[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Promise

myhome_0

[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Promise –Song’s || Kris & readers || Marriage Life

Aku diam mematung setelah melihat dua insan manusia saling berpelukan di depan mataku. Perlahan tapi pasti, aku melangkah mundur, berjalan menjauh tanpa menimbulkan suara.

“(y/n)” suara panggilan seseorang menghentikan langkahku yang hendak menggapai pintu lift.

Aku diam.

“(y/n)” lirihnya lagi. Aku menoleh ke arahnya.

Pria tinggi berbalut jas hitam dengan mata elangnya sedang berdiri seraya menatapku dengan sayu. Pria yang telah resmi menjadi suamiku semenjak setahun yang lalu. Dan kami disatukan karena perjodohan tanpa didasari rasa saling sayang.

Aku sibuk memainkan kedua jemariku, beginilah jika aku sudah bosan untuk menunggu. Hampir sepuluh menit keheningan ini melanda kami. Setelah kejadian di depan lift tadi, ia mengajakku pergi ke cafe favoritnya di seberang jalan.

“Ada perlu apa?” tanyaku dingin. Aku tidak mau mengulur waktu hanya untuk menunggunya berbicara.

Ia tidak menjawab pertanyaanku, ia malah menggengam kedua tanganku. Namun aku segera menepisnya.

“Maaf” ujarnya lirih.

Aku menggeleng pelan, “tak apa, jangan terlalu merasa bersalah. Karena sebentar lagi kita akan berpisah. Kau jangan khawatir, setelah berpisah kau bisa bebas pergi kemanapun, kapanpun, dan dengan siapapun” ujarku seraya menunduk.

“(y/n)” panggilnya.

“Apalagi?” ujarku menahan air mataku.

“Aku minta maaf” ia mengenggam tanganku untuk kedua kalinya.

Brak!

Aku menggebrak meja dengan keras. Sungguh aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Biarkan saja jika pengunjung lain melihatku.

“SUDAH KU KATAKAN BERHENTI MINTA MAAF. KARENA KAU TIDAK BERSALAH!” Bentakku menahan amarah.

Aku segera meraih sling bag ku lalu beranjak pergi keluar cafe, sebelum tangan kekarnya menahanku.

“Pulang denganku saja” ia menarik kasar tanganku memaksa untuk mengikutinya.

“(y/n)”

“Kau yakin dengan keputusanmu?”

“Kesempatan kedua tidak ada?”

“Bicaralah (y/n)”

“Tolong jawab pertanyaanku.” Bahkan di dalam mobil ia selalu saja bertanya banyak hal yang tidak ingin kujawab.

Aku segera turun dan berlari menuju rumah bernuansa putih biru yang sudah kudiami sejak menikah dengan Kris—suamiku. Setelah membuka pintu utama, aku segera melesat menuju kamarku. Tidur adalah salah satu hal terbaik untuk menghilangkan semua penatku, apalagi masalahku dengan Kris yang belum selesai.

“(y/n) kau sudah tidur?” tanyanya seraya mengambil posisi berbaring di sebelahku.

Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Aku belum tidur, hanya memejamkan mata.

Sedetik kemudian, tangannya terulur untuk mengusap pelan rambutku. Memberikan sensasi kenyamanan yang selalu kudambakan. Aku mulai terbuai dengan sentuhannya, hampir saja mata ini tertutup. Namun aku segera menepis tangannya. Aku tidak mau mencintainya lagi jika pada akhirnya dia tidak pernah menyimpan perasaan sedikitpun denganku.

Saat kami menikah, akulah yang paling banyak berharap padanya. Aku yang terlebih dahulu jatuh cinta padanya. Kesalahan terbodoh yang pernah kulakukan. Mencintai seseorang yang mencintai orang lain. Walaupun dengan suatu ikatan, jika tanpa dasar cinta semua akan sia-sia.

Kehidupan kami begitu sulit, disaat kami resmi menikah ia memiliki seorang kekasih. Kami jarang sekali berbicara, jika bukan hal penting. Bahkan, ini bukan sebuah kehidupan suami-istri yang orang lain dambakan bukan?

Hingga akhirnya aku sadar, setahun ini usahaku sia-sia. Percuma aku selalu perhatian padanya jika ia tak pernah menganggapku ada. Oleh karena itu, ku putuskan untuk menyerah memperjuangkannya. Dan melepaskannya dengan orang lain jika itu membuatnya bahagia.

“Aku tahu kau belum tidur.” ia memelukku dari belakang.

“Kita selesaikan masalah ini besok ya, sekarang kau tidur” selepas ia berucap seperti itu, kurasakan sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalaku.

“Kau mau pergi kemana?”

“Hei!”

“Jawab pertanyaanku. Kau mau kemana?” Kris menarik paksa tas ransel yang sedang kubawa.

“Kembalikan Kris!” teriakku kesal.

“Kau mau pergi kemana?”

“Pulang!” dahinya berkerut,”Pulang kemana?” tanyanya lagi.

“Ke rumah Mama. Kita sudah tidak ada hubungan lagi.” Jelasku padanya seraya meraih tas ranselku yang sedang ia pegang.

Aku melesat pergi keluar kamar menuju pintu utama, sudah terlalu lelah untuk tinggal disini. Hampir setiap hari melihatnya membawa banyak perempuan walaupun ia sudah memiliki seorang kekasih dan em… seorang istri.

Grep

Kris memelukku dari belakang. Mencoba menghentikan langkahku.

“Aku mencintaimu” ujarnya pelan di telinga kiriku. Aku hanya tersenyum miris.

“Simpan saja cintamu untuk perempuan jalang serta kekasihmu” ketusku.

“Tidak! Aku hanya cinta padamu. sungguh!” aku melepaskan tangannya perlahan namun ia malah semakin mengeratkan pelukannya.

“Kita tidak akan berpisah. Aku tidak rela berpisah denganmu.” Aku menghela nafas kasar.

“(y/n) dengarkan aku..” ia menghela nafas pelan, membalikkan tubuhku, dan mengenggam kedua tanganku. Menetralkan emosinya.

“Aku mencintaimu. Oke, kuakui aku memang salah. Sangat sangat sangat bersalah, tidak tahu diri. Aku sering bermain api bahkan di depanmu. Tapi kali ini aku sangat bersungguh-sungguh aku benar-benar mencintaimu, aku tidak akan menyakitimu apalagi meninggalkanmu. Tolong berikan aku kesempatan kedua. Aku janji!”

Aku masih diam, entah aku harus membalas ucapannya atau tetap teguh pada pendirianku.

“Sudah selesai bicara? Boleh aku pergi sekarang?” Aku rasa ini memang jalan yang terbaik.

Raut wajah Kris berubah pucat setelah aku melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke arah pintu utama. Selangkah lagi aku keluar rumah, aku menoleh ke arahnya sebentar, ia benar-benar terlihat pasrah dan bersalah. Ya Tuhan, aku tidak tega jika melihatnya seperti ini.

Kris berlari menyusulku ke gerbang. Ia menggendongku dengan paksa. Aku sudah berkali-kali meronta namun ia tak menghiraukanku.

“Tolong, kumohon beri aku kesempatan lagi. Percaya padaku, kemarin saat kau melihatku berpelukan dengan sekertarisku itu adalah yang terakhir. Jika kau beri aku kesempatan, aku berjanji akan berubah. Sungguh (y/n) kumohon maafkan aku, jangan pergi!” Kris hampir saja terisak jika aku tidak segera memeluknya.

Aku tidak bisa berbohong. Sekarang, aku luluh.

“Baiklah. Aku memaafkanmu, jangan ulangi lagi ya…” Kris mengangguk pelan dipelukanku.

“Tapi bagaimana jika aku tidak mempercayaimu? Apakah aku boleh memberi hukuman?” Kris tersenyum tipis, “Kau boleh memberiku hukuman apapun. Tetapi kau tidak boleh untuk tidak mempercayaiku. Karena aku akan berusaha menepati janjiku”

“Happy first anniversary sayang, maaf ya terlambat empat hari” Kris melepaskan pelukanku dan mengambil sebuah kotak biru di nakas dekat ranjang.

Dia bahkan sempat menyiapkan hadiah. Lalu aku bagaimana? Sekarang kan Kris berulang tahun.

“Ini untukmu” ujarnya seraya menyerahkan kotak biru padaku.

“Happy Birthday Kris… maaf aku tak punya hadiah untukmu.” Ujarku sedih.

“Tak apa. Aku tak butuh itu. Aku hanya butuh kau selalu di sisiku”

-It is really hard to decide when you’re too tired to hold on.
yet, you are too in love to let go.-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s