[KRIS BIRTHDAY PROJECT] – HIT ME! (Oneshot) – Shaekiran

IMG_20161106_202028.jpg

HIT ME!

A Fanfiction by Shaekiran

Dedicated for Wu Yifan a.k.a Kris’s Birthday

Cast

Kris Wu × Jang Hee Sun

Genres School life, Friendship, Romance (?), Fluff (?), Comedy (?), etc

PG-15 | Oneshot

Disclaimer

Story and Art originally by Shaekiran.

Plagiarism is prohibited.

Dedicated to celeberate our Kris gege 26th birthday.

Hope You like it. Happy reading!

 

Summary 

“Dasar gadis sinting!” –Kris Wu

 

 

Sinar mentari pagi ditambah kumpulan awan seputih kapas yang berarak beriring-iringan nampak semakin membuat sempurna langit hari ini. Seoul tidak panas, tapi juga tidak dingin. Cuaca yang sangat cocok untuk berpergian ke taman untuk kencan mungkin?

Namun sepertinya hari secerah ini tidak berlaku bagi lelaki berseragam SMA itu. Wajahnya sungguh kusut –sekusut seragam yang tengah dia pakai. Yah, bukan salahnya juga. Dia bangun kesiangan dan tidak sempat untuk sekedar menyetrika pakaiannya pagi ini. Jadi dia memutuskan pergi ke sekolah begitu saja. Memangnya kapan seorang Kris Wu punya penampilan rapi?

Bangun kesiangan, itu artinya gerbang sekolah sudah ditutup dan waktunya bagi Kris untuk memanjat gerbang setinggi 3 meter di depannya jika ia memang benar-benar ingin sekolah. Sebenarnya Kris malas dan ingin membolos saja, tapi naas. Hari ini kelasnya punya 2 ulangan eksakta berturut-turut -Matematika dan Kimia- itupun kedua mata pelajarannya dipegang oleh guru ter-killer di SMA Junshin. Belum lagi jam pelajaran Bioologi Park-ssaem yang dalam faktanya jauh lebih killer lagi daripada guru Matematika ataupun Kimia yang nanti masuk ke kelas 12B –kelas lelaki bermarga Wu itu.

Kris mengambil ancang-ancang melompat. Sekarang dia sudah berdiri di puncak teratas gerbang sekolah –sebenarnya memanjat gerbang ini mudah sekali baginya mengingat tinggi Kris yang hampir 2 meter. Tak menunggu lama, sebuah suara gedebug keras terdengar , tanda kalau Kris sudah sukses masuk ke sekolah dan tinggal masuk ke kelasnya saja.

Lelaki bermarga Wu itu memungut tasnya yang jatuh duluan, sedikit membersihkannya kemudian memakai ransel hitam itu kembali. Dia tersenyum samar meski raut kusut di wajahnya belum hilang. Yah, setidaknya sekarang dia sudah masuk di arena sekolah dan itu tandanya dia –

“Hei kau yang disana!”

-aman.

Sial, kenapa harus ada satpam yang memergoki aksi Kris pagi hari seperti ini?

Kris –dengan wajah yang senantiasa kusut dan ditekuk- masuk ke dalam kelasnya yang sedang dalam suasana murung. Lelaki jangkung itu duduk di bangkunya di sudut kelas , kemudian melirik penasaran teman sekelas yang sama sekali tidak mengiraukannya karena baru masuk setelah jam Kim-ssaem -guru Matematika mereka- habis.

Secara tidak langsung, Kris sudah melewatkan sebuah ujian harian dari guru killer itu yang pastinya membuat nilai akhir Kris tidak dalam grafik aman . Ralat, bahkan Kris bisa saja dibuat tidak lulus di mata pelajaran Matematika yang berkemungkinan besar juga membuat Kris gagal lulus dari SMA karena setau mereka Kim-ssaem adalah guru gila yang dengan mudahnya menuliskan angkan nol besar di raport kalau ada siswa yang tidak ikut ujian –seperti keadaan Kris sekarang. Dan kalau itu sampai terjadi, mungkin Kris bisa saja menyumpahserapahi satpam yang memergokinya terlambat dan menghukumnnya berlari 20 kali lebih lapangan basket sebelum masuk kelas itu.

“Melihat dari ekspresi nelangsa kalian, kupastikan soal itu pasti ‘Boom’ sekali.”, celoteh Kris pada Chanyeol-teman sebangkunya yang kini duduk meringkuk di sudut kelas. Oh ayolah, Chanyeol adalah jagonya matematika di kelas ini, sumber semua contekan kalau saja Kim-ssaem membuat ulangan. Lalu lihat sekarang, Chanyeol si rangking 1 itu berwajah kusut? Itu artinya kiamat sudah.

“Tentu saja. Soal itu tidak hanya boom lagi, tapi sudah duarr sekali.”, jawab Chanyeol seadanya, kemudian menatap Kris yang menatapnya prihatin dengan pandangan bingung.

Ya! Kemana saja kau tadi? Bukannya kau absent di jam Kim-ssaem?!”, Chanyeol berdiri dari duduknya sambil berteriak histeris sehingga membuat Kris dan seisi kelasnya harus menutup tellinga mereka rapat-rapat sebelum mereka berkewajiban mengunjungi doter THT di RSU Seoul secara massal. Rupanya, Chanyeol baru sadar kalau Kris –yang notabene absent tanpa keterangan di daftar hadir – adalah orang yang mengajaknya bicara sedari tadi.

“Tadi aku terlambat bangun dan-“

“Baiklah anak-anak, tutup bukku kalian dan keluarkan selembar kertas kosong.”

Atensi kedua teman sebangku itu lantas teralih ke Lee-ssaem yang sudah berdiri di depan kelas sambil memukul-mukulkan rol rotannya ke meja guru, membuat seluruh siswa di kelas itu –termasuk Kris dan Chanyeol yang harus menghentikan aksi mengobrol mereka- mulai mengumpat ‘Dasar Kimia sialan!’ dalam hati. Dan naasnya, Kris baru ingat kalau dia belum belajar satu titik koma pun tentang materi ujian mereka hari ini. Lengkap sudah, Kris pasti akan remedial cepat maupun lambat.

“Kris Wu!”

Lelaki yang sedang tengkurap di atas meja dengan lengan sebagai bantalan itu masih belum bergeming meski kini satu kelas sudah berteriak memanggilnya, bahkan Chanyeol sudah mengguncang badan Kris rautsan kali tetapi Kris masih saja terlelap nyenyak dengan tampang polos.

” Kris Wu!”

Kali ini Park-ssaem, guru cantik nan modis yang ada di usia pertengahan 20 tahunan -tepatnya 25 tahun- dan baru mengajar selama 3 tahun namun sudah mendapat predikat guru terkiller itu melangkahkan kaki jenjangnya ke meja belakang, tempat Yifan sekarang tertidur dengan pulas. Jangan salah, wajah boleh cantik rupawan, tapi sudah terbukti kalau hatinya setan. Itu kata siswa yang sudah menjadi korban guru muda ini.

“Kris-ssi.”, kali ini guru itu mengelus rambut Kris yang tidur nyenyak dengan lembut, membuat semua siswa yang ada di kelas 12B itu menahan nafas, menunggu aksi selanjutnya yang akan dilakukan Park-ssaem.

Kris bukannya sadar ada jemari langsing yang tengah mengelus rambutnya, malahan lelaki 18 tahun itu kini semakin tertidur dengan nyaman. Bahkan kini ia memutar arah kepalanya hingga tepat menatap Park-ssaem yang menatapnya tajam lewat kacamata minus yang tengah guru itu pakai.

“Trakkk!”

Sebuah suara singkat itu sukses membuat semua penghuni kelas semakin menahan nafas, lalu menghembuskannya kasar beberapa detik setelahnya sambil membatin, “Dasar guru setan.”. Bahkan Chanyeol lupa menutup mulutnya yang membuka otomatis saat melihat Kris -yang rambutnya baru saja dijambak secara tidak terhormat itu – jatuh dari duduknya dan langsung membentur lantai. Kris lantas memegangi kepalanya yang baru saja terbentur cukup keras.

Akh!”, pekik lelaki tinggi itu tertahan karena kini matanya menangkap sosok guru yang seharusnya tengah mengajar di kelasnya itu tengah berkacak pinggang di depannya.

“Sudah nyenyak tidurnya Kris-ssi?”, tanya Park-ssaem sambil tersenyum samar. Kris mengelus rambut belakangnya singkat, sadar kalau dia tidak akan selamat setelah ini.

“Silahkan keluar Kris-ssi.”, Park-ssaem menunjuk pintu belakang kelas yang memang hanya berjarak beberapa meter dari meja lelaki setinggi tiang listrik itu. Kris menatap pintu itu nanar, sekon selanjutnya ia sudah berdiri meski bokongnya terasa benar-benar sakit.

“Maaf ssaem.”, ucap Kris lirih, namun guru itu tetap cuek bebek dan tidak menggubris permintaan maaf Kris sama sekali. Sadar kalau tidak ada lagi kata ampun baginya, Kris kemudian berjalan menuju pintu keluar, membuka pintu cokelat itu serta membunguk singkat sebelum menutupnya kembali.

“Permisi ssaem.”, pamit Kriss sopan yang diikuti tatapan prihatin dari teman sekelasnya yang lain, namun lagi-lagi gurunya itu tidak merespon sama sekali.

Bangku panjang di pinggir kolam hias SMA Jungshin yang cukup besar nampaknya menjadi pelabuhan Kris setelah diusir dari kelas. Lelaki dengan kantung mata hitam itu nampak duduk terkantuk-kantuk di bagian ujung bangku panjang satu-satunya itu. Bagaiman tidak ngantuk dan bangun kesiangan kalau tadi malam Kris hanya tidur sebanyak 3 jam karena baru memejamkan matanya jam 4 pagi? Oh ayolah, Kris bahkan bangun jam 7 kurang 5 menit pagi ini padahal gerbang sekolahnya ditutup jam 7 tepat. Apa yang mungkin membuat Kris tidak terlambat dengan 5 menit? Jadi agaknya wajar kalau lelaki Wu itu sampai kebla-blasan kantuknya dan ketiduran di kelas saat jam pelajaran berlangsung.

“Sial, ini semua gara-gara si sinting itu!”, pekik Kris dalam hati setengah mengumpat karena dengan bodohnya melayani telfon seseorang itu sampai jam 4 pagi. Baru sedetik Kris mengumpat, tapi kini dering handphone-nya yang khas –lagu Fur elise kalau kalian ingin tau bunyi dering handphone Kris- kembali membuat lelaki itu kembali mengumpat. “Dasar sinting panjang umur!”, pekiknya kesal sebelum menggeser tombol hijau di layar handphone.

Yeoboseyo?”

“Dimana kau?”, sapaan Kris dibalas ucapan ketus seorang gadis di seberang telfon sana. Kris lagi-lagi ingin mengumpat, namun ia menahannya sebisa mungkin.

“Aku di kelas.”, jawab Kris berbohong, namun deheman gadis itu langsung membuat Kris mengganti jawabannya.

“Aku di pinggir kolam.”, ucap Kris akhirnya karena ingat kalau gadis yang tengah berbicara dengannya ini bukan gadis sembarangan. Ia adalah gadis yang bisa dengan ajaib –mungkin peka si gadis sangat tinggi- mengetahui mana ucapan bohong dan jujur, jadi Kris sama sekali tidak mau ambil resiko berbohong pada gadis yang masih asyik mengomel di telfon itu.

“Cepat berdiri.”

Meski malas, Kris toh tetap menurut dan langsung berdiri dari duduknya.

“Aku sudah berdiri. Memangnya kenapa kau menyuruhku ber-“

Brukkk!

-diri.

Byurr!!

Kris mengerjap kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang menendangnya dengan tendangan melayang salto di udara hingga tubuh tinggi lelaki Wu itu oyong dan masuk ke dalam kolam. Kris tercebur, dan bohong namanya kalau Kris tidak menjadi pusat perhatian sekarang.

Ya! Apa yang kau lakukan?!”, pekik Kris kesal karena kini seluruh badannya basah kuyup, belum lagi pinggangnya yang mulai mati rasa karena membentur bagian dalam kolam yang tidak cukup besar untuk menampung badan tinggi besarnya itu.

“Menendangmu ke kolam, memangnya apalagi?”, jawab gadis berseragam olahraga itu enteng sambil memangku tangannya di depan dada dan menatap Kris sambil tersenyum samar.

“Bagaimana, apa kau tidak mengantuk lagi Kris-ah?”, lanjut gadis itu panjang lebar, membuat Kris yang sudah agak pasrah dengan keadaannya sekarang itu menghela nafasnya kasar.

“Aku mengantuk dan bangun kesiangan karena kau menghubungiku tengah malam. Apa kau lupa Jang Hee Sun?!”, kata Kris yang sedang berusaha berdiri itu pada gadis di depannya yang ternyata bernama Hee Sun –gadis yang menjadi sumber insiden pengusiran dirinya dari dalam kelas Park-ssaem secara tidak terhormat.

“Upss, aku minta maaf.”, balas gadis Jang itu dengan raut menyesal sambil mengulurkan tangannya ke arah Kris yang sedang berusaha berdiri. Ragu, namun lelaki bermarga Wu itu akhirnya menerima uluran tangan Hee Sun juga.

Byurr!

Dan sekali lagi juga Kris kembali mencebur ke dalam kolam karena Hee Sun dengan jahilnya melepas pegangannya pada tangan Kris. Kini, gadis itu tertawa girang sementara Kris semakin memperkusut raut wajahnya.

“Ayolah Kris, aku hanya becanda.”, ucap Hee Sun di sela tawanya sendiri. Namun Kris agaknya sedikit malas untuk sekedar menjawab pembelaan diri dari gadis itu. Dia hanya terlalu lelah –sekaligus ngantuk berat- untuk sekedar berdebat dengan Hee Sun.

Happy Birthday Kris!”

Sekali lagi, betapa kagetnya Kris saat Hee Sun tiba-tiba berteriak sambil melempar seplastik penuh confetti ke arahnya yang mulai kedinginan dalam air. Gadis itu tertawa lepas dan asyik meniup-niup confetti warna-warni itu ke arah Kris, semakin mebuat mereka berdua menjadi pusat perhatian karena bel pulang sekolah baru saja berbunyi dan itu tandanya banyak siswa yang tengah lalu lalang dan menjadi saksi aksi Hee Sun sekarang ini.

Tunggu, happy birthday katanya tadi?

“Hee Sun-ah, memangnya sekarang tanggal berapa?”, Tanya Kris kali ini dengan raut serius sambil menghela nafasnya pelan, membuat gadis di depannya itu mulai agak bingung.

“Sekarang 6 November. Benar kan?”, jawab Hee Sun polos akhirnya yang membuat Kris tersenyum samar.

“Lalu kenapa kau mengucapkan happy birthday dengan cara ternorak yang pernah ada ini padaku , eoh? Ini bukan hari ulang tahunku Sun-ah.”, lirih Kris akhirnya yang membuat gadis di depannya berpikir sejenak. Namun baru sedetik, tapi Hee Sun sudah melempar sebuah lollipop besar yang mengenai kening Kris dengan cukup keras.

“Ini ulang tahunmu bodoh! Kau pikir aku akan salah tanggal sementang-mentang IQ-ku ini rendah?!”, pekik Hee Sun kali ini hampir berteriak, membuat Kris setidaknya mengulum senyum saat mendapati lollipop yang baru saja menodai kening sucinya itu.

“Ah, benarkah?”, kali ini Kris bertanya dengan nada dibuat sebingung mungkin, membuat Hee Sun yang anak klub judo itu meninggalkan Kris yang masih terduduk di kolam sambil menghentak-hentakkan kaki dan mengerucutkan bibir.

“Hee Sun-ah!”, Kris memanggil Hee Sun yang sudah beberapa meter meninggalkannya, namun Hee Sun masih tidak bergeming dan tetap menghentak-hentak kakinya meninggalkan kolam semakin jauh.

Ya!”, Kris kali ini bergerak cepat sambil menaikkan tubuhnya keluar dari kolam, hendak mengejar Hee Sun yang agaknya sedang dalam mode ngambek itu. Dengan langkah berat karena badannya yang basah kuyup, Kris berlari secepat yang ia bisa.

Ya! Jang Hee Sun!”, pekik Kris tatkala kini jemarinya sudah menahan pergelangan Hee Sun setelah melakukan aksi kejar-kejaran selama beberapa menit yang membuat Hee Sun mau tidak mau menatap lelaki keturunan China di depannya.

Mwo?!”, jawab Hee Sun ketus bukan main. Dia mempelototi Kris yang kini menatapnya sambil menahan tawa.

Cih, kenapa sekarang kau yang ngambek eoh? Seharusnya aku yang ngambek karena kau merayakan ulang tahunku dengan menendangku ke dalam kolam. Sementang-mentang kau itu masuk 5 besar pejudo tingkat nasional jadi kau pikir bisa menganiaya aku seenaknya huh?” ,Kris yang gemas melihat tingkah Hee Sun lantas memposisikan kedua tangannya di sepasang pipi agak chubby milik Hee Sun, mencubitnya hingga pipi Hee Sun nampak melar dan itu membuat Kris tertawa lagi. Setidaknya wajah lelaki itu tidak sekusut sebelumnya.

“Aku tidak menganiayamu bodoh!”

Akh!”, Kris menyerngit kesakitan dan spontan melepas tangannya dari pipi Hee Sun. Lelaki bermarga Wu itu memegangi tulang keringnya yang baru saja ditendang dengan tidak terhormat oleh gadis yang katanya sedang merajuk itu.

“Siapa suruh kau bilang aku salah tanggal, eoh?! Kau pikir aku bisa melupakan hari ulang tahunmu apa?! “, Hee Sun semakin naik pitam. Ntahlah, pokoknya dia tidak terima Kris mengatainya salah tanggal. Ayolah, bagaimana gadis itu bisa salah kalau dia sudah menandai semua kalender dan jadwalnya dengan ulang tahun Kris di tanggal 6 November huh? Bahkan Ahra- teman sebangku gadis itu- pasti bosan karena meja dan buku-buku pelajaran Hee Sun yang tergeletak di atas meja semuanya berisi penuh catatan ulang tahun Kris.

“Aku hanya bercanda Sun-ah.”, Kris menggenggam pergelangan tangan Hee Sun dengan kedua tangannya dan tertawa kecil. Lucu sekali bagi Kris melihat ekspresi ngambek kekanakan ala Hee Sun yang tomboy itu meski dia sudah hafal betul setiap ekspresi yang gadis itu punya.

Hee Sun akhirnya mengalah. Dia lantas menundukkan kepalanya sambil berjalan ke arah Kris perlahan, lantas ia memeluk pinggang Kris yang jauh lebih tinggi darinya itu agak canggung karena banyaknya penonton yang mengerumuni mereka.

Sangeil Chukae uri Chingu.”, lirih Hee Sun akhirnya sungguh-sungguh. Mendengar itu, kini malah Kris yang menarik pinggang Hee Sun mendekat dan memeluk gadis itu sangat erat.

“Terimakasih masih mengingatnya setiap tahun Sun-ah. Aku sangat bersyukur memiliki orang sepertimu di sisiku, yah..meski kau gadis yang amat kasar.”, dan Kris bisa merasakan sebuah cubitan kecil di pinggangnya kali ini. Siapa lagi kalau bukan Hee Sun yang mencubitnya?

Akh, maksudku agak kasar. Tsk, kau ini sensitif sekali.”, ralat Kris cepat sebelum gadis di rengkuhannya itu semakin mencubitnya. Mungkin Kris tidak bisa melihat, tapi Hee Sun nyatanya tengah terseyum sumringah dengan pipi merona karena lelaki Wu itu kini mengelus puncak kepala gadis itu lembut.

“Astaga. Apa mungkin kau sedang PMS makanya kau begitu sensitif Sun-ah?”

Brukkkh!

Ya!”, teriak Kris kali ini karena Hee Sun tidak hanya mencubitnya sekarang, tapi juga kembali menendang tulang keringnya hingga terasa berdenyut-denyut.

“A-ku-ti-dak-P-M-S!”, Hee Sun menekankan huruf demi huruf, kata demi kata sambil menatap Kris seakan ingin memakan lelaki itu hidup-hidup sekarang juga meski dia tau kalau Kris lagi-lagi hanya bercanda. Bukannya marah, Kris kini malah senyam-senyum sendiri.

Kalau saja Hee Sun bukan gadis yang pertama kalinya membuat hatinya berdetak tak normal meski sikap kasar yang selalu gadis itu perbuat hingga tanpa sadar sudah menganiaya Kris dalam artian sederhana, mungkin seorang Kris Wu sudah lama membuat Hee Sun jera dengan mengerjai gadis itu balik. Namun apa yang bisa dilakukan oleh seorang Kris? Toh dia menginginkan gadis lollipop bernama Hee Sun yang sudah dia kenal sejak 10 tahun lalu itu agar mejadikan aksi ‘menjahili Kris’ sebagai salah satu hobby-nya.

“Dasar sinting.”, lirih Kris pelan, namun masih bisa tertangkap sepasang telinga super sensitif milik Hee Sun.

Plakkk!”

Kali ini Hee Sun yang dapat bergerak dengan leluasa karena mengenakan seragam olahraga –yang notabene berbentuk celana panjang dan bukannya rok- itu sedikit melompat dan menempeleng kepala Kris.

“Siapa yang bilang sinting eoh? Aku?”, pekik Hee Sun yang jauh dari kata feminim itu lagi, membuat Kris lagi-lagi gemas sendiri dengan tingkah asal ceplos gadis bermarga Jang itu.

“Kau adalah gadis sinting yang membuatku ikut-ikutan sinting karena menerima telfonmu tengah malam Sun-ah. Kau gadis gila yang membuatku tidak tidur hanya karena ingin mendengar suaramu hingga jam 4 pagi.”

Mwo?!”

Kris tersenyum samar. Ia tau Hee Sun tidak mengerti maksudnya barusan dan itu baik-baik saja untuknya. Lebih baik seperti ini daripada dia harus merusak hubungan pertemanannya dengan gadis Jang itu selama 10 tahun lebih hanya karena sebuah pengakuan yang belum tentu bisa Hee Sun terima.

“Aku hanya bercanda Sun-ah. Tidak usah dipikirkan.” Mendengar itu Hee Sun hanya mengangguk ringan, kali ini dia menarik tangan Kris agar pergi dari arena kolam.

“Mana traktiranmu ,eoh? Aku ingin makan jajjangmyun.”, ucap si gadis semangat.

Cih, kau hanya tau makan.”, dan bisa Kris rasakan kini sebuah pukulan ringan Hee Sun di perutnya. Tak ambil pusing, Kris dengan patuh menggiring Hee Sun yang kelaparan itu ke kantin. Sebenarnya Kris tidak ingin mentarktir Hee Sun dengan jajjangmyun, tapi si Wu itu ingin mengucapkan satu kalimat ini pada teman 10 tahunnya itu.

“Bagaimana kalau aku traktir semangkuk sayang dan segelas penuh cinta saja sebagai penggangti jajjangmyun?”

Tapi toh, Kris tidak berani mengaku.

-FIN-

 

 

 

 

 

Curcol gak penting😄

Finally, bisa post epep buat ultahnya mantan/plakk/ maksudnya alumni Kris gege kesayangan Eki /plakk/😄

Huhu, pasti kalian gak tau kan sebenernya cerita awalnya ini gimana dan Kris seharusnya Eki pairing sama siapa? Hoho, Eki masih ingin termehek-mehek sambil rolling kalau inget, wkwkk/plakk/😄

Pokoknya HBD buat gege, moga makin tua/plakk/ makin gans, makin tajir, makin hot filmya (*/plakk sekaleeh/ XD), makin inget sama Eki (*ini mimpi, abaikan saja sodara /plakk/ XD), dan makin inget buat reuni yaw :”D

Thanks for reading semuanyahh, cintah Eki padamuh❤

3 thoughts on “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] – HIT ME! (Oneshot) – Shaekiran

  1. kris takut ya kalo dia menyatakan perasaannya nanti si yeoja bakalan menjawab dengan bogem mentah lg hahahaha

    Saengil Cukka Hamnida Kris

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s