[EXOFFI FREELANCE] [1st] The Wedding

The Wedding.png

Author: WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi.

Genre: Hurt. Marriage Life. Fluff. Romance.

Summary: Ketika cerita baru dimulai kembali. Ada yang melangkah maju, ada pula yang melangkah mundur. Tapi sang pemeran utama memilih terdiam.

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

 

Prev * (Prolog)https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2016/11/01/exoffi-freelance-sehun-oc-the-wedding-prolog/

 

-Everybody get hurt sometimes, you know-

 

Gadis ini baru saja membuka matanya sekitar delapan menit lalu. Tapi tubuhnya begitu enggan untuk bangun dari ranjang yang ukurannya lebih besar dari ranjang yang biasa ia tempati.

Mata hitam gadis ini terlihat begitu fokus memandangi tirai jendela kamar yang sedang ia tempati, tertiup angin pagi hingga membuat tirai putih itu bergerak mengikuti arah mata angin. Biasanya hal sesederhana ini bisa membuatnya tersenyum dipagi hari. Tapi rasanya kali ini begitu sangat berbeda.

Ia tidak sedang berada dikamarnya. Ranjangnya terlalu besar. Tirai yang ia pandangi berwarna putih, bukan Blue Baby. Dan ada bantal putih yang tergeletak ditinggalkan sang pemilik tadi malam.

“Apa kemarin aku bermimpi?”

Jae Mi bertanya pada dirinya sendiri. Ia masih belum percaya dengan kejadian kemarin siang dimana dengan lancarnya ia membalas sumpah sehidup semati dari seorang pria yang jelas-jelas sudah memiliki istri. Dia tau siapa pria yang menikahinya. Pria bermarga Oh yang umurnya lebih tua dua belas tahun darinya. Bukankah seharusnya ia memanggil Sehun dengan sebutan ‘Paman’?

Siapa sangka. Setelah resmi lulus dari sekolah menengat atas, Jae Mi terpaksa harus meng-iya-kan keingina Nyonya Oh untuk menikah dengan anaknya. Bukan tanpa alasan Nyonya Oh meminta Jae Mi untuk menikah dengan Sehun.

Jae Mi tak pernah mengira bahwa niatnya menolong seorang Nyonya Oh yang kesusahan membawa belanjaannya kedalam bus kota membuat Jae Mi terjebak dalam masalah besar. Situasi semakin keruh saat ia tau bahwa Ayahnya mengenal baik keluarga Oh. Bahkan Nyonya Oh terlalu rajin datang kerumahnya, hanya basa-basi berkunjung dan setelah itu pembicaraan mereka akan mengarah pada topik utama. Nyonya Oh meminta Jae Mi untuk menikah dengan Sehun.

Awalnya orangtua Jae Mi menyerahkan semuanya pada Jae Mi, namun setelah beberapa kali Nyonya Oh berkunjung, orangtua Jae Mi malah juga ikut mendesak Jae Mi untuk menikah dengan Sehun. Hal ini malah membuat Jae Mi menyerah dengan keadaan. Gadis ini memaksakan dirinya untuk bersedia dinikahi pria berumur 30tahun itu.

“Hidupmu terlalu menyedihkan, Jae Mi!”Gadis ini bicara pada dirinya sendiri seraya memandang sebuah benda yang melingkar cantik di jari manisnya. Belum 24jam cincin berwarna silver itu bersarang disana.

Hye Ra kini tengah sibuk dengan wajan, telur dan roti tawar diatas piring yang akan ia sajikan untuk sarapannya dengan Sehun. Dan Jae Mi. Mengingat nama Jae Mi membuat Hye Ra terdiam, ia baru sadar bahwa ternyata pagi ini ada satu kursi kosong yang akan terisi.

“Telurnya hampir overcook, sayang”

Lamunan Hye Ra terpecah saat sepasang tangan kekar memeluk pinggangnya. Dan sebuah rahang tegas berpangku dipundak kanannya.
Sehun. Ternyata ia sudah bangun.

Hye Ra langsung mematikan kompor dihadapannya dan segera memindahkan telur keatas roti.

“Kau salah, telurnya tidak gosong!” Ucap Hye Ra yang langsung membalikan tubuhnya menghadap Sehun.
“Terlalu matang!”

Sehun mendekatkan wajahnya kearah Hye Ra, tangan kanan Sehun kini berpindah menyentuh lembut pipi Hye Ra.Mereka sama-sama tersenyum. Hidung mereka bergesekan satu sama lain. Ini adalah kebiasaan pagi yang selalu mereka lakukan setiap hari.
Hye Ra meletakan tangannya diatas tangan kanan Sehun yang sedang menyentuh pipi kirinya, tangannya menemukan sebuah benda kecil yang melingkar dijari manis Sehun.

Hye Ra tersenyum lagi, ia mulai menutup matanya karna bibirnya dan bibir Sehun semakin tak berjarak.

Namun saat bibir Sehun akan mendarat tepat dibibirnya, Hye Ra segera menjauh dan langsung menggapai tangan kanan Sehun kehadapannya.

“Dimana Cincin pernikahanmu?”tanya Hye Ra
“Aku sedang memakainya, sayang!”

Sehun memandang jarinya yang sedang Hye Ra pegang. Tak ada sesuatu yang janggal, cincin pernikahan mereka berdua masih berada disana.

“Bukan, Sehun! Maksudku cincin pernikahanmu dengan Jae Mi?!”

Sehun terdiam, tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia terlalu malas saat mendengar nama Jae Mi keluar dari mulut Hye Ra.

“Hei! Kau meninggalkannya diatas nakas?”tanya Hye Ra

Sehun masih tetap terdiam.  Bergegas Hye Ra langsung pergi meninggalkannya sendirian.

Pikiran Sehun berputar.

Jae Mi.

Jae Mi.

Jae Mi.

Memang tak ada yang salah dengan Jae Mi. Tapi rasanya pagi ini ia ingin mengumpat saat mengingat nama gadis itu.

“Aku akan sedih jika kau tak memakai cincinmu, kurasa Jae Mi pun juga begitu!”Ucap Hye Ra yang tiba-tiba datang kembali dengan membawa sebuah cincin yang langsung ia sematkan pada jari manis Sehun.

Sehun menatap Hye Ra yang terlihat fokus memasangkan cincin pernikahannya dengan Jae Mi. Hidup bersama lebih dari delapan tahun membuat Sehun peka tentang apa yang sedang dirasakan istri pertamanya ini. Ada sesuatu yang tak bisa Hye Ra sampaikan pada dirinya. Itulah radar yang ia tangkap dari ekspresi wajah Hye Ra.

Sehun langsung melanjutkan aktivitasnya mereka kembali yang tadi sempat terhenti karna nama Jae Mi melintas dipikiran Hye Ra.

Sehun menarik wajah Hye Ra kehadapannya. Mendarakan bibirnya pada milik Hye Ra. Kali ini Sehun tak tau apa yang merasuki dirinya, rasanya ada sesuatu yang sakit didalam dadanya. Tapi nafsu Sehun terus berlanjut meskipun ia sadar bahwa Hye Ra tak membalas ciumannya.

Jae Mi mulai membangunkan tubuhnya, terduduk seraya menatap ke arah jam dua belas. Tatapannya kosong, ia tak tau hal apa yang harus ia lakukan dihari pertamanya ia menjadi seorang istri dari lelaki yang seharusnya ia panggil ‘paman’.

“Hahhh..”

Jae Mi menghembuskan nafas beratnya setelah ia ingat hal apa yang harus segera ia lakukan dipagi hari seperti ini.

Dapur. Ya, hanya kata itu yang terlewat didalam pikiran Jae Mi.

Ia tau, seorang istri seharusnya bangun lebih pagi dari suaminya untuk membuat sarapan dan bergegas membersihkan rumah. Dan ia sadar bahwa ia telat terlambat untuk melakukannya.

Gadis ini turun dari ranjang besar yang tadi malam ia tiduri. Melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamar dan bergegas pergi kedapur untuk menjalankan kewajibannya dipagi hari. Rambutnya sedikit berantakan, sweater putihnya sedikit kusut, namun ia tetap melangkah kedapur, membiarkan penampilan tak karuannya itu untuk dilihat Sehun pagi ini.

Langkah Jae Mi terhenti takala netranya menangkap sesuatu yang seharusnya tak ia lihat.

Ia terdiam saat melihat Sehun dan Hye Ra bercumbu dihadapannya. Meskipun Jae Mi masih sadar bahwa ia telah bersuami, namun pikirannya lebih tersadar lagi bahwa Sehun telah memiliki istri sebelum pria itu menikahinya.

“Kurasa aku tak ada gunanya disini!”ucap batin Jae Mi

Jae Mi langsung berputar haluan. Langkahnya kembali ia arahkan ke kamar, namun entah kenapa saat melewati lorong dimana pintu utama Apartemen ini berada, ia malah melangkah mendekat.

“Better I leave”ucap Jae Mi yang langsung mengenakan sepatunya dan segera melangkah pergi keluar.

Hye Ra sedikit memberontak saat Sehun tak mau menghentikan aktifitas mencium bibir tipisnya. Tangannya sedikit mendorong dada Sehun pelan, ciuman Sehun memang terlepas, namun ternyata tatapan tajam Sehun mulai mengarah pada wajah Hye Ra.

Merasa sadar Sehun menatap wajahnya dengan tajam membuat Hye Ra merasa sedikit risih karna ia sadar Sehun sedang mencari sesuatu yang ia tutupi dengan senyum diwajahnya.

“Kau mau membangunkan Jae Mi?”tanya Hye Ra berusaha membuat suasana menjadi lebih hangat.

Sehun terdiam. Ia tak menjawab pertanyaan Hye Ra karna masih terlalu fokus untuk mencari tau apa yang ada dipikiran istri pertamanya ini.

“Tak mau? Baiklah, biar aku saja!”ucap Hye Ra yang langsung pergi dari hadapan Sehun.

Berdalih akan membangunkan Jae Mis, justru sebenarnya Hye Ra meninggalkan Sehun karna takut dengan pertanyaan yang akan terlontarkan dari suaminya itu, karna ia tau bahwa Sehun sedang mencari sesuatu yang ia tutupi.

Ada uap putih yang mengepul dihadapanku, asalnya dari ramen instan yang baru saja terlihat matang ini sama sekali tak tersentuh oleh ku. Padahal aku sudah menuangkan air panas kedalam ramen sekitar 10 menit lalu. Hanya tinggal tunggu 10 menit lagi ramen dihadapanku ini akan mengembang dan aku enggan untuk makannya.

Pagi ini seperti pagi biasanya. Meskipun sebenarnya ada banyak hal yang berbeda. Seperti biasanya maksudku adalah kebiasaanku belakangan ini. Pergi ke Sevel, membeli ramen instan dan tak memakannya karna aku terlalu asik dengan lamunan ku.

Aku tengah duduk terdiam disebuah Sevel yang tak jauh dari apartemen yang tadi malam aku singgahi.

Singgah?

Ya, mungkin itu adalah pertama sekaligus terakhir kalinya aku mengunjungi tempat itu.

Lalu selanjutnya? Mungkin aku akan pergi jauh. Kabur ke Canberra, Amsterdam, Vancouver, atau London, asalkan jangan Paris. Aku terlalu benci dengan kota teromantis didunia itu. Mungkin akan lebih bagus lagi jika nanti aku mengganti identitasku lalu tinggal dipinggiran kota agar tak ada yang bisa mencariku disana.

Setelah melihat kejadian tadi pagi, aku memutuskan untuk menjadi egois. Menikah dengan Sehun yang telah dimiliki Hye Ra membuatku bersalah telah mengusik kebahagiaan mereka. Aku akan mengalah atas keputusanku sendiri. Aku lebih memilih untuk pergi agar mereka bisa tetap bahagia berdua, bukan bertiga.
“Kau tau, makan ramen dipagi hari sama sekali tak baik!”Ucapan seseorang yang kini duduk disampingku berhasil membuyarkan rencana dalam lamunanku.

“Pengganggu.” Ah, sungguh! Aku malas jika harus bertemu dengan mahluk menyebalkan ini.

“Hei! Bukankah seharusnya kau masih berada diatas ranjang?”

“Diam!”ucapku ketus saat mendengar pertanyaan yang tak etis keluar dari mulutnya.

“Atauu.. seharusnya kau ada didapur melalukan morning kiss dengan suamimu.”

Kali ini aku terdiam. Aku mengingat kembali kejadian tadi, saat aku melihat Sehun dan Hye Ra yang berciuman didapur. Mungkin mereka tengah melakukan morning kiss.

“.. biasanya pengantin baru akan melakukan itu!”

“Tidak berlaku untukku!”

“Oww, apa ini? Pagi ini kau tak dapat morning kiss dari Sehun?”tanya Jong In yang semakin menyudutkanku.

“Diamlah!!”

“Aku akan berusaha bicara padanya!”

Aku hanya menatapnya malas, namun sepertinya ia tau arti dari tatapanku yang meminta penjelasan dari maksud ucapannya.

“Aku akan memberitahukannya bahwa dia juga harus memberikan morning kiss padamu!”

Aku sudah bilang bahwa aku malas berhadapan dengan mahluk ini. Aku langsung memberikannya pukulan keras tepat diatas kepalanya. Dia menyebalkan!!!

“Hei!! Itu tidak sopan! Aku ini lebih tua darimu. Bahkan sebentar lagi kau akan jadi saudara ku!!”

“Apa hubungannya? Jika kau menyebalkan ya tetap akan aku pukul! Tak peduli kau sodaraku atau bukan!”

“Kau mau aku bersikap ketus padamu seperti Soo Jung?”

Aku terdiam. Aku baru menyadari kembali bahwa Soo Jung, sodaraku, ia bersikap begitu ketus setelah ia mengetahui bahwa dulu aku akan menikah dengan Sehun.

Aku benar-benar memaklumi sikap Soo Jung, ia bersikap dingin bahkan ketus padaku karna ia berada dipihak Hye Ra yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.

Melihat sikapku yang menjadi diam seketika, pria menyebalkan ini malah menggeserkan kursinya semakin dekat denganku.

“Ah, maaf Jae Mi. Aku hanya bercanda!”ucapnya tepat disamping wajahku.

“Seriuspun juga tak apa!”ucapku yang langsung pergi meninggalkan Jong In dan ramen instanku yang sepertinya sudah mengembang.

“Hei! Kau mau kemana?”teriak Jong In melihat ku melangkah keluar dari Sevel.

Aku tak menjawab. Bukan tak mau. Bahkan aku sendiripun juga tak tau kemana aku akan pergi.

Kau tau? Sebelum beredarnya berita bahwa aku akan menikah dengan Sehun, yang usianya lebih tua dariku, hidupku amatlah tentram. Maksudku, hidupku benar-benar normal tanpa beban. Aku punya banyak teman disekolah, hubunganku dengan saudara-saudaraku juga sangat baik.

Namun semua terjungkal dengan hanya hitungan hari setelah berita tentang rencana pernikahanku dengan Sehun beredar, semuanya benar-benar berubah.

Teman? Aku jadi tak punya teman. Orang-orang berpikiran bahwa aku dan keluargaku haus harta karna mereka tau bahwa Oh Company adalah perusahaan terbesar di Asia. Mungkin mereka pikir, dengan menikah dengan Sehun, saham perusahaan keluargaku akan melonjak naik.

Saudara-saudaraku juga menjauh. Apalagi Soo Jung, kami memang terpaut usia 10 tahun, aku dan dia benar-benar dekat karna sama-sama diantara kami menganggap satu sama lain adalah teman. Sekarang ia tak mau lagi bertemu denganku, bahkan jika tak sengaja kami berpas-pasan, ia tak segan untuk bersikap bahwa kami tak pernah mengenal satu sama lain. Aku sudah bilang, hidupku memang menyedihkan.

Sehun tengah mengaduk kopi dihadapannya dengan tatapan kosong. Tak lama Indra pendengarannya terganggu takala ia menddengar suara langkah kaki yang sepertinya tengah berjalan cepat kearahnya.

“Sehun, Jae Mi tak ada dikamar!”suara panik Hye Ra berhasil membuat pria ini mengalihkan pandangannya.

Sehun terdiam. Rasanya ia benar-benar muak dengan semua tentang Jae Mi.

“Sehun, Jae Mi tak ada!”ucap Hye Ra dengan suara yang sedikit lebih tinggi.

“Biarlah!!”jawab Sehun tak peduli.

“Apa maksudmu?”

“Dia tak akan pergi jauh!”

“Kau sama sekali tak khawatir padanya?”

Sehun menyeruput kopinya dengan santai. Sesekali melirik wajah Hye Ra yang terlihat khawatir.

“Sehun, cari dia!”

“Duduklah! Kita sarapan!”

Sehun bangkit dari kursinya untuk menarik kursi disampingnya, memberi tau Hye Ra untuk segera duduk disampingnya.

“Kau tak mendengarkan ucapanku?”nada bicara Hye Ra semakin tak terkendali, ia terlihat sangat khawatir

“Aku mendengarkanmu, sayang! Aku bilang dia tidak akan jauh! Duduklah!” Sehun tetap tenang meskipun ia tau Hye Ra sedang tak baik-baik saja.

“Kau seharusnya mencarinya! Apa kau tak khawatir?”

Wajah Hye Ra benar-benar terlihat begitu memerah. Ia begitu marah pada sikap acuh Sehun.

“Sehun, Jae Mi adalah istrimu!!!”teriak Hye Ra

“Dan kau juga istriku, Hye Ra!!”bentak Sehun.

 

Hye Ra terdiam.

 

-To Be Countinue..

Note: Aku gak tau sebenernya aku nulis apaan? Rasanya udah beberapa kali diedit tapi tetep aja rasanya kurang Srek(?) buat dipost, jadi maaf ya kalo kelama nunggu dan ternyata tulisannya malah acak-acakan :’)

Makasih ya atas respon positiv dipart sebelumnya, kalian bikin aku semangat buat nulis dan gak sabar publish lohh.. Jangan lupa komen ya.. :’)

 

9 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] [1st] The Wedding

  1. lanjut thor, aku suka aku suka…. gaya penceritaan author so sweet bgt deh, yang sehun nggak mau ngelepas…. ah sudahlah, pokoknya lanjut jangan sampek mandek di tengah jalann….🙂

  2. Huff serba salah juga kalo dlm situasi kaya mereka. G nyalahin sehun ataupun hyera. Sikap sehun nunjukin kalo dia sebenernya khawatir sama perasaan istri pertamanya. Dan hyera mgkn g enak juga ama jae mi secara jaemi kan masi terlalu muda buat ngalamin hal seperti itu. Penasaran alasan sebenernya jaemi nerima pernikahan ini. Padahal dia tau sehun uda beristri….

  3. Hahhhh gua takut kalo ujungnya sehun saka ame jae mi trus hyera dilupain , akhirnya bakal ‘Hurt’ but I hope this no true 😑 . okay hyera calm down he love just for you . lanjut thor ^^ moga aje HPEnd 😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s