[EXOFFI FREELANCE] Black and White (Chapter 4)

black-and-white-duet-project

Black and White

PG-17

Short-stories

DO Kyung Soo, Lee Yorin (OC), Jung Yunho

khaqqiadrei w/ aininugu

poster by namminra

Cerita hanya fiktif dan tidak diizinkan memposting ulang atau meng-copy tulisan berikut. Cast milik diri mereka sendiri dan agensi.

[]

 “Semestinya tidak sulit mengatakan ‘aku menyukaimu’. Hanya saja, banyak kekeliruan yang membuatku khawatir.

“Hanya karena kau adalah gadis yang ‘tidak semestinya’, bukan berarti kau ‘tidak layak’ menjadi milikku.

“Ayo kita berjuang”

 baw.jpg

BLACK AND WHITE [4/8]

Adalah hal yang mustahil jika seseorang akan tahu apa yang terjadi di dunia ini sedangkan ia bahkan belum terlahir dari rahim ibunya. Terlalu muluk jika berharap lembar demi lembar buku sejarah akan membeberkan semuanya secara rinci—tanpa bumbu-bumbu pemanis cerita. Begitupun dengan ucapan manusia.

Maka, Yorin di sini sekarang—di samping tempat tidur Kyungsoo. Saat sang rembulan sudah menunjukkan eksistensinya, dengan ditemani pasukan bintang di sekelilingnya. Hari memang sudah malam tapi pikiran Yorin masih tertuju pada kertas usang yang ia temukan beberapa jam lalu, saat mega merah masih menggantung di ufuk barat. Dalam benaknya serentetan kalimat tanya muncul bergantian, mendistraksi pikirannya. Apa maksudnya? Apakah sebuah teka-teki? Apakah itu hal yang harus ia pecahkan? Atau tidak? Dan nama siapa yang seharusnya tertulis di penghujung kalimat itu?

Seluruh prasangka itu masih terus memeluk otaknya, tidak membiarkannya memikirkan hal lain. Hingga pada akhirnya, sebuah suara lenguhan berhasil menariknya kembali untuk menapaki dunia nyata.

“Kau sudah pulang, Yorin-ssi?” Kyungsoo bertanya lirih sambil berusah menarik tubuhnya untuk bersandar ke dinding.

Padahal Yorin baru saja ingin membuka mulutnya untuk menanyai keadaan Kyungsoo, tapi ternyata pria itu sudah melakukannya terlebih dahulu. “Y-ya, a-aku sudah kembali sejak tadi sore,” jawabnya gugup. Seperti sebuah klise, ingatan tentang kemarahan Kyungsoo tempo hari masih membuatnya sedikit waspada kalau-kalau Kyungsoo bersikap seperti itu lagi kepadanya.

Suara Yorin yang seperti dipaksakan untuk keluar mau tak mau menarik perhatian Kyungsoo. Pria itu sekilas menangkap raut kengerian yang terpancar dari manik mata Yorin, dan sudah jelas Kyungsoo tahu apa penyebabnya. Lantas, ia berdehem. “Kejadian kemarin. Lupakan saja.” Yorin mengangkat kepalanya, menatap Kyungsoo. Dan pria itu menganggapnya sebagai isyarat penjelasan lebih darinya.

“Itu… aku sedang kesal. Dan aku melampiaskannya padamu.” Tidak ada kata maaf, tidak ada kata bahwa pria itu menyesal. Hanya pembelaan, tidak lebih. Tentu saja, karena kalimat itu semua bersumber dari otaknya, bukan hatinya.

Namun terlepas dari ada atau tidaknya kata maaf yang terkandung dalam pernyataan Kyungsoo barusan, nyatanya hal itu sudah cukup untuk membuat Yorin kembali bersikap seperti biasanya. Tidak ada kesan takut yang Kyungsoo tangkap dari iris coklat milik Yorin, yang ada hanyalah pancaran kesenangan yang entah kenapa terasa seperti menular dan tanpa diperintah, seulas senyuman tipis terukir di bibir hitam Kyungsoo.

Gadis itu menepuk tangannya sekali, senyuman diwajahnya semakin lebar. Hal itu mengundang reaksi tanya dari Kyungsoo, pria itu menjinjing satu alisnya lalu bertanya, “Ada apa?”

“Aku membawa kabar bagus! Kau pasti senang!”

Ada dua reaksi yang Kyungsoo rasakan saat ini. Dan ia bimbang ingin merealisasikan yang mana. Disatu sisi ia ingin ikut senang namun, disatu sisi ia takut. Kabar baik seperti apa yang disampaikan seseorang kepada musuhnya sendiri. Apakah baik untuknya atau untuk Yorin? Setidaknya alasan ini berdasar pada kenyataan kalau Yorin adalah keturunan Wwhiteblood yang merupakan musuh Blackblood.

Dan setelah bertahan selama sepuluh detik dengan ekspresi datar, serta dihadiahi tatapan berbinar dari Yorin. Akhirnya keputusan final Kyungsoo adalah opsi yang pertama; ikut merasa senang. “Tunjukkan padaku,” ucapnya diiringi senyuman. Selang beberapa detik kemudian Yorin kembali duduk di sampingnya setelah tadi berlari menuju lemari kayu diujung ruangan.

“Bunga?”

Yorin mengangguk. “Obatmu.”

“Krisan biru?” Kyungsoo menatap gadis didepannya dengan pandangan tidak percaya. Sebenarnya, ia sudah lama tahu bahwa obat dari sakitnya ini adalah bunga itu. Namun, ia tak pernah berniat mengambilnya sendiri. Ia tak mau menyalakan api di tengah guyuran minyak. Tidak akan.

“Kau—“ Kyungsoo mengarahkan telunjuknya ke wajah Yorin. “Bunga ini—“ lalu beralih kearah bunga yang digenggam Yorin. “Kau yang ambil?”

Dan Yorin hanya mengangguk sebagai balasan. Oh, demi apapun, Kyungsoo rasanya seperti baru saja dijungkir balik. Seseorang yang dianggap musuh malah ingin membantu proses penyembuhannya? Jika Kyungsoo dihadapkan dengan kondisi ini jauh-jauh hari saat pertama kali bertemu gadis itu. Mungkin ia akan menuduh Yorin ingin meracuninya.

Tapi, kalau sekarang … apa mungkin?

“Nah!” Yorin tiba-tiba berteriak, dan membuat tangan kanan yang Kyungsoo gunakan untuk menopang dagu saat berpikir tadi, meleset. “Pft… Maaf, aku hanya ingin bilang, aku akan membuatkan obatmu sekarang.” Yorin beralibi setelah Kyungsoo menghadiahinya delikkan tajam. Setelah itu, Yorin segera melesat menuju dapur.

Suara pintu geser yang bertemu dinding membuat Kyungsoo dapat kembali fokus pada pikirannya. Segala hal tentang Yorin, Whiteblood, musuh, Blackblood, nyaris membuat kepalanya pecah. Kondisinya yang saat ini masih lemah sama sekali tidak membantu.

“Terlalu gegabah jika aku langsung menunjukkan sikap penolakanku padanya. Mungkin sebaiknya biarkan dulu seperti ini, hingga aku tahu apa yang ingin dia lakukan padaku.”

Dan tepat ketika Kyungsoo baru saja membuang napasnya untuk yang kesekian kalinya, pintu kayu itu kembali bergeser dengan kehadiran Yorin—dan nampan—dibaliknya. “Ini dia, silahkan diminum, Kyungsoo-ssi.”

Yorin mengangsurkan sebuah cangkir berwarna putih tulang dengan cairan hitam di dalamnya, Kyungsoo sempat menatapnya jijik selama beberapa detik. Kedua manik matanya seolah memberikan tatapan penolakan, namun kemudian berubah menjadi tatapan pasrah ketika Yorin memberinya anggukan mantap. Hitam, tidak ada selain air kotoran yang terlintas dipikiran pria itu ketika melihatnya warnanya. Oh, bahkan ia harus menutup hidungnya tanpa alasan apapun, karena pada kenyataannya cairan itu tidaklah berbau seperti yang dibayangkannya.

“Hm… tidak buruk ternyata,” ucapnya setelah menegak habis cairan hitam itu. Ada nada seperti ia baru saja melakukan kekonyolan yang parah. Bertindak seperti anak kecil yang takut obat-obatan. Itu bukan ‘Kyungsoo’ sekali. Sempat terpikir kalau Yorin mungkin akan menaruh racun di minuman itu. Pemikiran yang kurang ajar, memang, kalau Yorin tahu.

Tapi Kyungsoo enggan mengungkapkannya. Tidak buruk juga, pikirnya, kalau ia sedikit mengulur waktu sampai ia tahu apa tujuan Yorin yang sebenarnya.

*

Rintik hujan kembali mengambil peran. Mereka jatuh dari atas awan lalu terjun menghantam tanah secara besar-besaran. Ada aroma khusus yang menguar dan dengan senang hati menggelitik indra penciuman siapapun yang beruntung mendapatinya.

Sang Matahari baru kembali kesinggasananya beberapa jam yang lalu namun, seketika presensinya terhalangi oleh gelapnya awan, dan beberapa menit kemudian hujan turun, sampai sekarang. Hal yang buruk untuk mengawali hari baru dan Kyungsoo sempat mengeluh tadi. Berbanding terbalik dengan Yorin yang justru senang ketika hujan mulai mengguyur.

Keduanya kini sedang duduk bersisihan di pelataran rumah.  Mengamati bagaimana hujan turun dari atas hingga mencapai bumi dan menimbulkan suara gemericik yang menyenangkan. Tampias air hujan perlahan membuat ujung dari pakaian mereka meneteskan air setitik demi setitik. Namun nyatanya keduanya masih sungkan untuk pindah dan mengakhiri saat-saat seperti ini.

Saat-saat seperti ini? Seperti apa? Entahlah, karena mereka berdua pun tidak tahu. Hanya rasa nyaman yang membuat mereka tetap bertahan dengan posisi ini sejak seratus dua puluh menit yang lalu.

Kondisi Kyungsoo sudah jauh lebih baik sekarang berkat obat yang diberikan Yorin tiga hari lalu, hanya tinggal pemulihan pada tenaganya saja dan itu bisa diatasi dengan cara Yorin tersendiri yang selalu menyiapkan makanan setiap pagi, siang dan malam.

“Terimakasih.” Akhirnya Kyungsoo yang lebih dulu memulai dialog. Setelah dirasa geming yang menguasai mereka sejak tadi sudah hampir menelan presensi masing-masing. Ekor matanya sedikit ia arahkan kepada gadis yang duduk di sebelahnya. Sepintas Kyungsoo lihat gadis itu tersenyum lantas menengadahkan kepalanya ke atas, memandang langit kelabu yang sedang menumpahkan simpanan airnya.

“Terimakasih untuk apa? Aku bahkan tidak merasa melakukan hal yang istimewa.”

Yorin mengalihkan pandangannya, kini tatapan mereka saling bersirobok. Ada setitik rasa bersalah yang Kyungsoo tangkap dari sorot mata Yorin. Entah rasa bersalah atas apa dan pada siapa. “Tentu saja terimakasih karena sudah mau merawatku. Kita tidak terlalu dekat tapi kau sudah begini baik padaku.”

Gadis itu lagi-lagi tersenyum, membuat lengkungan sabit di matanya yang indah terbentuk. Kyungsoo sempat dibuat terpana olehnya namun, cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya pelan—berusaha mengusir segala pikirannya yang tidak-tidak.

“Kau tahu, Kyungsoo-ssi? Aku merasa tidak pantas mendapatkan ucapan terimakasih darimu.” Senyumannya perlahan lenyap tergantikan dengan ekspresi bersalah yang cukup kentara. Pengakuan Yorin barusan seolah meruntuhkan dinding yang Kyungsoo bangun dengan susah payah. Usahanya agar sedikit lebih akrab dengan gadis itu gagal. Dan geming kembali menelan mereka untuk dua menit kedepan.

Kyungsoo yang bingung ingin bicara apalagi untuk memulai konversasi baru akhirnya memutuskan untuk menarik diri dan pergi ke dalam. Alasannya ia perlu istirahat lagi, tapi itu semua hanya kebohongan. “Kalau kedinginan, masuk saja ke dalam.” Yorin mengangguk dan tersenyum—mempersilahkan Kyungsoo masuk terlebih dahulu.

Tepat ketika suara pintu yang tertutup menyapa gendang telinganya, Yorin kembali bersuara. “Andai dia tahu, di setiap makanan yang kubuat, aku berniat mencampurnya dengan racun. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Ini tugasku, tapi aku tetap tidak bisa.” Pelupuk matanya terasa panas dan semakin panas, hingga akhirnya setetes likuid bening meluncur dari ujung matanya melalui pipi dan jatuh bercumbu dengan tanah. “Apa kau masih mau mengucapkan terimakasih padaku, Kyungsoo?”

Gadis itu masih bertahan dengan posisi dan pemikiran-pemikiran tentang penyesalan di dalam otaknya hingga tak menyadari bahwa semua yang ia ucapkan terdengar oleh dua pasang telinga yang menguping di tempat berbeda.

Sementara beberapa meter sebelah barat Yorin, seseorang telah berhasil mencuri dengar perkataannya, dan seketika kemarahannya membumbung. “Jadi itu yang selama ini kau lakukan? Sialan!!” Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, urat-urat lehernya sedikit demi sedikit mulai mencuat keluar. Terakhir kali amarahnya naik sampai puncak adalah ketika ibunya meninggal di tangan musuh. Dan nyatanya bara dendam itu masih menyala sampai sekarang, dan lagi, sayangnya Yorin dengan tidak sengaja baru saja mengipasi bara itu hingga kini kobarannya semakin besar dan panas.

“Aku tahu harusnya aku yang turun tangan dari dulu.” Tangannya yang mengepal meninju dengan keras pohon yang menjadi tempat persembunyiannya. Lalu ia membuka sayap putih lebarnya dan kemudian sosoknya hilang tergantikan dengan debu-debu pixie yang melayang-layang diudara.

Di tempat lain, Kyungsoo yang mendengar semuanya dari balik pintu hanya bisa memasang wajah terkejutnya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia akui bahwa ia merasa senang. Menjadi alasan bagi orang lain untuk tidak jadi melakukan suatu kejahatan. Kyungsoo belum pernah merasa se-spesial ini. Jadi, jangan salahkan Kyungsoo jika pada akhirnya ia tersenyum atas kondisi ini, dan jangan salahkan ia juga jika hatinya kali ini jatuh untuk Yorin.

*

 

Malam harinya di tempat lain, Yunho tengah sibuk berlatih pedang di tempatnya latihan. Kali ini sasarannya adalah beberapa tembikar yang diletakkan diatas sebuah pondasi kayu tinggi. Total ada sepuluh, lima di masing-masing kiri dan kanan. Aura kemarahannya masih sama semenjak tadi—membara. Tekadnya untuk segera menyelesaikan semua ini semakin bulat. Menyesal ia menyerahkan semuanya kepada adiknya, hingga hasilnya seperti ini, gagal.

Sraak!

Satu tebasan terakhir dan berhasil membagi dua tembikar yang terakhir.

“Lihat dan tunggu saja. Besok akan jadi hari yang istimewa.” Ambisinya menguar, suaranya bergetar penuh keyakinan dan kemudian bunyinya menghilang teredam angin malam. Bilamana angin malam dapat menghantarkan sinyal bahaya pada Yorin dan Kyungsoo, akankah mereka masih bisa menyelamatkan diri?

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Black and White (Chapter 4)

  1. hiya………. Apa Yujin Suka ya ama Dyo(GA BOLEH)😦,apa cuma sebatas Berhutang Budi Aja Sama Dyo(KALO YANG INI BOLEH),hah bingung,trus Si Yunho bakalan ngapain Dyo Sama Yujin ya :-O ,aduh jdi semakin bingung,apa argumen Kedua belah klan memang benar terjadi,trus gulungan yang ditemuin sama Yujin itu siapa si sebenernya yang nulis,PENASARAN TINGKAT DEWA……
    oh iya Authornim apa maksud dari 4/8 itu adalah bahwa ff ini cuma ad 8 part aja

    KEEP WRITING AUTHOR-NIM

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s