[KRIS BIRTHDAY PROJECT] INESTIMABLE

krisssssusss

[KRIS BIRTHDAY PROJECT] INESTIMABILE – Leavendouxr
Scripwriter Leavendouxr
Cast(s): Wu Yifan, Savannah [OC]
Genre: half-romance, family
Rated: PG-13
Duration: Vignette (1292w)
.
.
.
.

“Kau tahu? Ibu sangat mencintai ayah.”

“Yah, aku sangat tahu―”

“―tapi hanya kau yang ada di dalam pikirannya. Sejak dulu.”


.
.
.
.

Yifan memandang Kevin yang berjalan mendahuluinya hanya untuk menggeser kursi, menimbulkan celah kecil kemudian mendorong kursi rodanya hingga mengisi tempat kosong disana. Pria renta itu tersenyum, “Terimakasih, Nak.”

Kevin ikut tersenyum hingga matanya hanya berupa lengkung tipis, “Aku tunggu diluar, ya, ayah?” tanyanya yang disambut anggukan perlahan. Laki-laki itu mengusap kedua bahu sang ayah, barulah beranjak keluar.

Seorang pelayan datang dengan senyum hangat, menurunkan dua cangkir teh dari nampan yang dibawanya.

Yifan menunggu sebentar, sampai terdengar ketukan tongkat dari permukaan marmer di bawah kakinya. Ia mendongak, dan matanya bersirobok dengan hazel lembut yang teredup suasana.

Di usia senjanya, tidak pernah terpikir sebelumnya kalau Savannah Parker masih secantik dulu. Hanya punggungnya sedikit bungkuk yang ditopang dengan tongkat. Ia mengenakan terusan berwarna pastel, serasi dengan rambut panjangnya yang dicepol tinggi. Wanita itu menarik kursinya dan duduk berhadapan dengan Yifan.

“Hai.”

Savannah tersenyum, mengubah kembali susunan keriput yang memenuhi kedua belah pipinya. “Masih cukup kuat untuk mengucapkan hai, Yifan?”

“Seingatku, dulu kau memanggilku Kris. Benar? Atau aku yang sudah pikun?”

“Dengar, Yifan, nama itu sudah kurang pantas untuk orang setua dirimu.”

Yifan menarik tawanya sejenak, mendahului si pemilik rumah untuk mencicipi teh yang belum lama dihidangkan. Lidahnya yang kering mengecap sedikit rasa manis menyengat yang kurang disukainya.

“Apa kabarmu, Save? Lebih baik dari yang kulihat sebulan lalu?”

Wanita itu tidak dapat menutupi senyumnya kala panggilan kecil itu kembali terdengar dari orang yang lama dirindukannya. Panggilan kecil yang asing bila disebut orang lain, namun terasa hangat saat Yifan yang mengucapkannya.

“Menurutmu?” tanyanya, mengembalikan jawaban pada Yifan.

“Kau tampak kurus. Porsi makanmu berkurang, ya?”

Kepalan tangan Savannah hampir meninju pelan kepala yang kini sudah dipenuhi rambut putih, namun kemudian terkulai lagi saat pegal merambat hingga jemarinya.

“Sudahlah Save, kau tidak akan bisa memukulku seperti dulu. Lihat? Tanganmu sudah mulai pegal.”

Savannah mengangkat cangkir tehnya, namun kembali menaruhnya dibawah tatakan. “Kau! Kau tetap menyebalkan seperti dulu.”

Yifan menjauhkan pandangannya, kemana saja asal tidak terus terpaku pada cahaya renta itu, “Aku seringkali mengingat masa kecil kita. Yah, kau tahu, kita sudah melewati segala hal. Bermain, bertengkar, lulus bersama, bekerja satu kantor, menikah dan memiliki anak.” menyebut beberapa kata terakhir, Yifan merasa hatinya sedikit bergetar.

Bohong jika ia tidak tertarik dengan pesona yang dipancarkan wanita itu semenjak muda. Ia jelas tidak bisa memalingkan matanya barang sejenak dari Savannah. Selalu ada bayangan wanita itu yang terlintas di dalam pikirannya. Semakin beranjak dewasa dan seringnya dipertemukan dalam keadaan apapun, ia semakin yakin dengan perasaannya.

Tapi kadang, sesuatu yang datang tidak sesuai dengan keinginan.

Yifan ingat, seseorang pernah berkata padanya; bila cinta tidak bisa dipisahkan oleh ruang, maka waktu bisa melakukannya. Begitupun sebaliknya.

Lima puluh satu tahun yang lalu, ia menyadari bahwa kalimat itu benar. Perasaannya harus terkubur dalam, saat Savannah memberikan lembaran undangan pernikahan kepadanya. Bahkan sebelum sepasang bibirnya mengutarakan apa yang dirasakannya.

Sebuah undangan pernikahannya, dengan salah seorang teman kecil mereka yang tidak pernah terduga oleh Yifan.

Dia, Kim Junmyun.

Pria yang amat dicintai Savannah, bahkan hingga detik kematiannya. Gurat kesedihan itu masih samar terlihat dalam matanya, begitu kesepian, begitu amat merindukan.

“Kita hampir menyelesaikan tahap akhir, ‘kan?” Yifan mengangguk, mengamati lagi orang yang pernah mematahkan hatinya, hingga ia terpaksa berlabuh pada cinta yang lain. Cinta yang kini juga meninggalkannya dalam sepi.

“Hei, Yifan. Berapa usiamu sekarang?”

Yifan menumpukan kelima jemarinya di permukaan meja kayu yang dipelitur, “Apa kau lupa? Aku hampir delapan puluh tahun.”

“Oh, itu artinya aku hampir menyamaimu.” Savannah terkikik sedikit, kemudian melanjutkan, “Kautahu, Yifan? Aku merasa sangat lelah sekali.”

“Itu faktor usia.”

Savannah tersenyum, “Aku merasa begitu senang melihatmu datang. Sejak kepergian Junmyun, aku kesepian. Anak-anak memang tinggal disini, tapi aku sulit menghibur diriku sendiri. Yah, kau bisa menyebutku wanita kesepian.”

Yifan menghembuskan napasnya berat, memandangi iris yang tak juga berpaling darinya, “Kita sama-sama sendiri, sekarang. Aku juga kesepian, kautahu itu. Sejak Nami meninggal, hanya Kevin yang selalu bersamaku. Sekarang dia belum menikah. Tapi nanti? Saat dia memiliki keluarga? Aku kembali sendirian.”

“Yah, aku mengerti. Tapi aku serius, kau betul-betul membuatku bicara banyak. Aku senang ada kau disini.” wanita itu memberikan senyum tulus yang menggetarkan hati Wu Yifan. Bahkan di usianya yang setua ini, perasaan itu masih tertinggal dalam dirinya.

Perasaan bahwa ia selalu menyayangi Savannah lebih yang wanita itu pikirkan.

“Bu, sudah waktunya istirahat.” keduanya saling memindahkan atensi, menyorot seorang wanita muda yang berjalan mendekati mereka. Andrea tersenyum, dan Yifan menyadari ada sisi manis yang ditunjukkan wanita itu, yang merupakan warisan dari Savannah.

“Aku baru berpikir kalau Andrea akan menyusulku disini dan menyuruhku istirahat. Padahal aku baru melepas rindu denganmu, Yifan.” pria itu tersenyum melihat wajah muram Savannah.

“Ayolah, Bu.”

“Baiklah.” ia kemudian berpaling pada Yifan, “Datanglah kapanpun kau mau. Ceritakan apa saja yang sudah kulewatkan selama bertahun-tahun, Yifan. Rumah ini terbuka untukmu.”

Anggukan Yifan mampu mengantarkan senyum senja itu.

“Aku juga akan pulang.”

Ia kembali memperhatikan Savannah yang bangkit dari kursinya, membiarkan tubuh ringkihnya dituntun oleh Andrea menuju kamar. Yifan memandang kosong, pikirannya berkecamuk setelah menangkap siluet Andrea yang bergerak kepadanya.

Yifan merasakan Andrea menarik perlahan kursi rodanya, membantunya menjauhkan diri dari meja. Sebelum keduanya sempat mencapai pintu, Andrea menghentikan gerakannya. Yifan mengerutkan alis.

Kini mereka saling berhadapan, dengan iris kelam gadis itu mengintainya. Bibirnya bergerak, menggumamkan sesuatu.

“Paman?”

Senyum canggung tak dapat ditutupi, “Ya?”

Gadis itu tampak gugup, “Ibu bercerita banyak padaku. Tentang masa kecilnya. Tentang temannya. Ibu sering sekali menyebut namamu dalam ceritanya. Dan aku ingat wajahmu untuk pertamakalinya, sepuluh tahun yang lalu.”

“Savannah memang seperti itu. Kami cukup dekat.”

Keduanya diam. Andrea memandang miris figur laki-laki sekokoh karang yang kini bahkan hampir tidak mungkin berdiri diatas kakinya sendiri. Bahkan untuk menggerakkan kursi rodanya, ia harus bersusah payah.

“Kau tahu? Ibu sangat mencintai ayah.”

Senyum pahit tergaris di bibir pria itu. Agaknya Yifan tahu kemana arah pembicaraan ini.

“Yah, aku sangat tahu―”

“―tapi hanya kau yang ada di dalam pikirannya. Sejak dulu.”

Yifan tertegun. Matanya menyambangi oniks Andrea yang penuh kesungguhan. Ia tidak menyangka anak itu akan mengatakan hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya.

Sedetik kemudian, ia yakin jika pendengarannya mulai terganggu, atau konsentrasinya karena ia terlalu lama memikirkan kerinduannya pada Savannah.

“Aku harus kembali, Nak.” jujur, ia ingin sekali cepat keluar dan memutus pembicaraan ini sebelum ia kembali berharap bahwa apa yang dikatakan Andrea adalah kenyataan.

“Kumohon tetap disini. Tolong jaga ibuku. Temani sampai ia benar-benar beristirahat.”

Ada sesuatu yang menggebu dalam dadanya. Ia mendongak, kembali tenggelam dalam iris yang penuh permohonan.

Tanpa ia sadar, ia menunduk, memandangi sebelah kakinya yang masih menapak pada handlebar dan satu tangannya yang menggenggam besi kursi rodanya.

Sesaat, segalanya membuatnya menyesal. Kecelakaan yang pernah dialaminya beberapa tahun lalu bukan hanya merenggut sebagian tubuhnya, namun teman hidupnya.

Jika Tuhan memperbolehkannya, ia ingin menjaga satu hati dan jiwa lagi dengan sisa waktunya yang semakin menipis.

Tapi apakah ia mampu dengan kekurangan yang ia miliki?

“Tidak ada yang benar-benar terlambat, paman. Cinta telah memilih kalian.” bisik Andrea, bagai menyatukan kembali harapan yang sempat berserakan dalam hatinya.

Gadis itu benar. Cinta telah menentukan jalan mereka. Cinta yang membungkus perasaan mereka hingga tidak pernah lenyap sampai kapanpun. Meski ia sadar waktunya tidak akan lama dan akan sulit untuk merangkai semuanya seperti awal, tapi baginya berada di sisi Savannah adalah sesuatu yang berharga. Tidak ternilai.

Yifan mengguratkan senyum tulus, mengangkat satu lengannya di depan Andrea, “Aku akan menjaga ibumu, meski hanya dengan satu tangan dan satu kaki yang kumiliki.”
-fin.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s