[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Coffee-Annonwoo

picsart_10-25-06-47-23

 

[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Coffee-Annonwoo
Wu Yifan & Zhou Jiqieong/Pinky (I. O.I)| Fluff | G

Padahal masih banyak pilihan mengenai makan siang hari ini, ada sosis bakar menggugah selera dengan taburan saos tomat di atasnya, ada panekuk siraman madu yang kalau sekali membau pasti akan ketagihan. Tapi,_yang faktanya untuk mengisi kekosongan perut_aku lebih memilih mengambil pesanan secangkir kafein. Dan aku telah memutuskan itu dengan tekad bulat.
Terus-menerus menatap cangkirnya ketika lima menit yang lalu sudah menemukan tempat duduk yang cocok untuk menikmati kopi ini, aku segera mengangkat gagang cangkir lantas dihirupnya lamat-lamat, yup! Ini nikmat, ini nikmat. Mengambil sekilas tatapan pada isinya yang tampak sedikit mengepul, masih terasa segar jika segera diminum. Dan aku akan segera meminumnya, mulai mengangkat wadahnya, pun memegangnya dengan erat.
“Kau tidak akan meminumnya, kan?” Kopinya berhenti di depan mulutku. Aku sedikit menelan ludah.
“Kau tidak akan, kan?” Dengan air muka yang sedikit menyiratkan kengerian, temanku itu-Chengxiao-dari awal telah melontarkan kalimat yang sama, kalimat berakhiran dengan tanda tanya, seperti ‘Apa? Benarkah? Kau ini kenapa sih?’ Ya seperti itu, sampai-sampai telingaku hampir pengang mendengarnya.
“Ya Jieqieong!”
“Diam Chengxiao, aku sedang mengsugesti pikiranku agar cairannya tidak akan berefek apapun ketika aku minum nanti.” Dia hanya bisa membuang napas, menyerah dengan kekerasanku yang sekali teguh akan tetap teguh.
Baiklah biar kuperjelas lagi. Aku, Zhou Ji Qieong dengan pongah bodohnya (yang digaris miring itu kata Chengxiao) sedang bersama secangkir kafien yang punya harum mematikan kendati aromanya lewat sedikit pun dipenciuman. Setelah dosen pergi dari singgahsananya, aku langsung menarik Chengxiao keluar ruangan dan membawanya pergi ke kafetarian untuk mengisi perut. Namun setelah sampai di sana mendadak kepalaku bersinar, ide yang mengerikan telah melintas. Aku mencolek bahu Chengxiao yang masih sibuk melihat daftar menu di papan dan langsung bilang padanya bahwa aku akan membeli kopi.
“Kau gila!” Itulah kalimat yang dilontarkan Chengxiao pertama kali. Tapi aku tidak peduli, aku tetap memesannya.
Baiklah, begini, aku membeli secangkir kopi adalah karena Wu Yi Fan. Yifan adalah pencinta kafein. Dari penglihatanku setiap hari, dia pasti tidak jauh dari cairan hitam tersebut, entah di kampus, di kafe, di taman, dan di mana pun Yifan berada pasti teman sehari-harinya adalah Sang kopi. Ia adalah pencinta kopi sejati, jenis kopi apapun pasti telah dia cicipi.
Jadi, sebagai orang yang menyukai Wu Yifan, aku juga harus belajar menyukai Si kopi.
“Belajar mencintai kopi sama saja dengan membunuhmu.” Aku langsung mempelototi Chengxiao dengan ganas, si empunya malah acuh ketika dikirim pelototan dariku, dia mengedikkan bahu layaknya bicara ‘itu-memang-benar’.
Tapi yang dikatakan Chengxiao memang benar sih, aku bukanlah pecinta kopi-ralat, malahan aku adalah pembenci kopi. Bayangkan saja aku dan kopi sudah seperti air dan minyak yang faktanya bahwa mereka memang takkan pernah akur. Tapi kenapa aku membelinya? Ya karena aku ingin belajar mencintai kopi demi orang yang aku sukai. Aku tersenyum, menarik napas, dan memulai mencari ancang-ancang untuk meminumnya. Kopiku sudah di depan mata, aku tinggal meminumnya atau menyesapnya sedikit-dikit asalkan cairan ini bisa masuk ke dalam lambungku. Namun,
“Sedang apa kau?” Yah kopiku, tidak, tidak. Ah sial, kenapa dia harus di sini.
“Kau sedang mencoba meminum kopi?”
Pemuda itu melihatku dengan pandangan ngeri lalu melihat secangkir kopi yang masih utuh di depannya secara begantian. Benar, kopi milikku telah diambil paksa olehnya dan sekarang kopi itu telah ia teguk separuh. AH TIDAK KOPIKU!!! “Kau sedang mencoba meminum kopi?” Tanyanya lagi. Masa bodoh, aku tidak akan menjawabnya.
“Aku pergi dulu, ya.” Tiba-tiba Chengxiao menjadi pemecah suasana, dan dia, pergi? Kenapa?
Yifan_iya, orang yang merebut kopiku adalah dia, pemuda menyebalkan sekaligus kusukai_langsung saja meledekku dengan cara mendecakkan lidahnya berkali-kali seraya menggeleng-gelengkan kepala.
“Ouh!” Dan sekarang ia telah menyentil dahiku seenaknya (dan menebar senyum penuh jenaka).
“Kenapa kamu lagi-lagi mencoba minum kopi?” Dia bertanya ringan sembari membuka-buka buku miliknya dan mengunyah Brownies utuh yang sebelumnya adalah milik Chengxiao. Uh! Kenapa dia harus menanyakan hal itu?
“Karena kamu menyukaiku?”
Ya ya karena aku menyukaimu, terus apalagi?
Aku meniupkan udara ke atas poni hingga rambutnya berterbangan, buru-buru mencomot sepotong Brownies dari piring lantas menggigitnya separuh dan mengunyahnya cepat-cepat. Setelah beberapa kali kunyahan, kali ini tangan Yifan beralih merogoh ranselnya. Mengeluarkan sebuah satu, dua, tiga… enam botol Yogurt yang masih dibungkus plastik bening, dan ia meletakannya di hadapanku!
Aku menganga melihatnya.
“Bagaimana kalau minum itu saja.” Ujarnya sambil menyeruput kopi. Kedua mataku rasanya nyaris berbinar ketika mereka-(YOGURT!)-berbaris di depanku. Cepat-cepat kutusuk salah satu Yogurt di depanku dan tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung menyedotnya dengan lapang dada. Ah segarnya!
Di saat aku sedang menikmati segarnya minuman ini_sambil memuja-muja ‘wahai Yogurt kenapa kau enak sekali’_tanpa kusadar Yifan ternyata sudah menatapku lamat-lamat juga ditambah ekspresi melipatnya lagi! Buatku tertegun jadinya.
“Kutanya sekali lagi, kenapa kamu mencoba minum kopi?” Seketika aku mendadak tegang.
“Aku… Itu… Hm…” Ya Tuhan, aku benar-benar tidak bisa menjawab. Melihat aku gelapan akhirnya ia lebih memilih besandar pada kursinya, mengakhiri tatapan intimidasinya padaku.
“Kamu masih belum bilang ke Chengxiao kalau kita sudah pacaran?”
Eh? Kok pindah topik?
Oh tak apa-apa, jadi aku tidak perlu repot-repot bilang padanya kenapa aku minum kopi. Ini kesempatanku untuk menjauhi topik sebelumnya (biar dia tidak tanya-tanya lagi tentang kenapa aku minum kopi), lantas aku menjawab,
“Kata siapa? Sudah kok. Aku sudah memberitahunya minggu kemarin.”
“Ooh… dia sosok sahabat yang peduli, yah?”
Yifan mendaratkan Handphone-nya ke arahku dan memperlihatkan sebuah pesan dari, CHENGXIAO!

From Chengxiao
Wufan, dia gila! Jiqieong akan membeli kopi. Tolong hentikan dia, bagaimana kalau Hipertensinya kambuh lagi, bagaimana kalau dia mual-mual dan pusing, seperti ketika dia mencobanya pertama kali. Aku sudah melarangnya tapi dia tetap keukeuh, katanya dia ingin belajar minum kopi agar bisa minum di saat hari ulang tahunmu nanti.

P.s: Maaf aku membocorkan kejutan dari Jiqieong. Tolong ke kafetarian, aku masih belum siap kehilangan dia.

Dia menarik ponselnya cepat agar menjauh dari pandanganku, aku pun refleks mendongak ke arahnya (dengan mata masih melebar) selagi dwimaniknya menatapku dengan kerlingan jahil.
“Pesan inilah yang membuatku kemari. Ah, jadi begitu ya?”

Ahh, kini rasanya aku ingin_
.
.
SEGERA MENYUMPAL MULUT CHENGXIAO DENGAN BARA API!!!!

2 thoughts on “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Coffee-Annonwoo

  1. Kukira si pinky belum jadian, ternyata udah jadian. Twistnya dapet nak!!!!
    Si cheng chengnya jail lagi, kasiankan si pinkynya gak bisa kasih kejutan :v
    Keep writing and fighting!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s