[EXOFFI FREELANCE] ONE IN MILLIONS (Prolog)

one in millions.jpg

ONE IN MILLIONS

written by:

Shiraayuki

main cast:

Oh Sehun of Exo and Son Wendy of Red Velvet

genre:

Romance?, AU?, sad?, a little bit of funny

length:

Multichapter

Rating:

Pg-15

DISCLAIMER

Ini adalah sebuah cerita fiksi yang murni hasil kerja keras author. Terinspirasi dari beberapa drama dan film Asia. Jika ada kesamaan tokoh, alur, ataupun cerita itu adalah murni unsur ketidaksengajaan. Rating cerita akan berubah sesuai dengan jalannya cerita. Thankyou for reading, guys!

Cinta memang menyakitkan,

tapi justru rasa sakit itulah yang membuat kita tahu apa itu kebahagiaan.”

‹‹PROLOG››

… pesawat hancur dan belum bisa dipastikan berapa jumlah korban akibat–”

Pip!

Televisi itu dimatikan. Muak, sungguh muak Sehun mendengar berita itu selama dua hari berturut-turut. Secara asal Sehun melempar remote tv-nya. Mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan sedari tadi. Dengan lunglai, diraihnya selembar foto di atas tempat tidurnya. Ditatapnya nanar foto tersebut, tak disadarinya air mata mengalir pelan dipipinya. Frustasi, hampa, marah, sedih, dia merasakan keempat hal itu bersamaan. Kini foto itu telah dibanjiri air mata, teriakan frustasi terdengar pilu menghiasi ruangan kamar yang berantakan itu. Sehun menangis sejadi-jadinya, berusaha, berusaha melepaskan semua kesedihannya yang berujung pada kemarahan.

“Disini ada orang yang selamat!!” Teriakan seorang anggota tim pencarian korban, membuat semua orang gempar. Berbondong-bondong orang berlari menuju tempat lelaki itu bediri.

Pencarian selama dua hari itu akhirnya membuahkan hasil. Seorang gadis yang tubuhnya hanya menderita sedikit luka lecet tengah terbaring lemah di samping sebuah pohon besar. Orang-orang mulai heran, bagaimana mungkin gadis itu selamat sendirian? Bagaimana mungkin tubuhnya hanya menderita luka lecet sedangkan korban yang lainnya tubuhnya bahkan hancur berceceran?

“Cepat bawa gadis ini ke rumah sakit!” teriak pemimpin tim itu. Lekas tubuh gadis itu diangkat ke atas tandu dan mereka segera membawa menuju lokasi ambulan. Sesuatu jatuh dari tangan gadis itu, salah satu orang dari kerumunan tersebut menyadari hal itu dan segera memungut barang tersebut dalam diam.

“Ada yang selamat?!” pekik Sehun tertahan. Sungguh, rasanya sedikit nyawanya telah kembali setelah dua hari ini gairah untuk hidup saja dia tidak punya lagi.

“Iya, Presdir. Tubuhnya bahkan hanya menderita luka lecet, saat ini dia sedang dirawat di rumah sakit Myungsei.

“Cepat cari tahu siapa gadis itu!” Perintahnya cepat, tanpa menunggu jawaban dari bawahannya tersebut dia segera memutuskan panggilan.

Sehun lekas mengambil jaketnya tak lupa juga dengan kunci mobilnya. Secepat kilat dia menuju garasi dan segera menghidupkan Lamborghini  Veneno yang terpakir manis di garasi luas itu. Dia melaju dengan kecepatan tinggi bahkan sampai melewati lampu merah yang menyala. Teriakan kesal dan suara klakson mobil yang menghujatnya dia abaikan. Dalam hitungan menit dia telah sampai di tempat yang dia tuju yakni RSU Myungsei. Tanpa berlama-lama dia segera masuk ke dalam rumah sakit yang cukup besar itu dengan hati yang berdegup kencang.

Ponsel di saku celananya bergetar, sebuah panggilan masuk dari pengawalnya membuatnya menggigit bibir bawahnya.

Yeoboseyo?”

Presdir, apakah anda bisa datang kesini? Saya tidak ingin membicarakan hal ini melalui telepon.”

“Kau sudah dapat informasi mengenai gadis itu?”

Sudah Presdir, tapi sebaiknya Presdir melihatnya secara langsung.”

“Baiklah, kirim lokasinya sekarang melalui sms.”

Sehun menutup panggilan itu dengan hati was-was. Mengapa suara pengawalnya terdengar meragukan? Apa jangan-jangan gadis itu bukan dia? Sehun membuang jauh-jauh pikiran negatifnya dan segera menuju lokasi yang telah pengawalnya kirim padanya baru saja.

Sehun menatap kerumunan itu dari jauh. Kerumunan orang yang berharap bahwa gadis yang selamat itu adalah keluarga mereka. Sehun semakin tak tenang. Keringat mengalir di pelipisnya. Tunggu dulu, Sehun tak pernah segugup ini. Seumur hidupnya Sehun tidak pernah setakut dan sekhawatir ini. Dia adalah Oh Sehun, pria yang menghadapi semua masalah dengan santai dan senyum menawannya. Dia bukan tipe pria bersifat dingin yang acuh tak acuh dengan sekelilingnya. Dia adalah pengusaha paling muda dan paling  friendly se-Korea Selatan. Ah.. jangan lupa dia juga orang yang paling berpengaruh di Korea Selatan. Tapi untuk dua hari ini senyum menawan dan sikap friendly-nya hilang bak diterpa angin.

“Presdir Oh?” Sehun menoleh cepat, didapatinya pengawalnya dengan wajah pucat menghampirinya.

“Bagaimana gadis itu? Apakah itu dia?” Sehun dengan sikap santai pura-puranya membuat pengawalnya semakin pucat.

“Presdir sebaiknya mengeceknya sendiri, ayo ikut denganku.” Pengawal bernama Do Kyungsoo yang Sehun anggap sebagai kakak laki-lakinya itu berjalan mendahului Sehun.

Sehun hanya mengikutinya dari belakang, mereka melewati kerumunan yang Sehun perhatikan tadi. Dengan gelar yang disandangnya, Sehun tidak perlu repot membuat kerumunan itu membiarkan dia lewat.

“Presdir Oh, mari ikut dengan saya.” Sehun dengan langkah ragu mengikuti dokter Kim. Mereka berjalan menuju sebuah ruangan VIP.

“Bagaimana mungkin gadis yang tidak diketahui asalnya bisa dirawat di sebuah ruang VIP?” Sehun bertanya penuh selidik, membuat dokter Kim tersenyum tipis.

“Dia adalah satu-satunya orang yang selamat dalam kecelakaan itu. Presiden meminta kami merawatnya dengan baik.” Jawaban dokter Kim membuat Sehun mengangguk pelan.

Akhirnya mereka masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan terbaik di RSU Myungsei yang ditempati oleh seorang gadis yang tak dikenal oleh satu orangpun, mungkin.

“Sebelumnya maaf Presdir Oh, tapi dia bukan nona Irene.” Sehun tersentak, di dekatinya kasur tempat gadis itu berbaring. Dilihatnya wajah seorang gadis, gadis asing yang baru pertama kali dia lihat. Iya, dia bukan gadis yang Sehun cari-cari. Gadis ini dengan Irene-nya berbeda. Mereka benar-benar bebeda.

“Tim pencarian sudah bersikeras menemukan nona Bae Irene. Jangankan tubuh nona Irene, mereka sama sekali tidak menemukan bagian tubuh korban lainnya. Hanya gadis ini yang selamat. Dia sungguh beruntung, bagaimana mungkin dia hanya menderita luka lecet setelah kecelakaan besar itu?” Dokter Kim menatap gadis yang tengah tebaring lelap itu.

“Maksudmu.. semua tubuh korban hancur karena ledakan tersebut?” Dokter Kim mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Sehun.

“Tapi gadis ini sepertinya mengalami–”

Tok!Tok!Tok!

Sehun dan dokter Kim secara serempak menoleh ke arah pintu. Seorang pria dengan seragam kepolisian Korea memasuki ruangan tersebut dengan langkah tegas.

“Dokter Kim, kami sudah membagikan foto gadis yang selamat itu kepada semua keluarga korban. Namun tidak ada yang mengenal gadis itu. Apakah kita akan menunggu gadis itu sadar dan bertanya langsung padanya?” Polisi bemarga Choi itu membuat dokter Kim menghela nafas perlahan.

“Tidak ada gunanya.” Jawaban dokter Kim membuat Sehun terperanjat, Polisi Choi itu pun sepertinya heran dengan sikap dokter Kim.

“Kemungkinan besar dia mengalami amnesia. Kami mengx-ray tubuhnya dan kami menemukan bahwa kepalanya mengalami cedera yang sepertinya akan berakibat fatal dengan ingatannya.” Penjelasan dokter Kim membuat pikiran Sehun semakin runyam.

Kali ini kepalanya bahkan terasa pusing, keringat juga mengucur deras di pelipisnya.

Bruk!

“Presdir Oh!”

“Anda sudah sadar Presdir?” Sehun mengerjap perlahan, berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu kamarnya.

“Apa yang terjadi?” Sehun mendudukan tubuhnya.

“Anda pingsan di rumah sakit tiga hari yang lalu Presdir. Saat diperiksa, dokter mengatakan bahwa anda terlalu banyak berpikir.”

“Jadi aku sudah tidur selama tiga hari? Lalu mana Irene?” Sehun bertanya getir, dia yakin pertanyaannya yang kedua pasti membuat Kyungsoo heran dan cemas. Tapi apakah dia tidak boleh berharap bahwa kejadian itu adalah sebuah mimpi buruk?

“Presdir Oh, sebaiknya anda segera membersihkan diri.” Pengawalnya itu –Kyungsoo–  membuat Sehun tersenyum miris. Sepertinya kejadian itu benar-benar nyata. Irene-nya telah tiada.

“Buat apa? Apa aku akan pergi ke suatu tempat?” Sehun tertawa renyah, menyingkirkan selimut yang menutupi separuh tubuhnya.

“Hari ini adalah hari ulang tahun nona Irene.” Sehun tersentak, dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas dan berusaha memastikan kebenaran perkataan Kyungsoo. Iya, Kyungsoo memang benar hari ini adalah tanggal 29 Maret.

Secepat kilat, Sehun meraih kunci mobilnya. Mengabaikan panggilan Kyung Soo dan segera berlari menuju garasi.

Sehun benar-benar membenci dirinya sendiri, berulang kali dia memaki dirinya selama berada di dalam mobil. Dengan kecepatan di atas rata-rata dia menyapu jalanan Seoul yang ramai. Mobil mahalnya itu menjadi bahan olok-olokkan para pengguna jalan lainnya. Ini kedua kalinya Sehun mengubah jalanan Seoul menjadi sebuah sirkuit F1 baginya.

Mobil dengan kecepatan tinggi tadi perlahan-lahan mulai berhenti di sebuah perbukitan dengan berbagai pohon menjulang tinggi menantang langit. Sehun turun, berlari kecil menuju sebuah lokasi yang penuh dengan puing-puing badan pesawat yang hancur. Bekas kebakaran pun masih nampak jelas disana.

Kakinya lemas, tak mampu menopang tubuh tegapnya lagi. Dia teringat gadis itu, gadis bernama Irene yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Sehun tak yakin dia dapat menjalani hidupnya seperti dulu lagi, untuk sekedar tersenyum pun sulit. Kenapa Tuhan mengambil Irene-nya begitu cepat?

Tubuh Sehun gontai, dengan posisi sujud dia menatap sekelilingnya dengan air mata mengalir di pipi putihnya.

“Irene-ah, aku bahkan tidak sempat membawa setangkai bunga kemari. Kau tidak marah ‘kan?” Sehun tersenyum miris lalu mengelap air matanya dengan kasar.

“Irene-ah, apa kau tidak merindukanku? Apa kau senang pergi sendirian tanpa aku?”

“Irene-ah, masih banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu. Kembalilah Irene-ah, aku ingin memelukmu.” Sehun semakin terisak. Mengingat semua kenangan yang mungkin akan menjadi penjara baginya. Bagaimana tidak, dia mungkin akan merasa terkekang dengan semua kenangan indah yang telah ia lakukan bersama Irene.

“Irene-ah, saengil chukkae..”

Tak pernah terpikir olehnya jika orang yang paling penting untuknya akan pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan padanya. Tanpa sempat ia melihatnya untuk terakhir kalinya. Irene-nya telah pergi, tanpa jasad dan tanpa jejak.

“Siapa disana?” Sehun tersentak, lekas dia mengelap air matanya agar tidak ketahuan kalau dia baru saja menangis meski hal itu tidak berguna sama sekali.

Eoh! Kau pria itu!” Sehun memandang gadis dengan pakaian pasien di depannya dengan dahi berkerut.

Tunggu dulu, gadis ini tidak asing bagi Sehun.

“Bukankah kau korban yang selamat itu? Bagaimana bisa kau berada disini?” Sehun bangkit berdiri dan berjalan mendekati gadis dengan wajah polos itu.

“Korban? Korban apa? Aku tidak mengerti maksudmu.” Gadis itu menggaruk lehernya dan mengerutkan wajahnya.

Astaga.. dia benar-benar mengalami amnesia.” Sehun membatin.

“Aku kenal denganmu, namamu Oh Sehun ‘kan?” Sehun membelalakkan matanya. Gadis amnesia yang baru pertama kali ini bertemu dengannya bisa mengetahui namanya.

“Bagaimana bisa? Astaga.. bagaimana bisa kau mengetahui namaku dan bagaimana bisa kau datang kemari?” Sehun bertanya dengan penasaran sekaligus kaget. Setahunya gadis ini dirawat di ruang VIP dengan penjagaan khusus, mengapa dia bisa berada disini dengan mudah?

“Belakangan ini kau selalu muncul dimimpiku. Aku melihatmu begitu bahagia dengan seorang gadis dimimpiku. Kalau bagaimana aku bisa kesini, aku juga bingung.” Gadis itu tesenyum polos.

“Kau melihatku dimimpimu? Kita bahkan baru bertemu hari ini bagaimana mungkin aku muncul dimimpimu?” Sehun menggenggam kedua pundak gadis itu, gadis itu nampak kesakitan namun Sehun tidak peduli. Gadis itu nampak jengkel dengan tingkah Sehun.

“Bagaimana aku bisa tahu, hah? Itu terjadi begitu saja, gadis itu selalu menyebut namamu. Lagipula, memangnya aku mau kau masuk ke mimpiku? Aku bahkan tidak ingat namaku, bukankah itu lucu?” Sehun melepas genggamannya, wajah gadis itu merah padam karena kesal.

“Siapa nama gadis yang muncul dimimpimu itu?” Sehun menatap intens gadis dihadapannya ini.

“Aku tidak tahu, karena dimimpiku kau tidak pernah menyebut namanya.” Gadis itu duduk di tanah lalu memijit betisnya pelan, Sehun melirik kaki gadis itu. Sehun bisa melihat bahwa gadis itu kemari tanpa menggunakan alas kaki. Dia berjalan dari rumah sakit sampai ke lokasi ini tanpa menggunakan alas kaki, bena-benar luar biasa.

“Aku tidak pernah menyebut namanya? Itu benar-benar mustahil. Aku yakin kau menyembunyikannya.”

“Dasar psiko! Memangnya nama seorang gadis yang bahkan tidak aku kenal begitu penting sampai aku tidak mau memberitahukannya padamu?! Sikapmu benar-benar manis dimimpiku, tapi bagaimana mungkin kau berlaku kasar kepada orang yang baru pertama kali kau temui?!” Pekik gadis itu kesal. Sehun hanya menutup matanya dan berusaha menahan emosinya.

“Siapa namamu?” Sehun membuat gadis itu mengepal kedua tangannya erat.

“Aku sudah bilang aku tidak mengingat namaku! Aku terus berusaha mengingatnya namun yang selalu muncul adalah adegan konyol dirimu dengan gadis itu.” Suara gadis itu memelan, Sehun menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

“Baiklah, aku akan memanggilmu Wendy.” Gadis itu menyatukan kedua alisnya heran.

“Namamu adalah Son Wendy sekarang, jadi jangan pernah bilang bahwa kau tidak ingat namamu lagi.” Sehun berucap seraya menarik pergelangan tangan gadis yang telah ia beri nama Wendy itu.

Ya! Memangnya kau siapa? Siapa bilang kau boleh memberiku nama jelek seperti itu? Lepaskan tanganku! Ya!” Kali ini Sehun mengangkat tubuh gadis itu seperti mengangkat barang. Meski gadis it uterus meronta, Sehun tetap tidak peduli.

Irene-ah, apa kau ada hubungan dengan gadis aneh ini?” Sehun bertanya di dalam hati. Kebingungan dan rasa penasaran menyelimuti dirinya

Sehun memasukkan gadis itu dengan kasar ke dalam mobilnya lalu mengunci pintu.

Ya! Pria psikopat! Keluarkan aku dari sini!” Teriak gadis itu semakin kesal, Sehun lantas mensejajarkan mata mereka. Sehun menatap gadis itu dengan mata sinis, tatapan itu dibalas dengan tatapan nyalang Wendy.

“Dari jutaan gadis di Korea, kenapa harus kau yang bertemu denganku di hari ulang tahun kekasihku?” Sehun tersenyum miris karena kata kekasihku. Meski begitu dia benar-benar penasaran dengan gadis ini.

“Kau bicara apa, sih? Cepat keluarkan aku dari sini.” Wendy mendorong kepala Sehun menjauh darinya.

“Ingatanmu itu adalah satu dari jutaan ingatan yang paling berharga dalam hidupku,”

“Memangnya aku peduli? Cepat keluarkan aku atau aku akan berteriak disini!” Wendy mengancam Sehun namun hanya dibalas dengan senyum simpul dari Sehun.

PLAK!

Sehun menampar gadis itu kuat-kuat, hingga gadis itu tak sadarkan diri.  Sehun sempat menggigit bibirnya karena ini pertama kalinya dia menampar gadis dengan sangat kuat. Tapi ini dia lakukan agar gadis itu tidak rewel lagi.

Lekas dikeluarkannya ponsel pintarnya dari sakunya dan menelpon seseorang disana.

Hyung, cepat sediakan kamar. Kita kedatangan tamu.”

‹‹PROLOG END››

Catatan enggak penting

Ehem-ehem.. masih layakkah saya mengucapkan kata ‘hai’ buat kalian semua?

Akhirnya setelah berapa bulan lamanya aku update tapi kali ini bukan Romance Phobia yang aku update tapi sebuah prolog gaje yang tiba-tiba aja nongol dipikiran Shira. Maafkan Shira yang sepertinya enggak tanggung jawab sama ff Shira sendiri.

Aku yakin alasan apapun itu bakalan sama aja, karena aku udah ngenganggurin Romance Phobia dengan sangat lama tapi malah update dengan cerita yang baru. Shira bahkan gak sempat buat balas komen kalian satu-satu karena yah.. begitulah. Tapi Shira ngupdate prolog ini sebagai permintaan maaf yang dalam buat kalian semua. Jadi tetap sabar ya nunggu RP comeback, karena RP last chapter udah selesai Shira ketik dan tinggal tahap editing lagi.

Jadi sekali lagi Shira mohon maaf udah buat kalian menunggu, Shira tau kok menunggu itu kegiatan yang paling gak enak buat dilakuin. Jadi aku harap kalian semua suka sama One in Millions ini dan tetap nunggu kehadiran RP yang bentar lagi bakalan rampung.

Loveyouguys!❤

17 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] ONE IN MILLIONS (Prolog)

  1. Wmoyyaa!?
    Iihh Sehun oppa kok tega nampar begitu?.,
    Tapi caranya gx begitu juga kali bang😂😂😂 kan ksian tau!

    Next juseyo^^
    Chap 1 dtunggu^^.,
    Yg RP-nya juga ya

    Hwaiting!!

  2. Waaa Shira ini sad suwerrr
    Vut, it’s still good to be consumed by readers 😁
    Okoke, lanjutkan ff ini Dan ff hutangmu yaaa
    Kutunggu ✌✌

  3. Huhu, yg last chapnya udah otw selesai editing, ckck, s2nya mau ente kemanain?😂
    Eleh, ente kecepetan 5 menit ngirimnya, kalo nggak mungkin ini ane yg megang/plakk/dibalang sendal..😂😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s