[KRIS BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in NAMDAEMUN [1/2] — IRISH’s Story

irish-holmes-in-namdaemun

HOL(M)ES

SHADES in Namdae-mun  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Kris Wu aka Wu Yifan and OC`s Ren

An adventure, dystopia, family and politic story  rated by Teen served in two-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2016  ©  storyline by IRISH & Len K

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Wu Yifan (Kris of EXO)

Previous story:

Hol(m)es in Hunan [Lay]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Jika saja Jia-yi bukan seorang wanita pemberani, mungkin ia sudah menangis saat menghadapi keadaan yang tidak diinginkannya dan tidak juga ia mengerti. Tapi tidak, Jia-yi tidak dibesarkan untuk menjadi seorang pengecut seperti itu.

Berlari dari kediamannya saat dini hari, dan menginjakkan kaki di pagi buta bandara internasional yang ada di Gimpo, menghadapi puluhan orang yang tidak dikenalnya—tambahan, Jia-yi juga berada jauh dari lindungan sang ayah—tidak membuat gadis Wang itu gentar.

Terbukti dengan bagaimana sikap Jia-yi sekarang, mengeratkan mantelnya untuk melindungi tubuh ringkihnya yang tidak serapuh bagaimana ia terlihat, sementara manik tajamnya menatap ke tiap sudut bandara lekat-lekat.

Korea tidak tidur, sama seperti Beijing, kesimpulan itu Jia-yi ambil ketika ia berhenti memperhatikan kesibukan di sekitarnya. Berbekal sebuah tas ransel berwarna marun yang selalu disebutnya sebagai tas keberuntungan, akhirnya Jia-yi membimbing tungkainya untuk keluar dari bandara dan mencari kendaraan yang bisa mengantarnya ke tempat tujuan.

Well, Jia-yi sebenarnya tidak tahu kemana ia harus pergi. Satu-satunya yang ia tahu hanyalah sebuah akademi seni yang alamatnya ditinggalkan oleh sang adik. Dan sebelum memulai pencariannya, Jia-yi harus setidaknya menyiapkan diri.

Setidaknya, ia harus membawa perbekalan juga.

“Kemana Anda akan pergi?” Pertanyaan itu membuyarkan Jia-yi dari lamunannya. Kini netra sang gadis berpaku pada siluet supir taksi yang meliriknya dari kaca spion dengan sebuah senyum ramah.

“Namdaemun,” jawab Jia-yi membuat gurat keriput di wajah pria berusia kisaran lima puluhan itu makin terlihat. Lagi-lagi, ia menyunggingkan senyum pada Jia-yi sebelum mengangguk pelan dan menyalakan taksinya, membuat Jia-yi berhasil menangkap deru halus dari mesin yang akan membawanya ke tempat tujuan pertama Jia-yi di Korea.

Namdaemun.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Berbeda dengan kesibukan dibawah kekhawatiran mencekam yang Jia-yi bawa bersama dirinya, atmosfir yang tercipta di kompleks apertemen kecil pinggiran kota Seoul pagi ini justru terlihat jauh berbeda.

Beberapa orang wanita paruh baya tampak sibuk mengupas kentang di sebuah kursi bekas yang tergeletak di depan gedung apertemen, keberadaan mereka agaknya menjadi sebuah sumbatan kecil di gang selebar tidak sampai tiga meter yang ada menjadi satu-satunya jalan keluar menuju jalan raya dari apertemen tersebut.

Celoteh mereka sudah bersaing dengan kicauan burung-burung yang bertengger di dahan pepohonan, sesekali terdengar suara tawa, dan umpatan khas ibu-ibu yang mewarnai pagi itu.

Well, mereka tengah sibuk mengomentari siapa saja yang lewat di hadapan mereka. Kenal tidak kenal, semuanya mereka komentari tanpa pandang bulu. Bukannya sekali dua kali mereka melakukan hal tersebut, tapi tentu saja orang-orang yang lewat di jalan itu kebanyakan selalu melewati mereka setiap pagi. Tetap saja, komentar-komentar dari bibir-bibir jahil wanita-wanita tersebut tidak bisa dihentikan.

“Hey! Soo-ah! Semakin ahjumma lihat, rok sekolahmu sepertinya bertambah pendek saja tiap hari!”

“Aish! Ahjumma, rokku memang seperti ini.”

Aigoo! Anak-anak sekolah zaman sekarang, begitu senang memakai rok pendek begitu. Memangnya kaki mereka tidak membeku di tengah suhu dingin seperti ini?”

Di sudut lain gang sempit tersebut, seorang pria berusia kisaran tiga puluh sibuk menyerukan nama sayuran yang menjadi rekannya tiap pagi. Sesekali wanita-wanita yang lewat singgah untuk membeli kebutuhan dapur yang mereka inginkan, untuk kemudian mengundang perdebatan kecil yang tercipta karena satu hal; harga.

“Kau bilang sayur ini masih segar? Lihat, ini. Daunnya bahkan sudah layu, dan kau tidak mau memotong seribu won untuk harganya.”

Aigoo, Nyonya Kim. Sayur-sayur ini sungguh baru dipetik pagi tadi dari perkebunan. Memangnya nyonya tidak lihat bagaimana sayuran ini menangis lantaran nyonya terus meledek mereka?”

Kesibukan lain juga terlihat dari ruang-ruang sempit apertemen tersebut. Beberapa orang anak muda berpakaian seragam lengkap sudah berlarian menuruni tangga apertemen lantaran terlambat, dan well, ketenangan justru sekarang terlihat di salah satu apertemen yang ada di sudut kecil lantai dua.

Dua orang yang tinggal di apertemen kecil tersebut—seorang pria bernama Kris Wu dan putri semata wayangnya, Ren—tampaknya tidak andil dalam memamerkan kesibukan berarti di pagi ini.

“Ren! Sarapan sudah siap!” Kris berteriak dari dapur rumahnya.

“Iya!” balas sebuah suara dari dalam kamar. Pemilik suara itu buru-buru menyembunyikan sebuah kotak di bawah kolong tempat tidurnya.

Tidak lama kemudian seorang gadis cilik berusia tujuh tahun dengan rambut pendek berponi samping yang dikucir kuda rendah keluar dari kamarnya. Lengkap dengan tas ransel di punggung dan pakaian rapi. Gadis itu melangkah dengan ogah-ogahan ke meja makan, terlebih saat ia sudah tiba di sana. Meski tidak ada gerutuan atau helaan nafas, tapi Ren merasa jengah melihat menu yang tersaji di meja makan.

Roti panggang selai coklat dengan segelas susu.

Selalu itu yang ia makan di pagi hari. Ayahnya sibuk, sangat sibuk, dan tidak mau repot-repot menyiapkan makan pagi. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, masih bagus ayahnya masih mau menyiapkan makan pagi untuknya meski yah, menunya itu-itu saja.

“Kenapa kau hanya diam? Lekaslah makan. Aku tidak ingin terlambat kerja. Ada janji dengan klien pagi-pagi sekali,” tegur Kris.

Ren hanya diam dan memulai makan paginya. Dikunyahnya perlahan roti panggangnya sambil sesekali mencuri pandang ke arah ayahnya yang duduk di seberangnya dan sudah sibuk dengan ‘kekasih’nya, yaitu kamera.

Ayahnya memang seorang fotografer lepas. Jadi tidak heran kalau ayahnya lebih sering menggenggam kamera ketimbang tangannya. Ayahnya juga orang yang—terkesan—dingin, cuek, tidak peduli. Kadang ayahnya juga mudah marah. Mungkin itu sebabnya kenapa ibunya menceraikan ayahnya.

Seringkali Ren berpikir apa ia harus kembali bersama ibunya saja? Tapi sejak menikah lagi, ibunya jadi tidak mempedulikannya. Terlebih ketika saudara tirinya lahir. Karena itu Ren bersikeras untuk tinggal bersama ayahnya. Tapi … tinggal dengan ayahnya tidak jauh beda.

Dad,” panggil Ren kikuk.

Hm?” hanya sahutan kecil yang keluar. Kris masih sibuk dengan kamera dan komputer jinjingnya.

“Aku ingin bicara.”

“Ya. Bicaralah saja,” balas Kris tanpa sedikitpun menatap wajah putrinya.

Ren menghela nafasnya. Ia ingin ayahnya bicara dengan menatap matanya. Tapi sepertinya itu hal yang hampir mustahil. “Besok ada rekreasi sekolah ke Namdaemun. Jadi…” ucapan Ren terhenti sejenak karena ia mengobrak-abrik isi tasnya, berusaha menemukan surat persetujuan dari orang tua untuk mengikuti kegiatan rekreasi sekolah yang sedang ia bicarakan. “Aku butuh tanda tangan Dad.” Sesaat kemudian Ren menyodorkan surat itu di depan Kris.

Kening Kris mengernyit saat membaca surat persetujuan itu. “Kenapa mendadak sekali?” kemudian ia melempar pandang ke Ren. Helaan nafas panjang Kris dapatkan sebagai jawaban sebelum Ren mengangkat bahunya cuek. “Aku sudah berkali-kali coba bilang pada Dad. Tapi Dad selalu sibuk. Ingat?”

Kris hanya diam. Sementara putrinya sibuk menerka-nerka apakah ayahnya merasa sedikit menyesal karena hal ini? Tapi tentu tidak ada jawab yang didapat. Tanpa bicara apapun, Kris langsung mengeluarkan penanya dan menandatangani surat itu sebelum memberikannya pada Ren.

“Tapi ingat―” Kris sedikit menarik surat di tangannya ke belakang. “Begitu acaranya selesai kau harus segera menghubungi aku.” Di telinga anak lain, mungkin ucapan ayah satu ini akan terdengar sebagai sebuah pesan keramat, tapi tidak bagi Ren.

Ucapan semacam ini tidak berbeda dengan kalimat ‘silahkan berkunjung kembali lain waktu’ yang seringkali orang-orang dapatkan di supermarket. “Aku tahu,” akhirnya Ren menjawab seraya mengambil paksa suratnya. “Tapi bisakah Dad―ah, tidak. Tidak jadi. Jangan pedulikan.”

Lagi-lagi kening Kris mengernyit. “Kenapa? Kalau ada yang mau kau katakan, katakan saja.” Ren menatap ragu ayahnya dan tatapan tajam ia dapatkan.

“Oke. Bisakah Dad nanti ikut menemaniku belanja untuk rekreasi sekolah?” tanya Ren takut-takut.

“Akan kuusahakan,” jawab Kris.

Dalam hati Ren menyesali keputusannya yang sudah bertanya. Ia tahu jawaban seperti itu yang akan ia dapatkan tapi kenapa ia nekad bertanya? Bodoh sekali bukan? Tapi apa salah jika seorang anak ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama ayahnya?

Okay…” Kris mulai berbenah. Memasukkan peralatan kerjanya ke dalam ransel coklatnya. “Kalau kau belum selesai makan, bawa saja rotinya di kotak bekal―kau bisa kan, mengambilnya di lemari? Kita harus berangkat sekarang juga.”

Ren tidak punya pilihan selain mengikuti ayahnya menuju ke mobil mereka.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kehidupan Ren di rumah―baik itu rumah ibunya atau ayahnya―tidak berjalan begitu baik. Hal yang tidak berbeda juga terjadi dengan kehidupan Ren di sekolah. Ren hampir tidak punya teman. Bukan karena Ren tipe penyendiri. Tapi ini karena Ren adalah keturunan China. Ya, hanya karena alasan sesederhana itu ia jadi bahan bully teman-temannya.

Well, lagipula siapa yang benar-benar butuh teman? Ren mengangkat bahunya acuh tanpa sadar. Ia tahu dirinya bisa jadi lebih mandiri dan lebih baik daripada teman-teman yang seringkali melontarkan kalimat menyakiti hati kepadanya.

Memandang kepergian mobil sang ayah, Ren hanya bisa menghela nafas panjang. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menghabiskan lima belas menit di dalam mobil gelap—yang ayahnya cicil dengan susah payah—itu sambil melihat keramaian di luar mobil dan sesekali mendengarkan radio atau berbalas kalimat dengan sang ayah, yang Ren anggap sebagai bagian terbaik dari harinya.

Akhirnya, Ren melangkah menyusuri jalan setapak kecil menuju kelasnya, berusaha menyibukkan diri dengan mengutak-atik ponselnya hanya untuk sekedar menghindari kontak mata dengan murid-murid lain yang orang katakan sebagai ‘teman’nya.

Wow, lihat! Bukankah itu ponsel keluaran terbaru?” sebuah suara menginterupsi. Ren yang tadinya bermain dengan ponselnya dalam damai di jalan setapak itu kini merasa terganggu. Ketika ia menoleh ke sumber suara, didapatinya tiga orang perempuan dan dua laki-laki dari kelasnya.

Ren tidak begitu ingat nama-nama mereka semua. Buat apa sih, mengingat nama orang yang bisanya cuma menindasmu? Kalau Ren punya Death Note, mungkin Ren akan berusaha keras mengingat nama-nama mereka.

Lima orang itu mendekat dan Ren masih diam di tempatnya seraya terus memandangi mereka tanpa rasa gentar.

“Wah, kaya juga ya kau, China,” cibir seorang perempuan yang Ren tahu bernama Yeonhee. Anak kaya yang orang tuanya punya restoran daging.

Ren masih diam. Katanya pendidikan bisa menghapuskan rasisme. Tapi kenapa orang-orang di hadapannya ini tetap rasis?

Hey, kenapa kau diam saja dari tadi? Kenapa? Tidak bisa bahasa Korea? Kau tahunya cuma bahasa cingcong ya?” ucapan laki-laki yang bertubuh tambun yang berdiri di tengah kini mengundang tawa dari semua—kecuali Ren tentunya.

“Kembalikan!” Ren berseru kala ponselnya diambil paksa oleh seorang anak perempuan. “Hey! Kubilang kembalikan!” ponsel Ren kini jadi bahan untuk main lempar-tangkap.

Omo! Apa ini? ‘Dad, apa kau sibuk?’, ‘Dad?’, ‘Dad, boleh aku bertanya sesuatu?’, ‘Ponselmu tidak ada bersamamu ya, Dad?’, ‘Dad, kenapa tidak balas pesanku?’, ‘Dad, aku ingin ketemu’, ‘Dad, aku kangen’. Hahahaha. Lihat siapa yang diabaikan oleh ayahnya sendiri!”

Anak perempuan yang tadi mengoloknya dengan sebutan ‘China’ membaca semua pesan-pesannya—yang Ren kirimkan hampir tiap hari namun tak pernah mendapatkan balasan dari sang ayah—dan tergelak bersama teman-temannya setelahnya.

Mendadak hati Ren jadi mendidih.

“Ya ampun, kasihan sekali kau, China. Masak dengan ayah sendiri kau harus mengemis perhatian? Kau ini anaknya atau bukan?”

“Dan kenapa pula kau memanggil ayahmu ‘Dad’? Itu terdengar menjijikkan!”

Ren sudah benar-benar mendidih. Kau tahu apa yang terjadi pada sesuatu yang sudah amat mendidih tapi ada penutup di atasnya? Sesuatu itu akan menggelegak keluar bukan?

“Kalian sudah selesai bicara?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kris berjalan tergesa melewati lorong-lorong sekolah yang penuh dengan anak-anak. Wajar saja karena bel pulang baru saja berbunyi. Biasanya Kris akan datang ke sekolah untuk menjemput putrinya saat putrinya sudah mengirimnya pesan singkat atau meneleponnya dan Kris akan diam di mobilnya yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah.

Tapi kali ini berbeda.

Sebuah panggilan dari guru kalau putrinya terlibat perkelahian dan membuat dua orang sampai masuk rumah sakit membuat Kris terpaksa menjemput putrinya di ruang guru. Dan Kris begitu tergesa untuk masuk ke sana saat ia tiba.

“Oh, kau sudah datang, Tuan Wu.”

Otomatis Ren langsung menoleh ke belakang. “Dad.”

For the God’s sake Ren, what have you done?” nada Kris sedikit meninggi. Nyali Ren langsung menciut mendengarnya.

“Tenanglah, Tuan Wu,” kata guru Jung Yunho. “Kita bicarakan masalah ini berdua. Nah, Ren … bisakah kau menunggu kami berdua di luar?”

Ren mengangguk pelan dan keluar dari ruangan guru Jung.

“Silahkan duduk, Tuan Wu.” Guru Jung mempersilahkan. “Aku ingin membicarakan soal masalah putri anda, Ren Wu,” lanjutnya ketika Kris sudah duduk.

“Sebelumnya aku ingin minta maaf, Jung sonsaengnim. Aku tidak menyangka jika putriku bisa terlibat dalam perkelahian dan … membuat dua orang masuk ke rumah sakit. Aku tidak tahu kenapa anak itu suka sekali menyebabkan masalah.” Kris memijat pelipis kanannya. “Ah, dan apa luka dua orang yang … dihajar Ren terluka parah?” rasanya aneh ketika mengucapkan kata ‘dihajar’ bagi Kris.

Yunho tersenyum. “Tidak. Luka mereka tidak parah, meski Ren sampai membuat mereka berdua pingsan. Sekarang aku mengerti kenapa guru Kang―pelatih taekwondo―selalu mengelu-elukan Ren.”

“Ah, begitu.” Kris tidak nampak terkesan dengan ucapan guru Jung. Kalau Ren tahu ini, ia pasti akan sangat kecewa.

“Ya. Dan untungnya orang tua murid yang bersangkutan juga tidak akan mengajukan tuntuan apapun. Tapi kurasa Anda tetap harus bertanggung jawab mengenai biaya rumah sakit.”

“Oh, tentu saja. Untuk masalah itu Anda tidak perlu khawatir.”

“Selain itu ada hal lain yang ingin kubicarakan mengenai putri Anda.”

“Hal lain?”

“Ya. Ini soal Ren yang membawa ponsel ke sekolah,” jawab Yunho. “Kurasa aturan sekolah sudah jelas menyatakan jika para murid tidak diperkenankan untuk membawa ponsel ke sekolah. Selain karena dapat mengganggu konsentrasi belajar mereka, itu juga dapat memicu kecemburuan sosial antar-siswa.”

“Ah, ya. Aku tahu itu. Tapi aku sengaja memberi putriku ponsel agar dia bisa menghubungiku saat pulang sekolah dan yang lainnya. Hal-hal semacam itu dan bukannya ‘hal-hal lain’. Kuharap Anda bisa memakluminya karena aku sendiri cukup sibuk.”

Yunho tersenyum diplomatis.

“Aku tahu itu, Tuan Wu. Tapi peraturan tetaplah peraturan.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Ren yakin setelah ini ayahnya akan memarahinya. Oke, menghajar teman-temannya—hey, apa mereka masih bisa disebut teman? Ren rasa tidak—hingga dua orang diantaranya masuk rumah sakit memang kesalahannya. Tapi ia tidak bisa disalahkan sepenuhnya kan? Ia hanya membela diri. Itu insting alami setiap manusia. Mereka pasti akan membela diri agar bisa bertahan jika menghadapi keadaan genting.

“Cepat masuk ke mobil.” Suara dingin itu datang begitu tiba-tiba hingga Ren hampir terjungkal ke depan dari duduknya di kursi tunggu. Sedangkan pemilik suara dingin yang notabene adalah ayahnya langsung melenggang di lorong yang sepi.

Otomatis Ren segera menyusul ayahnya. “Dad, aku minta maaf. Aku tidak sengaja! Mereka yang memulainya!”

Kris berbalik tajam. “Tapi yang kau lakukan tetaplah salah, Nona. Menghajar temanmu sampai mereka masuk rumah sakit? Bagaimana jika kasusnya jadi makin panjang?”

“Mereka bukan temanku! Aku tidak punya teman!” jerit Ren. Matanya mulai berkaca-kaca.

Telunjuk Kris mengarah pada mobil mereka yang terparkir di halaman. “Masuk.mobil. Sekarang.” Titah Kris mutlak.

Ingin rasanya Ren menangis kencang—dan memukul ayahnya kalau perlu. Tapi Ren tidak bisa melakukan itu semua. Alih-alih menangis, Ren justru masuk dengan patuh ke dalam mobil mengikuti ayahnya. Tidak ada kata yang keluar sejak Kris melontarkan perintah padanya untuk masuk mobil. Deru mesin mobil bahkan terdengar amat canggung karena keheningan yang menyelimuti.

“Aku ingin pindah ke Kanada.” Pada akhirnya Ren yang pertama memecah keheningan.

“Jangan bersikap manja dan kekanakan, Ren. Masalah itu ada untuk dihadapi, bukan untuk ditinggal pergi. Kau pikir pindah ke Kanada semudah mencampur bibimbap?” balas Kris sarkastik.

‘Tapi Dad tidak tahu rasanya jadi bahan bully kan?’ Alih-alih menyuarakan pikirannya, Ren justru bungkam. Sudah jelas bukan apa jawab akan permintaannya? Jadi Ren kembali bertanya akan hal lain.

“Kalau begitu apa Dad bisa temani aku belanja untuk rekreasi sekolah besok?” Ren melirik ayahnya yang ada di belakang kemudi takut-takut.

“Tidak bisa, Ren. Ada jadwal―”

“Ya, aku tahu.” Ren memotong ucapan Kris dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. “Dad selalu sibuk. Terlebih akhir-akhir ini. Tidak apa. Aku bisa belanja sendiri, kok.”

Ren tidak tahu jika saat ia mengatakan hal itu, hati Kris serasa dicubit kecil sekali tapi amat sangat menyakitkan.

“Ayo, Dad. Kita pulang saja.” Akhirnya kalimat itu lolos dari bibir Ren. Terdengar konyol, memang. Saat seharusnya Kris lah yang mengucapkan kalimat berupa perintah karena amarah dan ketegasannya sebagai seorang ayah, justru didahului sang putri yang sudah terlanjur dongkol.

Tapi kali ini, entah mengapa Kris merasa tidak bisa berbuat apa-apa selain menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kendaraan tersebut membelah jalanan Seoul yang lengang di siang hari.

“Kita lanjutkan pembicaraan ini di rumah.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Guru sudah siapkan sebuah tenda makan siang di tengah Wings Town. Kalian bisa beristirahat dan makan di sana bersama tim satu kelompok, jangan lupa kalau kita akan pergi ke Sungyemun setelah makan siang selesai, Anak-anak!”

Kalimat itu mungkin terdengar sebagai sebuah hiburan di telinga semua orang, terkecuali Ren, tentunya. Acara wisata sekolah yang seharusnya menyenangkan sudah berubah menjadi neraka kecil baginya.

Pasca insiden perkelahian yang kemarin terjadi, Ren yang dulunya merasa eksistensinya hanya dipandang sebelah mata oleh teman-teman sekelasnya, sekarang justru merasa jika eksistensinya saja bahkan tidak diakui.

Empat orang yang seharusnya berada di kelompok yang sama dengannya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, melupakan Ren sebagai anggota kelompok dan mengabadikan tiap momen yang mereka lalui dengan kamera ponsel.

Ren sendiri enggan untuk menyibukkan diri dengan berfoto-foto, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan memperhatikan kegiatan di sekitarnya. Bisa dilihatnya beberapa keluarga kecil menghabiskan waktu di deretan toko yang ada di dekatnya, mereka terlihat begitu senang dan—

“Eh? Mengapa dia berpenampilan seaneh itu?”

—ya, akhirnya sebuah pemandangan mengusik perhatian Ren juga. Bagaimana tidak, sekarang dilihatnya seorang gadis berpostur tinggi dengan tubuh kelewat kurus—dalam pandangan Ren seperti itu—berkulit pucat tengah berjalan dengan kebingungan di dalam ekspresinya.

Rambut kelam panjang si gadis dibiarkan tergerai begitu saja sampai ke punggung, sementara diam-diam Ren perhatikan, si gadis mengenakan mantel berwarna merah menyala yang warnanya bersaing dengan warna lipstik si gadis.

Tawa akhirnya Ren bendung juga, lantaran berpikir jika gadis itu mungkin rombongan rekreasi lain yang terpisah dari kelompoknya. Melihat bagaimana si gadis sekarang berdiri di tengah jalan dengan memegang selembar peta di tangan dan sesekali menatap sekelilingnya dengan pandangan bingung, tergelitik juga hati Ren untuk mendekati gadis tersebut.

“Apa kau tersesat?” pertanyaan itu Ren utarakan saat ia berjarak beberapa langkah dari si gadis.

“Ah, apa kau tahu jalan menuju Hanvit Bank?” kini alis Ren menyatu, dipandanginya gadis itu dari atas sampai bawah sebelum ia akhirnya menjawab dengan anggukan kecil.

Tadinya, Ren pikir gadis ini rombongan yang tersesat. Tapi kenapa pula ia mencari keberadaan bank? Tidak mungkin kan rombongan rekreasi berkumpul di bank?

Padahal, dari aksen bicara si gadis, Ren sudah yakin gadis di depannya tidak berasal dari Korea.

“Ambillah belokan di blok ini,” jari Ren menunjuk ke arah sebuah jalan lebar, “dari sana jika kau terus berjalan lurus, kau akan sampai di sebuah jalan besar, dan Hanvit Bank akan ada di seberangnya.” Sambung Ren membuat si gadis mengangguk-angguk paham.

“Terima kasih.” Ucap gadis itu, melirik mantel yang Ren kenakan sejenak sebelum tatapannya terhenti pada mantel berwarna cream yang Ren kenakan.

Limited edition, huh? Kau punya selera yang bagus.” Perkataan gadis itu membuat Ren memperhatikan mantel yang ia kenakan. Limited edition? Tunggu, saat Ren menerima mantel itu dari Kris, ia pikir ayahnya asal membeli mantel saja di toko pakaian.

“Umm, thanks. Ayahku membelikannya sebagai kado ulang tahun,” jawab Ren tanpa sadar, diam-diam dadanya menghangat juga mengetahui ayahnya telah membelikannya sebuah pakaian yang terhitung sebagai barang langka.

“Dia pasti ayah yang baik. Oh, terima kasih lagi, omong-omong.” Gadis itu lagi-lagi tersenyum pada Ren sebelum ia melangkah pergi ke arah yang tadi diberitahukan Ren padanya.

Ren sendiri masih bergeming, merasa geli juga karena mendengar bagaimana gadis itu begitu memaksakan diri untuk berbahasa Korea dengan baik dengan aksen mandarinnya yang sangat kentara.

Jemari Ren kemudian bergerak masuk ke dalam saku mantelnya, meraih ponsel tipis di sana dan mengeluarkannya untuk sekedar memeriksa balasan pesan yang ia kirimkan pada sang ayah.

Senyum samar yang tadi sempat muncul di wajah Ren kini justru menghilang. Bergantikan dengan sebuah senyum kecut. Kris belum membalas pesannya.

“Ayah yang baik? Ya, Dad mungkin seperti itu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kris menghela nafas untuk kesekian kalinya setelah membaca pesan singkat dari putrinya yang isinya tidak jauh beda. Intinya, Ren tidak ingin ikut wisata sekolah dan pulang saja. Kris menganggap putrinya tidak dewasa, pria itu tentu tidak tahu kalau di sekolah putrinya merupakan korban bullying.

Dan pada akhirnya Kris mengetik jawaban untuk putrinya, “Bersikaplah dewasa dan ikuti wisata sekolahmu sampai selesai.” Dan ya, Kris benar-benar lega ketika putrinya berhenti mengirimnya pesan singkat semacam itu padanya.

Belasan kilometer jauhnya dari tempat Kris berada, Namdaemun terlihat masih ramai dan hati Ren masih sepi. Terlebih saat pesan singkat dari ayahnya masuk sepuluh menit yang lalu—well, sebenarnya membawa ponsel itu dilarang tapi ayahnya yang bersikeras memaksanya. Kapan sih ayahnya mau mencoba mengerti dia? Ada banyak yang ingin diungkapkan Ren tapi kata demi kata itu selalu tertelan oleh ciut nyalinya.

Insiden kemarin membuat Ren dijauhi oleh teman-temannya. Sekarang teman-temannya baru tahu betapa menakutkannya dia saat marah. Yah, ada bagusnya juga sih. Setidaknya tidak ada anak yang mengganggunya dan rasis padanya. Tapi diabaikan juga sakit kan?

Guru-guru termasuk guru pendamping kelompoknya memang bersikap ramah padanya. Tapi Ren tahu kalau itu hanya formalitas saja. Ren tahu kalau beberapa guru bersikap rasis padanya. Ren tahu kalau beberapa guru sebenarnya tidak suka padanya.

Orang dewasa memang penuh tipu muslihat.

Semuanya berjalan lancar dalam kesendirian yang Ren jalani sekarang. Setidaknya begitu, sampai kemudian goncangan pelan terjadi. Tidak lama kemudian goncangan pelan itu berhenti.

“Apa ini? Gempa?” Ren menatap sekitarnya, orang-orang juga tampak saling melempar pandang bingung. Goncangan barusan terlalu sebentar untuk dikatakan sebagai sebuah gempa.

Dad!” Ren tanpa sadar memekik kecil saat goncangan lain terjadi, kali ini diikuti dengan insiden lain. Beberapa mobil yang berjajar rapi di pelataran parkir mulai berbunyi karena alarm pengamanan mobil yang terganggu akibat goncangan tersebut.

Beberapa tenda yang berdiri di sekitar Ren mulai goyah, tampak seolah akan roboh. Tanpa sadar, Ren menatap ke seberangnya ketika goncangan tersebut menghilang, menyadari jika bumi yang dipijaknya tidak lagi berada di sudut yang sama saat gerobak buah yang berjajar di seberangnya perlahan memuntahkan isinya untuk kemudian menggelinding di jalanan.

“Ada apa ini? Gempa?”

“Aku bahkan tidak dengar berita apapun pagi tadi tentang gempa.”

Ren bahkan belum mendapatkan kesadarannya dengan penuh saat sebuah apel merah menabrak kakinya. Tatapan gadis itu kini tertuju pada buah berwarna mencolok tersebut. Mengabaikan kepanikan kecil yang mulai muncul di sekitarnya, ia malah membungkukkan badannya, bergerak mengambil apel tersebut dari aspal dan saat Ren sadar, aspal yang dipijaknya sudah retak.

Omo!”

“Gempa!”

Lekas Ren menegakkan tubuh saat goncangan besar tiba-tiba saja datang. Belum sempat Ren menyusun rencana penyelamatan diri, ia sudah terpaku pada pemandangan yang sekarang menyambutnya dalam jarak beberapa puluh meter di depan sana.

Jalanan … terbelah menjadi dua.

Dad, apa yang harus kulakukan?!

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau nampak lesu sekali, Bung.” Kevin Shin yang duduk di belakang kemudi terkekeh melihat wajah masam sahabatnya itu. Hanya helaan nafas yang ia terima. Keduanya sama-sama berprofesi sebagai fotografer lepas dan baru saja pulang dari pekerjaan mereka.

“Mengurus anak itu bukanlah hal yang mudah. Kau tahu?” balas Kris.

Kevin mengangguk. “Ada benarnya juga. Sebenarnya, itu bukan sesuatu yang mudah. Karena apa? Karena buku panduan untuk mengurus anak itu tidak ada. Okay, mungkin memang ada buku semacam itu. Tapi kan, karakter masing-masing anak itu berbeda dan karenanya butuh perlakuan yang berbeda pula. Di situlah letak kesulitannya.”

“Nah, itu kau tahu,” seloroh Kris.

“Hanya sedikit.” Kevin nyengir. “Tapi kau tidak berniat mengirim putrimu kembali pada ibunya kan, Bung?”

Kris terdiam cukup lama.

“Itu akan melukai perasaannya,” jawab Kris, meski tidak sadar jika ia sudah begitu sering melukai perasaan putrinya, tapi setidaknya Kris pikir mengirim gadis kecilnya ke Kanada untuk menghadapi keluarga baru yang sudah mantan istrinya miliki akan lebih melukai perasaan Ren.

Kevin sendiri—yang masih bau kencur dan belum tahu kehidupan pernikahan—hanya mengangkat bahu asal sebelum kemudian menekan tombol kecil untuk menyalakan radio di mobilnya.

“…laporan dari beberapa orang jelas memberitahukan pada kita bahwa sebuah sinkhole baru saja muncul di Namdaemun. Hampir separuh Namdaemun lenyap ke dalam tanah sedalam belasan meter. Pemerintah segera mengusahakan pertolongan medis untuk mengatasi kejadian ini…”

Seketika itu juga Kris tiba-tiba lupa cara bernafas. Seluruh syarafnya seolah lumpuh, bahkan pandangannya berubah kabur selama beberapa sekon sebelum jantungnya dengan tiba-tiba bekerja diluar kendali.

“Kevin! Ke Namdaemun sekarang juga!” titah Kris dengan nada membentak yang membuat Kevin menatap pria itu terkejut.

“Kenapa?”

“Putriku ada di sana!”

“Apa?!”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Len’s Notes:

Yeeee fanfiksi kolaborasi pertama ane. Tengs tu Kak Irish yang sudah meminang ane buat jadi rekanan kolaborasi di fanfiksi ini /hug/ Proses lamaran berjalan mulus karena ane udah cocok sama konsep ceritanya. Ditambah, ini ultimate bias yang maen. Ane rasa ane nggak menyumbang banyak hal di fanfiksi ini. Fyi, ane juga berubah jadi ‘nazi-grammar’ dimari. #KakIrishButuhEYD (Irish: beliin buku EYD juseyo, hiks)😄😄😄

Sampai jumpa di part 2!

Irish’s Notes:

Ketahuilah Len, walaupun ane menghabiskan tiga tahun di kelas bahasa tapi tiga tahun yang ane habiskan buat ngehapalin cara nolong lahiran itu ngebuang semua EYD dari dalam otak ini. Dan karena otak ane pentium jadi ane butuh guru privat yang dahsyat dan cukup sabar buat ngajarin ane EYD… dan juga, ane patut bangga dong karena ente yang jadi tim editor sekaligus penggembira :p /inget momen telepon-teleponan/.

.

.

.

TEMUKAN JODOH KALIAN (?) DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [4]

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

14 thoughts on “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in NAMDAEMUN [1/2] — IRISH’s Story

  1. Ping-balik: [CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GWANAKGU — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  2. kemaren nyariin ff bday my ultimate bias of Exo hsl colab duo fave author ku ini, tp opso😥 wondering why.. ko telat?
    br ngeh, trnyt Hol(m)es ini series/lanjutan u/ ff bday–colab project ya, di ending yg Lay kmrn blm ngeh. bner2 prnh ngalamin childhood ky Ren, loneliness, ngemis perhatian & ksh syng dr my own Dad😥 yg sbk, dingin & pendiem ‘cem Kris disini.
    Mksh Leh udah menyertakan our humble Leader Jung Yun Ho ^ ^ doi kan sk bgt ma anak2, prnh bilang pengen pny 25 org anak klo dah nkh😀 pasti dy ssaem kesayangan mrd2ny deh ^ ^ & omo.. ada Kevin Shin jg! wah.. seneng deh Kris bs sm2 sohib’ny dr jmn jd trainee di SM.
    serangan mcm apa tuh yg bikin Namdaemun berguncang smp jln-an’ny kbelah dua?? rudal dr dlm laut? mdh2an Ren & Jia Yi slmt & ga knapa2

    • 😄 buakakakakk telat kak ini telat efek abcdefghijklmnopqrstuvwxyz kak jadi sedikit molor hahahahahaha😄 sesungguhnya pas ngebaca bagian Ren emang sedih juga karena masa kecil yang engga bahagia itu banyak yang mengalamin😄 wkwkwwkkwkwk masya Allah kak ~ tolong ~ diinget inget banget si Yunho pengen anak berapa😄 wkwkwkwkwkwkwkwk

  3. OKE ANE BELUM SEMPET KOMEN TAU2 UDH ADA YANG KEDUANYA

    Oh myy, i feel u Ren. aku suka fic family aku lemah apalagi tentang ayah =’) aku pen mewek sebenernya Kris sayang sama putrinya hanya sikapnya aja kelewat dingin. Aku udah ada firasat sih si Ren bakal kenapa-napa pas rekreasi sekolahnya. Dan bhakkksss rasisme sekali ya itu orang koriya sama orang china

    AFTER ALL, ANE SUKA KARENA GENRE FAMILY DAN KASIH SAYANG BAPAK-PUTRI /NGACIR MELUK BAPAK ANE/?

    Dan sepertinya ane bisa raba-raba sikit penulisan Kak Irish sama Kak Len yang mana😄 dan ane rasa gaya tulis Kak Len agak berubah di mari /soktay/

    Btw, kakak-kakak syantik kubingung bayangin Ren umur brp. Tapi dari tingkahnya sih dia masih bocah esempe atau esema kelas hiji?.-. tolong jelaskan karena ane rasa kurang itu aja huhu ntar ya cuss baca yang kedua

    • DUH ENTE DI ELSPAGNOLIA NGAPAIN AE ELS? APA KABAR CABEHERA DAN WANITA MALAM YANG KITA PIKIRKAN BERSAMA?😄😄😄
      wkwkwkwkkwk, sesungguhnya diriku ini tersentuh kalo epepnya tentang gudkisser els, gimana dong? /dikemplang/😄 els di elspagnolia engga ada rasisme kan?😄 wkwkwkwkwk kalo kaga negara ente ane sempilin juga😄
      LEN TOLONG, JELASKAN REN UMUR BERAPA…

      • Ane baca pas offline juga mau sekolah sore wakakaka.
        YA LORD YUK KAK JAPRI LAGI MASALAH CABEHERA DAN WANITA MALAM DENGAN BANGSAWAN SERTA TIME TRAVELER BUAHAHAHA😄😄

        Ff yg bikin ente tersentuh mah rated M+++++ -____- gak ada kak :3 aku yang beda sendiri aja sering dibantuin mereka buakakakak.

        SILAHKAN KAK, ANE SENENG SPANYOL DIMASUKAN WKWKWKW😄

        KAK LEN KELUARRRRR ANE PEN TAU INI SI REN UMUR BERAPA

      • ANE JUGA BARU NEMU PAS AWAL PENGGAMBARAN MEREKA BERDUA KWKWKWK. ABIS TINGKAHNYA KEK ANAK SMP GITU, TEMEN2NYA JUGA KEZAMNYA SESUAI ANAK REMAJA. SYEDI AKU SM ANAK SD JAMAN SEKARANG /APAAN SA

  4. Kria, ente harus tobat. Ank sendiri itu, mcm cm…/plakk/😂
    Death note? Jadi pengen punya juga, eki lagi kesel dan pengen nulis nama orang di sana kak/plakk /tobat ki/ apaan ini, gak nyambung aee/😂😂
    Ntaps itu jalan ngebelah aja, wkwk..😂
    Ditunggu next partnya kak rish dan kak len, huhu, hwaiting! 😆
    .
    Pibesdey ipan gege yang pernah jadi 3 besar di hati eki/plakk/😂😂

    • Kria? -__- eki plis kondisikan jempol ente plis😄 itu death note murni pikiran si Len😄 kentara dia pengen naruh nama orang-orang ke death note wkwkwkwkwkwk😄

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s