[KRIS BIRTHDAY PROJECT] – Jeongmal Mianhae

jm1

Shin Tama Note’s : Happy Birthday Kris Wu,

You’re still in my heart (EXO-L)

***

          Eun Raa memutar knop pintu studio musik, lalu mendorongnya dengan tenaga yang lebih kuat dibandingkan dengan orang-orang lain pada umumnya.  “Kris…” Panggil Eun Raa ketika menemukan pria itu disana. Pria itu berpaling dari kertas-kertas berisi chord gitar, kemudian menatap Eun Raa yang telah berdiri di ambang pintu.

          Bagaimana bisa pria itu memasang ekspresi sedatar itu? Disaat Eun Raa dengan susah hati menahan perasaan yang begitu mengganggu selama beberapa hari kebelakang. Tidak kah Kris merasakannya juga? Barang sedikitpun…

 

“Eun Raa…ada apa?” tutur Kris, masih dengan raut seakan tidak terjadi apa-apa, detail nya…tanpa masalah. Eun Raa tidak dapat menahan panas di sepasang matanya, sampai air mata itu jatuh pada akhirnya. Semua rasa mengganggu itu sulit untuk di utarakan dengan kata-kata. Rasa jemu itu tiba-tiba menghasut Eun Raa untuk meraih gitar dari tangan Kris, dan membantingnya.

“Hei…apa yang kau lakukan?” Kris bangkit dari posisi duduknya. Matanya terbelalak melihat perbuatan pacarnya saat ini.

“apa semua ini lebih penting bagimu hah?” Eun Raa menghempaskan kedua lengannya ke udara. Isyarat bahwa semua benda di studio ini lebih berharga bagi pria itu. “selama beberapa hari ini, kau tidak menjawab telfonku atau membalas chattingku. kau tidak tahu, betapa takutnya aku saat sugesti-sugesti buruk tentangmu datang menghantui pikiranku.” Napas Eun Raa tak berirama ketika kalimat itu meluncur begitu saja tanpa jeda.

“kau boleh membuat hatiku dan isi studio ini berantakan. Tapi, apa yang telah kau lakukan pada gitarku…itu sangat berlebihan.”

 

Eun Raa tertegun. Tatapan itu belum pernah Eun Raa lihat. Sangat tajam. Serasa menusuk tepat ke hulu hati. Itu bukan Kris yang ia kenal. Atau Eun Raa yang belum sepenuhnya mengenal Pria itu. Apakah pria itu sangat marah? Eun Raa tak bisa membacanya, hanya saja rasa takut itu, kini berlipat ganda.

***

 

Sudah 2 minggu berlalu seja kejadian di studio musik. Eun Raa mencoba menghubungi pria itu, namun tetap sama. Kris tidak merespon. ‘kau boleh membuat hatiku dan isi studio ini berantakan. Tapi, apa yang telah kau lakukan pada gitarku…itu sangat berlebihan.’  Eun Raa selalu teringat kalimat itu. Sepertinya pria itu sungguh-sungguh. Dia murka.

 

Sejujurnya Eun Raa tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Atau kemungkinan terburuknya, hubungan mereka akan kandas. Eun Raa tidak bisa menerima itu. ‘Apakah aku sangat berlebihan?’ gumam Eun Raa untuk dirinya sendiri.

 

“iya, kau itu sangat BERLEBIHAN dan KETERLALUAN .” komentar Chanyeol-adik sepupu Kris, seusai Eun Raa membeberkan kejadian di studio musik waktu itu.

“ku pikir itu hanya sebuah gitar, aku bahkan menggantinya dengan gitar yang baru. Tapi di tetap tidak mau. Dia masih teguh dengan aksi diam nya itu.”

“tentu saja dia tidak mau, gitar itu sangat berharga baginya. Sekarang kau lihat kan betapa menakutkanya dia jika sedang marah.”

“aku belum pernah melihatnya semarah ini.”

“gitar itu pemberian dari ayahnya. Dia berjanji akan menjadi musisi terkenal dengan gitar itu.”

“aku sangat menyesalinya. Tolong hubungi aku jika Kris ada dirumah atau kau tau dimana dia. Aku harus meminta maaf kepadanya.”

 

Eun Raa meninggalkan kediaman Kris dengan digelayuti rasa kecewa karena tidak berhasil menemukan pria itu disana. Dimana dia sekarang? Eun Raa amat penasaran kemana pria itu melarikan diri.

***

 

Eun Raa menyibak tirai jendela kamarnya. Matahari pagi seketika berebut masuk melalui celah terkecil sekalipun. ‘hari minggu yang cerah’ lirih Eun Raa seraya membuka jendela, mengizinkan angin menyapa wajahnya. ‘aku iri dengan sepasang burung gereja itu, mereka terbang beriringan untuk menghabiskan hari yang cerah ini.’ Komentar Eun Raa ketika sepasang burung gereja melintas di depan jendela.

 

Bukkkk . Eun Raa menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Sangat keras, tapi ia tidak merasa sakit sedikitpun. Hari yang membosankan. Jika saja kejadian di studio musik itu tidak ada. Mungkin saja saat ini Eun Raa dan Kris sedang kencan ke tempat-tempat favorit mereka. Sedetik kemudian sebuah ide licik menabrak kepala Eun Raa. Ia segera meraih ponsel, lalu membuka akun Line. Dan mengirim pesan untuk Kris.

 

  • Bisakah kau kerumahku? (read)

Beberapa menit berlalu. Pria itu hanya membaca pesan Eun Raa. Persis seperti yang diprediksi gadis itu.

  • Aku mengalami kecelakaan (read)

Apa? Lagi-lagi pria itu hanya membacanya. Bukan ini yang Eun Raa harapkan. Pada umumnya pria akan panik, dan segera membalas ‘aku akan segera kesana’ tapi nyatanya Kris tidak membalas pesan itu. Apaka kris sudah mati rasa kepada pacarnya, pikir Eun Raa.

15 menit kemudian.

BRAKKK. Pintuk kamar terbuka.

“Eun Raa, apakah luka mu parah?” tanya Kris dengan napas tersengal-sengal.

Eun Raa membatu di tempatnya. Pria yang ia nanti-nantikan kedatangannya, kini ada di depan matanya. Diluar dugaan nya. Dia datang. “a-aku…” suara Eun Raa tergagap seraya berdiri. Kris memperhatikan gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“kau baik-baik saja. Apa kau membohongiku?”

“ku pikir hanya dengan cara ini kau mau menemuiku. Ada yang harus kubicarakan denganmu.”

“kau membuang waktuku. Kau tidak tahu jika aku hanya menghabiskan waktu 15 menit perjalan dari studio ke rumahmu, jarak yang harusnya ditempuh dengan waktu 30 menit. Eun Raa, kau sangat kekanak-kanakan.”

 

‘aku salah lagi. Apa yang harus kulakukan agar aku menjadi benar dimatamu?’ gumam hati kecil Eun Raa. Pria itu pergi lagi, tanpa memberi Eun Raa kesempatan untuk menjelaskan semuanya.

***

 

“hiks…hiks… halo Kris…” tertangkap suara wanita terisak dengan suara yang bergetar dari ujung sana.

“iya hallo, siapa ini?” tanya Kris yang menjawab panggilan telfon tanpa nama di ponselnya.

“tasku dicuri, aku tidak sempat naik bus terakhir. Aku hanya hafal nomor ponselmu. Karena itu aku menghubungimu. Bisakah kau menjemputku di Damyang. Aku sangat takut sendirian disini.”

‘Eun Raa…’  Kris menebak pemilik suara itu dalam hatinya. Kemudian ia memutus sambungan telfonnya. gadis itu masih belum berubah, pikirnya.

Ponsel Kris berdering lagi. Ia melirik sekilas ke layar ponsel, bukan nomor tak dikenal. Melainkan nomor milik ibu dari Eun Raa. ‘ada apa ibu Eun Raa menelfon’ tanya Kris dalam benaknya. Ia memindahkan gitar dari pangkuannya, lalu segera menjawab telfon itu.

yeoboseyo eommanim?”

“Kris, apakah Eun Raa sedang bersamamu sekarang?” tanya ibu Eun Raa terburu-buru.

eopseo.

“tadi siang Eun Raa pamit ingin ke makam ayahnya di Damyang. Eomma mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Eomma khawatir karena sampai malam begini, dia belum juga pulang. Jadi eomma menelfonmu, eomma pikir dia sedang bersamamu.”

***

 

Eun Raa tak beranjak dari dalam telephone box dekat halte. Berkali-kali ia menghela napas berat. Harus kepada siapa lagi ia meminta pertolongan? Satu-satunya orang yang menjadi harapan bagi Eun Raa, kini tidak mempercayainya lagi. Pria itu masih menganggap perkataan Eun Raa adalah lelucon.

 

Angin malam berhembus semakin ganyar. Membuat Eun Raa harus merapatkan jaketnya. Eun Raa melangkah menuju halte, ia memilih duduk disana daripada terus berdiri mematung di depan telfon umum.

“hiks…hiks…ayah aku sangat takut sendirian disini, sangat gelap dan sunyi. Bisakah kau katakan kepada malaikat baik yang berada disampingmu untuk mengirimkan kereta kencana yang bisa terbang, agar aku bisa pulang? Ayah tolong aku hiks…hiks…” tangis Eun Raa memecah kesunyian malam. Ia membenamkan wajah pucat pasi yang bergurat ketakutan di kedua lututnya yang ia tekuk.

 

Eomma… Rae Mi Unnie… maafkan aku yang seringkali menjadi anak dan adik yang keras kepala dan mengjengkelkan bagi kalian. Terimakasih kalian sudah bersabar menghadapiku selama ini. Eomma…Unnie aku sangat menyayangi kalian hiks…hiks…” ujar Eun Raa masih sesegukan, dan sesekali menyeka air matanya dengan punggung tangannya.

“Kris…jeongmal mianhae… aku mencintaimu…”

“Hei…kau tidak sedang sekarat, kenapa kau bicara panjang lebar seperti itu?”

 

Degh. Eun Raa mengangkat kepalanya. Matanya membulat sempurna saat menemukan Kris berada dihadapannya.

“hiks…hiks… aku sangat takut tidak ada orang yang menemukanku disini dan tidak bisa pulang.”

“ayo pulang.” Ajak Kris seraya mengulurkan tangannya.

jeongmal mianhae…” lirih Eun Raa dengan suara parau yang tersisa.

 

GREB. Kris menarik lengan gadis itu, lalu membawa tubuh Eun Raa dalam dekapannya. Pria itu merasakan ada penyesalan dalam ucapan Eun Raa. Itu cukup kuat untuk menjadi alasan bagi Kris tetap mempertahankan Eun Raa di sisinya.

” jangan jadikan kebohongan sebuah lelucon dalam hubungan.”

“ne, aku janji, tidak akan mengulangi kebodohan yang sama.” Balas Eun Raa.

~THE END~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s