[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 17)

my-lady-chapter-17

 

MY LADY [ Chapter 17]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16

“Sehun-ah, ada yang mencarimu.” Panggil Jongdae yang sukses membuat fokus Sehun teralihkan dari berkas-berkas di depannya. Jongdae mengisyaratkan jika orang yang mencarinya sedang menunggu di depannya ruangannya. Dengan malas Sehun pun menaruh berkas-berkas penyelidikan di tangannya ke meja kerjanya, dan berjalan ke arah pintu keluar ruangannya.

Dapat dilihatnya di sana Miju sedang berdiri sambil bersandar pada dinding. Miju belum menyadari kehadiran Sehun di dekatnya. Sehun hanya berdiri mematung sambil mengamati Miju. Perasaan aneh yang dirasakannya saat menatap lekat Sena tidak dirasakannya saat ini, dan ini menimbulkan keraguan dalam hati Sehun akan hubungan mereka. Dari awal hubungan mereka memang sudah salah, karena Sehun hanya menganggap Miju sebegai adiknya. Tidak lebih. Tapi Miju mengartikannya dengan artian yang berbeda, dan itu membuat Sehun serba salah.

Di tengah lamunannya itu, Miju pun menolehkan badannya saat merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Sehun langsung tersadar dari lamunannya dan berjalan menghampiri Miju yang juga sedang berjalan menghampirinya. Keduanya saling melempar senyum. Menyembunyikan apa yang mereka rasakan sebelumnya.

Langkah mereka terhenti begitu jarak yang memisahkan mereka tidak begitu jauh. Miju memustuskan untuk mengawali pembicaraan diantara mereka berdua. “Kau sibuk?” tanyanya sekedar berbasa-basi yang dijawab gelengan kepala oleh Sehun.

“Ada angin apa yang membawamu ke sini disaat jam kerja seperti ini?” tanya Sehun sambil sedikit mengacak rambut Miju yang dibiarkan tergerai begitu saja.

Miju mengerucutkan bibirnya kesal dengan perlakuan Sehun yang masih menganggapnya seperti gadis remaja pada umumnya. “Tidak bolehkah aku menemui tunanganku disaat jam istirahat seperti ini? Itu juga kalau kau masih menganggap aku sebagai tunanganmu, Tuan muda Oh.”

“Sepertinya ada yang kita lupakan disini. Kau masih calon tunanganku, yang berarti kau masih belum menjadi tunanganku.” Jawab Sehun pura-pura tersinggung dengan perkataan Miju sebelumnya, dan hal itu sukses membuat Miju semakin memberengut saja ke arah Sehun.

“Kau menyebalkan!” pukul Miju pada perut Sehun saat melihat pria di depannya itu malah menertawakan wajah kesalnya dan mencubit pipinya gemas. Sehun lalu merangkul Miju ke dalam pelukannya sebagai tanda maafnya yang langsung membuat bibir Miju melengkung ke atas.

“Aku hanya bercanda. Maafkan aku.”

“Akan kupastikan kau tidak bisa lepas dari hidupku sebagai balasannya.” Ucap Miju pura-pura kesal sambil membalas pelukan yang diberikan Sehun padanya.

“Hm.” Gumam Sehun sambil mengeratkan pelukannya. Sesungguhnya ia tidak yakin akan menepati ucapan Miju tadi karena setelah pertemuannya dengan wanita asing yang bernama Lee Sena itu, pikirannya seakan selalu tertuju padanya. Dunianya seakan terpusat pada pesonannya yang tidak mampu ditolak oleh Sehun. Tatapannya mampu mencairkan hati dingin seorang pria dingin seperti Sehun. Dan itu hal membuat Sehun gila. Gila karena seorang wanita yang diam-diam telah mencuri hatinya.

Sehun melepaskan pelukannya pada Miju dan berusaha kembali ke dunia nyata. “Kau membawa apa?” tanya Sehun pada Miju saat matanya menangkap sebuah tas kertas yang berada di genggaman tangan Miju.

Miju mengikuti arah pandangan Sehun yang membuatnya tersadar akan tujuannya datang ke tempat kerja Sehun itu untuk apa. “Ah, ini aku membawakan makan siang untukmu.” Jelasnya sambil menyodorkan tas kertas itu dan langsung diterima oleh Sehun.

“Terima kasih.” Ucap Sehun sambil tersenyum ke arah Miju.

“Selain itu, aku juga mau mengingatkanmu kalau nanti sore kita punya janji untuk melakukan fitting baju untuk acara pertunangan kita minggu ini.”

“Tentu. Kita akan berangkat bersama. Pukul lima nanti aku akan menjemputmu.”

“Tidak usah. Kita langsung bertemu di butik saja, karena sampai sore nanti aku ada meeting penting di luar kantor. Aku ke sini untuk memberitahumu kalau kau tidak usah menjemputku dan sekalian aku berangat meeting.”

Baiklah.”

“Aku pergi dulu. Jangan lupa habiskan makanannya dan berbagilah dengan teman-temanmu.”

Arraseo.”

Sampai ketemu nanti sore.” Ucap Miju setelah memberikan satu kecupan singkat dibibir Sehun sebelum ia melangkah pergi dari tempat itu. Sehun terus memandangi punggung Miju yang terus menjauh dari tempatnya berdiri. Begitu tubuh Miju menghilang dari pandangannya, ia pun berbalik dan berjalan kembali memasuki ruangannya.

Sehun berjalan ke arah sofa di mana Jongdae dan Kyungsoo sedang mendiskusikan sesuatu yang tidak diketahuinya. “Kalian bisa memakannya sebagai makan siang kalian.” Ucap Sehun sambil meletakkan tas kertas yang diberikan Miju di atas tumpukkan kertas yang menjadi bahan diskusi Jongdae dan Kyungsoo. Diskusi keduanya langsung terhenti dan langsung menatap Sehun dengan tatapan heran karena setelah mengatakan itu, Sehun kembali berjalan ke arah bilik tempat kerjanya.

“Kau tidak akan memakannya?” teriak Jongdae.

“Kalian habiskan saja semuanya.” Jawab Sehun tanpa menoleh ke arah Jongdae.

“Aku harap kau tidak menyesalinya.” Teriak Jongdae lagi sebelum ia dan Kyungsoo membuka isi tas kertas itu. Sehun  tidak menanggapi ucapannya Jongdae setelahnya dan memilih tenggelam dalam pekerjaannya karena baginya itu satu-satunya cara untuk mengenyahkan pikirannya dari Sena. Memakan masakan Miju hanya akan memperkuat hatinya bahwa ia memang tidak menyukai wanita yang menemani hampir seumur hidupnya itu sebagai sahabat dan sekarang akan menjadi tunangannya. Baginya, Miju adalah seorang adik. Tidak pernah lebih.

Karena terlalu larut dengan pekerjaannya yang memerlukan konsentrasi tinggi, Sehun pun sampai tidak sadar jika jam kerjanya hari itu sudah selesai. Sehun melirik jam tangannya saat ia merasa ruangan tempat kerjanya sudah mulai sepi. Betapa terkejutnya Sehun saat melihat angka pada jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sehun segera mengambil handphonenya dan langsung mengetikkan sebuah pesan pada Miju bahwa ia akan sedikit terlambat. Setelah selesai mengetik pesan tersebut, Sehun segera membereskan meja kerjanya dan bergegas menuju basement parkir karyawan.

Secepat mungkin Sehun mengendarai mobil SUV hitamnya di jalanan yang padat kendaraan. Kemampuan mengendari mobil Sehun tidak bisa dipandang sebelah mata saja. Walaupun jalanan padat kendaraan, Sehun tidak pernah menurunkan kecepatannya. Jarak dari kantor polisi ke butik tempat janjiannya dengan Miju lumayan jauh, sehingga selama dalam perjalanan, Sehun tidak pernah berhenti mengumpat bahkan menyumpahi siapa saja yang menghalangi jalannya.

Sehun langsung memarkirkan mobilnya sembarangan di tempat parkir butik yang ia tuju. Sehun berjalan dengan setengah berlari saat ia melihat angka di jam tangannya menunjukkan pukul 5.30 sore. Sial!

Sehun melihat Miju sedang berdiri di dekat pintu masuk butik sambil menundukkan kepalanya. Menatap sepasang ujung stiletto hitam yang digunakannya. Melihat hal itu, Sehun pun kembali mengumpati dirinya sendiri karena telah membiarkan Miju menunggunya.

Miju yang merasakan ada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya pun langsung mendongakkan wajahnya untuk menatap orang tersebut. Penantiannya selama ini pun tidak sia-sia, karena orang yang ditunggunya pada akhirnya datang juga walaupun itu terlambat. Tak apa.

“Kau terlambat.” Ucap Miju sambil menunjukkan wajah kesalnya saat Sehun sudah berada di depannya.

Perasaan bersalah pun terbesit di hati Sehun saat ini. “Maafkan aku. Tadi aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan di jalan tadi padat dengan kendaraan.” Jelas Sehun penuh penyesalan.

“Kenapa aku harus selalu menunggumu? Kapan kau yang akan menunggu seperti ini?”

Sehun langsung terdiam seketika. Tidak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Miju padanya. Walaupun ia tahu jika Miju hanya bercanda, tapi ia sebenarnya tahu bahwa itu bukan hanya sekedar kalimat bercanda saja. Miju ingin Sehun juga membalas apa yang Miju rasakan selama ini.

“Kau tidak ingin menjawabnya?” tanya Miju gemas karena Sehun tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Maafkan aku.”

“Maaf?”

“Iya, maafkan aku karena telah membuatmu selalu menungguku.”

“Tsk, kau memang laki-laki yang tidak romantis.” Miju langsung meninggalkan Sehun sendirian di depan pintu butik. Seharusnya dari awal Miju tidak menaruh harapan lebih akan sikap Sehun padanya. Dari dulu sampai sekarang, Sehun tetap menjadi orang yang paling tidak sensitif dan tidak romantis padanya. Tapi entah kenapa, dengan sikapnya yang seperti itu pun Miju tetap selalu jatuh cinta, lagi dan lagi padanya.

“Miju-ya…” panggil Sehun sambil mengikuti langkah kaki Miju yang berjalan semakin memasuki butik. Dengan sedikit berlari, Sehun mengejar Miju yang berada di depannya. Dicekalnya tangan Miju saat ia sudah berada dalam jangkauan Sehun.

Miju membalikkan badannya untuk melihat orang yang tengah mencekalnya saat ini. Sehun dan Miju bersitatap selama beberapa detik sebelum Sehun mengeluarkan suaranya. “Maafkan aku.”

“Jika hanya kata itu yang akan terus kau ungkapkan padaku, maka jawabannya adalah ‘ya, aku memaafkanmu’.”

“Aku sungguh minta maaf.”

Miju memutarkan bola matanya jengah. “Dan aku juga sungguh sudah memaafkanmu.”

Sehun menggelengkan kepalanya sebagai penyangkalan atas ucapan Miju padanya. “Kau tidak sungguh-sungguh memaafkan aku.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya?” Sehun kembali terdiam. Bingung harus menjawab apa. “Apa aku harus menciummu di sini agar kau percaya jika aku sudah memaafkanmu?” Karena Sehun tak juga menjawabnya, Miju pun akhirnya memilih untuk membuktikan ucapannya. Sehun membulatkan matanya saat Miju berani mencium bibirnya di tempat umum seperti ini. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata sedang menatap padanya dan Miju. Bahkan ada beberapa dari mereka yang terkesiap saat melihat Miju mengecup bibirnya sebentar.

“Kau lihat. Aku sudah memaafkanmu, dan akan selalu memaafkanmu karena aku mencintaimu.” Ucap Miju sambil tersenyum tulus ke arah Sehun yang sedang menatapnya tanpa berkedip. Miju menatap Sehun dalam, menunggu jawaban apa yang akan diberikan Sehun atas pernyataannya itu.

“Aku akan berusaha untuk membuatmu tidak menungguku lagi.” Putus Sehun yang langsung membuat bibir Miju melengkung semakin lebar saja. Sehun ikut tersenyum saat melihat Miju tersenyum bahagia ke arahnya. Walaupun hatinya tidak yakin dengan apa yang diucapkannya, setidaknya ia dapat membahagiakan pasangannya saat ini. Lee Miju.

 

***

 

“Aku ingin kau menemaniku menghadiri sebuah pesta besok malam.” Ucap Baekhyun sambil melepaskan ikatan dasinya yang dibantu oleh Sena.

“Pesta apa?” tanya Sena tanpa menghentikan kegiatannya membuka kancing kemeja Baekhyun.

“Sebuah pesta pertunangan biasa.” Jawab Baekhyun acuh, seakan pesta itu tidak penting baginya. Sena mengernyitkan keningnya saat mendengar nada acuh Baekhyun akan pesta tersebut.

“Kalau memang itu hanya pesta biasa, kau tidak harus menghadirinya kan?”

“Tidak semudah itu. Walaupun itu hanya pertunangan biasa, tapi orang-orang yang hadir di dalamnya bukan orang biasa pada umumnya. Di sana aku bisa mendapatkan sebuah tangkapan besar dan aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.”

Sena memutarkan matanya saat mendengar ungkapan Baekhyun tentang sebuah tangkapan besar yang ia maksud. “Ya, ya, ya. Terserah.” Ucap Sena sambil meletakkan kemeja kotor Baekhyun di keranjang cucian yang ada di dalam kamar mandi mereka.

“Aku ingin kau ikut denganku.” Pinta Baekhyun sambil mengikuti Sena memasuki kamar mandi.

“Tidak. Terima kasih.”

“Ayolah. Aku ingin kau menjadi pasanganku.”

“Aku sudah menjadi pasanganmu. Jika kau lupa.”

“Kau tahu bukan itu maksudku.”

“Jangan memaksaku. Aku tidak suka menghadiri pesta semacam itu.” ucap Sena sedikit kesal mendengar rengekkan Baekhyun yang menurutnya tidak penting sama sekali. Baekhyun terdiam sambil memperhatikan Sena yang sedang sibuk mempersiapkan air mandinya. Ia harus berpikir ulang bagaimana caranya membujuk Sena agar mau ikut bersamanya ke pesta itu.

“Kau bisa menggunakan airnya sekarang. Aku akan keluar.” Sena langsung berbalik meninggalkan Baekhyun sendirian. Namun, sebelum ia menutup pintu kamar mandi suara panggilan Baekhyun membuat Sena mengurungkan niatnya. Sena membalikkan badannya untuk menghadap Baekhyun kembali untuk memperjelas pendengerannya. “Apa yang kau katakan?”

“Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu kalau kau mau ikut ke pesta besok malam.” Seketika Sena tersenyum lebar ke arah Baekhyun.

“Benarkah?” Baekhyun menganggukkan kepalanya sebagainya jawaban atas pertanyaan Sena padanya. “Bolehkah aku kembali bekerja?” tanya Sena sedikit hati-hati dalam mengutarakan apa yang diinginkannya pada Baekhyun. Baekhyun hanya bisa mengeraskan rahangnya saat mendengar permintaan Sena yang selalu sama dan akan selalu ditolaknya. Namun saat ini Baekhyun tidak bisa menolak permintaan itu karena ia tidak mungkin menjilat ludahnya sendiri.

“Kalau memang itu yang kau inginkan, maka aku tidak bisa menolaknya.” Dengan sedikit berlari Sena langsung menghampiri Baekhyun dan menubrukkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Baekhyun. Sena meluapkan kegembiraannya dengan memeluk erat Baekhyun. Dengan senang hati Baekhyun membalas pelukan Sena. “Tapi aku mempunya syarat.”

“Apa itu?”

“Aku hanya mengijinkan kau bekerja di siang hari. Tidak di malam hari.”

“Tidak masalah.”

“Johnny dan Yuta harus tetap bersamamu.”

Sena memutarkan matanya mendengar permintaan Baekhyun mengenai kedua pengawalnya yang harus tetap ikut. “Baiklah.”

Baekhyun tersenyum mendengar Sena tidak menolak permintaannya. “Aku punya satu syarat lagi.”

“Katakan.”

“Aku ingin kau menemaniku mandi.”

Sena langsung melepaskan pelukannya pada tubuh Baekhyun dan menatap kesal ke arahnya pria di depannya itu. Namun, ekspresi berbeda justru ditunjukkan Baekhyun padanya. Ia mengerling nakal sambil tersenyum jahil ke arah Sena. Bermaksud untuk menggodanya.

Shireo!” Sena mendorong tubuh Baekhyun untuk menjauh darinya. Sebelum Baekhyun kembali merengkuhnya, ia segera berjalan keluar dari kamar mandi.

“Na-ya, kau mau kemana?” teriak Baekhyun berusaha menahan rasa gelinya saat melihat Sena berhasil digodanya.

“Ke mana pun kakiku melangkah, asalkan itu tidak ada dirimu. Dasar menyebalkan!” balas Sena sambil berteriak dari luar kamar mandi. Setelah mengatakan itu, dapat didengarnya Baekhyun sedang tertawa di dalam kamar mandi dan itu membuat Sena semakin kesal saja pada Baekhyun. Demi meluapkan kekesalannya, Sena pun menendang daun pintu kamar mandi yang ada di belakangnya lalu pergi keluar dari kamar tidur mereka.

Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan! Umpat Sena sepanjang perjalanan ia menuju dapur berniat untuk menyiapkan makan malam Baekhyun. Walaupun sudah ada pelayan yang bertugas untuk menyiapkan makanan, Sena memilih untuk menyiapkan makanannya sendiri. Semenjak ia tinggal di rumah Baekhyun, semua kebutuhan Baekhyun, ia yang menyiapkan. Mulai dari makanan, pakaian, sampai kebutuhan biologis pun Sena penuhi. Ia tidak pernah mengijinkan seorang pelayan pun untuk masuk ke dalam kamar mereka, bahkan seorang pelayan laki-laki sekalipun.

Karena terlalu sibuk menyiapkan makanan sambil menggerutu, Sena sampai tidak menyadari keberadaan Baekhyun yang sudah berdiri di belakang tubuhnya. Berdiri di belakangnya sambil tersenyum geli menatap kelakuan Sena yang seperti anak kecil. Sebelum Sena menyadari keberadaannya, Baekhyun pun berinisiatif untuk memberikan kejutan untuknya. Dan itu berhasil.

Sena sedikit tersentak saat tiba-tiba Baekhyun memeluknya sambil menyodorkan sebuah buket besar bunga tulip putih. Sena terkesima saat memandang buket bunga indah di hadapannya itu. Dengan ragu, ia mengambil buket itu dan mencium aroma bunga ke dekat hidungnya. Seulas senyum ia pancarkan setelahnya. Baekhyun memang paling bisa membuatnya menjadi seorang wanita paling bahagia di dunia ini.

Perlahan Sena membalikkan badannya untuk menatap Baekhyun yang sedang menunggu reaksi apa yang akan diberikannya. Sena pura-pura mengernyit tidak suka dengan bunga pemberian Baekhyun padanya itu.

“Kau sedang menyogokku?”

“Tidak. Tapi aku sedang menawarkan sebuah perdamaian padamu.” jawab Baekhyun tulus yang membuat Sena menatap bergantian bunga yang ada dipelukannya dengan Baekhyun. Bunga tulip putih memang melambangkan perdamaian, dan Sena suka perdamaian.

“Baiklah. Aku terima gencatan senjatamu.” Jawab Sena acuh tak acuh akan perkataan Baekhyun. Seakan ia tidak peduli sama sekali, padahal dalam hatinya ia sangat bahagia. Namun percuma saja menutupi semuanya, karena Baekhyun sudah sangat mengenalnya dan Baekhyun tidak mempermasalahkan sikap Sena yang seperti itu.

Gomawoyo.” Baekhyun mengecup pipi Sena sekilas dari samping karena posisi Sena sedang membelakanginya. “Akan aku bawakan vas untuk menaruh bunga itu.” ucapnya sambil melenggang pergi ke deretan lemari untuk mencari vas bunga yang dimaksudkannya.

Baekhyun lalu menaruh bunga tulip tersebut ke dalam sebuah vas bunga bening berbentuk bulat yang tidak lupa telah ia isi air di dalamnya. Baekhyun meletakan vas bunga tersebut di tengah-tengah meja makan yang telah penuh dengan masakan Sena.

“Kapan kau membelinya?” tanya Sena sambil meletakkan piring terakhir hasil masakannnya.

“Sebelum aku mandi. Aku memesan buket bunga ini dari salah satu temanku.” Jawab Baekhyun tanpa mengalihkan tatapannya dari bunga itu.

Sena berjalan mendekati Baekhyun yang sedang berdiri di seberangnya. Lalu ia mengecup pipi Baekhyun singkat membuatnya mengalihkan tatapannya pada Sena. “Aku menyukainya. Terima kasih.”

Melihat Sena tersenyum padanya, Baekhyun pun ikut tersenyum. “Aku senang kau menyukainya.”

Seakan melupakan perdebatan mereka sebelumnya, Sena dan Baekhyun pun larut dalam suasana makan malam itu. Begitu nyaman dan tenang. Seakan-akan tidak pernah ada badai di antara mereka.

Keesokan harinya, sesuai permintaan Baekhyun, Sena pun bersiap-siap untuk menghadiri acara pertunangan yang mengundang Baekhyun untuk hadir di dalamnya. Saat ini ia sedang berada di salah satu salon mewah yang ada di Seoul. Mempersiapkan diri sebaik mungkin agar tidak mempermalukan Baekhyun.

Hampir seharian ini ia berada di salon itu untuk melakukan perawatan. Mulai dari perawatan rambut, wajah, tubuh, bahkan perawatan untuk kuku-kukunya pun Sena lakukan di sini. Johnny dan Yuta yang bertugas menjaganya pun hanya bisa menghela napas pasrah saat harus mengikuti semua rangkaian perawatan yang dilakukan Sena. Bahkan terkadang karena saking bosannya mereka menunggu, mereka pun akhirnya jatuh tertidur di ruang tunggu. Semua majalah yang disediakan salon sudah selesai mereka baca untuk mengusir kebosanan itu. Namun, kebosanan itu tetap saja datang. Rutukan demi rutukan mereka ucapkan dalam hati karena mereka masih sayang dengan nyawa yang mereka miliki.

Penantian Johnny dan Yuta berakhir juga. Kalau beberapa menit yang lalu mereka merutuki apa yang sedang dilakukan Sena, saat ini mereka malah merutuki apa yang dikenakan oleh Sena. Penampilan Sena yang begitu mempersona membuat mereka lupa siapa sebenarnya Sena. Johnny dan Yuta tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Sena yang sedang berjalan ke arah mereka. Seandainya saja Sena bukan kekasih dari bos mereka, sudah pasti keduanya akan berusaha bersaing demi memperebutkan perhatian Sena.

Lamunan mereka terputus saat keduanya mendengar suara Sena. Keduanya buru-buru menundukkan pandangan mereka saat merasakan ada aura menyeramkan di belakang tubuh mereka. Tidak perlu melihatnya pun, mereka sudah tahu siapa orang itu. Dan sekarang mereka beralih merutuki diri mereka sendiri karena telah berani-beraninya memandang sesuatu yang tidak semestinya mereka pandang. Semoga saja mereka bisa lolos seperti kejadian beberapa minggu yang lalu.

“Kau sudah datang?” tanya Sena berjalan menghampiri Baekhyun yang sedang berdiri kaku di belakang kedua pengawalnya. Ekspresi Baekhyun yang tidak terbaca membuat Sena mengerutkan keningnya bingung. Tapi berusaha ia abaikan dengan tetap tersenyum ke arah Baekhyun yang sedang menatapnya lekat. “Bagaimana penampilanku?” tanya Sena lagi berusaha mencairkan suasa yang tiba-tiba menjadi dingin.

Baekhyun memandang Sena dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilainya. Ia tidak bisa memungkiri jika saat ini Sena sangat cantik. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan begitu saja saat melihat pria lain menatap Sena penuh kekaguman, sekalipun itu pengawal Sena sendiri. Gaunnya memang tidak mewah, tapi saat Sena memakainya, gaun yang sederhana pun dapat memancarkan auranya tersendiri.

Gaun berwarna soft pink dengan belahan dadanya yang begitu rendah memperllihatkan sedikit apa yang selalu Sena sembunyikan dan hanya Baekhyun yang selalu melihatnya secara utuh. Tapi saat ini, semua orang dapat melihat hal itu dan Baekhyun bersumpah akan menghajar siapa saja yang telah berani-beraninya memberikan gaun ini pada Sena. Untuk meredam kekesalannya, Baekhyun pun merengkuh tubuh Sena posesif.

Mengelus rambut panjang Sena yang dibiarkan tergerai guna menutupi punggung telanjangnya. Dan untuk pertama kalinya Baekhyun bersyukur akan hal itu. “Kau sangat menawan malam ini.” Bisik Baekhyun di telinga Sena, membuat dirinya merona malu karena telah menjadi pusat perhatian di tempat itu. “Demi Tuhan, tiga jam lagi akan aku robek gaun sialan ini karena telah berani-beraninya membuat pria lain membayangkan tubuh indahmu di bawah kungkungan mereka.” Geram Baekhyun sambil menggigit gemas daun telinga Sena.

“K-kau tidak akan berani melakukannya.”

“Percayalah, sayang. Aku akan melakukan apapun semua ucapanku.” Jawab Baekhyun bersungguh-sungguh membuat Sena bergidik ngeri. Sena mengerucutkan bibirnya kesal saat mendengar niat Baekhyun untuk menghancurkan gaun indah yang sedang digunakannya itu. Padahal ia sangat menyukai gaun ini. “Kajja, kita pergi sekarang sebelum aku menghancurkannya saat ini juga.”

Baekhyun langsung merangkul pinggang Sena dan membawanya keluar dari salon tersebut. Beberapa orang pengawal mengikutinya dari belakang, dan ada punya yang siap siaga di dekat mobil Baekhyun. Salah satu orang dari mereka membukakan pintu agar Sena dapat masuk ke dalamnya, dan Baekhyun mengikutinya dari belakang. Seorang pria yang tidak Sena kenal mengemudikan mobilnya dan di sebelahnya Kai duduk dengan tenang seperti biasanya.

Selama perjalanan menuju ke tempat pesta, tidak ada satu orang pun yang berbicara. Keadaannya begitu hening. Yang terdengar hanyalah suara deru dari mesin mobil yang menyala. Tidak hanya satu mobil yang mengikuti Baekhyun, bahkan ada tiga mobil lainnya yang bertugas untuk mengawal Baekhyun. Satu mobil di depan, dan dua mobilnya di belakang mobil Baekhyun. Bahkan Sena sempat heran saat melihat begitu banyaknya orang yang mengawal mereka setiap kali mereka bepergian keluar rumah. Tapi seiring berjalannya waktu, Sena pun akhirnya terbiasa dengan pengawalan yang super ketat itu. Tidak lagi merasa terganggu dengan banyaknya pria-pria asing yang berwajah dingin. Seperti es.

Seperti saat ia akan memasuki mobil, saat keluar pun seorang pengawal dengan cekatan membukakan pintu untuknya. Sebelum Sena keluar dari mobil, Baekhyun sudah terlebih dahulu keluar dari mobilnya. Ia mengulurkan tangannya untuk Sena genggam saat akan memasuki lobby hotel tempat acara berlangsung. “Jangan pernah pergi dari sisiku.” Bisik Baekhyun memperingatkan Sena saat mereka mulai memasuki ballroom yang dimaksud. Sena hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Hampir setengah isi dari ballroom sudah terisi penuh dengan banyak orang yang berpakaian pesta seperti apa yang sedang Sena dan Baekhyun kenakan. Bahkan Sena dapat melihat beberapa dari mereka dengan sengaja memamerkan harta kekayaan mereka. Semakin bagus dan mewah apa yang digunakan mereka, maka orang lain akan semakin segan padanya.

Beberapa orang yang tidak dikenal Sena menyapa Baekhyun. Dengan senang hati Baekhyun membalas sapaan mereka. Sesekali Sena hanya tersenyum simpul sebagai jawaban jika ada orang yang mempertanyakan siapa dirinya. Ia enggan untuk memperkenalkan diri, sehingga mau tidak mau Baekhyun lah yang memperkenalkannya.

Baekhyun membawa Sena berkeliling ruangan itu. Sena menghentikan langkahnya saat mengetahui ke mana arah Baekhyun akan membawanya. Baekhyun menolehkan wajahnya untuk menatap Sena yang tiba-tiba saja berhenti. Perubahan raut wajah Sena membuat Baekhyun sadar akan kegusaran apa yang sedang melandanya. Tapi dengan lembut Baekhyun mengelus tangan Sena yang sedang menggandeng tangannya. Sena yang mengerti apa arti dari elusan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan Baekhyun.

“Tenang saja. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Ucap Baekhyun menenangkan Sena. Dengan langkah ragu, Sena pun mengikuti langkah kaki Baekhyun. Perasaan benci yang pernah dirasakannya beberapa bulan lalu kembali memenuhi hatinya. Sena tersenyum kecut saat melihat kedua orang yang telah menghancurkan keluarganya itu sedang tertawa bahagia. Apakah sekarang kau sangat bahagia?

“Selamat malam, Tuan Oh, Nyonya Oh.” Sapa Baekhyun menginterupsi perbincangan orang yang disapanya itu. Tidak hanya dua orang paruh baya yang Baekhyun maksud saja yang menoleh padanya, tapi satu pasangan lagi yang menjadi alasan Sena tidak mau menyapa keempat orang tersebut. Ayah dan ibu tiri Sena.

“Oh, selamat malam juga Tuan Muda Byun.” Jawab Tuan Oh sambil menjabat tangan Baekhyun. Ayah dan ibu tiri Sena terkejut bukan main saat melihat calon besan mereka sangat akrab dengan seorang pemuda tampan yang berdiri sambil menggandeng perempuan yang sudah mereka hancurkan hidupnya.

“Pesta yang sangat meriah. Saya ucapkan selamat atas pertunangan putra-putri kalian.” Jawab Baekhyun sambil melirik kedua orang lainnya yang tetap bergeming memperhatikan apa yang sedang dilakukannya. Menatap Sena penuh kebencian yang hanya disadari oleh Baekhyun seorang. Sedangkan Sena sendiri memilih untuk menatap ke arah lain. Asalkan tidak pada dua orang yang begitu dibencinya itu.

“Saya sangat senang anda dapat meluangkan waktu anda yang sibuk untuk menghadiri pesta sederhana ini.”

“Anda terlalu berlebihan Tuan. Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih karena telah mengundang saya sebagai salah satu orang penting yang anda kenal.”

“Anda terlalu merendah seperti biasanya Tuan. Ini semua berkat dukungan anda selama ini.”

“Saya senang bisa membantu anda. Jika perlu bantuan saya lagi, anda tidak perlu sungkan untuk menghubungi saya.” Jawab Baekhyun yang membuat keduanya tertawa bersama-sama, tapi tidak dengan kedua orang lainnya.

“Ah iya. Saya hampir melupakan wanita cantik di samping anda.” Semua orang refleks menoleh ke arah Sena yang memang berdiri di samping Baekhyun.

“Maafkan saya lupa memperkenalkannya. Perkenalkan, ini tunangan saya, Lee Sena.” Ucap Baekhyun memperkenalkan Sena sambil menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman.

“Wah, sayang sekali kalau begitu. Tadinya saya ingin memperkenalkan anda dengan salah satu keponakan saya.” Jawab Tuan Oh pura-pura kecewa setelah mendengar perkataan Baekhyun tentang Sena.

“Walaupun anda memperkenalkan saya dengan salah satu keponakan anda, hatinya harus siap-siap terluka karena hati saya hanya untuk wanita yang ada di samping saya.” Tolak Baekhyun mempertegas ucapannya itu. Tuan Oh hanya bisa tersenyum memaklumi apa yang dirasakan Baekhyun saat ini, karena dulu ia juga pernah merasakannya. Sena ikut tersenyum ke arah kedua orang paruh baya yang Baekhyun ajak bicara. Tapi senyumannya langsung hilang saat Sena mengalihkan tatapannya pada dua orang yang memilih membisu di tempatnya itu.

“Oh begitu rupanya. Anda beruntung bisa mendapatkan hati Tuan Muda Byun ini, nona.” Sena merona malu saat mendengar perkataan Tuan Oh padanya. “Ah, saya hampir melupakan satu orang lagi yang belum saya perkenalkan disini.” Baekhyun dan Sena kembali mengalihkan perhatiannya untuk menatap Tuan Oh. “Perkenalkan, ini calon besan saya. Tuan Lee Jongmin.”

Walaupun enggan Baekhyun tetap mengulurkan tangannya sebagai sebuah kesopanan semata. “Byun Baekhyun. Senang bisa berkenalan dengan anda.”

“Lee Jongmin. Senang bisa berkenalan dengan anda juga.” Jawabnya seramah mungkin. Sedangkan Sena menatap muak dengan apa yang terjadi di depannya itu. Tidak menyambut uluran tangan yang coba diberikan oleh ayahnya itu. Berpura-pura untuk tidak saling kenal adalah solusi terbaik untuk mereka saat ini.

Sena yang sudah mencapai batas kesabarannya untuk terus berada di sana segera memberi sebuah kode agar Baekhyun lekas membawanya pergi. Baekhyun yang mengerti kode Sena pun hanya bisa tersenyum menenangkan jika sebentar lagi ia akan membawanya pergi. Baekhyun kembali mengalihkan tatapannya pada empat orang yang ada di depannya.

“Saya pamit undur diri, masih ada beberapa orang lagi yang harus saya sapa.” Pamit Baekhyun sambil tersenyum sebelum beranjak dari tempat itu.

“Baiklah. Selamat bersenang-senang.” Jawab Tuan Oh sambil sedikit menundukkan kepalanya untuk membalas tundukan kepala Baekhyun.

“Pertunjukkan yang bagus, My Lady. Kau telah berhasil membuktikan pada mereka bahwa sekarang kau baik-baik saja.” Bisik Baekhyun setelah mereka cukup jauh dari tempat berkumpulnya Tuan Oh dan ayah Sena.

“Itu karena kau berada di sampingku, My Lord.” Balas Sena yang membuat Baekhyun menyeringai lebar dengan panggilan Sena terhadapnya. Namun senyuman Sena kembali hilang saat memperhatikan seorang wanita cantik berjalan ke arah mereka. Dan tanpa ada aba-aba, wanita tersebut langsung saja mengecup sekilas bibir Baekhyun di hadapan Sena. Bukan hanya Sena yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu, tapi Baekhyun juga sama terkejutnya dengan Sena. Ia tidak pernah menyangka bahwa wanita yang terus mengejarnya ini akan melakukan hal senekat itu di tempat umum seperti ini. Wanita yang akan selalu dihindarinya sampai kapanpun. Shannon William.

 

***

 

Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Bukannya Sehun tidak bahagia dengan hari ini, tapi ia hanya merasa kosong di hatinya. Hatinya terus berteriak bahwa apa yang dilakukannya saat ini adalah salah, tapi walaupun begitu, ia tetap tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan semuanya. Sehun bukan tipe orang yang suka membantah perintah orang tuanya, hingga pada akhirnya disinilah ia berada. Berdiri di tengah-tengah ballroom salah satu hotel ternama untuk melangsung acara pertunangannya dengan Miju.

Beberapa orang yang dilewatinya memberikan ucapan-ucapan selamat atas pertunangannya malam ini, dan Sehun hanya bisa tersenyum menanggapinya. Sehun bukan tipe orang yang banyak berbicara, sehingga ia membiarkan Miju menjawab semua ucapan selamat itu. Setelah menjawab ucapan selamat itu, Sehun dan Miju berjalan ke arah di mana kedua orang tua mereka sedang berdiri.

Percakapan singkat mereka lakukan untuk kesedar berbasa-basi. Tanpa disengaja, pandangan mata Sehun menangkap siluet tubuh dari seseorang yang begitu meresahkannya akhir-akhir ini. Seseorang yang terus memenuhi isi kepalanya. Seseorang yang telah berani-beraninya menggetarkan hatinya yang telah lama beku. Bahkan Sehun pernah beranggapan bahwa dirinya tidak punya hati. Tapi setelah bertemu dengan wanita itu, Sehun baru menyadari jika dirinya juga mempunyai hati seperti manusia pada umumnya.

Walaupun Sehun tidak melihat dengan jelas wajah wanita itu, tapi Sehun tahu jika itu adalah dia. Sehun tidak yakin dengan siapa wanita itu bisa berada di sini, karena laki-laki yang berada di sebelahnya sedang digandeng mesra oleh wanita lain yang memakai gaun warna abu-abu sedikit kehitaman dan tidak kalah cantik dari wanita yang dimaksud Sehun. Lee Sena.

 

~ tbc ~

Maafkan aku yang baru bisa update hari ini. Aku benar-benar tidak memiliki waktu luang. Bahkan untuk menulis satu part ini saja, aku membutuhkan waktu seminggu lebih. Dan maafkan aku jika di part ini kalian banyak menemukan kesalahan-kesalahan dalam penulisanku. Aku tidak punya waktu untuk mengeditnya. Jadi pada akhirnya, setelah selesai menulis langsung aku upload.

Sekali lagi maafkan aku atas keterlambatan ini.

Sampai jumpa dilain kesempatan…

Bye-bye :-*

Regards, Azalea

 

 

 

21 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 17)

  1. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 19) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 18) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Akhirnya ff ini publish juga… ah thor~ melenceng dari ff, tidak kah kau senang melihat Baekhyun dan Jisoo sama” rambut merah sekarang? Wkwkwk oke abaikan ini ga penting..

    Anyway, lumayan kecewa soalnya kok ini ff kurang moment BaekSoo *loh kok kek BakSo?. Author be like : Heh lu pikir lu siapa?!

    Iyaaaa kurang greget wkwkwk abis itu kurang panjang ceritanya haha *minta diguyur bibir tipis baekhyun nih orang.
    Tapi thanks banget masih terus ngelanjutin ini cerita thor, mana nambah satu benalu lagi duuuuh
    Kapan BaekSoo enaena lagi coba? *Akhmm maaf.

    Oh iya, thor.. sejujurnya gua sangking terbuainya sama nih pairing sampe” gua cari ff lain ttg mereka. n then, gua nemu wattpad mu thor… dan baca ff ‘four leaf clover’ sumpah itu greget banget. Dan sekarang gua minta kelanjutannya ya thor…

    Tetep semangat nulis nya ><
    Fightiiiing!!!

    Well, itu tag udah pake tag BlackPink ululu~ senangnya/? Paan sih gua ?

    Bye thor~ I will always waiting your ff😉

  4. Kapan sena bakal bicarain soal anaknya..
    Yaampun sehun dan sena nantinya bakal jadi saudara ipar dong wkwk
    Aihhh kenapa tiba tiba muncul shannon william? Perusak nihhhh
    Harus dimusnahkann

  5. Pihak ketiga udah mulai brmnculan,,, qu gk snggup liat Baek n Sena bkal trpisah lg hiks hiks hiks….
    Gk disangka Ayah Sena kejem bgt ama anaknya sndri,,, dan pura2 tdk mngnal anaknya sndri,,,ayah mcm apa itu,,, untung ada Baekhyun yg sllu mndmpingi…

  6. Ya ampun bakal ada lagi nih gencatan senjata dengan antara sehun-baekhyun dannnn miju-sena-shanon..
    Wow bakalan seru nih… tpi Azalea sena-baek jgn di pisahkan ya yah walau badai menghadang mereka gitu..😂

  7. Jadi miju itu saudara tiri sena??
    Kalo sampai miju tau sehun suka ama sena pasti dia bakal jahatin sena. Btw, itu muncul pengacau lagi buat hubungan baekhyun – sena….

  8. Huaaaaaa…
    Gg rela BANGET!!!! kalo baekhyun-sena pisah lagi
    Cukup sudah yang kematrn maren mereka long distance…
    Ya author ya…
    Ya
    Ya
    Ya
    Ya😦😦😦😦😦🙏🙏🙏🙏🙏🙏

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s