[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Galaxy — Joongie

m

Galaxy

“Manifestasi dunia kami yang pernah ada.”

Wu Yifan X Liu Yifei X Zhang Yixing | Married Life, Hurt | PG – 17

Vignette by Joongie © 2016

A/N :

Dear Papa Galaxy, happy birthday! I will support you whenever & wherever you are. I will be with you every step of the way❤

.

.

.

Rotasi kenop pintu sama lesunya dengan aura Yifan maupun Yifei. Keduanya bak lilin redup, berjalan melalui lorong sempit kediaman mereka tanpa jiwa yang benar-benar hidup. Kemudian mereka—yang lelah psikisnya—duduk berhadapan di meja makan. Betah mematung walau angin musim gugur yang menggigit telah menggigilkan jangat. Pikiran mereka masih melayang di awang-awang untuk sekedar ingat mengunci pintu ataupun merapatkan jendela.

Desahan Yifei kemudian terdengar, memancing Yifan untuk meliriknya barang sesaat. Iris bundar milik sang dara kehilangan gairah. Maniknya lalu bergerak, mengitari ruang kelam yang serupa kapal pecah itu dan mulai tersedu kala sorotnya tertambat pada pigura mini yang sengaja diletakkan di atas kulkas.

6 bulan, Galaxy. Tertulis pada potret yang menampilkan kebahagiaan Yifei dengan perut buncitnya, berpose sambil memamerkan hasil USG bersama Yifan. Pedih, ketika segala keceriaan itu rasanya baru saja terjadi kemarin. Sekarang, Yifei sungguh membenci kenyataan, sebab tidak ada lagi keantusiasan menanti Galaxy mereka untuk sekedar menggeliat dalam perut.

Galaxy… kini dalam pelukan Tuhan.

Yifan bangkit, beranjak membawa Yifei yang lara hatinya dalam pelukan. “Tenanglah, Fei. Semua di luar kuasa kita. Jadi kuatkan hatimu, demi Galaxy,” lirihnya meski jiwanya juga kacau balau.

Bukannya reda, sungai duka di pipi Yifei bertambah deras. Pundaknya berguncang hebat sewaktu kuasanya mencengkeram kuat lengan Yifan. Bagaimanapun ia seorang ibu yang terguncang lahir batinnya saat kehilangan buah hati. Semakin ditegarkan, semakin Yifei merasa dadanya sesak. Perwujudan bayi merah dengan jari-jari mungil itu masih segar terngiang di benaknya. Galaxy-nya yang malang bahkan tidak bersuara sewaktu lahir. Tubuhnya sedingin es, kaku dan tak berdaya.

Demi Tuhan, Yifei rela menukar apa saja demi bayinya. Tapi, mekanisme dunia ini tidak segampang itu sampai asa nan lengkara dapat dikabulkan dengan mudah.

“Kenapa kaubiarkan anak kita mati, Fan? Kenapa malah menyelamatkan Ibu yang tidak berguna sepertiku?!” jerit Yifei, meronta bahkan memukul-mukul suaminya karena nyaris gila. “Dia anak yang sehat, darah dagingku, Fan. Kenapa kau diam saja saat mereka membunuh Galaxy?!”

“Maaf….” Tiada kata lain yang divokalkan Yifan, seakan lupa pakem berbahasa. Pertahanan Yifan binasa, air matanya lolos bergantian lantaran sadar kepahitan ini juga buah kelalaiannya.

“Aku sudah jadi Ibu yang buruk. Harusnya aku saja yang mati. Galaxy, dia adalah seluruh duniaku, Fan. Dunia kita. Karena tanpa Galaxy…” Dengan pandangan yang nanar oleh air mata, Yifei memaksa tenggorokannya yang tercekat untuk melanjutkan, “…kita juga akan berakhir. Kau juga tahu kan, Fan?”

★★★

Petang itu Myeong-dong ramai seperti biasa. Di mana toko-toko yang menjulang itu masih disesaki pengunjung. Kawula muda yang asyik berburu perlengkapan fashion keluaran terbaru, sampai rombongan turis yang menyempatkan diri membeli oleh-oleh maupun produk kosmetik Korea yang memang banyak dijajakan di sana. Dan asal tahu saja, ada empat toserba terkemuka yang menarik minat untuk dijajaki. Tentu saja, sebab Myeong-dong memang distrik perbelanjaan terbesar di Seoul.

Di antara ratusan orang yang menyesaki jalanan di pertokoan Myeong-dong, Yifei yang mengenakan terusan berwarna baby green bermotif kembang-kembang kecil itu tidak bisa menyembunyikan keantusiasan dari wajahnya. Ini surga belanja, mana ada wanita yang bisa menahan hasrat irasional untuk menggelontorkan sejumlah uang dari dompet. Ia bahkan beberapa kali mampir ke stand kosmetik yang menawarkan sampel gratis, lalu membeli yang paling memikat—walaupun Yifei tahu kalau itu belum tentu akan terpakai. Dan bagian paling menyenangkan adalah, ia ditemani suaminya, Yifan yang telaten menjaga agar orang-orang yang berdesakan tidak sampai menyenggol apalagi membuatnya jatuh.

“Fei….” Yifan melisankan nama itu dengan lembut, sedangkan lirikannya mengode pada perut Yifei yang berisi jabang bayi mereka. “Jalannya pelan-pelan saja, tidak usah buru-buru. Kasihan kan, kalau dia terguncang-guncang di dalam sana,” godanya dengan senyum yang khas.

Yifei meringis, lantas mengatur laju langkahnya seiring dengan Yifan. “Aku sudah tidak sabar mau melihat toko yang di sebelah sana,” ujarnya sembari menunjuk toko berlantai dua yang menjual perlengkapan bayi di ujung jalan. “Bibi Ahn bilang mereka juga menjual pernak-pernik dekorasi kamar yang lucu-lucu dan harganya murah. Rasanya aku bisa membayangkan indahnya kamar Galaxy nanti, Fan!”

“Aku tahu, tapi jalannya hati-hati.”

Galaxy yang berarti tata surya, diberikan pada janin dalam kandungan Yifei setelah dokter mengatakan anak mereka berjenis kelamin laki-laki. Menamai janin akan membuatnya kuat dan tumbuh jadi bayi yang sehat, seperti mitos yang dikatakan Bibi Ahn—pemilik flat  mereka. Pasangan muda itu hanya mencoba percaya, lagi pula itu terdengar lucu.

Di dalam toko bernuansa baby blue dengan wallpaper bergambar beruang putih tersebut, manik Yifei tidak puas-puasnya mengelana. Ada manekin bayi yang memakai popok kebesaran, lalu kereta bayi yang kelihatan imut, pakaian juga perlengkapan makan bayi berukuran mungil yang rasanya ingin diborong semua andai saja Yifan tidak mencegah.

“Bagaimana dengan ini?” tawar Yifei sambil menyodorkan wallpaper bergambar bintang serta mainan gantung berbentuk roket. “Kita juga bisa menempelkan bintang glowing di langit-langit kamar. Jadi ketika lampu dipadamkan, Galaxy bisa melihat bintang-bintang yang menyala dalam gelap.”

Yifan mengulas senyum, mengusap puncak kepala Yifei dengan perhatian. “Itu akan jadi hebat dan indah, karena Galaxy akan tahu kalau Mamanya begitu cakap dalam urusan hias–menghias.”

“Dengar kan, Nak? Papa baru saja memuji Mama,” kata Yifei berbangga hati menyombongkan diri kepada si mungil dalam perut bundarnya. “Pokoknya nanti, Mama akan membuat kamar paling indah untuk menyambutmu.”

“Sepertinya ini anak pertama kalian, ya?”

Yifan dan Yifei serentak menoleh, sewaktu suara ramah itu meraup atensi. Di antara mereka hadir seorang wanita yang tersenyum lebar, kemudian atas inisiatifnya memandu keduanya melihat barang-barang promosi seperti kebanyakan pelayan.

“Apa menurutmu kami benar-benar membutuhkan pemompa ASI?”

“Kebanyakan ibu yang baru pertama kali melahirkan produksi ASI-nya kurang lancar dan akan menyulitkan bagi ibu bila ASI tidak dikeluarkan. Jadi alat ini akan sangat membantu,” jelas sang pelayan amat sangat yakin dengan produk yang bertuliskan diskon 30% itu.

“Jadi, bagaimana?” Yifei mendongak menatap Yifan, sementara tangannya masih meremas-remas benda yang mirip terompet tukang roti, menurutnya.

Kedua alis Yifan meninggi, ia memandang istrinya sejenak sebelum mengangguk dengan ganjil. “Baiklah, kami ambil satu.”

Pasangan itu meninggalkan toko dengan beberapa kantong besar sambil tertawa-tawa. Rupanya bukan hanya Yifei yang menganggap alat itu sangat lucu, Yifan pun merasa kalau itu benar-benar mirip dengan terompet tukang roti. Jadi, ia geli membayangkan kelak akan melihat Yifei memompa ASI untuk Galaxy menggunakan breastpump dan berpikir apakah akan terasa sakit? Tapi, ia juga tak sampai hati menolak ketika pelayan tadi terus menyodorkan dagangannya dengan raut berharap.

“Fan… aku mau itu.” Langkah riang Yifei mendadak berakhir, menunjuk sesuatu yang membuat tatapannya berbinar. Jadilah ia memanja, enggan beranjak dari etalase yang memamerkan foto-foto maternity.

“Nanti kalau sudah tujuh bulan, kita juga akan melakukannya. Sabarlah sebentar lagi, ya,” timpa lelaki bermata runcing itu, paham bila istrinya selalu mengidamkan sesuatu yang manis dan kekal dalam kenangan.

Saat akan menggandeng tangan Yifei sambil melemparkan senyum, Yifan merasa ada orang yang mengawasinya. Keningnya lantas berkerut, melihat sekumpulan orang berbaju hitam yang muncul dari segala arah seperti sedang mencari-cari seseorang. Yifan tersentak, jangan-jangan… sial!

Maka Yifan kontan menggeletakkan belanjaannya, mencengkeram kedua lengan Yifei dengan cemas sembari menatapnya lekat-lekat. “Fei, kau bisa pulang sendiri, kan?”

“Kenapa tiba-tiba…” Perkataan Yifei terhenti lantaran matanya terlanjur menemukan sekelompok pria berbadan tegap yang mengenakan pakaian serba hitam sedang menengok ke kanan dan ke kiri. “Fan, mereka… bagaimana ini?”

“Orang-orang suruhan ayahmu,” tegas Yifan sambil memandang berkeliling memastikan para preman itu masih belum menyadari keberadaan mereka. “Dengar, pulanglah dan tunggu aku di rumah. Aku akan urus mereka. Cepat lari dan kunci rapat pintu sebelum aku kembali.”

“Tapi—”

“Aku janji akan baik-baik saja,” potong Yifan, meyakinkan Yifei dengan kecupan di dahi. “Kita akan bertemu nanti. Cepatlah, sebelum mereka melihatmu dan memaksamu pulang.”

“Pegang janjimu, Fan.”

Maka Yifei menarik napas panjang, bergabung dalam kerumunan orang sembari berharap ia tak akan dikenali sewaktu mereka berbaur di jalanan padat Myeong-dong. Perlu keteguhan hati bagi Yifei untuk menyanggupi, manakala batinnya gusar bila mereka akan memperlakukan Yifan dengan buruk. Akan tetapi, ia juga tidak punya pilihan lain, karena pulang berarti kehilangan Galaxy. Sejak awal mereka memang tak pernah menerima restu, terutama dari ayahanda Yifei, bos mafia di Beijing. Ini jadi semacam pernikahan di bawah tangan.

Saat Yifan mengambil jalan yang berbeda, sekelompok pria berbaju hitam mengepungnya dari berbagai arah. Ia sontak menghela napas sambil mengumpat dalam hati, berfirasat bila ini akan jadi pelarian yang panjang seperti yang sudah-sudah. Pria yang berdiri paling depan langsung memberi aba-aba dengan tangannya begitu melihat Yifan terpojok.

Ia panik, pucat selayaknya tikus bertemu pemangsa.

Celaka!

Jadi, mengikuti insting bertahan hidupnya, Yifan mundur teratur sembari mencari celah untuk melarikan diri. Pandangannya tetap awas saat pria berkepala plontos hendak menyergap. Pikirannya sontak melayang. Kalau dihitung-hitung lawannya ada sepuluh orang, nekat melawan berarti cari mati. Satu lawan sepuluh itu konyol, apalagi ia bukan jagoan kungfu seperti Bruce Lee ataupun Jackie Chan.

“Bersiaplah mati hari ini, anak sial!”

“Tangkap dia, aku yakin dia yang menyembunyikan Nona.”

Yifan yang semula berpura-pura pasrah memanfaatkan kealpaan gerombolan itu untuk melesat kabur. Merangsang adrenalin dalam dirinya untuk bereaksi cepat. Mencintai putri dari mafia rival keluarganya sendiri memang bukan perbuatan dosa, tapi sejak saat itu mereka hidup seperti buronan. Yifan tidak memimpikan kehidupan yang sempurna seperti kisah drama monoton, yang diinginkannya hanya kehidupan normal dan para orangtua yang bisa mengerti.

Baik ia maupun Yifei, terlalu jengah hidup dalam bayang-bayang mafia.

Suara derap sepatu itu perlahan samar oleh langkah-langkah pengunjung Myeong-dong. Yifan bersembunyi di balik gang sambil terengah-engah. Jantungnya yang berdetak kencang seakan ingin meledak itu berangsur tenang. Akan tetapi, segalanya tidak berlangsung lama saat ekor mata Yifan mendapati Yifei tergopoh-gopoh berlarian dengan ceroboh, sampai bunyi decitan ban disusul suara hantaman keras terdengar di seberang sana.

“YIFEI!”

 

★★★

“Matikan saja lampunya,” pinta Yifei sewaktu langkah Yifan terdengar di ambang pintu. Yang dimaksud pun paham, Yifei mungkin tidak akan sanggup melihat wajahnya.

“Boleh aku tidur di sampingmu?”

“Hm.”

Lelaki itu beranjak, merebahkan diri di samping Yifei dengan sebelah tangan menyelusup di pinggangnya. Dingin. Tanpa penghangat maupun selembar kain untuk membungkus diri. Yifan menghela napas panjang, berusaha memejamkan mata kala pikirannya berkabut. Selayang kemudian matanya mencelang, isakan Yifei terdengar amat menyakitkan hingga ia merengkuh wanitanya erat-erat.

“Fan… my heart aches, I can’t breathe.” Yifei berbalik, menenggelamkan juga meredam tangisnya di dada Yifan. “It spreads inside deeper, making it hurt….”

Sst, it’s okay even if it hurts. You know I still love you, right?” bisik Yifan membesarkan hati lantas menepuk-nepuk pelan punggung Yifei guna menenangkannya. But I can’t hold onto you, Fei.

Ini bisa jadi malam terakhir, menua sebagai suami-istri cuma harapan karam. Alasan tangis Yifei dalam kegelitaan ini adalah perpisahan. Yifan pun tahu bila esok ketika baskara belum sepenuhnya menyingsing, orang suruhan keluarga Yifei akan membawanya kembali ke Beijing, pun dirinya yang tentu akan jadi bagian keluarga “Wu” lagi.

“Ayahmu membutuhkanmu.”

“Tapi aku juga membutuhkanmu,” tekan Yifei dalam sedu sedan.

Yifan memenuhi paru-parunya dengan udara, mengusir sesak barang sejenak. Dengan tangan gemetar, disekanya kucuran air yang mengaliri pipi Yifei. “Ayahmu mengidap limfoma. Sudah menjalani lima sesi kemoterapi, delapan belas sesi radioterapi, dan transplantasi tulang autologous. Kau tahu, semuanya tidak membuahkan hasil dan tidak ada harapan lain, kecuali kau mendonorkan sel induk hematopoietik untuknya. Kita baru saja kehilangan Galaxy, apa kau sampai hati membiarkan ayahmu menyusulnya?”

“Aku tahu kau sangat menyayanginya,” imbuhnya.

“Itu sebabnya kau mengorbankan Galaxy, kan? Agar aku bisa menjadi pendonor untuk ayahku, karena operasi punya efek negatif yang signifikan pada janin,” tuding Yifei, yang sejatinya enggan membahas kebenaran yang ia ketahui sejak awal.

Yifan bergeming, tersudut oleh keputusannya sendiri.

“Seandainya kauselamatkan Galaxy, aku tidak perlu merasa tercekik begini.” Yifei berbicara dengan suara serak, tak sanggup lagi memekik lantaran sisa-sisa tenaganya ia kerahkan untuk meronta juga memukul-mukul dada Yifan.

“Kurasa benar yang mereka katakan, kita butuh kedewasaan dalam hubungan ini. Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Aku tidak cukup kuat untuk melindungimu dan Galaxy, kau pun tahu itu.”

Barangkali ucapan Yifan terdengar lancar, namun dalam dadanya badai tengah berkecamuk. Sempat terlintas di benaknya, lebih baik mati ketimbang mengirim wanitanya pergi. Tapi, desakan nuraninya juga tidak terelakkan.

“Maaf….”

“Berhenti mengatakannya. Kau tahu apa yang paling ingin kudengar, Fan….”

I will always love you, Fei.”

Satu kecupan berlabuh di dahi Yifei, berpindah ke kelopak matanya nan basah, kemudian tertambat pada lumatan panjang antar labium. Ini akan jadi malam putus asa yang panjang. FanFei benar-benar akan berakhir dengan pedih.

Seandainya aku tidak pernah membalas perasaanmu, alangkah baiknya.

★★★

Minggu ketiga di bulan November, di mana barisan pohon perdu yang kuning dan kering hampir semuanya gundul. Musim dingin sudah di depan mata, manakala dinginnya pawana membuat orang-orang nan berlalu-lalang merasa perlu melilit syal hingga beberapa gulungan. Sementara di langit yang sedikit pudar warnanya, dihiasi kawanan burung yang mulai bermigrasi. Mereka berseliweran tanpa henti, berkaok-kaok memanggil kawanan lain yang mungkin tertinggal.

Udara di seputaran Seoul terasa membekukan, membuat pria Wu yang berjalan sambil bersedekap itu beberapa kali mengembuskan uap dari mulutnya. Ia mempercepat langkah, menuruni beberapa anak tangga sambil berlarian kecil, kemudian merasa lega ketika pucuk pinus di tepi sungai mulai bersua dalam pandangan.

Itu tujuannya.

Di sana, abu Galaxy dikuburkan bersama tunas pinus yang sekarang sudah jadi lebih tinggi dari Yifan. Sepuluh tahun lepas perpisahannya dan Yifei, ia memilih untuk menetap di Seoul. Untuk menemani Galaxy, kilahnya. Padahal siapa saja tahu itu upayanya untuk menghindari Yifei. Sebab kembali ke Beijing sama saja membiarkan kemungkinan untuk bertemu kembali muncul.

“Papa datang!” seru Yifan, memeluk serta menepuk-nepuk pinus besar itu.

Semilir angin membuai surainya.

“Bagaimana kabarmu, Nak? Maaf, Papa tidak bisa sering-sering mengunjungimu dan pada hari ulang tahunmu begini, Papa malah terlambat.” Yifan bersuara dengan sedih, baginya apa yang berdiri di hadapannya adalah seorang bocah yang sedang merajuk. “Karena itu, Papa belikan dark choco kesukaanmu dan Mama.”

“Kau suka, kan?”

Yifan menghela napas dan menempelkan telapak tangannya ke pohon. Ia tahu, mungkin orang yang berlalu-lalang menganggapnya gila, karena bicara sendirian dengan pohon, lalu menyerahkan cokelat pada anak imajinya. Angin yang menusuk selalu mengingatkannya pada Yifei serta kebahagiaan mereka dalam masa-masa beku itu.

“Maaf, Papa memilih menyelamatkan nyawa Mama. Papa yang payah ini tidak yakin bisa membesarkanmu tanpa sosok ibu. Galaxy bisa mengerti, kan? Papa cuma berharap satu hal, kalau nanti kita bertemu… tolong jangan benci Papa, karena Papa sangat… sangat menyayangi kalian berdua,” ungkapnya, bibirnya sedikit bergetar ketika menyeka matanya yang berkaca-kaca.

Yifan sudah berusaha, tapi kesedihan di hatinya teramat dingin dan dalam.

 “Yi… fan?”

Bahu Yifan bergidik, spontan melemparkan arah pandangnya ke asal suara. Sosok yang baru saja ia sebut-sebut, kini berdiri secara nyata di hadapannya, juga menatapnya dengan prihatin. Yifan salah tingkah, tersenyum seperti orang bodoh sehingga kerut-kerut halus muncul di kedua sudut matanya.

“Hei… apa kabar?” Bingung apakah ia harus mengangkat tangan untuk melambai atau sekedar berjabat tangan seperti dua orang asing.

“Baik. Sangat baik,” jawab Yifei, tersenyum kikuk tanpa berani berlama-lama memandang wajah pria dari masa lalunya. “Bagaimana denganmu? Semuanya baik-baik saja, kan?”

Yifan tidak merespons, hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Dari balik punggung Yifei, ia bisa melihat seorang pria bersweter abu-abu tampak mengawasi mereka. Barangkali segan untuk bergabung dalam percakapan canggung itu. Tapi Yifan juga mengamati, betapa gagahnya pria itu, bahunya lebar, posturnya semampai dipadankan dengan tampang rupawan.

Setidaknya si pria terlihat kuat dan berpendidikan tinggi, tidak sepertinya.

“Dia orangnya?” tanya Yifan sambil melirik cincin pasangan yang melingkar di jari manis Yifei.

“Ya.” Yifei mengangguk pelan, lalu mengikuti arah pandang Yifan yang kini beralih kepada pria masa depannya yang berjalan menghampiri mereka. “Dia dokter ahli bedah di rumah sakit Beijing, yang juga mengoperasi ayahku.”

“Aku Zhang Yixing. Senang bertemu denganmu,” kata pria itu sambil menggerakkan tangannya yang terulur, mengundang Yifan untuk menjabatnya.

Yifan menatap tangan Yixing yang terulur beberapa saat, lantas menjabatnya dengan tegas. “Wu Yifan. Sebelumnya selamat atas pernikahan kalian, semoga diberkahi kebahagiaan dan umur panjang. Sepertinya kau bisa diandalkan, jadi jaga Yifei baik-baik.”

“Terima kasih.” Yifei spontan mewakilkan jawaban Yixing.

“Oh ya, aku masih punya urusan lain. Jadi, aku duluan,” kata Yifan tiba-tiba, sadar bila kehadirannya hanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi mereka. “Kalau sempat, mampirlah ke rumahku. Aku akan menjamu kalian dengan baik,” tambahnya sebelum berlalu dengan perasaan remuk.

“Fan….”

Yifan menarik napas dalam-dalam, menoleh juga memaksakan diri tersenyum kepada Yifei yang nyaris pecah tangisnya. “It’s okay….”

.

.

.

Aku akan mengakui, aku masih memikirkan pangeran kecil kita.

Kadang aku keluar dan memandang langit…

…lalu berpikir ke planet mana ia kembali setelah meninggal.

Kemudian aku membayangkan kita bertiga tinggal di sana dalam kehidupan yang lain.

Tapi saat ini, kau punya hidupmu sendiri, aku punya hidupku sendiri.

Dan kita harus jalani itu seperti yang seharusnya…

…jika kita kembali ke hari kita mengandung anak kita…

…dan melihat apakah mata manik kita tak bisa melihat saat itu.

(Eclipse, Touched With Fire)

 

 

—Selesai—

 

“Pria sejati tidak mencintai banyak wanita, tapi mencintai satu wanita dengan banyak cara.” Entah kutipan siapa itu, tapi aku memaknainya dengan tulisan ini. Mungkin ceritanya berkesan ngambang, tapi kalau jeli ada benang merah yang jelas. Cinta yang egois sering berujung jadi obsesi, iya, kan? Okay ditunggu feedback-nya, reader-nim ^^)/

 

10 thoughts on “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Galaxy — Joongie

  1. Yaampun, berkaca-kaca gini. Yifan yang kuat yaaa yakin banget Yifei masih punya rasa sama Yifan tapi keadaan mau gimana. Yixing gak salah apa2 semoga bahagia sama hidup masing2… Good job!

    • Pukpuk perlu tisu? C’:
      Iyaaaaa, Yifei tau dia ama Yifan udah tipis harapannya, karena buktinya yang ngelepas itu Yifan dan sedihnya hidup harus berlanjut buat keduanya, jadi yaaa gitu deh Yixing semacam jadi rumah baru C’:

  2. Sungguh, kenapa takdir cinta mereka tragis sekali. Aku gk kuat, pilihan diksinya bagus sekali ditambah alur ceritanya yang mengalir gitu aja, sampe gak sadar klo udah end 😂😂. Yah ku tunggu karya kaka yang selanjutnya deh. Keep writing ^^

    • Karena sejak awal aja keadaan udah sulit buat mereka ampe kabur ke Korea T.T
      Yeay, thank you senang kamu bisa menikmati cerita ini sekaligus penulisannya😄
      Iyap, dan aku juga menantikan komenmu lagi loh kkk ~❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s