[EXOFFI FREELENCE] Proposal Married (Chapter 7)

proposal-merried

PROPOSALMARRIED
Chapter 7

Author        : Rhifaery

Main Cast    :  Sehun EXO  and Irene Red Velved

Genre        : Romance, Comedy, After married!^^

Rate        : NC 17

Warning    : Please join to my blog Rhifaeryworld.wordpress.com

Desclimer    : All of the story based on my imagine ^^

Sehun POV

    Pada akhirnya semua terjadi begitu cepat bagiku. Sebuah kebahagiaan yang kurasa akan kekal kini tiba-tiba harus berakhir dalam hitungan. Begitu cepat hingga aku tak tahu harus melakukan apa untuknya. Irene yang sekarang sedang terbaring di sebuah kamar rumah sakit. Begitu lemah, entah karena kebohongan yang selama ini disembunyikan atau sengaja ia hilangkan. Aku bahkan tak tahu lagi bagaimana caraku berbuat, bagaimana caraku menatap sedangkan setiap dari lekuk wajahnya mengandung kesakitan. Bagaimana caraku menyentuh sedangkan setiap inci dari kulitnya adalah duri bagiku. Atau sekedar berujar “kau istriku” tanpa pernah ku melihat masa lalunya yang benar-benar menyiksaku.

    Dia mulai mengerjap disaat aku sedikit menjauh darinya. Baru saja dokter mengatakan bahwa dia terserang anemia biasa dan akan sembuh dengan istirahat yang cukup. Aku benar-benar bersyukur dia tidak apa-apa karena sungguh rasanya akan sangat menyakitkan jika dua orang yang kau cintai sekalis meninggalkanmu.

    “Kau baik-baik saja?” Hanya itu kata-kata yang dapat kuucapkan. Sebatas rasa kekhawatiran pada seseorang yang baru saja kubuat pingsan.

    “Sehuunn…-“ Belum apa-apa dia sudah meneteskan air mata. Rupanya secepat itu dia menyadari bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. “Aku bukan pembunuhnya…” Sambungnya.

    Tangannya erat mencengkramku seolah-olah tak mau kutinggalkan. Apa yang kukatakan tadi tentunya sangat keterlaluan hingga membuatnya sangat ketakutan. Tanganku terulur memeluknya sekedar memberikan ketenangan, “Minhae, akan kupanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu lagi.”

    “Tidak. Tolong jangan pergi.” Katanya yang benar-benar mencegahku, “Akan kujelaskan apapun tapi ku mohon kau jangan pergi.”

    Sedikit ragu namun akhirnya aku mengangguk. Kutarik sedikit kursi ke arahnya agar aku bisa mendengarnya jelas bagaimana kebenarannya.

    Irene menarik nafas sekaligus mengusap air matanya dengan tangannya sendiri, “Aku dan Jaehyun memang sudah berpacaran selama 4 tahun. Itu terjadi tanpa sepengetahuan siapapun tidak juga kau tidak juga keluargamu.” Ujarnya perlahan.

    “Katakan padaku, apa sebelumnya kau sudah mengenalku?”

    “Jaehyun banyak cerita kalau dia mempunyai seorang adik yang sangat disayanginya. Dia selalu ingin memperkenalkanku pada keluarganya tapi aku menolak karena merasa belum waktunya. Saat pertama engkau masuk ke agensi yang sama denganku, saat itu pula aku mengenalmu.”

    Seolah dipaksa mengingat kenangan lalu. Dulu Irene lah yang pertama masuk ke agensi itu walaupun debutku lebih dulu darinya. Aku sempat mengingat bagaimana pertama melihatnya. Dia cantik dengan senyum yang menawan. Dan sejujurnya saat pertama kali itulah aku sudah jatuh cinta padanya.

    “Malam itu, aku dan Jaehyun bertengkar hebat. Dia memaksaku untuk menikah tapi bukankah kau tahu, aku akan melakukan debutku sebagai artis dan tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Jaehyun mengancam akan mengakhiri hubungan ini jika aku tak mau menurutinya. Namun aku bisa apa? Aku meninggalkannya malam itu hingga suatu pagi berita buruk itu tiba-tiba menimpaku.”

    Irene memejamkan mata. Mencoba menahan air matanya agar tak kembali jatuh. Bahwasahnya ia sudah lelah menangis. Mengingat kenangan ini saja sudah membuatnya bersedih tak terkecuali aku yang berusaha mengungkitnya kembali.

    “Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?” Pertanyaanku menohoknya. Mengingat bagaimana ia selalu berkilah jika menemukan sesuatu yang berhubungan dengan kakakku.

    “Aku sudah mencobanya Sehun. Sulit. Kau tak akan bisa dipaksa hidup dalam masa lalu sementara masa depan sedang berjalan. Jangan kira aku baik-baik saja setelahnya, aku bersedih, aku kecewa, takut sampai mau gila rasanya. Dan beruntungnya eommaku datang menemuiku.  Dia menghibur, terus menerus meyakinkanku bahwa sebenarnya aku bukan…-

    “Eomma tahu?”

    “Dia tahu. Beberapa hari semenjak pemakamannya dia menemuiku dengan perasaan  sama  menyesal juga bersalahnya. Dia memohon padaku agar kiranya diberi kesempatan kedua dengan menikahkan kau dan aku.”

    Kutatap Irene hampir tak percaya. Begitukah alasannya? Satu demi satu bukti akhirnya terkuak. Satu pertanyaan terjawab sudah.

    “Seandainya saja, jika aku bisa menyebut kejadian ini sebagai rasa syukur, aku ingin mensyukuri dua hal. Pertama ada orang-orang disekitarku yang senantiasa menghibur dan kedua aku bisa mengenalmu.”

    Aku tersenyum sinis. Sebuah pengakuan itu akhirnya muncul juga. “ Begitukah? Jadi kau menganggap kematian kakakku sebagai hal yang patut di syukuri?”

    Sedikit terkejut dengan pertanyaanku, “Sehun, apa yang kau katakan, aku tak bermaksud begitu?”

    “Harusnya pertanyaan itulah yang pantas aku tanyakan padamu. Kau menganggap pernikahan kakakku sebagai keberuntungan hingga kau bisa mengenal eomma dan akhirnya menikah denganku. Kau hanya menjadikanku…-

    “Sehun, bukan begitu maksudku.”

    “ Ya benar, karena maksudmu yang sebenarnya adalah kau menikah denganku untuk menepis rasa bersalahmu saja. Sama seperti eomma, kau berharap kesempatan kedua dan menjadikanku sebagai pelam…-

    PLAAAKKK!!!  Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi kiriku, “Cukup Sehun, cukup!” Untuk pertama kalinya dia berani melakukannya. Membuatku semakin tersenyum sinis tanpa peduli dengan air mata buaya yang sangat kuyakini itu akan membuat wajahnya  bengkak.

    Namun seberapa deras tangisannya, seberapa besar kesediannya aku benar-benar tak peduli lagi. Dia berbohong padaku, mengecewakanku, juga membuat luka dalam tanpa pernah kurasakan sebelumnya. Pada kenyataan awal, dia memang tak menyukaiku, lalu untuk apa dia menyetujui pernikahan ini. Hanya untuk melampiaskan rasa bersalahnya? Bagaimana pula dengan rasa kehilanganku pada kakak satu-satunya yang kumiliki di dunia ini.

    Dia masih menangis tanpa mau menatapku, Aku penasaran, seberapa besar kesakitannya mendengar perkataanku atau akulah yang sudah hancur mendengar pengakuannya?

    “Pergilah!” Dia berujar pelan. Mungkin setelah ini dia tak akan mau melihatku lagi, “Kubilang pergi!!!”

    Sebelum teriakan itu berlanjut, segera kulangkahkan kaki untuk pergi dari tempat ini. Dengan mata tertahan juga kesakitan yang semakin tak terbendung lagi. Tuhan, ini benar-benar sakit. Mengapa rasanya sesakit ini? Belum genap kebahagiaan ini berlangsung dan harus berakhir dengan secapat ini.

    Saat tanganku mulai membuka pintu, kudengar Irene menyempatkan diri untuk berkata,  “ Kau menganggap kepergian kakakmu adalah sebuah keberuntungan bagiku bukan, begitu pula kepergianmu kali ini aku berharap itu juga sebuah keberuntungan.”

***

Irene POV

Flashback

28 mei 2010

    Jari-jari kekar itu mengengamku sementara tangan satunya bertengger di bahuku. Begitu nyaman dan menyenangkan saat bersamanya seperti ini. Menyadari inilah kencan pertama kita sejak aku diterima menjadi seorang trainne salah satu agensi ternama, Jaehyun mengajakku untuk berkeliling mall untuk melepas rindu.

    “Apa kau tahu, selama sebulan aku mati-matian menahan diriku tak melihatmu, tapi begitu bertemu kau malah menutupi wajahmu. Apa itu adil?” Celotehnya.

    Aku tersenyum walaupun itu tersamar dikarenakan masker yang menutupi wajahku. Mengingat aku yang saat ini sebagai seorang trainne, aku tidak boleh sembarangan menunjukkan wajahku. Apalagi jika aku bersama seorang pria. Itu akan berpengaruh terhadap image debutku nanti.  

    “Kau sendiri yang bilang, wajahku ini terlalu cantik. Setiap orang yang melihatnya harus membayar.” Ucapku menirukan ucapannya dulu. Dia memang sering mengombal dan mengatakan bahwa wajahku ini bisa dijadikan bahan investasi. Dasar otak bisnis.

    “ Apakah itu berlaku juga untukku?” Katanya semakin mempererat rangkulannya.

    Aku mengangguk. “Ya, tentu saja.”

    “Baiklah, katakan apa sekarang maumu?” Aku memandang sekeliling mencoba mencari-cari sesuatu yang benar-benar kuinginkan. Sedikit matrealistis, aku langsung menunjuk kios ice cream yang menjual ice cream warna-warni. Benar-benar mengugah selerah.

    “Berikan aku ice cream cepat!” Tanpa banyak kata dia langsung beranjak melangkah ke kios. Awalnya ku kira dia hanya membeli satu tapi tangan yang yang satunya memegang ice cream lagi dengan rasa yang lain. Tak berhenti sampai di situ, rupanya dia memborong semua ice cream dengan aneka rasa. Begitu banyak hingga aku tak mampu menampungnya. “Mengapa membeli banyak sekali?” Protesku.

    “Karena aku ingin melihatmu lebih lama, untuk hari ini, esok, lusa atau selamanya walaupun kita sudah di tempat yang tak sama.”

    “Hei…” Aku memekik hingga tanpa sengaja mencolekkan ice cream itu ke mulutnya. “Berhenti berbicara yang tidak-tidak, sekarang bantu aku habiskan ini semua.”

    “Tidak mau. Bukankah aku sudah membayarmu. Itu sudah menjadi urusanmu sendiri.?”

    “Jaehyun…!!” Aku mencubit perutnya keras. Bersamaan itu datang pelayan dengan membawa banyak ice cream lagi untukku. Kutatap Jaehyun dengan perasaan minta tolong tapi dia sudah keburu kabur dengan menahan senyum.

28 september 2010

    “Akkhhh… sakit, Jaehyun-ah, hentikan!!” Teriakku begitu dia memperurut kakiku yang baru cedera dari aksi tari di lantai kemarin. “Jaehyun-ah, cepat hentikan. Ini sakiiitt…!”

    Lantas dia menatapku khawatir, “Ayo kita ke rumah sakit?”

    “Ap-apa? Tidak perlu ke sana.” Jawabku cepat.

    “Kalau begitu tidak usah menari!” Ucapannya membuatku terkejut. Aku tahu kebiasaannya, jika begini itu artinya dia akan sangat marah terhadap apa yang kulakukan.Lalu dia akan melarangku menari dan memaksaku keluar dari agency.

    “Aniyo…-

    “Kau tahu betapa khawatirnya aku saat melihatku seperti ini. Kau terluka setiap kali menari dan kurang hati-hati terhadap apa yang kau lakukan. Kau bahkan tidak hanya menyakiti dirimu sendiri namun juga diriku.”Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Memang benar dia sedang marah. Rasa khawatirnya padaku  yang begitu besar mungkin sudah membuatnya hilang kendali.

    “Maaf?” Hanya itu yang bisa kuungkapkan. Ditengah rasa sakit di pergelangan kakiku, aku masih tak berani memandangnya.

    “Lihat aku!”Ucapnya mengarahkan wajahku langsung agar bisa menghadapnya. “Jangan terlalu berjuang untuk menggapai mimpi jika itu menyakiti dirimu sendiri.”

    Kuanggukkan kepalaku pasrah. Sedetik kemudian Jaehyun mencengkram pergelangan kakiku rapat-rapat dan KREEEK!!

    “Appoo sakiiitttt….!!!” Teriakku kesakitan. Kupukul keras tangannya yang hampir saja meremukkan tulangku namun dia malah menatapku tertawa. “Kau kejamm!” Desisku.

    Dia kelihatannya tak peduli lantas mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang sedari tadi dibawahnya. Sebuah boneka anak anjing.

    “Bae Joo-yah, Bae Joo-yah, apa kau kesakitan?” Katanya menirukan suara anak anjing jika sedang bicara. Terlalu lucu hingga membuatku tertawa kecil.

    “Paboya. Bilang pada tuanmu untuk memberikan ice cream yang banyak sebagai ganti rugi!”

    “Aniyo, sekarang tuanku sedang tak punya uang. Sebagai gantinya dia ingin memberikanku padamu.” Perkataannya membuatku tertawa. Baru kali ini seorang Jaehyun mengaku tak punya uang pada wanita.

    “Anak anjing sepertimu itu tidak berguna.”

    “Siapa bilang, aku anak anjing pembawa pesan. Aku sedang membawa pesan dari tuanku.”

    “Oh iya, apa pesannya?”

    “Dia bilang saranghaeyo.”

    Tak bisa kusembunyikan lagi senyum dari ujung bibirku. Dengan cepat kutarik boneka itu ke arahku dan berkata pada Si pembicara anak anjing itu sendiri. “Sampaikan pesan balik padanya, nado saranghaeyo.”

14 April 2012

    “Menikahlah denganku?” Pria itu berlutut menunjukkan cincin berlian putih yang ia tujukan padaku. Begitu tiba-tiba sampai aku tak bisa berpikir mengapa ia melakukan ini tanpa berbicara terlebih dulu padaku.

    “Kau gila!” Tukasku tajam, “Bagaimana aku bisa menerimamu dalam keadaan seperti ini?”

    “Eomma akan menikahkanku dengan orang lain jika kau menolakku.” Ucapannya terdengar risau. Alasan yang benar-benar diluar dugaan.

    “Lalu aku? Apa kau pikir semua impianku, masa depanku itu tidak ada artinya buatmu?”

    “Kita bisa mewujudkannya jika kita bersama-sama.”

    “Tanpa menikah bukankah kita sudah bersama?”

    Emosinya mulai naik, “Mengapa kau sangat keras kepala, aku hanya ingin eomma mengetahui hubungan kita yang kita jalani selama 4 tahun. Tidakkah kau pikir itu lebih baik?”

    “Jaehyun coba pikirkan, jika kita menikah, masyarakat tidak akan menerimaku jika aku sudah menikah. Debutku tidak akan berjalan sesuai rencana dan semua teman-temanku akan kecewa.”

    “Begitukah, jadi kau lebih peduli dengan dirimu sendiri dibanding aku?” Ucapnya sinis tak peduli dengan mataku yang semakin merebak.

    Kuraih tangan itu, tangan yang biasanya kugenggam erat disaat aku merasa butuh, “Jaehyun ada apa denganmu, aku hanya tidak ingin semua hal yang kulakukan sia-sia.”

    Tidak dapat kupercaya dia justru melepaskan tanganku, “Tidak ada yang sia-sia jika kau mau berbagi hidupmu denganku.”

    Dia menatapku sayu. Sama sepertiku matanya juga mulai merebak, “Jaehyun, kumohon…?”

    “Menikalah denganku?” Dia bertanya lagi.

    “Tidak, tolong hentikan?”

    “Menikalah denganku atau segalahnya berakhir?”

    Dreekk! Bukan sekedar paksaan, dia pun kini mulai mengancam. Benarkah ini Oh Jaehyun yang ku kenal? Pria yang di depanku ini, tak peduli dengan air mata yang mengalir deras dengan semua cita-cita yang kubangun sejak awal dan menginginkan segalanya berakhir sia-sia. Katakan apa itu adil? Tuhan bagaimana secepat ini dia berubah?

    “Baiklah, kita berhenti sampai di sini.” Ucapku parau hampir tak terdengar tapi cukup jelas sehingga matanya kini beradu denganku.

    Tak perlu menunggu waktu lama derap langkah kakiku seolah menyuruh agar aku menjauh dari tempat itu. Meninggalkan semua kenangan yang awalnya kubangun dengan rasa cinta kini terpaksa berakhir dengan kesedihan. Pada akhirnya segalanya dimenangkan oleh ego. Ego yang menyuruh seseorang untuk memiliki juga ego pulalah yang menyuruh seseorang untuk mengakhiri.

    Sempat ku melihat Jaehyun berteriak keras, melempar cincin berliannya di jalanan. Karena saat engkau menginginkan sesuatu harusnya ada persiapan untuk kehilangan bukan?

***

    Sehun POV

    Satu bulan kemudian….

    Pintu dorm terbuka paksa kemudian masuklah sosok pria dengan tinggi 173 cm disertai ekspresi yang berbunga-bunga. “Bersiaplah sebentar lagi kita akan melakukan tour album yang ke 3 bertajuk Exoluxion di 33 negara temasuk juga enam negara di Amerika!” Tutur Youngmin Hyung dengan tersenyum lebar. Tidak tepat membahas tour di tengah-tengah waktu istirahat EXO karena bukannya menambah semangat justru membuat para Hyung-hyungku semakin letih.

    “Bukankah kemarin kita baru saja tour ke Jepang?” Xiumin Hyung angkat bicara.

    “Perlu ku garis bawahi sebenarnya itu bukan tour melainkan konser comeback kalian yang dilaksanakan di Jepang.”

    “Apa bedanya dengan itu, kita tetap saja sama-sama bernyanyi bukan? Tidak bisakah kita melakukan comeback saja tanpa melakukan tour? Gerutu Jongin.

    “Tentu saja bisa.” Ucapnya cepat yang langsung disambut senyuman oleh Jongin, “Asal kau bukan bagian dari personel EXO lagi!” Ekspresi Jongin langsung berubah.

    “Kalian tahu, ini akan menjadi tour yang berbeda dengan tour kita sebelumnya. Bukan hanya kita akan menginjakkan kaki di negeri adikuasa melainkan ini akan menjadi tour dari show terbanyak kita bahkan memecahkan rekor dari boyband lain yang ada di dunia….-

    Tak peduli dengan semua seruan Youngmin Hyung, aku malah sibuk mengamati tingkah Hyung-hyungku. Chanyeol Hyung yang sibuk dengan I-phonenya, Baekhyun Hyung yang sibuk dengan barbelnya, Jongin dengan gamenya, hanya D.O dan Suho Hyung saja yang tetap setia mendengarkan celotehannya.

    “Aku benar-benar malas melakukannya. Tak bisakah kau memanipulasi berita bahwa aku cedera atau apalah agar aku tak perlu mengikuti tour itu?” Ungkap Lay Hyung.

    “Aku juga akan menerima tawaran main film saja agar aku tidak perlu mengikuti tour itu juga.” Timpal Baekhyun.

    “Aku juga…-

    “Dan aku bisa saja merusak hubungan kalian dengan kekasih kalian masing-masing jika saja itu mengganggu aktifitas kalian di EXO arraseo?” Potong Youngmin Hyung yang sukses membuat semua member melotot.

    Lay Hyung seketika berdiri, “Kenapa seperti itu, bukankah sebelumnya kita sudah sepakat tidak mencampuri urusan asmara dalam kontrak kerja kita?” Cercanya yang mungkin teringat pada kekasihnya di Tingkok yang dulu pernah diceritakan padaku.

    “Nde, kesepakatan itulah yang dinamakan keprefesionalitas. Tidak ada tour tidak ada kekasih!” Tukasnya final. Youngmin memang begitu, dia tak pernah main-main dengan kata-katanya. Jika benar salah satu member terbukti melalaikan pekerjaan demi sang kekasih dia tak segan-segan menghancurkan hubungannya itu.

    “Jadi berapa lama tour ini berlangsung?”

    “Tiga bulan?”

    “MWO??? Ini terlalu lama Hyung, gadis itu pasti akan merindukanku jika kutinggal begitu lama?” Baekhyun Hyung mulai berujar.

    “Gadis siapa yang kau maksud, bukankah kau sudah putus?” Ujar Youngmin Hyung tanpa mau menyebut Taeyeon sunbae.

    “Appa dan Eomma ku pasti khawatir jika kutinggal begitu lama?” Gilaran Jongdae Hyung yang berkata.

    “Kau bisa mengiriminya olah-oleh seperti biasa.”

    “Mmonggu, Jjangah, and Jjanggu, mereka juga akan merindukanku Hyung?”

    “Lupakan anjing-anjing sialanmu itu Kim Jongin?” Katanya yang mulai frustasi. Sedikit senyum tersungging dari bibirku menyadari ekspresinya yang tidak seperti biasa. Di saat yang tepat mataku pun bertatapan dengan matanya hingga membuat dia melanjutkan pembicaraannya.

    “Tak bisakah kalian mengatakan ya? Llihatlah Sehun dia langsung menyetujui tour  ini tanpa banyak kata-kata sementara dia sudah punya istri di rumah.”

    “Mwo? Jadi kau benar-benar menyetujuinya Sehun-ah?”

    Benar-benar sialan, kini akulah yang malah menjadi pusat perhatian dari Hyung-hyungku. Aku diam karena aku memang malas bicara hari ini. Karena bagiku berurusan dengan Youngmin hyung tak ubahnya berurusan dengan pil pahit. Enak tak enak kau harus tetap menelannya.

    “Katakan padaku, apa kau benar-benar menyetujuinya?” Tanya Baekhyun Hyung lagi. Tak cukup bertanya jarak jauh dia malah beranjak mendekat di sampingku.

    “Ya, aku menyutujinya….” Kataku pada akhirnya. Dari sisi kiri kulihat bahwa Hyungmin Hyung mengangkat tangan tanda kemenangan.

    “Hey, apa kau gila?” Kau tega membiarkan Irene menjanda selama 3 bulan?”

    Apa-apaan yang dikatakan Byunbaek ini, “Aku kira dia bisa mengatasinya?”

    “Mengatasi bagimana, ini luar negeri beda urusannya jika kau hanya bepergian ke luar kota?” Suho Hyung menimpali. Begitu khawatirnya dia terhadap Irene sampai-sampai dia ikut sok-sokan menceramahiku.

    “Sehunah, kau benar-benar bodoh yah?”

    “Kau tahu, kau benar-benar lelaki tak bertanggung jawab.” Begitu banyak cercaan yang aku terima hingga membuat kakiku lantas berdiri.

    “Bukankah dari awal kita memang seperti itu? Konser, tour, phoshoot, shooting, comeback, rekaman bukankah itu bagian dari runtinitas kita sehari-hari? Lalu untuk apa kalian masih mempertanyakan jika dari awal tujuan kita adalah sama. Harusnya kalian tidak perlu berpikir panjang tak memperioritaskan pada hal yang tidak terlalu penting!” Tukasku cepat. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kulontarkan selama ini. Sudah cukup, aku tak tahan lagi mendengar semua cercaannya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ditengah kebisuan yang terjadi, Youngmin Hyung tiba-tiba berteriak heboh.

    “Bingo Oh Sehun, Bingo! Kalian lihat bahkan maknae kalian saja bisa berpikir sedewasa ini. Cepatlah kembali pada niat awal kalian, untuk apa kalian menjadi member EXO jika tidak mau melakukan tour, benar kan Oh Sehun hahaha??” Katanya merangkulku sedikit berbisik kepadaku, “Gomawo, kau menyelamatkanku malam ini.”

    Tak perlu menunggu lama atas perdebatan yang terjadi, aku segera melangkahkan kaki ke dalam, menuju ruang tengah dan kembali peda runtinitas kesendirianku. Tentu ada yang berbeda dengan hari ini. Sejak memutuskan meninggalkan Irene di rumah sakit, aku sama sekali tak pernah pulang ke rumah. Baik ke rumah pribadi kita atau rumah orang tuaku. Alasannya satu, kecewa. Begitu besar kekecewaan yang kurasakan sampai menghubunginya akupun tak pernah.

    Kerinduan yang bergemuruh ternyata belum cukup untuk mengambarkan rasa sakit yang dia lakukan padaku. Apalagi yang perlu dipertanyakan, dia menikah denganku bukan karena cinta. Jika kutahu begini akhirnya, hubungan ini seharusnya tak pernah terjadi bukan?

    “Ini minumlah.” Chanyeol Hyung tiba-tiba datang membawakan satu kaleng soda yang diserahkan kepadaku. Bersamaan itu Baekhyun Hyung datang bersama Jongin datang, duduk-duduk di tempat yang tak jauh denganku. Ya, bisa ku mengerti Hyung sialan itu mencoba ingin tahu perihal apa yang terjadi. Lebih tepatnya dia ingin menguping apa yang nantinya kubicarakan pada Chanyeol.

    “Kau sedang ada masalah dengannya?”

    BYUUURR!!! Tanpa sengaja soda yang kuminum tumpah mengenai wajah Chanyeol Hyung. “Uhukk uhuuk, minhae Hyung, aku tak sengaja?”

    Bukannya marah, Chanyeol Hyung malah mengambil tissue untuk mengelap wajahnya dari semburanku. “Jadi benar dugaanku? Kau tidak mungkin sebeta itu tinggal di dorm, kau tak pernah pulang bahkan tak pernah kulihat kau menghubungi istrimu untuk menanyakan kabarnya.”

    Pertanyaan yang tak terbantah. Sebulan berada di dorm rupanya sudah menimbulkan kecurigaan untuknya. Aku hanya terdiam. Masih belum mampu menjawab apapun.

    “Sehun-ah, cobalah bersikap dewasa. Kau tak boleh memperlakukan nya seperti ini. Dia itu istrimu.”

    Ya benar, istri macam apa yang tega membohongi suaminya begitu lama hingga suaminya itu mengetahui kebohongannya dari mulut orang lain. Istri macam apa yang membuat suaminya menjadi orang bodoh sampai tidak sadar akan kesaksian masa lalu yang benar-benar membuatnya  terluka.

    “Segera berlarilah ke rumah dan meminta maaf. Aku tahu kau sangat mencintainya dan tidak akan betah berlama-lama seperti ini.”

    Benar, aku sangat-sangat mencitainya. Bahkan mati pun kurasa lebih baik daripada menjalani hidup seperti ini.  Tapi akankah masalah itu terselesaikan dengan begitu muda? Bagaimana caraku berdamai dengan masa lalunya?

    “Sehun-ah, ini jadwalmu besok. Tetap jagalah kondisi fisikmu, aku tidak mau kau kolaps nantidan ckkk, aku berhutang padamu tadi?” Ujar Youngmin Hyung yang tiba-tiba datang mendekatiku, memberikan sebuah scrip yang berisikan jadwalku besok.

    Belum sempat ku membaca, Chanyeol Hyung langsung merebut scrip itu dan membacanya intensif. “Apa ini, photoshoot, making film, syuting CV…?”

    “Kembalikan Hyung!”

    “Kau benar-benar ingin menjauhinya?”

    “Bagaimana jika iya?” Mata kami bertatapan. Sedikit ketidakpercayaan tergambar dari sorot matanya. Benar-benar tak percaya jika aku bisa mengatakan itu.

    Sehun-ah, ada apa denganmu, tidak biasanya kau bertindak seperti ini. Apa kau sadar, kau baru saja melakukan kesalahan fatal!”

    “Kadang apa yang orang lain pikir salah bisa jadi  hal baik yang dilakukan hyung.”

    “Lalu apa kau pikir ini baik, kau sudah berkeluarga sekarang. Kau bukan lagi remaja seperti dulu. Ada orang yang mengkhawatirkanmu di rumah dan kau benar-benar merasa tak peduli padanya apa ini yang kau maksud dengan kebaik…-

    “KAU TAK TAHU APA-APA HYUNG!!!” Kataku membentak. Begitu kerasnya bentakanku sampai para member lain pun beranjak masuk sekedar ingin tahu yang terjadi.

    “Hey, Oh Sehun, Park Chanyeol hentikan…” Baekhyun Hyung beringsut mendekat memisahkan kami berdua. Kontak mata kami belum bisa terputus dan mungkin itulah yang membuatnya khawatir perdebatan ini akan berujung pada perkelahian seperti sebelumnya.

    “Hey, Park Chanyeol, lihatlah tante Yuan Shan shan menelponmu, mungkin dia ingin membahas tentang film terbarumu itu….” Bualnya yang langsung mengambil ponsel Park Chanyeol begitu ponsel itu berbunyi. Mungkin dikiranya aku tak tahu, itu adalah telepon dari eonnienya. Dia sengaja membual untuk memisahkan kita.

    “Kau tahu, tidak ada yang benar-benar meninggalkanmu disini karena yang sebenarnya adalah kau sedang belajar untuk meinggalkan dirimu sendiri.” Timpal Chanyeol Hyung sebelum dia meyakini bualan Baekhyun memang benar.

***

Irene POV   

    Ting Tong! Bel pintu berbunyi. Dengan setengah sadar, masih menggunakan piyama dengan rambut acak-acakan aku keluar dari pintu kamar menuju keluar. “Kalian?? Kenapa kesini?” Kataku begitu melihat para member Red Velved yang sudah berbaris rapi. Baik Seulgi, Wendy, Joy dan Yeri, mereka sudah berpakaian indah dengan menenteng beberapa tas berisikan makanan.

    “Kau ini kenapa sih Eonnie, kita kan datang untuk main ke rumahmu, harusnya kau menyambut kami dengan penuh suka cita.” Protes Yeri yang rupanya sekarang ini sudah pandai bicara.

    Kemudian tanpa permisi mereka pun sudah masuk ke dalam dan sedikit ehm sebenarnya sangat terkejut dengan kondisi rumahku yang sangat berantakan. “Aku sedang malas membersihkannya, jadi nikmatilah seadanya.” Tukasku sebelum kuterima protes dari mereka. Sedikit tertawa kuperhatikan ekspresi shock masing-masing dari mereka. Seulgi yang ogah-ogahan duduk di sofa sementara Yeri merengek-rengek agar mereka kembali ke dorm saja. Hanya Wendy yang paling inovatif, dia menjumputi sampah makanan yang tersisah dan membersikahnnya menggunakan vacum cleaner.

    “Inikah yang kau katakan sibuk di rumah, sehingga setiap selesai kegiatan kau langsung pulang cepat?” Tanya Joy yang membantu Wendy merapikan ruangan hingga kini ruangan itu bisa didiami manusia.

    “Aku memang sibuk, kau tahu?”

    “Sibuk bersama Sehun maksudmu?” Pertanyaan  Yeri menohokku. Sudah kubilang dia memang pandai bicara sekarang.

    “Oh yah, kemana Sehun Oppa, aku tidak melihatnya di sini? Semakin menohok sambungan dari Joy. Tentu aku tak bisa menjelaskan masalahnya secara gamblang kepada mereka.

    “Dia ada urusan, kau tahu kan, EXO sibuk berat akhir-akhir ini.” Jawabku seperti biasa. Namun lagi-lagi ungkapan itu tidak diterima oleh mereka.

    “Harusnya dia bisa meluangkan sedikit waktunya untukmu, sama seperti dirimu yang selalu meluangkan waktu untuknya, benar bukan?” Seulgi menimpali memulai obrolan yang tidak penting yang benar-benar malas untuk kubahas.

    Kuputuskan untuk tidak menggubris pertanyaannya itu dan beralih ke belakang untuk mengambilkan mereka minuman. Namun sejenak langkahku pun terhenti takkala mendengar ujaran dari Joy. “Tapi benar juga, EXO memang sibuk berat akhir-akhir ini. Kudengar sebentar lagi EXO akan melakukan tour  selama 3 bulan?”

    “Ap-apa?”

    “Ya, aku tahu dari Chanyeol Oppa. Dia belum memberi tahumu?” Ganti dia yang bertanya padaku.

    “Belum, sama sekali belum….”

    “Benar-benar tega, padahal tournya dilaksanakan minggu depan?”

    “Minggu depan?”

    “Kudengar sih begitu, Ah Eonnie, kenapa kau tidak tahu apapun sih dia kan suamimu??”

    Suami? Aku tak pernah mendengar istilah itu lagi sejak saat ini. Benarkah dia suamiku jika masalah seperti ini tidak memberi tahu padaku. Sehun… mengapa dia melakukan ini terhadapku.

    “Tenanglah, mungkin Sehun sengaja menyembunyikannya darimu dan memilih waktu yang cocok untuk mengatakannya.” Ujar Wendy yang sepertinya sudah menyadari perubahan dari ekspresiku.

    Aku memalingkan muka dan secepatnya aku berlari menuju balkon rumah untuk menyembunyikan tangisku yang semakin tak terbendung. Oh Sehun… Katakan padaku mengapa dia tega sekali memperlakukanku seperti ini. Apa aku benar-benar tak berarti lagi dimatanya? Apakah aku benar-benar tak dianggapnya ada? Tuhan kapankah ini berakhir?

    “Ada apa Irene…?” Tangan lembut Wendy menyentuh bahuku menanyakan perihal keadaanku. Bukan pertama kalinya dia melihatku menangis hebat seperti sekarang. Dulu pada saat kepergiannya dialah satu-satunya yang jadi sandaranku hingga aku bisa melewatinya.

    “Dia… dia sudah mengetahuinya.” Kataku terputus masih berusaha menahan air mata agar tidak tumpah. Bahwa sesungguhnya aku lelah menangis. Aku lelah menangisi dia yang tidak pernah mengerti. “Dia menyangkah aku menikah  dengannya hanya karena rasa bersalah. Kau tahu kan, aku tak sepicik itu.?”

    Wendy menatapku penuh seksama. Kuceritakan kepadanya semua yang terjadi antara aku dan Sehun. Tentang kemarahannya dan kekecewaannya. Namun satu dari semua itu yang sangat menyakitiku adalah saat dia menganggap pernikahan ini hanya sebagai bentuk pelampiasan saja.

    “Sudalah, dia tak benar-benar meninggalkanmu Irene-yah, dia juga mencintaimu sama seperti kau mencintainya.” Hiburnya kepadaku. Aku tak yakin dengan kalimat itu, karena yang kutakutkan adalah jika rasa itu berubah menjadi benci.

    “Dia… menyakitiku…?” Kataku ragu.

    “Dia butuh waktu. Sebulan tentu tidaklah cukup untuk berdamai dengan masa lalumu. Kau tetaplah rumah baginya. Jalan pulang itu ada padamu.” Perkataan itu agaknya sedikit menghiburku. Kutatap Wendy dengan harapan apa yang dia katakan benar adanya.

    “Wendy-ah, aku tidak tahu apakah aku bisa hidup tanpanya.”

***

Sehun POV

    Dua puluh menit setelah show berakhir, aku bergegas meninggalkan stasiun TV dan menuju dorm. Payah memang, disaat semua member istirahat untuk persiapan tour, aku malah menyibukkan diri dengan tampil di acara televisi sana-sini. Tiga hari terakhirku untuk menghirup udara kota Seoul terampas sudah. Sekalipun aku masih ingin disini lebih lama.

    Ponselku tiba-tiba berdering. Sempat kuberharap itu adalah telepon dari seseorang yang kuharapkan, ternyata tidak. “Yoboseo?”

    “Oppa, bisakah kau menemaniku jalan-jalan, aku sedang ada di Korea sekarang?” Suara khas Naomi bergemuruh. Entah mengapa dia tak pernah berhenti menggangguku.

“Aku capek, baru saja selesai show tadi.” Jawabku jujur.

“Satu jam saja Oppa, kumohon…?”

“Tidak bisa, setelah ini aku ada siaran di radio.”

“Kau bohong, aku baru saja mengecek jadwalmu dan kau masih ada waktu luang hingga jam lima nanti.”

Aisshh… menyebalkan, harusnya dia tak boleh melakukan itu. Kelak aku akan menyuruh manajer Hyung untuk memprivate jadwalku. “Baiklah, janji hanya satu jam.”

    Sorakan kegembiraan langsung terdengar dari mulutnya. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku tiba-tiba menerima ajakannya, “Gomawo Oppa, aku tunggu di tempat biasa kita.”

    Telepon ditutup. Dengan malas, akupun mengambil kembali mantel kemudian menarik pintu keluar. Bersamaan itu datanglah Jongin dan Chanyeol Hyung yang berlawanan masuk ke dalam.

    “Kau mau kemana?” Chanyeol Hyung menatapku tajam. Sepertinya dia telah curigaatas apa yang akan kulakukan.

    “Hanya ada sedikit urusan.” Jawabku singkat. Namun seketika tangannya menahanku untuk tidak melangkah terlalu jauh.

    “Jangan bertindak ceroboh Oh Sehun….”

    Kupaksakan senyum tulus layaknya seorang adik pada kakaknya. “Aku tahu apa yang kulakukan Hyung, jangan khawatir.”

    Tak peduli dengan rasa kekecewaan yang tersirat di wajahnya, aku mempercepat langkahku agar lekas menuju mobil kemudian mengendarainya ke tempat tujuan. Dari balik kaca, kulihat Naomi sudah menunggu. Memakai dress berwarna peach juga mantel tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Sekali lagi, aku meyakinkan diri bahwa tindakanku ini tidaklah salah. Pergi menemui teman adalah hal wajar sekalipun teman itu pernah ada di masa laluku.

    “Aku tahu kau pasti datang.” Senyum di bibir Naomi merekah saat melihatku keluar dari mobil.

    “Ada apa?” Tanpa memberi aba-aba, gadis itu langsung menarikku masuk ke sebuah toko kecil yang menjual aneka kue. Tempat yang tak asing lagi bagiku. Karena di tempat inilah masa lalu itu terpaut.

Flashback

    Seseorang itu menarikku dengan cepat. Ah tidak, lebih tepatnya dia memaksaku untuk masuk ke sebuah toko roti kecil. Tak ada waktu untuk berontak, dengan celemek dan juga topi koki yang ia berikan padaku, rasanya aku berubah menjadi orang paling tolol sedunia.

    “Kau tahu, jika kau ingin memberikan sesuatu untuk menyenangkan seorang wanita maka berilah hatimu terlebih dulu untuknya.” Ujarnya lalu menyerehkan beberapa adonan, tepung juga bahan membuat kue lainnya di mejaku.

    Bukan tak tahu lagi, Taejun Hyung melakukan semua ini karena menolak uangnya aku pinjam yang nantinya akan kupergunakan membeli kado untuk Naomi sebagai hadiah ulang tahunnya.

    “Hyung, aku ini calon idol, tidak mungkin aku menyentuh alat-alat semacam ini.” Protesku sekali lagi menegaskan aku adalah seorang trainne.

    “Kyungsoo Hyungmu itu juga calon idol. Dan dia bahkan memasak makanan setiap hari untukku.”Mataku membulat seketika. Kyungsoo itu eomma keduaku, bukan Hyungku.

    “Ayolah Hyung, apa salahnya meminjamkan sedikit uangmu untukku. Akan kuganti jika aku menerima gaji pertamaku.”

    “Debutmu saja belum ditentukan, mana mungkin aku percaya padamu.” Bantahnya. Diserahkannya sebuah adonan untuk persiapan membuat kue. Setengah emosi aku pun memasukkan semua tepung tepung di dalamnya dan Jaehyun Hyung menguranginya. Kutuangkan gula sebanyak mungkin di dalamnya, tapi lagi-lagi Jaehyun Hyung menguranginya. Hingga kupecahkan semua telur yang ada di dalamnya, itu sedikit membuat Jaehyun tersenyum namun lantas memecahkan satu telur dengan kepalaku.

    Aktifitas membuat kue yang kupikir sangat menjenuhkan ternyata tak seburuk itu. Semakin lama, akupun semakin menikmati kegiatan ini. Tak lagi bermain seperti tadi melainkan memasukkan semua bahan dengan takaran sempurna. Hingga jadilah sebuah rainbow cake, kue berwarna-warni namun dengan satu rasa yang elegan. Rasa cinta.

    “Kau lihat, kuemu sudah jadi. Berikan pada Naomi dia pasti sangat menyukainya dibanding kado mahalmu yang akan cepat dilupakan itu.” Komentarnya.

    Aku mengangguk puas, sambil meletakkan kue itu ke dalam kardus.”Tapi ngomong-ngomong mengapa kita membuat dua kue, bukankah kita hanya membutuhkan satu?”

    Jaehyun lantas tersenyum sendiri. Ya, tak perlu berpikir panjang aku sudah tahu apa makna dibalik senyumannya itu, “Kau pasti diam-diam memiliki kekasih. Cepet tunjukan padaku. Perempuan sial mana yang sudah kau sukai itu.”

    “Kau pikir aku pembawa sial,” Katanya memukulku dengan spatula. “Kelak jika sudah waktunya aku akan memperkenalkan padamu.”

    “Apa eomma tahu?” Tanyaku sedikit khawatir. Eomma bukan tipe orang yang mudah menerima sesuatu, terlebih jika itu adalah orang yang dicintai anaknya. Harus dilihat dari latar belakang maupun kesehariannya.

    “Ya, aku sedang mempertimbangkannya.”

    “Kalau begitu berikan dompetmu, aku ingin melihat fotonya.” Rasa penasaran itu tiba-tiba muncul.

    “Tidak. Dia sangat cantik, aku khawatir jika kau akan suka padanya.”

    “Kau bercanda Hyung, jelas wanita itulah yang akan meninggalkanmu jika kau perkenalkan padaku, aku kan lebih tampan darimu.”

    “Jika itu kau, mungkin aku bisa menerimanya?”

    “Apa?”

Flashback end

    “Oppa… kau baik-baik saja.” Naomi mengayun-ayunkan tangannya ke wajahku. Membuatku cepat-cepat tersadar dari lamunan singkat masa laluku. “Sudahlah Oppa, aku tahu apa yang kau pikirkan.”

    Dia berjalan mendekati konter memakai celemek untuk dirinya sekaligus memakaikannya untukku. “Jaehyun Oppa bilang, dulu pernah membuatkanku kue disini. Dan sekarang ganti aku yang akan membuatkan sebuah kue untukmu.”

    Aku sama sekali tak berkutik. Hanya melihat Naomi yang sekarang sibuk menyiapkan adonan dengan intruksi seorang koki. Memang benar bahwa dulu aku pernah membuatkannya kue namun selepas itu dia telah pergi ke Jepang tanpa pamit ataupun mengucap selamat tinggal padaku. Dan sekarang, saat dia sudah kembali untuk memperbaikinya, aku rasa dia terlambat.

    “Oppa kemarilah, bantu aku memecahkan telurnya.” Panggilnya padaku. Naomi yang gigih. Sekalipun berulang kali kutunjukkan ekspresi ketidak nyamananku untuknya dia selalu berusaha membuat suasana seolah-olah menyenangkan.

    Maka ada saat-saat dimana aku melupakan segalanya. Semua masa lalu itu, kesedihan itu juga rasa sakit yang tak pernah enyah. Untuk saat ini, aku sedikit melupakannya. Hanya saja dengan sangat menyesal Naomi lah orang yang membawa saat-saat itu kembali. Senyumnya kembali mereka saat melihatku akhirnya mau mengaduk adonan. Dengan sedikit sifat jahil, dioleskannya adoanan tepung itu mengenai pipiku. Tak tinggal diam, aku pun membalas perbuatannya dengan mengoleskan itu pada hidungnya. Begitu lucu hingga memunculkan gelak tawa diantara kita

    Hanya saja aku tidak cepat sadar ada dua pasang mata yang manatap ke arahku dari jarak yang begitu dekat. Satu pasang mata menunjukkan rasa kebencian yang teramat sangat sementara satunya lagi menunjukkan kesedehian hingga keluar air mata. Sepasang mata yang begitu kukenal.

    Mata Irene….

    Segera kuhentikan aktifitas itu dan menatap Irene barang sejenak. Lagi-lagi semua perasaan itu menggumpal jadi satu. Sedih, senang, benci atau bahkan cinta. Aku ingin berkata namun lidahku keluh untuk sekedar berucap.

    Tak menunggu beberapa lama lagi, Irene segera melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu. Bahkan untuk sekedar mengejarnya kakinya terasa keluh. Wendy yang kutebak sangat marah berjalan mendekat ke arahku. Membisikkan satu kalimat yang membuatku membenci diriku sendiri.

    “Sehun, kau brengsek!”

***

    Dari balik jendela balkon, lampu kamar itu masih menyalah. Pertanda bahwa seseorang itu belum tidur atau bahkan tidak mampu tidur. Begitu berat hari-hari yang kita jalani. Aku yang terkapar tak berdaya hanya bisa memandangnya dari jauh. Dari tempat yang bahkan tak terjangkau dari pandangan kecilnya.

    Bodoh memang, dihadapan rumahku sendiri aku sama sekali tak berani memasuki apalagi menemui istri yang baru saja kusakiti. Apakah dia masih menangis? Ya tentu saja iya. Irene bukanlah orang yang mudah melupakan kesedihannya. Dan lagi-lagi bodohnya aku menjadi orang yang tak mampu memeluknya, tak mampu menenagkannya akibat dari keegoisanku yang tak bisa berdamai dengan hatiku.

    Apa waktu memang sekejam ini. Butuh berapa lagi untukku menerima. Aku bahkan tak mampu melihat wajahnya tanpa melihat Jaehyun Hyung di dalamnya.  Sementara besok aku harus berangkat ke Amerika untuk melakukan tour.

    Tuhan… mengapa rasanya serumit ini, bahkan tangispun rasanya tak cukup menyelesaikan semuanya. Haruskah segalahnya berakhir begitu cepat?

***

    Irene POV

    “Wendy-yah, sudah malam. Pulanglah!” Kataku lirih. Terhitung sejak tiga jamyang lalu Wendy menemaniku menangis. Menumpahkan seluruh kesedihan juga kepedihan yang kurasakan. Mungkin jika hari itu aku tidak menuruti kata hati untuk kembali datang ke tempat itu, aku tidak perlu melihatnya disana. Namun yang terjadi justru keberadaannya bersama wanita lain dan tertawa bersama.

    “Aku akan pulang jika kau sudah tidak menangis.” Ucapnya mendekat ke arahku.

    Memang tak semudah itu menghapus air mata yang terlanjur keluar. Apa dosaku begitu besar hingga memperlakukanku seperti ini? Tuhan, aku tahu aku salah tapi apa semua kesalahanku harus kubayar dengan ini. Kehilangan orang yang kucintai untuk kedua kalinya. Tuhan, aku tak sanggup. Tolong hentikan.

    “Lihatlah, kau menangis lagi. Dengarkan aku Irene-yah, tidak ada yang perlu ditangisi dari ini semua. Kau tidak harus mengeluarkan air mata pada orang yang sama sekali tak peduli padamu.”

    “Tapi aku mencintainya Wendy-yah?” Kataku sedikit tersentak. Memang sangat mudah untuk mengatakannya sekarang walaupun dulu aku sempat ragu apa rasa itu benar-benar ada.

    Jika sudah begitu, kupikir tak ada lagi bagi Wendy untuk melarangku menangis. Menangis untuk orang yang dicintai memanglah hal yang wajar. Tak peduli berapa banyak air mata yang ku keluarkan untuknya, itu adalah sekecil dari rasa cintaku yang kutunjukkan padanya. “Aku mencintainya, kumohon jangan biarkan berakhir secepat ini.” Desahku.

***

Sehun POV

    Pagi harinya sebuah Van dari EXO sudah memasuki area bandara di kawasan Incheon. Bersiap mengantar kepergian para personil EXO menuju negara super power itu. Dari depan Suho Hyung dan Kai berjalan lebih dulu. Disusul Baekhyun dan Xiumin Hyung. Sementara itu D.O Hyung berjalan dengan Sang Manajer sementara aku berjalan sendirian di belakangnya.

    Sedikit langkah ketidak pastian. Haruskah aku benar-benar pergi? Tiga bulan bukanlah waktu yang sedikit untuk dijalani. Aku bahkan belum memberikan kabar kepadanya atau sejenak menanyakan kabarnya apa dia baik-baik saja?

    Ditengah keraguan itu langkahku berhenti. Sekali lagi berpikir apakah aku baru saja melakukan kesalahan? Karena kesalahan kecilpun bisa berpotensi bahwa aku akan kehilangannya.

    “Kau tidak apa-apa?” Chanyeol Hyung menepuk punggungku ringan. Sama seperti diriku dia juga menanyakan perihal keputusanku. “Tidak usah pergi jika itu memberatkan hatimu.”

    Aku menggeleng cepat-cepat. Berusaha menepis berbagai pikiran buruk yang memenuhi otakku. Pada keputusan inilah, aku akan mengambilnya.

    “Kajja, kita pergi.”

***

18 thoughts on “[EXOFFI FREELENCE] Proposal Married (Chapter 7)

  1. sedih mulu ni chapter. stelah semuabya terbongkar gue harap akan ada sdikit cahaya dirumah yltangga mereka.
    fighting thor

  2. Yahhh sehun ko gitu sihhh…dy lebih milih pergi tanpa ngabarin irene.segitu marah nya kah sehun smpe setega itu…kacian eonni

  3. Ahhhh, feelnya bener2 kerasa bgt thor😢 sehun bener2 ego bgtttt. Irene jg kasian, chapter dpn masih konflik kah?😂 kasian bgt irene jd janda selama 3 bulan😂
    Eh, iya aku ada sedikit kritik nih thor. Hehe gpp kan? Td ada beberapa kata yg typo kayaknya thor, trs td jg ada percakapan yg sepertinya authornim nya lupa ngasih tanda ” . Semoga kedepannya lebih baik lagi ya thor. Semangatt😘😘😘

    • hehehe makasih banget kritiknya, justru aku seneng lho dikritik kayak gini dari pada disuruh lanjut2 melulu…
      iya, aku juga nggak sadar kalo ada beberapa typo… mungkin karena keburu pengen mosting??? thanks for komen yah?

  4. kapan egonya mereka ilang?? kalahin lah rasa egonya itu. aku gak tega liat mereka jauh2an.😦😦 naomi sini aku ajak ngopi ama jesica aja yuk? >:) dari pada gangguin rumah tangga orang mulu! chapter selanjutnyaa jan lama2 authornim! fighting^^

  5. Ahh sehun kok tega sama irene …..
    Kasian irene ..harus nya sehun jangan liat ke belakang Liat kedepan aja ….masalalu jangan di inget” lagi
    NExxt

  6. hahh…jaehyun aja udah lapang lho itu.. udah ada rasa dari jauh”..hahh harusnya dari ingatan sehun sama jaehyun wktu buat kue itu udah suatu kode keras supaya sehun sadar ..ahh molla..
    next..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s