[EXAC’T SERIES] Heaven

14241449_1067386820045368_5783089872485851522_o

Heaven

written by Khairunnisa Han
T | Romance, Angst, Tragedy
Oneshot (4.588w)
Zhang Yi Xing | Ahn Minji
Kim Joonmyeon | Zhang Yi Er | Jeon Jiae
follow me on wattpad
find me on tumblr

“Langit memberikanmu segalanya, dan dunia memberikan dirimu kepadaku.”

Heaven — song by EXO

Kau cantik.
Kau sangat cantik.
“Joonmyeon-ah, siapa namanya?” pemuda asal Tiongkok itu menunjuk salah satu pasien yang duduk di kursi roda. Dia dari Tiongkok, tapi bahasa Korea-nya sangat lancar. Lesung pipinya terlihat jelas di pipi kanan.
Kim Joonmyeon—temannya itu—tersenyum simpul. Dia belum menjawab, dan justru membongkar kertas di tangannya. “Namanya itu,” Joonmyeon mengeluarkan suaranya, “Ahn Minji. Dia di sini karena suatu alasan tentunya. Dulu dia korban bullying.”
“Lalu?”
“Singkatnya, dia depresi berkepanjangan. Sampai sekarang. Tapi tak baik untuk terus memberikannya obat anti depresan. Jadi kami—tim dokter—sedang berusaha bagaimana untuk menerapkan terapi kepadanya. Akhir-akhir ini, dia sudah tidur dengan lebih baik.”
Pemuda Tiongkok itu mengangguk-angguk. “Joonmyeon-ah, dia pasienmu?” dia bertanya lagi. Matanya tak menatap Joonmyeon, dia sibuk menatap pasien yang duduk di kursi roda itu. Tentunya, pasien itu ditemani oleh seorang perawat.
Joonmyeon mengangguk, “Benar. Apa kau ingin berkenalan dengannya, Yi Xing?” Joonmyeon melontarkan sebuah pertanyaan.

“Tapi jangan marah kalau dia tidak menjawab pertanyaanmu nanti. Dia sudah tidak bicara sejak lama sekali.” Joonmyeon tak perlu kata-kata dari mulut Zhang Yi Xing untuk mengetahui apa yang pemuda Tiongkok itu pikirkan.
Tak salah lagi, Yi Xing ingin berkenalan dengan pasien itu. Joonmyeon membawa Yi Xing menemui pasien itu, dia juga bicara pada perawat yang membawa pasien itu ke luar.
Yi Xing menekuk lututnya demi menyejajarkan wajah mereka.
Kau sangat cantik dari jarak sedekat ini.
Apa kau bidadari yang tersasar?
“Annyeonghaseyo,” Yi Xing tersenyum dan menampakkan lesung pipinya, “namaku Zhang Yi Xing dan aku dari Changsa, Tiongkok—walau sekarang aku tinggal di Beijing dan sering berkunjung ke Seoul untuk menemui Joonmyeon dan melakukan studi kasus bersama. Kalau kau, siapa namamu?”
“….”
Joonmyeon benar, pasien itu tak menjawab sama sekali. Bahkan menatap wajah Yi Xing saja tidak. Raganya di sana, matanya di sana lurus ke depan. Tapi jiwanya melayang entah ke mana. Terbang bebas mencari kebebasan sendiri.
“Namanya Ahn Minji. Kumohon maafkan dia, Zhang Seonsaengnim, Kim Seonsaengnim.” Perawat itu yang menjawab, dengan sebuah senyuman yang caggung.
Tidak. Tidak mengapa bagi Yi Xing. Bahkan tanpa tersenyum, pasien itu sudah terlihat cantik. Apalagi kalau dia tersenyum nantinya. Yi Xing akan menantikan hari itu tiba, meski menunggu dalam waktu yang lama.
Senyuman pemuda itu sangat tulus. Benar-benar senyuman yang datang dari hati. Tapi dia tak bisa berlama-lama berada di rumah sakit itu, apalagi berada di Korea dalam waktu yang lama. Dia tetap harus kembali ke rumah sakitnya di Tiongkok.
Pemuda itu memasukkan tangannya ke dalam saku mantelnya. Musim dingin datang, mungkin perawat tadi membawa Ahn Minji ke luar demi melihat salju turun. Sayangnya, hanya hawa yang bertambah dingin, sementara salju tak kunjung turun.
Yi Xing mampir sebentar di taman malam itu. Meski dia harus berebut oksigen dengan tanaman-tanaman di sana. Tidak ada lampu yang menyala, mungkin rusak. Tapi itu justru lebih baik, karena Yi Xing dapat mendongakkan kepalanya dan mendapati bulan dan bintang yang berserakan di kanvas gelap bumi.
Yi Xing menyusun teori-teori aneh di dalam otaknya. Statusnya memang dokter, dan dia dokter jiwa. Tapi tak menghilangkan kemungkinan bahwa dia mengkhayalkan hal-hal yang tidak masuk akal. Sepertinya, gangguan jiwa kecil mulai menyerangnya.
Apa ini juga termasuk gangguan jiwa?

-o-

Ahn Minji menegakkan tubuhnya, menyibak selimut. Kakinya bergerak ke tepi, dan menggantung bebas. Lantas bergoyang-goyang kecil. Matanya menatap kosong ke luar jendela. Dia berpikir, siapa orang yang sore tadi datang menemuinya dengan sebuah senyuman? Kenapa senyumannya terasa sangat tulus dan hangat? Minji merasa, ada bagian tubuhnya yang menghangat saat melihatnya, dan mengingatnya sekarang ini.
Dia mungkin seorang malaikat.
Minji beranggapan demikian. Sungguh tak pernah ada orang yang tersenyum sehangat dan setulus itu untuknya—kecuali ibunya. Dia selalu mengingat orang-orang yang memandangnya rendah, tersenyum kecut, dan memperlakukannya tidak manusiawi.
Mungkin, dia punya sayap di balik kemejanya itu.
Karena bagi Minji, senyum seperti milik ibunya itu adalah senyum malaikat.
Gadis itu menggoyangkan kakinya dengan pelan di tepian ranjang rumah sakit. Dia lupa sejak kapan dia berada di sini, dan berhenti memasang ekspresi serta senyuman. Tadi, dia ingin tersenyum balik untuk orang itu. Dia ingin menjawab siapa namanya. Namun dia lupa bagaimana caranya tersenyum, apalagi berbicara.
Semalam penuh dia berpikir banyak hal. Tidak tidur. Dia menatap ke luar jendela, menunggu rembulan di sana digantikan dengan matahari. Matanya hanya sesekali berkedip, dan kakinya sesekali berhenti bergerak.
Aku ingin bertemu denganmu lagi.
Minji menunggu, dan penantiannya usai. Dia menarik seragam perawat yang biasa menjaganya, menunjuk ke luar jendela. Meminta untuk dibawa ke luar. Perawat itu menurutinya, dan berhenti di tempat yang sama.
Kepala gadis itu bergerak ke kanan dan kiri, mencari seseorang yang sekarang belum terlihat. Dia menunggu, mungkin orang itu akan datang bersamaan dengan dokternya. Lantas orang itu memang datang bersama dokternya.
Pemuda itu, seseorang yang ditunggu oleh Minji. Kakinya kembali ditekuk demi menyejajarkan wajah mereka, dan dia kembali tersenyum hangat. Minji menarik napasnya dalam-dalam, dan dia berkedip walau hanya sekali.
“Joonmyeon-ah,” pemuda itu nampak kaget dan menatap Kim Joonmyeon dengan senyuman lebar, “dia berkedip. Itu perkembangan yang baik.” Matanya kembali menatap Minji, dan dia menampakkan lesung pipinya. “Kau harusnya tahu kalau wajah tanpa ekspresimu itu sebenarnya manis, Nona Ahn. Tapi kalau kau tersenyum, kau akan terlihat cantik.”
Kemudian pemuda itu terkekeh pelan, dan Minji yakin bahwa dirinya tak akan bisa tidur lagi malam ini.
Siapa namanya kemarin, ya?
“Yi Xing, kau mau menemaninya?” Joonmyeon memberikan sebuah tawaran yang menarik, dan Zhang Yi Xing mengangguk akan hal itu.
Yi Xing mengambil alih kursi roda dan mendorongnya mengitari kawasan rumah sakit. Selagi mereka berkeliling, Yi Xing menceritakan banyak hal pada Minji. “Aku ini sama dengan Joonmyeon lho. Sama-sama dokter jiwa. Dulu aku kuliah di Korea, jadi aku bisa bahasa Korea dan berteman baik dengannya.” Termasuk hal seperti ini.
Bagi Minji, Yi Xing memiliki banyak hal. Yi Xing memiliki segalanya yang dia perlukan di dunia. Termasuk sebuah senyuman yang hangat, ditambah lesung pipi sebagai pemanis. Dia juga mempunyai cerita-cerita yang mengesankan.
“Aku punya seorang adik, namanya Yi Er. Aku Zhang Yi Xing, dan dia Zhang Yi Er. Aku memangilnya Xiao Yi*. Dia adik yang benar-benar manis, dan menggemaskan. Dia lahir 3 tahun setelah aku, jadi dia sekarang 27 tahun. Tapi kelakuannya seperti anak kecil. Sayangnya kau begitu pendiam, aku jadi bingung bagaimana sifatmu, dan topik seperti apa yang kausukai.” [*Xiao itu semacam panggilan sayang untuk anak kecil—biasanya. Tapi bisa sih kayak buat adek, atau anak gitu.]
Aku suka apapun saat bersamamu.
Adikmu lebih muda dariku.
Hari itu, Minji banyak mendengar kisah dari Yi Xing. Namun dia tak tahu bagaimana harus menjawab setiap kata-kata dari Yi Xing. Tersenyum pun sangat susah untuknya. Apa yang harus dilakukannya, ya?

-o-

Yi Xing tidak seperti biasanya.
Minji belum pernah melihat Yi Xing membawa tas sebelumnya. Tapi hari ini, Yi Xing menemuinya di dalam bangsalnya dengan membawa sebuah ransel yang tidak dapat dikatakan besar, tidak juga kecil.
Yixing tidak seperti biasanya.
Tangannya yang kurus dan putih itu belum pernah menyentuh seinchi pun tubuh Minji, tapi kali ini tangannya berada di atas kepalanya. Yi Xing mengusak pelan rambut Minji. “Oh iya,” Yi Xing menyentuh sudut-sudut bibir Minji dengan jempolnya, “seperti ini caranya tersenyum.” Lantas dia menarik sudut-sudut bibir itu supaya naik.
Oh, seperti itu caranya.
Yi Xing masih seperti biasanya.
Senyumannya masih sama, tak ubahnya seorang malaikat.

“Aku—“

Dia sedikit aneh.

“Aku harus pergi dulu ya. Suatu hari, aku pasti akan kembali ke sini lagi. Orang pertama yang aku temui … tentu saja Joonmyeon. Dia harus menjemputku di bandara, dan setelah itu aku akan menemuimu. Aku janji. Saat sampai di Beijing nanti, yang aku temui pertama adalah … Yi Er.”

Aku ingin jadi yang pertama kautemui.

“Ha—ha—ha—ha—“

“Apa maksudmu ‘hati-hati’?” Yi Xing dengan mudahnya menebak alur pikiran Minji. Pemuda itu tersenyum lebar dan terkekeh pelan. “Aku akan hati-hati. Sampai jumpa lagi, Nona Ahn.”

-o-

Minji bukan lagi pasien yang diam di kamar dengan membiarkan otaknya kosong begitu saja. Dia memiliki motivasi untuk sembuh, bergerak, tersenyum, dan berbicara. Dia mengikuti segala perkataan Kim Joonmyeon dan melakukan semuanya sebaik mungkin.
Ahn Minji berjuang untuk menggapai kesembuhan.
Akhir-akhir ini Minji sibuk di ruang rehabilitasi. Kakinya dipasang alat untuk menyangga tubuhnya, tangannya bertumpu pada sebuah pegangan dari baja yang terasa dingin.
Tangannya gemetar memegang baja yang dingin, dan kakinya lemas. Sudah terlalu lama baginya untuk tidak menggerakkan kaki, dan itu membuatnya sulit berjalan.
Kim Joonmyeon berdiri untuk mengawasinya dengan sebuah papan jalan dan kertas yang menempel di sana, serta sebuah pulpen untuk mencatat. Dua perawat menjaganya di kanan dan kiri, jadi Minji tahu kalau dirinya sudah cukup aman.
Minji berpikir bahwa pemuda seperti Zhang Yi Xing sangatlah sempurna. Di usianya yang muda, dia bahkan sudah menjadi seorang dokter. Eh? Kim Joonmyeon juga. Tapi, Minji lebih tertarik pada Yi Xing. Untuk itu, dia akan berjuang keras.
Supaya aku bisa menjemputmu di bandara nanti, aku harus bisa berjalan!
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Empat kali.
Tujuh kali.
Dua belas kali.
Lima belas kali.
Minji sudah terlalu banyak terjatuh, namun dia tetap berusaha berdiri dengan kaki yang gemetar. Sendi engsel di lututnya betul-betul kaku, dan gadis itu sedang mengusahakan bagaimanapun caranya, dia harus bisa berjalan. Walaupun dia tidak yakin bahwa berjalan itu mampu disandingkan dengan kesempurnaan yang dimiliki Yi Xing.
“Sudah, sudah cukup untuk—“
Minji menggeleng keras. Dia menolak perkataan Joonmyeon yang jelas-jelas dokternya. Apapun itu akan dia turuti, tapi Minji tak suka kalau disuruh berhenti sementara tekadnya untuk bisa melebihi kekuatannya.
“Nona Ahn,” Joonmyeon mendekati Minji, “kau tak boleh memaksakan kehendakmu seperti ini. Sendimu sudah lama tak digunakan, dan kalau kaupaksakan seperti ini, aku takut sendi itu justru benar-benar tak dapat digunakan sama sekali. Kau justru tak dapat berjalan. Mengerti? Kita sudahi dulu, dan besok kau boleh latihan lagi. Lusa, besok lusa, sampai kau bisa berlari.”
Gadis itu terduduk di atas lantai marmer yang dingin, menatap nanar lantai itu. Untuk bisa berjalan, tidak semudah yang ada di pikirinnya. Perawat membantunya untuk duduk di kursi roda, dan membawanya kembali ke dalam bangsal bernuansa serba putih itu—sebenarnya, seluruh rumah sakit bernuansa putih.
Dia duduk di atas kursi roda, dan berada di depan jendela. Pandangannya mengarah ke atas, fokus ke awan-awan yang bergerak damai di dirgantara. Minji membayangkan bagaimana jika Yi Xing adalah seorang malaikat yang jatuh dari langit?
Tidak.
Itu khayalan seorang laki-laki terhadap perempuan seharusnya.
Namun—bagi Minji—Yi Xing terlalu sempurna untuk disebut sebagai manusia.
Jika benar adanya Yi Xing seorang malaikat, mungkinkah … dia ‘kan kembali ke langit? Lalu meninggalkan Minji seorang diri? Jika hal itu terjadi, Minji tak masalah. Malaikat memang seharusnya berada di langit dan mengawasi manusia seraya duduk manis di atas awan. Tapi selama Yi Xing menetap di Bumi, Minji ingin terus bersamanya. Minji ingin … bukan Joonmyeon yang ditemui Yi Xing pertama kali, melainkan dirinya.
Ketika hal itu terjadi, itu artinya Minji harus sudah bisa berjalan lagi. Dengan begitu, dia sendiri yang akan mengunci Yi Xing untuk tinggal lebih lama lagi di Korea. Jika tidak seperti itu, Minji sendiri yang ikut ke Tiongkok. Minji pikir, dia tidak masalah jika harus belajar bahasa baru dan tinggal di tempat yang baru.
Ah, pikiranku terlalu melantur.

-o-

Dengan secangkir kopi panas di tangannya, pemuda itu berdiri di pinggir jendela. Matanya fokus pada dirgantara yang gelap dengan awan yang sama sekali tak nampak. Dia membayangkan semua lampu di kota mati, begitu pula lampu dari kendaraan dan ponsel. Lalu khayalannya membuatnya dapat melihat Galaksi Bimasakti yang cantik itu.
Lalu di antara ribuan bintang yang berserakan, akan ada satu yang paling terang, yang banyak disebut dengan Bintang Kejora. Katanya itu bukan bintang, melainkan sebuah planet. Venus. Dalam mitologi Romawi Kuno, Venus adalah nama yang diberikan kepada seorang dewi kecantikan, dan sekaligus penggoda. Dalam mitologi Yunani Kuno, nama Venus adalah Aphrodite.
Kalau begitu kau pasti Venus yang tengah menyamar.
“Xiao Yi,” Zhang Yi Xing memanggil seseorang dengan suara yang lembut, “kalau kau keluar dari sini nanti, ayo kita ke Korea dan pergi menemui seseorang. Dia belum bisa berbicara lagi, dan belum berjalan juga. Tapi Joonmyeon mengirimkan video, dia benar-benar berjuang keras untuk itu—“
“Apa hubungannya denganku, Ge?”
Yi Xing menaruh cangkirnya di atas nakas, dan dia berbalik dengan sebuah senyuman. “Kau harus punya semangat seperti Nona Ahn jika ingin sembuh, Zhang Yi Er. Oh iya, jika kau pernah lihat bintang jatuh, itu pasti Nona Ahn.” Yi Xing terkekeh pelan akan khayalannya yang terlalu tinggi.
Zhang Yi Er menautkan alisnya, dia selesai melihat video latihan berjalan itu. Yi Er juga ingin sembuh. “Apa hubungannya dengan bintang jatuh? Selain itu, karena selalu ada lampu yang menyala, tak pernah ada bintang yang terlihat. Jika terlihat pun, hanya satu atau dua. Paling banyak enam!” Yi Er mengomel pada Yi Xing. Yi Er tak merasa ada hubungan antara bintang jatuh dan orang yang dilihatnya di video.
“Nona Ahn itu cantik, dia terlihat seperti bidadari. Mungkin dia tidak bisa berjalan karena dia biasa ter—“
“Ge, demi apapun kau itu bukan anak kecil. Kenapa kau mengkhayal sejauh itu?!”
“Benarkah?” Yi Xing terkekeh pelan. “Aku ini memang banyak berkhayal akhir-akhir ini. Nah, kau lakukan pengobatanmu dengan baik. Ikuti kata doktermu, dan kau beruntung karena doktermu itu adalah temanku. Aku ini dokter spesialis kejiwaan, jadi aku tak banyak membantumu, Xiao Yi.”
Yi Er mencibir pelan, salahnya sendiri berada di sini sekarang. Seharusnya kunjungan ke Korea terakhir itu, Yi Er bisa ikut. Dia sudah membekali dirinya dengan beberapa percakapan dasar. Salahnya menderita ….
“Bukan salahmu menjadi penderita gagal jantung. Tak apa-apa, nanti juga sembuh.”
“Apa …,” Yi Er menuduk ke bawah, dia takut tapi harus mengatakannya, “apa keluarga kita selalu menderita dengan hal-hal yang berkaitan dengan jantung dan darah ya, Ge? Kau punya hemofilia, tipe darahmu adalah tipe darah yang langka, sementara aku gagal jantung.”
Yi Xing menaruh telapak tangannya di atas kepala Yi Er, mengusak pelan rambut adiknya, “Kita hanya perlu bersyukur dengan apa yang telah diberikan-Nya. Tidak boleh mengeluh, jalani dengan senyuman dan kau akan berumur panjang!” Yi Xing tersenyum lagi.
Pemuda itu berjalan dari bangsal Yi Er, dan dia berhenti saat memegang knop pintu. “Xiao Yi, nanti kalau aku dapat berita dari Joonmyeon kalau Nona Ahn bisa berjalan lagi, kita akan ke Korea. Kita. Bukan hanya aku. Jadi, jia you!”
“Jia you!”

-o-

Minji tidak jatuh.
Dia menyelesaikan setengah ….
Kemudian tiga perempat, dan dia menyelesaikan tantangannya.
Tangannya mengusap keringat yang mengalir. Dia berhasil melakukan itu. Berjalan sepanjang trek itu. Dia berhasil, dan tidak gagal. Walau keringat yang dikeluarkannya sangat banyak, bahkan dia bermandikan keringat.
Minji menarik napasnya dalam-dalam, dan mengeluarkannya perlahan. Akhir-akhir ini, dia berlatih tersenyum di depan cermin, dia juga bisa tersenyum sekarang ini. Dia memberikan senyuman lebar pada Joonmyeon. Senyuman itu seolah-olah mengatakan betapa bangganya dia telah menyelesaikan jalur ini.
“Nona Ahn, kau perlu melatih lagi kakimu agar terbiasa.” Joonmyeon tersenyum lebar juga, senang melihat perkembangan pasiennya. “Oh iya, Nona Ahn, kau tahu sesuatu? Depresimu berkurang. Nafsu makanmu meningkat. Kau sudah tersenyum. Tapi kau belum bicara. Setelah kau lancar berjalan, kau akan belajar bagaimana caranya berbicara.”
Minji mengangguk antusias. Sementara jalannya belum lancar, dia harus duduk di kursi roda dulu.
Joonmyeon pergi menghadap resepsionis untuk membuat izin mengeluarkan Minji sementara dari rumah sakit. Dia juga berbincang dengan wali Minji melalui telepon. Sayangnya, ibu Minji harus bekerja di luar negeri untuk biaya rumah sakit, jadi yang menjadi walinya hanyalah pamannya yang tak begitu peduli.
Tak lama untuk mengurus itu semua, Joonmyeon melepas jas dokternya dan merapikan kemejanya. Lalu kembali lagi ke bangsal Minji. Tentu, pasiennya bukan hanya Minji, namun kali ini dia memfokuskan untuk memberi perhatian lebih pada Minji selagi dia akan lebih cepat dalam pemulihan. Untuk hal ini, Joonmyeon sangat berterima kasih pada Yi Xing.
“Nona Ahn,” pintu terbuka dan Minji menautkan alisnya melihat jas dokter Joonmyeon yang tak dikenakan, “apa kau ingin ikut denganku? Kita pergi ke bandara Incheon. Tenang, Perawat Jeon juga akan ikut.”
“Jeon Jiae di sini!” Perawat Jeon Jiae, orang yang menemani Minji selama di rumah sakit dan terus mengajaknya berbicara. Minji menyukai Jiae, sudah seperti temannya sendiri. Bukan hanya dengan Minji—menurut Minji—Jiae sangat baik pada semua pasien.
Minji tersenyum lebar, tapi dia tidak tahu akan menemui siapa di bandara. Apa sebuah keharusan bagi Minji untuk berkontribusi di dalamnya?
“Nona Ahn,” Jiae tersenyum lebar seakan membaca dahi Minji, “kita akan menjemput Zhang Seonsaengnim di bandara. Zhang Seonsaengnim juga membawa adiknya yang bernama—aduh aku lupa namanya—oh iya—Zhang Yi—Qin?”
Tidak, namanya Zhang Yi Er!
“Yi Er! Namanya Zhang Yi Er, Perawat Jeon.”
“Oh iya. Maafkan aku, Kim Seonsaengnim. Aku lupa.”

-o-

Bandara benar-benar ramai.
Zhang Yi Er memegang kuat-kuat lengan kakaknya, Zhang Yi Xing. Untuk pertama kalinya dia pergi ke luar negeri, dan tidak tahu kalau bandara di luar negeri itu akan seramai ini. terlebih, hampir semua orang mengucapkan bahasa yang tidak dia mengerti—Yi Er hanya mengerti kalimat-kalimat yang mudah.
“Gege, aku tidak mengerti mereka bicara apa.” Yi Er berbisik pelan. Sebenarnya, tanpa berbisik pun tak jadi masalah, siapa yang akan mengerti ucapan Yi Er juga?
Yi Xing terkekeh pelan, “Biarlah.” Dia menjawab singkat. Lantas kepalanya sibuk bergerak-gerak mencari sesuatu. Harusnya ada seseorang yang berdiri dengan banner yang tertulis namanya besar-besar.
Di mana tulisan ‘Zhang Yi Xing’ berada?
“Ge, itu namamu ‘kan? Zhang Yi Xing dan ada tulisan—eh?—kenapa ada namaku juga? Siapa yang menulis hanzi serapi itu?”
“Kim Joonmyeon berusaha keras menulisnya. Biasanya, tulisannya sulit dibaca. Bahkan tulisan hangeul-nya.” Yi Xing berbisik, dan mereka berdua terkikik pelan. Setelah itu, Yi Xing menarik Yi Er untuk bertemu temannya yang sudah menunggu—mungkin—cukup lama di sana.
Joonmyeon menyambut Yi Xing dengan tepukan pelan di bahu.
“Whoa,” Yi Xing menyadari ada orang-orang yang ikut dengan Joonmyeon, “aku tak percaya ada Perawat Jeon dan Nona Ahn di sini. Lama tak jumpa dengan kalian. Bagaimana kakimu, Nona Ahn? Sudah bisa digerakkan?”
Ahn Minji mengangguk, kemudian menunjukkan dengan jarinya, ‘sedikit’.
“Perkenalkan, ini adikku.” Yi Xing menepuk punggung Yi Er agak keras. Tidak sampai mengagetkan Yi Er. “Namanya Zhang Yi Er. Kuharap kalian tidak melakukan hal-hal yang membuat dia terlalu bahagia, terlalu sedih, mengejutkannya dengan keras, dan hal-hal semacam itu. Yi Er itu penderita gagal jantung. Arraseo?”
“Arra yo, Seonsaengnim.” Joonmyeon mencibir pelan. Dia sudah tahu, sudah sejak lama Yi Xing menceritakan hal itu padanya. “Nǐ hǎo ma, Zhang Yi Er?” Joonmyeon memulai percakapan singkat dengan bahasa Mandarin. Untungnya, dia bisa.
“Wǒ hěn hǎo, Lǎoshī.” Yi Er menjawab dengan santai.
“Wǒ shì Kim Joonmyeon.”
“Jun … Men?” Yi Er menautkan kedua alisnya. Lalu melihat wajah Yi Xing dengan mimik yang aneh, “Ge, dia punya nama yang aneh.”
“Sudah, sudah.” Yi Xing terkikik kecil. Sementara Joonmyeon kebingungan, bahasa Mandarin-nya sangat minim. Sisanya, Jiae dan Minji hanya dapat menautkan alis dengan bingung. Yi Xing menarik tangan Yi Er, bagaimanapun adiknya itu tidak boleh tersesat.
Minji harap, dia bisa berbicara lebih cepat daripada dia berjalan. Sayangnya, dia belum dapat mengeluarkan kata apapun selain gerungan yang tidak jelas. Apa ini rasanya anak bayi yang belajar bicara? Entahlah. Minji hanya terlalu kaku untuk menggerakkan bibir arena sudah lama tak digunakan. Mungkin—ya, hanya mungkin sih—pita suaranya sudah berdebu.

-o-

Yi Er dibawa berjalan-jalan keliling rumah sakit oleh Jiae. Sementara Joonmyeon membawa Yi Xing untuk melihat Minji berlatih berjalan. Senyuman Yi Xing merekah begitu melihat kaki-kaki putih itu menginjak lantai marmer dan mulai bergerak maju. Jemari Minji yang kurus memegang pengangan baja dingin itu kuat-kuat.
“Kau bekerja dengan sangat keras. Kerja bagus, Nona Ahn.”
Minji tersenyum lebar demi mendengar sebuah pujian yang ke luar dari bibir Yi Xing. Sebuah pujian yang disertai sebuah senyuman manis dengan lesung pipi sebagai pelengkap. Senyuman yang sudah lama Minji rindukan, hari ini kembali.
Yi Xing sendiri yang menuntun Minji kembali duduk di kursi rodanya. “Nona Ahn, kalau aku boleh jujur, kau terlihat cantik saat tersenyum tadi. Sudah berapa lama kau belajar untuk tersenyum?” ucapan itu disertai sebuah kikikan pelan.
Aku tidak cantik.
Gadis itu menapakkan kakinya lagi, berusaha menyeimbangkan tubuhnya tanpa pegangan sama sekali. Tangannya menggapai-gapai untuk mencapai keseimbangan. Wajahnya masam, dan Yi Xing tidak mengerti kenapa.
“Apa kau tidak suka aku menyebutmu can—“
Bugh.
Tangan Minji jatuh di kedua bahu Yi Xing. Minji mencengkramnya kuat-kuat, antara ingin memeluk Yi Xing dan tidak ingin jatuh terduduk ke lantai. “Bbbb ….” Minji berusaha untuk bicara, tapi yang ke luar dari bibirnya hanyalah bentuk-bentuk bunyi yang tidak jelas. “Bbb … oo … go … shshpeo ….”
“Apa barusan itu sebuah kata, Nona Ahn?” Yi Xing menjauhkan tubuhnya dari Minji, dan menatap Minji dengan mata berbinar-binar. Pemuda itu berusaha untuk membuat tubuh Minji tetap berdiri dengan benar. “Bogoshippeo? Itu yang ingin kau katakan?”
Minji mengangguk.
“Kau ingin mengatakan itu padaku?”
Minji mengangguk lagi.
“Nado,” Yi Xing tersenyum lebar dan berusaha keras untuk tak menangis terharu, “bogoshippeo yo.” Pemuda itu kembali membantu Minji untuk duduk di kursi rodanya. Tanpa dilihat Minji, dia dapat menghapus airmatanya dengan tenang. “Kau tak boleh menyangkal kalau kau cantik, Nona Ahn.”
Aku ini tidak cantik. Jadi jangan katakan aku cantik. Sungguh. Tapi aku sangat senang kau kembali ke sini untuk melihatku. Baru kali ini aku bersyukur karena pernah mengalami depresi, dan aku akan di sini sampai aku bisa berbicara.
Zhang Seonsaengnim, aku ingin bersamamu. Bolehkah?
Jika ini mimpi saja, aku harap aku tak terbangun. Selamanya.
“Joonmyeon—Kim Seonsaengnim—belum tahu hal ini. Dia dengan seenaknya sendiri meninggalkan kita berdua. Jadi, ayo kita pergi dan melaporkan ini padamu. Setelah itu, belajar berbicara!”

-o-

Hari berlalu dengan cepat, Yi Xing sampai tidak sadar kalau sekarang Yi Er sering memamerkan kemampuan barunya: berbahasa Korea. Mungkin, Yi Er terlalu lama bermain dengan Jiae, jadi dia belajar banyak dengan waktu yang sangat singkat. Yi Xing merasa senang, setidaknya dia tidak perlu khawatir lagi seandainy Yi Er tersesat dan tak menemukan apartemen minimalis yang sengaja Yi Xing beli untuk menjadi tempat tinggal saat kunjungan ke Korea.
Saking cepatnya juga, Yi Xing sampai tak sadar kalau sekarang Ahn Minji bahkan sudah dapat berlari dan berbicara banyak hal. Tapi, gadis itu terkadang terlalu malu untuk mengungkapkan kata-katanya.
Pemuda asal Chan

gsa itu banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan studi kasus dengan Joonmyeon. Terakhir, tentang skizofrenia. Dia mendapatkan banyak data, di samping itu, Yi Xing menemukan hal lain dalam dirinya.
Untuk ukuran seorang dokter jiwa, dia terlalu payah dalam menganalisa perasaannya.
Minji memintanya datang ke suatu café, ini sudah hari kesekian dia keluar dari rumah sakit. Gadis itu duduk manis menunggu Yi Xing dengan rok pendek berwarna biru dan blus berwarna putih. Rambutnya diikat, dan senyuman tergambar jelas di wajahnya.
Pintu café terbuka, dan lonceng kecil di atasnya berbunyi. Seorang pemuda dengan tampilan yang tak dapat dikatakan ‘wah’ datang dengan sebuah senyuman. Dia hanya mengenakan kemeja putih polos dan celana jeans gelap. Kemejanya dimasukkan ke dalam celana dan rambutnya tidak lagi rapi.
“Maaf, Nona Ahn. Aku habis dari rumah sakit.”
Sebab itu pula tubuhnya tercium seperti rumah sakit. Antiseptik.
“Tidak masalah, Zhang Seonsaengnim.” Minji tersenyum canggung. Belum lama dia bisa mengeluarkan suaranya, mungkin suaranya akan terdengar amat jelek.
Zhang Yi Xing berdehem pelan. Kepalanya menunduk ke bawah, dan wajahnya terasa panas. “Nona Ahn … kau … terlihat sangat cantik.” Malu-malu, Yi Xing mengatakan itu pada Minji.
“Maaf,” sayangnya, selalu ada yang menjadi perusak momen seperti ini, “apa yang akan Anda pesan, Nona, Tuan? Saya menyarankan menu couple kami.” Seorang pelayan yang datang dengan senyuman wajib.
“Ti—tidak perlu couple. Aku hanya ingin teh hijau saja. Selain itu, dia adalah dokterku.”
“Aku … eum … mungkin … ice americano.”
“Baik,” pelayan itu mencatat pesanan mereka, “satu teh hijau untuk nona yang manis, dan satu ice americano untuk dokter tampan.” Pelayan itu mengerling sebelum akhirnya pergi dengan membawa pesanan Minji dan Yi Xing.
“Sebenarnya Nona Ahn, doktermu itu bukan aku. Tapi Kim Joonmyeon.” Yi Xing tersenyum canggung. Dia merasa tak melakukan apapun. Selain itu, dia terlalu banyak pulang-pergi dari Beijing ke Seoul, dan dari Seoul ke Beijing.
Minji menggeleng, “Kau juga dokterku. Selain itu, Seonsaengnim, aku tidak secantik itu. Itu terdengar seperti lelucon.” Dia memikirkan perkataan Yi Xing, dan menyangkal.
Entahlah Yi Xing harus merespon seperti apa.
Mereka melewati waktu di dalam café dengan percakapan ringan. Setelah dari café, mereka pergi ke taman. Yi Xing ingin membiasakan kaki Minji untuk bergerak. Sesekali mereka tertawa bersama, lalu mengobrol hal-hal ringan lainnya.
Wajah Minji sangat cerah. Putih yang ditemani dengan rona merah di pipi. Sementara Yi Xing tersenyum lebar sehingga lesung pipinya terlihat sangat dalam. Apa yang orang-orang pikirkan tentang mereka adalah, pasangan yang serasi. Namun, sangat disayangkan mereka berjalan tanpa bergandengan tangan.

-o-

Jika boleh memilih, Yi Xing ingin menetap lebih lama lagi. Tapi, dia juga tidak bisa memaksa Yi Er untuk lebih lama juga di Korea. Keduanya pulang ke Beijing menggunakan penerbangan malam, dan diantar oleh Joonmyeon, Jiae, dan tentu saja Minji.
“Jeon Jiae-ssi, terima kasih banyak sudah menemaniku di sini, ya!” Yi Er berujar dengan senang. Bahasa Korea-nya jauh lebih baik daripada pertama kali.
Jiae mengangguk, “Sama-sama. Kau hati-hati ya di sana. Jaga jantungmu itu.”
“Pasti!”
“Joonmyeon,” Yi Xing menyikut lengan Joonmyeon, “kapan kau akan terus seperti ini? Sendiri. Kelihatannya Perawat Jeon menyukaimu. Kau juga menyukai Perawat Jeon ‘kan?” Yi Xing tersenyum aneh, dan dia tertawa terbahak setelah itu.
Wajah Joonmyeon merah padam sampai ke telinga. Pemuda itu meninju pelan bahu Yi Xing. “Kau juga … sampai kapan menahan perasaan itu pada Nona Ahn? Kau bahkan masih memanggilnya ‘Nona Ahn’ seperti kali pertama bertemu.”
“Aku akan melakukannya kok.” Yi Xing tersenyum simpul dan pergi dari sisi Joonmyeon. Pemuda itu berjalan menuju Minji dan berdiri di depan gadis itu. Minji sudah banyak berubah sejak mereka pertama bertemu.
“Seonsaengnim ….” Minji menunduk dalam, perkataannya digantungnya begitu saja. Dia gugup dan wajahnya terasa panas.
Seandainya aku bisa menahanmu, aku ingin kau tetap di sini bersamaku.
Yi Xing melakukan hal yang tak diduga oleh Minji. Pemuda itu membuat tubuh mereka melekat satu sama lain. Yi Xing memeluk Minji dengan sangat erat, hingga membuat pemuda itu tahu parfum dengan wangi seperti apa yang digunakan Minji, dan shampoo seperti apa yang membuat rambut itu terasa lembut. Sangat dekat, sehingga Minji baru sadar kalau Yi Xing sekurus itu.
“Kurasa aku tak ingin pergi jauh darimu,” Yi Xing berbisik pelan, “tapi pada akhirnya aku tetap harus pergi jauh darimu. Kau tahu? Aku sedang menyatakan perasaanku.”
Minji membalas pelukan itu, tapi dia tidak membalas perkataan Yi Xing. Hingga akhirnya Yi Xing menarik diri dan menjauh dari Minji, dan membawa Yi Er bersamanya. Dua kakak beradik itu kembali ke Beijing, dan Minji dapat melihat pesawatnya lepas landas.
“Ge,” Yi Er memulai percakapan dengan bahasa Mandarin, “apa kau sudah mengatakan ‘aku mencintaimu’ pada Nona Ahn? Kau menyu—tidak—mencintainya ‘kan? Aku bisa melihat itu semua, Ge.” Yi Er mencoba membuat kakaknya menjawab, tapi Yi Xing hanya menjawab dengan sebuah senyum simpul.
“Entahlah. Dia mengerti tidak ya?”
Yi Er tahu kakaknya dokter spesialis kejiwaan, tapi kakaknya itu gagal dalam menganalisa dirinya sendiri. “Apa Nona Ahn sudah menjawab? Apa kalian sekarang sepasang kekasih? Beri tahu aku. Aku … kalau Gege memang ingin bersama Nona Ahn, dengan senang hati aku memanggilnya dengan jiejie.”
“Entahlah. Mungkin, sudah dia jawab.”
Yi Xing tidak salah sama sekali. Tepat saat dia menarik tangan Yi Er, dan punggungnya menjauh dari tiga manusia yang mengantarnya ke Bandara Incheon, Minji memang sudah menjawabnya dengan suara yang amat pelan.
“Aku ingin berada terus di sisimu, Seonsaengnim. Aku mengerti, aku juga memiliki perasaan yang sama. Sejak awal, kau memang satu-satunya orang yang dapat menggerakkanku sampai sejauh ini.”

-o-

Lampu jalanan dekat apartemen Minji semuanya padam. Entah kenapa. Tidak ada juga bulan yang biasanya bersinar terang di malam hari. Awan mendung menutupi bulan; begitu pula dengan bintang yang hilang timbul di balik awan mendung yang bergulung-gulung.
“Jika aku melihat sebuah bintang jatuh, aku ingin membuat sebuah permintaan.”
Seperti sebuah drama roman pada umumnya, bintang jatuh dengan anggun. Meskipun itu sebenarnya bukan bintang, tapi tetap saja benda langit. Ahn Minji langsung mensedekapkan tangannya di depan dada. Dia membuat sebuah permintaan, “Aku ingin bertemu dengan Zhang Seonsaengnim. Semudah itu saja.”

.
.
.
.
.
Fin.

 

Like Page EXO FanFiction Facebook

3 thoughts on “[EXAC’T SERIES] Heaven

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s