[EXOFFI FREELANCE] Black and White (Chapter 2)

black-and-white-duet-project

Black and White

PG-17

Short-stories

DO Kyung Soo, Lee Yorin (OC), Jung Yunho

khaqqiadrei w/ aininugu

poster by namminra

Cerita hanya fiktif dan tidak diizinkan memposting ulang atau meng-copy tulisan berikut. Cast milik diri mereka sendiri dan agensi.

[]

 “Semestinya tidak sulit mengatakan ‘aku menyukaimu’. Hanya saja, banyak kekeliruan yang membuatku khawatir.

“Hanya karena kau adalah gadis yang ‘tidak semestinya’, bukan berarti kau ‘tidak layak’ menjadi milikku.

“Ayo kita berjuang.

 

BLACK AND WHITE [2/8]

 Malam ini bulan bersinar penuh. Langit malam yang terhampar melampaui jangkauan mata, tampak bersih tanpa awan yang berarak menghalangi. Tidak seperti biasa. Para bintang bersinar lebih cemerlang malam ini.

Ruangan persegi itu awalnya suram, gelap tanpa cahaya. Sampai ketika seorang gadis membuka satu-dua jendela di sisi ruangan. Memaksa tampias sinar keemasan sang bulan untuk berkunjung sekadar menerangi ruangan tersebut.

“Cahaya bulan akan membuatmu membaik, Kyungsoo-ssi, semoga,” bisik gadis itu pelan teredam angin. Manik matanya memaku tatap kepada sesosok pria yang terbaring lemah di lain sisi ruangan itu.

Pria itu belum terbangun. Sejak Yorin memapahnya saat ia tiba-tiba saja tumbang di depan matanya sore tadi. Nyatanya sampai saat ini ia belum tersadar juga. Ia tak sadarkan diri dengan kening berkerut seperti menahan sakit, bibir kebiruan dan bergetar, alis bertaut dan keringat dingin yang mengucur.

Yorin baru saja selesai membebat telapak tangan kanan Kyungsoo –yang sepertinya terluka karena terlalu giat mencengkeram busur panah—dengan kain yang terlebih dahulu ia lumuri ramuan penyembuh. Yorin menatapi Kyungsoo, lagi. Meneliti setiap detik perubahan wajah yang terlihat. “Kau tampak begitu menderita Kyungsoo-ssi. Sebenarnya kau ini kenapa?”

Hening. Hanya suara lenguhan kesakitan Kyungsoo yang kembali mengisi udara. Mengubah tenangnya malam ini menjadi malam yang memaksa mereka untuk berjuang satu sama lain.

Yorin yang berusaha untuk membuat Kyungsoo tetap hidup dan Kyungsoo yang berusaha agar nyawanya tetap dalam raganya.

 

*

 

Sudah dua malam purnama terlewat, namun kondisi Kyungsoo alih-alih membaik justru semakin parah. Kedua celah bibirnya yang semula biru berubah semakin pekat dan kini menghitam sehitam arang. Tubuhnya terlihat semakin rapuh seperti kayu yang habis dibakar si jago merah. Denyut kehidupan di ceruk lehernya semakin hari semakin sungkan untuk berdetak, begitu pula jantungnya. Kedua kelopak matanya enggan untuk terbuka. Dan entah untuk alasan apa, Yorin merasa rindu dengan sorot mata milik pria itu.

Yorin melakukan segalanya yang ia mampu lakukan. Setidaknya dengan lengan kiri yang masih terluka, Yorin pernah terbang ke hutan seberang mencari tumbuhan yang barangkali bisa menjadi sumber kehidupan bagi Kyungsoo, termasuk rela menjadi sasaran hewan buas ketika ia nekad memetik bunga krisan merah untuk dijadikan obat di balik Gunung Oedipus.

Yorin juga pernah mencoba menyeduh beberapa helai bulu sayapnya untuk kemudian ia angsurkan kepada Kyungsoo. Nihil. Bahkan sayap penyembuh keturunan Whiteblood tidak bereaksi apapun.

“Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu sembuh kembali?”

Selalu, wajah penuh peluh Kyungsoo memaparkan ekspresi yang tidak berbeda dari pagi ke pagi lagi. Seperti tersiksa, seperti ingin mati. Yorin tak pernah benar-benar memahaminya, namun yang pasti di dalam relung hatinya, ia berucap sumpah akan membuat pria itu bangkit kembali.

“Kyungsoo-ssi, aku berhutang budi padamu. Aku janji akan merawat dan menyembuhkanmu.”

*

 

Yorin baru saja akan memutar tumitnya –berbalik menuju kamar Kyungsoo diujung lorong—seraya membawa nampan berisi ramuan ketika tiba-tiba sebuah nada tak beraturan –seperti pintu yang digeser paksa, menyapa gendang telinganya.

Derap langkahnya seketika menjadi besar dan cepat. Ia ingin segera sampai dan melihat apa yang terjadi pada Kyungsoo.

Pintu kayu itu sudah terbuka ketika Yorin sampai di depannya. Ia tercenung, rasanya ia sudah menutupnya tadi sebelum pergi ke belakang. Menolak berasumsi, Gadis itu membawa langkahnya memasuki kamar Kyungsoo. “Kyungsoo-ssi?” panggilnya sambil mendaratkan nampan itu di sisi meja terdekat. Kasurnya kosong. “Kyungsoo-ssi?,” panggilnya ulang ketika tak ada satupun respon ia terima.

Tidak ada sahutan dan Yorin kini mulai khawatir.

“Kyungsoo-ssi?” Nada bicaranya mulai meninggi, dengan gerakan secepat yang ia bisa, ia mencoba untuk mencari di setiap sudut ruangan. Dibalik meja pendek tempat biasa Kyungsoo menulis, dibalik bilik pemisah ruangan, sampai ke bawah rak buku. Yorin tahu itu tidak mungkin, tapi akal sehatnya entah sudah pergi kemana di saat ia panik seperti ini.

Namun hasilnya tidak ada, ia menyerah, Kyungsoo tidak di sini. Maka tanpa pikir panjang ia beralih ke tempat lain.

“Kyungsoo-ssi, kau dimana?” Yorin menelusuri tiap detail di setiap ruangan. Di sisi tembok tiap lorong, kamar mandi, dapur, dan berlanjut ke seluruh ruangan di rumah tradisional itu. Ia abaikan rasa sakit yang kini mulai menjalar dari lengan kirinya. Walaupun lukanya sudah mengering tapi masih terasa ngilu, sedikit. Tapi yang menjadi prioritas utama adalah eksistensi Kyungsoo yang saat ini tidak diketahui.

Sambil sesekali mencengkeram lengan kirinya yang terasa berdenyut menyiksa, langkah Yorin terus terajut. Meninggalkan seluruh sidik jari-jari kakinya, menempel di seluruh lantai kayu itu.

Yorin menghentikan ekspedisi kecilnya ketika ia sampai di hadapan sebuah pintu kayu berpelitur sederhana. Kyungsoo pernah melarangnya masuk tempo hari, entah kenapa.

“Masuk, tidak ya?” ucapnya ragu. Namun beberapa sekon kemudian ia menggeleng. “Tidak, peduli setan dengan larangannya. Aku akan tetap masuk.”

Jejeran rak tinggi menjulang dengan ratusan buku yang berbaris rapi adalah hal pertama yang menyambut penglihatan Yorin ketika memasuki ruangan itu. Bisa disebut ini adalah perpustakaan pribadi milik Kyungsoo. “Kyungsoo-ssi?” Yorin memulainya lagi.

Ini ruangan terakhir yang bisa ia datangi. Ruangan lain sudah penuh dengan aroma peluhnya yang sedari tadi menetes tanpa henti. “Kyungsoo-ssi?” Ia mengulangi kegiatan yang sudah sepagian ini ia lakukan, namun alih-alih Kyungsoo justru sebuah peti kemas usang yang ia temukan. Teronggok sia-sia di sudut tergelap di ruangan itu. Seolah cahaya enggan membagi dirinya untuk menerangi benda itu.

Bukan karena Yorin yang terlalu lancang sehingga ia berani mendekati dan membuka peti tersebut, namun sebuah gulungan usang yang salah satu ujungnya terjuntai keluar peti dari celah kecil yang ada itulah yang membuat Yorin penasaran.

Pandora Syndrom

Tulisan bertinta emas yang terpatri jelas di gulungan itu berhasil tertangkap oleh fokus Yorin setelah ia berhasil membuka tali pengikatnya. Alis gadis itu menyatu di tengah, bingung. “Pandora Syndrom?” gumamnya. Tidak perlu berpikir dua kali untuknya menggrayangi barisan aksara yang tertempel disana.

Pandora Syndrom, penyakit mematikan tidak menular yang akan membunuh penderitanya dengan penderitaan yang panjang. Racun Zitanium adalah penyebab dari penyakit ini. Racun berbahaya yang berbentuk cair, tidak berbau ataupun berwarna. Efeknya timbul secara berkesinambungan, jantung yang terasa seperti berhenti, bibir yang menghitam, tubuh yang semakin rapuh, keringat dingin yang terus mengalir, dan batuk yang mengeluarkan darah. Satu-satunya penawar penyakit ini adalah kelopak bunga krisan biru emerald.

Yorin terdiam.

Informasi singkat itu bahkan mampu membuat kedua tangan Yorin bergetar, sudut matanya terasa panas dan akhirnya cairan itu meleleh menganak sungai. Tidak ada yang bisa membuatnya lebih terkejut dari ini, kenyataan bahwa penawar yang disebutkan tadi ternyata tersedia di dunianya sudah mampu membuat hatinya mencelos. Rasanya lega merangkap menyesal, mengapa ia baru tahu sekarang.

Disaat pikirannya masih terdistraksi oleh gulungan tua itu, tiba-tiba rungunya menangkap sebuah nada. Nada seorang pesakitan. Seperti suara orang sedang tercekik. Seluruh syarafnya mendadak mendapat stimulasi hingga akhirnya tungkai kakinya refleks bergerak mencari sumber suara, meninggalkan gulungan itu kembali teronggok terbuang di lantai.

Hingga akhirnya pemandangan yang Yorin dapati di balik bilik ujung ruangan membuat darahnya terasa seperti berhenti mengalir, jantungnya terasa seperti mencelos jatuh ke dasar perut. Tubuh ringkih Kyungsoo terbaring setengah sadar dengan darah hitam menggenang membuncah di sekitaran tubuhnya.

“KYUNGSOO-SSI!!” Yorin histeris lantas berjongkok dan meletakkan kepala pria itu di pangkuannya. “Kyungsoo-ssi!! Gwaenchana?!” Salah satu tangannya yang bebas secara refleks menepuk pelan kedua pipi tirus pria itu, berharap ia masih tersadar. Sejatinya, menemukan tubuh Kyungsoo dengan keadaan seperti ini sama sekali jauh dari ekspektasinya. “A … aku .. baik … baik … saja, Yorin-ssi.”

Tarikan bibir yang sekilas diulas pria itu diakhir kalimat, berhasil membuat tangis Yorin sedikit mereda. Setidaknya nyawa pria itu masih bertahan di dalam raganya. “Aku akan membawamu kembali ke kamar. Kau masih mampu berjalan?” Pria itu mengangguk, lantas Yorin dengan perlahan menarik bangkit pria itu dan menjadikan dirinya sebagai tumpuan untuk membantu Kyungsoo memulai langkahnya.

Belum sempat mereka memulai langkah, tatapan Yorin kembali mengarah pada genangan darah di bawah kakinya. Hitam pekat seperti langit malam tanpa taburan bintang. “Apa kau semenderita itu, Kyungsoo-ssi?” Nuraninya yang berbicara dan tanpa sadar membangkitkan sebuah tekad yang muncul naik sampai ke ubun-ubun. Kali ini tekadnya tidak segoyah dandelion di padang rumput, tapi bahkan lebih kokoh dari pasak kayu di kapal para penjelajah samudera.

Kyungsoo yang terus-terusan terbatuk di sampingnya, membuat hati Yorin terasa seperti berlubang. Namun senyuman dan kalimat; aku baik-baik saja, yang tetap setia pria itu lontarkan setidaknya mampu menambal lubang itu untuk sementara.

“Kyungsoo-ssi, aku akan berusaha mendapatkan penawar dari penyakitmu ini. Aku berjanji.”

 

*

 

Malam ini rembulan enggan menampakkan diri, tampias sinarnya bahkan tak setitik pun sampai mendarat di bumi. Sedangkan gumpalan awan hitam tampak bersemangat menunjukkan eksistensinya kepada para manusia, sehingga menjadikan malam ini tampak begitu sepi. Sunyi.

“Aku sudah berjanji akan berusaha membuatmu sembuh, Kyungsoo-ssi.” Gadis itu berdiri kaku seolah kakinya telah terpaku pada lantai berlapis kayu. Tepat di samping Kyungsoo. Mengabaikan semilir angin yang berhembus masuk dari jendela yang ia biarkan berderit terbuka. Rambutnya terbang tersapu angin, walau begitu tak menyembunyikan ekspresi sedih yang terpancar sejak beberapa jam yang lalu.

Bagian bawah dari jam pasir sudah penuh terisi, yang berarti sudah cukup lama sejak ia berdiri di sini sejak tadi. Namun raganya terkesan enggan untuk permisi. “Aku sudah memikirkan ini matang-matang,” Yorin tersenyum. “Aku akan pergi untuk mencari penawar racun itu—

—aku akan segera kembali.”

Dengan selisih waktu sepersekon setelah kalimat terakhir yang ia ucapkan, seberkas cahaya mulai timbul dari dalam tubuh Yorin. Dari mulanya hanya sepercik tapi kini bahkan lebih terang dari kumpulan bintang. Indah sekaligus membutakan. Dan dalam sekejap sepasang sayap putih itu terbuka. Menimbulkan bunyi ‘zrash’ kecil disertai debu emas yang mulai berterbangan.

Gadis itu menangkup sebelah telapak tangan Kyungsoo singkat (berharap pria itu akan baik-baik saja selama ia pergi) untuk kemudian mengepakkan sayapnya sekali. Butiran emas itu kembali berpendar. Dengan langkah perlahan ia merajut langkahnya menuju sisi jendela, menolehkan kepalanya singkat untuk menatap si pria dan kemudian dengan mantap mengepakkan sayapnya hingga tubuhnya mengambang dan pergi melalui jendela.

Bergerak cepat seolah ingin menyongsong dan mencari ujung dari gelapnya langit malam yang ada. Yorin telah pergi tanpa menyadari satu dari sekian ribu bulu sayapnya tertinggal di kamar Kyungsoo. Terbang melayang secara perlahan seolah mode slow motion tengah meliputinya, berputar dan berayun beberapa kali hingga akhirnya jatuh dengan indah tepat di atas dahi sang pria pesakitan.

 

*

“Yorin, kenapa kau kembali ke sini? Apa tugas yang ayah berikan sudah berhasil kau laksanakan?”

Yang barusan bertanya adalah Yunho, Lee Yunho, kakak dari Yorin. Pangeran keturunan Whiteblood. Dengan perawakannya yang tegap dan tinggi menjulang, sepasang mata setajam elang, tidak heran ia dipandang sebagai pangeran yang sangat berwibawa. Sejak matahari terbangun dari peraduannya, Yorin sudah berhasil menapaki kakinya kembali di tempat kelahirannya ini.

“Belum, Oppa—” Yorin tertunduk, terkadang ia takut jika tatapannya bersirobok dengan atensi milik kakaknya yang seolah mampu melubangi matanya. “—aku kembali untuk mengambil beberapa tangkai bunga krisan biru emerald,” jawab Yorin takut-takut. Tatapan intimidasi dari sang kakak berhasil membuatnya seolah mendadak ciut menjadi seukuran semut.

Bunga krisan biru emerald yang sedang dicarinya memang merupakan tanaman endemik di tempatnya tinggal. Bunga krisan biru emerald hanya tumbuh di kawasan istana dan terkenal berasal dari perkebunan istana milik ibunya, namun setelah arwah sang ibunda meninggalkan raganya terbujur kaku di bumi, taman itu menjadi ruangan prioritas milik kerajaan.

Lama tak ada respon, Yorin lebih memilih untuk memilin pelan jemarinya. Gugup.

“Untuk apa?

“Untuk … eung … untuk—“

“—Persediaan obat?” potong Yunho telak. “Persediaan obat ‘kan? Untuk mengobati lenganmu itu? Kalau begitu silahkan saja. Tapi kau tahu sendiri Yorin, penjaga itu tidak akan membiarkan siapapun masuk walaupun kau seorang putri raja. Ini perintah ayah.”

Bahu Yorin mendadak turun, ia merasa lega karena tidak harus berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa bunga itu untuk menolong seseorang dari keturunan Blackblood. Mungkin harapan hidupnya akan kandas saat itu juga. “Terimakasih, Oppa. Aku akan memikirkan caranya.”

*

Di sinilah Yorin sekarang. Bersembunyi dibalik tiang. Matanya nyalang waspada mengintipi sekitar. Memanfaatkan waktu istirahat para penjaga menjadi pilihannya untuk memasuki taman kerajaan. Sesudah dipastikan aman, dengan langkah berjingkat ia mulai melangkah.

Namun saat ia sudah setengah jalan dan tinggal melangkah masuk dan memetik bunganya, dari jauh samar-samar rungunya menangkap bebunyian, derap langkah kaki yang diburu waktu. Cepat. “Ada penyusup!” ucap mereka.

“Padahal istirahat mereka belum berakhir. Sial!” umpat Yorin kesal, dan saat ia berniat untuk berbalik nasib sial masih saja menghampirinya. Dengan tidak sengaja kaki kirinya menginjak sebuah ranting dan membuat para penjaga berteriak keras menggentarkan tekadnya. “SIAPA DISANA!?”

Beruntung posisi Yorin masih bisa tersamar oleh beberapa tumbuhan rimbun yang tumbuh melebihi tinggi badannya. Setidaknya ia masih bisa bernafas dengan cara yang benar.

Namun ketika pikirannya masih memproses semua yang terjadi, sebuah suara kembali tertangkap. Seperti sebuah senar yang ditarik dan menghasilkan gaya pegas. Yorin menyadari apa itu ketika dua detik kemudian lusinan anak panah menyerbu dengan membabi buta. Dan sialnya (lagi) salah satunya menancap dilengan kirinya, tepat di atas luka tempo hari. Yorin merintih, darahnya kini sudah mulai mengalir.

Dengan bermodal tekad untuk segera meloloskan diri, Yorin menarik paksa anak panah tersebut menyebabkan beberapa tetes darahnya membuncah keluar. “Aku harus segera pergi.”

Dirasa waktunya sudah tepat, Yorin dengan sigap kembali membuka sayapnya. Dan tanpa membuang waktu dengan sekali kepakan ia melesat secara vertikal. Meninggalkan para penjaga yang bahkan tidak menyadari eksistensinya sedari tadi.

“Maafkan aku, Kyungsoo-ssi. Aku gagal.”

Dan kemudian sosoknya hilang dengan ribuan butiran emas yang tertinggal.

 

*

Pria itu mengerjapkan matanya pelan. Kepalanya berdenyut sakit, pun tubuhnya terasa lemas seperti tanpa tulang. Sejatinya Kyungsoo –pria itu tidak akan terbangun jika saja ia tidak merasa ada sesuatu yang menempel di dahinya. “Apa ini?” dengan susah payah ia mencapai bulu itu, mengambilnya dan memperhatikannya. “Bulu?” Matanya menyipit, berusaha menemukan sesuatu yang menurutnya janggal.

“Kenapa bulu ini berwarna putih? Dengan … debu pixie emas menempel?” di dalam benaknya kini muncul sederet pertanyaan, terlepas dari rasa sakit yang mendominsai tubuhnya, pikirannya justru tertuju kepada sehelai bulu sayap itu. Keturunan Blackblood memiliki sayap berwarna keabuan atau bahkan hitam pekat dan juga debu pixie sewarna arang. Satu-satunya pemilik sayap putih seperti ini adalah …. “—keturunan Whiteblood? Tapi … siapa?” kedua alisnya menyatu ditengah, mengguratkan rasa penasaran yang amat sangat.

Tiba-tiba suara derap langkah berhasil menghancurkan konsetrasinya. Suara itu bersumber dari bagian depan rumahnya. “Lee Yorin ….” Ucapnya dengan penekanan di setiap katanya, tubuhnya seketika mengejang menahan emosi. Amarah yang sudah lama ia pendam di dasar hatinya kini kembali muncul dan memenuhi seluruh sel-sel dalam tubuhnya. Bulu sayap yang ia genggam kini tak seperti bentuk yang seharusnya. Benda itu sudah hancur tak berbentuk terdesak oleh buku-buku jari tangan milik Kyungsoo.

Kilatan merah itu kembali terlihat. Berpendar mengerikan dari manik mata kecoklatan Kyungsoo. Kedua matanya kini bertransformasi menjadi merah mengganas, mengindikasikan kemarahan serta kesakitan yang tengah dirasakannnya.

“Kyungsoo-ssi, aku sudah kembali.” Kyungsoo menoleh. Dan ketika gadis itu muncul di ujung ruangan Kyungsoo menyambutnya dengan kilatan merah yang menusuk. Cukup untuk membuat gadis itu berjengit dan berhenti di sisi pintu. Pria itu mengeratkan genggamannya untuk kemudian membuang serpihan bulu putih yang sudah lebur di sisi pembaringannya.

“Lee Yorin….” Desisnya.

“K-kau … kenapa … Kyungsoo …..”[]

 

a/n: tunggu update-annya berikutnya yaw~ thx udah baca mumumu~

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Black and White (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s