit bibirnya frustasi.

 

Secara tak langsung, ini seperti artian ajakan sebuah kencan. Joomyeon rasanya ingin mengompol karena melihat wajah Joohyun yang super datar itu. “Ba … baiklah”. Yokhsi! Jakun Joomyeon gondok karena menahan senyumnya yang ia tahan saking bahagianya.

 

“Ba … baiklah. Aku akan menunggumu jam 12 nanti. A … aku pergi dulu”. Joomyeon berlari kecil dan ada rasa sensasi membahagiakan bisa mengajak ‘kencan’ sang Bae Joohyun. “Astaga. Aku benar-benar gemetar”. Ucap Joomyeon sembari meremat kedua tangannya yang teraba dingin.

 

***

 

‘Oh ya, baca pesanku di SNSmu jika kau sempat ya. Aku pergi dulu’

 

Suara Joomyeon saat di Kantor terngiang-nging terus di telinga Joohyun. Ia sedang menyetir mobil sekarang. Kata Joomyeon akan lebih baik jika ia membukanya di Rumah. Memang pesan penting apa yang akan ia dapatkan. “Ahh, Joomyeon mencoba membuat gebrakan lagi?” Joohyun mengeluh sembari melepas sabuk dan turun dari mobil.

 

Perjalanan di Apartemennya seraya panjang. Apalagi Apartemennya ada di lantai 48. Cukup banyak waktu beberapa menit untuk sampai kesana dengan menggunakan lift. Tapi Joohyun tidak sabar.

 

Joohyun mengambil ponselnya didalam sweater nya. Jika pesan itu hanya sapaan biasa, mungkin besok Joomyeon akan mendapatkan omelan darinya. “Tck, memang pesan seperti apa sih?” Joohyun berdecak.

 

Ia mengecek ponselnya sembari memasuki lift. Setelah menekan tombol lantai 48, Joohyun menyenderkan tubuhnya di dinding. Kali saja ada sebuah kejutan hingga ia bisa meminimalisirnya. Apalagi kan Joohyun dalam hal kecil memang suka terkejut.

 

Bahkan balon meletus sekalipun. Dan Joohyun ingat ketawa keras Joomyeon saat melihatnya. Memangnya aneh jika ia takut suara letusan? Dan dari beberapa SNS, Joomyeon memberikan pesan lewat Line nya.

 

Nafas Joohyun tersedak. Notif Joomyeon tidak kentara, hanya angka 5 yang artian chat berisi 5 buble dan sticker brown dengan wajah datarnya. Kali saja kan hanya mengajaknya pergi atau ia sedang bercerita panjang lebar tentang Kampung Halaman neneknya. Bisa jadi, kan?

 

“Kenapa aku ini?” Joohyun menggaruk rambutnya gatal. Tanpa jeda, Joohyun menekan tombol. Dan God, chat panjang lebar dari Joomyeon membuat Joohyun harus wajib membuka lebar kedua matanya. Apalagi ia memperhatikan salah satu kalimat yang membuat ingin menekan dadanya dalam-dalam.

 

‘Joohyun-ah, maaf. Tapi berikan aku kesempatan untuk mengatakannya di sini. Memang kita tak lagi banyak bicara saat kekonyolan teman-teman kantor yang sudah membuat hubungan pertemanan kita menjadi tak nyaman’.

 

Masih satu bubble, tapi Joohyun masih berulang kali membacanya.

 

‘Aku tahu ini karena sebuah keisengan mereka tapi, sepertinya aku berpikir jauh. Tidak sepertimu yang menganggap itu hanyalah sebuah keisengan belaka. Tapi sepertinya aku berpikir jauh’. 

 

Joohyun mengambil nafas dalam-dalam. Manik matanya melirik angka di dalam lift, masih di lantai 15 ia berada. Joohyun berharap saja tak akan ada orang yang masuk lift, saat ia selesai membacanya.

 

‘Selama berbulan-bulan aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku terbawa suasana ataukah itu benar-benar muncul alami saat melihatmu Hyun. Jangan marah. Semenjak itu kau sedikit menghindar dariku. Kau jadi tak banyak cerita denganku. Aku sedih TT’.

 

Joohyun tak marah. Sungguh.

 

‘Aku tahu kau pasti menyadari atas semua perlakuanku padamu. Kau pasti berpikir aku sudah mulai tak wajar. Kkkkkk~ yah, sepertinya begitu. Tapi ketahuilah, aku benar-benar melakukannya sungguh-sungguh. Apa kau sedikit tak nyaman saat aku menanyakan kabarmu? Kkkkk~ tak penting memang karena kita bertemu setiap hari. Tapi ketahuilah aku sangat sangat merindukanmu saat sepulang kerja. Aku ingin mengajakmu pergi, tapi saat melihat sorot matamu aku sedikit ragu. Kkkkk~”

 

Yang benar saja, Joohyun bingung bukan kepalang. Bahkan ia terlihat begitu kejam dengan semua penjelasan Joomyeon. “Me … memang mataku kenapa? Me … menyebalkan”. Tanpa sadar pipi Joohyun bersemu merah. Bahkan Joohyun tak ingat kapan ia merasakan panas di kedua pipinya.

 

‘Baiklah, intinya saja. Aku tidak harus panjang lebar lagi, kan? Ini tidak gentle memang tapi aku hanya ingin memastikan satu hal saja.’

 

Joohyun menelan saliva nya saat ibu jarinya mulai menekan ke bawah.

 

‘Apa tak ada sedikit rasa kau menyukaiku? Jawablah jujur sekali saja!’

 

Joohyun merasa jantungan mendadak berhenti. Bersamaan dengan itu ponselnya hampir saja terjatuh saat pintu lift  terbuka. Ahh, sudah di lantai 48 ternyata. Joohyun mengambil langkah lebarnya sebelum wajah tegangnya jadi bahan curigaan orang-orang. “Ada apa denganku ini? Su … suka? Bah … bahkan aku lupa ciri-ciri seseorang sedang saling suka. Ta … tapi …” Joohyun masih mengomel sendiri di koridor.

 

Sesampai di depan pintu Apartemennya, Joohyun menekan nomer password dan suara pintu Apartemennya terbuka. Gadis itu melepas sepatunya, melempar tas dan tubuhnya di sofa. Harus ada keberanian lagi untuk membuka layar ponselnya, kan? Ah tidak, Joohyun harus meneguk segelas air putih dulu. Tak jauh dari duduknya, sudah ada sebotol air putih dan Joohyun langsung meneguknya.

 

“Hah, hari apa ini? Aku tidak tahu harus menjawab apa!” Joohyun menyeka mulutnya lalu memandang ponselnya ragu. “Sepertinya aku harus menjawab untuk meminta waktu”.

 

Joohyun mengaktifkan ponselnya dan rasanya Joohyun ingin menyembunyikan wajahnya ke sofa seumur hidup. Bagaimana bisa ia menekan huruf ‘Y’ tanpa ia ketahui. Joohyun melongo. Ini pasti karena efek terkejutnya. Joohyun melempar ponselnya dan meremat jari-jari tangannya kesal.

 

“Akkkkkk!! Apa yang aku harus lakukan besok haaah? Apa yang aku lakukan”. Dan tak lama kemudian Line nya berbunyi kembali, menampilkan notif dari Joomyeon.

 

‘Terimakasih Hyun~^^’

 

***

 

‘Tak perlu menunggu kau menyukainya! Kau akan menyesal saat ia menyerah! Percayalah padaku’.

 

‘Sudahlah, cobalah saja! Dia anak yang baik. Sudah ku katakan untuk lupakan mantan brengsekmu itu!’

 

Kata-kata temannya masih terngiang jelas. Ia masih berdiri di depan pintu Kantor sejak jam 6 pagi, ruangan masih sepi. Namun ia ragu, karena entah kenapa Joomyeon sudah ada di dalam. Matanya masih fokus ke layar komputer. Sepertinya ia masuk jam awal dan akan mengambil jam pulang awal saat siang.

 

Tapi jika Joohyun perhatikan, Joomyeon itu sempurna. Kurva wajah yang sempurna, kulit pucat dan tampan. Joohyun kembali menelan saliva , tak paham dengan semua deskripsi yang muncul begitu saja di pikirannya.

 

“Hyun-ah. Kenapa kau berdiri di sini? Kau tidak masuk?” Joohyun ingin mengatakan shit tatkala sang kawan mengagetkannya. Namun ia harus memasang wajah manis. Dan betul saja, Joomyeon terkaget. Pandangan mereka beradu, dan kali ini mata Joomyeon seolah lebih berbeda dan dalam?

 

“Ahh, kalian sedang janjian? Ahh, maafkan aku sudah menganggu”. Kawannya itu melipat jari jemarinya memohon ampun. Joohyun diam, seolah tak mendengar itu semua. Akankah ia menyapa atau pura-pura tak lihat? Sepertinya opsi kedua akan ia pakai saat ini.

 

Setelah melewati meja Joomyeon dan meletakkan tasnya, ia menemukan sebuah teh hangat dan roti di atas meja kerjanya. “Makanlah! Kau pasti belum sarapan, kan? Aku membelinya saat berangkat tadi”. Ahh, dari Joomyeon ternyata. Joomyeon tersenyum lalu kembali duduk, tertutup dengan pembatas tembok di ujung sana.

 

Joohyun tersentuh, sungguh. Ia mengambil roti itu dan memakan segigit. Tanpa sadar Joohyun tersenyum. “Sepertinya aku menyukaimu saat ini”. Rasa roti itu bahkan terasa lebih manis daripada biasanya. Itu semua karena Joomyeon dengan semua perlakuan hangatnya. Joohyun mengambil ponselnya dan menekan kontak Joomyeon.

 

‘Terimakasih. Ini enak’.

 

Suara sound Line membuat Joomyeon mengalihkan matanya dari layar komputer ke ponselnya. Dan lelaki itu tersenyum puas.

 

‘Sebagai balasan terimakasih,  bagaimana nanti malam kau mentraktirku kopi?’

 

Tak perlu menunggu lama, Joomyeon mendapatkan jawabannya.

 

‘Okay’

 

Okay, I’ll catch you later tonight, to be mine Bae Joohyun’  

-FIN-

 

Aku suka mereka. Entah kenapa wajah mereka keliatan kembar. Andai delusi para author shipper seperti aku ini benar-benar jadi NYATA :3

4 thoughts on “[Oneshoot] Catch Me If You Can | by L.Kyo

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s