GIDARYEO – 2nd Page — IRISH’s Story

irish-gidaryeo-2

|  GIDARYEO  |

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Yoo Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  AU — Crime — Dark — Family — Fantasy — Hurt-Comfort — Melodrama — Romance — Supranatural — Thriller  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 2Teaser Pt. 3Teaser Pt. 4

Page 1

♫ ♪ ♫ ♪

In Anna’s Eyes…

Aku melangkah pelan di jalanan gelap beberapa blok dari rumahku. Ya. Tempat pertama kali aku bertemu dengan Shadow of The Dark. Sosok misterius itu.

Entah kenapa rasanya setiap mengingat kejadian itu aku semakin bersemangat untuk mengungkap keberadaannya. Terlalu bersemangat lebih tepatnya.

Dan sekarang aku terhenti di depan sebuah pintu tua. Beberapa hari yang lalu terjadi pembunuhan di tempat ini. Terbukti dengan bagaimana police line masih ada disana. Tentu saja, Shadow of The Dark adalah dalang pembunuhannya.

Aku di sini hanya untuk memastikan jika ada beberapa hal yang ia tinggalkan—walaupun besar kemungkinannya semua benda itu sudah di bawa pergi oleh polisi.

Ragu-ragu, aku melangkah masuk ke dalam gudang tua itu, pintunya tidak tertutup dengan baik, dan aku yakin polisi sudah tidak begitu tertarik melanjutkan kasus ini.

Langkahku terhenti saat mendengar suara berisik di dekatku. Aku memandang sekitarku, memastikan apa ada bayangan-bayangan mencurigakan di dekatku. Tapi keadaan kembali sunyi. Kembali, aku melanjutkan langkahku menuju—

PIP. PIP. PIP.

Aku tersentak kaget saat mendengar ponselku berbunyi. Ada saja hal mengagetkan di saat seperti ini.

Aku melangkah keluar dari gudang untuk—

TRING!

“Ish…”

Aku mendesah pelan saat ponselku justru tersangkut di salah satu patahan kayu yang mencuat di dekatku. Melihat keadaan ponselku sekarang, sudah jelas, gantungan kecil keberuntunganku terjatuh. Lekas, aku memandang ke lantai, tapi tidak menemukan apapun. Tsk, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mencari-cari benda kecil seperti itu. Segera, aku melangkah keluar, dan mengangkat telepon.

“Ya?”

“Dimana kau?”

“Aku—” aku memandang sekitarku sebentar. “—di ruang kerjaku di apertemen. Ada apa?”

“Bisa kita bertemu?”

“Oh, tentu… Dimana?” aku mulai melangkah menyusuri jalanan sepi itu, menuju ke jalan raya.

“Hotel Primroze. Malam ini. Akan ada acara lelang di sana.”

“Oh, lelang busana desain dari Evelin yang berasal dari Paris?” ucapku.

“Ya. Kutunggu kau di sana jam 7 tepat. Oke?”

“Okay.”

Aku menghentikan langkahku. Memandang ke belakang. Rasanya ada yang mengikutiku, tapi aku tidak menemukan siapapun di belakang. Kurasa hanya firasat saja… Ah, sudahlah.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tepat jam setengah 7 malam aku sudah bersiap di depan apertemenku. Menunggu taxi lewat. Dan menikmati perjalananku menuju Hotel Primroze. Salah satu hotel mewah di kota ini.

Dan aku ingat jika seorang desainer asal Paris, Evelin, mengadakan lelang busana di kota ini. Tepatnya di hotel itu. Aku turun dari taxi, memandang lelaki yang sudah menyambutku disana. Mark. Rekan kerjaku. Dia lah yang mengajakku bertemu di tempat ini.

“Kau tampak cantik…” ucap Alex padaku.

“Jangan bicara aneh-aneh.” sahutku sambil mencubit lengannya.

Kami berdua berjalan beriringan ke ballroom hotel. Dan disana dia, Evelin, dengan dua orang asisten pribadinya.

“Selamat malam…” sapa Alex dengan sopan padanya.

Tatapanku terhenti pada dua orang asistennya. Entah keyakinan apa yang membuatku tahu bahwa salah satu asistennya berasal dari negara yang sama denganku, Korea.

“—dan ini Anna. Umm, mereka—” aku tersadar, dan tersenyum sopan pada Evelin. “—asistenku… Lucinda dan Julie.” Julie? Nama yang sangat asing. Kurasa aku harus mengurangi keyakinanku untuk menuduhkan pendapat pada asisten Evelin.

BRUGK!

Ah, maaf…” tanpa sengaja seseorang menabrakku dari belakang. Refleks aku berbalik. Seorang pria. Dan ia sedikit lebih pendek daripada Alex. Tapi rasanya… ada yang aneh. Kenapa aku yang harus meminta maaf padahal dia yang menabrakku?

Aku memandang pria itu. Ia sudah melangkah menjauh, dan tampak tergesa-gesa. Kucoba untuk menyingkirkan rasa penasaran. Tidak ingin jiwa journalistku keluar di saat seperti ini. Setidaknya di saat penting seperti ini, saat aku bisa—

“Kyaaaaa!”

Aku terperanjat saat mendengar jeritan dari satu sudut.

“Shadow of The Dark! Dia disini!”

Tatapanku langsung tertuju ke arah perginya pria tadi. Tanpa sadar kakiku berlari ke arah itu. Tidak mempedulikan teriakan Alex ataupun teriakan-teriakan lain di sekitarku. Pria itu… ada yang salah dengannya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Langkahku terhenti di depan sebuah ruangan. Tampaknya ruangan ini ruangan pribadi yang di siapkan untuk Evelin. Tapi aku yakin pria itu tadi berlari ke arah ini.

Aku berjalan menyusuri lorong terang sepanjang ruangan ini, berusaha menemukan kemana perginya pria tadi. Tapi kemudian aku terhenti di depan sebuah pintu.

“—aku sudah tahu ini kau.”

“Kau siapa? Aku tidak mengenalmu.”

Dua orang di dalam ruangan ini berbicara dengan bahasa yang berbeda. Dari suara pertama yang kudengar, suara lelaki. Dan suara kedua, lebih ringan, suara perempuan.

“Berpura-pura menjadi Julie dan kau pikir kau bisa menghilang, Lee Injung?”

Julie? Asisten Evelin?

“Kau siapa? Apa maumu?”

Aku bisa mengerti apa yang Julie katakan. Aku menguasai bahasa Perancis. Setidaknya lumayan. Dan aku bisa mengerti apa yang mereka bicarakan.

“Kau harus ikut kembali bersama kami… Kau tidak bisa melupakan masa—”

TRING!

Sial! Bodoh! Bisa-bisanya aku menyenggol guci besar di dekat pintu dengan gelangku. Bodoh. Sangat bodoh, Anna.

“Aku akan datang dan menjemputmu.”

Aku terkesiap saat pintu di depanku terbuka. Menampakkan sosok pria yang jauh lebih tinggi daripada aku.

Tidak. Bukan hal itu yang sekarang mengusikku. Tapi karena sosok yang sekarang ada di hadapanku adalah sosok  yang telah membangkitkan rasa penasraanku. Kini, aku terpaku. Bagaimana bisa polisi tahu tentangnya, saat ia bahkan mengenakan topeng untuk menutupi wajahnya?

Sosok itu menarik lenganku—begitu cepat—sementara tangannya membekapku. Membuatku bahkan tidak sempat berteriak minta pertolongan. Ia menarikku ke arah ballroom, dan aku merasakan sesuatu yang dingin menempel di leherku.

“Bergerak sedikit… kau akan mati.”

Apa ia sungguh-sungguh soal ancamannya?

Beberapa orang yang kami lewati berteriak. Menjerit ketakutan. Tentu saja. Sekarang mereka bisa melihat jelas sosok Shadow of The Dark. Dan sekarang nyawaku lah yang jadi ancaman.

Ia menarikku sampai ke ujung gedung. Entah apa yang ia sedang pikirkan, tapi untuk pertama kalinya aku merasa nyawaku benar-benar terancam olehnya. Setelah surat yang ia kirimkan padaku, apa ia akhirnya memutuskan untuk membunuhku? Mengapa ia bersikap seolah tidak mengenalku sama sekali?

“Lepaskan dia! Pembunuh!” benda dingin di leherku semakin terasa menekan saluran pernafasanku.

“Apa kau juga berpikir bahwa aku pembunuh?” apa ia bicara padaku? Jawaban apa yang ia inginkan? “Aku tidak bisa menjawabnya jika kau membunuhku…”

Sosok itu kembali diam, sementara ia semakin menarikku mundur ke ujung ruang luas di ballroom. Aku bisa merasakan angin malam menerpa kulitku, sangat dingin. Dan menakutkan.

“Aku akan menemuimu di apertemen, Anna.”

SRAT!

Hening.

Aku tidak merasakan benda dingin itu di leherku. Aku berbalik, dan sadar bahwa sejak tadi kami berdiri di ujung gedung. Dan… apa yang tadi ia lakukan? Ia… melompat?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Aku akan baik-baik saja Alex…” ucapku pada Alex saat ia tidak yakin untuk meninggalkanku sendirian di apertemen. “Jaga dirimu…” ucap Alex berpesan.

Aku mengangguk pelan seraya melepaskan seatbelt dan segera turun dari mobil milik Alex—sengaja berdiri di sebelah mobilnya dan menunggu sampai Alex benar-benar pergi. Setelah itu aku melangkah masuk ke dalam apertemen, menaiki tiap anak tangga dengan jantung berdebar kencang seolah aku akan menghadapi sebuah wawancara kerja.

Sesampainya aku di apertemen, perlahan aku berusaha menenangkan diri. Sebelum akhirnya kuberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam apertemen, mendengarkan suara-suara janggal sekecil apapun yang mungkin terdengar.

Nihil.

Aku bisa bernafas lega karena setidaknya aku sendirian.

Lekas, aku melangkah ke arah ruang tengah, meraih gelas dan menuangkan segelas air ke dalamnya, meneguk air tersebut dalam satu tegukan cepat dan meletakkan gelasnya kembali ke meja.

Perlahan, jemariku bergerak menyentuh bagian leher yang sedikit terasa nyeri. Ada goresan yang bisa kuraba, kurasa bekas pisau Shadow tadi. Kenapa aku? Kenapa harus aku yang—

 “Jadi kau berasal dari Korea? Dan seorang perantahu ke Venezuela? Menarik sekali…” aku terkesiap. Sontak aku berbalik, menatap ke arah ruang kerjaku dan hampir saja memekik saat melihat sosok itu ada di sana!

“A-Apa yang kau lakukan?”

Sosok itu masih memakai topengnya. Tidak menjawab pertanyaanku, ia justru berjalan mengitari ruang kerjaku seolah ia tidak tahu bahwa aku sekarang tengah gemetar ketakutan.

Pembunuh itu ada di tempatku!

“Jangan berpikir untuk memanggil polisi, Anna. Polisi tidak akan menemukan apapun jika sesuatu terjadi padamu.” ia bahkan tahu saat tanganku bergerak ke arah saku—tadinya aku berencana untuk meraih ponselku.

“Apa yang kau mau?” tanyaku.

“Apa yang aku mau? Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu? Apa yang kau mau? Kenapa kau terus berusaha menemukanku? Apa yang membuatmu begitu tertarik?”

Terlalu banyak pertanyaan. Apa ia terbiasa bicara sebanyak ini pada calon korbannya? Tidak. Aku tidak mau menjadi korbannya.

“Karena kau harus di tangkap…” ucapanku kini berhasil membuatnya melemparkan pandangan ke arahku. Membuatku terkesiap. Alasan yang bagus… Sayang sekali kau tidak akan bisa menangkapku, Anna. Ah, ngomong-ngomong, mampirlah ke persinggahanku jika kau ada waktu.”

“Tempatmu? Kau bercanda? Sama saja dengan aku berusaha membunuh diriku sendiri.” tandasku. “Membunuh? Aku bisa membunuhmu sejak malam itu, Anna. Kau masih belum mendapat jawabanku bukan? Kenapa aku tidak membunuhmu? Kau tidak ingin tahu apa jawabanku?”

Aku menyernyit. Permainan apa yang sedang ia lakukan?

“Apa? Apa jawabannya?”

Lagi-lagi, ia mengabaikan pertanyaanku. Malah, ia melangkah ke arah jendela apertemenku, membukanya—membiarkan angin masuk ke dalam ruangan pengap ini dan mengirimkan sensasi dingin yang membuatku bergidik tanpa sadar.

“Kau akan dapat jawabannya jika kau tidak keberatan untuk datang ke persinggahanku.”

“Di-Dimana?” ucapku menyerah.

Mendengar kekalahanku, akhirnya kudengar ia tertawa pelan—butuh sepersekian sekon bagiku untuk percaya jika ia baru saja tertawa.

Finally… Dari persinggahanku… Aku bisa melihat banyak hal di seluruh kota. Dan juga… aku bisa melihatmu saat mencari segala sesuatu tentangku dengan jelas. Sampai bertemu, Anna. Aku akan ada di persinggahanku saat siang hari.”

Aku bahkan belum menyerap keseluruhan maksud ucapannya saat ia menjatuhkan diri dari jendela apertemenku. Begitu cepat. Segera, aku berlari ke jendelaku, tidak melihat apapun di luar jendela.

Bagaimana ia bisa melakukan hal seperti itu? Siapa dia sebenarnya?

Sosok itu… benar-benar bayangan.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku berdiri di depan jendela apertemenku. Masih mempertanyakan maksud ucapan sosok itu. Apa maksudnya? Bisa melihatku saat mencari segala sesuatu tentangnya? Bisa melihat banyak hal di seluruh kota? Tempat macam apa itu?

Saat bisa melihat banyak hal di seluruh kota, sebuah tempat harus cukup—

Benar. Tinggi. Dia pasti tinggal di tempat yang tinggi. Lekas aku mengetik di mesin pencari komputerku, berharap menemukan beberapa tempat dengan ketinggian cukup masuk akal yang ada di Venezuela.

Banyak. Terlalu banyak gedung. Bahkan kantor Venezuela News juga sangat tinggi. Tunggu… Dia bilang dia bisa melihatku saat mencari segala sesuatu tentangnya.

Apa itu artinya saat aku sedang bekerja? Di ruanganku?

Benar. Ruanganku di Venezuela News ada di lantai 31. Dan harus ada gedung lain yang cukup tinggi untuk bisa mencapai ruanganku. Itu artinya aku harus mencarinya dari ruanganku.

Aku bergegas melangkah keluar dari apertemen, menuruni tangga dengan berlari kecil dan menaiki bus yang berhenti di halte yang ada di depan apertemen menuju ke kantor. Hari ini seharusnya aku bisa mengambil liburan, karena boss berpikir kejadian semalam pasti membuatku shock. Ia tidak tahu jika shock yang menyerangku sudah hilang sejak semalam.

Segalanya tentang Shadow of The Dark terlalu membuatku terobsesi.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Anna? Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku mencari file ku yang tertinggal.” Aku menyahut pada seorang rekan yang bekerja di meja resepsionist sementara tungkaiku masih kubawa berlari masuk ke dalam ruangan kerjaku.

Baiklah. Ini dia. Ruanganku.

Ah! Hanya ada beberapa gedung tinggi yang terlihat sejajar. Tunggu… Saat aku bekerja… artinya aku sedang duduk di depan komputerku. Segera, aku duduk di depan komputer, memandang ke depan, ada dua gedung yang terlihat jelas, sebuah hotel, dan… perpustakaan kota.

Lalu… dari belakangku… tidak ada. Tidak ada gedung yang mencapai tinggi gedung ini. Berarti ada dua pilihan… Hotel itu, dan perpustakaan kota.

Kalau di hotel, rasanya tidak mungkin seorang pembunuh akan tinggal di hotel terus menerus. Perpustakaan kota jadi pilihan terakhir. Tapi… Memangnya ruangan apa yang ada di perpustakaan kota dan bisa ditinggali olehnya?

“Anna, apa benda ini yang kau cari?”

Aku mendongak, menyernyit saat melihat sebuah kotak kecil di tangan rekan kerjaku. “Apa itu?” tanyaku. Aku menemukan nya di atas lokermu, kurasa kau lupa membawanya, ini! rekan kerjaku melemparkan kotak kecil berwarna hitam itu

“Thanks.” ucapku.

Aku membuka kotak itu, dan terkesiap saat ada kertas di dalamnya. Dengan sederet kalimat tertulis di atas kertas tersebut. Kalimat yang… kembali membuat kinerja jantungku tidak karuan.

Jika kau menemukan kertas ini, artinya kau sudah salah menebak keberadaanku, Anna. Asal tahu saja, aku selalu mengawasi dari sisimu, dan juga… aku mengawasinya sepanjang hari. Oh. Apa kau ada waktu untuk minum teh bersama hari ini? Aku akan ada di café Romee sore ini jam 4. Sampai bertemu, Anna.

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

IRISH’s Fingernotes:

CIEH. SUDAH ADA INJUNG CIEH. KODE ANE CUKUP KERAS CIEH. Shadow kenal sama Injung CIEH. WKWKWKWKWK.

Ane enggak bisa banyak berkata-kata, berhubung ini chapter terjadwal, LOLOL.

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

30 thoughts on “GIDARYEO – 2nd Page — IRISH’s Story

  1. SIAPA SHADOW IRISH???? WAKTU ITU IRISH PERNAH BILANG SHADOW ITU MEMBER EXO KAN? TRUSSS SIAPAAAA? KENAL PULA SAMA INJUNGG
    GA ADA SPOILER DIKIT GITUU???? CIRI CIRINYA DEH SELAIN CUMA SEBUAH BAYANGAN (?)
    WKWKWK POKONYA AKU TUNGGU TERUS.

  2. Rish itu wkt di hotel ada typo gk? Rasanya pertama namanya Mark abis tu ganti Ama Alex? Great…let’s see next time…apakah Luhan dan Sehun akan muncul kembali? Luhan gk usah Dee dia udh solo wkwkkwkw (becanda)

  3. injung akhirnya keluar jugah, dan shadow kenal injung, apa shadow itu bagian dari masa lalu injung, sehunkah? luhankah? atau kai? soalnya dia bisa ngilang gitu aja,
    selalu saja tbc saat penasaran sudah di ujung jidat,

  4. injung? shadow of the dark? mungkinkah sehun? mungkinkah luhan? aku kudu ottokeh kak rish? teka-tekimu sungguh membuat kinerja jantungku tidak karuan/kalimat nyontek/😀 duh duh, anna kok ya suka penasaran banget toh sama shadow itu,kepo aja deh.😀😀 ditunggu chapter selanjutnya kak rishh^^

  5. Wahahahaha boleh nebak sekarang gak ??

    Kenapa aq kepikiran shadow of the dark kai ya karna dia teleportasi pakenya hahaa

    Ditunggu aja deh lanjutanya injung injung injung

  6. MASIH AMBIGU, ABU-ABU DAN TBC SELALU MENGGANGGU KAK..😂
    OVERALL, KITA BISA TAU KALI SI BABANG BAYANGAN INI ADA DI SEKITAR ANNA, HMMM..TEMEN KANTOR? KALO SELALU ADA DISISI ITU BERARTI ALEX PAN YG SELALU SAMA ANNA? /PLAKK/😂
    UDAHLAH KAK RIAH CAEM, EKI GAK MAU MENETKA LEBIH LANJUT. MENDING NUNGGU KELANJUTANNYA DARI KAK IRISH LANGSUNG,WKWK WK…😆😆😂😂
    HWAITING KAK RISH!!!😁

  7. baru ingin bertanya injung sama ahri kok nggak ada ada
    ehh ternyata injung udah keluar
    hmm thor maya sama anna keluarin dong juga
    duh nggak sabar
    nih cowok cowok exo pada belum muncul dengan jelas

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s