[EXAC’T SERIES] White Noise – Honeybutter26

white-noise

White Noise

Presented by Honeybutter26

Kim Jongin x Park Soojin

Sad Romance, Riddle

Vignette

PG -15

Summary:

“Yang harus aku lakukan hanya menutup mata dan menemukanmu di antara kebisingan dunia.”

***

Rindu adalah candu tersakit di dunia. Di mana ia, Jongin, merasa tubuhnya dibelit sulur-sulur kuat yang tak mampu terpatahkan meski dengan pedang ajaib sekali pun. Seperti jantungnya berhenti memompa darah, seperti livernya tak lagi dapat menyaring racun dalam tubuh, seperti setiap pori kulitnya tertusuk oleh jarum tak kasat mata.

Malam yang terlalu dingin dan sepi, sementara pagi hanya berisi kepingan kenangan tanpa cicit burung gereja atau sinar hangat sang mentari bersama aroma kopi yang pekat. Ilusi yang hadir dalam mimpi adalah monster yang memakan segala memoar kebahagiaan yang begitu Jongin damba. Hidupnya telah hancur oleh cinta yang pergi tanpa sempat menerima suatu pembalasan yang impas.

Menarik napas rasanya seperti  mengikat dadanya dengan tambang kuat-kuat, membuat ia sesak alih-alih merasa lega karena paru-parunya telah terisi udara. Rindu ini membuat ia sakau, sarafnya sakit, menjerit dan meraung meminta pemuasan. Tapi yang bisa Jongin lakukan hanya diam, biarkan rindu menghisap darahnya seperti lintah. Pemuas rindu itu kini tak lagi ada, meski Jongin masih bisa merasakan dan melihatnya, dia hanya sebuah ilusi yang terlalu nyata untuk Jongin genggam dengan erat.

Sajak-sajak tertuang bait demi bait. Meramu aksara, menyalur rindu yang tak berujung. Sementara jemarinya bergerak mengarang ilusi yang terpendam dalam benak, air mata mengalir deras seperti hujan yang merindu bumi.

Ia sadar tak bisa seperti ini selamanya. Ia sadar dengan sangat bahwa mereka tak akan pernah bisa bersama. Mencoba memaksakan kehendak hanya membuat luka terkoyak semakin lebar. Mereka berbeda, entah dalam alasan apa pun. Dunia mereka tak akan pernah bisa disatukan.

Jongin memejamkan mata, mengharap suatu kemustahilan untuk dapat kembali berjumpa dengan ilusinya. Jongin tak berharap banyak, cukup dapat melihat dan mendengar bagaimana lisan itu berucap dapat membuat Jongin puas untuk sementara meski esok ia akan kembali sakau bahkan lebih parah dari sebelumnya. Tubuhnya akan kembali menggigil oleh rindu yang menyiksa serabut saraf.

Kemudian Jongin mendapati dirinya tertarik ke dimensi lain yang ia kenal betul apa sejatinya tempat ini. Lantas matanya berpendar penuh harap, merealisasikan kemustahilan yang ia semogakan. Kemudian Jongin merasa jantungnya kembali berdegup setelah menemukannya di antara kebisingan dunia. Dia berdiri di sana, sendirian dengan kepala menunduk sementara kakinya bergerak menggesek tanah, menghitung detik yang ia habiskan untuk menunggu.

Dia masih sama, seperti yang Jongin ingat dalam benak. Dia masih membuat Jongin merindu hingga candu. Dia masih memesona, membuat Jongin buta oleh cinta. Dia sama sekali tak berubah, masih membuat Jongin menyerahkan seluruh kewarasannya untuk ditertawai habis-habisan oleh dunia.

“Park Soojin.”

Nama itu harusnya terlantun dari lisannya, pun dengan senyum itu yang harusnya hanya diberikan pada Jongin seorang. Realitanya Jongin hanya dapat diam seribu bahasa, kaku seperti pohon kelapa yang tak goyah meski angin menerpanya dengan kuat, gagu seperti pantomim yang mengekspresikan kesedihannya dari wajah.

Nuraninya tersakiti begitu melihat tangan mungil nan hangat itu digenggam oleh pria lain. Seperti sebilah pedang yang membelah jantungnya jadi dua bagian, yang memutus dua tulang rusuknya. Satu per satu langkah yang menjauh menggulung Jongin kembali pada rindu yang menyuguhkan pedih yang mengoyak jiwa.

Semakin jauh dia melangkah, semakin buram penglihatan Jongin baik pada dunia pun pada esok hari. Apa dia masih bisa bertahan hidup? Apa ia masih bisa berkata baik-baik saja sementara rindu itu terus saja berusaha untuk membuat darahnya tercecer di lantai? Atau ia akan mati bersama cinta yang tak akan pernah punya kesempatan untuk terbalaskan?

Satu tetes air mata jatuh dan Jongin tersadar dia kini ada di dimensinya yang nyata. Bersama layar komputer yang menyala terang menunjukkan huruf-huruf yang terangkai menjadi bait-bait puisi rindu. Masih terasa jelas jejak basah air mata di pipi.

Kita bertemu lagi setelah sekian lama. Apa kau mengingatku? Atau sepercik kenangan tentang kita tiba-tiba membayang dalam ingatanmu? Kenapa kau menarikku lagi?

 

Ini semua memang salahku. Seperti apa katamu, kita berbeda. Tidak, seharusnya memang tidak ada kita antara aku dan kau.

 

Cintamu yang sehangat mentari pagi telah berubah jadi bara, membakar hangus semuanya, yang pada akhirnya  hanya sisakan abu dan asap. Aku menelan semua kegembiraanku, mencoba mendorongnya turun dari tenggorokan. Tapi semakin aku mencoba, semua kenangan itu berubah jadi perangkap yang melilit leherku.

 

Sesak.

 

Aku sesak.

 

Tak dapat bernapas dengan benar.

 

Bagaimana ini? Kupikir mungkin aku akan mati dalam sesak rindu yang mencekik. Rindu ini terlalu berat untuk kupikul sendiri. Membuatku tersengal tiap kali aku berusaha untuk berjalan menjauh.

 

Bulan selalu jadi saksi ketika semoga terlantun lewat panjatan doa. Aku bahkan tak lagi bisa membedakan antara fantasi dan kenyataan. Berjuta tanya sering bergelayut manja dalam benak.

 

Orang yang aku suka, apa itu benar kau?

 

Aku yang menginginkamu, apa itu benar-benar aku?

 

Imajinasiku menciptakanmu, dan ketika aku melihatmu, aku berimajinasi lagi. Tentangmu, tengtangku, juga tentang kita.

 

Tanpa sadar kita selalu memimpikan mimpi yang sama. Terkadang kau menarikku ke dimensimu, dan aku … aku masih terikat dari ujung kepala hingga ujung kaki bersama kenangan. Aku melihatmu dengan jelas, aku merasakanmu, mendengarmu tapi tak ada satu pun hal yang dapat kuperbuat untuk menangkapmu.

 

Aku ingin berteriak pada dunia tentang rindu ini. Agar kau mendengar betapa sebilah rindu ini telah mengoyak jiwaku hingga jadi potongan-potongan tanpa arti.

 

Kau lebih fana dari waktu. Kau lebih transparan dari angin. Menunggumu membuatku semakin hancur, mencoba mendekapmu hanya dapatkan dingin yang menusuk hingga sumsum tulang.

 

“Ya, ini salahku. Tak seharusnya aku memberikan hati dan jiwaku pada ilusi yang kuciptakan. Betapa bodohnya kau, Kim Jongin.” Aku menyerahkan lututku pada bumi, sementara hujan memandikan dengan kesedihan yang masih berbalut rindu.

 

“Kau benar. Ya, ini sudah benar bahwa perpisahan kita harusnya menghasilkan sesuatu. Aku akan selalu memanjat doa untuk kebahagiaanmu. Meski malam enggan menjawabnya, meski lisan ini tak lagi sanggup berkata. Tapi … kenapa aku masih berharap untuk kita? Setidaknya satu keping kenangan saja yang kau ingat, bahkan dalam mimpi.”

 

Suhu udara yang terlampau lembab dan dingin membuat potongan memori terputar seperti sebuah kilas balik. Pertama kali aku menemukannya kala senja dengan rintik rindu langit yang berharap dapat mendekap bumi. Dia ada di sana, berdiri di atas besi pembatas jembatan tanpa merasa takut air mata langit yang membuat pagar jadi licin dapat menjatuhkannya kapan saja.

 

Kepalanya tertunduk, memandang kosong aliran air sungai Han yang beriak kecil oleh hujan. Seluruh tubuhnya basah, dan mataku mendapati gadis itu menggigil di sela bibirnya yang mulai membiru. Terang saja,hujan di penghujung musim gugur bukanlah suatu hal yang baik.

 

Jarak antara kami hanya satu langkah, tapi aku tak berniat untuk mengucap tanya atau sekadar basa-basi tentang keberadaannya di sana. Baru ketika kaki itu bergerak ke depan, hanya dalam sekejap mata aku refleks segera ikut melangkah.

 

Hampir saja. Aku benar-benar ingin memakinya. Bagaimana bisa gadis ini mempunyai pikiran sependek ulat sperma untuk mengakhiri hidupnya?

 

“Apa kau gila?” akhirnya aku benar-benar memakinya. Saat lidahku bersiap menebas keberaniannya dengan setumpuk umpatan, suara lirih nan penuh pengharapan itu menyapa gendang telinga.

 

“Kai, kau kah itu? Kai, kekasihku. Benarkah itu kau, sayang?”

 

“Kai?”

 

Pertanyaan demi pertanyaan jatuh bersamaan dengan rintik hujan di kepalaku. Tapi aku tersadar, aku tidak boleh membuang waktu untuk menarik gadis ini kembali ke daratan. Mengembalikan kewarasannya dengan segera agar ia tahu seberapa hina perbuatannya tadi.

 

Sekonyong-konyong tubuh ini mencium kerasnya aspal begitu dia menubrukku dengan satu dekapan. Tangannya yang dingin memeluk leherku, sementara isak tangisnya mengukungku dalam diam.

 

Sesuatu berputar di dadaku, seperti topan. Memporak-porandakan semuanya, dadaku memberat, paru-paruku kempis dan aku merasa sesak. Detik berjalan lebih lamban dari degub jantungku yang entah bagaimana bisa terasa seakan ingin meledak. Entah kenapa aku merasa … rindu.

 

“Kai. Kau kembali, sayang. Aku tahu kau akan kembali. Kau tak mungkin meninggalkanku begitu saja. Aku tahu kepercayaanku bahwa kau masih hidup selama ini memang benar adanya. Terimakasih sudah kembali.”

 

Aku bingung, sungguh. Aku membutuhkan suatu penjelasan yang dapat memperjelas situasi yang kini kuhadapi. Namun sebelum sempat aku melontar tanya, satu kilas balik ingatan yang entah datang dari mana hinggap dalam benak.

 

Ada suara tembakan, darah di mana-mana, pria-pria bertubuh kekar lengkap dengan setelan jas hitam. Lalu teriakan yang entah bagaimana bisa terasa sangat familiar dalam pendengaran. Satu suara yang biasanya terdengar begitu menggetarkan jiwa berubah jadi jeritan pilu setajam pedang.

 

Perasaan pening tak tertahankan sekonyong-konyong menyerang kepala. Berbagai hipotesa yang menuntut sebuah pembuktian berjubel di otak. Aku merasa nyaris pingsan karena merasa darah di otakku seakan membeku seketika.

 

Ini pasti tidak mungkin. Mana mungkin aku tertarik ke dalam dimensi yang tercipta dari imajinasiku sendiri? Bagaimana bisa ingatan salah satu karakter yang telah kubunuh dengan tanganku kini berubah jadi ingatanku? Ini jelas suatu kemustahilan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

 

Kemudian waktu berputar begitu cepat seperti di pacu oleh mesin bertenaga kuda. Tahu-tahu kami sudah dekat, begitu dekat sampai aku lupa pada realita. Hingga hari itu akhirnya datang. Kecerobohanku membawa kami pada petaka yang tak bisa dihindari. Seperti sebuah kaca yang telah pecah, seperti itulah sebuah kepercayaan. Hal yang mustahil untuk kau perbaiki agar utuh seperti semula semahal apapun lem perekat yang kau pakai.

 

Soojin melihat semuanya, dia membaca bait demi bait kisahnya yang kutuangkan dalam aksara. Dia akhirnya sadar bahwa dia hanya ilusi belaka, dan yang paling parah hingga membuat amarahnya berkobar sepanas api neraka adalah kenyataan bahwa aku, Kim Jongin, adalah orang yang telah membunuh kekasihnya, orang yang selalu menempatkan Soojin dalam kesedihan dan nestapa.

 

“Kau brengsek sialan!” Aku menerima semua sumpah serapah yang Soojin ucap. Kenyataan itu pada akhirnya menjatuhkan Soojin dari ketinggian. Ketinggian yang berarti denotasi dan konotasi.

 

Soojin adalah karakter yang memang kuciptakan seperti itu. Dia adalah gadis yang tegar namun rapuh di saat yang bersamaan. Pikirannya sependek konsleting listrik yang siap menyulut amarahnya jadi kobaran api yang lebih besar, membakar habis akal sehatnya hingga jadi abu.

 

Dia melompat, ditarik sebegitu cepat oleh gravitasi lantas berakhir dengan bersimbah darah di atas bumi.

 

“Park Soojin!”

 

Saat aku hendak menyusul untuk melompat, aku dibangunkan dengan cara yang paling tidak nyaman. Keringat membasahi sekujur tubuh, napasku tersengal, dan air mataku luruh tanpa tahu malu.

 

Aku melihat pada layar monitor yang masih menyala terang. Sebongkah penyesalan jatuh di atas kepalaku. Aku membunuh Park Soojin. Ilusi yang sialnya telah mencuri hati dan kewarasanku.

Jongin berhenti menggerakkan jarinya di atas papan ketik. Dia menangis lagi, untuk ukuran pria dia benar-benar sangat menyedihkan. Menangis karena seorang wanita yang bahkan hanya bisa ia temukan dalam imajinasinya. Seseorang yang membuatnya mencecer darah di atas papan ketik untuk menuliskan saja-sajak rindu. Seorang yang tak akan pernah dapat ia genggam.

Segulung perasaan bersalah meletakkan Jongin pada labirin yang tak punya jalan keluar. Berbuat apa saja rasanya tetap menjatuhkan Jongin pada lubang kesalahan yang tak berdasar. Tidak benar bahwa hati yang ia berikan pada Soojin adalah akibat dari memori Kim Kai yang bersemayam di sudut otaknya. Realita mengatakan bahwa Jongin mencintai Soojin murni dari hatinya, bukan dari memori kecil Kim Kai semata.

Jongin menggerakkan lagi jemarinya, menulis sajak lagi. Membiarkan lagi iblis tertawa melihatnya yang mencoba mengubur perasaannya ke dasar neraka diiringi sebuah elegi penuh ratapan pedih dari hati yang masih merindu.

“Bagaimana ini, Park Soojin? Aku dan Kim Kai masih saja belum bisa melepasmu. Haruskah aku menulis ulang cerita tentang kita? Menghapus adegan bahwa aku hanya mimpimu dan kita bisa memulainya dari awal.”

 

FIN

 

Protes aja silakan aku iklas lahir batin kok.. kalo bingung tanya aja.. makasih mas kangchul buat bapernya sampe belom bisa mup on dan akhirnya nistain ongen pake cerita beginian, sampe segala posternya juga dibikin mirip.. aaaaaaaaaaaaaakkkkk

 

 

 

 

3 thoughts on “[EXAC’T SERIES] White Noise – Honeybutter26

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s