[EXOFFI FREELANCE] Lucky Or Not? – (Chapter 2)

1477058039291.JPEG

LUCKY OR NOT?

Author: Lible Lander

Length: Chapter

Genre: Romance, Horor

Rate: M (for language!)

Cast: Park Chanyeol (EXO)-Jung Hee Suk (OC)

“’Aku sangat membenci keadaanku yang sekarang. Memang, berkat ini aku bisa mengenalmu. Tapi, berkat ini juga aku harus melihat banyak hal yang tidak kusukai. Aku senang tapi aku juga kecewa. Sialan, sekarang apa yang harus kulakukan?!’-Jung Hee Suk.

‘Awalnya, aku hanya ingin membantu karena kita sama. Kau tau betul itu. Tapi, kenapa rasanya aku membelok, ya?’-Park Chanyeol.”

EXO belongs to SM, but this story and OC is MINE!

A/N: Annyeong, aku kembali dengan chapter dua ^^ Aku seneng chapter sebelumnya direspon, meskipun semangat agak ngendur sebenernya tapi yaudahlah. Lanjutkan!

Happy reading!

.

.

.

Heesuk mengamati sekitarnya.

“Selamat tinggal…”

“Tunggu! Kau mau kemana?” Chanyeol serta merta menarik lengan gadis itu saat ia berbalik.

“Hawanya tidak enak. Aku mau pulang saja.”

“Eits.. tidak secepat itu!”

Heesuk menatap pemuda didepannya dengan pandangan membunuh. Sesuai instruksi Chanyeol, saat semburat kehitaman sudah mewarnai langit, ia akan menjemputnya. Namun hingga jam setengah sembilan, pemuda itu tidak menampakkan batang hidungnya.

Barulah saat ia mematikan lampu dan menarik selimut, suara gaduh terdengar dari luar kamarnya. Heesuk sudah berpikir kalau itu adalah Nari, bocah penghuni rumahnya yang tewas akibat ulah pamannya. Tapi kenyataannya, gadis itu malah melihat Chanyeol yang tengah terduduk di lantai balkon dan mengaduh. Memegangi bahu kirinya sambil meringis.

Dan disinilah dia. Berdiri di tengah-tengah taman kota pada jam sebelas malam.

“Sialan. Aku mau pulang.”

“No, no, no. Kita tidak akan pulang sebelum mendapatkan hasil.”

“Brengsek.”

“Memang” Chanyeol nyengir lebar. “Baiklah. Kau mau main yang mana dulu? Perosotan? Bak pasir? Atau jungkat-jungkit?”

“Ayunan” Heesuk melangkahkan kakinya. Semilir angin yang berhembus membuatnya bergidik. Sedikit menyesal tidak memakai jaket rajut tadi. Saking kesal pada Chanyeol yang memanjat balkon kamarnya, Heesuk hanya sempat menyambar cardigan.

“Aku tak pernah tau kalau tempat ini lumayan besar.”

“Yah.. dulu aku sering kesini. Aku paling senang bermain bak pasir” Chanyeol mendudukkan diri di salah satu ayunan.

“Benarkah? Kalau aku paling senang main ayunan. Ibuku sering mendorongnya untukku, namun sejak aku tinggal bersama bibiku, aku mulai belajar untuk mendorongnya sendiri” Heesuk tersenyum.

“Memangnya ibumu kemana? Kerja?”

“Broken home” jawab Heesuk cepat. “Ayah dulunya pekerja kantoran, namun saat krisis ekonomi, perusahaan tempatnya bekerja mengadakan PHK besar-besaran. Sejak itu ayah jadi sering mabuk-mabukan, pulang larut dan selalu bertengkar dengan ibu. Puncaknya saat umurku sembilan tahun, ia memukul ibuku. Ibu tak terima, dan mereka mulai bertengkar hebat. Piring, gelas, bahkan panci ikut dilemparnya” gadis itu tertawa hambar.

“Bibi yang saat itu berkunjung berinisiatif membawaku agar psikisku tak terganggu. Ibu setuju dan memutuskan untuk pulang ke Busan beberapa bulan, namun ia tak pernah kembali.”

Chanyeol memandang gadis di sebelahnya yang tengah berwajah sendu. Tangannya terangkat untuk menepuk bahunya, namun diurungkannya. Ia diam, menyerap semua ucapan Heesuk.

“Tapi, ada bagusnya juga. Kalau ibuku kembali, aku tak akan tau bagaimana caranya mendorong ayunan sendiri. Seperti ini..” gadis itu kembali tersenyum, lalu berdiri dan melangkah mundur hingga rantai ayunan benar-benar tertarik, kemudian mendudukkan diri dan mulai tertawa keras-keras saat tubuhnya terayun. Heesuk meluruskan kakinya, lalu menendang ke depan sekuat mungkin agar ayunannya semakin tinggi.

“Kau juga cobalah! Jangan duduk saja!” serunya, lantas tertawa.

Chanyeol tersenyum lembut. Matanya bergulir mengikuti pergerakan gadis di sampingnya yang terus tersenyum girang, seperti anak kecil.

Ia memperhatikan Heesuk dalam diam, dan kemudian menyadari bahwa ayunan di sebelah gadis itu mulai bergerak. Chanyeol mengerjapkan matanya, lalu menghembuskan nafas.

“Ah… kalau aku sudah kerja nanti, aku juga mau ke Busan” Heesuk menerawang langit malam saat ayunannya sudah terhenti. Ia hanya mengayunnya pelan.

“Kenapa?”

“Banyak makanan enak disana. Busan juga nggak kalah bagus sama Seoul, kok.”

“Sekalian saja kau ke Jeju” Chanyeol memalingkan wajah. “Biar kutebak, kau suka udang bakar.”

“Wow, bagaimana kau tau?” Heesuk memandangnya takjub.

“Yah.. tanyakan saja pada anak disebelahmu.”

Tanyakan saja pada anak disebelahmu.

Tanyakan saja pada anak disebelahmu.

Tanyakan saja pada anak disebelahmu.

Senyuman Heesuk runtuh dalam sekejap. Matanya membulat tak percaya.

“Be-benarkah?”

“Hn. Coba ajak dia, mungkin dia mau ikut.”

“Tolol!” pekiknya. Gadis itu melompat, lalu berjalan tanpa memalingkan wajah.

“Hei, hei!” seru Chanyeol. “Bagaimana kau bisa kalau seperti ini? Ayolah, tak ada yang perlu ditakutkan!” pemuda itu memegang bahu Heesuk erat.

“A-aku belum siap.”

“Lalu kapan kau siap?”

Heesuk menelan ludah.

“Tak apa-apa” lanjut Chanyeol. “Kan kau tidak sendiri.”

Gadis itu menarik nafas susah payah, lalu menatap Chanyeol. “Kalau jantungku berhenti berdetak, jangan lupa panggil ambulans.”

“Tentu saja” pemuda itu tersenyum geli.

Heesuk kembali menarik nafas. Memaksakan oksigen memenuhi saluran pernafasannya. Dengan berat hati, ia mengikuti Chanyeol yang membalik tubuhnya. Masih dengan mata terpejam, gadis itu meyakinkan hatinya.

Kelopak matanya terbuka perlahan. Terus terbuka hingga sesosok anak kecil didepannya terlihat dengan jelas. Heesuk tanpa sadar menahan nafasnya.

Merasa tubuh Heesuk menegang, Chanyeol menunduk, menyejajarkan mulutnya dengan telinga Heesuk dan berbisik, “Aku disini.”

Gadis itu mengerjap, membuang nafasnya yang tertahan. Dia ingat kalau dia tidak sendiri. Chanyeol masih bersamanya, memegang erat bahunya. Heesuk memandangi anak kecil yang juga balas memandangnya kosong.

Dengan baju compang-camping, tubuh kurus dan kepala yang nyaris botak. Matanya putih sepenuhnya berikut mulut yang sudah tak berbentuk. Heesuk tak melihat lengan kirinya. Ia punya sepasang kaki, namun tanpa jari-jari.

“A-ah..”

“Tetap tenang. Lihat, kau hanya bisa melihatnya. Dia tak akan melakukan apapun padamu. Dia tak akan bergerak sedikitpun” Chanyeol kembali berbisik.

“Ba-bagaimana kau tau itu pasti?”

“Tentu saja itu pasti” lanjutnya. “Mendekatlah pelan-pelan. Ini tak semengerikan bayanganmu.”

“Oke. Ta-tapi, tetap temani aku.”

“Hn.”

Heesuk menelan ludah, lalu melangkah mendekati anak itu. Hawa dingin semakin menusuk kulitnya saat jaraknya semakin menipis. Tak berapa lama, gadis itu berjengit merasakan sesuatu di pipinya. Ia mengusap wajahnya yang entah sejak kapan menjadi basah. Semakin dekat, perasaannya semakin tak karuan. Air matanya menyeruak keluar, mengalir tanpa bisa ia cegah.

“Kendalikan dirimu” nafas Chanyeol menerpa tengkuknya. “Ini mirip seperti efek samping. Kesedihan be-”

“-kesedihan besar yang dipendam bisa membuatmu ikut merasakannya…” bisik Heesuk parau. Ia membiarkan air matanya tumpah.

Potongan-potongan gambar melesat di pikirannya. Tak begitu jelas, tapi ia tau pasti kejadian yang ia lihat. Penuh dengan amarah, ketakutan, kesedihan, semuanya bercampur.

Chanyeol merasa iba. Tangan kanannya terulur, lalu ia memejamkan matanya. Lengan kirinya mengitari tubuh Heesuk dan menariknya mendekat. Heesuk masih merasa kosong, namun membiarkan tubuhnya ditarik ke belakang.

Saat kelopak matanya terbuka, cahaya kuning berbentuk spiral kecil muncul di telapak tangannya. Semakin lama ukurannya semakin besar. Angin mulai bertiup. Chanyeol menatap lurus anak kecil didepan sana.

“Pulanglah…” lirihnya. “Kembalilah ke tempat dimana kau akan dilindungi, banyak makanan dan tak ada penyakit.”

Secepat kilat, pemuda itu mengayunkan tangan, melempar cahaya spiral di telapak tangannya. Tepat sebelum cahaya itu mengenainya, Heesuk bersitatap dengan anak itu. Dan dia berani bersumpah, anak itu tersenyum padanya.

Terima kasih.. kakak..

Suara ledakan disusul asap tipis menguar. Setelah itu hening. Angin berhenti bertiup. Sepi.

“Kau tidak apa-apa?”

Tak ada jawaban. Chanyeol memutar tubuh gadis di depannya. Ia terhenyak melihat Heesuk yang sudah seperti mayat hidup.

“Hei, sudah selesai.”

Heesuk mengerjap-ngerjapkan mata. Gadis itu terkaget, lalu memutar kepalanya. “Anak itu-”

“-sudah pergi” Chanyeol tersenyum. “Lihat? Kau melihatnya dan kau masih hidup, kan?”

Heesuk merasa kehilangan kata-katanya. Mendadak, ingatan anak tadi kembali berkelebat di kepalanya. Seketika itu juga, emosinya meledak. Ia mulai menangis sekeras-kerasnya. Berontak ketika Chanyeol berusaha menenangkan dirinya. Ia bahkan tak mendengar apapun. Heesuk merasa kosong sepenuhnya.

Chanyeol mengerutkan kening. Antara kesal dan kasihan. Pemuda itu ingin menyuruh Heesuk tak bergerak, namun gadis itu malah menepisnya kasar. Chanyeol berdecak, lalu menarik Heesuk dan memeluknya erat.

“Lepas!” Heesuk menggelepar. Berusaha mendorong Chanyeol sekuat yang ia bisa.

Pemuda itu mempererat pelukannya. “Diam! Diam! Jangan menangis lagi!”

Setelah cukup lama berontak, Heesuk merasa energinya habis terkuras. Ia tak lagi menggelepar, hanya sesenggukan.

“Tak apa.. sudah tidak apa-apa..” Chanyeol membelai kepala Heesuk. Ia terus berbisik di telinganya sambil mencoba menghiraukan pakaiannya yang basah. Namun tangisannya tak berhenti.

Bahkan hingga Chanyeol mengantarnya pulang dan memanjat balkon, Heesuk masih terisak. Ia membaringkan gadis itu dan menyelimutinya, kemudian kembali membelai kepalanya.

“A-aku..”

“Sst.. tidurlah.. kau sudah kelelahan..” tutur Chanyeol. Heesuk mengangguk kecil, lalu menutup matanya meskipun isakannya masih terdengar.

Chanyeol tetap membelai kepala Heesuk hingga gadis itu benar-benar terlelap. Ia melirik gadis kecil di depan lemari yang tengah menatapnya lurus, namun kembali memandangi Heesuk.

“Reaksinya normal. Tapi aku yakin dia bisa mengatasinya” kata Chanyeol pada dirinya.

Ia merendahkan tubuhnya, lalu mengecup kelopak mata gadis itu bergantian. Chanyeol menatap Heesuk lama dengan pandangan yang sulit diartikan, kemudian kembali menoleh pada si gadis kecil.

“Tolong jaga dia dan jangan lakukan apapun yang mengganggunya, ya. Biarkan dia istirahat. Ah, sesuai perkataannya, kau sangat cantik” Chanyeol tersenyum.

Pemuda itu membelai kepala Heesuk sekali lagi, lalu pergi.

***

“Ah, selamat pagi, Jung! Ya ampun, kenapa dengan matamu?”

Heesuk hanya melirik Nambong, lalu fokus memainkan ponselnya.

“Astaga, Nambong! Udah tau dia tuli masih saja ditegur!” seru seseorang diikuti suara tawa.

Nambong memajukan bibirnya, lalu duduk menyilangkan kaki. “Yah, kan kita harus baik sama teman sekelas kita. Jadi, komunikasi kita harus terjalin dengan baik, iya nggak, Heesuk?”

“Nggak juga.”

Beberapa orang nampak tertegun. Begitupun dengan Nambong. “A-apa?”

“Berhenti berpura-pura baik padaku, Nambong” Heesuk menatapnya dengan pandangan membunuh. “Aku muak melihatmu, jujur.”

“Hei, dibaikkin malah ngelunjak! Nih orang ya, memang.. duh!” pemuda itu berdecak, lalu meninggalkan kelas dengan menghentak-hentakkan kakinya.

Heesuk memandangnya puas, lalu menatap sekelilingya. “Apa?”

Begini lebih baik. Ia sudah muak dengan orang-orang di kelas ini. Penuh kepura-puraan, salah tempat, segalanya membuatnya merasa tak betah.

Saat jam istirahat, begitu bel berbunyi, siluet tubuh tinggi itu sudah berdiri di depan pintu. Dengan senyuman cerahnya, ia memanggil-manggil Heesuk tanpa suara.

Yang dipanggil tersenyum tipis. Ia menutup bukunya, lalu menghampiri Chanyeol. “Hai.”

“Hai! Ayo pergi!”

Beberapa orang di kelas menatap mereka heran.

“Kok bisa, sih?”

“Dih?”

“Sejak kapan?”

“Jadi sekarang mainnya sama si Park?”

Chanyeol merangkul Heesuk, dan berjalan bersamanya. Namun tanpa sepengetahuan gadis itu, Chanyeol sempat memalingkan wajah. Pemuda itu menatap teman-teman sekelas Heesuk dengan pandangan membunuh terbaiknya, membuat beberapa orang berjengit.

“Duduk disini saja.”

“Bagaimana? Apa tidurmu nyenyak?”

Heesuk tampak berpikir. “Sebenarnya iya. Tapi durasinya kurang lama. Lihat, kantung mataku jadi bengkak begini.”

“Benarkah? Apa Nari ada saat kau bangun?” tanya Chanyeol.

“Ada. Dia bilang ada seseorang bermata besar membawaku pulang,” Heesuk tak menghiraukan tatapan tajam Chanyeol padanya, “lalu dia bertanya kenapa kau bisa melihatnya. Kubilang saja kalau kau sama sepertiku.”

“Kapan-kapan aku akan menjitak kepalanya.”

“Memangnya kenapa? Matamu memang besar, kok. Aku suka.”

Chanyeol merengut. “Terima kasih atas pujiannya.”

“Kenapa marah? Aku jujur, loh!” Heesuk memalingkan wajahnya. Telunjuknya terangkat, lalu mengitari mata Chanyeol. “Aku suka mata yang bulat seperti ini.”

Pemuda itu terdiam. Ia merasakan telunjuk Heesuk yang berputar di sekeliling matanya. Pelan, Chanyeol menggenggam tangan Heesuk dan menurunkannya. Ia menatap dalam gadis didepannya.

“Heesuk..” katanya. “Kau sudah tak begitu takut, kan?”

Gadis itu mengangguk. “Kalau begitu, apa kau bisa melihat wanita tua itu?”

“Apa?” Heesuk terperanjat. “Dimana?”

“Disana…” Chanyeol menunjuk tembok di depan sana. Atau mungkin, sesosok makhluk di depan tembok.

“Ah, aku baru sadar” Heesuk menghela nafas. “Lihat? Tak terjadi apapun padaku.”

“Anak pintar” Chanyeol mengacak-ngacak rambut Heesuk. “Kurasa, sudah waktunya untuk mengajarimu.”

“Tak begitu mudah, tapi aku yakin kau bisa belajar dengan cepat. Ulurkan tanganmu.”

Heesuk mengulurkan telapak tangannya. Chanyeol memegang sisi bawahnya, kemudian mengangkatnya sedikit. “Sekarang pejamkan matamu.”

“Sudah” Heesuk mengangguk-angguk. “Apalagi?”

“Sabar. Untuk tahap ini, kau harus rileks. Serileks mungkin. Kosongkan pikiranmu. Dengarkan suara alam di sekitarmu.”

Heesuk mulai berkonsentrasi. Ia dapat merasakan suara angin di sekelilingnya, gemerisik pohon yang tertiup, suara burung yang terbang, air yang mengalir, semuanya.

Bagus, batin Chanyeol tesenyum.

“Sekarang.. rasakan kalau semuanya berkumpul di telapak tanganmu. Alam meminjamkan kekuatannya, dan rasakan gesekan-gesekan di telapak tanganmu.”

Heesuk mengerutkan alis. Agak susah, bagaimana ceritanya alam bisa meminjamkan kekuatannya? Apa mereka bisa berfungsi seperti semacam toserba?

Pikiran-pikiran anehnya tersingkir saat merasakan gesekan kecil di telapak tangannya. Sangat halus, tapi ia merasakannya.

“Chanyeol..”

“Hm?”

“Aku merasakannya.”

“Kalau begitu, tingkatkan indra perasamu. Cobalah untuk lebih sensitif.”

Pemuda itu mengerutkan alis, terus mengamati telapak tangan Heesuk. Senyumannya mengembang saat melihat cahaya biru muncul disana.

“Kau hampir berhasil! Tetap fokus dan rasakan energi itu di telapak tanganmu! Rasakan kalau ia berputar dan semakin besar!” serunya.

Heesuk merasa keringat mulai menghiasi pelipisnya, namun ia memejamkan matanya kuat-kuat demi tetap fokus pada energi di tangannya. Angin mulai berhembus lebih kencang.

Cahaya biru di telapaknya perlahan membesar. Lama-kelamaan, ia membentuk garis lurus dan mulai berputar seperti spiral. Semakin lama, putarannya semakin cepat.

Chanyeol tersenyum lebar. “Heesuk, buka matamu. Kau sudah berhasil.”

“Benarkah?”

“Hn.”

Gadis itu membuka matanya antusias, lalu terpaku pada spiral biru didepannya. “Wow.. cantik sekali..”

“Tentu saja. Tapi, kau tak boleh terlalu lama membiarkannya. Bisa-bisa, ukurannya akan jadi sangat besar dan kau tak akan bisa mengendalikannya. Ujung-ujungnya, dia akan meledak di wajahmu” canda Chanyeol.

“Benarkah? Jadi aku harus bagaimana?”

“Perhatikan tujuanmu” Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah si wanita tua. Heesuk ikut memalingkan tatapannya.

“Yakinlah kalau dia targetmu. Kalau sudah..” pemuda itu melepas tangan Heesuk. “lempar ke arahnya.”

“Le-lempar?” tanya Heesuk gugup. “Ya, lempar.”

“Bagaimana caranya?”

“Lempar saja.”

“Kalau meleset, bagaimana?!”

“Tidak akan!”

“Tapi aku ti-”

“Bawel!” Chanyeol meraih tangan gadis itu, lalu menghempaskannya sekuat tenaga. Spiral biru itu terlempar, melaju kencang ke arah wanita tua tadi.

BLAAR!

Mereka berdua menutup mata saking silaunya. Saat membuka mata, wanita itu sudah menghilang.

Hening.

“Sudah?”

“Sudah.”

Heesuk mengerutkan kening. Ia merasakan tubuhnya telah basah oleh keringat. Gadis itu terjerembab, terduduk di atas rumput sambil terengah-engah.

“Kau tak apa-apa?”

Heesuk tak menjawab. Kepalanya terasa berputar. Tak berapa lama, tubuhnya melemas, lalu terhempas ke belakang. Samar, ia melihat Chanyeol yang berteriak di depan wajahnya.

Heesuk merasa tubuhnya direngkuh, lalu semuanya menjadi gelap.

.

.

.

To Be Continue

A/N:

Er… hai..

Pertama-tama, maafin aku soal keterlambatan yang super duper ini ._. chapter ini udah jadi sebelas lembar minggu lalu, dan tingga dilanjutin dikit lagi sebenernya. Tapi, aku lagi kena penyakit malas nih. Akhirnya molor sampe dua minggu deh -_-‘

Anyway, maafin atas A/N minggu lalu yang mendadak jadi sarang amukannya aku. Sekarang, aku udah merasa jauh lebih baik^^’ Mohon maaf kalo chapter ini pendek banget dan terkesan buru-buru. Next chapter aku janji bakal lebih panjang kok.

Nah, kayak biasa, kritik, saran, atau apapun akan aku terima dengan tangan terbuka. Gomawo ^^

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Lucky Or Not? – (Chapter 2)

  1. ada fantasi nya..lohh
    terus yang cahaya2 muncul di telapak tangan chanyeol,heesuk itu sejenis kekuatan kah ?

    aku sihh suka karena cast nya chanyeol bias aku dan cerita nya menarik. walapun aku gak ngerti soal cahaya spiral itu🙂

    publish lebih cepat lebih baik apalagi panjang.. keke I can wait🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s