[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 6)

Poster secret wife

Tittle    : SECRET WIFE

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note    : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 6 (Beautiful Moments)

“Aku harus kembali ke kantor. Ada sedikit masalah disana. Sebentar lagi eomma datang. Kau baik-baik sajakan jika aku tinggal?”, tanya Jungra pada adiknya yang kini terduduk di ranjang di rumah sakit.

Eoh. Gwenchana. Pergilah!”, jawab Junghae.

Jungra menghempuskan nafas beratnya, “Tapi aku tetap tak tega meninggalkanmu!”, kata Jungra lagi.

“Sejak kapan kau jadi perhatian denganku, eonni”, kata Junghae dengan nada tak percayanya. Meskipun dia tahu jika raut wajah kakak perempuannya terlihat khawatir.

“Ck, yeoja ini. Bagaimana aku tak mengkhawatirkanmu? Bagaimanapun juga hanya kau satunya-satunya adikku”, kata Jungra dengan nada kesalnya.

Jeongmalyo! Aku jadi tersentuh”, Junghae berkata dengan nada yang di buat semanis mungkin.

Tapi itu justru membuat kakaknya memutar bola matanya malas melihat tinggkah lucu adiknya. “Aish, jinja. Terserah padamu, aku pergi dulu”, dia segera berbalik meninggalkan Junghae.

“Hati-hati eonni”.

Brak, pintu ruang inap Junghae tertutup seiring menghilangnya kakak perempuannya. Ya, setelah kejadian kemarin, Junghae dipindahkan ke salah satu rumah sakit di Seoul. Mengingat cidera yang dialaminya belum pulih sempurna.

Kruk.. kruk… suara perut Junghae. Dia melirik meja disebelah kanan ranjangnya tempat makanannya berada. “Kenapa mejanya harus disebelah kanan. Aku pasti tak dapat mengambilnya”, rintihnya sendiri. “Ah, eottokkae? Aku benar-benar sangat lapar”, lanjutnya sambil memegang perutnya. Dengan hati-hati Junghae berusaha meraih makanannya dengan tangan kirinya, karena memang tangan kanannya masih belum boleh digerakan dengan sembarangan.

Dari arah luar, datanglah seorang namja dengan sebuket bunga ditangannya. Dia melihat Junghae sebentar dari kaca pintu ruang inap Junghae. Namja itu tersenyum melihat Junghae telah sadar. Dia mencium buket bunganya sebentar sebelum memasuki ruang inap Junghae. ‘Semoga kau suka, Junghae’, katanya dalam hati.

Namja itu segera membuka pintu ruang itu. Dia segera berlari saat melihat Junghae akan terjatuh dari ranjang saat akan mengambil makanan. Dengan sigapnya dia menangkap tubuh Junghae, sebelum Junghae benar-benar jatuh ke lantai. “Akh”, rintih Junghae.

Gwenchanayo?”, tanya namja itu.

Ne, gomapseum….”, Junghae tak melanjutkan kata-katanya saat dia tahu siapa yang menangkap tubuhnya. Dia begitu termangu menatap namja tersebut. Untuk seperkian detik mereka saling menatap. Hingga  namja itu memberikan senyum menawannya, barulah Junghae tersadar. “Oppa”, kata Junghae.

Namja itu membantu Junghae kembali ke ranjangnya. “Hampir saja. Kau sedang apa?”, tanya namja itu setelah memastikan Junghae nyaman dengan posisinya. Dia duduk di kursi samping ranjang Junghae.

“Aku lapar, aku hanya ingin mengambil makanan. Tapi aku malah terjatuh seperti tadi”, jawab Junghae. “Apa itu?”, lanjut Junghae saat melihat namja itu membawa sesuatu ditangannya.

“Ah, ini bunga untukmu”, namja itu segera memberikan buket bunganya.

Junghae mencium wangi bunganya, “Thank you. Bagaimana oppa tau jika aku sangat menyukai mawar putih”, tanya Junghae.

“Kau laparkan?”, kata namja itu yang justru mengalihkan pertanyaan Junghae. Dia bahkan bersegera mengambilkan makanan untuk Junghae. Dia kemudian memberikannya pada Junghae. “Ini, makanlah”. Namja itu mengambil kembali buket bunganya dan ditaruh di meja.

Junghae hanya pasrah menerima makanannya. Dia tahu jika namja yang ada dihadapannya hanya mengalihkan pertanyaannya. Dia tak mempermasalahkannya, karena dia memang benar-benar sudah lapar. Junghae makan dengan tangan kirinya, karena memang tangan kakannya sakit jika dia menggerakannya dengan sembarangan. Karena tak terbiasa, dia terlihat kesulitan. Melihat hal itu, namja yang ada dihadapan Junghae merebut kembali makanan Junghae.

“Biar aku ku suapi!”, tawar namja tersebut.

Aniyo”, Junghae menggeleng. “Tangan kiriku baik-baik saja. Aku akan makan menggunakan tangan kiri”, tolak Junghae. Dia berniat merebut makanannya, namun namja tersebut tak memperbolehkannya. Namja itu justru mengambil sesendok makanan dan memberikannya pada Junghae.

Cha, makanlah!”, tawar namja tersebut.

Junghae hanya bisa pasrah dengan tingkah namja tersebut. Karena memang dia merasa kesulitan makan dengan tangan kirinya. Dia kemudian membuka mulutnya, mengunyah lalu menelan makanannya.

“Bagaimana keadaanmu?”, tanya namja itu disela-sela kegiatannya menyuapi Junghae.

Gwenchanayo, dokter bilang ini akan sembuh dalam beberapa hari. Dengan syarat aku tak boleh menggerakkannya terlalu keras dan rajin meminum obatku”, jawab Junghae disela-sela makannya.

“Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa. Bukankah Junghae belum makan! Aish, dia pasti akan kelaparan”, kata Jungra pada dirinya sendiri. “Ahjussi, bisakan kau putar kembali mobilnya. Kita harus kembali lagi ke rumah sakit”, pinta Jungra pada sopirnya.

Ye, algeuseumnida”, jawab sopirnya.

Mobil itu kembali menuju rumah sakit tempat Junghae berada. Dalam waktu sepuluh menit mereka telah sampai kembali di rumah sakit, karena memang mereka belum jalan terlalu jauh. Jungra segera menuruni mobilnya setelah mobil itu berhenti. Dengan langkah tergesa namun hati-hati dia melangkah menuju ruang inap adiknya. Dia memasuki lifh karena memang ruangnya terletak di lantai 5.

Jungra melangkah buru-buru saat pintu lifh terbuka. Dia segera membuka pintu ruang inap Junghae, “Junghae-ya aku kembali. Kau belum makankan? Kau pas….”, Jungra tak melanjutkan perkatannya saat melihat seorang namja tengah membersihkan sekitar  mulut Junghae dengan ibu jarinya. Jungra menghentikan langkahnya seketika. Dia begitu termangu melihatnya. Mereka tampaknya tak menyadari kehadiran Jungra. Jungra hanya terdiam mengamati siapa sebenarnya namja itu, karena memang posisi namja itu yang memunggunginya.

Gomapseumnida, oppa”, kata Junghae kemudian setelah namja itu membersihkan sekitar mulutnya.

Namja itu kemudian memberikan segelas air untuk Junghae. Dengan segera Junghae meminumnya. Saat meneguk airnya, Junghae tahu jika ada seseorang yang tengan berdiri di pintu ruangannya. “Eonni”, kata Junghae saat tahu siapa yang tengah berdiri disana. Jungra tersenyum dan dia kembali melanjutkan langkahnya. Saat itulah namja itu menoleh ke arah Jungra.

“Ow, Ra-ya”, sapa namja itu. Bahkan namja itu kini tersenyum pada Jungra.

“Chanyeol oppa. Apa oppa lakukan disini?”, kata Jungra saat mengenali namja yang menyapanya.

“Pertanyaan macam apa itu”, kata Junghae dengan nada kesalnya. “Tentu saja dia menjengukku eonni”, lanjutnya.

“Bukan itu maksudku”, sela Jungra.

“Ah, tadi dia membersihkan makanan di sekitar mulutku. Dia bahkan menyuapiku”, kata Junghae dengan manisnya.

“Itu karena dia terlihat kesusahan saat makan tadi”, jelas Chanyeol kemudian.

“Ah”, kata Jungra paham.

“Kenapa eonni kembali? Bukankah kau bilang jika ada sedikit masalah dengan kantormu?”, tanya Junghae.

“Aku aku ingat kau belum makan tadi, karena itu aku kembali”, jelas Jungra.

Eonniku memang perhatian”, gumam Junghae., namun masih dapat didengar oleh Chanyeol, sedang Jungra tak dapat mendengarnya. Chanyeol tersenyum mendengarnya.

“Apa yang kau katakan?”, tanya Jungra penasaran.

“Bukan apa-apa”, jawab Junghae kemudian.

“Tapi bagaimana oppa tahu jika Junghae masuk rumah sakit?”, tanya Jungra lagi, namun kali ini pertanyaannya ditujukan pada Chanyeol.

“Baekhyun yang memberitahuku”, jawab Chanyeol.

“Baekhyun. Seingatku aku belum memberitahunya”, jelas Jungra lagi.

“Jongin oppa yang memberitahukannya”, tutur Junghae.

“Ah, tapi mengapa dia belum kemarin? Bukankan kau sepupu kesayangannya?”, ada nada sedikit tak suka dari ucapan Jungra.

“Dia masih di Jepang”, jawab Junghae lagi.

“Sudahlah! Kenapa jadi membahas Baekhyun”.

“Kau yang memulaiya eonni”.

Na?”, tutur Jungra dengan nada sedikit ditinggikan.

Eoh”.

Chanyeol hanya tersenyum melihat adik kakak itu saling beradu mulut.

“Kenapa oppa tersenyum? Apa ada yang lucu?” tanya Junghae yang tak sengaja melihat Chanyeol tersenyum.

Aniyo”, jawab Chanyeol.

“Dia pasti tersenyum karena melihat kita”, sela Jungra. “Karena kau sudah makan, jadi aku erasa tenang meninggalkanmu”, lanjutnya. “Oppa, bisakan kau menolongku menjaga Junghae? Sebentar lagi eomma akan datang, kau bisa pergi setelahnya”, pinta Jungra pada Chanyeol.

Ne”, jawab Chanyeol.

Gomawoyo oppa. Pukul saja kepala jika dia rewel”, lanjut Jungra lagi.

Yak, kau pikir aku ini apa? Dan bagaimana mungkin kau menitipkanku pada Chanyeol oppa? ”, protes Junghae.

“Jangan khawatir, dia itu namja yang baik. Aku pergi dulu. Jangan rewel dengannya, arrachi?”, kata Jungra pada adiknya. Dia bahkan mengacak-acak rambut adiknya sebagai ungkapan sayangnya.

Arraseo. Hati-hati di jalan eonni. Belikan aku jjajangmyeong saat kembali nanti”, pinta Junghae.

Ne. Aku pergi dulu oppa”, pamit Jungra.

Ne, hati-hati”, jawab Chanyeol.

Jungra segera berlalu meningglkan mereka. Suasana canggung menyelimuti mereka setelah kepergian Jungra. Hingga suara dering ponsel terdengar setelahnya. Junghae berusaha mencari ponselnya kerena ia yakin jika ponselnyalah yang berbunyi. Chanyeol yang melihat ponsel tersebut di meja, dia segera mengambilnya dan memberikannya pada Junghae. Junghae melihat sebentar layar ponselnya sebelum mengangkat panggilan tersebut.

“Ow, oppa! Untuk apa kau melakukan video call padaku”, tanya Junghae mngawali pembicaraannya.

“Aku ke kamar mandi sebentar”, pamit Chanyeol.

Ne”, jawab Junghae.

Sehun dapat melihat jika Junghae memakai pakaian yang menurutnya bukan pakaian yang biasa Junghae pakai. Lebih tepatnya seperti pakaian rumah sakit. “Yak, kau ada dimana sekarang? Kenapa dengan pakaianmu, seperti pakaian rumah sakit?”, tanyanya.

Eoh, aku memang di rumah sakit sekarang”, jawab Junghae.

Mwo?”, kata Sehun kaget. “Kenapa memangnya? Kau terluka? Apa begitu parah? Kau baik-baik sajakan?”, sederet pertanyaan muncul dari mulut Sehun. Dia tampak begitu cemas mendengar Junghae berada di rumah sakit.

“Aku baik-baik saja oppa, jangan khawatir. Ini akan sembuh dalam beberapa hari”.

Terlihat Sehun membuang nafas leganya. “Syukurlah! Bagaimana bisa kau terluka”, tanyanya lagi. Tak dapat dipungkiri bahwa dia memang benar-benar mengkhawatirkan Junghae.

“Kecelakan kecil saat melihat proyek pembangunan gedung baru perusahaan. Sebenarnya ada apa oppa menelfonku, bahkan sampai melakukan video call segala?”, tanya Junghae yang begitu penasaran dengan tingkah Sehun yang lain dari biasanya. Biasanya dia hany cukup mengirim pesan, dan akan menelfon jika benar-benar perlu. Tapi kali ini dia melakukan video call padanya.

“Sebenarnya..”, Sehun tak melanjutkan kata-katanya, dia terlihat ragu mengatakannya.

Waeyo? Katakanlah!”, pinta Junghae.

“Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu. Sayangnya kau malah berada di rumah sakit sekarang”, jelas Sehun kemudian.

“Memangnya apa yang kau inginkan”.

“Hari ini adalah ulang tahun Chanyeol hyung, aku ingin kau memberikan kejutan untuknya. Aku tak bisa ke Korea karena aku benar-benar sibuk mempersiapkan peluncuran produk baru perusahaan”.

Saat itulah Chanyeol keluar dari kamar mandi.

Jeongmalyo!”, Junghae terlihat tak percaya.

Sehun mengangguk.

“Dia ada disini”, lanjut Junghae.

Ne, jinjayo?”, Sehun terkejut mendengarnya.

Junghae mengangguk. “Apa kau mau bicara dengannya?”, tanya Junghae kemudian. “Oppa, Sehun oppa ingin bicara denganmu”, lanjut Junghae, dia berkata pada Chanyeol. Dia memberikan ponselnya pada Chanyeol.

Chanyeol yang menerima ponsel tersebut, kemudian menatap layar ponsel itu.

Hyung”, kata Sehun setelah melihat wajah Chanyeol.

Eoh, ada apa?”, tanya Chanyeol.

Saengil chukkae”.

Terlihat Chanyeol membuang nafasnya. Dia bahkan lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. “Gomawo. Aku bahkan lupa jika hari ini aku berulang tahun”.

“Apa kau begitu sibuk? Apa kau sedang banyak pikiran? Atau kau sudah mulai pikun? Kau bahkan baru genap berusia 28 tahun, hyung”.

Chanyeol hanya menanggapinya dengan tersenyum. Mungkin Sehun sedikit benar. Begitu sibuknya dia dan juga begitu banyak hal yang dipikirkannya akhir-akhir ini, hingga dia melupakan ulang tahunnya sendiri.

“Setidaknya carilah seorang kekasih. Kau bahkan sudah cukup berumur untuk menikah. Apa kau tak ingin menyusul Jongdae hyung?”, lanjut Sehun kemudian.

‘Aku bahkan sudah memiliki istri Sehun, jadi untuk apa aku mencari seorang kekasih’, kata Chanyeol dalam hati. “Akan ku pikirkan nanti”, hnya kalimat itu yang bisa Chanyeol katakan.

“Apa kau akan membiarkan omonim menjodohkanmu? Tapi mungkin lebih baik begitu, karena aku yakin yang akan di jodohkan denganmu antara Jungra dan Junghae. Jika itu Jungra, maka aku yang akan menikahi Junghae”, tutur Sehun yang membuat Junghae harus ikut menyela pembicaraan mereka. Bahkan Chanyeol sedikit terkejut mendengarnya.

Yak, apa yang kau bicarakan. Tentu aku akan menolaknya lebih dulu”, sela Junghae. Chanyeol kemudian mengarahkan ponselnya pada Junghae.

Waeyo? Bukankah aku tampan, aku bahkan sudah mapan sekarang. Apalagi yang kurang?”, kata Sehun dengan bangganya, dia bahkan menata rambut depannya saat mengatakannya.

Junghae terdiam, memang benar apa yang dikatakan Sehun. Dia tampan, dan juga cukup mapan, hanya gadis bodoh yang akan menolak lamarannya. Hanya saja posisinya sekarang yang tak memungkinkan untuk Junghae memilihnya. Karena memang dia telah memiliki seorang suami, yang tak lain adalah sepupu Sehun sendiri. “Karena aku sudah memiliki kekasih sekarang?”, jawab Junghae asal. Hanya itu yang dapat ia fikirkan sekarang.

Jeongmalyo? Nuguya? Kau bahkan masih menjadi kekasihku Junghae, ingat itu?”, lanjut Sehun.

“Tapi aku hanya kekasih pura-puramu oppa, kau juga harus ingat itu. Sebenarnya sampai kapan kau akan menjadikanku kekasih pura-puramu? Apa Krystal Jung masih mengejarmu?”.

Well, dia memang sudah tak mengejarku sekarang. Dia benar-benar menepati ucapannya. Yak, kenapa aku jadi bicara denganmu lagi”, kata Sehun sedikit protes. “Hyung, saengil chukkae. Semoga Tuhan selalu melindungimu dan menjagamu. Aku pergi dulu. Salam untuk omonim”, Sehun memutuskan panggilannya.

Chanyeol menaruh di meja kembali ponsel Junghae. Dia kemudian memilih duduk kembali di samping ranjang Junghae. “Sebenarnya, kenapa kalian menjadi kekasih pura-pura?”, tanyanya pada Junghae. Ya, Chanyeol begitu penasaran mengapa Junghae atau lebih tepatnya istrinya menjadi kekasih pura-pura sepupunya.

Junghae tersenyum mendengar pertanyaan Chanyeol. Entah mengapa dia menerima begitu saja permintaah Sehun waktu itu untuk menjadi kekasih pura-puranya. “Apa kau mengenal Krystal Jung?”, bukannya menjawab Junghae justru balik bertanya.

“Aktris dan model terkenal itu?”, tanya Chanyeol sedikit ragu.

“Ya. Dia begitu tergila-gila pada Sehun oppa. Tapi tidak dengannya, dia telah menyukai gadis lain. Tapi Krystal Jung tetap bersikeras mengejarnya, dia akan berhenti mengejarnya jika aku yang menjadi kekasih Sehun oppa. Karena itu, dia memintaku untuk menjadi kekasih pura-puranya”, jelas Junghae.

Chanyeol hanya mengangguk paham mendengarnya. “Kenapa harus kau?”, tanyanya kemudian.

“Entahlah! Aku juga heran mengapa Krystal memilihku. Atau mungkin karena aku terlalu sering menyewanya untuk menjadi model desainku, entahlah aku juga tak tahu”, jelas Junghae lagi. “Ah, happy birthday oppa”, ucap Junghae dihiasi dengan senyum tulus darinya.

Gomawoyo”, jawab Chanyeol yang juga tersenyum tulus.

***

Setelah sekitar satu minggu, Junghae akhirnya diperbolehkan pulang. Dia sudah cukup bosan di sana. Meski begitu, ada baiknya juga dia di rumah sakit, karena jadi banyak yang memperhatikannya. Seperti kakak pertemanya yang tak lain adalah Jongdae, rela pulang lebih awal dari bulan madunya untuk menjenguknya. Kakak keduanya Jongin yang lebih perhatian padanya, meski sejak awal memang dialah kakak yang paling disukai Junghae. Kakak perempuannya Jungra juga tak lagi suka mengomel padanya. Ayah dan ibunya juga memberikan perhatian lebih padanya. Begitu juga Baekhyun, sepupu yang paling sayang padanya juga sering mengunjunginya. Sehun bahkan kembali ke Korea hanya untuk melihatnya. Bahkan beberapa staf perusahaannya juga mengunjunginya, tak ketinggalan manajer Jeon yang tak lain adalah mantak kekasihnya juga datang menjenguknya.

Nyonya Park selaku mertuanya, meski itu tak diketahui nyonya Park sendiri juga datang menjenguknya. Dia bahkan membawakan beberapa masakan untuknya. Tak ketinggalan Park Chanyeol selaku suaminya juga sering mengunjunginya. Meski itu terlihat aneh, namun tak ada yang mencurigai hubungan mereka. Mereka menganggap jika itu adalah bentuk perhatian seorang sahabat kepada adik sahabatnya.

Junghae kini tengah bersiap diri berangkat ke kantor. Ya, setelah seminggu lebih dia tak masuk ke perusahaannya. Dia memang tak diperbolehkan bekerja terlebih dahulu sampai keadaannya benar-benar membaik.

“Kau akan berangkat bekerja?”, tanya Jongin yang kini sudah berdiri di pintu kamar Junghae.

Ne, ini sudah seminggu lebih. Pasti pekerjaanku menumpuk oppa”, jawab Junghae yang kini sudah siap akan berangkat.

“Biar aku yang mengantarmu”, tawar Jongin.

Gomawo oppa. Kajja”, ajak Junghae.

Mereka akhirnya berangkat setelah berpamitan pada ibunya.

***

Junghae kini duduk manis di salah satu sudut kafe. Secangkir teh hangat tersedia di mejanya. Dia menikmati pemandangan kota Seoul di sore hari dari kaca tempatnya duduk. Dia sengaja memilih tempat yang menampakkan pemandangan kota. Dia terlihat tengah menunggu seseorang, karena sedari tadi dia tak henti-hentinya melirik jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya.

“Kau pasti sangat sibuk oppa. Seharusnya aku tahu itu”, katanya entah pada siapa. Dia kemudian meminum kembali tehnya. Dia kemudian mengambil tablet dari dalam tasnya. Membuka kuncinya, lalu menggambar. Dia selalu menggunakan waktu luangnya untuk menggambar desain bajunya. Dia ingat harus membuat beberapa desain untuk musim semi yang akan datang.

Dari arah lain datanglah seorang namja dengan pakaian kantor yang masih melekat ditubuhnya. Dia mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang tengah menunggunya. Dia tahu jika dia sudah cukup terlambat datang, karena memang dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia tersenyum saat melihat gadis yang ia cari tengah sibuk dengan tabletnya. Namja itu segera menemui gadis tersebut.

Mianhaeyo, aku tahu aku sudah terlambat”, kata namja itu yang kemudian duduk di depan sang gadis.

Gadis itu menghentikan aktivitasnya, “Gwenchanayo, aku tahu oppa super sibuk”, katanya memaklumi.

“Kau sedang apa?”, namja itu menunjuk ke arah tablet Junghae.

“Menggambar”, jawab Junghae. “Aku sudah selesai”, lanjutnya, lalu kembali memasukan tabletnya ke dalam tasnya. “Oppa tak pesan dulu?”, tanya Junghae lagi.

Aniyo”, namja itu malah berdiri “Kajja”, ajaknya pada Junghae.

“Kemana?”, tanya Junghae yang penasaran.

“Kau akan tahu nanti”, jawab namja itu. “Kau bawa mobil?”, tanyanya kembali saat Junghae telah berdiri. Junghae menggeleng. “Baguslah!”, lanjut namja itu.

Mereka akhirnya meninggalkan kafe tersebut. Dengean menggerndarakan mobilnya, namja itu menuju tempat tujuannya dengan hati-hati. Mereka hanya diam selama perjalanan. Merasa sedikit bosan namja itu berbasa-basi pada Junghae. “Kau lebih suka menonton di bioskop, atau makan malam”, tanya namja itu.

“Apa kau sedang mengajakku berkencan oppa?”, tanya Junghae.

“Kau bisa menyebutnya seperti itu”, kata namja itu lagi.

“Baiklah! Kita lakukan semuanya”.

Ne~”, kata namja itu sedikit kaget.

“Kita pergi ke bioskop dulu, setelah itu makan malam”, Junghae masih terlihat berfikir. “Akan lebih menyenangkan jika kita berjalan-jalan ke pantai setelahnya’, lanjutnya.

Namja itu tersenyum. Senyum khas yang mampu membuat yeoja mana saja tertarik padanya, tak terkecuali Junghae yang memang mulai menyukai namja itu. “Geuraeyo, kita akan lakukan semuanya”, namja itu segera melajukan mobilnya menuju tempat pertama, bioskop.

Tak butuh waktu lama, mobil itu kini telah berhenti di area parkir. Setelah mematikan mesinnya, Junghae dan namja yang berstatus sebagai suaminya itu segera turun. Setelah memesan tiket, dia menyuruh Junghae untuk menunggunya mengantri popcorn. “Tunggulah disini, aku akan membeli popcorn sebentar”, kata namja itu. Junghae hanya mengangguk pasrah.

Setelah sekitar sepuluh menit menunggu akhirnya namja itu kembali dengan membawa sekotak besar popcorn dan minuman di tangannya. Dia senganja membeli popcorn sebungkus namun dalam porsi yang cukup besar. Mereka segera memasuki ruang pemutar film, karena memang filmnya akan di putar sebentar lagi.

Mereka duduk setelah menemukan tempat duduknya. Sepanjang pemutaran film, mereka hanya diam menikmatinya. Sesekali mereka tersenyum saat adegan lucu di film tersebut. Juga saat sesekali tangan mereka bersentuhan ketika mengambil popcorn. Namja itu memperhatikan Junghae cukup lama. ‘Terima kasih telah hadir dalam hidupku, Junghae’, katanya dalam hati.

Waeyo?”, tanya Junghae dengan lirih, saat dia tahu jika namja disebelahnya memperhatikannya.

Aniyo”, jawab namja itu.

Setelah menghabiskan waktu dua jam dalam ruangan itu, akhirnya film tersebut selesai. Mereka pergi setelahnya, menuju tempat kedua mereka rumah makan. Namja itu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Merka menuju rumah makan yang dekat dengan pantai. Ya, itu memang sengaja dilakukan namja itu, karena setelah makan malam nanti mereka dapat segera berjalan-jalan ke sana.

“Kau mau pesan apa?”, tanya namja itu pada Junghae. Mereka telah duduk di salah satu sudut ruang restoran tersebut. Junghae menyebutkan beberapa menu, yang diikuti oleh namja tersebut. Sebari menunggu, Junghae melihat ke arah samping tempatnya duduk. Tempat itu, memperlihatkan pemandangan pantai yang indah. Apalagi disinari bulan purnama yang menampakakn kilau airnya.

Mereka makan dalam keadaan diam. Entah karena sangat lapar atau mungkin karena mereka masih merasa canggung. Ya, meski mereka kini telah berstatus sebagai suami istri, tapi suasana canggung masih sering menghampiri mereka. Bagaimana mungkin tidak, mereka menikah secara tak sengaja, tanpa mengetahui latar belakang masing-masing.

“Kau yakin akan berjalan-jalan”, tanya namja itu kembali.

Ne. Sepertinya menyenangkan”, jawab Junghae.

Kajja”, kata namja itu yang telah berdiri.

Setelah membayar tagihannya mereka segera menuju pantai. Pantai itu nampak sepi, karena memang waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Sinar bulan yang memantul dari air menambah keindahan pantai tersebut. Junghae berjalan dengan bertelanjang kaki. Dia membawa heelsnya dengan tangan kirinya, karena memang tangan kanannya tengah digenggan erat oleh namja yang juga brjalan beriringan dengannya. Mereka berhenti ditengah-tengah pantai. Menikmati semilir angin yang menerpa wajah mereka. Ini adalah hari yang tak akan meraka lupakan dalam hidupnya. Kecan pertama setelah pernikahan mereka.

Namja itu menoleh ke arah Junghae yang memejamkan mata membiarkan semilir angin menerpa wajah cantiknya. “Kau menyukainya?”, tanya namja itu.

“Emh. Ini sangat indah oppa. Gomawoyo”. Grep, Junghae memeluk namja itu. Dia sedikit kaget dengan tingkah Junghae, namun dia akhirnya dia membalas pelukannya. Mengusap rambut panjang Junghae pelan. Sangat nyaman pikir namja itu. Cukup lama mereka saling memeluk. Tak ada kata yang terucap, hanya menyalurkan perasaan lewat pelukan hangat tersebut.

Mereka saling tersenyum setelah melepaskan pelulannya. Saling memandang, hingga tanpa sadar namja itu mulai mendekatkan wajahnya pada Junghae. Semakin dekat dan dekat, junghae kini bahkan sudah memejamkan matanya. Akhirnya bibir mereka bertemu. Namja itu melumat lembut bibir Junghae. Sangat lembut, hingga Junghae membalas lumatan tersebut. mereka sangat menikmatinya hingga heels Junghae telah terjatuh dari tangannya, digantikan dengan dia mengalungkan tangannya ke leher namja tersebut.

Mereka berhenti setelah kehabisan nafas. Mereka tersenyum, meski kini tengah terengah. Mereka kembali menyatukan bibirnya setelahnya. Di bawah sinar rembulan dan semilir angin menjadi saksi indahnya kebersamaan mereka.

— TBC —

Annyeong semuanya, chapter 6 is up. Bagaimana menurut kalian? Maaf mungkin hanya sedikit. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian….. Terima kasih….

22 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 6)

  1. Jodoh pasti bertemu, kayak judul lagu
    Hhahahah…. Diawali dgn ketiDaksengajaan hingga tumbuh benih2 cinta tnpa mereka sadari. So sweet banget thor. Tetep semangat ! Di tunggu chapter selanjutnya. Gamsahamnida..

  2. duuh romatisnya.. pengen jadi junghae.. hahahahaha
    semoga mereka kepergok ma hansip***biar ketahuan ma nyonya park… 😆😆😆
    pengen status mereka cepat ter ekspose.. kalau perlu undang dispacth.. kan pintar tuh masalah ungkap me ungkap skandal tersembunyi.. 😂😂😂 #abaikan koment saya.. coz lagi senang akhirnya d rilis part 6.. apalagi pas d rumah sakit ma d endingnya.. so sweet meleleh adik bang..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s