[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Indigo – Samdeer

gtuxqdv

 

[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Indigo – Samdeer

Wu Yi Fan & Park Chanyeol | Friendship, Mystery | PG

***

Kamis, 13 Oktober 2016 pukul 20:00. Aku –maksudku Yi Fan (Ya, namaku memang Yi Fan)- sedang berdiri tepat di depan sebuah rumah kosong yang tak jauh dari rumahku.
Aku menelan salivaku. Kutatap lamat-lamat rumah besar yang akan kutelusuri sejam mendatang. Kondisi rumah itu cukup buruk. Setiap sudut plafonnya bersarang laba-laba dengan mangsa yang entah sudah berapa jumlahnya dan ada pula yang berlubang, lantai yang berdebu, kursi teras yang sudah tampak usang,dan tembok yang berlumut. Ugh, menyebalkan!
Bagaimana jika di sana sangat gelap sampai aku tak bisa melihat apa-apa karena senterku tiba-tiba mati, dan… dan ada tikus yang lewat dan menyentuhku, dan… secara tidak sadar ada banyak kecoak –dan semacamnya- di sekitarku?
Ah, sial! Membayangkannya saja membuatku cukup bergidik geli.
Srrk!
Aku menoleh, ketika mendengar suara kantong kresek dari jauh. Dia di sana. Park Chanyeol. Pria yang membuatku –terpaksa- harus masuk ke rumah besar itu karena taruhan bodoh yang dia tawarkan padaku. Dan yang lebih bodohnya lagi, aku menurut tanpa ada penolakan. Taruhannya adalah mengajak kencan Irene yang notabenenya adalah primadona seangkatan. Sebenarnya aku percaya diri, karena pasalnya orang-orang mengataiku tampan. Tapi sialnya, aku kalah cepat darinya. Jadi sekarang aku sedang mempersiapkan diriku untuk menjalani hukuman. Dan anehnya, dia juga ikut menemaniku menjalani hukuman. Dia bodoh, kan?
Aku menatapnya kesal. Sementara yang kutatap, hanya menunjukkan cengiran khas yang membuatku semakin kesal saja. Langsung saja dia menyerahkan kantong -yang kuperkirakan isinya cemilan- itu kepadaku saat ia berhasil menyamankan posisi berdirinya di sampingku.
“Ck… aku sudah tidak sabar” ujarnya sambil berkacak pinggang. Benar-benar, hari ini dia benar-benar gila. Aku akui itu. Apa dia berpikir kalau yang akan kami masuki itu rumah dengan ruangan yang bersih dan makanan yang lezat? Kupikir dia butuh psikiater.
“Tch! Andai saja aku tidak mengikuti taruhan bodohmu itu…” gumamku. Kulirik Chanyeol yang sedang menahan tawanya. Tanpa peduli dengan ocehannya selanjutnya, aku memilih membentangkan terpal -yang kubawa dari rumah- di seberang jalan, duduk di atasnya, dan melahap cemilanku. Aku tidak tahu lagi apa yang dilakukan Chanyeol saat ini -karena sibuk mengisi perut-. Tapi, mungkin dia sekarang sedang sibuk mengutuk dirinya yang bodoh karena mengoceh panjang lebar dan tidak sadar kalau aku sudah tidak disampingnya. Atau mungkin juga dia sedang menyumpahi diriku yang sudah membiarkannya mengoceh sendirian seperti orang gila. Entahlah, aku tidak tahu.
Sudah 30 menit aku berada di dalam rumah ini, menyusuri tiap ruangan yang ada. Sejauh ini aku belum menemukan sesuatu yang spesial dari rumah ini. Selain perabotan yang usang dan debu dimana-mana semuanya tampak ‘normal’. Oh iya, tadi aku juga sempat mendengar suara air menetes, suara sendok yang beradu dengan garpu, dan suara langkah dari lantai atas. Dan kupikir semuanya ulah kucing. Kecuali tentang bayangan putih di tangga yang bergerak secepat kilat. Bukan ulah kucing, dan bukan juga ulah hantu. Aku yakin itu hanya halusinasiku saja. Atau mungkin juga ulah Chanyeol.
Jadi, dimana Chanyeol sekarang?
“AAA…!” terikanku menggema di seluruh sudut rumah. Aku berlari menuju ruangan terluar, dan kudapati Chanyeol di sana sedang menatapku dengan raut kaget seolah bertanya-
“Ada apa?”
-sudah kuduga. Masih dengan napas yang tidak teratur, aku menjawab, “Ada kecoak yang berusaha memanjati kakiku.”
Bisa kudengar decakan kecil lolos dari bibirnya, walau jarak kami berkisar 2 meter. “Kukira ada hantu!”
“Ya tidaklah! Mana ada hantu di dunia ini?! Hahaha.”
Hening.
Aku menggaruk tengkukku begitu mendapati Chanyeol menatapku dalam diam dengan raut wajah yang sulit terbaca. “A…apa yang kau lihat?!”
Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia malah berkata, “Lalu, mengapa kau berteman denganku….” Aku baru saja akan mengumpatnya, jika saja di tak memotong kalimatku dengan kalimat “sedang kau sendiri tidak percaya keberadaanku!”, lalu melenggang pergi meninggalkanku yang masih berkutat dengan pikiranku sendiri. Aku terdiam. Menatap punggung Chanyeol yang semakin menjauh. Gagal paham. Aku masih tak paham dengan perkataannya. Terlebih lagi dia marah padaku, terbukti dari sikapnya yang langsung pergi meninggalkanku. Haruskah kukakatakan sekali lagi kalau dia bodoh? Oh, damn it!
Tapi… tadi dia bilang apa?
Author’s side
“Huh! Dasar anak indigo itu. Pantas saja dia tak takut hantu. Orang dia menganggap semua hantu itu temannya!” Diakhiri dengan satu hentakan kecil, Chanyeol melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah besar itu. Kentara sekali bahwa dia sangat kesal. Kesal karena dianggap Yi Fan tidak ada, atau kesal karena tidak berhasil membuat Yi Fan merasa bersalah padanya? Entahlah, hanya Chanyeol yang tahu.
END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s