[EXAC’T SERIES] Lucky One – Jo Liyeol

14359197_1082598808524169_9097809399518214880_n

Jo Liyeol’s present ©2016 [EX’ACT SERIES]

Lucky One

Cast; Oh Sehun (EXO), Ahn Jieun (OC) | Genre; Drama, Romance, Fantasy | Rating; PG 16 | Length; Ficlet | Warning; OCC, AU, Typo.
Disclaimer : MINE!

Aku tidak peduli jika aku tau jalan ini atau tidak, aku akan berputar melewati garis paralel kau dan aku. Aku tak keberatan tersapu oleh gelombang besar di akhir perjalanan ini.

.
.
Sosok tinggi berseragam kemeja hitam dengan regular fit panjang senada; dipadu Bradleys Brodo itu tak henti memperhatikan jarum perak kompas ditangan kanannya, rantai kecil keemasan yang menjuntai dari kompas mengayun masuk ke dalam saku trench coatnya. Name tag tersemat di bagian atas dada kemeja dalam mantelnya tertulis; ‘Chaser Hybrid: Code 0912; Oh Sehun’ begitu apik dengan tinta perunggu mengkilat tertumpuk gel padat melindungi keindahannya.

Langkah tegas membawa sosok itu menelusuri gelap hutan Arizona malam ini. Cicit sengau burung-burung malam terdengar riuh di atas kepalanya, gaungan tipis dari kejauhan tak surut menggetarkan adrenalin, dingin embusan angin menerbangkan bawah mantelnya pun tak henti menjadi penghalang.
Sosok tegap Sehun tetap mengikuti kemana arah jarum perak itu tertuju.
.
“Dia setengah malaikat,” dingin. Nada itu dalam dan tajam terkuar dari celah bibir Kim Joonmyeon. Penat membanjiri air mukanya yang tertutup tautan tangan di depan kening, begitu berat beban di punggungnya hingga bersandar pada sandaran kursi pun seakan tak lagi mampu.
Di atas kursi Dewan Asosiasi yang ia duduki Joonmyun mendongak, menatap Sehun yang berdiri di depan meja kuasanya lamat-lamat. Menyalang secercah harapan dari bagaimana kemilau obsidiannya menelisik pemburu muda itu separuh harap.
“Seperempat presentase yang tidak terlalu kuyakini akan berhasil, perbandingannya 2:9, terlalu berat. Yang lain mungkin akan langsung mundurtapi satu dari dua ratus. Kau yang terhebat, Sehun,” suaranya melebur dari pangkal kerongkongannya yang kering. Tautan tangan yang tadi menjadi penyanggah keningnya masih terpaut di tempat, kini menutup sebagian wajahnya. Entah untuk kali keberapa Joonmyeon kembali menghela napas berat, “Kuharap kau bisa.”
Jika ia tau pemburu lain akan langsung mundur, bagaimana bisa ia yakin yang satu ini akan bertahan? Dua banding sembilan itu terlalu besar dan beresiko. Sudah mengambil sumpah memang para pemburu tak lagi mempedulikan nyawa atas apa yang mereka tangani dalam tugas, tapi mati sia-sia sebelum berperang adalah hal memalukan bahkan ketika kau wafat. Jika Joonmyeon tau Sehun pemburu berbakat mengapa ia menyerahkannya pada tugas seberat ini? Usianya bahkan belum menginjak dua puluh limadimana usia legalitas para pemburu ditetapkan pada tahap tugas di atas rata-rata.
Namun Sehun cukup tau diri bahwa ia tak dikenankan untuk memilih. Karena ini bukan pilihan, seberat apapun beban yang dibagi Joonmyeon pada bahunya adalah kemutlakan yang mesti ia tanggung tanpa mengeluh. Hingga di puncak kesadarannya Sehun mengangguk; sebagaimana para pemburu diberikan tugas dari ketua asosiasi daerah tertentu. Ketua asosiasi. Begitu berbanding dengannya yang benar-benar terbelenggu, karena sang Dewan lah yang meminta langsung kinerjanya sebagai Pemburu hybrid. “Dilaksanakan, Sir.”
.
Code 0912. Kau mendengarku?” langkah Sehun terhenti ketika bisikan pelan dari earphone kecil di lubang telinganya berbunyi. Spesialis bawah tanah, Code 0908; Park Chanyeol. Tau pasti si Oh siapa pemilik suara yang baru saja memanggilnya.
Tak surut menghentikan langkah mengikuti kemana jarum perak itu menuntunnya, Sehun mengangkat tangan kiri menyentuh alat di telinganya antisipasi benda itu kehilangan sinyal karena goyangan tertentu, “Ya, aku di sini.”
Suara ketikan terdengar di sebrang pendengaran Sehun, memecah fokusnya dari mengamati panah perak itu yang kini menyerong ke barat daya, “Baekhyun mencium perpaduan mawar dan mint. Komputer mengidentifikasi letaknya radius seratus mater dari titik kau berada sekarang.
Informasi Chanyeol sontak menghentikan langkah Sehun seketika tepat di radius seratus meter pada incarannya.
Sejenak debar jantungnya terhenti memastikan benar atau tidak yang ia dengar.
Mawar? Mint?
Tidak ada yang salah dari dua aroma itu, permasalahan di sini hanyalah yang diburu Sehun adalah makhluk hybrid. Dan sepanjang pengalaman selama sebelas tahun melaksanakan pemburuan, ia belum pernah mendapati laporan akan hybrid buruan beroma semenarik ini—karena hybrid yang dicari pemburu sudah dipastikan telah terkontaminasi bau anyir darah dan wewangian bangkai, membuatnya begitu busuk untuk diendus. Bahkan hybrid yang tak membangkangpun tidak akan mempunyai aroma lain selain buah-buahan segar.
Debat argumen pada diri sendiri terhenti ketika memori Sehun memutar kembali ungkapan frustasi Joonmyeon di kantornya.
‘Dia setengah malaikat.’
Itu bukan sesuatu yang bagus, terlebih mengingat pemburu lainpun dapat menyerah dengan mudah sebelum bekerja.
Mengatur napas yang sempat terhenti dan mengalun berantakan, pemburu muda itu memejam mata ketika bertanya pada Chanyeol yang sempat memanggil-manggil code name-nya berulang kali. Pengganti nama asli yang hanya akan kau dengar ketika dalam masa bertugas, “Apa warna dasarnya?”
Warna dasar adalah bagaimana para pemburu menyatakan lebih rasional kemilau cahaya yang memancar dari telinga dan ekor hybrid-hybrid yang dicarinya.
Tidak terdeteksi, Jongin kehilangan kendali ekspedisinya karena tujuh puluh meter kedepan kabut sangat tebal,” penjabaran Chanyeol benar-benar tak membantunya. Helaan napas Sehun terdengar, begitu pelan dan melirih. Mengundang si Park mendengus keras-keras karena ia tau hal itu akan langsung menghantar tepat ke telinga Sehun, “Jangan menghela seperti baru bertugas, Man. Kuyakin kau pasti bisa, kau yang terbaik di antara kita,” sungguh ungkapan Chanyeol—yang Sehun yakini sedang cemberut—sedikit membuatnya kembali berpikir jernih. Dan ketika si Park di sebrang sana tak lagi bicara padanya namun menghantarkan kembali suara jemari di atas keyboard, “Teridentifikasi. Kyungsoo bilang itu kelinci, telinga panjang dengan ekor menyerupai gumpalan.”
Sehun terdiam sebentar sebelum senyum kecil terukir di wajah tampannya begitu pelit, “Berjanjilah padaku, Park. Kita akan marijuana sampai pagi di klub Minseok sunbaenim kalau-kalau aku pulang masih bernyawa.”
Sialan—tidak janji. Aku masih sayang hubunganku dengan Nayoon, kami baru tiga bulan—astaga. Jangan minta yang tidak-tidak, Oh. Kau pulang dengan selamat pun aku masih ragu,” Chanyeol membual. Lawakan garing yang entah kenapa membuat Sehun terbahak pelan di sebrang sambungannya. Sebagai kawan senjak SMU yang menjalani karantina serta pendidikan berat sebagai pemburu dan spesialis hybrid, Chanyeol yakin seratus persen sahabat tersayangnya itu akan pulang dengan selamat. Seberat apapun tugasnya kali ini. Chanyeol yakin Sehun akan pulang, karena dibalik maki serta sumpah laknat yang senantiasa ia lontarkan pada Sehun, hanyalah kedok dari ribuan doa yang ia panjatkan pada Tuhan mengiringi tiap perburuan sahabatnya.
Usai si Park berkata demikian sambungan terputus. Bukan dari posisi Chanyeol, bukan pula dari Sehun yang menghentikan obrolan singkat mereka. Mengusung raut bingung dipetakan air muka kedua pemuda itu, sejenak sebelum menyadari kepulan asap yang mestinya ada tujuh puluh meter kedepan telah menggamang di sekeliling Sehun saat ini.
“Sial, aku lengah,” Sehun menggerit, gigi-giginya saling menggemelatuk saat menunduk dan mendapati jarum perak kompasnya beroyang-goyang tak tentu dari barat daya ke barat laut terus menerus.
Ketika hidungnya menggendus sekali wawangian bunga segar yang dingin, Sehun cekatan memasukan komasnya pada saku trench coat di mana pangkal rantainya berada. Mengganti penganggan dengan belati seperak jarum kompas yang sedari tadi ia turuti membimbing jalannya.
Tangan kirinya bersiaga mengantisipasi serangan tiba-tiba dari arah dimana ia tak bersenjata. Terlihat kosong memang dari luar, seakan Sehun menantang maut pada pemburuan rakyat jelata yang mengunuskan pedang kardus ke sang raja.
Main-main akan kebodohan.
Namun pada nyatanya sarung di lengan kiri Sehun telah di lengkapi sensor nano yang dapat menghanguskan sosok hybrid menjadi abu bersisa tumpukan tulang hewan jika ia ingin.
Detik ketika aroma memabukkan itu kembali menelisik anarkis di indra penciumannya, Sehun mendapat ketakutan yang ia sendiripun bingung bagaimana menjelaskannya. Untuk kali pertama dalam hidup ia gentar dalam bertugas.
Pening. Mual. Matanya berkunang.
Akibat ketakutannya mendapati sesosok bayangan muncul dari kabut di depan sana. Perlahan membesar membentuk telinga panjang di atas kepala.
Aroma mawar bercampur mint ini semakin terhirup bagitu sejuk dan menggoda. Demi Tuhan Sehun bahkan mulai terbuai akan sensasinya kalau-kalau sosok di sana tak semakin mendekat.
Saat ketika sosok itu muncul utuh di pampangan matanya. Sehun terdiam. Terperenjat—terjerat akan keindahan tak tersirat sosok di depannya.
Benar, itu hybrid kelinci; berwarna dasar soft pink. Namun berbeda dengan hybrid biasanya, sosok di sana mempunyai bentangan sayap yang kini menekuk anggun di belakang punggung. Bulu-bulu seputih kapas berkerlip taburan serbuk emas yang dengan kasat matapun Sehun kenali, reruntuhan taburan itu barhambur di rumput memberi jejak terdefinisi kemana saja sosok ini melangkah. Sekembar obsidian biru muda berpendar menatap lamat-lamat Sehun cukup intens bersama suray gelombangnya yang berembus terbawa angin, memampangkan betapa indah geraian coklat itu bergoyang lembut sejuntai punggungnya.
“Senang bertemu denganmu lagi. Sehun-ah,” ketika ia tersenyum congkak di petakan paras menawannya, Sehun menyadari betapa indah makhluk itu yang tak berubah, “Apa kabar?”
Si Oh tetap diam. Mencengkram belati di tangannya kuat-kuat, “Jieun?”
“Kau kembali, terimakasih.”
Tak elak, permukaan hati Sehun perlahan meretak begitu parah. Rindunya amat besar pada sosok yang kini mengukir senyum manis padanya, namun rasa kecewa pula imajinasi liar membuatnya sakit begitu jauh hingga tak percaya kenyataan yang tepat menghunuskan anggar keji kehidupan di depan matanya, “Katakan kalau ini bohong. Kau bukan Jieun, Ahn Jieun sudah musnah tiga belas tahun lalu.”
“Aku Jieun. Aku Jieun, Hun—Aku Ahn Jieun,” salah satu sudut bibir gadis itu tertarik memberi cemooh halus ke arah pemuda di depannya. Seakan dirinyalah pemeran antagonis di drama antara mereka.
Sementara itu Sehun menggeleng, mimiknya menggkeruh pada pernyataan dirinya tak seatensi dengan sosok yang sungguh semakin membuat hatinya kepayahan dan dilema. Rahangnya mengeras di paras tampannya yang masih tetap datar, “Kalau kau memang Jieun kenapa kau begini? Aku ke mari untuk menggeret hybrid biadab yang tanpa nurani menghancurkan satu desa begitu mudah, seakan dirinya yang menentukan nyawa mereka. Kutanya padamu? Apa Ahn Jieun melakukan itu? Bajingan yang mengggenggam nyawa orang-orang seakan dirinya Tuhan? Pembunuh laknat yang dengan keji
“Kau salah,” cepat Jieun memotong pernyataan Sehun, menatap tak main-main sepasang obsidian pemuda itu, “Aku menghabiskan mereka semua karena aku punya alasan,” senyum congkaknya terganti air muka sedingin es. Sebelum menelisik sekembar obsidian Sehun lekat penuh kehangatan dan melanjutkan seakan dirinya setangguh prisai, “Wabah penyakit, tidak satupun dari orang desa itu yang bersih. Kau mau melihat penyakitnya menjalar keluar desa dan merebak seantero negri
Jangan berkilah. Jika benar karena wabah penyakit, hal itu bisa ditangani para medis di kota—” cepat-cepat Sehun menyela, sebagaimana sosok itu tak membiarkan penuturannya habis. Tajam ia membalas pandangan lembut itu, berusaha menggali sosok di balik wujud Jieunnya di sini. Mengesampingkan benar atau tidak maupun ilusi atau kenyataan, sosok di depannya benar-benar meretakkan hatinya semakin parah dengan beradu argumen seperti ini.
“Aku tidak berkilah,” embusan napas tipis terdengar dari celah bibir Jieun seiring dengan santai ia berjalan mendekati Sehun. “Penyakit itu tidak ada obatnya,” terhenti tatkala beberapa sentimeter jarak mereka terhitung jengkal, “Percaya padaku, Hun. Aku tidak membual.”
Menyerah.
Sehun menyerah pada dirinya sendiri, aroma perpaduan mawar mint masih begitu memabukkan penciumannya. Tak henti merebak dari aroma tubuh Jieun, menjadikannya candu mutlak yang sulit dihindari, terlebih kenyataan bahwa hati pun nalarnya kini yakin sosok di depannya bukan lah ilusi.
Tapi pengalaman sebelas tahun sebagai pemburu membuatnya masih tak yakin ia berada di bawah fantasi para hybrid (terlebih pencampuran malaikat) atau bukan. Hingga dengan tangan kirinya yang berselimut sarung bertegangan nano ia meraih sebelah pipi Jieun hingga netra keduanya besibobrok intens, “Beri aku satu bukti untuk itu.”
Sudut bibir gadis itu kembali terangkat, merasa terhibur, “Kau tidak berubah.”
“Jawab,” Sehun membalas tak main-main. Datar, otoriter, pun mendominasi.
Senyum miringnya masih terpasung begitu anggun, hingga detik Jieun menunduk beriring puzzel bulu seputih kapas di belakang punggungnya merekah mengambil seluruh jarak pandang Sehun, “Sayapku,” sebersit luka pemuda itu sadari dari bagaimana sosok tangguh gadis di depannya bersuara gamang hampir bergetar. Mendongak, menatap Sehun; menuntun sang pemburu kembali ke masa lampau. Senyumnya terukir penuh sarkasme lagi tak peduli jantung hatinya yang perlahan berdenyut, “Jika berdosa maka akan mengkeruh; putih menjadi abu-abu, emas menjadi perunggu—ingat?” jeda, “Hybrid adalah babu, malaikat adalah bangsawan. Dan aku menjadi candu paling dicari berabad-abad karena ada di antara mereka, aku tidak pernah musnah, Hun. Aku bersembunyi—dan menunggumu.”
Adalah detik Sehun terdiam beberapa sekon sebelum menurunkan tangan dan menarik sosok didepannya begitu erat ke dalam pelukan. Merengkuh kepala sosok itu tenggelam di dadanya tanpa peduli tangannya yang kini terselip di antara sayap-sayap. Menghirup aroma memabukkan Jieun yang dirindunya penuh dambaan, menyelam pada nostalgia indah kenangan sakit hatinya yang perlahan sirna, “Kau kembali, Ji.”
Dan Jieun yang membalas tanpa enggan pelukan erat Sehun, “Kau yang kembali.”
.
.

END

Spesial Exa'ct event - Sehun, selesai yey! :v Jangan lupa baca karya author yang lain yeheeet ....
Jo Liyeol [24 September 2016]  
.
.

Omake

“Kau menangis?” Sehun bersuara membisiki sosok gadis remaja di balik pohon akasia besar, remaja yang terlihat belasan tahun lebih tua darinya menelungkup memeluk lututnya sendiri.
Saat itu usia Sehun masih sepuluh tahun. Menaiki bukit dengan seragam sekolah dasarnya yang masih melekat, lengkap dengan tas gendongnya yang turut ia bawa karena sudah berniat membolos ke atas bukit dari pada monoton tiap hari ke sekolah.
Tapi di usia muda pun Sehun sadar sosok yang disapanya bukanlah manusia (lagi), itu kaum hybrid; budak rendahan yang diciptakan manusia untuk bekerja tanpa dibayar, memberi kesenangan sesaat, dan apabila menua akan segera dimusnahkan sebelum berubah keleweat malas dan manja.
Itulah kenapa akhir-akhir ini sering terjadi pemberontakan kaum hybrid.
Tapi Sehun tak mau mempedulikan hal itu. Bukan urusannya—pikiran anak bocah kelewat tua. Matang belum umurnya. Untunglah ia tidak tumbuh menjadi buah busuk.
“Agassi, apa kau tertidur?” namun pemikiran polos bocah sekolah dasarnya masih kentara ketika ia perlahan-lahan mendakati sosok yang bagian belakang tubuhnya tertutup batang pohon.
Tidak mendapat jawaban, Sehun kecil semakin mendekat tanpa gentar. Keberanian mutlak yang telah ditanamnya sedari kecil.
Tepat ketika ia sampai di hadapan sosok itu, barulah ia tercengang bukan main, “Sayap?!”
Mendengar pekikan Sehun sosok itu mendongak. Manusia? Aroma tubuhnya lekat. Kali pertama setelah berabad-abad ia lahir, adalah kali perdana dirinya menampakan diri di depan manusia selain kaum hybrid yang telah meninggalkan kemanusiaannya.
“Kau hybrid yang punya sayap? Bagaimaana caranya? Kau hybrid atau malaikat?” cerocos pertanyaan Sehun memberi sensasi sendiri baginya.
Jadi untuk pertama kali ia berkomunikasi dengan manusia, “Aku keduanya,” suaranya kecil, ketakutan namun begitu sukar mengelak.
Sehun terkekeh melihat reaksinya—amat tampan untuk ukuran bocah sepuluh tahun di mata sosok itu.
Dan ketika si Oh bersuara dengan penuh sanjunungan menyuarakan kata: “Daebak!”
Adalah detik keduanya menjadi teman tanpa sebab.
.
.
“Eum … Noona—” takut-takut Sehun mersuara setelah sekian lama mereka berbincang dan menertawakan apapun seakan sepasang saudara yang tak terpisah.
Ujarannya tersela ketika sosok cantik di sebelahnya berujar cepat, “Ahn Jieun, panggil aku Jieun.”
Sehun menoleh menatap heran wajah cantik sosok yang namanya pun baru diketahui, “Itu tidak sopan, kau lebih tua dariku.”
“Hey. Pada akhirnya kau yang akan terlihat lebih tua dariku suatu saat nanti, sedangkan aku akan tetap seperti ini.”
Oke, Sehun paham betul apa yang dimaksud Jieun. Keluarganya terlahir sebagai darah penjaga malaikat dan pemburu hybrid pembangkangkang yang dulu belum sepopuler sekarang. Tau bagaimana sosok malaikat tak akan menua sebelum melewati ratusan tahun. Namun sama sekali tidak tau bahwa malaikat dan hybrid bisa disatukan dalam satu wujud.
“Jieun, baiklah aku akan memanggilmu Jieun kalau begitu,” riang Sehun bersuara. Dibalas anggukan semangat Jieun yang menyetujui dengan amat. Hingga riangnya Sehun mengambang begitu saja ketika ia kembali memanggil gadis dengan marga Ahn itu takut-takut, “Jieun ….”
Masih terdengar aneh memang. Tapi Jieun tetap menengok, “Ng? Apa?”
“Jangan bilang siapa-siapa kalau aku bolos ke mari, ya? Aku bersumpah hanya hari ini saja tidak sekolah.”
Jieun terkekeh pelan. Begitu manis dan cantik, mempesona dan begitu indah di sepasang obsidian Sehun, “Aku baru tau malah kalau kau bolos.”
Sehun merengut. Menyesal juga mengatakan itu pada Jieun, tau begitu tidak ia katakan.
Tapi dengan santai Jieun mengangkat sebelah tangan mengusak puncak kepala bocah di sebelahnya, “Oke, oke. Tenang saja aku tidak akan bilang siapapun.”
“Janji?”
Jieun sendiri hanya mengangguk santai, “Iya.”
“Apa jaminannya?” Sehun menelisik, memicingkan mata curiga ke arah yang lebih tua.
Membuat gadis itu mengerjap singkat sebelum merentangkan sayapnya, memukau Sehun yang seketika membulatkan mulut terkagum-kagum, “Jika berdosa maka akan mengkeruh; putih menjadi abu-abu, emas menjadi perunggu. Apa itu cukup?”
Sehun masih menganga, menyentuh kemilap di sayap Jieun dengan ujung jari. Banar—emas, “Bagaimana bisa emas ini berubah jadi perunggu? Jangan mengada-ada.”
“Malaikat bisa mengubah segala sesuatu dalam dirinya jika sudah terikat janji.”
Pernyataan gadis itu tiba-tiba mengundang ide jenius dari otak dewasa si Oh yang telah matang lebih dulu, “Kalau begitu berjanjilah untuk menungguku dewasa dan kita akan menikah.”
“Hah?” keterkejutan Jieun sama sekali tak terhalang.
“Malaikat lama untuk menua ‘kan?” Sehun berujar riang. Hening ketika Jieun memilih tetap menganga ketimbang menjawab, sampai akhirnya Sehun yang memilih melanjuti, “Kau bilang pada akhirnya aku yang bakal terlihat lebih tua darimu. Berarti kau akan tetap menjadi cantik seperti ini sampai aku besar nanti.”
“Hey aku tidak jamin—”
“Tunggu aku! Aku tidak mau tau, kau harus menungguku,” dengan memaksa Sehun mengangkat sebelah tangan Jieun lalu mengelitkan kelingking mereka tanda ikatan, “Kau sudah berjanji. Maka harus menepatinya!”
Seruan ceria Sehun mengundang Jieun terkekeh di tempat, membiarkan kelingkingnya masih terpaut di kelingking yang lebih kecil. Sebelum mengulum senyum dan mengangguk main-main meskipun ia yakin, “Baiklah. Tapi kau pun harus menepatinya—camkan itu!”
Kemudian keduanya tergelak bersama ketika Jieun mengusak kepalanya di kening Sehun dengan tangan yang kini menggenggam satu sama lain.
.
.
Review Juseyooo!

3 thoughts on “[EXAC’T SERIES] Lucky One – Jo Liyeol

  1. waw~ just waw! apa ini? Sehun pemburu? para Hybrid? satu kata KEREN! aku sering baca cerita tentang hybrid tapi kebanyakan menceritakan kalau mereka makhluk darah campuran yang berdiri dengan angkuhnya karena kekuatan super keren yang mereka miliki/? okeh lupakan -_- aku suka ceritanya. Cara penyampaiannya, gaya bahasanya. Cerita fantasy kebanyakan kurang disukai karena memang isinya hal-hal yang tidak masuk akal. Tapi cara kamu nyampeinnya cukup jelas bahkan untuk orang awam yang bukan penyuka cerita genre ini. T.O.P BGT deh pokoknya~ ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s