[ONESHOT] ARCH – Dystopia Version — IRISH’s Story

irish-arch

|   ARCH   |

|   Dystopia Verse   |

|  Sehun x Velvin  |  Dystopia x Sci-Fi x Slice of Life  |  Oneshot  |  Teen  |

|  by IRISH  |

—  tentang sebuah batas semu yang terlampau membutakan

dedicated for science  |

♫ ♪ ♫ ♪

In Sehun’s Eyes…

Earth. Adalah sebuah planet yang punya sumber daya kehidupan paling tinggi sebelum pada abad ke-22 Perang Dunia IV pecah dan menghancurkan hampir seluruh permukaan Earth.

Itulah mengapa, pada akhir abad ke-21, beberapa tahun sebelum Perang Dunia IV pecah, Human diselamatkan dan dibawa ke Ophelia, sebuah planet kecil di galaksi yang sama dengan Earth, tapi mempunyai sumber daya kehidupan yang sama baiknya. Malahan, melebihi Earth.

Dan disinilah aku hidup. Aku hidup di tahun ke-33, tepat nya ditahun 2330 di Earth, dimana kehidupan ditempat ini adalah kehidupan modern yang baru. Karena hancurnya Earth, di Ophelia batas negara tak lagi ada.

Dimasa inilah aku hidup. Menikmati kehidupanku di Region X Dunia. Rata-rata Human ditempat ini dapat bertahan hidup sekitar 400-470 tahun. Kenapa? Karena efek biochemical besar yang Human dapatkan akibat Perang Dunia IV. Membuat secara genetik, Human berubah.

Masa kehidupan Human di Region X memang beberapa puluh tahun lebih pendek daripada Region VII yang punya masa kehidupan paling panjang, sekitar 900-950 tahun.

Tapi masa hidupku, jauh lebih panjang daripada Region VII. Mereka bilang aku bisa hidup sampai lebih dari 400 tahun.

Karena aku berbeda.

Mereka menyebut orang-orang berbeda sepertiku sebagai Flyer. Bagian kecil dari Human yang berbeda. Human yang berevolusi lebih dari normal.

Aku mengetahui keberadaan Flyer saat beberapa puluh tahun lalu aku sadar, aku memiliki kekuatan yang berbeda. Aku mampu menciptakan banyak jenis elemen dan mengubahnya menjadi energi plasma. Aku mampu mengerahkan dan melepas energi itu melalui seluruh anggota tubuhku.

Bentuknya kadang berupa pijaran, bola cahaya, dan tak jarang medan energi. Saat aku sadar, kekuatanku semakin lama semakin membesar dan terkadang, aku sendiri tak mampu mengendalikannya.

Flyer pada dasarnya sama seperti Human. Hanya saja, otak Human hanya bisa berkembang 5-6% sedangkan kami, Flyer adalah Human yang sudah berevolusi dan memiliki perkembangan otak jauh diatas Human, dan angka perkembangannya bisa mencapai lebih dari 15% dan itulah yang membuat kami berbeda, membuat kami memiliki kekuatan seperti ini.

Ada banyak Flyer sepertiku di luar sana. Dan karena kami hidup untuk mengabdi dan menjaga perdamaian, Military mengumpulkan semua Flyer di Ophelia dan membentuk sebuah Arch—pasukan pelindung—di tiap regionnya.

Selama bertahun-tahun kami berlatih, melatih kekuatan kami dan mengendalikan, dan mengembangkannya. Flyer adalah pelindung Ophelia, itu yang aku tahu.

Tapi belakangan, kami mendapatkan berita bahwa Military mendidik kami selama bertahun-tahun bukan untuk menjadi Arch di tiap region, melainkan untuk melancarkan ESP—Earth Sterilization Program.

ESP bertujuan untuk membersihkan Earth dari sisa Perang Dunia IV. Dan kemungkinan besar Earth akan ditempati lagi oleh Human karena efek biochemical yang pasti sudah hilang.

Tapi ada satu masalah besar yang terjadi di Earth.

Di Earth, masih ada kehidupan.

Kehidupan lain, bukan kehidupan para Human, atau Flyer, tapi sosok mengerikan Human yang terkena imbas biochemical Perang Dunia IV dalam jumlah besar.

Pada Perang Dunia IV, salah satu negara meluncurkan bom besar yang nyatanya menyebarkan HmV—Half-Mutant Viral—dan membuat Human yang tersisa di Earth berubah menjadi HmP—Half-Mutant Population.

Tugas Arch, membersihkan Earth dari HmP, dan memastikan Earth akan bisa ditempati lagi oleh Human, untuk kehidupan yang lebih baik.

Walaupun itu artinya, kami harus mengorbankan apapun.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

 “Selamat pagi!”

Aku mendongak, menghentikan kesibukanku dan sejenak menghilangkan plasma yang sejak enam jam lalu membalut tubuhku. Di ujung pintu, sahabatku, Chanyeol, berdiri menjulang dengan senyuman lebar diwajahnya. Tentu saja tak lupa dengan Fire miliknya. Ia selalu bernaung dibawah api.

“Kau tidak sedang berencana membakar kabinku dengan apimu bukan?” ucapku pada Chanyeol. “Oops—aku tak sengaja soal ini.” ucapnya sambil menggerakkan lengannya pelan, perlahan api yang menyelubungi tubuhnya menghilang.

“Aku tahu kau sengaja.” ucapku seraya melangkah ke EB—Electrical Bed—dan meraih remote control di sana.

“Apa yang kau inginkan?” aku menatap Chanyeol setelah menekan tombol hide-voice pada remote control, dan setelah aku berucap, Chanyeol dengan cuek melangkah masuk ke dalam kabinku dan duduk diatas EB.

“Kau terlihat sibuk untuk malam ini.” ucapnya santai.

Aku tahu ia tak hanya akan bicara santai seperti ini.

“Cepat katakan saja apa yang mau kau bicarakan sebenarnya, masih banyak persiapan yang belum kuselesaikan jadi jangan membuang waktuku untuk basa-basi seperti ini.” ucapku membuat Chanyeol tergelak

“Oh, astaga, kau masih to the point seperti biasanya,” ia menyenggol lenganku pelan, tapi kubalas dengan dengusan, aku benar-benar sedang tidak ingin bercanda dengannya.

“Jumlah HmP di Earth tidak seperti dugaan awal kita.”

“Apa?” kali ini aku terkesiap mendengar ucapannya

HmP sepertinya menyerang 4% Human pada akhir abad ke-20. Dan tebak apa? Mereka punya masa kehidupan yang hampir sama seperti Region II.”

Aku tersentak.

“Maksudmu, sekitar 300-340 tahun?”

“Ya. Dan kau tahu apa inti pembicaraanku bukan?” ucap Chanyeol, mengangkat sebelah alisnya ke arahku, sungguh, tindakan tenangnya entah mengapa membuatku merasa kesal.

“Sudah lebih dua abad perang itu terjadi, dan jika mereka punya daya reproduktif yang sama seperti Human, mereka pasti sudah bertambah banyak… Jika perhitunganku benar, saat ini, sekitar… umm, 13%?” ucapku sambil menatap Chanyeol serius.

“Hmm,” Chanyeol menggeleng pelan, “24%.” lanjutnya membuatku tersentak

“24%?!” ucapku tak percaya. Sementara Chanyeol hanya memberi sebuah anggukan kecil sebagai jawaban. “Ya. Kita benar-benar punya tugas besar. Jumlah Arch bahkan tak sampai 10% dari jumlah mereka.”

“Tapi mereka tidak lagi Human. Mereka HmP, ingat? Mereka pasti tertinggal dibanyak hal.” Chanyeol mengangguk-angguk pelan. “Benar juga, mereka tidak terlatih untuk berperang, tidak terlatih untuk mengendalikan diri mereka, dan sosok mereka… Ugh, Mutant. Aku bisa bayangkan seperti apa monster ditempat itu.”

Monster? Tentu saja. Mutant adalah monster. Dalam sosok fisik mengerikan dan terbelakang dalam sisi pikiran.

“Tapi bagaimana jika mereka tak seperti itu?”

“Apa yang kau bicarakan?” kali ini aku menatap Chanyeol, sementara Ia tersenyum penuh arti padaku. “Bagaimana jika mereka nyatanya seperti Human? Atau malah mereka seperti kita, para Flyer?”

“Mereka tak akan disebut Mutant tanpa sosok monster itu.” sanggahku. Chanyeol tertawa pelan. “Kurasa aku harus mempersiapkan lebih banyak sebelum pergi nanti malam.”

“Chanyeol, apa maksudmu?” Chanyeol tersenyum menanggapi pertanyaanku.

“Aku harus mengucapkan salam perpisahan pada semua orang di kabin.” ucapnya hendak melangkah pergi meninggalkan, tapi dengan segera aku menahan lengannya.

“Kau punya firasat buruk tentang ini bukan?”

“Sehun, kau tak mengerti inti dari ucapanku. Aku tak sedang bicara tentang HmP yang punya sosok seperti Human, atau kekuatan luar biasa seperti Flyer. Tapi bagaimana jika mereka nyatanya tidak terbelakang seperti yang kau bicarakan?

“Bagaimana jika perasaan mereka masih ada? Bagaimana jika mereka juga masih ingin hidup? Bukankah kita tengah menjadi pasukan pembunuh? Kau tahu, aku tak mau menjadi pembunuh, aku tak mau membunuh bangsa kita sendiri.”

Detik itu juga aku terpaku.

Pembunuh? Military membentuk kami menjadi pembunuh?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Pikiranku sedari tadi dihantui oleh ucapan Chanyeol. Diam-diam aku merenungkan ucapannya sepanjang hari ini, semua persiapan yang sudah kurencanakan sejak jauh hari entah kubuang kemana.

Pikiranku tertuju pada satu hal, HmP.

Tak ada satupun dari kami yang bisa mendapatkan keadaan pasti Earth dari satelit-satelit yang ada di Ophelia, dan kami—para Arch, benar-benar tak tahu apa yang sedang kami hadapi sekarang.

Kami hanya dibekali ilmu pengetahuan dan informasi yang mengatakan bahwa Human di Earth telah berubah menjadi HmP dalam bentuk fisik Mutant dan terbelakang dalam sisi pikiran.

Tapi bagaimana jika ucapan Chanyeol benar? Jika mereka nyatanya hanyalah Human yang berbeda? Seperti para Flyer? Apa Military akan benar-benar memusnahkan mereka semua dalam ESP?

Aku tak pernah berencana menjadikan kekuatan plasma cahayaku sebagai senjata pembunuh. Tapi bagaimana jika Chanyeol salah? Bagaimana jika mereka benar-benar punya fisik Mutant dan keterbelakangan pikiran? Bagaimana jika mereka hanyalah monster?

Bukankah sama saja aku akan membunuh?

“Sehun?” aku tersadar saat seseorang menyenggol bahuku, dengan segera aku mendapati Irene berdiri disebelahku, menatapku khawatir.

“Ada apa?”

“Apa yang sedari tadi kau lamunkan?” tanyanya.

“Aku tidak melamun,” Irene tertawa pelan, dan menunjuk ke satu arah dengan dagunya. Saat kulemparkan pandanganku, aku sadar aku sudah jauh tertinggal dari barisanku, tentu saja karena aku melamun.

“Kau melamun Oh Sehun,” ucapnya sambil mendorongku pelan ke arah barisanku.

Dengan cepat aku melangkah menyusul tim ku yang lainnya. Kami masuk ke dalam dua buah MSTMechanical Skiescrap Tech—raksasa, sudah dibagi menjadi dua puluh tim untuk masing-masing Region di Earth yang sudah kami tandai.

Aku sadar, aku mendapatkan Region 14, Asia, dan lebih tepatnya, mereka akan menurunkan tim ku untuk membersihkan Asia. Asia. Salah satu sektor kecilnya adalah tempat asalku—maksudku, garis keturunanku. Korea.

Aku bergidik tanpa sadar saat membayangkan keadaan ditempat itu karena Region X tempat aku tinggal adalah tempat yang sempurna untukku. Jika ESP berhasil, tentu saja aku akan tinggal di Korea, bukankah begitu?

“Eratkan sabuk kalian Flyer! MST akan segera berangkat!”

Untuk kedua kalinya aku tersadar. Kenapa aku jadi lebih sering melamun hari ini? Ugh. Semua ini karena ucapan Chanyeol. Beruntunglah ia tidak ada di tim yang sama denganku. Jadi Ia tak lagi bisa menghantuiku dengan ucapan-ucapan dan pendapatnya mengenai Earth.

Aku melemparkan pandanganku ke Chanyeol, dan seolah sadar aku memandangnya, Chanyeol melemparkan pandangan ke arahku, dan melambaikan tangannya tenang.

Sial. Apa ia sedang mengucapkan selamat tinggal karena berhasil menghantui pikiranku?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

MST sampai di Earth dalam waktu kurang lebih empat jam. Dan selama empat jam aku terus teringat pada ucapan Chanyeol. Jadi aku memutuskan untuk melakukan MR—Mind Refresh—sesaat sebelum kami sampai. Aku harus membersihkan pikiranku dari ucapan aneh Chanyeol bukan?

“Region 14! Siapkan diri kalian!”

Aku segera menyiapkan diriku. MST tidak menurunkan kami dengan tenang di Region 14 karena HmP adalah ancaman besar untuk kami. Jadi kami akan diturunkan dalam jarak 1-2 root dari permukaan Earth.

Mengikuti beberapa kelompokku yang lain, aku berdiri di tepi MST saat pintunya terbuka. Angin dingin malam langsung menyambutku, menyapu kulitku, menciptakan sensasi aneh yang tak pernah kurasakan selama aku berada di Ophelia.

“Waspada dengan perubahan tekanan udara! Gunakan senjata dan perlengkapan kalian sebaik mungkin!” timku segera bergerak, kami melompat ke permukaan Earth, dan menggunakan IrGInfra-red Glasses—dan mengawasi keadaan disekitar kami.

Tentu saja aku tahu bahwa kami akan berpisah dan menyelesaikan tugas kami di masing-masing sektor kecil yang ada di Region 14. Aku tak berharap akan turun di Korea, sungguh aku tak—

“Mohon perhatian, dua menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan. Mohon perhatian, dua menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan.”

Sial.

Aku mendarat sempurna di permukaan Earth. Sementara telingaku berusaha menemukan sumber suara aneh yang baru saja kudengar jelas.

“Mohon perhatian, satu menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan. Mohon perhatian, satu menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan.”

Chemical rain?

Tunggu, bagaimana bisa ada teknologi chemical rain di Earth yang bahkan sudah hancur beberapa abad lalu?

Aku segera berdiri, dan memperhatikan sekitarku. Aku tak pernah tahu keadaan di Earth, aku tak mengingatnya karena sudah ratusan tahun berlalu sejak aku pindah ke Ophelia. Aku tak mengingatnya sama sekali.

TES!

Aku menengadahkan kepalaku dan menyadari bahwa hujan benar-benar turun. Hujan. Hujan adalah hal tak mungkin terjadi di Earth karena atmosfir Earth yang sudah—

TES! TES!

Chemical rain akan berlangsung selama sepuluh menit, bersamaan dengan pergeseran waktu. Segeralah mencari perlindungan karena chemical rain akan menyebabkan luka dikulit anda. Chemical rain akan berlangsung selama sepuluh menit, bersamaan dengan pergeseran waktu. Segeralah mencari perlindungan karena chemical rain akan menyebabkan luka dikulit anda.”

Aku tersentak saat kembali mendengar suara di dekatku. Suara itu sangat terdengar jelas seperti speaker yang—benar. Ini persis sama seperti speaker yang sering kudengar di Ophelia.

Hujan segera membasahi tubuhku. Lebih tepatnya membasahi wajah dan tanganku karena aku mengenakan pakaian tertutup saat ini. Aku menyernyit saat mendengar suara gemeresak aneh didekatku.

Aku segera memandang sekelilingku, berusaha menemukan hal aneh yang mungkin mencurigakan. Tapi aku tak menemukan apapun. Tubuhku sudah terbiasa untuk siaga selama pelatihanku di Ophelia. Dan gerakan sekecil apapun akan membuatku merasa siaga karena aku tahu aku tak berada di tempat yang aman.

Logam-logam berkarat teronggok tak berguna di dekatku. Sementara pagar-pagar kawat berduri yang sama berkaratnya dan bahkan sudah berlubang di beberapa sisinya tampak begitu menyedihkan, sisa Perang Dunia IV.

Aku melebarkan jangkauan pandangku, dan kutemukan gedung-gedung yang dulunya pasti tinggi, kini hanya terlihat sebagai gedung tak terawat yang hampir hancur karena waktu.

Aku menyernyit saat mendengar suara gemeresak lain di belakangku. Dengan cepat aku berbalik, tapi tak kutemukan apapun. Hanya kumpulan logam-logam yang terdeteksi oleh IrG-ku.

Aku dengan hati-hati menyentuh logam-logam tua itu, memastikan mereka cukup kuat untuk menahan bobot tubuhku, dan setelah itu aku melompat kecil menaikinya.

Pemandangan terlihat lebih banyak dari sini. Aku menengadahkan kepalaku, dan kulihat siluet silver berbentuk seperti bulan sabit berkilauan dilangit gelap ini. Ophelia. Rumahku.

Untuk kesekian kalinya aku menyernyit saat mendengar suara gemeresak yang hampir sama, mencurigakan. Aku mengepalkan tanganku, membiarkan plasma berkumpul di tangan kananku sebelum aku dengan tiba-tiba berbalik dan melontarkan gumpalan plasma ke belakangku.

SRAK! BRUGK!

Benar dugaanku. Satu-satunya yang tak bisa terdeteksi dengan IrG saat aku berada ditempat penuh logam adalah HmP dengan mutasi logam.

Aku melompat turun dan kembali melontarkan energi plasmaku ke black hole yang tercipta karena lemparan pertamaku. Bertubi-tubi. Dan kudengar jelas suara gedebum keras setiap kali aku melemparkan plasmaku.

Akh! Hentikan!”

Aku terhenti saat mendengar suara teriakan dari arah black hole itu. Apa ia salah satu anggota timku? Tidak mungkin. Ia pasti mengenaliku dan tidak—

SRAK!

Aku tersentak bukan main saat sesuatu, tidak—lebih tepatnya seseorang menyerangku, mendorong tubuhku hingga aku—

BRUGK!

Aku memejamkan mataku saat tubuhku menabrak tumpukan logam yang tadi kunaiki. Aku membiarkan energi plasma menyelimuti tubuhku dan kubiarkan plasmanya meledak menjadi keping-keping tajam kecil yang akan melukai HmP ini.

Akh! Kumohon! Hentikan! Akh! Sakit!”

Chemical rain akan berhenti dalam lima belas detik, matahari akan terlihat terbit dari arah tenggara jika cuaca di tempat anda cerah. Chemical rain akan berhenti dalam lima belas detik, matahari akan terlihat terbit dari arah tenggara jika cuaca di tempat anda cerah.”

Aku kembali menyerang sosok itu, membelesakkan tubuhnya di lempengan-lempengan logam yang ada di sana, tak memberinya kesempatan bahkan untuk bernafas karena lenganku menekan lehernya.

Aku sudah akan melontarkan energi plasmaku lagi padanya jika saja aku tak melihat pancaran sinar jingga perlahan menyapu tempat ini. Membuatku bisa melihat sosoknya dengan jelas.

Surai legamnya adalah hal pertama yang kulihat. Berturut-turut aku melihat wajahnya, kulit pucatnya yang mengelupas setiap kali sisa tetesan hujan mengenai permukaan kulitnya, dan juga jemari tangannya yang mencengkram lenganku.

Kudengar hembusan nafas pendek yang keluar dari bibir mungilnya. Dan saat cahaya matahari dengan jelas menerangi tempat ini, ia mendongak, membuatku bisa melihat jelas kilau silver di sepasang bola mata gelapnya, juga sepasang taring menonjol saat ia meringis kesakitan.

Ia seorang wanita.

“Kau… juga ingin membunuhku?”

Ya. Bukankah makhluk-makhluk sepertinya sudah sepantasnya lenyap?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

IRISH’s notes:

Hey, jangan kalian skip dulu. Di bawah masih ada cerita versi pemeran utama wanita kita, Velvin. Untuk kali ini, aku sudah engga sabar menunggu kata-kata FIN di bawah sana untuk berceloteh.

‘Perkembangan teknologi itu salah satu tanda kiamat’ ‘Cerita-cerita science fiction itu mendukung tanda kiamat’ kudapatkan hinaan mengerikan dan tidak bermoral ini sebagai sebuah motivasi untuk membuat Arch menjadi wujud balas dendam.

Kenapa? Aduh, tolong. Biarkan aku tertawa keras-keras dulu. Makhluk manakah yang masih bertahan untuk hidup di gua dan menolak semua kemajuan teknologi? Ketika aku bercerita tentang keberadaan ‘Humanoid’ di Jepang, tiba-tiba aja hinaan itu aku dapetin, dan sakit hatinya awet sekali, sampe aku bertekad untuk ngebuat fanfiksi ini dengan tujuan menghina balik.

Dengan seenak udel, orang-orang boleh menilai semua hal berbau science itu sebagai tanda kiamat, suka-suka. Itu hak asasi manusia. Tapi menghinanya di depan seorang yang pro pada hal-hal jenius itu? Jangan salah, aku enggak akan tinggal diam.

Sekarang coba dipikir, apa selama ini ‘kalian’ yang menjadi kaum yang menggebu-gebukan ‘science sebagai tanda kiamat’  enggak merasa menikmati kemajuan teknologi? Iya? Gitu? Kalau memang gitu, maka aku bisa katakan kalau KITA SEMUA MENDUKUNG TANDA KIAMAT, IYA GAK SIH?

KENAPA? WAH, ALASANNYA BISA BEGITU JELAS.

Pertama, kalian pakai handphone, komputer, laptop, televisi, sepatu, baju, bukankah mereka diciptakan karena adanya teknologi? Bukankah itu artinya kalian juga menggunakan kemajuan teknologi? Lalu apa bedanya dengan orang-orang jenius yang menciptakan robot untuk membantu manusia? HALO, ada yang masih hidup di zaman batu?

Kedua, kita para fangirl, setiap hari melihat kaum oppa-oppa, BUKANKAH KALIAN SUDAH BERZINAH MATA? ANJIIIIIR, ini ciptaan Tuhan yang ngebawa-bawa asas ‘tanda kiamat’ sungguh menabur garam di atas luka, nyes sekali efeknya dan menyinggung semua orang. EH ENTE, ENTE JUGA DEMEN OPPA-OPPA, ENTE JUGA MENDUKUNG TANDA KIAMAT SECARA TEORI YANG ENTE GUNAKAN UNTUK MENYERANG ANE, CUY.

Ketiga, membaca fanfiksi/membuat fanfiksi, kalian sudah mendahului takdir dalam cerita, mengubah takdir seseorang meski munafak berasas ‘fiksi’. HELLO, APA KABAR ENTE YANG DEMEN FANFIKSI JUGA, CUY?

Sungguh, aku ini bukan orang yang gampang marah, yang ada gampangnya nangis. Tapi kenapa kali ini aku bener-bener marah? Mengatas-namakan agama untuk hal dimana seseorang juga jelas terlibat dalam melanggar aturan agama itu juga salah.

Aku ini pendosa, tapi gapernah sok-sokan mengingatkan orang lain berdosa padahal sendirinya banyak dosa. Terserah, kalau orang-orang mau menganggap science sebagai tanda kiamat, tapi tolong, enggak usah sok menasehati saat kaca aja enggak punya.

Demi Tuhan, tolong. Tolong banget, guys. Siapapun, enggak cuma orang-orang yang menganggap science sebagai tanda kiamat, tapi buat kalian semua. Tolong, banget. Saat kalian tenggelam di dunia fiksi, jangan bawa-bawa dunia nyata dan kehidupan nyata.

Sadarlah, di dunia fiksi ini kalian juga pendosa, kita semua pendosa, lihat apa yang udah kita lakuin sama selebriti-selebriti? Kita mengubah kehidupan mereka meski dalam sebuah cerita. Apalagi yang suka bikin/baca fanfiksi yang biasnya mati, KALIAN SUDAH MENDAHULUI TAKDIR. Aku sendiri sadar, aku sering ngebunuh karakter, dosa aku banyak. Tuh, aku aja sadar kok.

Dan, ya ampun. Serius. Mikirnya logika dikit, tolong. Ya ampun gimana cara mendeskripsikannya? Aku tau kalian yang lahir di bawah tahun 1996 (yang lahir setelah aku lahir), mungkin kalian memang lebih jenius. Mungkin kalian yang masih muda, dan kalian yang ber-IQ di atas rata-rata juga merasa kalian begitu pandai dan lantas merasa berhak menghina orang lain termasuk menghina mindset aku sebagai seorang berotak pas-pasan yang memandang positif science sebagai hal yang baik untuk kehidupan manusia.  Tapi tolong, sekali lagi, kalau bisa jangan pakai kata-kata untuk menyakiti orang lain.

Menyakiti hati orang lain itu dosa, loh. Kalau mau kuat-kuatan saling mengingatkan dosa, aku juga bisa. Enggak cuma dalam hal science aja. Ilmu agama yang aku ingat adalah Tuhan meminta kita mempergunakan ilmu yang kita punya sebaik mungkin untuk kehidupan manusia? Lalu apa salahnya mereka yang jenius dan mampu menciptakan kemajuan science untuk membantu manusia? Salah ya? Selama itu robot-robot Humanoid enggak dipakai untuk hal-hal buruk, apa salah eksistensi mereka? DAMN.

Kalo merasa emang mereka salah, ya udah silahkan berharap bumi kembali ke zaman batu aja kalau gitu, atau ciptain dunia batu sendiri, monggo. Tapi jangan sesatkan orang lain dengan pemikiran tidak berdasar dan tidak bermoral yang mengatas-namakan SARA dan lantas menyakiti hati orang lain. TOLONG, hati nurani dipakai, otak dipakai sebelum berkata. DOSA LOH bikin orang lain sakit hati. AKU YAKIN DOSA. SERIUS.

Ya Tuhan, emosi ini masih menggebu tapi aku harus sadar diri. Sekarang, sedikit menyinggung cerita. Arch hanya secuil bagian yang aku robek dari pandangan aku tentang masa depan. Sisi buruknya, aku rasa. Mengingat dari setiap hal ada sisi baik dan buruk, Arch adalah sisi buruk. Tentang sisi baiknya, mungkin nanti bisa kupikirkan lagi sebagai balas dendam bagian dua.

Arch juga enggak akan berakhir dengan sebuah akhir yang jelas. Sudah kubilang kalau Arch hanya sobekan kecil, bukan? Dan juga, sengaja aku buat dia sedikit berbau konsep di One and Only, karena yeah~ begitulah dunia distopia yang ada di dalam benak aku. Aku tahu dystopia itu masa depan suram, tapi aku kasih poster terang biar seimbang. Besok yang utopia aku kasih poster suram, anggep aja hatinya suram dan sekarang terang.

Karena aku belum pernah bikin utopia di sini, mungkin nanti kalian akan tahu sisi positif perkembangan science itu di dalam otak ‘bodoh’ milik aku yang enggak suka zaman batu. DAN LAGI, KARENA AKU LAGI JAHAT VERSION, maaf-maaf aja enggak aku kasih glossarium. HAHAHAHAHA.

Sekali lagi, maaf kalau aku berkata-kata ‘luar biasa’ di atas sana dan lantas membuat kalian sakit hati, maaf. Aku juga makhluk yang tersakiti, tapi berusaha berpikir rasional karena nyatanya aku emang enggak hidup di zaman batu. Positifnya, mungkin yang memberi hinaan itu mengalami susahnya hidup di zaman batu. Jadi aku wajarkan aja dia enggak nerima perkembangan sains.

Terakhir, mau marah-marah lantaran diriku mengungkit hal seperti ini di dalam cerita? Silahkan, kolom komentarku terbuka untuk semua kritik dan saran. Mau berkata kasar, mengumpat, silahkan. Mau menasehati agama lagi? Silahkan. Tapi tolong ingat kalau kalian bukan satu-satunya pemeluk ‘agama‘ yang bekepercayaan atas suatu teori. Dan juga, kalau kalian cukup pintar, pasti tahu kan komentar-komentar pedas berbau SARA itu tidak dianjurkan? Aku pribadi enggak mengomel dengan mengatas-namakan agama, aku mengomel pada pribadi perseorangan yang mengatas namakan agama itu dengan cara yang tidak bisa aku terima, bukan pada ajaran agama tersebut.

Sekian, salam maaf dan salam peluk, Irish. Happy halloween! (MAU PROTES LAGI BILANG KALO NGUCAPIN HALLOWEEN ITU TANDA KIAMAT?)

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Velvin’s Eyes…

“Jadi kau sekarang berani melawan kami huh?”

Aku terhuyung mundur saat beberapa orang mendesakku, memojokkanku ke tembok. Tembok. Salah satu hal yang kubenci karena tembok merupakan batas dari kebebasan, dan saat aku terkurung seperti ini, mereka akan dengan mudah menyaki—

BUGK!

Aku tanpa sadar menggeram pelan saat kurasakan pukulan keras di perutku. Dan geramanku tentu saja seolah menjadi alarm khusus bagi mereka untuk lebih menyakitiku.

BUGK! BUGK!

Aku memejamkan mataku saat merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhku. Tapi aku bergeming. Aku tak mungkin membalas perbuatan mereka. Tidak boleh. Tidak boleh.

Aku mungkin bisa menyakiti mereka jika aku melawan. Dan aku tak mau menyakiti mereka. Aku tak mau menyakiti manusia.

Aku tak mau menyakiti bangsaku.

KRETAK!

Aku tersentak saat mendengar gemeretak pelan saat salah seorang dari mereka yang sedari tadi memukuliku tanpa ampun menyarangkan tendangan kerasnya di rusukku.

Perlahan bisa kurasakan darah mengalir dengan tidak normal didalam tubuhku. Dan rasa sakit segera menusuk dadaku. Apa tulangku patah?

“Mohon perhatian, dua menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan. Mohon perhatian, dua menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan.”

“Kita tinggalkan saja dia. Biarkan saja chemical rain membuat kulitnya melepuh.”

SRAK!

Aku bisa merasakan seseorang menendangku dengan keras sebelum mereka meninggalkanku, berteduh mencari perlindungan tentu saja. Aku masih merasakan sakit di sekujur tubuhku. Aku bahkan tak sanggup untuk menggerakkan tubuhku. Mereka selalu melakukannya. Mengerjaiku. Memukuliku. Berusaha untuk membunuhku. Walaupun usaha mereka sia-sia. Mereka selalu melakukannya.

Kenapa mereka tak pernah membiarkanku hidup dengan tenang?

Aku merangkak pelan, tanganku bergerak menarik logam didekatku untuk menjadi pegangan, tapi kurasa… aku tak sanggup menggunakan kemampuanku lagi. Terbukti dengan bagaimana logam itu hanya bergerak pelan dari persinggahannya.

“Mohon perhatian, satu menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan. Mohon perhatian, satu menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan.”

Aku menyernyit saat mendengar peringatan dari speaker otomatis yang bekerja sebagai Weather Warn di sini. Chemical rain memang tak akan membunuhku, tapi cukup menyakitkan untuk melukaiku.

Sejak Perang Dunia berakhir. Zat-zat kimia yang terdapat dalam senjata-senjata perang itu menyebabkan perubahan besar pada bumi. Mulai dari hujan yang sekarang mengandung kadar asam tinggi yang bisa membakar kulit, air yang mengandung sulfur tinggi dan bisa meracuni, tanah yang bermineral aneh sehingga semua tumbuhan tumbuh dengan tidak normal.

Udara yang beracun sehingga membuatnya dalam tekanan tertentu akan membakar paru-paru siapapun yang menghirupnya.

TES!

Perih…

Tetesan-tetesan chemical rain mulai menyakitiku. Seperti manusia-manusia yang menyakitiku, tempat ini seolah benar-benar menolakku. Tempat ini membenciku.

Chemical rain akan berlangsung selama sepuluh menit, bersamaan dengan pergeseran waktu. Segeralah mencari perlindungan karena chemical rain akan menyebabkan luka dikulit anda. Chemical rain akan berlangsung selama sepuluh menit, bersamaan dengan pergeseran waktu. Segeralah mencari perlindungan karena chemical rain akan menyebabkan luka dikulit anda.”

Aku merangkak menjauh dari tanah tempatku terbaring tak berdaya, dan untuk kedua kalinya menggunakan kemampuanku untuk menarik logam di dekat sana. Sungguh… aku tak sanggup menggerakkan apapun.

Aku beringsut pelan mendekati logam pendek yang berada paling dekat dari tempatku terbaring, dan berusaha melindungi tubuhku di sana. Aku menyernyit saat mendengar suara langkah tak jauh dari tempatku berlindung. Dengan penasaran aku beringsut mencari celah untuk bisa melihat sekelilingku.

Sekujur tubuhku terasa sakit, nyeri, dan kulitku seolah terbakar.

Aku kembali mendengar suara gerakan di dekatku. Gerakan yang sangat pasti. Seolah… seseorang ada di sana. Tapi siapa? Dan… bagaimana?

Tak ada manusia yang berani berkeliaran saat chemical rain mengguyur, karena hujan bisa melukai mereka. Mutogene? Kurasa tak ada satupun Mutogene yang berkeliaran saat manusia memburu mereka.

Aku kembali menggerakkan lenganku, berharap logam yang teronggok tak jauh dariku bisa menarikku untuk lebih mendekati area luas, sehingga aku bisa melihat keadaan di sekitarku.

Berhasil.

Kurasa tubuhku perlahan-lahan menyembuhkan diri, dan satu-satunya rasa sakit yang sekarang kurasakan hanyalah rasa perih di kulitku.

Aku bergerak pelan untuk mengintip ke ruang kosong yang ada di tempat pembuangan ini. Tatapanku segera tertuju pada seseorang yang berdiri di atas tumpukan mobil berkarat yang ada di dekat pagar kawat pembatas tempat pembuangan.

Ia tampak mengenakan pakaian serba gelap, dan berdiri menengadah menatap langit kosong. Bagaimana ia melakukannya? Berdiri dibawah guyuran chemical rain dan tidak merasakan sakit sama sekali?

Aku tersentak saat melihat kilauan cahaya terang muncul di tangannya, dan ia berbalik, melemparkan cahaya itu—entah bagaimana caranya—ke arahku. Sungguh. Ke arahku.

Aku memejamkan mataku saat rasa sakit kembali menyerang saat cahaya itu mengenai tubuhju. Rasanya seperti saat puluhan manusia memukuliku disatu tempat yang sama—di waktu yang sama.

Begitu menyakitkan. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa sebuah cahaya berefek seperti itu pada—

BRUGK!

Aku mengerang pelan saat tubuhku menabrak logam. Sakit. Detik selanjutnya aku sungguh tak bisa menghindar saat cahaya-cahaya lain datang dan menyerangku bertubi-tubi, begitu menyakitkan.

Akh! Hentikan!” teriakku, berharap sosok itu menghentikan seragannya padaku, rasanya sungguh tidak mungkin saat seorang manusia menyerangku sendirian.

Tapi ia tidak menghentikannya, justru semakin melemparkan cahaya-cahaya yang sama dan menyakitiku, lagi, dan lagi. Aku memejamkan mataku, membiarkan kemarahan sejenak menguasaiku, aku melesat cepat, liar seperti serigala, dan mendorongnya, membelesakkannya ke tumpukan logam tak jauh disana sehingga ia bisa menghentikan serangannya.

Aku kesulitan untuk mengenalinya di tengah kegelapan seperti ini. Tapi aku kembali tersentak saat cahaya bergerak menyelubungi tubuhnya. Bagaimana ia bisa melakukannya?

Cahaya itu perlahan mengerambatiku, menciptakan rasa sakit menusuk luar biasa di bagian tubuhku yang terkena cahayanya. Sontak aku melepaskan cekalanku padanya, tapi cahaya itu bergerak menyerangku.

Akh! Kumohon! Hentikan! Akh! Sakit!”

Aku merangsek mundur, tapi cahayanya seolah bumerang yang memburuku, tak mau melepaskanku. Terus menyiksaku dalam kesakitan.

“Chemical rain akan berhenti dalam lima belas detik, matahari akan terlihat terbit dari arah tenggara jika cuaca di tempat anda cerah. Chemical rain akan berhenti dalam lima belas detik, matahari akan terlihat terbit dari arah tenggara jika cuaca di tempat anda cerah.”

Tidak. Matahari. Tidak.

Aku baru saja akan melompat menjauhi tempat ini saat ia menyerangku lagi dengan cahaya yang sama, dan kali ini, ia membalas perbuatanku. Tangannya mendorongku kasar, menekan leherku, membuatku kesulitan bernafas, ia membelesakkanku ke tumpukan logam, mengunciku sementara aku berusaha keras melepaskan diri, menjauhkannya dariku.

Matahari tampak terbit dari tenggara, membuatku gemetar ketakutan, diantara semua serangan dan kesakitan, ultra violet adalah sumber kesakitan paling nyata. Tapi sosok di depanku masih mengunciku kuat. Aku menatapnya, apa ia juga manusia lain yang ingin membunuhku?

Tapi mengapa ia punya senjata berupa cahaya aneh yang begitu menyakitkan itu? Dan bagaimana ia bertahan dibawah guyuran hujan tanpa merasa sakit sedikitpun?

Aku sudah benar-benar pasrah saat matahari akan membakarku, tapi aku kembali merasakan hal aneh. Rasa hangat menjalari tubuhku, perlahan, seiring dengan gerakan terbit matahari.

Mengapa tubuh ini tidak terbakar?

Aku mendongak, dan tatapanku bertemu dengan sepasang mata kelam milik sosok di depanku. Seorang pria, yang menatapku dengan tatapan aneh—seolah meneliti. Wajah dan rambutnya masih basah karena hujan, tapi ia sama sekali tak terluka, maksudku, tak ada tanda satupun yang membuatku tahu hujan melukainya.

Tapi kenapa… Kenapa ia menyerangku?

“Kau… juga ingin membunuhku?” tanyaku lirih padanya.

Tatapannya melebar, tapi ia masih mengunciku dalam cengkramannya. Apa ia terkejut karena ucapanku benar?

“Velvin!”

Aku terkesiap saat mendengar teriakan di dekatku. Mereka pasti ingin memukuliku lagi setelah hujan tadi. Mereka tentu tahu aku tak bisa pergi kemanapun saat hujan turun. Dan terlebih, saat matahari terbit.

“Monster mengerikan! Dimana kau!?”

Aku berusaha mendorong lengan pria di hadapanku, menjauhkannya.

“Lepaskan aku… Kumohon…” rintihku pelan.

Aku tak mau manusia lain menemukanku dan kembali memukuliku. Tubuhku sudah cukup merasakan sakit hari ini. Dan aku tak menginginkan siksaan lainnya.

“Mengapa mereka mengejarmu?” pertanyaan itu membuatku terhenti, kutatap pria di hadapanku dengan pandangan tidak percaya, apa alasan dikejarnya aku oleh orang-orang itu masih belum jelas di matanya?

“Mutogene, bukankah kau sudah tahu?” tak malah menjawab pertanyaanku, ia justru menjauhkan lengannya dariku. Kembali, aku meringis saat merasakan panasnya matahari membakar kulitku. Dengan cepat aku menjauh darinya sebelum ia mengubah pikirannya dan memutuskan untuk menyerangku, lagi.

“Velvin! Kami akan menemukanmu!” teriakan itu menyadarkanku, menjadi peringatan bagiku jika aku tidak bisa berdiam di tempat ini.

Lekas, aku beringsut menjauh dari pria yang ada di hadapanku, mengabaikan rasa sakit yang menusuk, aku berlari meninggalkannya, menyelamatkan diri. Kurasa aku harus berpindah tempat tinggal lagi.

Aku berusaha mencari lompatan-lompatan untuk menghindari tempat yang memantulkan cahaya matahari. Saat terhenti di atas sebuah runtuhan bangunan, aku berbalik, memandang ke tempat dimana aku tadi mendapatkan serangan bertubi-tubi dari pria aneh itu.

Ia masih berdiri di tempat yang sama, dan tatapannya tertuju padaku.

Siapa dia?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku seorang manusia.

Sungguh. Aku adalah seorang manusia.

Tapi mereka terus berusaha membunuhku karena aku berbeda. Aku tak berbeda, aku hanya ingin menjadi manusia. Aku benci semua kelebihan ini. Aku benci terjebak dalam tubuh yang tak bertambah tua selama ratusan tahun.

Aku benci siapapun yang membuatku menjadi mesin pembunuh dan terjebak di tempat ini. Aku benci menerima perbedaan yang ada dalam diriku.

Aku… hidup di dunia yang sulit untuk dimengerti.

Tubuh ini tubuh manusia, tapi semua yang ada didalamnya bukanlah manusia. Itulah mengapa aku membencinya. Aku lelah menjalani ratusan tahun dalam keadaan yang sama, dalam pelarian yang sama.

Aku benci terus berpindah kehidupan dan berharap ada yang bisa menerimaku seperti caraku menerima perbedaan mereka.

Mengapa semua orang berusaha untuk membunuh orang-0rang yang berbeda? Mengapa mereka tak bisa menerima perbedaan bahkan hanya untuk segelintir orang yang selama ini sudah hidup bersama mereka?

Semua manusia saling berebut untuk hidup di sisa menyedihkan bumi ini. Kami tak pernah mengharapkan lebih, kami hanya ingin bertahan hidup. Tapi mereka sungguh membenci perbedaan.

Mutogene. Mereka memanggil kami Mutogene. Karena kami adalah manusia berbeda yang masih memiliki banyak sisi manusia bersama kehidupan kami. Mutogene membenci perubahan sosok mereka menjadi Mutant. Mereka benci saat harus menjadi cannibal saat tubuh ini meraung menginginkan makanan.

Mutogene… adalah manusia.

Kami sama.

Tapi tak satu pun manusia di tempat ini mau menerimanya. Ribuan, ah, tidak, jutaan informasi yang mereka curi dari Half-moon adalah dasar yang membuat mereka memburu kami, para Mutogene.

Kami tak ingin dimusnahkan, kami ingin bertahan hidup. Walaupun itu artinya kami harus membiarkan manusia lain menyakiti kami, melukai kami, berusaha membunuh kami.

Kami tak bisa mati. Tak seperti manusia yang akan sekarat bila terkena chemical rain, atau menjadi korban storm-fire—sebuah badai panas yang mengalirkan suhu diatas 66,8 fahrenheit—kami punya daya tahan tubuh beribu kali lebih baik daripada manusia.

Kami tak punya kekuatan lebih, ataupun nyawa lebih. Kami hanya… tak bisa dilukai dengan mudah. Dan keinginan kami untuk menjadi manusia sangatlah tinggi.

Tapi keegoisan para manusia seolah mengubur keinginan kami dengan terus memberondong kami dengan serangan-serangan dan penyergapan-penyergapan setiap kali matahari singgah di kehidupan kami.

Di antara semua cara mereka untuk berusaha menyakiti kami, hanya ada satu cara yang benar-benar bisa menyiksa kami, ultra violet. Itulah mengapa kami tak pernah muncul saat matahari muncul, karena kami bisa sekarat, hanya sekarat, terjebak dalam kesakitan, dan tidak mati.

Terkadang saat melihat Half-moon aku sering berpikir, bagaimana bisa manusia menciptakan tempat yang begitu terlihat indah dari tempat tinggalku? Tempat yang menyala seperti api di siang hari, dan menyejukkan seperti salju saat malam hari dalam bentuk setengah bulan yang sangat sempurna?

Apa manusia lain juga tinggal disana? Apa ada sekelompok kecil juga yang menduduki posisi yang sama dengan para Mutogene ditempat ini?

Aku tak yakin.

Aku bahkan tak yakin pada kehidupan yang sekarang tengah kujalani. Aku begitu lelah dengan semuanya, aku lelah menerima semua siksaan dari manusia, aku bosan mendengar cacian mereka, terlebih, aku muak mendengar mereka begitu membanggakan diri dan berkata bahwa kami tak akan exist dalam beberapa tahun ke depan.

Apa yang begitu membuat kami berbeda? Selain keadaan fisik Mutant yang permanen pada tubuh kami… kami masih seorang manusia. Bukankah begitu?

Kami bahkan tak menjadi cannibal seperti mereka yang memakan segalanya. Kami bisa menjalankan semua kehidupan yang beberapa abad lalu terjadi. Kehidupan sempurna walaupun penuh dengan retakan dan kesakitan.

Setidaknya… kehidupan dulu tak memaksa kami untuk mengubur perbedaan dan menjadi homogen. Sampai kapan mereka akan memburu kami? Berusaha membunuh kami walaupun dengan hasil yang nihil?

Entah sampai kapan, aku juga tidak tahu dengan pasti.

Hanya saja… akankah keajaiban terjadi pada kami? Para Mutogene?

Mungkinkah… kami benar-benar bisa menjadi manusia?

Dikehidupan menyedihkan ini… berharap rasanya begitu tidak mungkin.

Walaupun aku sangat yakin ada cara yang bisa membuat para Mutogene sembuh. Kami bisa menjadi manusia lagi. Karena pada dasarnya kami adalah manusia bukan?

Bukankah kami juga pantas hidup?

FIN

22 thoughts on “[ONESHOT] ARCH – Dystopia Version — IRISH’s Story

  1. Huuu…wat du yu min kakk? :” ini ff keren sekaligus bikin bingung uh😂, jjang! Jjang lahh! Pokoknya jjang!
    Fingernote kk bikin aku sadar masa :v
    /seketika tobat/ wkwkwk. Jjang sekali(?)
    J
    J
    A
    N
    G
    😂😂
    Ka irish jjang!

    • 😄 buakakakakakakakkakakakakakakaka alhamdulillah ada yang merasa pernah meragukan scifi kemudian sadar karena fingernotes dariku😄 thanks a lot udah bacaa ~ kecup sini ~

  2. MAAAAKSUDNYA APAAAA???????????!!!!!! CUAP-CUAP YANG SEHARUSNYA ADA DI AKHIR, IU MAKSUDNYA APAA?? EMANG SELAMA INI ADA YANG BLNG GTU KE KAKA? SIAPA KA? TAK SOBEK-SOBEK! catatannya aku simpen deh ka. soalnya bermanfaat buat renungan hati /eaaak. buat ceritanya gantung banget sumpah. bikin sequel atau seriesnya lah ka. tapi ga maksa ko walaupun ingin /digampar. tapi aku masih kobam sama switch. aku juga masih harap-harap cemas buat wings. buru lah update. gatel tangan pengen baca. iya tau aku baca pake tangan. wihiiiy. udahlah kan gaguna inimah komennya. by ka. jangan marah-marah lagi. entah tua ka. malu sama ka altair. eh. sori ka. bay ka. bay. bay. bay.

    • ITU MAKSUDNYA APA? ADA KEPSLOK DI AWAL KOMEN MAKSUDNYA APA?😄😄😄 WKWKWK IYA ADA, ADA SESEORANG, YANG TELAH MENCABIK HATIKU DAN MEMBUATKU MERASA SCIFI BEGITU….AH, SUDAHLAH. Engga enak mau ngebahas masa lalu tapi aku sendiri engga bisa move on dari masa lalu😄 sabar ya sabar Wings yang gatel tangan apa mata?😄 kok ambigu begitu😄

  3. Itu notesnya keren loh. Sejenak membuatku lupa sama cerita yg tadi aku baca.
    Mba kurang lengkap, di tengah tadi ada notes harusnya di akhir ada cuapcuap.
    .
    Aku ngga setuju itu ada kata FIN.
    Itu harusnya TBC kek To Be Continue kek.
    Aku mau protes! Protes! Protes!😁
    Aku awalnya dah seneng banget nemuin poster kak Irish apalagi gambarnya si LarvaWillis. Lanjutin dong! Yah yah yah /maksa pake puppy eyes/

  4. Notesnya ditengah bikin aku pangling dari ceritanya😄
    Lucu juga yah, kalo ada orang yg mungkin bisa dibilang ‘reader’ tp stelah baca, dia berceramah hahahaha
    Tenggelamkan saja orang macem gitu mah eonn. Buang tenaga banget ngeladenin makhluk astral bgitu wkwkwk
    Agak sebel aku mah sm orang yg terlalu rasis, mengatasnamakan dosa, agama, dsb ckck mungkin dia itu suci, kita mah penuh sodaa *ehh

    Back to story – daya imajinasiku rada mentok di glossary nya T.T istilahnya bikin puyeng x.x tp aku ngerti inti ceritanya. Tp sebenernya mutogene itu musuh apa bukan eonn? Knp sehun biarin velvin lari? Jatuh cintakah? *plak

    Next seriesnya ditunggu eonn rish ^0^

    • Notes mengalihkan dunia pembacaaa😄 ketahuilah kalo aku seneng menaruh kejutan di tengah-tengah cerita BUAKAKAKAKAKAKKA😄 pengennya aku tenggelamkan tapi aku mah apa cuma manusia biasa yang hanya bisa mengungkapkan lewat kata-kata tanpa mampu menenggelamkan😄
      sejujurnya pas ngetik aku bikin glossary sendiri karena emang banyak kata-kata membingungkan dan menggalaukan sih ya😄 BUAHAHAHAHAHAHAH😄 kejam sekali aku ngebuat cerita tanpa glossarium😄

  5. aku salpok sama catatan kak irish, sesuatu sekaleh ngeletakkinnya di tengah. Wkwk, kadang aku juga merasa gitu kok kak, aku kadang ngerasa kesindir juga kalo udah ada yg ngomonin fiksi. yakali mereka ngapah-apahin fiksi/susah ngejelasinnya kak rish/ sesuka ae lah, namanya juga fiksi, kok dia yg sewot. Ckckck, kayaknya kak irish tengah dilanda pegal hati, sabar kak rish, orang emang suka seenak udelnya, ngehina aja tanpa tau apa proses dibalik semua itu, ya mereka enak siap baca beberapa menit komen kritik pedes ini sok ngayal lah, tanda kiamat lah, melangkahi Tuhan lah, hellow, gak sadar dia baca juga? gak sadar dia bca hasil ketikan begadang semalam suntuk? dan bawa-bawa Agama? terlalu pendek akal kalo menurut sudut pandang eki sendiri. Sebuah fiksi tentang teknologi dibilang tanda kiamat? eh anak zaman batu, emang ente ngetik tuh komenan gak lewat barang sciene juga? sadarlah sodaraku, apakabar sangkakala kedua? emang ente bisa nebak kapan? /plakk/ ini mulai ngawur.
    Intinya keep hwaiting dan wiriting buat kak irish kusayang, anggepa aja itu angin lalu yg lagi kumat dan nyeplos sesuka udel dia, bokongin aja kak/plakk/
    .
    .
    betewe kak, ini mantep yah nuangin kesel lewat epep cem ini? sesuatu sekaleeehhh…😀
    dan lagi-lagi, kenapa fin nya gantung kak? eki tak kuasa berkata-kata lagi, mungkin karena kak irish pegel hati, yaudah, eki anggep gitu aja, wkwkwk /plakk/😄
    tanpa Glosarium? ckckc, kak irish mode jahat nih, wkkwk😀
    .
    Hwaiting kak Rish!!!! ❤

    • Kuletakkan di tengah karena aku anti mainstream, duhai Eki😄 wkwkwkwkwkwkwk pada dasarnya emang ya, semuanya itu fiksi, mau genre apapun, semuanya fiksi, dan kalo mau dihubung-hubungin sama agama ya… you know lah Eki :”) kokoroku tersayat sekali mengingetnya😄 wkwkwkwkwkwkwk btw, itu komentar berbau sara ane dapetin lewat chat untungnya, enggak di kolom komentar jadi engga ada yang tau juga ya😄 wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwk
      Ane tumben liat eki komen sepanjang ini😄 ciyusli, ini patut di inget sampe jaman buluq😄 BUAKAKAKAKAK😄 sangkakala kedua kenapa ente bahas juga di sini? Kenapa?😄 ya Lord Eki ane malah salfok sama sangkakala😄 wkwkwkwkwkwkwk
      Iya, nuangin kekeselan lewat epep itu muantep rasanya, greget sekali malahan😄 wkwkwkwkwk thanks ya eki ~ sini kukecup dulu ~

  6. sumpah rish aku cuma baca notes kamu doang karena merasa penasaran ada apa gerangan sampe notesnya sepanjang itu? well, aku juga heran sama orang-orang yg berpikiran pendek kayak gitu, otaknya gak dipake. masih ada aja orang yg menganggap cerita ‘fiksi’ itu sama kayak dunia nyata. karna kita gabisa melakukan semuanya suka-suka didunia nyata, apa salahnya kalo kita menuangkannya dalam tulisan? toh itu cuma imajinasi dan kreativitas seseorang. intinya buat para readers kalo gak suka sama ceritanya ya gak usah dibaca. boleh kasih kritikan tapi apa gak bisa dengan kata-kata yang sopan? kalo mau dihargain ya hargain dulu orang lain. kalo mau bertindak mikir dulu, jangan sampe menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain. iriseeeee semangat aja deh yaaaa~ jangan peduliin orang-orang yg begitu. ane juga udah sering dapet hujatan-hujatan serta hinaan-hinaan yang nyakitin hati. salah satu contohnya kayak yg ente liat kemaren di wp ane. tapi ane orangnya gak kayak ente bisa marah2. ane orangnya gabisa marah T,T

    p.s: line ane kenapa ga dibales? kusedih nih.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s