[KRIS BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in NAMDAEMUN [2/2] — IRISH’s Story

irish-holmes-in-namdaemun

HOL(M)ES

SHADES in Namdae-mun  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Kris Wu aka Wu Yifan and OC`s Ren

An adventure, dystopia, family and politic story  rated by Teen served in two-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2016  ©  storyline by IRISH & Len K

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Wu Yifan (Kris of EXO)

Previous story:

Hol(m)es in Hunan [Lay]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Jia-yi belum menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir yang ada di depan pintu keluar Hanvit Bank saat sebuah goncangan besar terjadi. Insting segera memerintah Jia-yi untuk berlindung, secara otomatis, gadis itu berlari menjauh dari Bank, memilih berdiri di ruang kosong yang ada di depan Hanvit Bank sementara orang-orang berlarian keluar dari Hanvit Bank dan menghambur ke jalanan.

“Tidak, jangan ke jalan! Di sana berbahaya!” teriakan Jia-yi agaknya telah bercampur dengan teriakan-teriakan panik dari puluhan orang yang sekarang menghambur ke arah yang sama.

Well, meski dalam kepanikan, Jia-yi tahu ia tidak boleh bertindak gegabah. Jalan terbaik untuk menyelamatkan diri dari gempa adalah berdiri di ruang terbuka yang minim terkena resiko tertimpa benda apapun.

“Kyaaa!” teriakan bernada tinggi lain berhasil merenggut perhatian Jia-yi, hal yang membuat tatapannya membelalak lebar lantaran menyadari bahwa ia tidak bisa sekedar berdiri diam sementara orang-orang kini berlarian.

Retakan raksasa muncul dan membelah jalan raya lebar di depan Hanvit Bank, membuat beberapa buah mobil terpaksa mengerem secara mendadak dan akhirnya terciptalah kecelakaan beruntun di sana.

Sekon selanjutnya, Jia-yi mengedarkan pandang, mencari celah untuk berlari sebelum kemudian ia bawa tungkainya untuk berlari menjauh dari arah retakan jalan yang ia perkirakan.

Mengabaikan prinsip dasar penyelamatan diri saat gempa yang diketahuinya, Jia-yi berlari di antara beberapa mobil yang berhenti secara mendadak dan bahkan beberapa kali hampir tertabrak.

Masa bodoh, Jia-yi tahu mobil-mobil itu akan berhenti dengan sendirinya saat jalan sudah benar-benar terbelah menjadi dua karena gempa yang sekarang masih terjadi.

Keseimbangan Jia-yi sedikit hilang saat beberapa orang dari arah berlawanan menabraknya. Saat Jia-yi sadar, rupanya retakan lain juga muncul dari arah tersebut.

“Sial! Apa-apaan ini?!” Jia-yi tanpa sadar mengumpat, lagi-lagi ia mengedarkan pandangan, memperkirakan arah retakan tersebut sebelum ia berlari ke arah lain yang lebih jauh, menghindari arah retakan yang ia perkirakan.

Tentu, Jia-yi bukan tipe orang yang akan berlarian panik kesana-kemari saat bencana terjadi. Meski ia tahu nyawanya juga sekarang dipertaruhkan karena tindakan sembrononya menyebrangi jalan tanpa peduli keadaan, menabrak beberapa orang dan tak jarang membuat mereka terjatuh, tapi setidaknya dengan cara ini Jia-yi bisa bertahan.

Tangisan, rintihan kesakitan, darah. Tiga hal itu jadi pemandangan dominan yang memenuhi benak Jia-yi sekarang. Berusaha mengabaikan keinginan manusiawinya untuk menolong orang-orang dengan perlengkapan medis sederhana yang dibawanya di dalam ransel, Jia-yi meneruskan langkahnya.

Namdaemun hancur.

Jia-yi terbelalak saat melihat bagaimana area yang beberapa menit lalu dilihatnya begitu megah sekarang sudah rata dengan tanah. Ia yakin tadi ia tidak menghadapi goncangan yang begitu berlebihan saat ia ada di Hanvit, tapi bagaimana bisa Namdae—

“Tidak! Awas!”

Sontak Jia-yi berlari ke arah seorang pria yang tampak tidak sadar akan jatuhnya sebuah pilar beton ke arahnya. Refleks Jia-yi mendorong pria tersebut hingga keduanya tersungkur ke aspal yang sudah hancur.

“Ugh!” Jia-yi bisa merasakan bagaimana nyeri menyerang lengannya saat pecahan aspal menyambutnya bersamaan dengan gravitasi. Sekon selanjutnya, Jia-yi menatap ke arah pria yang baru saja di selamatkannya dengan tatapan kesal bercampur marah.

“Apa kau gila?! Kau tidak lihat—”

“—Anakku.”

“Apa?” Jia-yi mengerjap tidak mengerti, kemarahannya tiba-tiba saja lenyap saat dilihatnya mata berkaca-kaca pria itu. Di lengannya, sebuah mantel putih yang sudah ternoda darah dan debu ia rengkuh sementara bibirnya bergetar.

Jia-yi tahu pria di hadapannya tengah berusaha keras menahan tangis yang ingin ia raungkan. Tapi bukan itu yang jadi masalah bagi Jia-yi sekarang. Mantel itu. Ia jelas mengenalinya.

“Anakmu? Gadis yang mengenakan mantel ini anakmu?” tanyanya, tentu ia ingat mantel putih tersebut baru saja dipujinya sebagai barang keluaran terbatas beberapa menit lalu.

“Ren … Dia anakku…”

Kini Jia-yi kehilangan semua kata yang ingin ia lontarkan. Sedari tadi ia sudah menguatkan diri dan mengabaikan keadaan mengerikan di sekitarnya karena ia pikir ia harus menyelamatkan dirinya sendiri untuk bisa menemukan adiknya, tapi sekarang ia justru dihadapkan pada fakta bahwa gadis yang beberapa menit lalu diajaknya bicara kini sudah tidak diketahui keberadaannya.

Tapi tunggu, Jia-yi tahu ada yang janggal di sini.

“Kau hanya menemukan mantelnya saja? Dimana tubuhnya? Kau sudah menemukan tubuh anakmu?” pertanyaan itu membuat sang pria—Kris—mendongak, menatap Jia-yi seolah ucapannya adalah suatu harapan akan keajaiban.

“T-Tidak. Aku tidak menemukannya.” Ragu-ragu Kris menggeleng.

Jia-yi memperhatikan sekitarnya. Meski matahari masih menaungi mereka, dan suara sirine juga samar-samar mulai terdengar, ia tidak yakin bisa mengenali dimana tempat ia tadi bertemu dengan si gadis yang dimaksud sebagai ‘anak’ oleh pria di hadapannya.

“Kalau begitu dia pasti masih hidup.” Jia-yi akhirnya berucap.

“Apa?” Kris menatap tidak percaya.

Kini, Jia-yi menatap ke arah pria Wu tersebut dengan pandangan yakin. Seolah berusaha memberikan keyakinan yang sama pada sang pria atas kemungkinan yang tidak pasti ini.

Ia bisa saja meninggalkan si pria sendirian, dan melanjutkan perjalanannya untuk mencari keberadaan Jin-yi—adiknya. Tapi toh, ia sendiri tidak tahu pasti dimana sekarang Jin-yi berada.

Selain berharap jika gempa tidak menghancurkan bagian kota Seoul yang lain, apa lagi yang bisa Jia-yi lakukan selain mengorbankan kepentingannya demi menolong orang lain?

Terutama, karena semua sosok ayah mengingatkannya pada pria tangguh penuh ketidakpedulian yang ia tinggalkan di Beijing, ayahnya—yang bahkan tidak peduli pada keadaan Jin-yi sejak Jin-yi memutuskan untuk pergi ke Korea.

“Aku bicara pada anakmu, tadi. Aku menghabiskan tiga puluh menit untuk berjalan dari tempatku bicara dengannya sampai ke Hanvit Bank. Aku ingat benar aku hanya berada di Bank selama tidak lebih dari sepuluh menit.

“Itu artinya, anakmu tidak mungkin berjalan sampai ke sini dalam waktu sesingkat itu. Hanya ada dua kemungkinan, ia menaiki kendaraan menuju ke tempat ini … atau seseorang memakai mantel yang sama seperti yang ia kenakan.

“Karena kau belum menemukan keberadaan anakmu … jadi kita tidak bisa berpikir jika ia sudah mati. Bangunlah. Anakmu mungkin sedang menunggumu dalam ketakutannya saat ini.”

Meski penampilan pria di depannya sangat tidak cocok untuk dikatakan sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab, tapi setidaknya ia punya keinginan untuk menemukan anaknya.

Ya. Itulah yang menjadi alasan Jia-yi menawarkan bantuan pada pria di hadapannya ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Aku tak pernah menjadi ayah yang baik untuknya.”

“Apa?” Jia-yi menolehkan pandang ke arah pria di sebelahnya—yang sedari tadi menatap ke arah mantel di tangannya dengan pandangan kosong. Mengabaikan fakta bahwa mereka berdua sekarang tengah beristirahat di sebuah tenda bantuan yang beberapa jam lalu didirikan oleh pemadam kebakaran, pria di sebelah Jia-yi tampaknya lebih mementingkan kekhawatiran tentang keberadaan putrinya yang masih belum ia ketahui daripada mengisi perut yang sejak tadi meronta kelaparan.

“Makanlah dulu, Kris. Setelah itu kita bisa mencari putrimu lagi,” tutur Jia-yi. Well mereka sudah berkenalan tadi saat Jia-yi memutuskan ia akan menolong si pria untuk menemukan anaknya.

Bukannya mereka tidak berusaha dengan keras, tapi memang Namdaemun telah berubah menjadi area yang berbeda. Jangankan Jia-yi yang notabene tidak mengenal baik kota Seoul, Kris saja sudah merasa kesulitan mengenali tempat itu.

Terhitung, sudah hampir tiga jam mereka mengelilingi reruntuhan Namdaemun, dengan hasil nihil. Memang, beberapa kali Kris menemukan murid yang berasal dari sekolah Ren, tapi keadaan mereka bahkan cukup mengerikan untuk Kris ingat.

“Aku sungguh tidak pernah menjadi ayah yang baik untuk putriku.” Lagi-lagi Kris mengulang kalimat serupa.

“Apa maksudmu? Kau bahkan mencarinya sampai ke sini, mengapa kau berkata seperti itu?” tanya Jia-yi, diam-diam merasa penasaran juga.

“Apa aku sekarang terlihat menyedihkan?” Kris malah balik bertanya, membuat Jia-yi menatapnya dengan alis berkerut lantaran tidak mengerti kemana pria di depannya ini membawa alur pembicaraan mereka sebenarnya.

“Belasan pesan putriku kirimkan sejak pagi, ia katakan ia enggan mengikuti kegiatan sekolah ini dan memintaku menjemputnya pulang. Tapi kau tahu apa yang kukatakan? Aku katakan ia sudah bersikap begitu kekanak-kanakkan.

“Aku bahkan menyuruhnya untuk mengikuti acara rekreaksi sekolah sampai selesai. Jika saja… tadi aku cukup peduli pada apa yang putriku rasakan, ketidaknyamanannya, mungkin sekarang kami tengah duduk di ruang keluarga rumah kami dengan menyantap makan siang.”

Jia-yi kini terdiam. Bisa ia pahami keadaan yang sekarang dihadapinya. Pria di hadapannya pastilah seorang ayah yang selalu disibukkan dengan hal-hal yang ia katakan sebagai bagian dari pekerjaan hingga anak yang seharusnya menjadi prioritas justru berubah menjadi bagian dari beban hidup.

“Pantas saja … putrimu terlihat kesepian.” ucap Jia-yi membuat Kris menatapnya tidak mengerti.

“Apa maksudmu?” tanya pria Wu tersebut.

Jia-yi tersenyum kecut. “Saat ia mengajakku bicara, ia berpikir aku sedang tersesat. Sekarang aku mengerti kenapa ia berpikir seperti itu, karena ia melihatku sendirian. Padahal, ia juga sendirian saat itu, tapi ia tahu jika aku tersesat.

“Apa kau tahu? Dia pasti sangat kesepian hingga bisa membedakan mana orang yang sendiri karena kesepian, dan sendiri karena tersesat. Saat melihatnya tadi, aku hanya mengira ia secara kebetulan tengah berdiri sendirian.

“Sekarang aku mengerti, ia pastilah sangat kesepian, hingga berdiri sendiri di tengah keramaian Namdaemun, tanpa teman, tanpa ada orang yang dikenalnya. Apa kau pernah bertanya pada putrimu tentang apa yang ia rasakan?”

Pertanyaan itu menohok Kris. Tidak, pertanyaan itu tak hanya menohoknya tapi juga menamparnya secara tidak langsung. Baru saja ia diingatkan oleh seorang gadis asing, jika selama ini ia telah menjadi seorang buta-tuli yang tidak tahu apa-apa tentang anaknya.

“Mungkin Tuhan ingin menghukumku dengan cara seperti ini.” Kris menggumam pelan, berpikir jika hilangnya Ren dalam keadaan yang bahkan tidak bisa Kris mengerti adalah bagian dari hukuman yang Tuhan berikan padanya karena telah mengabaikan sang putri semata wayang tersebut.

“Tidak, Tuhan tidak menghukummu, tapi Ia tengah merengkuhmu.” Jia-yi berkata, sebuah senyum kecil ia tunjukkan sebagai bagian dari simpati atas duka tak kasat mata yang tengah pria di hadapannya ini alami.

“Merengkuhku?” ulang Kris.

“Selama ini Tuhan mengabaikanmu, membiarkan kau tidak melihat dan tidak mendengar apa yang terjadi pada putrimu. Tapi kini Ia merengkuhmu, memberimu sebuah jalan yang akhirnya membuka mata dan telingamu untuk sadar dan memperbaiki apa yang sudah kau hancurkan.

“Hati putrimu, mungkin sudah kau gores dengan luka, dan malah kukira luka itu sudah menganga lebar dan dalam karena tidak pernah diobati. Apa yang sekarang terjadi … mungkin sudah menciptakan sebuah obat tidak kasat mata di hati putrimu.

“Ia menunggumu datang, Kris. Putrimu menunggumu untuk menyelamatkannya, memeluknya dan mengatakan bagaimana kau mengkhawatirkan keadaannya. Bagaimana kau menyesal telah mengabaikan keinginannya untuk pulang dan menghabiskan waktu denganmu.

“Ren membutuhkanmu, Kris. Saat ini, ia tidak butuh pahlawan yang bisa menyelamatkannya, ia hanya butuh ayahnya. Meski nanti kita menemukan Ren dalam keadaan terburuk, percayalah kalau ia akan melihat ketulusanmu.”

Menit berlalu dalam keheningan. Keduanya, tampak enggan membuka konversasi lain. Kris sendiri, memilih berdiam dan hanya mengisi perut dengan dua botol air mineral yang didapatnya dari paramedis yang ada di tenda penyelamatan.

Jia-yi sendiri sudah mengenyangkan diri dengan dua potong roti—salah satunya adalah roti yang hendak Kris buang akibat kacaunya batin pria itu sekarang. Memang, sedikit wajar karena Kris sekarang tengah bersikap benar-benar layaknya seorang ayah, bukan?

Bahkan, saat hampir tujuh menit mereka lalui dalam keheningan, Kris lah yang pertama kali menyerah pada keheningan dan akhirnya berdeham kecil, tanda bahwa ia akan kembali membuka pembicaraan.

“Aku akan mencari Ren sekarang.” ucapnya, bergerak meninggalkan dua botol air mineral tersebut di sebelahnya sementara ia bangkit dan membersihkan jaketnya dari debu.

“Aku akan ikut.” Jia-yi berkata, lekas ia mengikuti Kris, sementara pria itu menatapnya tidak mengerti.

“Kenapa kau ikut?” tanyanya tidak mengerti.

Sebenarnya, sudah sejak tadi Kris merasa gadis yang diajaknya bicara ini begitu aneh. Mereka bahkan tidak saling mengenal, dan gadis ini juga hanya mengenal Ren karena mereka bertemu sekali sebelum bencana ini terjadi.

“Daripada mencari sendirian, bukankah lebih baik jika ada yang menemanimu?” Jia-yi malah balik bertanya. Kris sendiri terdiam, dipandanginya Jia-yi dari atas sampai bawah, seolah mempertanyakan kesungguhan gadis itu sebelum akhirnya ia mengangguk.

“Terima kasih,” ucapnya sebagai persetujuan.

Mengingat keduanya sudah mencoba meminta bantuan dari tim evakuasi untuk menanyakan keberadaan—atau minimal keselamatan—seorang gadis bernama Ren, dan tidak membuahkan hasil, Kris pikir mengelilingi Namdaemun adalah cara terbaik untuk menemukan Ren.

Kini, keduanya berjalan menyusuri reruntuhan supermarket, korban-korban juga sudah tidak terlihat dimana pun, mengingat tim evakuasi bergerak dengan sangat cepat. Diam-diam, Jia-yi merasa mual juga saat bayangan puluhan orang sekarat yang tadi dilihatnya di tenda.

Jia-yi tidak bisa bayangkan, bagaimana keadaan korban lainnya yang masih tertimbun reruntuhan. Bahkan, Jia-yi sendiri sejujurnya tidak bisa mengharapkan sebuah kata selamat untuk Ren saat ini.

“Apa kau berasal dari Tiongkok?” alih-alih membiarkan waktu terbunuh dalam kediaman, Kris lagi-lagi buka suara. Kini, pertanyaannya berhasil membuat Jia-yi terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

“Beijing, lebih tepatnya.” jawab Jia-yi.

“Mengapa kau ke Seoul?” lagi-lagi Kris bertanya.

Mau tak mau, Jia-yi akhirnya membuka cerita juga. “Aku ingin menjemput adikku. Sesuatu yang buruk akan terjadi di Seoul, kurasa. Tapi kupikir aku sudah terlambat.” tuturnya.

“Apa maksudmu?” Kris menatap tidak mengerti.

Sejenak, Jia-yi menatap pria itu dalam diam. Menimbang-nimbang baik-buruknya yang akan terjadi jika ia memberitahu pria itu tentang apa yang akan terjadi ke depannya.

Buruknya, pria di hadapannya mungkin tak cukup bisa ia percayai. Baiknya, mungkin pria ini bisa menyelamatkan keluarga kecilnya dari bencana yang akan mereka hadapi.

“Seoul akan hancur.” Bisa Kris rasakan bagaimana jantungnya tiba-tiba saja berhenti bekerja selama sepersekian sekon akibat perkataan gadis di sebelahnya. Seoul? Hancur? Mana mungkin.

“Jangan bercanda, Nona. Kau pikir Seoul adalah kota kecil yang mudah dihancurkan?” tanya Kris, menyelipkan sebuah tawa meledek. Jia-yi sendiri hanya menghembuskan nafas panjang sebagai jawaban.

“Memang terdengar konyol, tapi aku memberitahumu agar kau bisa menyelamatkan keluarga kecil yang kau miliki jika sesuatu terjadi di kemudian hari. Meski informasi yang kuketahui hanya sedikit, tapi setidaknya aku tahu jika Rusia dan China saat ini berencana untuk—”

“—Ah, jadi isu yang kudengar itu benar adanya.” tiba-tiba saja Kris memotong ucapan Jia-yi. Ekspresinya saat ini tidak bisa Jia-yi gambarkan, ada kesedihan, secuil rasa puas dan juga kekecewaan di dalamnya.

“Isu?” ulang Jia-yi, menaruh nada curiga dalam suaranya.

“Ya, kudengar Rusia ingin membuat Seoul terpuruk. Tidak kusangka rencana mereka nyatanya untuk menghancurkan kota ini. Kupikir mereka ingin menjatuhkan perekonomian kami, atau sejenisnya.”

“Darimana kau dengar tentang isu itu?” tanya Jia-yi penasaran.

“Kevin—temanku—dan aku, beberapa waktu lalu menjadi fotografer untuk pernikahan salah satu putri petinggi negara. Di sana, kami tidak sengaja mendengar perdebatan antara perdana menteri dengan duta besar Rusia. Aku tidak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi aku sedikit mendengar tentang ancaman dari duta besar Rusia. Ia katakan Seoul akan segera terpuruk dan mengemis pada Rusia.”

Kali ini Jia-yi membeku. Ia memang tidak mengerti apa rencana negaranya dan Rusia saat ini. Tidak juga tahu bagaimana cara menghentikannya, atau mencegah hal tersebut. Yang ia ingin lakukan hanyalah menyelamatkan adiknya. Tapi mengapa kini ia justru dihadapkan pada situasi yang membuatnya begitu penasaran?

“Apa kau ingat siapa nama duta besar itu?” pertanyaan Jia-yi berhasil membuat Kris menyernyit bingung. Memangnya Jia-yi pikir, Kris itu salah satu staff kenegaraan atau apa? Bagaimana mungkin ia bisa mengingat nama semua duta besar negara lain?

Kekehan pelan akhirnya lolos dari bibir Kris. “Aku bahkan tidak tahu siapa namanya, Nona. Tapi aku punya bukti otentik.” Kris mengangkat salah satu sudut bibirnya membentuk senyum samar, dielusnya kamera yang ia kalungkan di leher sebagai sebuah tanda untuk Jia-yi tentang bukti yang ia bicarakan.

“Kau memotretnya?”

“Karena kupikir akan berguna suatu hari nanti,” Kris mengedikkan bahunya acuh, “Tidak kusangka kalau memang berguna.” Sambungnya, tertawa pelan sebelum ia memandang ke langit yang menjadi naungan mereka sekarang.

“Tidak pernah terpikir olehku untuk menyaksikan Seoul hancur. Apa menurutmu yang akan mereka lakukan untuk menghancurkan Seoul?” pertanyaan itu membuat Jia-yi terdiam.

Ia juga tidak tahu apa-apa, yang diketahuinya tidak berbeda dengan apa yang Kris ketahui. Tapi sekarang diam-diam ia merasa terusik juga.

“Apa aku boleh melihat foto yang kau ambil?” Jia-yi akhirnya berucap.

“Tentu saja.” Kris menyahuti, dilepaskannya kamera tersebut dari lehernya, sementara jemarinya bergerak menyalakan kamera itu dan mencari gambar yang ia maksud.

“Ini. Tapi untuk apa kau melihatnya?” Jia-yi tidak lantas menyahut. Tentu ia tidak mungkin mengatakan pada Kris jika ia adalah putri dari salah seorang petinggi militer di Beijing, bukan?

Tanpa bicara apapun, Jia-yi meraih kamera tersebut sembari menghentikan langkahnya. Kris sendiri tampak enggan menunggu reaksi si gadis karena melihat tenda penyelamatan yang berdiri beberapa meter di depan mereka.

Jia-yi sendiri akhirnya memperhatikan gambar tersebut. Dilihatnya seorang pria paruh baya yang ia yakini sebagai perdana menteri Korea—dari pakaiannya—sementara di depannya berdiri seorang pria yang—

“Dia!”

—dikenalnya.

“Arshavin. Aku tahu dia terlibat. Bahkan adiknya ada di dakam bukti ini,” gumam Jia-yi tanpa sadar, lekas ia menatap sekitarnya, mencari keberadaan Kris sebelum akhirnya pandangannya terpaku pada sebuah pemandangan yang mengejutkannya.

“A-Apa itu?” Jia-yi menggumam tidak percaya, dilangkahkannya kaki mendekati siluet gelap yang terlihat di tengah reruntuhan di sekitarnya. Nafas Jia-yi tercekat saat menyadari bahwa siluet gelap tersebut adalah sebuah sinkhole besar yang menjadi batas antara Namdaemun dengan daerah lainnya.

Perlahan, Jia-yi melongokkan kepalanya untuk melihat apa saja yang sudah tenggelam ke dalam sinkhole tersebut. Gelap. Gelap adalah hal pertama yang menyambut netra Jia-yi, sebelum berangsur-angsur ia bisa mengenali tumpukan badan mobil, dan beberapa tubuh tidak bernyawa yang terlihat.

Dalamnya sinkhole itu tidak bisa Jia-yi perkirakan tapi ia yakini pasti cukup dalam untuk membuat Namdaemun tenggelam. Gadis itu kini menatap seberangnya, bisa ia katakan, sinkhole tersebut menjadi batas kentara yang membelah Namdaemun. Membuat Namdaemun tidak terlihat sebagai bagian dari kota Seoul lagi.

Hey, Nona! Apa yang sedang kau—sial! Apa-apaan ini?” Jia-yi mendapatkan kesadarannya kembali saat didengarnya suara tersebut masuk ke dalam pendengarannya.

Saat ia sadar, Kris—pria yang bersamanya tadi—sudah berdiri di sebelahnya dengan ekspresi terkejut yang luar biasa.

Sinkhole yang mereka katakan di radio… adalah lubang ini?” Kris berucap tidak percaya. Ingat benar ia bagaimana tadi berita di radio yang mengatakan tentang sinkhole yang menelan Namdaemun.

“Ini gila,” desis Jia-yi. Sebuah sinkhole di Seoul? Jia-yi menoleh ke samping dan mendapati raut pucat dari Kris. “Ayo. Sebaiknya kita lanjutkan mencari putrimu,” ajak Jia-yi untuk menepis besarnya kekhawatiran Kris.

Mereka berdua kembali menyusuri Namdaemun yang luluh lantah namun belum mendapati sosok yang mereka cari meski sudah mencari dalam hitungan jam.

“Tidakkah menggelikan? Pemerintah hanya mengirim tim evakuasi saja untuk menghadapi bencana seperti ini.” Komentar Jia-yi setelah beberapa jam mereka berkeliling. Di dalam kepalanya berputar berbagai teori konspirasi. Sekon kemudian ia membalik tubuh, menatap ke arah Kris dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

“Apa kau sudah menemukan putrimu?” tanyanya membuat Kris mengerjap cepat, tersadar akan tujuan utamanya mengelilingi tempat hancur ini.

“Tidak. Tenda itu adalah tenda terakhir yang dibuat, kupikir kita sudah datang ke empat tenda evakuasi, dan Ren tidak ada dimana pun.” Kris terhenti sejenak, dipandanginya sinkhole mengerikan itu sebelum ia berucap.

“Apa kau ingin mengatakan padaku kalau Ren ada di bawah sana?” tanyanya, tidak dengan nada penuh percaya diri yang sejak tadi ia gunakan, sekarang Jia-yi bahkan bisa mendengar jelas kesedihan yang sarat di dalam suara pria itu.

Tanpa sadar, Jia-yi mengiyakan juga dalam hati. Mereka sudah menghabiskan berjam-jam untuk menemukan Ren, tapi Kris bahkan tidak punya niatan untuk menyerah. Mungkin, kali ini ia benar-benar ingin menjadi sosok yang layak disebut sebagai seorang ayah oleh putrinya itu.

“Kupikir kau seharusnya menye—”

“—Menyerah? Begitu maksudmu?” Kris memotong, dipandanginya Jia-yi dengan tatapan penuh arti. “Kau tidak memintaku untuk menyerah bukan?” ulangnya seolah menunggu jawaban Jia-yi.

Ingin, sungguh Jia-yi ingin mengiyakan saja pertanyaan Kris sekarang. Tapi tidak mungkin, bukan? Keyakinan Kris saat ini saja sudah membuat Jia-yi tahu pria ini tidak main-main.

Dia sungguh ingin menemukan putrinya.

Melihat sikap diam Jia-yi sekarang, Kris akhirnya menghela nafas panjang. Ia lantas berbalik dan melangkah meninggalkan Jia-yi, sementara si gadis sendiri masih menatap dalam diam.

“Kau bisa lanjutkan perjalananmu, Jia-yi-ssi.” Lagi-lagi Kris berucap, ia berbalik dan menghentikan langkahnya, menatap ke arah Jia-yi sebelum ia melanjutkan kalimatnya, “Aku bisa mencari Ren sendiri—”

Kalimat Kris kini terhenti, ia menyipitkan matanya, memandang ke arah Jia-yi tapi Jia-yi yakini pria itu tidak sedang menatapnya. Sekon kemudian, pria itu tertawa, cukup keras hingga membuat Jia-yi terkejut.

Mengapa tiba-tiba ia tertawa seperti itu? Jia-yi ingin menyuarakan pikirannya tapi atensinya telah direnggut oleh hal yang Kris lakukan sekarang. Pria itu berlari, begitu cepat hingga Jia-yi sendiri tidak sadar jika pria itu telah melewatinya.

“Ren!” teriakan itu membuat Jia-yi sontak berbalik, netranya segera disambut pemandangan yang membuatnya tanpa sadar ingin ikut menangis.

Di depannya sekarang, Kris tengah berlari ke arah gerombolan kecil yang tampak begitu kacau. Meski tidak yakin jika sosok yang dilihatnya sekarang masih sama, tapi melihat seorang gadis yang pakaiannya sudah tertutupi debu dan tubuh yang juga kotor, setidaknya Jia-yi tahu gadis itu adalah gadis yang bicara dengannya beberapa jam lalu.

Jia-yi mengenali mantel—yang telah begitu kotor, nyaris hancur—yang gadis itu kenakan. Ya, mantel limited edition yang si gadis katakan dibelikan ayahnya sebagai sebuah kado ulang tahun.

Dad!” pekikan si gadis juga membuat Jia-yi tersadar.

Kini, Kris sudah berhasil mencapai gadisnya, direngkuhnya tubuh mungil itu ke dalam pelukan sementara si gadis sekarang menangis terisak, seluruh tubuhnya gemetar lantaran ketakutan yang Jia-yi yakini masih mendominasi.

Meski perlahan, Jia-yi bawa juga tungkainya untuk mendekati keluarga kecil yang sekarang saling merengkuh. Ada sebersit perasaan iri yang Jia-yi rasakan menusuk hatinya, karena ia ingin juga merengkuh adiknya dengan cara seperti itu, meski sekedar untuk melepas rindu saja.

Kini, Jia-yi bahkan tidak tahu bagaimana keadaan adiknya.

“Maaf, Ren. Kupikir Ayah akan kehilanganmu.” Bisa Jia-yi dengar suara Kris bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Jika saja mereka tidak sedang berada di tempat terbuka—dimana beberapa orang juga memperhatikan mereka—mungkin Jia-yi yakin pria itu sudah menangis sekarang.

Dad datang ke sini untuk mencariku?” agaknya, pertanyaan itu akan terdengar begitu konyol di telinga orang lain. Tapi tidak bagi Ren, menurutnya kemunculan Kris adalah sebuah keajaiban.

“Ayah tidak seharusnya membiarkanmu ikut dalam rekreasi mengerikan ini.” ucap Kris, dilepaskannya pelukan pada gadis kecilnya sementara ia kini sibuk membersihkan wajah putrinya dari debu dan basahnya air mata.

“Kita ke Kanada, Ren. Tempat ini sudah tidak cocok untuk kita.” ucap Kris membuat Ren menatap tidak mengerti.

“Kita akan ke tempat Mom?” tanyanya dijawab dengan sebuah gelengan pelan oleh Kris. Helaan nafas panjang kemudian terdengar lolos dari bibirnya. “Kau ingat rumah lama kita di Kanada, bukan? Kita akan kembali ke sana, Ren.”

Jia-yi diam-diam tersenyum samar. Mungkin, keputusan Kris untuk segera membawa pergi keluarga kecilnya dari Seoul adalah keputusan terbaik.

“Mengapa Dad bersamanya?” kini pertanyaan Ren ditujukan untuk eksistensi Jia-yi yang ada di sana, mengawasi mereka dalam diam. Kris sendiri akhirnya memutar pandangan, menatap Jia-yi dengan kemudian mengukir sebuah senyum kecil.

“Dia juga sedang mencari keluarga yang dicintainya.” jawab Kris, ia kemudian melepaskan cekalannya pada Ren, tangannya dengan cepat bergerak mengeluarkan notes kecil dari dalam tasnya dan mengambil bolpoin sebelum ia dengan tergesa-gesa menuliskan sederet kalimat di atas notes tersebut.

“Ini,” Kris berucap saat ia menyobek notes tersebut, dan mengulurkannya pada Jia-yi. “Apa ini?” tanya Jia-yi tidak mengerti.

“Kenalanku. Kau bilang, adikmu bersekolah di salah satu sekolah seni, bukan? Dia bisa membantumu. Dan juga … dia mengenal beberapa orang ‘tinggi’ yang tadi sempat kita bicarakan,” tutur Kris membuat Jia-yi mengerjap cepat.

“Terima kasih,” ucap Jia-yi, tersenyum sebelum ia mengulurkan kamera Kris kembali kepada pemiliknya.

Kris sendiri mengangguk sebagai jawaban. Diterimanya kamera tersebut sebelum ia bangkit dan menepuk pelan bahu Jia-yi.

“Semoga kau berhasil, Jia-yi.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Gwanak-gu

Irish’s Notes:

INI SERIUS, pembahasan soal rasisme dan China di sini enggak ada hubungannya sama demo 4 Nopember kemarin, gaes. Aku disclaim dulu, Len bisa nujum juga karena itu konsep dia, WKWKWKWKWKWK.

Dan juga, aku sesungguhnya udah enggak bisa berkata-kata lagi. Kepala aku puyeng membayangkan bagaimana petualangan ini akan berakhir tapi … ah sudahlah. (Jangan pusing Kak Irish. Kasian noh readers yang menanti. Kalo sering pusing minum aja bodrex campur sprite😄 /lalu dibakar/) Karena ini kolaborasi pertama aku sama Len, dan cobaan kami banyak sekali (re: mulai dari masuknya Violet ke rumah sakit, kuota dan pulsa yang abis, sampe kegiatan outbond diriku yang mengambil hari sabtu minggu) tapi serius alhamdulillah bisa selesai juga kolab ini.

Ucapan terima kasih aku sampein buat Len karena udah bersabar buat kolab sama diriku, semoga Len enggak kapok ~ semoga jalan terang ada di bulan Mei buat kita (EHEM, KODE KERAS), AMIN. Intinya, thanks a lot Len karena kolab kita bisa aku bilang berhasil ~ meski enggak dengan konsep komedi yang pernah ada di perencanaan kita, tapi konsep ini ternyata berhasil kita eksekusi juga /PELUK KECUP LEN SAMPE MABOK/.

Len’s Notes:

Yalord! IYA! Rasisme dan Cina dimari gak ada hubungannya ama demo 4 November ya gaes! Ini konsep udah lama bercokol begitu Kak Irish kasih ane garis besar ceritanya. Kok bisa jadi nyata sih?! Malahan, kalo Kak Irish ga nyinggung soal 4 November ini di a/n, ane gak bakal nyadar ._. LOLOLOLOL (Irish: INI TANDA ANE BISA NUJUM, LEN! TOLONG, DAN ENTE KETULARAN).

Btw, nama Ren ini bisa dibilang nama Jepang ane (Irish: HMM, SUDAH KUDUGA). Cuma kalo nama ane ditulisnya pake kanji yang ada karakter api-nya, sedangkan Ren dimari ane ambil dari kanji yang berarti ‘teratai’. Soalnya ane suka sama filosofi bunga teratai /gatanya/

Makasih juga buat Kak Irish atas pinangannya ke ane buat garap ni epep. Jangan kapok juga buat kolab ama ane Kak, si manusia semi-primitif yang bukan anak kekinian yang baru punya imel sebagai alat penghubung. Hahahahaha.

Dan … ada apa dengan Mei? /nyanyi ala teh Melly/ lalu ditabok Kak Irish/😄

Well, bikin epep ini emang melelahkan karena kita berdua sibuknya nggak kalah sibuk sama bintang Hallyu. LOL. Tapi sekali lagi, untungnya epep ini bisa kelar meski mepet deadline.

Oke, saya Len mewakili Kak Irish juga, mengucapkan terima kasih untuk para pembaca atas dukungannya🙂

KELUPAAN (INI IRISH) PIBESDEY KRISEU ~~ KUTAK CINTA PADAMU TAPI LEN CINTA PADAMU ~~~

15 thoughts on “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in NAMDAEMUN [2/2] — IRISH’s Story

  1. Dua kata buat Ririseu dan Len,
    SEMPURNA! KEREN! AAAAAAAAAAAAKKKK
    kujadi minder /dibalang/
    Kalian emang gak usah diragukan lagi deh. Many thumbs up! Yuhuuuu~
    Karakter Jia-yi agak beda dari yg kubayangin sebenernya. Tapi bener2 karakter yg bagus! Kalian luar biasaaaa! :”””
    Family nya dapet ngeuts. Ya ampun, kalo ada cerita ayah-anak, kuselalu inget kyuhyun-alessa /gak
    Aaaah aku bingung mau komen apa lg. Kalian apik sekali menggambarkan situasinya. Aku bisa bayangin dengan mudah. Duh, apa kabar hayati yg abal2?😂
    Cuss ke series selanjutnya deh. Hehe
    Kutunggu kolab kalian yg laennya muehehe
    Btw, aku bahkan gak ngeh sama 411 :v

  2. ku jg sudah menduga’ny, terkait nm Ren itu kan klo di tls dlm Hangeul ya sm ky klo mo nulis Len jg, ksampean ya kamu Len jd anak’ny Daddy Wu ^ ^ tp diacuhin gt, maklum dah pny bpk org irit ngomong ‘cem our ultimate bias, Kris. Len bhs arti tlsn kanji dr nm Ren jd inget dorama Gokusen, my bronis Miura Haruma mranin tkh nm’ny Kazama Ren, kyny pk kanji yg sm ma ur Japanese name yg ada karakter api’ny. Yah, Jia Yi msh blm smpt ktmu ade’ny, kshn.. moga ntar Chanyeol bs nolongin nemuin ade’ny Jia Yi. Kmampuan nujum Irish emang superb, dah master lah pokok’ny (yg dialamin dimimpi ja bs da bkas’ny jg kan direalty) no wonder klo Len jg ktularan ilmu’ny. Bln Mei xan mo colab lg?? bwt Suho ya?😀 wkkk~ smpt ngira bwt Baekhyun tp.. sorg Len kan pny romance-hate relationship’ny sm si Suho! Bln dsmbr absen dong🙂 ga da mmbr/x-mmbr exo yg bday? Di kolom kmntr part 1 da yg tny Ren umur brp? Klo mnrt saya, Ren msh SD kan, blm teenage? Am I right? Btw, Kevin kmana? Mencar nyari Ren jg? Thank God, Ren slmt, buruan pndh ke Canada deh, moga disana aman..
    ga sabar nggu bln2 slnjt’ny bwt bc lanjutan ff ni dr tiap mmbr yg bday nih🙂

    • akhirnya Ren bisa dikejar-kejar sama papaWu anjir ane salfok kak sama bagian papa Wu ini😄 sesungguhnya aku engga paham masalah perjepangan ini…. biarlah aku mengikuti saja kalau begitu😄 wkwkwkwkwkwkwkwkwk itu yang nujum si Len kak, ane cuma ngingetin dunia aja kalo itu hasil nujuman soal demo rasisme itu😄 wkwkwkwkwwk semoga, amin, semoga cahyo engga semakin sesat😄 kak, ente bisa nujum juga ini ceritanya?😄 aku rasa iya, di sini mental stage anak SD di indo sama luar kan beda (yaampun semi rasis ya aku? wkwk tapi nyatanya begitu kok)😄 semoga kakak engga mabok menunggu tahun depan😄

  3. Yehet, akhirnya kris tobat waks/plakk/😂
    Ini banyak yg bisa nujum ternyata/plakk/😂
    Kak len, eki tak sangka bisa nujum..😂
    Yg dikasih nomornya sama kris siapa yak? Ane curiga itu chan/plakk/😂
    Wkw, ditunggu next birthday kak rish, ditunggu japrinya/plakk/😂
    .
    Ini agak tobat, jadi kepsnya mati ye kak rish..😂😂

  4. KAK LEN, KAK RISH ANE MEWEK YA LORD DIKIRA SI REN ITU METONG

    INI SERIUS PENGAMBARANNYA BAGUS.

    Lalu… udah sana kalian minggat ke Kanada keburu Seoul atau mungkin Korsel hilang di peta dunia /dibalang

    ane juga baru ngeh ini kek demo kemarin kwkwkwk padahal konsepnya udah kapan tau ya kak rish😄 tau-tau jadi kenyataan LOLOL.

    Udah kutunggu series si Chanyeol

    • EH ENGGA, ENTE BAPER AH MEMBAYANGKAN RENNYA METONG….MUNGKIN REN INI JAJARAN WANITANYA GUDKISSER JADI ENGGA MUNGKIN METONG BEGITU AJA DIA😄😄😄 besok di akhir petualangan semoga mereka bisa bertemu kembali ~~~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s