[Kris Birthday Project] Blinded Heart – Andnsa

myhome

[Kris Birthday Project] Blinded Heart – Andnsa

Kris & OC || Family || G

Kris memulai paginya seperti yang sudah-sudah.

Pria bergaris wajah tegas dan mata meruncing tajam itu pagi ini dibangunkan oleh bunyi nyaring alarm yang menyusup ke alam bawah sadarnya kemudian memecah bunga tidurnya. Kris mengerang, kesal setengah mati karena gagal merengkuh Nana yang sedang bermain di dalam mimpi indahnya.

Sekarang idola cantik bak malaikatnya itu sudah berubah wujud menjadi asap. Menyisakan ruang gelap kosong yang memuakkan dengan suara konstan alarm sebagai latar belakang suara.

Kris menghembuskan napas. Bahkan Tuhan tidak mengizinkannya bersama idola kesayangannya walau sebatas mimpi. Tiba-tiba saja Kris sangat ingin mengelus-elus punggungnya dengan penuh simpati.

Setelah helaan napas dan erangan sebal beberapa saat kemudian, tangan Kris bergerak mematikan alarm. Seketika suasana diruangannya hening, memperjelas suara kicauan burung di kejauhan serta suara langkah orang-orang yang berlalu-lalang di koridor.

“Halo, ivee,” ucapnya pada jam alarm digital pintar bernama ivee dengan suara parau.

“Selamat pagi,” sebuah suara monoton seperti robot menyahutnya.

“Tanggal,”

“Tanggal hari ini, Rabu, 28 September 2016,”

Kris lagi-lagi menghembuskan napas. Sebulan sudah ia terkapar di ruangan ini. Lantas, “Waktu,”

“Waktu saat ini menunjukkan pukul 08:02 pagi,”

Kali ini Kris mengernyit. Ia bangun kemudian bersandar pada bangsal dengan seribu satu tanda tanya dikepalanya. Tidak biasanya ia sendirian pada pukul delapan pagi di hari-hari sebelumnya. Normalnya, selalu ada wanita itu disampingnya, menggenggam tangannya sambil berkata lembut menyuruhnya sarapan dan sebagainya.

“Tumben,” gumamnya, mengernyitkan dahi dengan mata kosong. “Biasanya—”

Pintu tiba-tiba terbuka. Kris menoleh ke sumber suara dan mendengar bunyi roda IV-stand yang sudah hafal di luar kepalanya berputar mendekatinya. Pria tampan itu tanpa sadar menghembuskan napas lega saat sebuah tangan hadir menggenggam tangan kanannya. Kemudian suara lembut yang dicintainya sepenuh hati menyapa telinganya,

“Selamat pagi, anakku sayang. Ibu di sini, Nak.”

*

“Ck, Ibuuuu…” Kris setengah mati mengelak waktu ibu berusaha mengelap mulutnya yang katanya belepotan. “Aku bisa sendiri kok! Sung—Bu!”

“Tunggu sebentar dong, Nak! Nanti tambah belepotan!”

Sadar tak punya pilihan, Kris berhenti berontak dan membiarkan ibunya membersihkan rempah roti yang tersisa di sudut bibirnya. Kris terdiam, merasakan lembut tissu yang bergerak pelan dan napas ibunya yang samar-samar.

“Bu,” ibunya menyahut dengan gumaman. “Aku tahu aku buta, tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukan apapun sendirian.”

Kris tahu ibunya tertegun mendengar ucapannya saat ini. Tissu yang sejak tadi menyentuh sudut-sudut bibirnya sudah tak lagi terasa dan napas ibunya tiba-tiba saja terasa jauh. Beberapa saat kemudian, ibunya menghembuskan napas lantas menjauhi wajah Kris.

“Ibu tahu,” katanya, sambil mengambil beberapa pil obat yang diberikan suster dan segelas air. “Tapi sampai operasimu berlangsung akhir minggu ini, ibu akan terus merawatmu. Oke?”

Ibu berusaha menyuapi Kris obat tetapi pria itu memalingkan muka. Kris tak berniat melukai ibunya, namun tingkah memanjakannya secara berlebihan itu mampu membuatnya melakukan hal-hal di luar nalar. Ibu menyerah, lantas memberikan obat serta air minum pada tangan Kris.

“Ibu hanya berusaha membayar kesalahan ibu, Nak,” katanya, sementara Kris menelan obat-obat pahit yang tak lebih pahit dari perasaannya saat ini. “Kamu tidak akan mengalami kebutaan jika bukan kesalahan ibu,”

Kris mengembalikan gelas kosong lantas memejamkan mata; gelap. Sesaat kemudian, ia kembali membukanya dan apa yang dilihatnya tetap sama; gelap.

“Ini hanya temporary,” bisiknya.

“Jika saja hari itu Ibu tidak begitu bodoh, saat ini kamu pasti sudah sibuk merajut mimpimu. Berlatih menjadi aktor terkenal, bertemu dengan orang-orang baru, dan juga tempat baru,” Kris hanya diam, merasakan Ibu membelai rambutnya penuh kasih sayang yang tercurah seutuhnya hanya untuk anak sematawayangnya. “Ibu tak akan pernah bisa memaafkan kesalahan yang ibu buat, Nak. Kesalahan ibu terlalu besar. Sungguh ibu menyesal telah melukai anak kesayangan ibu,”

Ibu merengkuh Kris. Membuat pria itu tenggelam dalam pelukannya yang hangat dan sarat akan cinta. Kris dapat merasakan ibunya menangis namun ia tak bisa berbuat banyak selain balik memeluknya dengan perasaan yang sama.

“Ibu…”

“Kris, apapun yang terjadi, kamu harus ingat bahwa ibu selamanya mencintaimu. Bagaimanapun kondisimu, ibu akan selalu ada di sini untukmu. Memberikan apa saja yang bisa ibu berikan untuk kebahagiaanmu seorang. Janji ya kamu tidak akan melupakan itu, Nak?”

Kris hanya bisa mengangguk. Lidahnya terlalu kelu untuk menyahut apapun. Terlalu kebas untuk berkata bahwa kecelakaan mobil itu tidak sepenuhnya kesalahan Ibu. Bahwa kebutaannya hanya sementara dan akhir minggu ini, dokter akan melakukan transplantasi kornea untuknya dan semuanya akan kembali normal seperti hari-hari sebelumnya.

Kris hanya bisa memeluk erat ibunya dan ikut menangis.

*

“Selamat pagi,”

Kris mendongak. Kali ini melihat seorang suster tengah baya masuk dengan ekspresi penuh harap. Detik berikutnya, Kris menghembuskan napas kecewa.

“Kau lagi,”

“Ouch, Kris. Aku terluka mendengarnya,” suster yang diketahui Kris bernama Suyeon berpura-pura tersakiti lantas membantu Kris mengepak barang-barangnya. “Siap untuk pulang?”

Kris yang sedang duduk di tepi bangsal sambil mengenakan jam tangannya terhenyak sesaat, sebelum kembali menghembuskan napas dan melompat turun. “Lebih pantas kau bertanya ‘siap untuk bertemu ibumu lagi’”

Suyeon tersenyum. “Bukannya ibumu sama saja dengan rumahmu, Kris? Kalau kau bertemu dengannya, berarti kau akan pulang, benar?”

Kali ini Kris tertegun. Pria itu bahkan tak sanggup berkata apa-apa dan hanya bisa menatap Suyeon yang sudah merawatnya sejak ibu tak lagi datang menjenguk sampai saat ini dengan tatapan nelangsa.

“Sudah jangan dipikirkan, ayo!”

Suyeon berjalan mendahuluinya sambil menenteng tas Kris yang tak seberapa besar. Kris mengikutinya dan keduanya tak berbicara apa-apa sepanjang jalan. Kris melihat suster itu menyapa beberapa perawat lain yang kebetulan berpas-pasan. Mereka menaikki elevator bersama beberapa pasien lain kemudian berhenti di lantai tujuh. Tiga lantai di atas ruangan Kris sebelumnya. Tak lama setelahnya, mereka berhenti di kamar bernomor 47 yang hening.

“Ibumu ada di dalam,” kata Suyeon, seketika membuat Kris bersyukur setengah mati suster itu tak membawanya ke kamar jenazah. Siapa tahu, kan? Ibunya sudah lebih dari dua minggu tak mengunjunginya dan tak ada satu orang pun yang peduli memberitahu keberadaannya. Ibu yang meminta, katanya.

Kris memandangi pintu didepannya ragu. Melihat itu, Suyeon tersenyum maklum dan izin pamit menunggunya di lobi.

Kris tak tahu apa yang terjadi setelah ia membuka pintu ini. Ibu berada dibaliknya, namun ia tak siap menerima penjelasan yang ada di sana. Tapi sebuah suara di lubuk hatinya berkata bahwa diam di luar tidak akan memberikan jawaban apa-apa untuknya. Oleh karena itu, Kris menarik napas panjang dan dengan gerakan kaku membuka pintu. Apa yang dilihatnya, sama sekali di luar dugaannya.

Ibunya sedang setengah berbaring di tempat tidur. Tangannya yang tersambung IV line, menggenggam sebuah buku yang tengah dibacanya. Selain tubuhnya yang terlihat lebih kurus serta wajahnya yang pucat, ibunya sama sekali terlihat baik-baik saja. Bukannya Kris berharap ibunya dalam kondisi yang lebih buruk, hanya saja ini menimbulkan satu pertanyaan besar.

Kalau ibunya baik-baik saja, mengapa ia tidak datang menjenguknya lagi sejak hari itu? Rabu, 28 September 2016.

“Oh, halo,” Ibu memalingkan muka dari bukunya. “Ada yang bisa aku bantu?”

Deg.

“Hm, kau tersesat, Nak?”

Deg!

Sumpah mati Kris bagaikan terserang penyakit jantung yang bahkan tidak dideritanya. Napasnya tercekat. Bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan membasahi pakaiannya. Kris dengan ekspresi tak tergambarkan melangkah mendekati bangsal lantas ragu-ragu membaca biodata yang tertera diujungnya.

Linh Wu. Alzheimer.

Hanya dua kata itu yang sanggup terbaca oleh dwimanik barunya. Kris mendadak terisak, tanpa sadar melangkah mundur sampai punggungnya menabrak tembok.

“Hei, Nak. Kau tidak apa-apa?”

Kris mana sanggup menjawab. Ia berbalik badan dan menumpukkan keningnya pada tembok. Air matanya tak urung bercucuran memahami apa yang sebenarnya terjadi selama ini.

Hari itu, saat kecelakaan terjadi. Ibunya tiba-tiba saja tak tahu bagaimana cara menjawab telepon masuk pada ponselnya dan memohon pada Kris yang sedang menyetir untuk membantunya. Fokusnya seketika hilang yang lantas membuat mobil yang dikendarainya menabrak truk yang datang dari lawan arah. Ibunya tak terluka banyak namun pecahan kaca yang masuk ke mata Kris praktis membuat kornea matanya rusak.

Pantas kalau ibunya kadang kala terlambat datang menjenguk ke kamarnya. Ingatannya pasti memudar. Dan hari setelah itu, Rabu 28 September 2016, ingatan ibunya sepenuhnya hilang. Kris tak tahu apa yang harus ia rasakan saat ini. Bersyukur karena ibunya baik-baik saja atau menderita karena ibunya ternyata tidak ‘baik-baik’ saja.

“Nak,” Ibu tahu-tahu sudah berada dibelakangnya. Tangannya yang lembut menyentuh lengan Kris. “Apa seharusnya saya mengenalmu?”

Kris hampir menangis lagi. Tapi ia kemudian memutuskan untuk berbalik badan dan memeluk wanita kesayangannya penuh kasih sayang walaupun tak sebanyak yang biasanya ibu berikan untuknya. Sesaat kemudian, ia melepas pelukan lantas menggenggam kedua tangan ibu. Sebuah senyum lemah muncul diwajahnya.

“Selamat pagi, Ibuku sayang. Anakmu di sini, Bu. Kris Wu,”

END

2 thoughts on “[Kris Birthday Project] Blinded Heart – Andnsa

  1. Aku selalu ga suka endingnya cerita pasien amnesia, be it Alzheimer’s atau yg lain, apalagi yg ini nyesek bgt…
    Anyway, aku suka ini Krn lebih rapi dr yg lain, plotnya juga ditulis teratur walau di tengah2 sempat bingung juga sih ehe
    Keep writing!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s