[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Our Love

myhome_2

[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Our Love-kim hyomi

Kris Wu, Lena Park (OC) |Romance, Hurt | G

*

“Kita adalah satu. Satu cinta, satu hati, juga satu jiwa.”

*

^New York 2015
Aku berjalan dengan perlahan mengikuti lautan manusia di sekitarku. Tubuhku terdorong ke segala arah. Beberapa makian terdengar telingaku. Tapi apa peduliku?

Tersandung kakiku sendiri dan tersungkur di aspal panas. Siku tergores juga tatapan heran yang mengarah penuh padaku. Bisikan terdengar. Apa yang sedang orang ini lakukan? Apa orang ini sudah gila? Kasihan sekali.

Aku berdiri. Dengan langkah kaki terseok, melangkah menjauh dari kerumunan. Mengabaikan semua tatapan juga bisik-bisik yang semakin memuakan.
*
/Padang bunga. Luas. Indah.
Aku melihat seorang gadis berdiri membelakangiku. Dengan sebuah full skirt dress berwarna putih. Surai hitamnya bergerak seiring hembusan angin yang sedikit kencang. Dia bertelanjang kaki, tanpa alas.

Tanpa sadar aku melangkah mendekat. Begitu penasaran dengan sosok itu. Hingga akhirnya aku berhenti tepat di belakang si gadis. Sosok itu tak terlalu tinggi, hanya sebatas dadaku. Aroma musim semi menyapa penciumanku.

Sosok itu berbalik dan nafasku tercekat. Wajah itu. Dengan mata bermanik karamel, bibir semerah ceri, hidung bagir dan pipi merona. “Cantik.” Ujarku tanpa sadar. Dan sosok itu tersenyum.

“Aku tahu, kau sudah sering mengatakan itu.” Sosok itu tertawa begitu angun. Aku kembali terpaku. Terpesona akan caranya menutup mulutnya dengan punggung tangan. Juga surainya yang bergoyang seiring tawanya. “Hei, mau sampai kapan kau memperhatikanku?”

Aku tersadar dari keterpukauanku atasnya. Dia merentangkan tangannya. Dahiku berkerut mencerna maksud tindakannya. Tapi bibirnya mengerucut manis. “Tidak berniat memelukku?” Dan entah kenapa aku merasa hangat dalam hatiku. “Tentu saja.”

Dan aku memeluknya./
*
^New York 2014
Mimpi itu lagi. Aku terbangun dengan keringat membasahi tubuhku. Sama seperti waktu lalu. Selalu. Tempat dalam mimpiku tak pernah berubah. Sosok di dalamnya juga tak berubah. Semua sama. Dan hatiku akan selalu dipenuhi rasa sesak tiap kali kembali ke dunia nyata.

“Sebenarnya siapa kau?”

Pertanyaannya yang sama sekali tak terjawab.
*
/“Kau benar-benar tidak mengingatku?”

Aku melihatnya tertunduk sedih, dan itu berefek pada hatiku yang teremas. Sakit. “Maafkan aku.”

“Tak apa.” Dia mendongak dengan sebuah senyum. Tapi entah darimana aku tahu jika itu palsu. Tanganku bergerak mengusap kepalanya yang sekarang berhias flower crown yang baru saja kubuat. “Kris.”

“Um?”

“Mungkin aku tidak akan muncul lagi.” Aku bisa dengan jelas melihat kepedihan di matanya. Kekecewaan juga rasa sakit yang tak bisa ditutupi oleh senyum. Kembali aku merasa hatiku dihancurkan.

“Kenapa?” tanyaku, tercekat di ujung kata. “Karena kau tidak juga mengingatku.”

Apa? Karena aku tidak mengingatnya? Dia akan pergi karena aku tidak mengingatnya? Kenapa? Sebenarnya siapa dia? Aku merasa begitu mengenalnya namun tidak.

“Aku mungkin akan datang satu kali lagi, Kris. Dan mungkin itu yang terakhir. Jadi aku mohon, ingatlah aku.” Ketika kalimat itu selesai, air mata jatuh dari matanya. Juga, mataku./
*
“Sial.” Aku mengumpat untuk kesekian kalinya. Aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali aku terbangun dengan keadaan seperti sekarang. Sekali lagi aku mengumpat. “Bagus jika kau tidak akan muncul lagi.”

Kalimatku berbanding terbalik dengan hatiku. Sesaknya semakin terasa. Semakin menyiksa. “Argh!”
*
/“Ini yang terakhir, Kris. Tapi sepertinya kau belum mengingatku.” Gadis itu berujar dengan begitu tenang namun juga menyiksa. Lukanya menular padaku, bahkan lebih.

Aku memeluknya, erat. Seakan takut kehilangan. Ini yang terakhir? Bisakah sekali lagi, dan aku akan mengingat lebih keras? “Jangan menghilang.” Lirihku penuh permohonan. Tapi dia menggeleng.

“Tidak Kris. Aku harus pergi sekarang.” Dia melepas pelukanku. Mengusap wajahku yang entah sejak kapan basah oleh air mata. Lalu berjinjit, mengecup bibirku. Hanya sebuah kecupan, kecupan selamat tinggal.

“Jangan!” Ketika kakinya berbalik, aku menahannya. Tidak, aku tidak ingin dia pergi. Aku akan berusaha mengingatnya lagi. Sungguh aku tak ingin dia pergi. “Tidak Kris, aku harus pergi.”

“Jangan pergi!” Dia menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Ada senyum di wajahnya. Kali ini tulus. “Lena Park, itu namaku. Selamat tinggal, Kris.”/
*
“Lena!”

Aku tersentak. Terengah . Sebuah nama, dan semua memori yang hilang berebut untuk kembali. Setetes air mata lolos dari mataku. “Maafkan aku. Maafkan aku Lena.”
*
/”Lena?”

Aku berlari mendekati sosok yang selama dua tahun ini kucari. Beban dalam hatiku langsung menghilang begitu saja setelah aku memeluknya. Dia balas memelukku, erat. “Kau hidup dengan buruk sekali, Kris.”

“Maafkan aku, maaf Lena. Maaf baru mengingatmu setelah kau pergi.”

“Ssst. Tak apa. Karena kau sudah mengingatku, bisakah aku meminta sesuatu?” Aku langsung saja mengangguk, kami saling bertatapan. “Hiduplah dengan baik.”

“Aku akan hidup dengan baik jika itu denganmu.” Dia tersenyum. “Tidak Kris, kau harus berbahagia tanpaku. Aku tidak bisa bersamamu.”

“Kenapa?”

“Karena kita berada di alam yang berbeda. Kau tak ingat?” Dia mengecup bibirku. “Berbahagialah.”/
*
^Seoul 2016
“Lena, bagaimana kabarmu?” Aku duduk bersandar pada dinding kaca tempat berpuluh guci tersimpan. Sebelah tanganku memaikan setangkai mawar putih. “Kabarku buruk.”

Aku sama sekali tak ingin berbalik untuk melihat potret yang dipajang di salah satu ruang guci. “Dua tahun yang buruk untukku. Satu tahun mencari tahu tentangmu, lalu menyerah. Satu tahun lagi untuk meratapi nasibku.”

Sebuah tawa keluar miris dari belah bibirku. “Bagaimana aku tak mengingat semuanya? Padahal kau selalu muncul. Maafkan aku.” Sesalku semakin menumpuk.

“Berbahagia? Katakan bagaimana aku bisa berbahagia jika bukan denganmu?” Biarkan aku menangis lagi, Lena. “Kita adalah satu. Satu cinta, satu hati, juga satu jiwa. Kau lupa tentang itu?”
*
/”Berjanjilah Kris. Berjanjilah untuk bahagia.”

“Tidak. Jika bukan denganmu.” Dia memelukku.

“Bahagialah untukku. Aku akan tetap berada dalam hatimu. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan menunggumu hingga kita bersama lagi. Kris, berjanjilah.”/
*
^New York 2022
“Dad, Jackie membuat mainanku rusak! Belikan aku mainan baru.” Aku mengalihkan fokusku dari berkas di atas meja kerjaku. Sosok gadis kecilku yang sedang mengerucutkan bibirnya berdiri di samping mejaku, dia terlihat amat lucu. Aku beranjak untuk memeluk tubuhnya.

“Baiklah, ayo kita beli mainan baru.”

“Yey, Lena sayang daddy.”
*
/”Terima kasih sudah bahagia, Kris.”

“Aku bahagia untukmu, Lena. Jadi tunggulah aku.” Sebuah anggukan dia berikan. Aku memeluknya, membisikan satu kalimat dengan penuh kesungguhan. “Aku mencintaimu Lena Park.”

“Aku juga mencintai, Kris. Sangat.”/

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s