[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Forever

forever

[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Forever – Rhifaery
Kris & Anna || Romance, Sad || G

Selamat pagi istriku.
Hari ini kau sangat cantik dengan piyama pengantin yang masih melekat di tubuhmu. Ingatkah kau dengan hari kemarin, pernikahan yang selama ini kita impikan akhirnya terwujud. Kau tersenyum bahagia di depan altar. Kusematkan sebuah cincin pada jari mungilmu sembari mengucap ikrar bahwa aku akan bersamamu dalam keadaan susah atau senang, sakit atau sehat, selamanya sampai maut memisahkan.
Lihatlah, matahari mulai meninggi namun kau tak kunjung bangun. Aku tahu tubuhmu letih. Tamu yang datang mendoakan kita sangatlah banyak hingga menyita kebersamaan kita. Tapi apa kau percaya, semakin banyak doa yang kita terima akan berwujud kebahagiaan yang kita rasakan.
Jadi hari ini aku akan bangun lebih dulu. Menyiapkan sesuatu untuk kita makan. Sarapan pertama kita dalam wujud insan yang sudah disatukan. Kumohon jangan kecewa dengan apa yang kuhidangkan nanti. Kau tahu kan, betapa buruknya aku dalam memasak. Jadi kuputuskan untuk membuat menu sederhana saja untuk kita makan.
Istriku, makanan sudah siap?
Aku letakkan makanan kita disini agar jika kau bangun, kita bisa bisa cepat menyantapnya. Tapi kusarankan agar kau cepat bangun sebelum makanan menjadi dingin. Aku pun menyiapkan susu coklat kesukaanku agar bisa mengembalikan energimu.
Pagi ini aku ingin memelukmu lagi. Menunggumu bangun dan memberi morning kiss di hari pertama pernikahan kita. Jangan kaget jika hari ini aku akan sering memintanya padamu. Karena kau sudah menjadi istriku, tentu kau tidak bisa menolakku bukan?
Istriku, apa tidurmu memang senyenyak ini? Barangkali aku harus sedikit bermain-main denganmu. Kau adalah yang sangat benci berdandan. Seorang perias kemarin bahkan mengomel karena kau yang terlalu banyak tingkah. Aku penasaran bagaimana jika aku sendiri yang meriasmu? Aku ingin melihatmu seperti kemarin. Seorang pengantin tercantik yang pernah kutemui.
Katakan padaku, kau menyukai lipstick warna apa? Peach, Pink atau Red? Akan kugunakan warna Nude yang tidak terlalu menyalah. Agar kelak jika aku menciummu lipstick itu tidak menempel di bibirku.
Istriku, haruskah aku mengganti bajumu juga. Sebentar lagi kakakmu Suho akan kesini. Aku tak mau jika dia melihatmu hanya berpakaian piyama. Lalu warna apakah yang kau sukai, kusarankan agar kau memakai warna hijau kesukaanku. Warna alam yang melambangkan kehidupan.
Lihatlah istriku, kau tampak cantik sekarang. Hanya saja aku tidak bisa merapikan rambutmu sebelum engkau bangun. Mempunyai istri secantik kau, bukankah itu sebuah keberuntungan. Tentu tak mudah melepasmu begitu saja.
Ting Tong!
Kau dengar istriku, suara bel rumah kita. Itu pasti Suho, kakakmu yang ingin melihatmu. Aku harap dia tak sampai membuatku marah seperti kemarin.
“Kau sudah bangun Kris?” Sapanya begitu melihatku membuka pintu. Kupersilahkan dia untuk masuk. Sekedar berbasa-basi dengan seorang yang telah menjadi iparku. Aku tahu kita memang tak sedekat ini. Tapi untuk Anna, semua yang kuragukan telah hilang.
“Dimana Anna?” Tanyanya begitu menyadari Anna yang belum keluar menemuinya.
Dia masih tidur di kamarnya.” Aku menjawab. Menunjuk tempat kamarnya yang tak jauh dari tempat duduk kita.
“Boleh aku masuk?” Sudah kuduga pertanyaan yang akan diutarakan. Tanpa sungkan Suho kupersilahkan masuk ke dalam. Melihat Anna-ku yang cantik juga Annaku yang masih tertidur pulas. Mereka adalah saudara yang saling menyayangi. Mungkin dengan keberadaan Suho disini bisa membuatnya lekas bangun dan terkejut melihatnya.
“Sayang bangunlah, lihat siapa yang datang.” Ujarku lembut. Namun Anna tetap saja kerasan dalam tidurnya.
Suho akhirnya beranjak mendekat. Sama sepertiku, dia membelai rambut Anna lembut. Ada apa dengannya? Kesedihan tergambar dari ekspresi wajahnya.
“Dia cantik bukan?”
Suho mengangguk. “Sangat cantik.”
Senyum terbentuk di bibirku. Bahagia jika usahaku membuatnya cantik dihargai oleh kakaknya. Lama membelai wajahnya, aku semakin curiga dengan apa yang ada dipikirannya. Air matanya menetes dan kesekian kali dia mengusapnya. Barangkali tidak mungkin bahwa dia menangisi adiknya yang sedang tertidur.
Aku terdiam beberapa saat. Dapat kurasakan tatapannya berubah terhadapku. Dia mengusap wajah sebentar lalu menarik selimut –melakukan hal bodoh- menutup wajah Anna seluruhnya seolah bahwa dia telah…
“Tangkap dia.” Samar-samar Suho terdengar memerintah kepada seseorang. Benar saja
segerombol orang tiba-tiba datang menahanku. Aku merontah, mencoba melepaskan dari cengkraman orang-orang berseragam putih.
“Apa yang kau lakukan?” Kataku menggeram.
“Tidakkah kau lihat, dia telah tiada.”
“A-a-apa maksudmu???” Terkejut dengan ucapannya sekaligus tidak menyangkah bahwa dia tega mengatakan itu.
“Hentikan semua kegilaanmu Kriss, keluarga sudah menyiapkan pemakamannya jadi tolong kembalikan Anna pada kami….”
“TIDAAAKKK!!!” Teriakku keras. Kutepis semua tangan yang menahanku hingga aku berhasil meraih tubuh Anna. “Tidakkah kau lihat, Anna-ku masih tertidur. Dia cantik. Dan masih tertidur lelap akibat kelelahan pernikahan kita kemarin.”
Kembali kutatap wajah Anna lembut. Walaupun dia tak membalas tatapanku karena matanya yang masih tertutup, “Anna, bangunlah sayang. Banyak orang asing disini. Kau harus bangun agar bisa menghentikan kebodohan mereka.” Ucapku memberi ciuman sekilas seolah bahwa itu akan membuatnya bangun.
Lama tak bergerak, tak bereaksi juga tak berhasil. Anna tetap saja terbaring nyenyak. Wajah yang kuliat semakin pucat dan kulit yang kurasa semakin dingin. Membuatku frustasi atas pikiran bodoh yang mulai memasuki otakku. “ANNA BANGUN, BUKA MATAMU SEKARANG APA KAU TIDAK MENDENGARKU??”
Aku berteriak menggila, tanpa sadar bahwa ada banyak tangan yang kini menghalangiku menyentuh wajah istriku. Sekali lagi aku merontah. Melepas kendali akan cengkraman orang-orang brengsek ini. Namun tenaga yang kupunya tiadaklah sebanding. Tubuhku mulai melemas, seiring dengan cairan Rohypnol yang mengalir melewati darahku.
Sebuah bayangan samar akan tindakan masa lalu kembali hadir. Anna-ku yang terbaring lemah di rumah sakit akibat dari meningitis yang menggerogotinya. Tubuh Anna-ku yang mengecil, juga rambutnya yang mulai habis. Hari dimana aku bertekat untuk melamarnya dan menjadikannya istriku. Anna-ku yang berjalan di depan altar dengan bantuan kursi roda. Kusematkan cincin itu di jarinya hingga membuat haru suasana. Anna-ku yang kulihat mulai lemah saat mengucap ikrar, napasnya memburu hingga dia pun terjatuh tak sadarkan diri.
Dan kepalaku terasa dihantam batu besar. Pening lalu semua kenangan melintas di otakku. Terlalu cepat dan buram namun aku mengingat semuanya. Sebuah kenyataan, terlalu banyak harapan yang tersimpan. Namun tak ada yang berhasil aku wujudkan.
Dan Pada sisa-sisa terakhir kesadaran sebelum obat bius itu membuatku tidur. Sebuah delusi melintas dihadapanku. Anna yang tersenyum manis ke arahku. Dengan baju pengantin beserta buket bunga ditangannya. Menciumku sekilas dan berkata, “Aku mencintaimu Kriss, tidak berumur, tidak terbatas dan tidak mati, selamanya…”

-END-

One thought on “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Forever

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s