[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Kadaluarsa? | truwita

 cute-anime-couples-382x420

Kadaluarsa?
by truwita
.
 Kris Wu, Do Kyungsoo and Soohye
Genres Romance, Life, slight! Comedy | Length Vignette | Rating G

“… mencapai kesepakatan dengan Soohye hanya sebuah rintangan kecil untuk Kris, batu loncatan dan awal mula segalanya…”

Lembaran naskah film pendeknya yang berharga, yang pagi tadi membuatnya bangga dan bahagia setengah mati, kini tergeletak di atas meja belajar. Hanya ditatap, enggan disentuh apa lagi dibaca ulang untuk memastikan tidak ada lagi kesalahan sedikitpun.

Harusnya, ini momen bahagia seumur hidup. Di mana setelah gagal dan mencoba ratusan kali, naskahnya lolos dan diakui. Tak sampai di situ, sebuah perusahaan ternama juga menjanjikan dana yang cukup besar untuk biaya produksi filmnya dengan sebuah syarat yang tak begitu sulit. Setidaknya, semula ia beranggapan begitu, sebelum ia bertemu dan bicara dengan pacarnya.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Kendati udara dingin menusuk tulang, Soohye tak berniat untuk beranjak apalagi bergegas pulang dan menghangatkan tubuh dibawah selimut tebal. Senyumnya tak henti mengembang, dia sedang bahagia. Benar-benar bahagia. Ia tak bisa menunggu hingga esok hari seperti yang dijanjikan pacarnya, atau menyampaikan kabar lewat telepon. Ia harus memberitahu pacarnya segera, secara langsung.

“Kau gila?” Kyungsoo datang dengan napas terengah. Wajahnya terlihat kuyu dan lelah.

“Mungkin,” cengiran lebar menjadi sambutan selamat datang untuk Kyungsoo, disusul sebuah pelukkan erat. Meski rasa heran dan terkejut menyambanginya, Kyungsoo hanya menghela napas. balas memeluk Soohye dan membelai surai si gadis yang berantakan.

“Kupikir kau bercanda saat mengatakan akan menungguku, demi Tuhan, Soohye. Kau bisa mati beku.” Kyungsoo melepaskan pelukan, menangkup pipi Soohye yang memerah, menatap matanya, lalu mendorong kening si gadis sekuat tenaga menggunakan telunjuk.

“YAK!”

“Ap—”

“Lupakan,” Soohye menyela sambil menggosok kedua telapak tangannya. “Oh gila! Kenapa udara malam ini dingin sekali.”

“Bukankah aku sudah berjanji akan menemuimu besok pagi-pagi sekali?” Kyungsoo memutar bola mata, pura-pura jengah.

“Aku tak sesabar itu!”

“Baiklah, cepat katakan.”

“Naskahku lolos. Aku akan segera debut lewat film pendek! KYAAAAAAAAAAA!” Soohye bersorak dan bertepuk tangan antusias. Dia sudah menahannya sejak tadi.

“Benarkah? Hoaaaaaa!” mereka ber-high five, lalu berjingkrak-jingkrak kecil. “Daebak! Uri Soohye jjaaang!!!!” Kyungsoo mengacungkan dua ibu jari. Kebahagiaan tampak terlihat kontras di wajahnya yang lelah.

“Dan juga…”

“Dan juga?”

“Sebuah perusahaan bersedia mendanainya!” Soohye kembali bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. “Apa kubilang? Aku pasti sukses! Aku akan mendapatkan tempat setara untuk berdiri di sisimu!” Soohye meletakan ibu jari dan telunjuknya di dagu.

Ara, ara.”

“Tapi,” Soohye menggigit bibir bawahnya. Berusaha menyembunyikan kebahagiaan yang membuncah. “Aku perlu bantuanmu, sedikit,” tambahnya sambil memetakan dengan dua jari.

Kyungsoo tak langsung menjawab, keningnya terlipat.

“Kau tak mau membantu? Kau itu pacar siapa sih?”

Kyungsoo berdecak. “Apa?”

Senyum kembali mengembang di bibir Soohye. “Perwakilan perusahaan itu memintaku untuk menggaet seorang aktor muda yang tengah naik daun untuk membintangi proyek pertamaku ini. mereka bilang, itu akan membantu menyukseskan debutku dan memberi jaminan bagi mereka yang bertaruh untuk penulis pemula.”

“Kapan?”

“Kau setuju?”

“Kapan?”

“Tentu saja dekat-dekat ini. Rencananya filmku akan dirilis saat pergantian tahun nanti. Keren bukan?”

***

“HAISSSHHH!”

Semalaman, Soohye tak bisa tidur. Jalankan untuk tidur, menenangkan diri saja rasanya sulit sekali. Pikirannya benar-benar kacau, sekacau tatanan rambutnya yang belum sempat dikeramas hampir seminggu.

Ia mengumpulkan naskah yang tercecer, lalu membuangnya ke tempat sampah. “Lupakan! itu tidak mungkin.” tapi ia kembali memungutnya, mengusap-ngusap naskah itu, bahkan memeluknya. “Tidak! ini kesempatanku.”

“AKH!” dilema, Soohye membanting tubuh ke atas ranjang, namun kepalanya malah terbentur sisi ranjang yang terbuat dari besi, memperparah rasa pening kepalanya. “Astaga!”

Ponselnya berdering. itu bukan tanda pesan atau telepon masuk  dari si pacar untuk sapaan selamat pagi yang manis pada umumnya. Mereka tak pernah melakukan hal seperti itu. Mengingat kesibukan seorang Do Kyungsoo, mimpi sajalah.

Ponselnya berdering, itu alarm peringatan yang diaktifkan secara berkala setiap pagi. Pertanda Soohye harus segera bersiap untuk pergi menimba ilmu di unniversitas. Sialnya, Soohye baru ingat ketika melihat notifikasi di layar smartphone-nya bahwa hari ini akan ada kuis sebagai pembukaan hari yang buruk.

***

Pikirannya masih tak menentu saat berhadapan dengan Kris—model dan bintang iklan yang tengah naik daun—di koridor. Ia tak cukup peduli dengan keadaan sekitarnya yang heboh saat Kris berjalan membelah lautan para gadis hingga akhirnya berpapasan dengan Soohye. Selama beberapa detik, mereka berhadapan. Kris menatap remeh, tapi Soohye malah menghembuskan napas, menatap tanpa fokus ke depan, lalu memiringkan kepalanya. Tak ada yang tahu apa yang terjadi. Semua gadis iri ingin berada di posisi Soohye saat ini, sayangnya Soohye sama sekali tidak peduli apalagi merasa dirinya beruntung. Ketika Joo Hyeon menyikutnya, barulah Soohye mengerjap dan menatap kaget sekitar.

“Berhenti melakukan hal itu,” tegur Kris menambah keterkejutan Soohye. “Kau mungkin berbakat dalam hal menulis, tapi tidak untuk akting.”

“Ah ya, kudengar naskahmu lolos. Selamat, ya!”

Kata selamat memang keluar dari mulut Kris, tapi wajah lelaki itu tak mengatakan hal serupa. Lebih terkesan mengejek dan menantang adu jotos lawan bicaranya. Beruntung sekali dia saat ini, Soohye sedang dalam mode off. Tak berniat untuk balas mendebat atau sekedar menonjok wajah tampannya. Jadi, Soohye hanya menghela napas, balik-kanan-maju-jalan.

***

“Sudah kubilang jangan terlalu senang,” ujar Joo Hyeon. “Lihat dirimu! Kemarin kau tersenyum dan tertawa sepanjang waktu, hari ini kau menekuk wajah dan siap menangis setiap saat.”

Sesungguhnya, Soohye ingin sekali menangis. Ia belum sempat melakukannya sejak berpisah dengan Kyungsoo tadi malam. Ia sudah menahan keinginan itu cukup lama, ia tidak yakin bisa melakukannya lebih lama lagi. Dadanya terasa sesak. Tak lagi terhitung berapa kali ia menghembuskan napas semenit terakhir.

“Kyungsoo menolak proyekmu?”

Soohye menggeleng, dan menghela napas lagi.

“Lalu? Kupikir itu masalahmu.”

Menghela napas, dan menggeleng. “Lantas?”

Soohye diam.

“Kalian bertengkar sebelum kau mengatakan maksudmu?”

Menghela napas, dan menggeleng lagi.

“Park Soohye,” Joo Hyeon mulai gemas. “Apa Kyungsoo—”

“Kau ingin seluruh dunia tahu bahwa aku memiliki hubungan dengan Do Kyungsoo? Kenapa kau terus menanyakannya?!”

Joo Hyeon menatap sekeliling. Mereka jadi pusat perhatian sekarang, entah karena Soohye berteriak dengan kalimat panjang, atau karena nama Do Kyungsoo—Aktor dan penyanyi muda berbakat—disebut di dalamnya. Atau mungkin keduanya. Posisi mereka yang berada di tengah-tengah kantin kampus juga tidak menguntungkan.

“Yak! Kau yang membuat semua orang tahu, bodoh!” bisik Joo Hyeon sambil tersenyum dan menganggukkan kepala pada orang-orang sekitar.

Tak ingin ambil pusing dengan tatapan orang-orang yang ingin tahu, Soohye mengacak rambut lalu membenamkan wajah di atas meja. “Diantara semua aktris yang ada, kenapa harus Bang Hye Jung sialan itu?”

“APA?” Joo Hyeon menepuk-nepuk dadanya, nyaris tersedak. “Bang… Hye Jung yang…” Joo Hyeon ragu dengan hipotesisnya. “Bukan Bang Hye Jung yang—”

“Yang merebut Kwon Jiyong! Menurutmu siapa lagi?” Soohye menendang-nendang udara di bawah meja.

YEEE?! Kau pasti bercanda. Sejak kapan Hye Jung jadi aktris? Dan apa… Ya Tuhan!”

Joo Hyeon menggelengkan kepala. Mengenyahkan berbagai praduga. “Oke, Soohye. Perasaanmu pada Kyungsoo tidak sedangkal itu kan? Kalian sudah menjalin hubungan cukup lama. banyak hal yang sudah kalian lalui. Bang Hye Jung? Ayolah. Kyungsoo tak mungkin berpaling padanya.”

***

Soohye tahu, dia bukan lagi anak remaja labil yang mudah dipengaruhi dan terbawa emosi. Membenarkan praduga-praduga tak pasti, egois dan mementingkan perasaan sendiri. Come on, dia tak akan membiarakan dirinya dibodohi dan kalah dari gadis itu dua kali.

Soohye berusaha berpikir rasional. Tentu saja apapun yang akan Kyungsoo lakukan dengan Hye Jung nanti, Soohye percaya pacarnya itu akan bersikap profesional. Lagi pula, Soohye sudah berjanji takkan bersikap bodoh dan cemburu dengan lawan main Kyungsoo, tanpa terkecuali. Tapi, tetap saja kenapa harus Hye Jung? Fakta tentang gadis itu di masa lalu benar-benar mengganggu Soohye hingga akhirnya memaksa Kyungsoo untuk membatalkan kontraknya. Tak pelak pertengkaranpun terjadi dan merenggangkan hubungan mereka.

“Kenapa dia harus semarah itu dan menuduhku macam-macam?” Soohye bermonolog.

“Kenapa dia tak mau memahami, sih?”

“Jika itu gadis lain, aku tak akan peduli!”

“Kenapa harus Hye Jung?”

Soohye melirik sebuah map yang tergeletak di sisinya. “Kenapa di saat proyek pertamaku datang?”

“Kenapa dia tak bisa memilihku? Membatalkan kontrak dan bekerja denganku? bukankah dia berjanji akan memerankan karakter dalam ceritaku? Kenapa saat kesempatan itu ada dia malah menolak karena terlibat kontrak dengan gadis itu?” dan banyak lagi kata ‘kenapa’ yang tak pernah kunjung mendapat jawaban. Semakin lama, semakin sarat emosi disertai linangan air mata yang pada akhirnya tumpah tanpa bisa ia tahan lagi.

Semua keluh kesah dan pertanyaan yang keluar dari mulut Soohye, didengar oleh Kris yang secara kebetulan tengah bersantai tak jauh dari tempatnya. Awalnya, Kris memilih untuk tetap diam, hanya mendengarkan sampai gadis itu puas dan pergi. Namun, mendengar isakan yang semakin menjadi, hatinya jadi tak karuan.

Soohye adalah gadis yang dibencinya, harus dibencinya. Kris ingin sekali membalas dendam atas tindakan gadis itu yang berani mencampakkan lelaki tampan bernama Kris Wu. Melukai harga dirinya, bahkan menolak untuk bicara dan berurusan dengannya. Memangnya apa kurangnya Kris di mata Soohye? Dia tampan, tinggi, karismatik, populer, perhatian, digilai gadis-gadis dan masih banyak lagi.

Kris tak habis pikir jalan pikiran gadis itu. Dia dengan bodohnya memilih membahayakan diri untuk berkencan diam-diam dengan Do Kyungsoo yang cuek, so sibuk, pendek pula. Jika masalah ketenaran di dunia entertainer, Kris rasa dia unggul banyak hal dari Kyungsoo. Bahkan, jika Soohye bersedia kembali, dia tidak akan menjalin hubungan rahasia dan bertemu di tengah malam, apalagi membiarkan Soohye menunggu di tengah cuaca ekstrim. Kris akan dengan lantang mengumumkan bahwa mereka menjalin hubungan dan saling mencintai. Mengumbar kemesraan, membuatnya merasa tinggi bagaikan putri yang dicintai pangerannya. Bukankah setiap gadis menginginkan hal tersebut tanpa terkecuali?

Kris bangkit dari posisi nyaman. Mendekat lalu melemparkan sapu tangan di wajah Soohye yang nampak jelek dan basah air mata. “Berisik. Kau mengganggu waktu tenangku. Diamlah!”

Soohye mendongak dan mendelik kemudian saat tahu siapa yang berdiri di sampingnya. Gadis itu malah semakin meninggikan frekuensi suara tangisannya.

“YAK! YAK! Berhenti menangis! jika ada orang yang memergoki kita, mereka bisa berasumsi negatif!”

Ajaib, Soohye berhenti menangis saat itu juga. Dari posisi duduknya, Soohye menatap kesal sambil menahan isakan. “Kalau begitu pergilah! Aku masih ingin menangis! Cepat!”

Kris bergeming. Alih-alih pergi, dia mengambil posisi nyaman, duduk di sebelah Soohye. “Hey, Hey.”

“Kau mungkin punya kesempatan untuk memerintah orang lain sesukamu, tapi kau tak bisa membuat mereka menurutimu semua perkataanmu.”

Enggan berdebat atau memutar otak untuk mencerna dan memahami apa yang lelaki itu katakan, Soohye lebih suka untuk melanjutkan tangisnya yang tertunda.

“Cengeng.”

“Diam kau!” Soohye bergerak, memunggungi Kris, membenamkan wajah di lututnya.

“Aku mungkin membiarkanmu karena kau terlihat bahagia. Bahkan saat kau harus berdiri menunggu selama berjam-jam di luar ruangan.” Entah apa maksud dan tujuan Kris bicara seperti itu, dia hanya… tidak. ini hanya bagian dari spontanitas, tidak lebih. “Tapi setelah melihatmu menangis seperti ini, kurasa aku tak akan membiarkanmu lagi.”

“Yak! Kenapa kau berisik sekali?! Lebih baik kau pergi! Dan lupakan apa yang kau lihat!”

“Aku akan memastikannya ini yang pertama dan terakhir kali kau menyaksikannya.”

“Kau tak bisa memaksa seseorang pergi dari hadapanmu, Hye. Kau tidak punya hak memaksa.”

Kesal karena Kris terus mengganggu acara menangisnya, Soohye beranjak, hendak meninggalkan lelaki itu untuk mencari tempat sepi lain. Ia benar-benar butuh ketenangan dan lingkungan kondusif agar ia bisa menangis dengan tenang tanpa hambatan dan gangguan dari makhluk seperti Kris.

Namun, sebelum ia melangkah, Kris lebih dulu menarik lengan dan memeluknya. “Jadi, kau berniat untuk pergi? Mencampakkanku lagi?”

“Jangan pernah berharap. Aku takkan membiarkannya terjadi dengan mudah.”

Kris menangkup sisi wajah Soohye. isakan belum sepenuhnya mereda, tapi keterkejutannya membuat si gadis diam seribu bahasa. Kesempatan langka ini digunakan Kris untuk menatap ke dalam matanya yang membulat dan bergerak-gerak sembarangan arah. Ekspresi yang lucu. Mungkin itu adalah satu dari banyaknya alasan Kris berlaku sedemikian spontan.

Momen itu tak berlangsung lama, terpecah oleh deringan ponsel Soohye. Ingin sekali Kris mengumpat pada si penelepon atau membuang benda itu jauh-jauh. Berani sekali merusak suasana yang bagus.

Keterkejutan di wajah Soohye berubah frustasi saat melihat nama yang tertera di layar sebagai id pemanggil. Itu dari perusahaan produksi. “Aku akan gila sekarang.” Soohye memijat pelipis, tubuhnya bergerak ke kiri dan kekanan; gelisah. Apa yang harus ia lakukan? Menyerah?

Soohye tak bisa mendapatkan ide yang lebih baik. Sejak  awal ia ingin Kyungsoo yang memerankan karakter utamanya, tapi itu sudah tidak mungkin. Brengsek itu lebih memilih proyeknya dengan Hye Jung. Waktunya sedikit sekali. Bukan hal mudah mencari aktor yang tengah bersinar bersedia menggarap film dengannya yang notabene penulis pemula. Soohye menerima syarat itu karena ia yakin Kyungsoo mau melakukannya. Tapi ia terlalu naif untuk kemungkinan terburuk yang kini malah terjadi. Peluangnya sangat kecil ditambah fakta Soohye tak punya banyak koneksi.

AAKH MOLLA!”

Gadis itu tak ingin menyerah begitu saja. Dia tak bisa menyerah untuk mimpinya. Jika tidak sekarang, kapan lagi kesempatan lain akan muncul? Tapi masalahnya…

“Aku yang akan melakukannya. Tidak buruk, bukan hal sulit juga.” Kris tengah membaca naskahnya yang sejak tadi terabaikan di atas rumput.

“Apa?”

“Aku akan melakukannya. Aku akan bicara dengan manajemenku mengenai hal ini.”

“Kau—”

“Kau lupa, bodoh atau pura-pura keduanya?”

“Kau bukan aktor! Hanya seorang model dan bintang iklan! Jangan bodoh dan mencoba mengacau.”

“Apa bedanya? Aku juga seorang artis di puncak popularitasnya.”

Berakting bukan hal mudah, tapi memang kenyataannya tak pernah ada hal mudah yang akan didapat di dunia ini. Semuanya butuh proses dan pengorbanan untuk mencapai segala sesuatu. Mimpi dan harapan hanya akan menjadi angan tanpa usaha dan kerja keras. Oleh karena itu, mencapai kesepakatan dengan Soohye hanya sebuah rintangan kecil untuk Kris, batu loncatan dan awal mula segalanya. Meski begitu, Kris sendiri belum yakin. Apakah ini awal dari pembalasan dendamnya, atau malah awal kisah cinta kadaluarsa yang bersemi kembali?

-END-

a/n:

HOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA,
SAENGIL CHUKKAE, UNTUK SANG MANTAN, GALAXY FAN-FAN :’’’’’’
terimakasih dan maaf untuk para pembaca.
ini ngebut. Dan aku gak sempet edit.
Kalo ada typo dan dan kata yang gak genah mohon dimaklum. Hehe

YES! THAT’S RIGHT!
ide cerita ini terlahir setelah aku—kesurupan karena terlalu keder dengan laporan praktikum juga tugas-tugas kampus bak kasih ibu di malam minggu kelabu—memantapkan hati dan memutuskan untuk nonton web drama laki-ku tersayang, yang kini sudah tak suci lagi, Kyungsu. (mewek)

Entah kenapa aku membuang kewarasan dan menyiksa diri untuk melihatnya.
nyesel sih. Tapi terimakasih karenanya aku punya ide buat nulis event b’day untuk sang mantan. (uhuk)
jadi, enjoy please!
Dan aku minta maaf, jika ada yang kurang berkenan.
Kesamaan dalam bentuk apapun itu murni ketidaksengajaan. Aku menulisnya dengan segenap imajinasi dan keterbatasan pengetahuan.
aku gak bermaksud membenci/bash/apapun pada “Bang Hye Jung” meski kenyataannya aku belum bisa nerima dia cipok-cipok yayang emesh /abaikan/
ini hanya sebuah “fanfiksi” pelepas penat, hasil dari kecemburuan.😄

-tata<3

One thought on “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Kadaluarsa? | truwita

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s