[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Missing

wu-yi-fan-wo-kan-ni-you-xi

[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Missing – Baby Gum
Kris Wu, Park Min Ha || Drama, Romance || G
***

Lelaki itu terbangun dari tidurnya. Mimpi yang sama mengusiknya dan membuatnya harus memaksakan diri untuk terbangun. Setidaknya sebelum ia terlarut dalam mimpi indahnya dan terancam tidak akan bangun lagi. Ia terduduk, meremas rambut-rambutnya dengan sedikit kekuatan. Helai-helai pirangnya gugur, sebagian melekat di telapak tangannya, sebagian lainnya jatuh ke lantai. Takut-takut, ia menatap ke penanda waktu di nakas sebelahnya, pukul 12 tepat tengah malam.
Lelaki pirang itu menatap pantulan dirinya di cermin, “Kau menyedihkan, Kris Wu!” omelnya kesal.

Berikutnya ia mengambil jaket kulitnya dan bersiap untuk pergi. Kemanapun, ia tak peduli, asal ia bisa terlepas dari kejaran mimpi itu. Dan tanpa ia sadari, 1 musim telah berlalu. Membuatnya merasa semakin menyedihkan. Baru 1 musim dan ia sudah sehancur ini? Dasar lemah!

Kris membuka pintu rumahnya ragu. Hening…. Rasa sepi itu tak pernah gagal dalam menyambutnya di tengah malam begini. Angin dingin menerpa, namun ia tak merasakan apa-apa. Mungkin segala sarafnya sudah tak lagi berfungsi setelah saraf pertamanya putus.

Ya, ada bagian yang rusak di hatinya, bisa jadi itu merambah ke seluruh jiwanya dan merusak dirinya dengan perlahan.
Ada sebuah tempat di mana Kris selalu menghabiskan sisa malamnya sampai pagi menjelang. Dua blok dari rumahnya, sebuah bangku besi dengan ukiran yang indah. Yang tak pernah bisa memberi kehangatan di waktu dini hari. Kris menyilangkan kakinya, menyandarkan tubuhnya di sandaran yang hampir beku. Apakah semua perpisahan terasa seburuk ini?

Kris menerawang jauh ke langit gelap tanpa bintang. Ia tak pernah sadar atas waktu. Sampai akhirnya musim berikutnya datang dan ia kembali ke bangku besi itu lagi. Kabur dari mimpinya lagi. Semua terjadi berulang-ulang seperti sebuah rutinitas yang sangat mengusiknya. Ia benci hidup seperti ini.

Park Min Ha, nama yang selalu berhasil membuat jam tidurnya tak karuan. Selama dua musim ini ia selalu hadir dalam bunga tidur Kris. Membuat rasa rindu itu semakin kentara. Kris harus mengakui bahwa dirinya masih –uh, lebih tepatnya sangat– merindukan Min Ha. Tak ada yang menghendaki perpisahan itu, tak juga Kris yang benar-benar mencintai pujaannya lebih dari ia mencintai dirinya sendiri.

Bagaimana kabar Min Ha? Apakah ia baik-baik saja? Kris harap Min Ha baik-baik saja. Namun, Kris tak bisa mengelak bahwa dirinya terus memikirkan seperti apa kehidupan Min Ha yang sekarang. Bagaimana Min Ha menjalani hidupnya tanpa Kris? Apakah gadis itu dapat menjalaninya jauh lebih baik daripada yang Kris lakukan?

Kris menghembuskan napasnya kuat-kuat, di sana tampak asap putih yang dingin. Udara malam tak akan baik untuk kesehatannya. Lelaki pirang itu berjalan pulang dengan lesu. Sesekali ia dihantui oleh aroma khas Min Ha yang entah kenapa masih melekat kuat pada setiap bagian jaketnya. Tidak, itu tak mungkin sungguhan, kan? Kris hanya mengigau. Ya, dirinya pasti mengigau.

 

***

 

“Aku baik-baik saja,” ujar Kris mensugesti diri. Musim ketiga, musim panas. Kris tak tahu mana yang lebih baik, berdiam diri di rumah, atau mencari udara di luar.

Keduanya sama-sama bersuhu tinggi. Lelaki jangkung itu lantas pergi ke dapur, mengambil persediaan ice creamnya sambil berpikir sebaiknya ia di rumah saja atau pergi ke minimarket yang dekat dari kediamannya.

Satu batang ice cream telah habis dimulut Kris sebelum meleleh dan menjadi tak berguna. Rasanya Kris akan menghabiskan waktu di rumah saja. Lagipula suhu di luar sedang panas-panasnya, pasti tak nyaman jika ia harus keluar dan memanggang dirinya demi pergi ke minimarket.

Lelaki itu kini pergi ke kamarnya lagi, melakukan kegiatan apapun untuk menghabiskan waktu. Musim panas membuat hari menjadi panjang, membuat Kris sadar bahwa dirinya tak baik-baik saja. Bagaimana bisa ia menikmati panjangnya waktu tanpa Min Ha di sisinya?

Hari-harinya di musim panas terasa membosankan. Yang ia lakukan hanyalah terus meratapi kesedihannya. Ia bahkan mencoba menulis sebuah lagu, sesuatu tentang perasaannya selama ini. Ia tak bisa terus mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia telah kehilangan segalanya. Napsu makannya-pun, yang membuat tubuhnya menjadi kurus seperti saat ini. Ia tak ingin tampak menyedihkan, tapi entah mengapa itulah kenyataannya.

Dan setahun ternyata telah berlalu. Hari ini sudah memasuki musim gugur, kembali pada musim di mana ia mulai kehilangan segalanya. Park Min Ha adalah segalanya, dan hubungannya berakhir saat angin sejuk meniup dedaunan maple kering dari tempat singgahnya. Meniup pula segenap pertahanan yang telah ia buat. Lelaki seharusnya tak menangis, tapi ia meneteskan air mata. Berjuang keras untuk tetap tersenyum di antara kepedihannya dan membiarkan gadis itu berlalu pergi.

Kris duduk di balkon kamarnya, menikmati udara sejuk di sore hari. Ia memetik senar-senar gitarnya, bersenandung kencang di antara hembusan angin. Sebuah lagu yang ia harap dapat tersampaikan kepada yang dicinta. Tangis sedihnya memaksa untuk menerobos pertahanannya, membuat suaranya menjadi parau. Di mana Min Ha? Apakah ia merindukan dirinya juga?

Di halaman rumah Kris, seorang gadis tengah berdiri dan tersenyum menatap sesosok lelaki di atas sana. Kris telah hanyut dalam setiap petikan gitar dan bait-bait yang ia buat. Gadis itu ikut sedih, merasakan betapa dalam ia tertusuk oleh setiap lirik yang Kris senandungkan. Sebelum ia semakin terbawa suasana, ia memutuskan untuk menginterupsi Kris.

“Hey, Kris Wu!” panggilnya.

Mendengar suara yang familiar, lelaki itu menghentikan segala kegiatannya, mengedarkan pandangannya dengan hati-hati. Saat menemukan sumber suara, ia segera meletakkan gitarnya dan berlari menghampiri sosok yang memanggilnya, sosok yang telah lama ia nantikan. Park Min Ha.

Kris segera mendekap gadis itu sesaat setelah ia sampai di bawah. Ia mencium puncak kepalanya dan menyandarkan dagunya di sana. Min Ha tertawa kecil menyikapi reaksi Kris. Namun ia merasa janggal saat membalas pelukan Kris.

“Sepertinya kau tak sekurus ini sebelumnya..?” tanyanya ragu. Yang ditanya tersenyum sedih sambil menepuk-nepuk kepala Min Ha lembut.

“Aku hanya tak bisa berhenti memikirkanmu.”

End

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s