[EXOFFI FREELANCE] Black and White (Chapter 1)

black-and-white-duet-project.jpgBlack and White

PG-17

Short-stories

DO Kyung Soo, Lee Yorin (OC), Jung Yunho

khaqqiadrei w/ aininugu

poster by namminra [https://namminradream.wordpress.com]

Cerita hanya fiktif dan tidak diizinkan memposting ulang atau meng-copy tulisan berikut. Cast milik diri mereka sendiri dan agensi.

[]

“Semestinya tidak sulit mengatakan ‘aku menyukaimu’. Hanya saja, banyak kekeliruan yang membuatku khawatir.

“Hanya karena kau adalah gadis yang ‘tidak semestinya’, bukan berarti kau ‘tidak layak’ menjadi milikku.

“Ayo kita berjuang.

BLACK AND WHITE [1/8]

Ribuan cahaya mungil tergambar dalam kanvas hitam atmosfer bumi. Menemani sunyi dan sepinya kawasan bumi pada tahun itu. Hanya beberapa yang—mungkin—tengah berjaga, mengintip nyanyian jangkrik dari balik jendela.

WUSH!

Sekilat cahaya menggores warna putih. Merobek pekatnya hitam pada langit malam saat itu.

Cahaya barusan menjatuhkan diri ke tanah. Menerbangkan dedaunan yang berguguran dari rantingnya. Semrawut.

Ribuan butir debu sewarna emas terlihat melayang mengelilingi tempat mendaratnya cahaya tadi. Berputar-putar indah seakan bersorak pada kawan yang baru saja tiba.

Sepersekian detik. Dari balik butiran emas tadi, sepasang sayap putih terbuka sedikit demi sedikit. Kian melebar. Menutupi panorama cahaya matahari yang tengah beranjak terbit dari persembunyiannya.

Hembusan angin berulang kali meniup helai rambut berombak hitam sepunggungnya. Membuat wajah mulus gadis itu tercegah untuk nampak. Lantas angin meniupnya kembali, membawa rambutnya menari-nari, tersibak ke belakang. Wajahnya kembali mampu terlihat.

Gadis itu merapikan dress putih selututnya, membersihkannya dari beberapa daun yang hinggap. Lepas kemudian, ia mengedarkan manik mata cokelatnya ke sekeliling. Menatap intens tempat yang baru saja ia pijaki.

Ia menyeret sepasang kakinya beberapa langkah dari tempatnya berdiri, seraya tangan kanan-kirinya bergantian menyingkirkan rerumputan panjang yang menghalangi jalannya. Beberapa detik kemudian, sepasang sayapnya kembali menutup, lalu menghilang. Meninggalkan ribuan butiran emas; melayang-layang di udara.

Langkah gadis itu terhenti seketika. Melemparkan fokusnya pada sebatang anak panah yang baru saja menancap di hadapannya. Ia terlonjak kaget. Gadis tersebut mengumpulkan keberaniannya banyak-banyak. Mencoba mencari jawaban dari rasa keingin-tahuannya, darimana panah itu berasal.

Dari kejauhan, seorang pemuda tengah menarik kuat-kuat busur panah dalam genggamannya, seraya memicingkan mata sebelah—mengincar sesuatu.

PYUSH!

Sekali tarikan dari tangan pemuda itu, ia menerbangkan sebatang benda cukup panjang dengan desain runcing di bagian kepala. Anak panah itu memutar, lantas melesat cepat membelah udara.

DEP!

Sebab gadis itu keluar dari persembunyiannya tiba-tiba, ujung anak panah menancap keras pada lengan kirinya.

Ia meringis menahan sakit.

Kyung Soo—pemuda dengan anak panahnya— terbangun dalam rasa nyaman setelah sebuah teriakan panjang tertangkup dalam liang pendengaran.

Kyung Soo tersentak. Anak panahnya salah sasaran. Merasa bersalah, ia menghampiri korban akibat ulah cerobohnya itu. “Noona, Kau baik-baik saja?”

“Tidak papa. Aku baik,” sahut si gadis.

“Biar kubantu.”

Kyung Soo menuntun gadis di hadapannya menuju bilik kecil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Sesampainya di sana, gadis itu mendaratkan tubuhnya pada sofa sederhana yang menjadi pelengkap desain simpel rumah adat khas Korea itu.

Rumah itu tempat khusus yang biasa Kyung Soo gunakan untuk melepas penat dan lelah setelah berlatih berjam-jam di hutan dengan perlengkapan memanahnya. Setidaknya, sedikit bisa menyesap teh hangat, mencegah udara dingin masuk ke rongga pori-pori.

“Biar kubalut lukamu,” ujar Kyung Soo setelah tiba dengan berbagai obat luka di tangannya. Ia meletakkan benda-benda itu pada meja kecil di samping mereka.

“Jangan bergerak, ini sedikit sakit.” Kyung Soo memegang erat anak panah tersebut kemudian menariknya kuat-kuat.

Gadis tersebut menggigit bibir, menahan perih.

Pemuda itu mulai membalut luka tusukan pada lengan Yorin—nama gadis itu.

“Selesai,” ujar Kyung Soo menyelesaikan aktifitasnya.

Lee Yorin mengalihkan mata, meratapi balutan kasa putih melingkar pada lengan kirinya. Ia bernapas berat, bagaimana bisa seperti ini.

“E, Khamsahamnida …, ” Yorin berniat mengatakan nama lawan bicaranya. Sayangnya ia sama sekali tidak mengetahui siapa dia.

“Kyung Soo. Do Kyung Soo.” Kyung Soo mendahului.

“Ya, Kyung Soo. Khamsahamnida, Kyung Soo-ssi.”

Yorin melemparkan pandangan menuju sudut-sudut rumah yang tengah ia tumpangi saat ini. “Aku, di mana?”

“Ini tempat tinggal kami. Kau berada di bumi selatan,” sahut Kyung Soo tanpa menoleh.

Bangsa elfva membagi wilayah bumi menjadi dua bagian. Bagian selatan dan bagian utara. Bumi selatan di huni oleh elfva berketurunan darah hitam atau disebut Blackblood. Bagian utara di huni elfva berketurunan Whiteblood.

Sebelum hari itu—hari di mana pertempuran terjadi—tepatnya beratus-ratus tahun lalu, elfva masih sepenuhnya utuh. Tidak ada yang memisahkan mereka, baik jenis darah  atau lainnya. Namun pertempuran yang bermula rasa dendam itu menyebabkan mereka saling membenci dan memisahkan diri.

“Aku telah sampai,” ucap Yorin dalam benaknya.

“Jadi, siapa namamu, Noona?” Kyung Soo bertanya, meleburkan lamunan gadis di hadapannya.

“Lee Yorin,” sahut Yorin singkat.

*

Yorin menatap lekat senja yang menyisakan semburatan cahaya merah nyaris menghilang, bersembunyi di balik tinggi dan rindangnya pepohonan hutan itu.

Beberapa hari lalu, Raja Lee—ayah Yorin—memberikan amanat besar padanya. Raja Lee mengatakan bahwa ini adalah tanggung jawab yang menyangkut nyawa rakyat mereka. Yorin adalah gadis keturunan dari Raja Lee, pemimpin Whiteblood.

Ayahnya berpesan agar ini menjadi pertarungan terakhirnya. Pertarungan dalam menegakkan ego dan kedudukan masing-masing. Membalaskan dendam keluarga mereka. Dendam yang tak pernah usai sejak beratus-ratus tahun silam.

Naasnya, Yorin malah tersesat sekarang. Tidak kunjung bertemu dengan putra mahkota Blackblood.

Ia benar-benar akan menyelesaikannya. Gadis itu terkelubungi rasa dendam dan benci. Saat ia berumur tujuh tahun, Ibunya pergi meninggalkannya begitu saja. Bukan kepergian seorang ibu yang bermasalah baginya. Tapi dengan pembunuhnya.

Yorin menarik napas kuat-kuat, mengisi paru-parunya dengan oksigen baru di tempat ini. Ia menekuk kedua siku lengannya, lalu diletakkan di atas kusen jendela. Wajahnya mendongak menatap hamparan merah senja. Sesekali ia memejamkan matanya, merasakan sentuhan-sentuhan angin lembut, menyapu wajah putihnya.

Tidak lama kemudian Kyung Soo menghampirinya. Ia bergabung di sisi Yorin.

“Cuaca cukup dingin. Kau mau teh?” tawar Kyung Soo lembut.

“Tidak, Terima kasih,” sahut Yorin tanpa menolehkan wajahnya. Ia tetap tidak ingin bergeming dari aktifitas yang ia anggap menyenangkan ini.

Beberapa menit kemudian, tubuh Yorin bangkit. Ingin lebih puas menghirup udara di luar. Oksigen di tempat ini terbilang sejuk. Tidak heran, karena di sekitarnya dikelilingi pohon rindang. Serta burung-burung yang bercicit merdu, seolah merangkai sebuah nada.

Yorin melangkahkan kakinya menuju pintu. Ia keluar.

Yorin menenangkan diri dengan memejamkan sepasang kelopak matanya, merasakan gejolak angin yang kian keras menghantam dan menarik-narik rambut hitamnya. Lalu Yorin membentangkan sayapnya lebar-lebar, diikuti ribuan butiran emas melayang di udara usai sayapnya terbuka.

Yorin membawa tubuhnya melayang, tidak lagi berpijak di tanah. Sepasang sayapnya mengepak pelan, siap membawa kemanapun gadis itu ingin pergi.

Hembusan angin memunculkan decit dan riuh dedaunan serta ranting-ranting mungilnya. Diimbangi dengan nyanyian burung yang sama sekali tidak mengubah rasa sunyi kawasan itu.

Namun angin berhenti seketika. Membuat Yorin sedikit tersentak, sebal karena kenyamanannya diganggu. Ia menurunkan tubuhnya, membuat sepasang kakinya berpijak kembali pada tanah—yang cukup basah. Ia berbalik, melangkahkan kakinya bergantian, perlahan-lahan. Sayapnya yang semula membentang lebar kini mengatup, lantas menghilang. Dan hanya meninggalkan ribuan debu emas.

Belum gadis itu menginjakkan kaki pada lantai pintu, ia berhenti di tengah jalan. Kandas oleh suara batuk yang terkesan mencekat tenggorokan pemiliknya.

Ia segera masuk ke dalam. Bercakan darah didapati matanya sekarat di atas lantai. Karena darahnya belum mengering, maka bisa ditebak jika itu baru saja jatuh beberapa menit lalu.

Yorin bergegas memutar knop pintu kamar Kyung Soo. Ditatapnya lamat-lamat pemuda yang tengah meringkuk seraya memegangi dada sebelah kirinya. Tangannya berlepotan darah segar. Di sudut bibir kanannya juga mengalir setetes darah.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yorin. Ia sedikit cemas pada pemuda yang baru ia temui pagi tadi itu. Gadis itu berjalan sambil sesekali menahan rasa sakit pada lengannya juga.

“Aku tidak papa, Yorin-ssi.” Kyung Soo mengelap bercak darah di bibirnya dengan punggung tangan.

“Tapi kau batuk hingga mengeluarkan darah,” sergah Yorin. “Biar kuambilkan teh.”
Kyung Soo mengepalkan erat tangannya. Mencoba menahan amarah yang terus tersengal dalam dadanya. Matanya berkilat merah.

Kilat tersebut adalah tanda khusus yang Kyung Soo miliki. Tanda yang tidak dapat ditemukan pada orang selain dirinya. Kilat itu keluar seiring amarahnya.

“Kyung Soo-ssi.” Yorin tiba. “Ini tehnya, minumlah.” Yorin mengulurkan lengan, memberikan segelas teh pada Kyung Soo. “Minuman manis bisa membuatmu lebih baik.”

“Terima kasih, Yorin-ssi.”

*

Yorin dan Kyung Soo diam saja. Yang satu perlahan menyesap tehnya, dan satunya  hanya mengayun-ayunkan sepasang kakinya yang menggelantung secara bergantian.

“Kyung Soo-ssi, kau sudah lama tinggal di sini?” Yorin bertanya tanpa menoleh.

“Tidak, ini hanya tempat istirahat saja.” Kyung Soo menoleh, mencari-cari mata dari lawan bicaranya. “Rumahku agak jauh dari sini.”

“Kau ahli memanah?” Yorin nampak serius, berbalik menatap mata Kyung Soo—yang sedikit telah mereda dari warna merah yang tadi sempat ada.

“Tidak juga. Kalau aku ahli memanah, pastinya lenganmu baik-baik saja.” Kyung Soo memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Oh iya.” Yorin menggaruk tengkuknya, kikuk. “Dan pastinya aku tak akan ada di sini.”

“Itu kau tahu,” Kyung Soo terkekeh. “Jadi, kau darimana, Yorin-ssi?”

Yorin tidak menyahut. Ia mengedipkan matanya berkali-kali.

“Dari…,” Yorin memalingkan wajahnya. Ia sempat terdiam cukup lama. Mengandai-andai jawaban apa yang harus ia lontarkan.

“Di seberang hutan sini.” Dan akhirnya, Yorin terpaksa berbohong.

Bukan  apa gadis itu berkata lain dari aslinya. Pasalnya gadis itu bukan berasal dari tempat ini—bumi selatan, Bangsa Blackblood. Bahaya sekali jika ada yang tahu bahwa gadis itu adalah salah satu musuh di tempat ini. Ia akan sungguh dibenci oleh bangsa di mana Kyung Soo berasal.

Yorin berusaha setenang apapun, mengalahkan kecemasannya.

Gadis itu jarang berhasil menyembunyikan perasaannya. Ia akan gugup setengah mati dan tidak akan pernah bisa nyaman setelah kata-kata yang berlainan dari hatinya terlontarkan. Jika diperhatikan, pasti gadis itu tengah memilin-milin jarinya saat ini—saat berbohong—atau sekadar mengepalkan erat kedua telapak tangannya yang berkeringat dingin.

“Yorin-ssi, kau pucat.” Kyung Soo mengamati wajah gadis di sisinya. “Kau tidak papa, ‘kan?”

Urat saraf reflek Yorin bekerja. Memimpin dirinya untuk sedikit menyeret tubuh bergeser menjauh.

“E, aku tidak apa-apa.” Yorin menjauhi tatapan Kyung Soo.

“Maaf membuatmu tidak nyaman.” Kyung Soo bangkit, melangkah ke arah pintu.

“Tidak, kok. Bukan begitu, Kyung Soo-ssi,” ujar Yorin, meluruskan prasangka Kyung Soo yang melenceng.

Kyung Soo melenggang pergi, entah ada gejolak apa dalam ruang dadanya saat ini.

*

Seminggu ini Yorin belum sempat pergi meninggalkan rumah mini di tengah hutan tersebut. Semakin lama ia di sana, semakin banyak pula kebohongan Yorin ucapkan.

Beberapa hari lalu, justru gadis dengan rambut hitam itu berkata kalau ia diusir dari rumahnya karena melanggar janji ayahnya.

“Jika kau ingin pulang, aku bisa mengantarmu. Karena kau tau sendiri, ‘kan? Kalau aku tidak setiap jam di tempat ini. Aku juga harus pulang,” ujar Kyung Soo pelan, beberapa hari silam.

Yorin menolehkan kepalanya kembali, enggan menatap lawan bicaranya. Gadis itu tidak memiliki cukup keberanian untuk menyahut ucapan Kyung Soo.

Yorin menggigit bibir bawahnya sebelah kiri, “E… Aku…,” dengan ragu-ragu, takut jika alasannya tak masuk akal. “Aku diusir ayahku dari rumah.”

Gadis itu mengutuk dirinya sendiri. Omongannya terbentuk dan keluar begitu saja.

“Maaf, Yorin-ssi,” Kyung Soo merasa bersalah. Seakan ia telah membuat Yorin mengingat kembali kejadian yang pahit. “Kalau begitu, tinggal saja kau beberapa hari di sini. Sambil kucarikan tempat tinggal untukmu.”

Yorin mengangguk pelan, sambil menahan keringat dingin yang tak henti-hentinya bercucuran di pelipisnya.

Lambat-lambat salju turun. Mempertambah dinginnya suasana pagi hari. Yorin tersentak, lalu membalikkan tubuhnya berjalan menuju pintu keluar.

Gadis itu membentangkan sepasang sayapnya lebar-lebar. Tak lupa diikuti juga oleh sekawanan benda mungil keemasan di sekitarnya. Terbang mengudara, memecah.

Ini adalah ciri khusus bangsa Elfva. Melalui debu emasnya yang selalu muncul ketika hal-hal ajaib mereka lakukan.

Tubuh Yorin terbang, membiarkan sepasang kakinya tak lagi berpijak pada tanah. Sedetik kemudian ia melesat, menghilang ke angkasa.

*

Tangan kanan Raja Lee bersiap mengepal, matanya tergores kilat cahaya kebiruan. Seperti halnya raja—maupun anak raja—Bangsa Blackblood, kilatan itu juga dimiliki oleh saudaranya; bumi utara. Hanya saja keduanya memiliki warna yang tidak sama.

Yorin merunduk, tidak berani menatap mata ayahnya. Raja Lee geram sudah.

“Yorin!” Raja Lee menatap tajam mata putrinya. Berkali-kali kilat kebiruan itu membias dalam mata cokelat beningnya. Amarahnya tersengal, ditahan. “Kemana saja kau! Bahkan sampai sekarang pun kau belum menemukan putra raja bangsa tengik itu?!”

Yorin tidak dapat menyahuti. Omongannya tertandas lebih dahulu dengan suara ayahnya. “Aku tidak mau tau.” Raja Lee membuang napasnya berat. “Kabarkan berita pangeran itu secepatnya. Besok. MENGERTI?!”

Yorin mengangguk, lantas membuka kembali sayapnya, pergi.

*

Sebatang anak panah yang pemuda itu lepaskan kembali melintasi jejeran pohon tinggi dan besar-besar. Panahnya melesat kencang. Namun sayangnya, kali ini incarannya meleset. Salah. Sudah berkali-kali.

Sejujurnya, pemuda itu tidak berniat sekali. Mukanya sungguh lusuh. Menahan amarahnya yang kian tertahan. Tidak kunjung keluar juga.

Pemuda tersebut meringkukkan tubuhnya. Sesuatu yang ada dalam dadanya meledak sudah, butiran air perlahan mengalir keluar dari dalam sudut matanya. Manik matanya berubah menjadi merah mengganas. Tubuhnya lunglai. Seakan nyawa yang ada dalam raganya kian jatuh menuju tulang punggung, kemudian ke telapak kaki.

Tangannya mengepal, geram. Pemuda itu menjerit sejadi-jadinya. “AAAAAAAAAAA!!!”

Ia merundukkan kepala, membiarkan tangisnya berebutan terjun membentur tanah. “Aku benci penyakit ini! Gara-gara kau,” ia berbicara pada sesuatu yang terkekang dalam tubuhnya. “Aku tidak berguna!!!”

Sementara itu, dari balik pohon besar yang berjarak tak jauh dari pria itu, Yorin melongokkan kepalanya melalui celah dedaunan. Secelah saja. Ia katupkan sayapnya, tanpa menghilangkannya. Ia tatap pemuda yang tak jauh dari tempatnya berpijak sekarang. “Apa yang terjadi pada Kyung Soo?”[]

a/n- halo~ wuah makasih ya udah baca cerita kita berdua~ /kecup/ih/ ditunggu komentarnya ya^^ omong-omong ini ff udah lama sebenarnya, lumutan belum ending juga wkwk anyway, thanks a lot udah baca dan jangan lupa kasih krisar❤

3 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Black and White (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s