[KRIS BIRTHDADY PROJECT] Saranghae Oppa

myhome_1

[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Saranghae Oppa – Park Lizzy
Kris & OC || Drama, Hurt/Comfort || PG 13
Disclaimer : I just own the plot.
Summary : “Annyeong Nara! Kau adalah gadis umur 8 tahun terkuat yang pernah kutemui,” ujar Kris Oppa sambil mengusap kepalaku.
***

“Nara, Mama akan membeli obat untukmu. Kau di dalam rumah saja ya,” ujar Mama sambil mengusap surai ikalku dengan lembut.

“Mama, Nara mau ikut,” balasku dengan lemah sambil mengenggam telunjuk Mama dengan erat.

“Kau masih ingat pesan Mama kan?” tanyanya.

Aku menganggukkan kepala dengan manja, kemudian Mama mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningku. Aku menatap iris biru laut Mama yang selalu berhasil menyejukkan hatiku.

“Hati-hati, Mama!” teriakku lirih.

Tubuhku terlalu lunglai untuk beranjak dari tempat tidur, jadi aku hanya bisa memandangi punggung Mama perlahan menjauh dari hadapanku. Aku mencoba untuk tidur dan berharap ketika aku bangun, Mama sudah kembali ke rumah.

Selang beberapa menit, ada sebuah suara ledakan sangat keras yang berasal dari luar rumah. Dengan mengumpulkan segenap tenagaku, aku berusaha beranjak dari tempat tidur dan melaksanakan apa yang biasa dipesankan Mama kepadaku. Aku segera berjalan dengan hati-hati menuju ruang bawah tanah yang biasa kami gunakan untuk bersembunyi dari serangan para penjahat dan berdoa agar Mama baik-baik saja di luar sana.

Negara kami, Teranovia, dulunya adalah sebuah negara kepulauan yang damai di Samudera Pasifik. Masih lekang dalam ingatanku, ketika musim panas lalu aku dan teman-temanku masih bisa pergi ke sekolah dan bermain bersama di luar rumah. Sekarang hal itu tampaknya sudah jauh dari angan-angan; tiada hari yang kami lewati tanpa mendengar suara ledakan dan rentetan peluru.

Aku tidak mengerti alasan semua ini. Mama hanya mengatakan bahwa sekarang sedang terjadi perang; orang-orang berbaju hitam adalah orang jahat dan orang-orang berbaju hijau adalah orang-orang baik yang akan melindungi kami.

Oksigen di dalam ruang bawah tanah mulai menipis dan penyakit asmaku pun kambuh. Napasku semakin sesak dan kepalaku sangat pusing. Seketika, sekelilingku pun menjadi gelap.

***
Dalam keadaan setengah sadar, aku bisa merasakan bahwa ada seseorang yang sedang menggendongku dengan tangannya yang kuat. Aku membuka mataku sedikit dan melirik lengan kemeja orang itu yang berwarna hijau. Aku merasa sangat lega karena dia bukan kelompok berbaju hitam. Aku melihat sekelilingku lagi dengan samar-samar; aku berada di sebuah tempat yang beraroma pinus dan banyak orang-orang yang mengenakan pakaikan putih. Apakah aku berada di surga? Mama pernah bercerita kalau di surga semua orang mengenakan pakaian putih, sebersih hati mereka. Mataku masih terasa sangat berat, aku pun memejamkan mataku lagi.

***
Aku membuka mataku lagi dan kali ini aku sudah bisa melihat dengan jelas. Aku berada di sebuah ruangan yang tampak tidak asing bagiku. Sebuah ruangan beraroma pinus dengan banyak lukisan anak-anak yang memenuhi seluruh temboknya. Ada sebuah selang yang dipasang pada kedua lubang hidungku, membuatku bisa bernapas dengan leluasa. Kemudian ada sebuah jarum yang menancap telapak tanganku untuk menyalurkan cairan dari botol yang digantung. Terakhir, ada sebuah alat yang dipasang pada dadaku dan tersambung pada sebuah monitor yang mengeluarkan bunyi bip-bip.

Aku melihat di ujung ranjang, di dekat kakiku, ada seseorang yang sedang tertidur di sana. Aku tidak dapat melihat dengan jelas sosok orang itu. Aku hanya bisa melihat surainya yang hitam lebat dan bajunya yang berwarna hijau. Aku mencoba membetulkan posisi tubuhku agar bisa melihat orang itu dengan lebih jelas. Begitu aku bergerak, sontak orang tersebut langsung bangun dari tidurnya. Aku bisa melihat orang itu dengan jelas; ia adalah seorang pria berkulit sangat putih dan memiliki iris berwarna hitam. Kurasa orang ini bukan penduduk asli Teranovia.

“Nara, kau sudah bangun? Aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksamu,” sapa orang asing itu.

Seorang dokter wanita bersurai cokelat menghampiriku dan aku sangat mengenal orang ini. “Yoora Eonni!” sapaku antusias.

“Annyeong, Nara! Kau masih ingat padaku kan?” tanya Yoora Eonni sambil memeriksa kondisi tubuhku dengan stetoskopnya yang berwarna kuning, warna favoritku.

Yoora Eonni adalah dokter anak yang biasa merawatku di rumah sakit manakala jantungku mulai terasa sakit dan aku tidak bisa bernapas. Ia lahir di Korea Selatan, tapi dibesarkan di Teranovia. Sejak lahir, jantungku memang tidak dapat berfungsi dengan normal; sehingga aku membutuhkan cangkok jantung. Selama 8 tahun mereka berusaha mencari donor sampai akhirnya 6 bulan lalu, dokter mengatakan bahwa mereka telah menemukan jantung yang tepat untukku. Aku pun memulai rangkaian persiapan yang panjang menuju operasi cangkok jantung. Mama selalu menemaniku dan memberikan semangat setiap aku merasa tubuhku sudah tidak kuat lagi menjalani tes dari dokter.

Aku tidak akan melupakan hari di mana mereka sudah siap mengoperasiku dan donor jantungku sedang dalam perjalanan. Namun sayang, hari itu juga adalah hari di mana peperangan dimulai. Di ruangan ini juga aku menerima kabar kalau kelompok penjahat berbaju hitam membombardir seluruh isi kota, termasuk mobil yang mengangkut calon jantung baruku. Mobil itu hancur lebur bersama dengan harapanku untuk bisa mengejar cita-citaku menjadi seorang dokter.

“Nara, aku belum memperkenalkan Kris Oppa kepadamu. Kris Oppa adalah tentara penjaga perdamaian dari Kanada. Ia sudah menyelamatkanmu dari reruntuhan rumahmu yang hancur karena bom dan mengantarmu ke rumah sakit. Kris Oppa juga bisa berbahasa Korea lho. Kau bisa belajar dengannya,” kata Yoora eonie disertai dengan senyum ramahnya yang khas.

“Annyeong Nara! Kau adalah gadis umur 8 tahun terkuat yang pernah kutemui,” ujar Kris Oppa sambil mengusap kepalaku lembut.

“Mama?” tanyaku.

Aku melihat air muka Yoora Eonni berubah ketika aku menanyakan Mama. Yoora Eonni terdiam sejenak lalu berkata, “Nara, teman-teman Kris Oppa sedang mencarinya. Kau bersabar ya. Sebentar lagi Mama pasti akan menjemputmu ke sini.”
***

Aku tidak tahu sudah berapa hari aku berada di rumah sakit, tapi aku merasa ini sudah sangat lama. Kondisiku sudah membaik berkat perawatan dan asupan obat dari Yoora Eonni. Setiap hari, Yoora Eonni dan Kris Oppa bergantian menjagaku ketika tidur. Kami berdoa bersama setiap malam agar aku bisa cepat berkumpul dengan Mama lagi.

Di waktu senggangnya, Kris Oppa mengajariku bahasa Korea. Sekarang aku bisa berhitung dalam bahasa Korea, Aku juga tahu beberapa kosakata dalam bahasa Korea. Aku paling suka ketika Kris Oppa mengucapkan saranghae. Ia membuat gestur lucu dengan kedua tangannya di atas kepala, membentuk seperti hati.
***

“Nara, kau ingin jalan-jalan keluar?” tanya Kris Oppa tiba-tiba.

Aku mengangguk dengan cepat. Tentu saja, aku ingin jalan-jalan keluar karena aku sudah tidak ingat kapan terakhir aku berada di luar kamar rawat ini.

“Baiklah, aku akan mencarikan sebuah kursi roda untukmu ya,” lanjut Kris Oppa.

Kris Oppa mengajakku jalan-jalan sore ke taman yang ada di kompleks rumah sakit. Tangan kuatnya mendorong kursi rodaku mengelilingi taman dengan nyaman.

“Oppa, aku mau apel,” celetukku sambil menunjuk buah apel yang tergantung di dahan pohon tepat di atas kepala kami.

“Sebentar ya,” Kris Oppa mulai menjulurkan tangannya hendak memetik apel itu. Posturnya yang tinggi membuatnya tidak kesulitan menjangkau dahan pohon. “Tunggu, sepertinya aku punya cara memetik apel yang lebih menyenangkan,” lanjutnya mendadak.

Kris Oppa kemudian menggendongku dari kursi roda dan menaruhku di atas bahunya.

“Ayo Nara, sekarang kau petik apelnya,” Kris Oppa menyemangatiku.

Dengan mudah aku bisa memetik apel itu. Aku merasa sangat gembira, akhirnya aku bisa makan apel dan bermain di luar lagi. Kenangan terakhirku memetik buah apel adalah saat aku ikut Papa panen buah apel di kebun Kakek 3 tahun lalu.

“Kamsahamnida Oppa,” ujarku setelah Kris Oppa selesai mengajakku jalan-jalan.

Kris Oppa balas tertawa memperlihatkan giginya yang putih dan rata. “Nara, hari ini Yoora Eonni sedang ada operasi, jadi malam ini aku yang menemanimu ya,” ujarnya.
***

Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mataku sama sekali. Jantungku berdegup sangat kencang dan mataku tidak dapat lepas dari pintu, seolah-olah aku sedang menantikan seseorang. Aku ingin menceritakan perasaanku pada Kris Oppa, tapi ia sudah tertidur pulas di sofa.

Tiba-tiba aku melihat ada beberapa orang yang sedang berdiri di luar pintu kamarku. Aku sangat takut, detak jantungku makin tak karuan. Lalu sekelompok orang itu masuk ke dalam kamarku dan ternyata mereka adalah Papa, Mama, Kakek, dan Nenekku. Mereka semua berpakaian berkilauan, wajah mereka berbinar penuh rona kebahagiaan.

“Nara, kami semua datang menjemputmu. Ayo kita pulang! Kau sudah lama menunggu ya?” ujar Mama menggandengku bangun dari tempat tidur.

“Mama, aku belum berpamitan dengan Yoora Eonni dan Kris Oppa. Bagaimana kalau besok pagi mereka mencariku?” tanyaku khawatir.

“Tidak apa, Nara. Mereka pasti tahu kau sudah berada di tempat yang aman sekarang,” Mama mencoba menenangkanku.

Aku mulai berjalan mengikuti Mama dan aku melihat Kris Oppa yang sedang tertidur pulas sambil tersenyum. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Mama dan berharap Mama mengizinkanku berpamitan dengan Kris Oppa. Mama menggelengkan kepala pertanda aku tidak boleh melakukannya.

Aku tidak kehabisan akal. Aku berdiri di samping telinga Kris Oppa dan berbisik kepadanya, “Saranghae, Oppa.”
***

Sebuah suara yang lembut membangunkan Kris dari istirahatnya. Kris mencoba mencari asal suara itu, namun ia tidak menemukan siapapun di dalam ruangan kecuali Nara. Kris menghampiri Nara dan mendapati monitor detak jantung gadis kecil itu telah berubah menjadi sebuah garis panjang. Ia menatap Nara yang tampak sedang tersenyum damai di dalam tidurnya.
“Saranghae, Nara. Kau sudah bertarung dengan sangat hebat sampai detik terakhir,” bisik Kris sambil mengecup kening Nara.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s