[EXOFFI FREELANCE] Dream Catcher (Oneshot)

dream-catcher

 

Title : Dream Catcher

Author : Sellafeb (@sellafeb)

Cast : Choi Yoojin (OC/You) | Oh Sehun (EXO) | Park Herin (OC) | Kim Kai (EXO)

Genre : Romance, Fluff

Length : Oneshot

Rating : G

Disclaimer : Ff ini murni buatan saya selaku Author.

*NB : Ada kalimat di ff ini yang sama dengan scene Wang Eun (Baekhyun) & Soon Deok (Z.Hera) di Moon Lovers-Scarlet Heart: Ryeo.

 

HAPPY READING~

 

Remember love you, I love you. I believe, that’s love. I called it, my destiny.

 

*****

 

Choi Yoojin P.O.V On

 

Setiap saat dan setiap detik jantung ini berdenyut, tak ayal aku melepas pesonamu dari pikiranku. Otakku sudah di atur untuk terus mengingatmu. Tak pernah sedetik pun aku melupakanmu, wajahmu terus-menerus muncul begitu saja didepan mataku.

Kadang aku merasa aneh akan diriku sendiri. Apa yang terjadi padaku? Kenapa wajahmu selalu muncul? Siapa dirimu yang membuatku semakin hari semakin menyukaimu? Itulah yang aku pikirkan.

Andaikan saja aku bisa menggapaimu, itu akan menjadi pencapaian luar biasa untukku, bahkan menggapaimu sama saja dengan mendapatkan piagam emas. Dan aku sadar seberapa sulitnya mendapatkan piagam emas kebanggaanku itu.

Aku sadar bahkan diriku tidaklah cukup untuk membuatmu jatuh hati. Ya, aku hanya seorang Choi Yoojin yang tidak punya pesona apapun. Jelas saja seorang lelaki sepertimu sangat jauh dariku.

Untuk seorang gadis tanpa pesona sepertiku, tentu saja sulit untuk menggapai seorang Oh Sehun yang penuh pesona. Bukan hanya tampan, tapi Oh Sehun sempurna. Wajah tampannya, kulit cerahnya, tinggi badannya, rambut tebalnya, tatapan lembutnya dan yang pasti tarian indahnya diatas panggung.

Astaga, aku bisa gila dibuatnya! Tuhan benar-benar menciptakan manusia yang tak terlihat seperti manusia, Oh Sehun benar-benar gila, dia sempurna!

“Sempurna! Sungguh!” Aku terus menatap lelaki dambaanku itu.

Temanku langsung menghela napasnya, dia menatapku dengan tatapan heran, kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu aku menatapnya, “Kenapa? Kau tidak suka?” Kesalku.

“Hei, Choi Yoojin! Jangan seperti ini! Kau hanya membuang-buang waktumu saja.” Ujarnya.

“Kenapa? Apa yang salah? Tidak menatapnya lah yang membuang-buang waktu. Melihat wajah tampan Oh Sehun itu sama sekali tidak membuang waktuku, tahu.” Aku melanjutkan menatap Oh Sehun.

“Hei! Bagaimana kalau dia tahu kau menyukainya? Kau akan menyesal nanti.” Ujar temanku itu.

“Hei, Park Herin! Tidak bisakah kau mendukungku?” Kesalku.

“Aku sedang mendukungmu, tahu. Mendukungmu untuk mundur sebelum di tolak.” Ujar Herin tanpa ragu.

“Hei!” Kesalku, “Dasar gadis jahat!” Aku mempoutkan bibirku.

Herin menghela napasnya, “Yoojin, Sehun bukanlah lelaki yang bisa kau gapai. Dia jauh, sangat jauh untukmu. Kau tidak tahu atau pura-pura tak tahu?” Tutur Herin, “Sebentar lagi dia debut, kau tidak akan melihatnya di panggung sekolah lagi, melainkan di televisi dan konser-konser besar. Kau mengerti ‘kan mengapa aku mengatakan ini padamu?” Herin menatapku.

Aku hanya bisa mengangguk dan menunduk dalam. Herin menatapku iba, “Yoojin, aku disini. Aku akan mendukungmu mendapatkan lelaki lain, tapi tidak untuk Oh Sehun. Itu hanya khayalanmu saja. Ah, tidak. Bahkan itu khayalan siswi satu sekolah.” Herin mengingat bahwa Sehun adalah idola sekolah mereka.

Herin menepuk bahuku pelan, “Semangat!”

Aku tersenyum pada teman terdekatku itu. Teman yang sangat aku sayangi, “Terima kasih, temanku! Ayo!” Kami bangkit dari tempat duduk kami.

Meninggalkan tempat ramai itu dengan tenang. Tanpa aku sadari, Oh Sehun menatap punggung kami yang mulai menjauh. Perlahan ujung bibirnya naik, senyum kecilnya terlihat dan membuat teriakan gadis-gadis terdengar di telingaku. Aku langsung memutar badan dan menatapnya. Mata kami bertemu, senyumnya masih belum pudar.

Astaga, apa ini? Senyum itu…

“Dia tersenyum padaku?” Gumamku sambil terus menatapnya.

5 detik kemudian dia kembali sibuk dengan latihannya. Aku menghembuskan napasku yang tersenggal karena senyumnya itu.

“Sungguh, aku melihat senyumnya. Dia tersenyum padaku, Herin.” Aku mengguncang-guncangkan tubuh Herin.

“Hei, Choi Yoojin! Hentikan ilusimu!” Herin meninggalkanku.

Aku mendecak kesal sambil menatap punggung Herin, “Hei! Itu bukan ilusi.” Aku mengejarnya.

“Itu hanya ilusimu!” Herin tetap yakin.

“Aku benar-benar melihatnya. Sungguh!”

“Hanya ilusimu! Aku sangat yakin!” Ujar Herin tanpa ragu.

“Begitukah?”

 

Choi Yoojin P.O.V Off

 

*****

 

Author P.O.V

 

Sehun menatap pantulan dirinya didepan cermin raksasa yang menjadi teman saat dia latihan menari. Lelaki itu menatap dirinya dari ujung kaki sampai kepala.

“Kenapa aku tak merasa senang saat aku hampir mencapai impianku? Kenapa aku mengkhawatirkanmu? Kenapa?” Sehun bergumam.

Sehun menatap gantungan dream catcher mini yang tergantung di tasnya, “Kenapa aku merasa akan semakin jauh darimu jika aku sudah debut nanti? Aku hampir gila, Choi Yoojin.”

 

Flashback On.

Anak-anak kecil berusia sekitar 5 tahun duduk bersama. Anak lelaki dengan kulit putih menatap gadis kecil yang duduk diam tak jauh darinya. Gadis kecil itu hanya diam tak bersuara. Dia sangatlah pendiam.

Seorang guru pembimbing menanyakan apa impian anak-anak kecil ini. Guru cantik itu beralih menatap gadis kecil yang pendiam itu, “Choi Yoojin, apa impianmu?” Tanyanya sambil tersenyum.

Gadis kecil itu hanya diam sambil menatap guru dan teman-temannya yang menunggu jawabannya. Gadis itu menunduk. Gurunya menghampirinya, “Tak apa, aku yakin Yoojin punya impian yang besar.” Gurunya mengelus rambutnya lembut.

Tak lama kemudian, anak-anak kecil nan lucu itu berlarian kesana-kemari. Hanya Yoojin yang duduk di ayunan, dia hanya duduk diam disana tanpa mengayunkannya. Seorang lelaki kecil yang memerhatikannya sedari awal menghampirinya.

Tring! Sebuah dream catcher muncul didepan mata kecil Yoojin. Yoojin langsung menatap lelaki kecil yang berdiri didepannya.

“Ini akan membantumu menemukan impianmu. Ah, aku tidak yakin tentang itu. Tapi benda ini akan membuatmu tenang dan tersenyum.” Tutur lelaki kecil itu.

Yoojin hanya menatapnya.

“Kau… Tidak suka?” Tanya lelaki kecil itu, “Aneh. Biasanya semua gadis cantik menyukainya.” Herannya.

Yoojin menatap lelaki kecil berkulit putih yang mengatakan itu. Perlahan tangan Yoojin tergerak untuk mengambil dream catcher itu dari tangan lelaki kecil didepannya.

Lelaki kecil itu tersenyum. Yoojin juga tersenyum kecil padanya.

“Sehun! Sehun! Kau dimana?” Suara seorang wanita terdengar di telinga mereka berdua.

Lelaki kecil berkulit putih itu membalikan badannya, “Ibu!” Dia melambaikan tangannya.

Sehun kembali menatap Yoojin, “Yoojin, sampai besok.” Sehun pamit.

Flashback Off.

 

Di tempat yang berbeda dengan Sehun, Yoojin menatap dream catcher yang tergantung indah di jendelanya. Ia bisa mendengar suara yang ditimbulkan oleh benda itu saat angin masuk ke dalam kamarnya.

“Sehun… Lelaki kecil pembohong yang membuatku menunggu karena kebohongannya. Sampai besok, apanya! Dia hilang setelah memberikan benda indah itu, kata-katanya pun tak kalah indah. Kau dimana, Sehun? Bagaimana kabarmu?” Yoojin beralih pada bingkai foto yang menampakan mereka berdua.

Foto yang sama pun terlihat, walau di tempat berbeda. Itu berasal dari wallpaper ponsel milik Sehun.

“Kau tidak mengenaliku, kau tidak mengingatku. Kenapa, Choi Yoojin?” Sehun bertanya-tanya.

 

Flashback On.

Yoojin cilik berjalan dengan semangat menuju sekolahnya. Dia tersenyum sambil menatap dream catcher pemberian Sehun padanya kemarin.

Dia duduk di ayunan yang kemarin, tapi ia tak kunjung melihat Sehun. Karena rasa penasarannya, Yoojin bertanya pada gurunya.

“Guru, apa Sehun tidak datang?” Tanya Yoojin.

“Kau tidak tahu? Sehun pindah ke China hari ini.”

Yoojin membulatkan matanya.

“Oh iya,” Gurunya mengeluarkan sebuah foto, “Aku memfoto kalian berdua kemarin, bagus ‘kan? Simpanlah!” Gurunya memberikan foto itu pada Yoojin.

Flashback Off.

 

“Sudah setinggi apa kau sekarang? Apa kau masih putih seperti dulu, Sehun?” Yoojin bertanya-tanya.

 

*****

 

Sehun berdiri didepan kelasnya yang berada di lantai 2. Dia menatap Yoojin dan teman-temannya yang asyik bermain basket. Permainan basket yang asal ala amatir. Mereka bermain hanya untuk bersenang-senang semata.

Hal itu membuat Sehun menyunggingkan senyumnya. Matanya terus tertuju pada satu gadis, yaitu Choi Yoojin. Yoojin telah mengalihkan dunia Sehun. Ya, benar. Bahkan dari usia mereka masih 5 tahun, Yoojin adalah dunia bagi Sehun.

Kai menatap temannya itu dan mengekori pandangannya. Dia tertawa kecil saat melihat Sehun terus tersenyum sambil menatap Yoojin, “Kenapa kau masih menyimpan perasaanmu? Ah, tidak. Bahkan kau tidak memberitahunya bahwa kau Sehun, si lelaki cilik yang membuatnya tersenyum di tengah pendiamnya dirinya. Kau terlalu lambat, Sehun.” Tutur Kai.

Sehun masih menatap Yoojin, “Tak peduli sebanyak apapun dia menatapku, dia tetap tidak mengenaliku. Itu sedikit menyakitkan.” Sehun tersenyum kecut.

“Kau yang meninggalkannya usai membuatnya tersenyum. Aku yakin dia mencarimu setelah hari itu. Dasar lelaki jahat!” Kai menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau benar. Dia mungkin sudah melupakanku karena aku lelaki yang jahat.” Sehun menghela napasnya, “Ayo!” Sehun mengambil tasnya, kemudian jalan lebih dulu dan di ikuti oleh Kai.

Sementara itu, Yoojin terlihat masih bermain dengan teman-temannya. Yoojin cilik yang pendiam dulu sudah hilang. Inilah Yoojin yang baru, begitu ceria dan selalu tersenyum.

Bola basket yang mereka lempar, terlempar jauh keluar lapangan. Yoojin hendak mengambilnya, tapi dia berjalan mundur sambil bicara dengan temannya. Yoojin menabrak seseorang dan jatuh.

Yoojin menatap orang yang berdiri didepannya. Itu adalah Sehun. Yoojin langsung membelalakan matanya.

“Kau tidak apa-apa?” Sehun menatap Yoojin khawatir.

Yoojin hanya diam terpaku disana. Gadis itu menelan salivanya berat. Astaga, dia menatapku. –Batin Yoojin.

Sehun mengulurkan tangannya dan membuat tasnya turun. Yoojin menatap gantungan dream catcher mini disana. Yoojin terus menatap benda itu dan menghiraukan uluran tangan Sehun. Sehun sadar Yoojin menatap benda bersejarah mereka itu, dan itu membuat Sehun tersenyum kecil.

Sekarang kau sudah menyadarinya, Choi Yoojin? – Batin Sehun.

Sehun melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Yoojin. Gadis itu langsung tersadar. Sehun masih mengulurkan tangannya, dengan ragu ia menggapai uluran tangan Sehun.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Sehun lagi.

Yoojin mengangguk, “Maaf, seharusnya aku berjalan dengan benar.”

“Tidak, tak apa.” Ujar Sehun.

Sehun menyadari siku Yoojin yang terluka, “Kau terluka.” Sehun menatap siku Yoojin, begitupun juga dengan Yoojin.

“Tak apa. Hanya luka kecil.”

Sehun mengeluarkan plester dari tasnya, kemudian memberikannya pada Yoojin. Gadis itu hanya menatapnya.

“Kau tidak suka plester bergambar?” Tanya Sehun, “Aneh. Biasanya semua gadis cantik menyukainya.” Yoojin merasa tak asing dengan kalimat yang di ucapkan Sehun itu. Sehun tersenyum melihat ekspresi Yoojin.

Sekarang kau sudah mengingatku ‘kan? –Batin Sehun.

“Terima kasih.” Yoojin menerima plester itu.

Apa ini? Dia masih tidak ingat? Ah, sudahlah. –Batin Sehun.

“Aku duluan.” Pamit Sehun sambil tersenyum.

Yoojin membalas senyum Sehun. Yoojin menatap punggung Sehun yang terus menjauh, kemudian beralih pada plester pemberian Sehun. Wajahnya semerah bandana yang ia pakai.

“Sepertinya kalimat itu tidak asing. Dimana aku mendengarnya, ya?” Gumam Yoojin.

Teman-temannya langsung heboh. Mereka menggoda Yoojin dan juga ada yang cemburu karena Yoojin mendapat senyum dari idola sekolah mereka.

 

*****

 

Yoojin masuk ke dalam kamarnya. Dia menaruh tasnya di sofa. Lalu langsung menidurkan dirinya di ranjang miliknya. Gadis itu merogoh saku seragamnya dan plester pemberian Sehun sudah ada di tangannya sekarang. Dia menatap plester itu.

Sisi bibirnya terangkat, dia tersenyum, “Benda sekecil ini saja sudah membuatku bahagia. Ini karenamu, Oh Sehun.”

Yoojin mengingat gantungan dream catcher mini yang menggantung di tas milik Sehun, “Dia suka dream catcher? Sehun? Sehun…” Dia mengingat Sehun si teman kecil yang memberinya dream catcher dulu, “Kalimat itu juga… Bukankah Sehun mengucapkannya juga dulu? Sehun… Jangan-jangan…” Yoojin membulatkan matanya, “Tidak mungkin. Oh Sehun tidak mungkin Sehun yang aku kenal dulu, itu mustahil. Mereka hanya punya nama dan benda yang sama. Itu pasti.” Yoojin mengangguk-anggukan kepalanya yakin.

Sedangkan, di tempat lain, Sehun juga tengah berbaring di ranjangnya. Dia menatap dream catcher yang menggantung di jendelanya, sama seperti yang di miliki Yoojin.

“Apa kau masih menyimpan dream catcher yang aku berikan padamu dulu, Yoojin?” Sehun menatap dream catcher miliknya.

“Setelah melihat gantunganku dan mendengar kalimat yang sama dengan yang aku ucapkan dulu padamu, apa kau teringat padaku? Pada Sehun yang memberimu dream catcher dan menghilang setelah itu. Mungkin kau mengingatku.” Gumamnya, “Atau juga tidak, karena aku menghilang tanpa pamit. Aku lelaki kecil yang jahat ‘kan saat itu? Maafkan aku, Yoojin.” Sehun menatap foto yang sama dengan wallpaper ponselnya, foto itu tergantung di dekat dream catcher.

“Seandainya aku bisa memutar waktu, aku tidak ingin menghilang dan meninggalkanmu. Aku menyesal karena aku meninggalkan gadis kecil yang mulai tersenyum dengan cerahnya setelah aku bicara dan memberinya dream catcher.”

“Aku ingin kau mengingatku, Yoojin. Bukan sebagai Sehun si idola sekolah, tapi sebagai Sehun yang pernah kau kenal dulu. Oh Sehun yang jatuh hati dan menjadikanmu cinta pertamanya.”

 

*****

 

-1 tahun kemudian-

 

Yoojin dan Herin duduk santai di depan televisi. Mereka tengah menonton acara musik. Mereka menunggu lelaki-lelaki tampan yang akan manggung. Siapa lagi kalau bukan EXO? Ya, itu benar. Sehun dan Kai debut di grup itu.

Sudah setahun sejak Sehun dan Kai debut, dan sejak itu mereka jarang terlihat di sekolah. Menjelang tahun akhir sekolah, mereka masih sibuk dengan kegiatan mereka.

Sambil menunggu giliran EXO tampil, Herin melihat-lihat setiap sudut kamar Yoojin. Yoojin menatap dream catcher yang tergantung di jendela.

“Kau benar-benar menyukai benda itu? Aku rasa benda itu selalu tergantung disana sejak pertama kali aku mengenalmu.” Ujar Herin.

“Bukan hanya sejak kau mengenalku, jauh sebelum kau mengenalku pun benda itu sudah ada disana.” Yoojin menjelaskan.

“Sungguh? Wah, kau membelinya di toko? Benda itu sangat cantik.” Herin terpukau dengan benda itu.

“Seorang teman memberikannya padaku. Sebuah hadiah.” Balas Yoojin, “Lelaki itu.” Yoojin menunjuk sebuah bingkai foto.

Herin langsung mengambil bingkai foto itu dan melihatnya, “Siapa yang memfoto kalian?” Tanya Herin penasaran.

“Guru kami.” Balas Yoojin.

Herin menatap manisnya foto itu, “Kalian berkencan?” Tanya Herin.

“Berkencan, apanya! Kami masih berusia 5 tahun.” Ujar Yoojin.

“Dia cinta pertamamu?” Herin melempar tatapan menggoda.

“Cinta pertama? Mungkin. Ah, aku tidak tahu. Bukankah cinta pertamaku itu Oh Sehun?” Yoojin mengira-ira.

Herin menatap intens foto itu, “Tapi… Bukankah dia mirip Oh Sehun? Tidakkah?”

“Sungguh?” Yoojin ikut menatap foto itu, “Tidak mirip. Tapi namanya memang Sehun.”

Herin kaget, “Sungguh? Luar biasa. Bahkan namanya sama. Apa jangan-jangan…”

“Tidak mungkin!” Yakin Yoojin.

Tiba-tiba terdengar lagu yang tak asing bagi mereka. Lagu EXO terdengar. Sekarang adalah giliran mereka. Yoojin dan Herin langsung bersemangat.

“Wah, EXO benar-benar keren!” Herin terpukau.

Mata Yoojin terus menatap Sehun. Herin juga menatap Sehun, kemudian beralih pada bingkai foto yang ia pegang. Dia terus membandingkan wajah Sehun dengan lelaki kecil di bingkai foto itu.

“Hei! Mereka mirip, tahu. Sungguh!” Ujar Herin.

“Tidak. Ssst! Jangan berisik!” Yoojin tak peduli dan hanya fokus pada Sehun yang ada di televisi.

Herin menggaruk kepalanya, “Tapi memang mirip, kok. Tidakkah?” Gumamnya.

 

*****

 

EXO kembali ke belakang panggung usai tampil. Sehun mengambil handuk di atas tasnya, kemudian menyeka keringatnya. Di saat yang sama, ia menatap gantungan dream catcher mini yang tergantung di tasnya.

Bagaimana kabarmu? Kita jarang bertemu. Aku merindukanmu, Yoojin. –Batin Sehun.

Kai menyadari itu, dia langsung merangkul Sehun, “Kau merindukannya?” Tanya Kai.

Sehun mengangguk.

“Kita akan kembali ke sekolah lusa. Kau bisa bertemu dengannya.” Kai menenangkan.

Sehun mengangguk sambil tersenyum.

Aku tidak sabar menunggu hari itu. Aku ingin waktu berlalu dengan cepat. –Batin Sehun.

 

*****

 

Yoojin, Herin dan teman-temannya yang lain mengerubungi sebuah radio. Mereka menunggu siaran radio yang di hadiri oleh EXO. Siaran radio di mulai, member memperkenalkan diri mereka.

“Halo! Ini Sehun.” Sapa Sehun.

Senyum Yoojin mengembang saat mendengar suara Sehun. Di tengah pembicaraan DJ radio bertanya soal cinta pertama EXO. Giliran Sehun tiba.

“Seperti apa cinta pertamamu, Sehun?” Tanya DJ radio.

“Kami masih berusia 5 tahun saat itu. Dia adalah orang yang sangat pendiam, jadi aku menghampirinya di ayunan yang ia naiki dan memberikannya sebuah dream catcher. Itu pertama kalinya aku melihatnya tersenyum, senyumnya sangat cantik.” Tutur Sehun. Yoojin membeku di tempat duduknya, Herin menatapnya. Herin juga merasakan apa yang Yoojin rasakan.

“Setelah hari itu, aku pindah ke China. Hanya foto dari guru kami saja yang aku miliki sebagai kenangan bersamanya. Ah, dan juga, sebuah dream catcher yang persis sama dengan yang aku berikan padanya.” Penuturan Sehun ini jelas membuat Yoojin dan Herin tak percaya.

“Jadi kau punya dua dream catcher dan memberikan salah satunya pada cinta pertamamu?” Tanya sang DJ radio.

“Iya. Aku selalu bertanya-tanya apakah dia masih menyimpannya atau tidak, dan juga apa dia masih mengingatku atau tidak. Karena aku masih sangat mengingatnya.” Sehun tersenyum di kalimat terakhirnya.

“Sehun, bisakah kau memberitahu nama marga cinta pertamamu? Aku rasa pendengar radio penasaran.” Pinta DJ radio.

Sehun dan Kai langsung saling melempar tatapan. Kai mengangguk sambil tersenyum.

“Choi. Gadis itu bermarga Choi.” Ujar Sehun.

Jawaban ini membuat Yoojin semakin tak percaya, “Tidak mungkin…” Gumamnya.

Herin menatap Yoojin.

Jadi tebakanku benar? –Pikir Herin.

 

*****

 

Yoojin terus meminum air mineral yang ia beli. Sudah 2 botol ia habiskan. Dia masih sangat kaget dengan kenyataan ini.

“Tidak mungkin. Sehun yang aku kenal dulu… Tidak mungkin, ini mustahil.” Yoojin kembali meneguk air mineral yang ia genggam.

“Hei! Berhenti minum!” Ujar Herin.

“Herin, ini mustahil ‘kan? Tidak mungkin, pasti hanya kebetulan.” Yoojin menganggukan kepalanya.

“Hei! Itu sudah sangat jelas. Dia adalah Sehun yang kau kenal dulu. Cinta pertamamu.” Ujar Herin.

“Tidak. Cinta pertamaku itu Oh Sehun.”

“Oh Sehun dan Sehun itu orang yang sama, Yoojin.” Ucap Herin, “Kau masih menyimpan benda darinya padahal kau baru bicara dengannya beberapa menit, setelah dia menghilang, kau mencarinya ‘kan? Kau merasa kehilangan ‘kan? Apa kau masih ingin mengelak bahwa dia cinta pertamamu? Jangan membohongi dirimu sendiri, Choi Yoojin!” Tutur Herin.

Yoojin terlihat berpikir, “Kau lebih tahu perasaanku dibanding diriku sendiri. Kau menyadari kemiripan mereka hanya dengan sekali lihat, tapi tidak denganku. Selama ini dia tahu diriku, tapi aku tidak mengenalinya sama sekali. Aku… Aku bodoh sekali.” Yoojin menghela napasnya.

 

*****

 

Van EXO berhenti didepan sekolah. Sehun dan Kai langsung turun, kemudian memasuki sekolah mereka. Keadaan menjadi sangat ramai karena kedatangan mereka. Seluruh siswi berteriak histeris saat melihat sang idola kembali ke sekolah.

Sehun dan Kai tebar senyum pada mereka. Mereka melewati para siswi dan didepan sana Sehun melihat Yoojin yang tengah menatapnya. Mata mereka bertemu. Yoojin hendak menyapanya, tapi Sehun melewatinya. Lelaki itu berlalu begitu saja.

Yoojin menatap bingung punggung Sehun yang menjauh, “Apa ini? Bukan aku?” Bingung Yoojin.

Herin yang ada disampingnya pun tak kalah bingung, “Apa tebakanku salah? Aku yakin, kok.” Ujar Herin.

 

*****

 

Yoojin berdiri seorang diri di atas atap sekolah. Dia menatap langit cerah. Dia terlihat berpikir keras usai Sehun berlalu begitu saja.

“Apa aku dan Herin hanya salah menebak? Dia bukan Sehun yang aku kenal dulu? Tapi kenapa semua yang ia katakan di radio kemarin sama persis seperti yang terjadi padaku 14 tahun lalu?” Gumam Yoojin.

Yoojin menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ah, masa bodo. Aku bingung.” Yoojin memijat pelipisnya sambil memejamkan matanya.

Tring! Terdengar suara tak asing di telinganya. Suara dari dream catcher seperti 14 tahun lalu. Yoojin langsung membuka matanya. Ia melihat dream catcher didepannya. Kemudian wajah Sehun muncul didepannya.

“Kau sedang memikirkanku?” Sehun tersenyum.

Yoojin yang kaget langsung membalikan badannya. Sehun tertawa kecil, “Aku kecewa kau sama sekali tak mengingatku, Choi Yoojin.” Ujar Sehun.

Yoojin langsung menatap Sehun, “Kau benar-benar Sehun yang aku kenal dulu? Sungguh?”

“Tentu saja.”

“Maaf. Aku tidak pernah mengira Sehun yang aku kenal akan setamp…” Yoojin menutup mulutnya.

“Tampan?” Tanya Sehun dengan tatapan menggoda.

Sehun tersenyum, kemudian memeluk Yoojin. Yoojin membulatkan matanya.

“Sudah lama aku ingin melakukan ini. Tapi aku baru bisa melakukannya sekarang. Kenapa begitu susah memeluk cinta pertamaku sendiri, ya? Apa mungkin karena aku terlupakan?” Tutur Sehun.

“Maaf.” Balas Yoojin.

Sehun melepas pelukannya, kemudian menatap Yoojin, “Kau tidak merindukanku?”

“Siapa? Sehun yang aku kenal dulu atau Oh Sehun si idola sekolah yang sudah debut?” Yoojin malah balik bertanya.

“Dua-duanya.” Balas Sehun.

“Aku merindukan keduanya. Sangat!”

Sehun tersenyum, kemudian kembali memeluk Yoojin. Yoojin juga merespon pelukan cinta pertamanya itu.

“Tapi… Kenapa kau melewatiku begitu saja tadi?” Tanya Yoojin.

Sehun menatap Yoojin yang masih ada di pelukannya, jarak mereka menjadi begitu dekat, “Aku ingin mengerjaimu saja.” Balas Sehun.

Yoojin mendecak kesal. Kemudian dengan cepat mengecup pipi Sehun. Sehun tertegun, “Maaf sudah melupakanmu, Oh Sehun.” Ucap Yoojin lembut.

Sehun tersenyum, kemudian mendaratkan bibirnya di dahi milik Yoojin dengan begitu lembut. Yoojin menutup matanya sambil tersenyum.

Sehun melepas tautannya, kemudian menatap Yoojin, “Aku mencintaimu, sangat!” Ucapnya.

Yoojin tersenyum, “Aku juga. Sangat!” Yoojin tak mau kalah.

 

 

FINISH

 

KOMEN JUSEYO~ KRITIK&SARAN DIBUTUHKAN NIH BIAR KEDEPANNYA BISA SEMAKIN BAGUS~ DON’T BE SILENT READERS~ KAN GAADA SALAHNYA KASIH KOMEN SETELAH BACA, AUTHOR JADI PUNYA KEKUATAN BUAT NULIS LAGI KEDEPANNYA~

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Dream Catcher (Oneshot)

  1. wah so sweet,in jodoh ap memang suratan takdir ya,mereka sweet banget,udah 14 Tahun lo,rasa itu ga berubah sama sekali,so swet bwanget authornim

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s