[EXOFFI LINE@] My Last Four Words For You (Chapter 1)

myhome_4

[FF from adders] My Last Four Words For You [Chapter 1]

Title:My Last Four Words For You
Author:dkdina
Main Cast:Kyungsoo,Kim Joon Myun,Han Yoo Ra(OC)
Length:Chaptered
Genre:Romance
Rating:PG-15
Disclaimer:Fanfiction ini asli buatan saya sendiri. Ide dan alur berasal dari pikiran saya sendiri. Jika ada kesamaan, itu merupakan sebuah ketidaksengajaan.
Author’s Note:FF ini pernah dipublish di facebook dan blog pribadi

~Happy Reading~

Tes tes tes…
Suara air hujan yang memasuki rumah kecil di pojok gang melalui atap rumah dapat didengar oleh seorang pria berusia 17 tahun dengan jelas, Kyungsoo namanya. Ia memandangi air hujan yang mulai membasahi bukunya dengan polos.
“Kyungsoo-ya!”
Dari luar kamar, terdengar samar-samar suara seorang wanita berusia setengah abad memanggil Kyungsoo.
“Kyungsoo-ya! Ibu sudah sele,” wanita itu tidak melanjutkan ucapannya, ia memandangi putranya dengan wajah merasa bersalah.
“Kenapa kau tidak memindahkan bukumu ke tempat yang tidak bocor dan justru memandanginya? Air itu tidak akan berhenti mengalir hanya karena kau pandangi, Kyungsoo.”
Kyungsoo yang mendengar ucapan ibunya segera membereskan bukunya dan berdiri dari tempat duduknya.
“Ada apa, Bu?”
“Ini, ibu sudah selesai menjahit seragammu,” ibu Kyungsoo menyodorkan seragam SMA di genggamannya kepada Kyungsoo. Kyungsoo menerima seragamnya.
“Ibu akan keluar sebentar. kakakmu pasti sebentar lagi pulang.”
Kyungsoo hanya menanggapi ucapan ibunya dengan anggukan pelan. Setelah ibunya meninggalkan ruangan itu yang sebenarnya tidak layak disebut kamar, ia kembali duduk di kursi. Kyungsoo memandangi jahitan ibunya dengan bangga. Entah sudah berapa kali seragam itu dijahit karena sobek. Ya, Kyungsoo lebih memilih menjahitkan seragamnya itu pada ibunya daripada membeli seragam baru. Ia memang tidak akan mampu untuk membeli seragam baru. Untuk makan sehari-hari saja, ia hanya mengandalkan penghasilan ibunya yang bekerja sebagai penjahit rumahan setelah dipecat perusahaannya dulu karena bangkrut dan upah kerja paruh waktu kakaknya.
“Kyung… hyung pulang,” teriak seorang pria dari luar kamar Kyungsoo. Langkah kakinya semakin mendekati kamar Kyungsoo.
“Kyung, hyung membawa makanan untukmu.”
Kyungsoo menolehkan wajahnya ke arah hyung-nya.
“Hyung saja yang memakannya, aku masih kenyang,” ucap Kyungsoo lirih.
“Kau sudah makan?”
Kyungsoo hanya mengangguk pelan.
“Keurae, gomawo,” kakak Kyungsoo yang bernama Joon Myun merekahkan senyum manisnya kemudian meninggalkan adiknya.
Tiba-tiba, terdengar kembali langkah seseorang menuju kamar Kyungsoo.
“Kyung, aku mau bertanya sesuatu padamu. Tadi, saat aku mencuci bajumu, kenapa aku melihat ada bercak darah di kerah bajumu?”
“Ah, aku hanya terluka sedikit, Hyung. Kau tidak usah khawatir. Hanya luka ringan,” Kyungsoo berusaha membuat kakaknya tidak khawatir.
“Ah, begitu. Tapi, kenapa darahnya di kerah baju? Kau terluka di lehermu? Kau melakukan apa Kyungsoo, hingga lehermu terluka?” Joon Myun memandang adiknya dengan tatapan menyelidik.
“Aku tidak melakukan apa-apa, Hyung. Aku sudah bilang jangan khawatir. Apa kau tidak percaya padaku? Aku tidak mungkin melakukan hal-hal yang membuat Hyung dan ibu cemas,” Kyungsoo kembali meyakinkan hyung-nya.
“Aniyo, bukannya aku tidak percaya. Tapi, terkadang aku tidak bisa menebak jalan pikiranmu, Kyung. Sudahlah, aku keluar dulu. Kau belajar yang rajin, eoh?”
Kyungsoo lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah hyung-nya keluar dari kamarnya, tatapan Kyungsoo berubah menjadi tatapan kosong.
***
“Kyungsoo, apa yang kau lakukan di sini?”
Lamunan Kyungsoo terpecahkan oleh suara seorang wanita yang kini tengah berdiri di depannya.
“Aku… hanya… menunggu hujan reda.”
Di luar gedung sekolah itu, hujan memang turun sangat deras. Petir di langit sesekali menggelegar membuat orang yang mendengarnya enggan untuk keluar rumah.
“Kurasa hujan ini akan reda dalam waktu yang lama. Hujan kali ini sangat deras, tidak seperti biasanya. Apa kau akan menunggunya hingga benar-benar reda? Kau mungkin akan di sini selama lima jam,” wanita itu menatap Kyungsoo khawatir.
“Kwaencanha. Aku tidak mungkin pulang menggunakan sepedaku di tengah hujan sederas ini.”
“Bagaimana kalau kau aku antar pulang? Kau bisa naik mobilku. Ayahku pasti tidak akan keberatan mengantarmu pulang dulu,” wanita itu menawari Kyungsoo untuk masuk ke mobilnya dengan sepenuh hati.
“Eoh? Aniyo, gomawo, tapi tidak perlu. Aku sungguh tidak apa-apa menunggu hujannya reda. Lagipula bagaimana dengan sepedaku jika aku naik mobilmu?” Kyungsoo berusaha menolak tawaran wanita itu.
“Kau kan bisa meninggalnya di sekolah dan besok kau gunakan untuk pulang.”
“Kalau begitu aku tidak bisa berangkat sekolah.”
“Aku bisa menjemputmu kalau kau mau,” wanita itu mencoba segala cara untuk mengajak Kyungsoo pulang dengannya.
“Maafkan aku, aku tahu aku miskin dan tidak punya apa-apa selain sepeda itu. Aku bukan orang kaya sepertimu. Tapi, aku masih bisa hidup tanpa bantuan orang kaya sepertimu. Hujannya sudah agak reda, aku pulang dulu. Aku baru ingat kalau aku membawa payung,” Kyungsoo bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas menuju tempat parkir sepeda. Sebenarnya dia berbohong jika mengatakan dia membawa payung, tapi dia tidak mau terlihat menyedihkan di depan orang lain.
“K… Kyungsoo-ya!”
***
Keesokan harinya, Kyungsoo berjalan dengan lesu menuju kelasnya. Badannya terasa sangat lemas. Wajahnya juga terlihat agak pucat. Tiba-tiba, langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita berjalan dari arah berlawanan. Kyungsoo menatapnya sebentar kemudian melanjutkan langkahnya.
Kyungsoo melalui pelajaran hari itu dengan lancar walau dengan kondisi badan yang tidak enak. Ketika bel tanda pulang berbunyi, seorang wanita tiba-tiba menarik tangan Kyungsoo menuju suatu tempat. Kyungsoo begitu terkejut, namun ia memilih untuk diam karena dia memang bukan orang yang senang berbicara.
Tibalah dua orang itu di taman sekolah.
“Kyungsoo-ya, mianhae,” ucap wanita tadi, Han Yoo Ra.
“Untuk apa?” tanya Kyungsoo singkat.
“Kemarin aku pasti sudah sangat melukaimu. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku bermaksud baik, tapi sepertinya terjadi kesalahpahaman di antara kita,” Yoo Ra menundukkan kepalanya.
“Aku tidak sakit hati. Jadi, kau tidak perlu minta maaf,” Kyungsoo membalikkan badannya hendak meninggalkan tempat itu.
“Tidak sakit hati katamu?”
Langkah Kyungsoo seketika terhenti begitu mendengar teriakan wanita itu. Teriakan yang pelan, namun penuh penekanan.
“Kau bahkan tadi pagi tidak menyapaku ketika bertemu. Tatapanmu begitu tajam dan dingin.”
Kyungsoo membalikkan badannya.
“Aku tahu kau marah padaku. Dari nada bicaramu saja terlihat jelas kau marah padaku. Bahkan kali ini kau tidak mau menerima permintaan maafku dan meninggalkanku begitu saja,” kristal bening mulai terjun dari kelopak mata Yoo Ra, “tidak tahukah kau betapa sakitnya hatiku ketika kau memperlakukanku seperti itu?”
“Yoo Ra-ya,” Kyungsoo mencoba menenangkan Yoo Ra, ia tidak menyangka kalau Yoo Ra akan menangis seperti itu. Ia mengangkat tangannya hendak menepuk bahu Yoo Ra pelan, namun niatnya itu terhenti oleh ucapan wanita di hadapannya.
“Kau pasti merasa sakit ketika kau diperlakukan dengan menyedihkan oleh orang yang kau sukai, kan?”
Tangan Kyungsoo terhenti di udara. Ucapan wanita itu berhasil membekukan badan Kyungsoo. Perlahan, tangan Kyungsoo kembali ke posisi semula.
“Bahkan sekarang aku harus menangis di depan orang yang aku sukai. Bukankah ini sangat menyedihkan?” Yoo Ra mengusap air matanya perlahan kemudian meninggalkan tempat itu. Namun, langkahnya terpaksa terhenti ketika Kyungsoo menahan tangan Yoo Ra.
“Aku juga tidak bisa membiarkan orang yang aku sukai menangis dan terluka karena diriku,” Kyungsoo menarik tangan Yoo Ra hingga mereka berhadapan kembali. Kyungsoo membersihkan sisa-sisa air mata dari pipi putih Yoo Ra.
“Jadi, jangan menangis lagi karena aku, eoh?” Kyungsoo menunjukkan senyuman manisnya. Yoo Ra tidak menyangka Kyungsoo ternyata juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia terpaku melihat Kyungsoo.
Mungkin tidak ada yang menyangka Yoo Ra menyukai Kyungsoo dan Kyungsoo menyukai Yoo Ra. Namun, setidaknya masih ada pepohonan dan burung-burung yang berkicau ria di taman itu yang menjadi saksi bisu perasaan dua insan itu.

~TBC~

2 thoughts on “[EXOFFI LINE@] My Last Four Words For You (Chapter 1)

  1. WOW!!! Daebakk thorr ini pasti seru banget chapter awal aja begini. Dyoo kuu sayang kasian banget idupnya. itu dia sakit yaaa ckckckckk kasian sekalihh. oke thorr keep writing yaaa semangat mengetik dan berpikirnyaaa thorrrrr

  2. so sweet banget si,tpi kasian sm dyo oppa,segitux amet hidupx,hah,tpi aku seneng dia punya org y mmbiatx bersemangat

    keep writing author

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s