[EXOFFI FREELANCE] Black and White (Chapter 3)

black-and-white-duet-project

Black and White

PG-17

Short-stories

DO Kyung Soo, Lee Yorin (OC), Jung Yunho

khaqqiadrei w/ aininugu

poster by namminra

Cerita hanya fiktif dan tidak diizinkan memposting ulang atau meng-copy tulisan berikut. Cast milik diri mereka sendiri dan agensi.

[]

“Semestinya tidak sulit mengatakan ‘aku menyukaimu’. Hanya saja, banyak kekeliruan yang membuatku khawatir.

“Hanya karena kau adalah gadis yang ‘tidak semestinya’, bukan berarti kau ‘tidak layak’ menjadi milikku.

“Ayo kita berjuang.

baw.jpg

BLACK AND WHITE [3/8]

Yorin yang mendapati itu semua terdiam beberapa saat. Urat kakinya bekerja diluar kendali gadis itu. Ia mendekati Kyung Soo, ada apa dengannya? Apa yang terjadi? Semua pertanyaan yang ada di benaknya tak bisa membobol jeruji pertahanan mulut Yorin yang terbungkam.

Kyung Soo menggeram sejadi-jadinya. Akar uratan tipis keabuan mengukir pelipisnya. Yorin tersentak, tidak percaya. Otaknya menerima sinyal pembiasan bayangan dari mata miliknya. Ya, ia dapati segores cahaya merah menangkupi bola mata Kyung Soo yang semula coklat karamel. Dipendamnya dalam-dalam prasangka-prasangka buruk dalam kejanggalannya, prasangka yang tetap ia yakinkan tak terjadi—Walau di balik hal tersebut, Yorin tahu. Bahwa ia hanya berusaha membohongi dirinya sendiri.

Sebentar menenangkan suasana; ia rengkuh pundak kekar milik pemuda di hadapannya. Kyung Soo menghindari itu, tatapannya semakin menghunus, seolah menginterogasi sepasang mata coklat bening di depannya.

Alis Yorin saling bertemu di tengah. Ia sendiri bingung atas apa yang Kyung Soo cari di matanya. Beberapa sekon setelah itu, tautan alis di tengahnya menjulang, merambat naik ke atas. Membelalak sempurna. Tanpa ada yang mendalangi, telapak kaki Yorin berjalan mundur beberapa langkah, menjaga jarak. Di-a … be-nar-benar putra raja Black … blood….

Yorin menyudutkan tubuhnya ke dinding. Menyiratkan ketakutan teramat sangat di semua partikel sel penyusun tubuhnya. Bersamaan dengan Kyung Soo yang bangkit dari ranjang, berjalan lebih maju dari tempatnya semula. Biar kubalas semuanya….

Tangan pemuda itu mengepal keras, sepersekian detik berikutnya, telapak tangannya terbuka, mengeluarkan sebersit api kecil lalu membesar dengan tangannya yang ia angkat di sisi bahu. Ini ciri khusus bangsa Blackblood lagi: muncul kilatan api di tangan mereka dan semakin besar seiring amarah mereka.

Nyaris saja tubuh gadis itu terbakar. Kyung Soo terjatuh di lantai, sesaat sebelum api di tangannya mengenai sasaran. Yorin begitu lemas, nyawanya seperti baru saja bangkit dari raganya. Ia pun ikut tertarik oleh gravitasi bumi; tubuhnya tersungkur.

Kyung Soo terbaring di lantai. Telapak tangan kanannya menghitam. Yorin kumpulkan banyak-banyak pasukan terberani dari dalam tubuhnya, menapakkan kembali sepasang kakinya di lantai. Ia tegakkan punggung dan badannya, napasnya lebih teratur saat ini.

Sepasang kakinya yang tak beralas itu berjalan selangkah demi selangkah mengitari tubuh pemuda yang terbaring tak berdaya di depannya. Alas kaki gadis itu terlepas saat ia menyeret tubuhnya ke dinding, beberapa menit lalu.

Rasa khawatir dalam pikirannya menjatuhkan posisi takut dari singgasana. Yorin sebisa mungkin menyeret tubuh pemuda itu kembali ke ranjang. Sebentar berhenti; tenaga perempuan tidak cukup kuat untuk membopong orang  tak sadarkan diri.

Gadis itu menatap teduh Kyung Soo terlebih dahulu, sebelum sebuah selimut menutup tubuh Kyung Soo; menyisakan dada dan wajahnya.

Pikiran Yorin beradu dalam satu kesatuan, saling berargumentasi. Lagi, Yorin menepis  semua kenyataan buruk yang baru saja ia timpa. Batinnya mengoceh seolah ini tak terjadi, dan tidak akan terjadi.

Yorin tidak dapat menerima hal semestinya. Bahwa Kyung Soo seorang putra raja yang akan mati di tangannya. Yorin frustasi, rasanya lebih baik ia mati. Kemarahan Raja Lee beberapa hari lalu melintas di kepalanya. Yorin telah mengerti: siapa musuhnya sekarang: seorang lelaki yang selalu ia cemaskan, yang selalu membuatnya takut kehilangan.

Hati Yorin nyeri seperti ditusukkan sembilu berkali-kali—tak kunjung mati, dan tak kunjung sembuh. Seharusnya Yorin menemui Raja Lee sekarang. Namun, lagi-lagi, rasa cemas dan khawatir tetap memimpin barisan terdepan di benaknya.

Yorin membuka sayapnya, disusul dengan ribuan benda mungil yang mengangkasa. Tubuhnya menggantung di udara, lantas pergi secepat kilat yang menyambar dalam kerumunan air hujan.

*

Alih-alih ke istana, Yorin mendatangi sebuah tempat yang begitu ia sukai. Tepian sungai yang dijejeri pepohonan lebat. Dahulu, semasa hidup ibunya, Yorin, Yunho, dan si ibu kerap kali datang ke tempat ini. Sekadar bergurau dan bermain percikan air. Itu dahulu, lima belas tahun silam—yang kini tenggelam, dan sekadar menyisakan secuil kenangan.

Yorin menjatuhkan pantatnya di sebuah batu yang cukup besar, dan membiarkan sepasang kakinya terserempet oleh air sungai. Ia menangkup muka dengan kedua tangannya. Gadis itu terisak. Ia sangat rindu masa di mana usianya masih delapan tahun. Yorin rindu ibunya. Perlahan hujan merembet melalui celah matanya yang terpejam, terjatuh membentur aliran air sungai. Tempat itu sunyi, kecuali isakan kecil dan simfoni yang dihasilkan riakan air sungai.

Air mata Yorin sama sekali tidak berpengaruh pada air sungai itu—tetap tenang, tak terusik. Sebenarnya Yorin mengetahui atas apa yang terjadi dalam keluarganya. Kewajibannya hanyalah membunuh putra raja bangsa Blackblood. Yorin lelah, sejatinya. Ia sungguh igin menghentikan semua ini. Hatinya perih, mengetahui bahwa Kyung Soo orang yang akan ia bunuh—demi dendam keluarganya yang tidak pernah usai.

Yorin menyelupkan jemarinya ke dalam air sungai, dan mengaduk-aduknya pelan. “Seharusnya kau sembuh sekarang,” Yorin menarik napas. “Setidaknya itu lebih baik. Aku tak mau menghabisi orang yang nyaris mati.”

Tiba-tiba Yorin berdiri. “Ya! Kau harus sembuh, Kyung Soo-ssi!” Kemudian ia terbang, dengan tekad yang menggelegar dari dalam kalbunya.

Seiring kepakan sayapnya, angin berhembus pelan, memaksa daun-daun dan ranting-ranting pohon melambai-lambai mengucapkan salam perpisahan pada Yorin.

*

Waktu melintas sesuai kodrat yang telah ditetapkan. Kyung Soo terbangun dari tidurnya. Mata dan lengan kanannya tak memerah dan menghitam lagi. Tampaknya, amarah pemuda itu telah membaik.

Kyung Soo berjalan beberapa langkah dari ranjangnya. Ia sedikit lupa atas apa yang telah ia alami. Kyung Soo mencari-cari Yorin, bohong jika ia akan menghabisinya. Pria itu hanya ingin mengetahui keadaan Yorin (walau sebenarnya, ini bukan perkara yang pantas dibubuhkan kata “hanya”.)

Kyung Soo memaksa kakinya agar melangkah lebih jauh. Ia kini telah berada di luar rumah, tepatnya di hutan. Bukannya menemukan gadis yang tengah ia cari, dua prajurit istananya datang dan menemui Kyung Soo.

“Maaf, Tuan. Kami baru saja merasakan getaran hebat dari kawasan ini. Apa Tuan ada masalah?”

Bangsa Blackblood memang banyak memiliki kelebihan. Putra raja apabila ia merasa tertekan ataupun sedang marah, gelombang getarannya dapat menyampaikan pesan bermil-mil jauhnya.

Kyung Soo menggeleng. “Tidak. Tidak ada apa-apa.”

Dua  prajurit tadi mengangguk.

“Ah, ya,” ujar Kyung Soo, “bawakan tabib istana kemari. Aku ingin menjalani pengobatan di rumah ini saja.”

“Tapi Tuan, Tuan harus pulang—“

“Aku masih ingin di sini.”

*

Yorin melongokkan kepalanya melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Tubuhnya sedikit bergetar, namun lekas ia cegah. Kakinya berpijak di tanah, mengupayakan agar tetap kuasa menopang tubuhnya.

Keberanian Yorin sekuat kepercayaannya. Sebuah kepercayaan; bahwa Kyung Soo akan sembuh. Tubuh mungilnya menyelip celah tersebut. Darahnya berdesir lebih pelan, walau jantungnya berdegup lebih cepat. Syukur, Yorin masih mengingat bagaimana caranya bernapas. “Kau harus sembuh….”

Telinga kecilnya menerima getaran gelombang. Saat itu juga, Yorin menyeret kedua kakinya untuk bersembunyi. Lagi, gadis itu memasuki istananya secara diam-diam.

“Yorin-ah.”

Desiran darah dalam tubuhnya berhenti seketika. Suara itu terkesan menyambar gendang pendengaran Yorin. “Kau sedang apa?” tanya pemilik suara itu lagi.

Yorin berbalik, “Yunho Oppa…,” mata Yorin berketip-ketip. “Eung… aku…,”

Yunho menunggu.

“Aku ingin mengambil bunga itu, Oppa,” kata Yorin.

“Untuk?” Yunho memperdalam pandangannya menelusuri mata Yorin.

Astaga…, apa yang harus kukatakan

“Yorin-ah,” Yunho memecah lamunan adiknya tersebut. “Siapa yang harus kau sembuhkan dengan bunga itu?” kali ini Yunho lebih menginterupsi sepasang mata Yorin. “Kyung Soo? Apa dia?”

Yorin tercekat. Ia benar-benar tak dapat bernapas sekarang. “A-apa maksudmu, Oppa?”
“Kyung Soo. Aku tadi mendengarmu saat di sungai. Siapa dia?”

Keringat dingin Yorin berebutan keluar. Kedua telapak tangannya basah. Sayapnya yang belum menghilang, berkatup lemas. “Yunho Op-pa, tadi ke su-sungai?”

Yunho mengangguk. “Jadi?”

“Di-dia—“

Kau harus berbohong, Yorin ….

“SIAPA!” Yunho meninggikan nada suaranya.

Putri Raja Whiteblood tersebut melangkahkan kakinya ke belakang, perlahan-lahan. Ia bergeleng cepat. “Oppa tak perlu tahu.”

Yunho menyusul langkah kaki adiknya yang berjalan menjauh. “Apa yang kau sembunyikan, Yorin-ah?!”

Yorin kembali menggeleng seraya menutup kelopak matanya erat-erat. Ia hendak membuka sayapnya, namun, tak kalah cepat dengan tangan Yunho yang mencengkeram erat sayap itu, mencegatnya agar tak mengepak. Bulu-bulu sayap Yorin nyaris merontok.

“Aku tak akan mengatakannya!” tegas Yorin.

“Cepat! Katakan!” Yunho mempererat genggamannya pada sayap kanan Yorin yang tersudut di dinding. “Sebelum sayapmu ini hancur!”

Kali ini Yorin berani membalas tatapan kakaknya. “Hancurkan saja!”

Yunho tak mungkin melakukannya. Yorin yakin itu. Pemuda itu pasrah, melepas cengkeramannya pada sayap Yorin. “Jika perasaanku benar, aku tak peduli. Apa yang akan Ayah lakukan padamu!”

Yunho membuka sepasang sayapnya, membiarkan ribuan partikel emas berpendar di sekeliling tubuhnya. Detik berikutnya mengepak dan membawanya terbang menjauh.

Yorin membuang napas lega. Kakaknya telah pergi. Ia pun melanjutkan langkahnya untuk mengambil bunga itu. Sebisa mungkin akan ia upayakan agar tak ada yang melihatnya.

Berulang kali kepalanya celingak-celinguk, curi-curi pandang. Ruangan bunga krisan biru emerald itu dikepung oleh tiang-tiang penyangga atap, namun, atapnya tak meneduhi keberadaan bunga itu. Matahari dan rinai hujan tetap mampu menghujamnya tanpa ampun.

Langkahnya semakin dekat dengan apa yang gadis itu tuju. Kerut di kedua bibirnya semakin mendorong pipinya ke atas. Matanya berbinar tak kalah terang dari tampias cahaya yang terpantul di kaca.

Kerutan di bibir mungilnya bertransformasi ke dalam bentuk yang bundar, namun tak lebar. Yorin mengatur napasnya. Ia hirup udara sekitar, menelisik benang-benang indra penciumannya, lalu ia embuskan melalui rongga mulut.

Yorin lebih bahagia dari menemukan sebongkah berlian. Sulit dipercaya. Pun sebatang hidung para penjaga tak ia dapati di tempat sakral ini. Tempat yang paling dijaga oleh para penjaga istana.

Yorin ulurkan lengannya perlahan, berusaha menebas udara yang kasat mata. Lengannya bergetar, jantungnya berdegup dengan ritme cepat, namun melodinya cukup teratur. Darahnya berdesir seperti simponi seruling klasik yang menggema dari balik ruang musik istananya. Di istananya, terdapat sebuah ruang musik yang biasa digunakan untuk ritual-ritual tertentu. Yorin suka suara melodi seruling dan biola yang disusun atas cinta dari si pemain tersebut.

Bunga krisan biru emerald itu nampak rapuh. Hidup tertanam disekelilingi rerumputan yang menari, dan dipayungi pohon maple yang daunnya telah ber-pigmen merah.

Lagi, lengan Yorin bergetar lebih kuat, ia menarik napas, sejenak berhenti, lantas diembuskan.

Yorin menyela celah dari rerumputan yang memagari bunga itu. Bunga itu benar-benar rapuh. Sedikit saja melenceng saat mengambilnya, maka hilanglah semua khasiat yang ada. Beruntung, Yorin pernah membaca sekilas mengenai bunga tersebut.

Yorin menggenggam pelan gagang bunga, sebelum ia tarik beserta akar-akarnya yang menyembul dari balik tanah.

Luka di lengan kiri Yorin nyaris mereda, walau telah dua-kali tertancap anak panah. Gadis itu meleburkan bunga Krisan biru emerald dari telapak tangannya; menghilang ditelan udara. Ia rentangkan sayap putih sucinya lebar-lebar, namun, sejurus kemudian…

DEP!

Yorin terjatuh ke tanah. Sebatang anak panah mencegah sayapnya untuk mengepak dan enyah dari tempat itu. Tubuhnya terdoyong ke arah kanan, sisi di mana sayapnya terluka. Bagi mereka, sayap adalah anggota tubuh yang sangat vital. Darah merahnya mengucur, merembes ke dalam bulu-bulu putihnya. Sayapnya terlalu lemah untuk dihilangkan dalam udara. Gadis itu berbelok arah, puluhan penjaga tengah bersiap dengan busur panahnya masing-masing. Yorin bergegas pergi, sambil menahan perih. Sayapnya berkatup lemas tak berdaya.

Gadis itu masih melangkah menjauh. Sejauh ini, gerakannya cukup lincah menghindari puluhan anak panah itu, walau sayapnya masih berkatup tak berdaya; darahnya merembes semakin melebar.

Yorin menyelipkan tubuhnya dari balik tiang, ketika ia tercegat dengan ayahnya yang buru-buru melintas. Pelan, Yorin melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Ia upayakan sayapnya agar tetap mampu terbang, hanya untuk lepas landas kembali ke bumi.

*

Kyung Soo masih duduk manis saja di ranjang beralaskan kasur tipis itu. Ia tengah menunggu seseorang. Kesadarannya belum benar-benar pulih. Ia mungkin lupa, bahwa Yorin adalah putri raja yang akan menghabisinya suatu saat nanti. Kewarasannya hanya ada rasa khawatir—yang dia sendiri tak dapat mengartikan hal itu.

Kyung Soo bangkit dengan tubuhnya yang masih terasa lemah, ia jajaki satu per satu ruangan rumah tradisional tersebut. Ia hanya gusar jika harus duduk dan diam saja di kasur tipis tadi. Sudah cukup lama, tabib dari istananya belum datang juga.

Kyung Soo mencoba mengangan-angan apa yang telah terjadi beberapa jam silam. Ia tdiak merasakan kejanggalan apa pun. Semua terasa baik, bahkan sangat baik.

Suara pintu diketuk menyapa gendang telinganya. Kyung Soo bergegas menghampiri pintu tersebut—biarpun bergegas, tapi jalannya tetap terhitung lambat.

*

Yorin menguatkan dirinya untuk tetap berjalan tanpa henti. Hutan ini tiba-tiba menjadi jalanan yang panjang baginya. Yorin masih mencoba menghilangkan sayapnya yang hampir menjadi merah tersebut dari punggungnya, namun gagal. Sayapnya terlalu lemah untuk melakukan aktivitas, pun menghilangkan eksistensinya. Yorin memejam lebih erat, berharap akan berhasil. Namun, nihil. Kali ini Yorin mengepalkan kedua tangannya, penuh konsentrasi, tiga sekon kemudian, sayapnya berhasil melebur berganti debu pixie yang berterbangan. Yorin berhasil.

Ia kembali meneruskan perjalanannya, menuju tempat di mana Kyung Soo berada.

*

“Kyung Soo-ssi! Aku pulang!” ujarnya ketika menggeser pintu rumah dan membukanya. Pintu itu berdecit dengan suara khas, meraung meminta minyak. Kyung Soo berbaring di kasur tipisnya. Ia tertidur. Di meja kecil yang tak jauh dari ranjang tersebut, ada beberapa ramuan. Pasti ada tabib kemari tadi, pikir Yorin.

Yorin meletakkan bunga itu di balik pintu lemari. Ia biarkan dulu di sana, menunggu Kyung Soo terbagun.

Sebuah kertas usang ia dapati lagi; walau tak menggulung seperti kertas yang ia temukan di balik ruangan rahasia tempo hari. Ia baca baik-baik isinya, seperti sebuah teka-teki.

Benahi kertas usangnya, singkirkan debunya. Seperti debu yang tak pernah bermaksud membuat si kertas usang—kertas yang dahulu pernah melewati masa putih sucinya. Raganya usang dan tak terurus dalam jeruji kayu—walau tak pernah menyerupai sebuah jeruji. Tintanya memudar seiring berjalannya waktu, rumah si laba-laba berkuasa—walau tiada niatan menguasai, si debu bertengger layaknya burung gereja.

“Hidup tenteramlah dalam satu jeruji, haluskan perasaan hati, tataplah niatan hakiki, beriringlah dalam kehidupan bahagia, abadi”.

Yorin sudah berkali-kali membaca ini. Sobekan kertas dari sebuah perjanjian antara klan Blackblood dan Whiteblood. Namun, lepas itu semua, ada yang mencuri perhatian fokusnya. Sebuah tulisan tambahan yang ditulis oleh tangan yang berbeda, sebuah tulisan yang cukup membuatnya kesal karena kalimatnya terpotong dengan lubang-lubang kecil—mungkin kertas itu telah dimakan hewan pemakan kertas.

“Seorang pemimpin yang terbunuh di tangan yang tak seharusnya. Kami akan membalaskan dendam itu. Dendam pembunuhanmu, beberapa tahun lalu. Nantikan saja hari kematianmu, wahai …”.

Yorin menerka-menerka, apa tulisan pelanjut dari kertas tersebut. Dari tipe tintanya, ini tinta zaman dahulu ketika ia masih kecil. Yorin yakin itu.[]

a/n: engga kerasa udah sampe chapter 3 ya** buat yang masih nunggu, jangan bosen ya:”v apa si yang dimaksud tulisan itu dan maksudnya apa, just wait okey! Thx udah komen~

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Black and White (Chapter 3)

  1. penasaran siapa yang nulis itu ya?
    trus Dyo Oppa kemama ya?
    trus Yorin Neo Gwaencana?
    KEPO BERAT….
    Apa permusuhan ini bakalan terus berlanjut ya?????

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s