[EXOFFI FREELANCE] Gotta Be You – (Oneshot)

Gotta Be You.jpg

Gotta Be You. – FireWind924

Oneshot || Kim Jun-myeon (Suho) & Han Ye-rin (OC) || Hurt || PG-15 || Other Cast : Oh Se-hun, Park Chan-yeol

Summary :

Yang kuinginkan adalah dirimu. Tidak peduli apa kata mereka ,aku hanya ingin denganmu. Itu mutlak, dan tidak ada siapapun, kecuali Tuhan yang mengubahnya. Maka, kuminta pada Tuhan untuk menyatukan kita…

Disclaimer :

Cerita ini murni dari pikiranku. Aku hanya ingin berbagi imajinasi, silakan dinikmati dan diapresiasi dengan bijak J

***

 

 

Prolog

 

Di sebuah tempat dengan suasana yang sangat ramai.

“Selamat, Chan-yeol. Semoga restoran barumu ini sukses.” Pria itu menjabat tangan Park Chan-yeol sang tuan rumah. Bangunan bernuansa khas Amerika Latin ini adalah restoran baru milik pria jangkung itu.

“Terima kasih, Jun-myeon. Aku senang kau bisa datang di tengah kesibukanmu.” Chan-yeol tersenyum lebar menyambut temannya itu. “Silakan nikmati hidangannya.”

Kim Jun-myeon mengangguk. Pria beralis tebal itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang dipenuhi tamu itu. Ia bisa melihat Oh Se-hun, sahabatnya sedang mengobrol dengan beberapa gadis. Jun-myeon hanya melirik malas. Dasar bocah itu.

“Oh, Ye-rin!” Chan-yeol memanggil seseorang. Jun-myeon menoleh ke arah Chan-yeol kemudian mengikuti arah pandang pria bermata besar itu. Netranya menangkap sesosok gadis bermbut lurus sebahu dengan dress hitam yang membalut tubuhnya hingga sebatas atas lutut. Riasannya sederhana, tapi itulah yang membuat gadis itu tampak cantik di mata Jun-myeon. Dan gadis itu telah berdiri di samping Park Chan-yeol saat ini.

“Jun-myeon, ini adalah Han Ye-rin, sepupuku dari pihak ibu.” Chan-yeol mengenalkan gadis itu pada Jun-myeon. Gadis itu membungkuk sedikit dan tersenyum tipis. “Dan Ye-rin, ini adalah Kim Jun-myeon, teman baikku sejak kuliah.” Jun-myeon pun melakukan hal yang sama.

“Kudengar kau membutuhkan desainer untuk perusahaanmu. Sepupuku ini baru lulus dari sebuah sekolah mode di Paris. Siapa tahu, dia bisa membantumu.”

Seseorang mendekat dan membisikkan suatu informasi di telinga Chan-yeol. Pria itu mengangguk kemudian menatap Ye-rin dan Jun-myeon bergantian “Sepertinya aku harus menyapa tamu yang baru datang. Aku tinggal dulu, ya. Silakan bersenang-senang di pestaku.” Ia tersenyum lebar dan melangkah pergi.

Sepeninggal pria jangkung itu, mereka hanya saling menatap. Han Ye-rin tersenyum canggung sementara Kim Jun-myeon berdehem kemudian bergeser lebih dekat dengan gadis itu. Pria berjas abu-abu itu mengulurkan tangannya. Ye-rin menatap tangan itu lalu melihat wajah rupawan yang sedang tersenyum padanya. Dan tangan mereka saling bertaut.

“Senang bertemu denganmu.”

 

***

 

Dua tahun kemudian…

Hari hampir gelap. Rintik-rintik air membasahi bumi dan kaca jendela mobil taksi yang ditumpangi Han Ye-rin. Gadis itu tak bisa berhenti meremas-remas tangannya. Wajahnya penuh dengan gurat-gurat cemas. Ia mulai gelisah ketika lampu lalu lintas di depan berubah menjadi merah. Ia tidak bisa menyalahkan si pengemudi karena itu adalah aturan yang harus ditaati.

Satu menit kemudian, lampu berubah hijau dan semua kendaraan kembali melaju. Ye-rin bisa sedikit bernapas lega, tapi masih belum bisa lega sepenuhnya sebelum sampai di tempat tujuan. Taksi masuk ke pelataran sebuah rumah sakit di Seoul dan berhenti tepat di depan lobi. Ye-rin segera turun dan melangkah cepat memasuki rumah sakit mewah itu. Ia berjalan tanpa memikirkan apapun kecuali nomor ruangan yang dikirim oleh Oh Se-hun. Ye-rin menunggu dengan gelisah di depan elevator yang sebentar lagi berhenti. Pintu besi itu terbuka tak lama kemudian. Ia segera masuk.

  1. 225. 225. Ia terus mencari nomor itu. Hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu. Di samping pintu itu tertulis angka 225 dan sebuah nama di bawahnya, Kim Jun-myeon. Ia membuka pintu itu perlahan. Seorang pria berbadan tegap berjas biru pekat yang sedari tadi duduk di sebelah ranjang pasien itu menoleh ke arah Ye-rin dan berdiri.

“Ye-rin ssi, kau sudah datang?” ucap pria itu dengan suara pelan.

Ye-rin yang masih menatap pria itu hanya mengangguk. Ia melangkah maju. Matanya melihat pria berpakaian pasien dan terbaring di ranjang berbalut sprei putih. Selimut tebal menutupi tubuhnya sampai dada. Bibirnya pucat dan mata yang masih terpejam. Ye-rin berjalan mendekati ranjang itu untuk melihatnya lebih dekat. Hatinya terasa sesak melihat pria itu terbaring seperti ini.

“Apa yang dokter katakan, Sehun ssi?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari pria bernama Kim Jun-myeon yang matanya masih terpejam.

Se-hun yang sejak tadi berdiri di samping Ye-rin memasukkan tangannya ke dalam saku celana, “Kata dokter, dia kelelahan. Tekanan darahnya rendah dan lambungnya sedikit bermasalah. Dia butuh banyak istirahat.”

Gadis itu hanya diam memandangi wajah damai Jun-myeon yang belum juga sadar. Ia menempatkan diri di kursi di samping ranjang. Tangannya bergerak menggenggam tangan dingin itu.

“Masalah di kantor memang sedang banyak dan tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Dan sepertinya hal itu membuat Jun-myeon hyung stress dan tumbang seperti ini. Sepertinya dia selalu begadang dan melewatkan jam makannya.” Kata Se-hun.

 

***

 

Han Ye-rin masih duduk di samping ranjang tempat Jun-myeon berbaring. Se-hun sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Langit telah gelap di luar sana. Ia masih memandang wajah pucat itu. Bibir yang saat ini terkatup rapat itu masih tersenyum saat mengantarnya ke studio tadi pagi. Diam-diam ia merutuki dirinya sendiri yang tidak menyadari bahwa kondisi pria itu sedang tidak baik.

Oppa, sudah cukup. Aku ada di sini. Kau tidak ingin melihatku?” Ye-rin masih menahan air matanya. Ia benar-benar tidak suka melihat orang tersayangnya sakit.

Ia meletakkan kepalanya di tepi ranjang. Tangannya memainkan kuku-kuku Jun-myeon. Kuku-kuku pria itu sudah panjang. Ia harus memotongnya besok. Ye-rin menguap. Ia mulai mengantuk. Tapi ia tidak akan tidur sebelum Jun-myeon sadar.

Oppa, kau mau membuatku terjaga semalaman,eoh?” Matanya mulai berkaca-kaca. Dan kemudian ia merasakan ada gerakan kecil dalam genggamannya.

“Ye-rin ah.”

Suara parau nan lirih itu membuat Ye-rin segera menegakkan tubuhnya seketika. Akhirnya mata itu terbuka dan membalas tatapannya. Ia tidak langsung berkata-kata. Dalam hati ia mengucap syukur karena pria itu siuman. Dan kini ia hanya tersenyum seperti orang bodoh.

“Ye-rin ah.”

Pria itu kembali memanggil namanya. Ini bukan mimpi. Setetes air mata akhirnya jatuh. Ia bisa bernapas lega sekarang. Tangan Jun-myeon terangkat dan menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata di pipi Ye-rin. Jun-myeon tersenyum.

“Kau tersenyum?” Ye-rin memukul ringan bahu pria yang lebih tua empat tahun darinya itu, “Setelah kau membuat orang khawatir setengah mati sekarang kau tersenyum? Kau puas membuatku kacau seperti ini?” Ia memukul Jun-myeon bertubi-tubi.

“Hei, hei, hei, jangan memukulku. Aku ini pasien. Kau tidak boleh melakukan kekerasan kepada orang sakit.”

Ye-rin menghentikan pukulannya. Ia menatap sebal pria berkulit putih pucat itu. Sekali lagi ia bersyukur karena akhirnya bisa melihat senyuman itu lagi. Tatapannya berubah menjadi tatapan sedih.

“Tapi tadi aku benar-benar khawatir, Oppa. Aku takut kalau kau tidak akan sadar. Aku takut kalau Se-hun berbohong padaku tentang penyakitmu yang sebenarnya. Aku takut kalau…”

“Maafkan aku.” Jun-myeon memotong kata-kata gadis berambut cokelat itu. “Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.”

“Apakah kata-katamu itu bisa kupegang?”

“Tentu saja.”

 

***

Jun-myeon melepaskan mantel kremnya lalu diletakkan di sofa yang ada di kamarnya. Akhirnya ia bisa keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama tiga hari. Pria itu duduk sebentar di tepi ranjangnya. Kepalanya masih terasa pening meski tidak sampai membuatnya harus berbaring. Terdengar suara gaduh dari luar kamarnya. Sebuah senyum tercipta di wajahnya yang rupawan. Ia mendesah kemudian bangkit dari duduk dan beranjak keluar kamar.

“Han Ye-rin, kau mau memasak atau mengacaukan dapurku?” Jun-myeon berjalan menuju dapur dan menemukan gadis bersweater abu-abu itu sedang berusaha mengambil apron di lemari yang ada di atas kepalanya. Ia mendekat, berdiri di samping gadis dengan tinggi sebatas bahunya itu.

“Berhenti mengomel dan bantu aku mengambil apron di atas sana. Kenapa kau meletakkannya di atas? Seingatku, aku meletakkannya di laci bawah.” Gadis itu hapal karena memang sering datang mengacak-acak apartement Jun-myeon.

“Siapa yang mengomeli siapa?” Ia berpindah ke belakang gadis itu lalu mengambil apron di lemari dengan mudah.

Tanpa Jun-myeon sadari, tindakannya itu berbahaya bagi Ye-rin. Gadis itu tak berkutik. Aroma tubuh pria itu membuat jantungnya menggila dan serasa tak mendengar apa-apa. Ia bahkan takut kalau pria itu dapat mendengar suara jantungnya. Jun-myeon memberikan apron itu pada Ye-rin. Gadis itu kembali sadar dan berusaha menerima benda itu dengan sikap normal. Apron itu langsung ia kalungkan di leher dan tanpa aba-aba, Jun-myeon membantu mengikat tali apron di punggungnya.

“Apa yang akan kau buat?” Lagi-lagi suara itu memaksanya untuk tetap bertindak seperti biasa.

“Emm…” Ye-rin berpikir sejenak. “Aku berencana membuat bubur untukmu atau, apa kau ingin makan sesuatu yang lain?”

Dahi pria itu mengerut, memikirkan sesuatu. Lalu menatap Ye-rin, “Sebenarnya aku sedang tidak ingin makan apapun. Lidahku masih terasa pahit.”

“Tidak boleh begitu. Kau harus makan lalu minum obat. Dengan begitu kau bisa cepat pulih sepenuhnya.”

Ye-rin mengambil wortel dari lemari pendingin lalu meletakkannya di meja. Tangannya dengan cekatan mengambil pisau dan mulai mengupas sayuran berwarna oranye itu.

“Sepertinya aku bisa pulih meski tanpa obat-obatan yang pahit itu,” Jun-myeon memasukkan tangannya ke dalam saku. Matanya tertuju pada wortel yang ada di tangan Ye-rin, “Karena kau selalu ada di sampingku.”

Pisau itu hampir saja melukai tangan Ye-rin. Pria itu benar-benar membuatnya kehilangan konsentrasi. Ia meletakkan pisau lalu mendorong pria yang sejak tadi berdiri di sebelahnya itu menuju ruang makan. Jun-myeon yang merasa tidak melakukan kesalahan hanya menatap Ye-rin dengan dahi mengernyit.

“Lebih baik kau duduk di sini dan tunggu sampai makanannya jadi.” Ye-rin berbalik dan kembali ke tempat asal untuk meneruskan kegiatannya.

 

***

 

Angin musim semi berembus perlahan memainkan rambut hitam Jun-myeon dan membuatnya sedikit berantakan. Ia sedang butuh angin segar setelah hampir seharian membaca tumpukan laporan yang memenuhi meja kerjanya. Salah satu caranya adalah dengan duduk di bangku taman yang ada di atap gedung seperti sekarang. Ia harus mengistirahatkan tubuhnya supaya tidak tumbang seperti tempo hari dan membuat khawatir banyak orang. Khususnya, Han Ye-rin. Akhir-akhir ini ia selalu memikirkan gadis itu. Bahkan untuk saat ini. Tidak, tidak, yang benar adalah gadis itu selalu ada dalam pikirannya sejak dua tahun yang lalu. Sebuah pesan masuk membuat ponsel Jun-myeon bergetar dalam saku.

Dari : Ye-rin

Oppa, kau akan pulang jam berapa hari ini?

Pria itu tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ibu jarinya mulai sibuk mengetik. Lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Tangannya mengambil minuman kaleng hangat yang ia letakkan di samping dan meminumnya. Matanya kembali menatap deretan gedung yang memenuhi kota di bawah sana, melihat awan yang putih bersih yang menghiasi langit biru, serta merasakan angin yang menghantam lembut membelai wajahnya.

Hyung.”

Jun-myeon menoleh. Se-hun sudah berdiri di sampingnya kemudian ikut duduk di bangku panjang itu. Kedua pria itu sama-sama memandang ke arah depan.

Pria berbahu lebar itu menghirup udara dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. “Hah, segar sekali di sini.”

“Ya, kau benar.” Jun-myeon tersenyum sambil menatap sahabatnya itu sekilas kemudian kembali melihat langit.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Banyak.”

“Eei, jangan terlalu banyak pikiran, Hyung. Bisa-bisa kau mengalami penuaan dini.”

“Aku memang sudah tua.”

Se-hun mendecakkan lidah. Wajahnya cemberut lucu sekali. Pria itu memang masih suka bersikap seperti anak kecil meski usianya sudah menginjak kepala dua. Mereka berdua sama-sama diam menikmati hembusan angin yang menyegarkan.

Hyung.” Se-hun buka suara.

“Ada apa?”

“Sepertinya aku telah menyukai seseorang.”

Kata-kata itu membuat Jun-myeon mengalihkan pandangan dan menatap sahabatnya itu dengan rasa penasaran, “Wah, siapa gadis yang telah membuat bocah sepertimu tunduk?”

Pria berdagu lancip itu tak langsung menjawab. Ia malah mengembuskan napasnya seperti orang yang putus asa, “Tapi sepertinya, dia menyukai pria lain.”

“Dia sudah memiliki kekasih?”

Se-hun menggeleng membuat alis Jun-myeon hampir beradu. “Lalu? Katakan padaku, siapa dia? Mungkin saja aku mengenalnya.”

“Kau sangat mengenalnya, hyung.”

“Aku mengenalnya? Siapa? Lee Ah-young? Han Hye-kyung? Kim Yeon-ju? Ji Young-shin?”

“Han Ye-rin.”

Jun-myeon terdiam. Terasa hampa seketika. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah serius milik Oh Se-hun. Pria tampan itu hanya menatap Jun-myeon, menunggu kata-kata selanjutnya.

Hyung.” Se-hun memanggilnya karena Jun-myeon tak kunjung bersuara. “Kau kenapa? Kenapa diam saja?”

Jun-myeon menoleh ke arah Se-hun, mengamati wajah sahabat yang sudah dianggap sebagai adiknya.

“Se-hun ah.”

 

***

 

Matanya memeriksa arloji yang melingkar di tangan kiri. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, artinya sudah tengah malam. Pintu besi di hadapannya bergeser terbuka. Kosong. Jun-myeon segera masuk kemudian menekan tombol angka 12. Untuk beberapa saat ia hanya diam sampai tiba di lantai tempat unitnya berada.

Ting! Pintu itu terbelah dan Jun-myeon langsung melangkah keluar, berjalan menuju pintu bernomor 1205. Ia mengembuskan napas lelah sebelum menekan tombol-tombol kode pintunya. Tangannya menarik membuka pintu setelah terdengar suara kode diterima. Dan betapa terkejutnya Jun-myeon ketika menemukan seseorang di depannya.

“Selamat ulang tahun!”

Han Ye-rin berdiri di hadapannya dengan sebuah kue tart berhiaskan lilin menyala di tangannya, dan tentu saja dengan senyum yang lebar. Jun-myeon hanya terdiam tanpa ekspresi. Baiklah, ia benar-benar terkejut hingga mulutnya sedikit terbuka. Ia mengamati kue dan lilin-lilin itu. Ia tetap diam sampai gadis itu selesai menyanyikan lagu ulang tahun.

“Apa kau terkejut? Dari raut wajahmu sepertinya kejutanku berhasil.”

Jun-myeon mengangguk. “Aku benar-benar terkejut.”

Ye-rin tertawa senang. Gadis itu merasa puas dengan keberhasilan rencananya malam ini. “Kalau begitu, cepatlah buat permohonan dan tiup lilinnya.”

Melihat tawa gadis itu membuat Jun-myeon ikut tersenyum. Ia memejamkan mata dan menangkup tangannya di depan dada. Membuat permohonan seperti yang dikatakan Ye-rin. Ia kembali membuka matanya beberapa detik kemudian lalu meniup lilin itu hingga apinya mati dan menyisakan asap dengan bau yang khas.

“Terima kasih. Aku sangat berterima kasih.”

Ye-rin tersenyum menatap mata Jun-myeon. “Ayo kita makan kuenya.”

Mereka berjalan menuju ruang makan. Lagi-lagi Jun-myeon terkejut melihat meja makannya yang dipenuhi piring dan mangkuk berisi makanan. Ye-rin membimbing Jun-myeon untuk duduk membantu pria itu melepas jas abu-abu yang masih melekat di tubuhnya dan meletakkannya pada sandaran kursi. Lalu ia menempatkan dirinya sendiri di kursi yang menghadap pria itu. Jun-myeon masih mengamati satu per satu hidangan yang tersaji di depannya. Sup rumput laut, japchae daging, tumis kentang, ikan, telur gulung, dan tentu saja kimchi.

“Kau yang memasak semua ini?”

“Ya, tentu saja. Hari ini aku memasak makanan rumahan karena kau terlalu sering makan makanan barat, Oppa.” Ye-rin menatap lelaki yang masih sibuk mengamati satu per satu hidangan di hadapannya. “Cobalah supnya. Aku baru pertama kali membuat sup rumput laut, jadi jangan terlalu berharap dengan rasanya.”

Jun-myeon mengangkat sendok dan mengambil sedikit kuah sup rumput laut buatan Ye-rin. Lidahnya mencoba menilai rasa sup itu. Wajahnya benar-benar serius membuat Ye-rin menahan napas tanpa sadar.

“Hei!”

Ye-rin terkejut dengan bentakan Jun-myeon. Ia menatap pria itu takut-takut. “Kenapa? Tidak enak ya?”

Mata itu menatap Ye-rin dengan raut serius. “Ini sangat enak.” Tangannya bergerak lagi melahap sup dan menyendok nasi ke mulut lalu tersenyum pada Ye-rin.

Kini Ye-rin bisa bernapas lega. “Syukurlah, aku senang kalau kau menyukainya. Oppa, makanlah yang banyak.”

 

***

 

Jun-myeon mengamati Ye-rin yang sedang memotong potongan melon agar menjadi lebih kecil dan lebih mudah dimakan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sofa di ruang tamu.

“Berapa lama kau menyiapkan semuanya?” Tanya Jun-myeon sambil mengambil potongan melon di piring.

“Seharian? Aku sudah merencanakannya sejak kemarin. Aku bahkan tidak bisa berhenti memikirkannya.” Ye-rin juga mengambil melon lalu ikut bersandar di sofa. “Aku ke sini siang tadi, membuat kue dan setelah itu baru mulai memasak. Aku terus bertanya pada ibuku tentang bagaimana cara membuat sup rumput laut sampai dia kesal karena aku selalu bertanya.” Ia tertawa. “Dan aku senang dengan hasilnya. Juga senang karena kau terkejut dengan ulahku.” Ye-rin menoleh ke arah Jun-myeon. “Bagaimana? Kau suka dengan hadiahku?”

“Tentu saja, aku sangat menyukainya.”

Ye-rin tersenyum. Ia merasa sangat senang mendengarnya. Hening, karena mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ye-rin mengambil sepotong melon lagi lalu menoleh menatap lelaki itu. “Oppa.”

“Hm?”

“Kurasa, lebih baik kau kembali ke rumah dan berbaikan dengan ayahmu. Dan..terimalah perjodohan itu.”

“Kenapa tiba-tiba kau bicara begitu?”

“Aku hanya tidak ingin melihatmu tinggal sendirian seperti ini sementara kau masih memiliki rumah dan keluarga. Mereka mungkin berharap kau pulang. Jika kau masih membenci ayahmu, maka pikirkanlah ibumu. Beliau pasti mengharapkan putra kesayangannya ini pulang ke rumah. Menghindar bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah.”

“Jadi kau menyuruhku pulang dan menerima perjodohan itu?” Jun-myeon menegakkan punggungnya. “Ck, itu adalah hal yang mustahil.”

“Lalu apa kau akan terus seperti ini? Menghindar dari keluargamu dan hidup sendirian hanya karena masalah perjodohan? Kau hanya perlu menyetujuinya atau menolaknya dengan alasan, Oppa! Bukan dengan cara menghindar seperti ini.”

“Aku tidak sendirian. Ada kau yang selalu di sampingku.”

“Aku hanya teman baikmu, Oppa. Aku bisa pergi kapan saja.” Gadis itu memberi tatapan tajam pada Jun-myeon.

“Ayahku akan tetap meneruskan perjodohan ini meskipun aku membuat beribu alasan untuk menolaknya karena baginya pernikahan ini bisa memberinya banyak keuntungan.”

“Kalau begitu, terimalah.” Kepala Ye-rin menunduk memainkan jari dan menatap kosong meja di depannya. Ia tidak berani melihat mata Jun-myeon karena air matanya bisa tumpah kapan saja.

“Apa kau serius mengatakannya?”

“Ya.” Suara Ye-rin terdengar lirih. Tenggorokannya terasa sakit menahan tangis.

“Kalau begitu, angkat kepalamu dan tatap mataku.”

Dengan ragu, Ye-rin menoleh dan menatap wajah pria itu. Sejujurnya, ada rasa sesak dalam hati. Ia benar-benar ingin menangis saat ini.

Jun-myeon menghadapkan tubuhnya ke arah Ye-rin, menatap gadis itu sayu. “Han Ye-rin, tentang isi harapanku tadi, apa kau tahu?”

“Bagaimana aku bisa mengetahuinya? Kau mengucapkannya di dalam hati.”

Tatapan Jun-myeon benar-benar membuat jantung Ye-rin kembali menggila. “Harapanku adalah, setiap hari ulang tahunku, kau akan menjadi orang pertama yang memberiku selamat, membuatkan sup rumput laut, dan membawa kue ulang tahunku.” Pria itu tersenyum penuh sayang. “Aku ingin selalu seperti ini di tahun-tahun berikutnya.”

“Hei, harapan macam apa itu? Seharusnya kau berdoa untuk kesehatan dan kelancaran usahamu.” Ye-rin mencoba menghilangkan sesak dengan sedikit canda.

“Ini adalah harapanku, jadi terserah padaku.”

Ye-rin merasakan tangan Jun-myeon yang hangat menggenggam tangannya yang terasa dingin.

“Jadi, apa kau mau mewujudkan harapanku?”

“Apa? Hei, tentu saja. Aku bisa membuatkan sup untukmu setiap kau ulang tahun. Itu permintaan yang mudah.” Ye-rin berusaha berbicara dengan normal. Tapi ia merasakan getaran pada suaranya sendiri.

“Dasar bodoh.” Guman Jun-myeon. “Baiklah, mungkin jika melihat benda ini, kau akan mengerti. Tunggu sebentar.” Jun-myeon bangun lalu berjalan menuju ruang makan karena jasnya masih di sana. Ia mengambil sesuatu dari saku jas lalu lalu kembali menghampiri Ye-rin. Namun kali ini ia tidak duduk di samping gadis itu melainkan berlutut di depannya.

Oppa, apa yang kau lakukan?” Ye-rin tidak mengerti dengan tindakan pria itu.

“Sebenarnya aku ingin melakukannya di tempat yang indah tapi, setelah memikirkannya kembali, kurasa lebih cepat lebih baik.” Jun-myeon menatap mata Ye-rin sementara gadis itu hanya diam. Ia membuka kotak kayu berukuran kecil. Ada sebuah cincin emas putih berukir tanpa mata.

“Jika kau menyuruhku pulang, aku akan pulang. Tapi perjodohan itu, aku tidak akan menyetujuinya. Karena, yang kuinginkan adalah dirimu. Aku akan pulang membawamu dan mengenalkanmu kepada orang tuaku. Aku tidak peduli dengan tanggapan mereka. Setidaknya, aku sudah memberi kejelasan seperti yang kau maksud. Dan inilah jawabanku untuk mereka. Aku, telah memilihmu.”

Oppa…”

“Di waktu yang indah ini. Aku Kim Jun-myeon, memintamu Han Ye-rin untuk menjadi istriku.”

“Tapi…”

“Aku mencintaimu, Han Ye-rin. Maukah kau menemaniku di sisa umurku yang entah kapan akan berakhir. Maukah kau menjadi tua bersamaku?”

Pertahanan itupun runtuh. Ye-rin benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Ia membiarkan cairan bening itu lolos dari kelenjarnya, membasahi pipi. Detik berikutnya, ia mulai terisak.

“Apakah jika aku mengatakan ‘iya’…” Dengan susah payah gadis itu bicara di antara isaknya, “Jika aku mau menjadi istrimu, apa kau mau berjanji untuk melindungi, menyayangi dan mencintaiku selamanya? Maukah kau berjanji untuk hanya selalu memandangku?”

Jun-myeon menyingkirkan air mata dari pipi gadis itu. Menatap wajahnya lekat-lekat lalu menggenggam kedua tangan Ye-rin hangat. “Aku akan melindungi, menyayangi, mencintaimu, dan hanya memandangmu. Aku tidak berani berjanji tapi, aku akan berusaha keras untuk itu. Jadi, apa kau mau menerima cincin ini?”

“Apa kau mau memasangkannya di jariku?” Ye-rin mengulurkan tangan kirinya.

Sebuah tarikan di kedua sudut bibir yang diberi nama senyuman tercipta di wajah mereka. Tanpa berkata-kata lagi, Jun-myeon menyematkan cincin itu di jari manis wanita yang kini menjadi calon istrinya. Ia menggenggam tangan itu dan memberinya kecupan hangat di bibir mungil Han Ye-rin.

“Terima kasih, Ye-rin. Aku mencintaimu.” Bisik pria itu mesra. Dan Jun-myeon merasa, pertemuan dua tahun yang lalu adalah takdir terindah yang digariskan Tuhan untuknya.

 

***

 

Epilog

 

Aku akan pulang larut malam.’

Jun-myeon membalas pesan Ye-rin. Lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Ia mengambil minuman kaleng hangat yang diletakkan di samping dan meminumnya. Matanya kembali menatap deretan gedung yang memenuhi kota di bawah sana, melihat awan yang putih bersih yang menghiasi langit biru, serta merasakan angin yang menghantam lembut membelai wajahnya.

“Hyung.”

Jun-myeon menoleh, Se-hun sudah berdiri di sampingnya. Pria itu duduk di sebelahnya. Kedua pria itu sama-sama memandang ke arah depan.

Se-hun menghirup udara dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. “Hah, segar sekali di sini.”

“Ya, kau benar.” Jun-myeon hanya tersenyum sambil menatap sahabatnya itu sekilas.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Banyak.” Ya, memang banyak yang ia pikirkan saat ini.

“Eei, jangan terlalu banyak pikiran, Hyung. Bisa-bisa kau mengalami penuaan dini.”

“Aku memang sudah tua.” Oh, tidak, umurnya bahkan hampir mendekati kepala tiga.

Se-hun mendecakkan lidah. Wajahnya cemberut lucu sekali. Pria itu memang masih suka bersikap seperti anak kecil meski usianya sudah menginjak kepala dua. Mereka berdua sama-sama diam menikmati hembusan angin yang menyegarkan.

“Hyung.” Se-hun buka suara.

“Ada apa?”

“Sepertinya aku telah menyukai seseorang.”

Kata-kata itu membuat Jun-myeon mengalihkan pandangan dan menatap sahabatnya itu dengan rasa penasaran, “Wah, siapa gadis yang telah membuat bocah sepertimu tunduk?”

Pria berdagu lancip itu tak langsung menjawab. Ia malah mengembuskan napasnya seperti orang yang putus asa, “Tapi sepertinya, dia menyukai pria lain.”

“Dia sudah memiliki kekasih?”

Se-hun menggeleng membuat alis Jun-myeon hampir beradu. “Lalu? Katakan padaku, siapa dia? Mungkin saja aku mengenalnya.”

“Kau sangat mengenalnya, hyung.”

“Aku mengenalnya? Siapa? Lee Ah-young? Han Hye-kyung? Kim Yeon-ju? Ji Young-shin?”

“Han Ye-rin.”

Jun-myeon terdiam. Terasa hampa seketika. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah serius milik Oh Se-hun. Pria tampan itu hanya menatap Jun-myeon, menunggu kata-kata selanjutnya.

“Hyung.” Se-hun memanggilnya karena Jun-myeon tak kunjung bersuara. “Kau kenapa? Kenapa diam saja?”

Jun-myeon menoleh ke arah Se-hun, mengamati wajah sahabat yang sudah dianggap sebagai adiknya. Mata itu menatapnya tajam.

“Se-hun ah.” Jun-myeon menepuk pelan bahu lebar Se-hun dan membiarkan tangannya bertengger di sana. “Han Ye-rin, gadis itu, dia adalah milikku.” Ya, Ye-rin adalah miliknya. Ia mencintai Ye-rin meski gadis itu belum mengetahuinya. “Maafkan aku.”

Bukan terkejut, Se-hun malah tersenyum. Jun-myeon mengernyit heran melihatnya. “Kau tersenyum? Apanya yang lucu?”

“Akhirnya kau sadar, Hyung.” Senyum Se-hun belum memudar.

“Apa maksudmu?”

“Selama ini kau sudah mencintainya, tapi kau tidak pernah mengatakannya. Dia menjadi ragu, apakah harus terus di dekatmu atau harus menjauh. Dia juga mencintaimu. Dia ingin mengakuimu sebagai miliknya tapi tidak berani. Dia memiliki prinsip, lelaki yang harus memulai. Tapi dia mengira kau hanya menganggapnya sebagai adik dan teman baik.”

Jun-myeon melongo mendengar cerita Se-hun. “Bagaimana kau tahu?”

Sebuah desahan keluar dari mulut Se-hun. Pria itu menengadah menatap langit. “Kadang, dia bercerita padaku. Kami sering minum bersama.”

Mata Jun-myeon melebar. “Apa? Jadi kalian sering menghabiskan waktu bersama di belakangku?”

Se-hun menoleh menatap Jun-myeon. “Hanya beberapa kali. Salahmu sendiri kenapa terlalu sibuk bekerja. Dia juga sering bertanya, ‘apa ada wanita yang sedang dekat dengan Jun-myeon Oppa’, ketika kujawab ‘iya’, dia langsung memasang wajah kecewa dan minum soju seperti orang kesetanan.”

“Hei, Oh Se-hun!” Jun-myeon bangkit dan mencengkram kerah kemeja Se-hun, menariknya. Tatapan matanya berubah garang seketika, “Kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Kenapa kau membiarkanku menjadi orang jahat dan tidak tahu apa-apa?!”

“Kenapa?” Se-hun menatap wajah Jun-myeon dengan tenang. Tidak berusaha memberontak. “Kau mau memukulku? Silakan saja. Aku pantas dihukum olehmu. Aku juga merasa bersalah, Hyung.” Ia pasrah jika Jun-myeon memang ingin memukulnya. Tapi ternyata pria itu meregangkan cengkramannya dan kembali duduk. “Maafkan aku, Hyung.”

“Aku memang bodoh.”

“Ya, Hyung memang bodoh.”

Jun-myeon menoleh ke arah Se-hun dengan wajah kesal. “Hei!”

Bukannya takut, Sehun justru tertawa melihat raut wajah Jun-myeon.

“Kau tertawa lagi?”

“Kalau begitu, akui perasaanmu padanya.”

***

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Gotta Be You – (Oneshot)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s