[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Impossible #InLoveWithYou – hancheon

myhome_8

[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Impossible #InLoveWithYou – hancheon
Kris Wu, Wu Yizi, and others || Romance || PG-15

Hari itu, Kris bangun pagi seperti biasanya. Ia bisa menebak bahwa Ibunya pasti sedang menyiapkan sarapan dibantu beberapa pelayan dan Ayahnya yang sedang terburu-buru memasang dasi seraya menghampiri meja makan. Hari yang tenang seperti biasanya selama dua tahun ini jika saja—
“Good morning, Mama, Papa!”
Jika saja adik kembarnya yang sedang mengambil cuti kuliahnya di Russia itu tidak mengganggu ketenangan paginya.
“Tolonglah, Yizi, kau sangat berisik,” keluh Kris pada Wu Yizi. Sementara Yizi hanya mengangkat bahunya acuh lalu bergelayut manja di lengan Ayahnya.
“Papa nanti akan menemaniku berkeliling kota, kan?” tanya Yizi.
Ayahnya menghela nafas lalu menatap Kris yang tampak tidak peduli. “Yifan yang akan menemanimu.”
“Kris,” ralat Kris, ia agak kurang suka bila nama kecilnya kembali disebut.
“Baiklah, aku akan berkeliling dengan Yifan saja,” putus Yizi.
“Kris,” ralat Kris lagi.
“Dia lebih tua darimu, sayang,” tegur Ibunya.
“Hanya beberapa menit,” balas Yizi. “Tidak masalah ‘kan, Yifan?”
Kris hendak membuka mulutnya untuk meralat panggilan Yizi. “Kris,” sela gadis itu cepat. Membuat Kris lebih memilih kembali menikmati sarapannya.
“Kebetulan aku tidak punya schedule apapun hari ini,” ucap Kris. Pekerjaannya sebagai seorang model sebenarnya lumayan menguntungkan karena tidak begitu membuatnya lelah. “Kau ingin pergi kemana?”
.
.
Kris memperhatikan Yizi yang sedari tadi terlalu menikmati pemandangan di depannya. “Kau suka?”
Yizi mengalihkan pandangannya ke arah Kris lalu mengangguk seraya tersenyum senang. “Kau yang terbaik, Kris.”
Dan untuk sejenak, Kris tidak dapat merasakan detak jantungnya sendiri.
“Kris, kau mendengarku?” lamunan bodoh Kris terbuyar begitu mendengar Yizi yang bertanya padanya.
“Ah, maaf, apa?”
Yizi menghela nafas lalu mengerucutkan bibirnya kesal. “Aku merindukanmu, kau tahu?”
Kris tidak bisa menahan senyum jahilnya. “Merindukanku, ya?”
“Dasar menyebalkan,” gerutu Yizi sebal.
GREP!
Kris menarik Yizi ke dalam pelukannya lalu mengelus rambut brown gadis itu perlahan. “Aku juga, aku juga.”
Yizi tersenyum lalu mengeratkan pelukannya pada Kris. “Kurasa aku bertambah tinggi.”
Kris tertawa lalu melonggarkan pelukannya agar dapat menatap wajah adik kembarnya itu. “Apa? Kenapa melihatku seperti itu?”
Kris tersenyum gemas lalu mengecup kening Yizi singkat. “Kurasa kau bukan hanya bertambah tinggi.”
Yizi menatap Kris bingung. “Kau pasti akan bilang kalau aku bertambah cantik, benar kan?”
Kris mengangguk. “Ya, kurasa kau bertambah cantik setiap hari.”
“Ya Tuhan, Kris, kau sudah jadi perayu sekarang,” Yizi tertawa seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher Kris.
“Just for you, Princess.”
“Aw! So cheesy!” ejek Yizi lalu membuat ekspresi seperti memuntahkan sesuatu. Lama mereka terdiam dengan tatapan yang mengarah pada satu sama lain.
“Aku menyerah,” ucap Kris.
Yizi mengerutkan dahinya bingung.
“Aku tidak bisa menghilangkan perasaanku, Yizi,” lanjut pria tinggi itu.
“Kris,” Yizi menghela nafas. “Kita sudah membicarakan hal ini, kan?”
“Sampai kau memutuskan untuk kuliah jauh dari sini,” sesal Kris. “Maafkan aku, aku tidak akan mengusikmu, tapi jangan pergi terlalu jauh.”
“Apa? Siapa bilang aku memilih kuliah di Russia karenamu?” bingung Yizi.
“Lalu?”
Yizi terdiam, sesaat seperti akan mengucapkan sesuatu namun kembali menutup mulutnya.
“Wu Yizi,” tegur Kris. “Kalau bukan karenaku, lalu kenapa?”
Yizi mengalihkan pandangannya. “Aku memilih kesana karena aku harus menjauh darimu, Kris.”
“Kenapa? Kau bilang bukan karenaku.”
“Memang bukan karenamu,” sahut Yizi cepat. “Aku hanya menghindari perasaanku sendiri,” cicitnya pelan.
Kris mendengarnya, bahkan sangat jelas. Kris menaikkan sebelah tangannya untuk membelai perlahan wajah Yizi. Ia bodoh, ia brengsek, ia egois, tapi ia tak bisa mengelak kalau dia sangat mencintai adik kembarnya itu.
“Kenapa menghindar?”
Yizi ingin menangis sekarang. Tapi mana bisa, yang ada perasaannya justru akan bertambah dan Yizi tidak akan bisa melakukan apapun. “Karena ini salah, Kris.”
“Salah? Aku tidak pernah menganggap ini salah.”
Yizi tertawa lalu memukul bahu Kris pelan. “Kau memang bodoh.”
“Tapi aku tampan,” bela Kris sementara Yizi hanya mencibir kesal.
Yizi tertawa diikuti oleh Kris. Setidaknya mereka bahagia, walau hanya untuk saat ini.
.
.
“Papa memanggilmu,” ucap Kris datar. Membuat Yizi mengerutkan dahinya karena Kris yang tidak biasanya menerobos masuk kamarnya dengan wajah datar seperti itu.
Yizi berlari kecil menemui Ayahnya, namun berhenti dan mulai berjalan perlahan begitu melihat ada tamu yang sedang mengobrol dengan Ayahnya. Mungkin rekan kerja Ayahnya, lalu pria yang mungkin seumuran dengannya dan Kris di sebelah Ayahnya.
“Papa,” tegur Yizi pelan.
“Oh? Yizi, duduk disini,” suruh Ayahnya. Yizi mengangguk lalu duduk dengan canggung. “Ini rekan kerja Ayah, Tuan Lu, dan itu anaknya, Luhan.”
Yizi tersenyum ke arah Tuan Lu lalu mengalihkan pandangannya ke arah Luhan dan kembali tersenyum tipis.
“Yizi, Luhan ini orang yang pernah Papa bicarakan,” ucap Ayahnya. Yizi menatap Ayahnya bingung. Ayahnya tidak pernah bercerita tentang siapapun, kecuali . . .
.
.
3 years after
Kris tersenyum memandangi Yizi yang terlihat sangat cantik dengan gaun pernikahannya. Yizi memang selalu terlihat cantik bagi Kris, hanya saja,kali ini berbeda, kecantikan Yizi menimbulkan kesakitan tersendiri untuknya.
“Kris-ge datang,” ucap Luhan.
“Aku akan menghampirinya,” ujar Yizi. Luhan mengangguk lalu mengecup kening Yizi sekilas.
“Kris.”
Kris tak mengerti mengapa dia masih tak bisa mengontrol detak jantungnya setiap kali mendengar suara Yizi yang memanggilnya lembut. Ia memaksakan sebuah senyuman. “Kau terlihat cantik.”
Yizi tersenyum dengan wajah yang memerah. “Aku kan memang selalu terlihat cantik. Terima kasih sudah datang, aku bahagia sekali.”
Yizi berbohong. Ia ingin menangis dan meminta Kris membawanya pergi sekarang juga. Yizi menunduk, menyembunyikan air matanya yang mendesak keluar.
“Jangan menangis, butuh waktu lama untuk memperbaiki make up-mu, sedangkan pernikahan kalian tinggal setengah jam lagi,” suara Kris bergetar. Ia harusnya bahagia dengan pernikahan adiknya, tapi entahlah.
Yizi mengangkat wajahnya masih mati-matian menahan air matanya. “Kris,” lirihnya.
Kris menarik pinggang Yizi dengan sebelah tangannya yang menangkup wajah adiknya itu lalu menempelkan bibir mereka.
Kris berusaha menyalurkan perasaannya, dia ingin adiknya itu tahu, setidaknya untuk kali ini saja. Kris ingin Yizi tahu bahwa Kris mencintai Yizi.
… dan akan selalu begitu.

END

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s