[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Calliostine

e25989f4cc71eb4f860c3b805262770a

Jika kau pikir manusia adalah satu-satunya penguasa di bumi, maka kau salah. Sebab nyatanya, akan selalu ada makhuk di sekitar yang siap membinasakan hidupmu dengan satu kedipan mata.

***

CALLIOSTINE

***

 [ PG-15 | Fantasy, Dark | Ficlet ]

Wu Yifan x Milia Gyronetta

written by Eunike

***

Bagi Yifan, senja selalu sama. Tetapi bagi Milia, senja kali ini berbeda.

Pria dengan nama lengkap Wu Yifan itu adalah anak emas dalam organisasinya. Ia begitu lihai; cakap dalam memprovokasi, tindakannya cekatan, dan semua tugasnya tak tangung-tanggung dituntaskan dengan sempurna. Maka hari ini ia diberi satu tugas lagi dan atasannya berkata, “Kau pandai menyingkirkan orang-orang tak berguna yang meresahkan masyarakat, karena itu silakan hancurkan dia” sambil menyerahkan sebuah foto dan data lengkap.

Yifan tentu tak keberatan. Ia sudah melakukannya berkali-kali.

Sedangkan di sisi kehidupan lain, seorang perempuan itu yang bernama lengkap Milia Gyronetta; hanya dikenal orang-orang sebagai salah satu masyarakat tak mampu. Rumahnya di ujung jalan yang gelap, tanpa halaman berbunga, dan jendelanya selalu ditutup tirai tebal. Kulitnya putih pucat lantaran jarang tak terkena cahaya matahari.

Pada hari yang sama pula, semesta menggariskan mereka untuk bertemu.

Pertemuan mereka terjadi di perbatasan siang dan malam, di antara hiruk-pikuk kesibukan kota; ketika kaki-kaki jenjang melangkah cepat menyusuri trotoar dan deru mesin mobil menguasai jalan. Di langit, jingga sudah mencumbui biru. Dan mereka tahu waktu mereka terbatas, sebab masing-masing memiliki tugas yang harus dituntaskan.

“Kau tidak alergi percakapan ‘kan?” tanya Yifan, setelah mereka lama terdiam. Tangannya kemudian meraih cangkir kopi hitamnya yang sudah separuh dingin. “Atau kau alergi pertanyaan?”

Suasana kafe seolah tenggelam ketika mereka bersitatap.

Milia tidak langsung memberi respon, melainkan bertahan untuk mengawasi gerak-gerik Yifan dari mantel hitamnya yang bertudung. Terhitung sejak lima belas menit lalu, bibirnya sama sekali tak terbuka. Ia masih memilih bungkam.

“Milia Gyronetta,” ucap Yifan. Nama itu disebutkan seiring senyum terulas. Laki-laki itu kemudian merogoh sakunya dan menyerahkan secarik kertas. “Kau lihat, aku anggota resmi. Maafkan aku jika informasi ini mengejutkanmu, tetapi aku benar-benar diperintahkan untuk menangkapmu.”

Milia masih terdiam.

Yifan tersenyum lagi, sambil menghela napas. “Aku dengan baik hati memberimu pilihan; serahkan dirimu, atau kalau tidak…. kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Hal itu jelas bukan penawaran, melainkan pemaksaan.

Milia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Otaknya tahu apa yang akan menanti di depan sana; jeruji dan wajah-wajah orang yang dibencinya. Maka dengan satu sentakan kasar, Milia mengambil kertas yang diulurkan Yifan dan merobeknya menjadi dua.

“Aku tidak akan menyerahkan diri,” kata gadis itu setelah lama terdiam. “Aku akan tetap di jalanku.”

Yifan masih tersenyum. “Kau tahu apa konsekuensinya ‘kan, jika kau bersikeras untuk bertahan?”

“Menyerahkan diri pun ada konsekuensinya, Sir Yifan,” desis Milia. Matanya yang hitam sejelaga bergerak memicing. “Semua hal memiliki konsekuensi. Dan aku tahu lebih jelas dari padamu. Maka sekali lagi kuucapkan, aku akan tetap di jalanku.””

Satu, dua, tiga. Milia terus menghitung. Kuku-kukunya yang panjang dan kotor mengetuk-etuk permukaan meja, menciptakan ritme tak beraturan.

Senyum Yifan semakin lebar. “Kau benar-benar tidak perlu berlagak sok kuat,” ujarnya lamat-lamat. “Kaummu sudah banyak yang binasa di tangan manusia. Kalian tidak sekuat dulu. Serahkan dirimu atau mati.”

Milia memicingkan mata;  membalas tatapan Yifan dalam-dalam. Tangannya berhenti mengetuk. Matanya tak bergerak dari satu titik, juga tak berkedip. Bibirnya kemudian mencekah, “Kalian bangga sudah memusnahkan gen-gen cacat. Tapi gen-gen immortal tidak akan mati di tangan makhluk fana.”

“Immortal, kau bilang?” Kedua alis Yifan terangkat, tepat sedetik sebelum ia meledak dalam tawa meremehkan. “Aku sudah menangkap tiga puluh–kuulangi, tiga puluh–dan hampir sebagian di antaranya mengaku keturunan immortal! Cih, pada akhirnya mereka mati di tanganku, Nona Gyronetta.”

“Mereka darah-darah campuran!” Suara Milia tertahan. Tersirat benci dan jijik yang begitu kentara, tetapi Yifan begitu sibuk meremehkan perempuan itu. Yifan begitu lengah, sehingga tak sadar sebuah bahaya diam-diam mengancamnya.

Perempuan itu merendahkan tubuh. “Katakan halo pada kematian, Sir Yifan,” desisnya sebelum sebuah ledakan terdengar.

Yifan dengan sigap menghindari api tanpa sumbu dan pemicu yang tersulut tepat di belakangnya. Tangan kanan Yifan segera menarik pelatuk dari senjata yang berada di balik jas, tetapi Milia sudah berlari dari tempat duduk dan menghancurkan susunan meja kafe. Suara keramaian pecah; seruan tertahan, umpatan kasar, dan desing peluru mengudara.

Yifan meluncurkan puluhan peluru dan Milia belum tumbang.

Sirine terdengar dari kejauhan, disusul pria-pria berpakaian hitam yang berlari memasuki kafe. Masing-masing mengacungkan senjata laras panjang. Pengunjung kafe dievakuasi.

Dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga, ia masih menghitung.

Yifan maju paling depan dan mengarahkan senjatanya. Pria-pria berpakaian hitam berbaris tepat di belakang, di antara api, dengan laras panjang yang terarah pada sosok Milia.

Milia tersenyum tipis dari balik reruntuhan meja.

Dua puluh delapan, dua puluh sembilan, tiga puluh.

DARR!!

Kembali terjadi ledakan, dua kali lebih besar.

Orang-orang lantas terpelanting; kafe itu hancur, semuanya berlari dan tak sempat berlindung. Yifan yang berdiri paling depan lantas terkapar; tak bergerak, tak bernyawa. Darahnya mengucur deras, membasahi meja yang sempat ia jadikan tameng. Milia bisa melihat lengan kirinya leyap, dan separuh wajahnya hancur.

Ia kemudian tertawa, seperti orang gila, di hadapan mayat yang bergelimpangan. Bahkan api yang mulai menjalari kaki kanannya sama sekali tak ia pedulikan. Tubuhnya masih utuh di antara asap yang mulai membubung.

“Hidup calliostine[1] tidak akan berakhir oleh peluru, kalian manusia bodoh tidak akan bisa membinasakan kami,” bisik Milia sembari menatap kefanaan yang porak-panda di hadapannya. Satu sudut bibir itu terangkat. Ia memutuskan untuk mematikan nyala api dengan satu kedipan demi menatap lebih jelas wajah-wajah terkejut yang sudah hangus dan ternoda puing ledakan.

“Jangan remehkan kami, wahai kaum manusia.” Milia menggeram. “Kalianlah yang harus binasa.”

.

.

fin.

[1] Calliostine adalah bangsa penyihir immortal. Mereka mengendalikan kekuatan melalui tatapan mata.

Author’s note:

Perlu diperjelas kalau calliostine itu sepenuhnya karangan author, jadi ini seratus persen fiksi. Namanya pun ngasal. Tenang, Milia gak akan tiba-tiba muncul di kafe deket rumah kalian kok. DAN MOHON MAAF UNTUK KEABSURDAN INI :’) Tujuan awalnya mau menyelipkan romansa, tapi kayaknya lebih seru kalo akhirnya Milia dibuat semacam psikopat. Ah. Kris yang malang.

By the way, selamat ulang tahun, Krisseu! Stay cool with your style ya. Daku sudah merelakan kepergianmu dari jauh-jauh hari, semoga selalu bahagia meski tak bersama bangsa alien EXO Planet.

xoxo.

5 thoughts on “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Calliostine

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s