My Cinderella Chapter 11 [A Twist in Time] – HyeKim

Mycinderellacover

My Cinderella Chapter 11

└ A Twist in Time ┘

©2016 HyeKim‘s Fanfiction Story

Starring With : Hyerim (OC) as Oh Hyerim || Luhan as Xi Luhan || Victoria f(x) as Victoria Song  || Changmin TVXQ as Shim Changmin || Yuri SNSD as Kwon Yuri || L INFINITE as Kim Myungsoo

Genre : Romance, Comedy, School life, Friendship || Rating : PG-15 || Lenght : Multi Chapter

Summary :

Bagi Luhan, Hyerim adalah Cinderella dalam hidupnya. Cinderella yang terlahir dari keluarga berada, mempunyai ibu dan sudara tiri yang menyayanginya. Tapi, Sang Cinderella merasa kesepian. Apakah bisa perbedaan antara Luhan dan Hyerim menyatukan keduanya dalam hubungan cinta?

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


Luhan merasa waktu sedang dibalik


PREVIOUS : 

Teaser || Chapter 1 The Rich Girl] ||  Chapter 2 [Be Her (boy)friend] || Chapter 3 [I’ll Protect you || Chapter 4 [What’s Wrong With Her?]  || Chapter 5 [Perfect Guy For Her] || Chapter 6 [Love and Friendship] || Chapter 7 [Behind Story of Cinderella] || Chapter 8 [Sound of Heart] || Chapter 9 [Who Will You Choose?] || Chapter 10 [All With You]

RECOMENDATION SONG :

HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

‘Kring!’

Bell SMA Shinhwa menggema di seluruh penjuru sekolah. Bunyi bell surga yang berarti tanda istirahat. Langkah bising dari seluruh kelas terdengar bersemangat karena diwaktu sekaranglah mereka semua bisa mengistirahatkan otak sejenak. Akan tetapi, Luhan keluar kelas dengan raut kosong dan langkah lesu. Pikirannya berkicamuk ke mana-mana dan tertuju pada Hyerim.

“Ke mana gerangan dirinya?” gumam Luhan disertai helaan napas beratnya. Dirinya berjalan di koridor dengan pandangan menerawang ke bawah dan terus memikirkan Hyerim.

Tiba-tiba sebuah tepukan dibahu dirasakan Luhan dan lantas dirinya pun menoleh ke sumber tepukan barusan. “Hei bro!” sapa Jonghyun tatkala Luhan mutlak menoleh kapadanya─orang yang menepuk bahunya tadi.

Senyum tipis terukir dibibir Luhan. Jonghyun pun masih menampilkan senyum lebarnya, tak lupa Joohyun yang berada dirangkulannya  menampilkan senyum manisnya. Namun senyuman pasangan di sebelahnya tak dapat menyembuhkan kekhawatirannya akan Hyerim.

“Apa kamu sakit, Lu?” ketika ketiganya sedang berjalan di koridor bersama, Joohyun bertanya demikian ketika menyadari raut muka Luhan yang tak bersemangat.

Luhan melirik Joohyun yang menatapnya khawatir dan ternyata Jonghyun pun demikian karena tingkah Luhan yang mengkhawatirkan. Luhan menghela napasnya kemudian menggeleng.

“Aku hanya khawatir pada Hyerim.”

Perkataan Luhan menyebabkan Joohyun dan Jonghyun saling pandang dengan ragu. Keduanya tahu akan Hyerim yang digeret paksa Myungsoo tadi pagi untuk pergi. Namun tidak mungkin mereka memberitahu hal tersebut pada Luhan.

“Ah mungkin Hyerim ada urusan. Lupakan sajalah dan lebih baik kita ke kantin.” Luhan berkata guna  menenangkan dirinya sendiri kemudian melempar senyum tipis dan mulai berjalan beberapa langkah di depan Joohyun dan Jonghyun yang menatapnya khawatir.

Akhirnya keduanya pun mulai melangkah dan mensejajarkan diri di sebelah Luhan yang sekarang memandangi ponselnya terus-menerus, berharap adanya panggilan masuk dari kontak Hyerim. Lagi-lagi Joohyun dan Jonghyun menatapnya khawatir. Selama perjalanan menuju kantin tidak ada yang buka suara sama sekali. Hingga ketika ketiganya tinggal sejengkal memasuki aera kantin, pekikan kaget seorang siswi menarik perhatian ketiganya.

“HEH LIHAT SITUS KOREANEWS! ADA KECELAKAAN DI DAERAH DONGJAK! DAN KORBANNYA ADALAH PEWARIS KMS GROUP, KIM MYUNGSOO DAN PUTRI PRESDIR SHINHWA’S EMPEROR, OH HYERIM!”

Siswi tersebut memekik layaknya kesetanan dengan pandangan melotot pada ponsel yang ia taruh tepat beberapa senti didepan wajahnya. Suara riuh dari sana-sini terdengar usai pekikan siswi yang diketahui murid kelas yang bersebelahan dengan Luhan. Dan kembali lagi pada Luhan, terlihat pria tersebut membatu dengan air wajah kosong. Joohyun dan Jonghyun yang terkejut pun menatap Luhan lebih khawatir sekarang.

“Eung, Lu. Lebih baik kita ke kantin dan mencari bangku untuk duduk dulu,” kata Jonghyun dengan ragu-ragu. Luhan menoleh sekilas ke arahnya lalu mengangguk pelan, Jonghyun pun langsung merangkul Luhan untuk menenangkannya dan Joohyun pun berjalan di belakang pria tersebut dengan mimik khawatir dan menggigit bibir bawahnya.

Hyerim.

Hanya ada nama itu dibenak ketiganya paska mendengar berita kecelakaan tadi.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

‘KECELAKAAN DI DISTRIK DONGJAK, SALAH SATU KORBAN ADALAH KEDUA PUTRA DAN PUTRI PEWARIS PERUSAHAAN TERNAMA DI KOREA SELATAN.

KOREANEWS (10/9/16) – Pagi ini sekitar pukul 07.30 pagi waktu setempat, terjadi kecelakaan di daerah distrik Dongjak, Seoul, Korea Selatan. Tabrakan terjadi antara mobil hyundai i30 berwarna silver dengan truk toyota rino berwarna merah. Diduga hyundai i30 yang dikendarai oleh Kim Myungsoo (17) melaju di jalur yang salah hingga berbentrokan dengan truk toyota rino yang dikendarai Han Taehyun (30)

Kim Myungsoo yang merupakan putra pemilik KMS Group, salah satu perusahaan ternama di Korea, hanya mengalami luka-luka disekujur tubuhnya termasuk goresan agak lebar dipelipisnya. Dirinya pun  tidak sendiri dan ditemani oleh calon tunangannya, Oh Hyerim (17) yang merupakan  putri pemilik Shinhwa’s Emperor. Hyerim dinyatakan mengalami masa kritis dengan tidak sadarkan diri ketika tim medis datang ke tempat kejadian. Sementara Han Taehyun hanya mengalami luka ringan.

Ketiga korban sedang dilarikan ke rumah sakit Gangnam Severance Hospital saat ini’

Victoria meremas kuat ponsel miliknya yang menampilkan situs berita kecelakaan yang menimpa Hyerim dan Myungsoo. Terlihat sekali rautnya resah sementara Changmin di sebelahnya juga melihatkan mimik tak tenang sambil memandang ke jalanan yang sialnya agak macet siang ini.

“Paman Ahn, apa tidak bisa lebih cepat?” tanya Changmin dengan gerakan badan resah pada supir keluarganya.

“Maaf tuan muda, jalanannya sangat macet,” ucap Paman Ahn tanpa mengalihkan pandangan ke jalanan yang sangat padat.

Victoria mengangkat kepala dari ponselnya dan ikut menggerakan tangan diatas pahanya dengan tidak tenang sambil melirik ke samping kirinya, klakson mobil terdengar di belakang mobil yang ditumpanginya. Mungkin karena ambulan yang membawa ketiga korbanlah yang menyebabkan kemacetan terjadi. Ketika masih sibuk dengan arah pandangannya keluar jendela mobil, Victoria merasakan Changmin mengulurkan tangan untuk memegang tangannya dan mengelusnya lembut lantas menarik perhatian Victoria ke arahnya. Changmin pun melihatkan senyuman menenangkannya.

“Semuanya akan baik-baik saja.”

Victoria membuang napas berat dan menunduk dengan pandangan menerawang, lalu dirinya berkata. “Aku harap begitu.”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Akh!”  rintihan lolos dari seorang lelaki yang sedang berada di atas ranjang rumah sakit dengan posisi duduk sambil memegang sisi kepalanya yang diperban. Mata lelaki tersebut─Kim Myungsoo, tampak terpejam untuk meminalisir rasa sakit dikepalanya.

“Hyerim…” Myungsoo menggumamkan nama gadis yang terakhir kali ia lihat sudah penuh dengan darah terutama dibagian kepalanya. Mengingatnya membuat Myungsoo mengerang frustasi dan hendak turun dari ranjangnya.

“Soo-ya, jangan turun!” larangan yang sama persis dengan suara Victoria itu memasuki gendang telinga Myungsoo dan benar saja bahwa Victoria baru datang bersama Changmin dengan mimik khawatir ketika Myungsoo mengangkat kepalanya dan mendapati keduanya berjalan mendekati ranjangnya.

Victoria langsung duduk di tepi ranjang dan menilik wajah Myungsoo dengan wajah tak tenangnya. “Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu sudah merasa baikan dan─”

“Hyerim,” seketika Myungsoo memotong sambil menatap sayu Victoria dan membuat gadis yang lebih tua darinya itu tutup mulut dengan raut tegang.

“Di mana… Hyerim?” Changmin bertanya dengan nada hati-hati dan terlihatlah raut wajah Myungsoo yang kosong sekarang ini. “Apa Hyerim baik-baik saja, Myung?” Changmin bertanya lagi.

Dengan pandangan mengabur karena air mata, Myungsoo menggeleng lemah dengan raut kosong. “Hyerim…”

Saat itu jugalah Victoria langsung memeluk Myungsoo agar lelaki itu tenang. Dirinya tidak mau sosok adik yang ia sayangi terlihat rapuh sekarang. Sementara Changmin membuang napas berat dengan hati tidak tenang.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

‘Tut… tut…’

Suara alat rumah sakit tersebut layaknya alrm di pagi hari karena menyebabkan seorang gadis yang semula tak sadarkan diri itu bangun dari alam bawah sadarnya. Kelopak mata gadis dengan selang infus, perban dikepala, juga peralatan medis lainnya pun tampak terbuka perlahan. Matanya mulai membiasakan diri dengan cahaya lampu kamar inap yang menyapa korneanya dan lantas dirinya pun mengerjapkan mata perlahan.  Hyerim, gadis tersebut, mulai menggerakan mata untuk menelisik di mana dirinya saat ini. Akhirnya ujung matanya mendapati Victoria yang tertidur di sofa dengan posisi duduk dan menopang dagunya.

Unni…” panggil Hyerim lirih namun tak mempengaruhi tidur Victoria. “Unni.” Hyerim kembali memanggil dengan nada lebih tinggi namun serak, tapi setidaknya membuat Victoria tersentak dan bangun dari tidurnya.

Nyawa Victoria yang belum sepenuhnya terkumpul pun menoleh pada Hyerim dengan muka bingung. Dirinya langsung melebarkan mata ketika mendapati Hyerim sudah sadarkan diri. Langsung saja Victoria menghampirinya tergesa dan mengelus pipi Hyerim dengan muka khawatir.

“Ya ampun Hyerim, kukira dirimu akan tak sadarkan diri selama berbulan-bulan lamanya.” desah Victoria dengan perasaan lega. Penuturan Victoria membuat Hyerim kebingungan detik ini akan hal apa yang terjadi padanya. “Changmin! Bangun! Panggilkan Dokter Su, Hyerim sudah sadar!” Victoria menoleh ke belakang sambil berteriak kepada Changmin yang langsung bangun dan sempat terkaget-kaget sebelum berlari mencari Dokter Su.

Antensi Victoria kembali kepada Hyerim yang tampak kebingungan, mungkin efek syok paska kecelakaan apalagi Dokter Su mengatakan bahwa Hyerim mengalami benturan keras dikepalanya dan untungnya malam ini Hyerim sudah siuman tidak seperti perkiraan Dokter Su bahwa Hyerim akan koma selama berbulan-bulan.

Unni, sebenarnya apa yang terjadi padaku?” seketika Hyerim menanyakan apa yang berkelebat diotaknya. Dirinya sungguh bingung apa yang menimpa dirinya hingga dilarikan ke rumah sakit.

Gerakan elusan tangan Victoria dipipi Hyerim dengan senyumannya langsung terhenti disertai senyum yang luntur. Seketika air wajah Victoria berubah menjadi kaget tatkala menyadari Hyerim sedaritadi memanggilnya dengan sebutan ‘unni’ yang sudah beberapa tahun terakhir ini tidak keluar dari mulut Hyerim.

“Kamu…. memanggilku apa?” ucap Victoria lambat-lambat demi memastikan pendengarannya dengan bola mata sedikit membola.

Perasaan bingung juga dialami Hyerim karena ucapan Victoria yang seakan memasang wajah tak terima dipanggil demikian oleh Hyerim. “Unni, aku memanggilmu unni.” ucap Hyerim dengan raut wajah heran.

Victoria yang sangking kagetnya pun berdiri dan sedikit melangkah mundur dengan raut tak percayanya. Hyerim kembali memanggilnya dengan sebutan itu layaknya dahulu kala sebelum Hyerim berubah menjadi sosok dingin dan menjauhinya. Kemudian terdengar suara pintu kamar inap Hyerim dibuka membuat kedua gadis yang berada di dalam ruangan tersebut menoleh ke sumber suara, terlihat Haera─ibu tiri Hyerim, bersama Oh Daejun─ayah Hyerim, memasuki kamar inap Hyerim dengan raut khawatir.

“Hyerim-ah,” panggilan lembut Haera terdengar dengan mata berkaca-kaca. Ketika beliau hendak memeluk putrinya itu, Dokter Su datang bersama Changmin. “Ah… annyeong haseyo.” Haera langsung saja menyapa Dokter Su sambil sedikit membungkuk. Tuan Oh dan Victoria juga melakukan hal yang sama.

Sapaan tersebut dibalas senyuman hangat nan ramah Dokter Su dan juga badannya yang sedikit membungkuk. Lalu Dokter Su menoleh pada Hyerim masih dengan senyum ramahnya, Hyerim pun membalasnya dengan senyum kikuk karena dirinya bingung akan situasi yang terjadi padanya.

“Hallo Hyerim, aku akan memeriksa dirimu.” kata Dokter Su ramah sembari berjalan mendekati Hyerim.

Namun ketika satu langkah lagi Sang Dokter sampai di samping Hyerim, gadis itu buka suara sambil menatap Haera dan Changmin bingung. “Eung… kalau boleh tahu, mereka berdua siapa ya? Aku tidak enak saja bila diperiksa dokter dan ada orang asing yang mengetahui hasilnya.”

Seketika semuanya membeku mendengar penuturan Hyerim yang sekarang menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan raut bingungnya. Haera tampak lemas ketika mendengar Hyerim menyebutnya orang asing, dirinya hampir ambruk bila Tuan Oh tidak segera memegang kedua bahunya untuk menenangkan dirinya. Sementara Changmin menatap Hyerim khawatir dan Victoria menggigit bibir bawahnya sambil menunduk dan memejamkan mata, intinya Victoria pun tahu bahwa dugaannya tadi benar.

“Hyerim bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa ibu dan kakakmu itu orang asing?” ucap Tuan Oh sambil memberikan Hyerim tatapan prihatin dan mengelus-elus pundak istrinya.

Dahi Hyerim mengerut bingung. Ibu? Kakak? Hyerim pun menatap Changmin dan Haera dengan pandangan kosong. “Kakak? Kakakku hanya Victoria unni selama ini. Dan ibu? Yah, ibu sudah meninggal dua bulan yang lalu.”

Deg. Jantung semua orang yang ada di sana tergetar mendengar penuturan Hyerim termasuk Dokter Su sendiri. Hyerim mengatakan ibu kandungnya meninggal dua bulan yang lalu sedangkan kejadian tersebut sudah delapan tahun yang lalu. Semua mata menatap Hyerim penuh arti dan gadis itu tambah bingung karena hal tersebut.

“Hyerim… coba kamu sebutkan ingatanmu sebelum kecelakaan ini,” ujar Dokter Su mencoba mencairkan suasana.

Hyerim pun tampak berpikir sambil mengelus dagunya dan pandangan mata ke  arah bawah lalu dirinya menatap Dokter Su dan menyahuti ujarannya. “Yang aku ingat adalah aku seorang anak perempuan berusia sembilan tahun. Ibuku meninggal dua bulan yang lalu. Dan sepertinya aku bisa ke rumah sakit karena sedang bermain di dekat kolam ikan rumah Victoria unni yang berada di halaman belakang tapi karena tidak hati-hati aku malah terpeleset jatuh ke sana. Apakah benar?” sahutannya diakhiri garukan kepala oleh Hyerim yang merasa ragu.

Semuanya terdiam mendengar perjelasan Hyerim dan tampak Dokter Su menghela napasnya. “Sudah kuduga inilah efeknya.” gumam Dokter Su pelan.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Waktu yang dilewati Luhan tak luput dari rasa kekhawatirannya untuk Hyerim. Belum ada kabar terbaru tentang kekasihnya itu yang diberitakan mengalami luka paling parah saat kecelakaan kemarin. Pagi ini, Luhan termangu di meja makan sambil memandangi layar poselnya dengan jempol yang bergerak-gerak untuk membaca pesan-pesan yang ia kirim ke nomor Hyerim.

‘Oh Hyerim, apa kamu baik-baik saja?’

‘Hyerim-ah, jangan buat aku khawatir seperti ini. Kamu tega sekali’

‘Hey aku tidak fokus belajar hari ini padahal ujian akhir semester tinggal sebulan lagi! Sungguh ketika kamu sadar nanti, aku akan memarahimu yang membuatku tidak fokus belajar’

‘Apa kamu sudah makan? Ah tidak, apakah kamu sudah sadar dan mulai membaik?’

‘Kumohon balas pesanku, sayang’

‘Lihat, aku sampai mengucapkan sayang untukmu’

‘Aku mencintaimu, aku merindukanmu. Cepatlah sadar, Oh Hyerimku’

Dan sebenarnya masih banyak lagi pesan yang dikirimkan Luhan untuk Hyerim. Luhan menghela napasnya menyadari Hyerim tidak membalas satu pun pesannya. Apakah gadis itu belum juga sadar? Luhan pun menggerakan kedua jempolnya menulis pesan yang baru.

‘Aku akan berangkat sekolah pagi ini. Aku berharap saat aku sampai di sekolah ataupun kelas, aku bisa langsung menemukanmu yang melemparkan senyum riang kepadaku dan juga sapaan hangatmu. Aku merindukanmu.’ [Sent to : Oh Hyerim, 06.45 AM]

“Hiks… huhu… hiks…” isakan yang terdengar di sebelah Luhan menariknya untuk menoleh ke samping dan langsung menemukan adiknya, Xi Yoonra sedang menangis sambil memandangi buku dongeng Cinderellanya. Luhan menatap adiknya dengan pandangan lesu dan adiknya pun balik menatapnya dengan mata sembab. “Oppa, aku membaca berita bahwa Hyerim unni masuk rumah sakit dan…. hiks… huaa… oppa…. Hyerim unni tidak apa-apakan?” ucap Yoonra sesegukan dan Luhan tersenyum tipis berkat adiknya. Terselip rasa gembira karena adiknya sangat menyukai Hyerim.

Masih dengan senyum tipis menahan pedihnya, Luhan mengulurkan tangan untuk mengelus lembut rambut Yoonra yang masih sesegukan. Kemudian Luhan berkata dengan nada tenangnya. “Kamu sudah tiga belas tahun, jangan menangis terus dan juga Hyerim pasti sembuh. Dia itu kekasihku, dia akan kembali lagi padaku.”

Yoonra pun menatap Luhan dengan mata yang masih sembab dan Luhan masih terus mengelus rambut adiknya agar Yoonra berhenti menangis dan bersedih seperti ini. Ditengah suasana sesak itu, Yohyun─ibu Luhan dan Yoonra, datang dengan langkah tergopoh-gopoh dan wajah antusias. Yohyun pun makin antusias ketika makin berjalan mendekati Luhan.

“Luhan!!” seru Yohyun dan sekon itu Luhan langsung berhenti mengelus rambut adiknya lalu memandang ibunya dengan alis mengerut bingung. Yohyun tampak antusias dengan wajah berbinar. “Lu, ini kabar bagus!” ucap Yohyun semangat. Ternyata bukan hanya Luhan yang penasaran dan bingung, Yoonra pun demikian. Kabar bagus apa yang dimaksudkan ibunya?

“Ada apa Bu?” tanya Luhan tidak terlalu penasaraan karena suasana hatinya.

Senyum Yohyun mengembang sempurna lalu dirinya melirik ponsel yang ada digenggaman tangan kanannya. Yoonra terlihat memanjangkan leher penasaran seakan berharap bisa membaca isi ponsel ibunya dari lirikan matanya. Dan Luhan sendiri malah terlihat gemas akan tingkah ibunya.

“Bu…” Luhan memanggil lantaran Yohyun belum juga memberitahu inti percakapannya.

“Hyerim sudah sadar,” ucap Yohyun cepat lalu sekon itu dirinya mengangkat pandangan dari ponselnya. Senyum wanita paruh baya itu terlihat lebar sekali sementara Luhan dan Yoonra tampak cengo sesaat untuk mencerna ucapan Yohyun. “Lu, Hyerim siuman! Tadi malam tepat pukul setengah dua belas, Hyerim sadar!” ulang Yohyun dengan nada semangat.

Mata Luhan mengerjap beberapa kali seakan masih mencerna informasi yang ibunya berikan. Sementara Yoonra sudah memekik senang sambil loncat-loncat dan memeluk buku dongeng Cinderellannya dengan raut gembira. Hyerim sadar. Luhan pun tersenyum gembira sambil menahan gejolak gembiranya yang berlebihan ketika dapat mencerna keadaan Hyerim saat ini.

“Lihat, lihat ini beritanya,” Yohyun mendekat ke  arah Luhan dan menarik lengan putranya agar mendekatinya kemudian dirinya pun melihatkan ponselnya yang menampilkan situs berita Hyerim. Luhan pun mulai membaca berita tersebut dengan perasaan gembira. “Oh Hyerim, putri presdir Shinhwa’s Emperor sudah dinyatakan siuman pada pukul setengah dua belas malam kemarin.” baca Yohyun pada judul artikel tersebut.

Senyum Luhan pun mengembang lebar apalagi disitus tersebut dilihatkan foto Hyerim dengan piyama rumah sakit sedang tersenyum dengan duduk di atas ranjang. Senyum tersebut membuat Luhan sadar bahwa dirinya kembali terpesona pada sosok gadisnya walau sekedar melalui foto.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Hyerim, kamu ingin membaca ini?” suara lembut Haera dengan tangan yang mengulurkan satu buku Cinderella pun, terdengar. Haera tersenyum lembut ketika Hyerim dengan antusiasnya menarik buku tersebut dari tangannya.

“Iya…. emm… umma… aku ingin membacanya.” ujar Hyerim dengan nada agak ragu saat mengucapkan kata umma. Menyadari hal tersebut, Haera merasa sedih dengan senyum pedihnya.

Kemarin malam, Hyerim mengatakan dirinya yang berusia sembilan tahun dan tidak mengenal Haera maupun Changmin. Akhirnya Dokter Su mengatakan Hyerim mengalami hilang ingatan pasca kecelakaan karena kepalanya terbentur keras. Namun Hyerim masih beruntung karena hanya kehilangan ingatannya selama delapan tahun terakhir dan masih mengingat untaian ingatannya saat berusia sembilan.

“Apa ini buku yang baru?” gumaman heran Hyerim membuat Haera tersentak akan lamunannya tentang hilang ingatan yang putrinya alami.

Tampak Hyerim membalik-balikan buku dongeng yang Haera berikan sekon lalu dengan raut bingung dan dahi berkerut. Haera menampilkan senyumannya kembali lalu menarik perlahan buku bersampul merah jambu itu dan lantas Hyerim pun menatapnya bingung. Haera pun melihatkan buku tersebut menggunakan dua tangannya didepan dada lalu melirik judul buku tersebut.

“Cinderella III : A Twist in Time, cerita Cinderella yang baru. Ketika ibu tiri dan suadari tiri Cinderella mencuri tongkat sihir ibu peri kemudian menyihir waktu kembali dan menyihir pangeran untuk tidak mengingat Cinderella dan menikah bersama Anatasia, salah satu saudari tiri Cindrella.” jelas Haera dengan telunjuk tangan kanannya bergerak-gerak digambar depan buku.

Mulut Hyerim sedikit terbuka membentuk huruf o dengan kepala mengangguk-angguk. Haera kembali tersenyum menatap putri angkatnya itu. “Ini yang ketiga? Kalau yang kedua bagaimana?” tanya Hyerim sambil sedikit mencodongkan tubuhnya ke  arah Haera dengan muka penasaran dan penuh minat.

Haera memberikan tatapan lembutnya diiringi menaruh buku dongeng Cinderella III di meja lipat Hyerim yang berada di atas ranjang. Haera pun memposisikan tubuh duduk di ujung ranjang Hyerim lalu mengelus sebentar puncak kepala Hyerim yang mengerjapkan mata perlahan.

“Cinderella II : Dreams Come True. Lebih memfokuskan cerita saudari tirinya bernama Anatasia yang jatuh cinta pada seorang pria biasa. Kemudian Cinderella pun berusaha membantunya dan menyengarakan sebuah pesta,”

Hyerim tampak antusias sekali mendengarnya. Mungkin dirinya sudah tahu kedua sequel tersebut, namun masalah ingatannya saja sekarang yang jadi hambatan. “Umma harus pergi, jadi baca saja dongengnya ya.”

Anggukan semangat Hyerim terlihat dan Haera yang melihatnya jadi terkekeh dan mencubit pipi anak gadisnya itu. “Myungsoo sudah kembali dari Barcelona kan? Ke mana ya gerangan dirinya? Perasaanku baru lima bulan lalu dia pindah, eh tapikan itu kenangan masa laluku. Ya ampun!” Hyerim berkata sendiri dan memukul kepalanya sambil mengigit bibir bawahnya, dirinya berharap ingatannya selama delapan tahun ini kembali muncul.

Haera menatap Hyerim penuh arti kemudian menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. Dirinya pun mulai beranjak dari posisi duduknya, mengundang Hyerim untuk meliriknya. Ibu kandung Changmin itu tampak merapikan dress hitam bercorak pink yang melekat ditubuhnya lalu mengambil tas tangan berwarna hitam elegan miliknya. Sebelum benar-benar pergi, Haera kembali melempar senyum pada Hyerim yang balas juga tersenyum.

“Banyak pesanan di butik, jadi umma pergi dulu ya,” sacara resmilah Haera pamit diikuti langkah kakinya yang keluar kamar Hyerim.

Setelah ibu tirinya itu benar-benar menghilang, Hyerim kembali menatap buku dongeng Cinderella III miliknya. Dirinya penasaran dengan isi buku tersebut dan ingin juga membaca buku Cinderella II. Dengan perasaan antusias yang menggebu, Hyerim mulai membuka lembaran pertama buku dongengnya dan langsung saja Hyerim disajikan sebuah tulisan; Oh Hyerim, 06 Agustus 2014. Eh? Jadi Hyerim membeli buku ini dua tahun yang lalu? Baiklah, berarti dirinya sudah tahu isi buku ini bila ingatannya tidak hilang. Hyerim berusaha acuh dan mengedikan bahunya, lalu dirinya mulai membalik halaman dan mulai masuk kedalam cerita.

Tatkala Hyerim sudah sibuk dengan buku dongengnya sambil memasang wajah ceria. Bayangan seorang lelaki datang mendekat ke kamar inapnya kemudian sosok tersebut mutlak menampakan diri di depan pintu kamar inap Hyerim. Luhan, dirinyalah yang membela-belakan bolos sekolah hanya untuk menjenguk Oh Hyerim. Senyum Luhan makin melebar ketika menangkap sosok Hyerim yang sedang menunduk serius membaca sebuah buku, dirinya dapat melihat dari kaca yang terdapat di pintu masuk kamar inap Hyerim. Masih dengan senyumannya, Luhan main membuka pintu di hadapannya dan mulai melangkah masuk dengan langkah tergesa. Hyerim yang sangking larut pada bacaannya tidak menyadari keberadaan Luhan yang tahu-tahu sudah berada di sebelahnya lalu Luhan pun main meletakan lengan kanannya diatas kepala Hyerim dan mendorong kepala tersebut untuk menyender didadanya. Perlakuan Luhan tersebut membuat Hyerim kaget dengan mata melebar.

“Kamu ini benar-benar membuatku jadi anak tidak benar dengan membolos sekolah hari ini. Kamu tahu, aku merindukanmu, Cinderellaku.” Luhan berkata dengan mata berair kemudian dirinya mengusap kasar air matanya yang hendak turun menggunakan tangan yang tidak memegang kepala Hyerim.

Sementara Hyerim masih terkaget-kaget akan perilaku Luhan. Dalam benaknya terlintas, lelaki lancang mana yang main masuk ke kamar inapnya dan memperilakukannya seperti ini? Secara perlahan, Hyerim menggerakan kepala mengadah ke atas untuk melirik Luhan yang masih setia meletakan lengannya dikepalanya. Ketika Luhan balas menatapnya, lelaki itu tersenyum yang membuat gemuruh aneh dalam hati Hyerim bergejolak. Layaknya lagu penghantar tidur yang sedang hatinya kumandangkan detik ini. Namun otak Hyerim kosong untuk mengetahui identitas Luhan sesungguhnya hingga menyebabkan matanya mengerjap heran.

“Maaf, anda siapa?” tanya Hyerim dengan raut ragunya.

Seketika senyum lebar nan bahagia Luhan luntur berganti dengan muka tanpa ekspresinya, hatinya mencelos ketika menatap obsidian hitam kecoklatan Hyerim menampilkan binar bingung menatapnya. Lengannya yang ia letakan diatas kepala Hyerim pun perlahan menyingkir dari sana. Hyerimnya… melupakannya.

“Hyerim… jangan bercanda…” ucap Luhan lambat-lambat dengan wajah tak bisa menerima bila memang Hyerimnya melupakannya.

Namun jawaban yang Luhan dapatkan sangatlah menyesakan, tatkala wajah Hyerim keheranan dengan dahi berkerut menandakan mutlaknya gadis tersebut melupakan Luhan.

“Aku benar-benar tidak mengetahui dirimu, apakah kau anak sekolahanku?” Hyerim bertanya sambil memiringkan kepalanya. Tampak mata Luhan menerawang ke lantai dengan pandangan kosong tanpa berminat menjawab pertanyaan Hyerim, dirinya berharap ini mimpi.

“Hyerim-ah…”

Kepala Hyerim langsung menengok ke daun pintu dan senyum lebar langsung tercipta dibibirnya ketika mendapati sosok lelaki dengan senyum menawan berdiri di sana. “Myungsoo-ya!” sapa Hyerim riang sambil melambaikan tangannya dan memberikan kode menggunakan tangannya untuk Myungsoo masuk.

Jantung Luhan bergetar hebat dengan tubuh yang tiba-tiba kaku seakan disiram penuh air es. Dirinya mengangkat kepala dan mendapati Hyerim tersenyum lebar menyambut kedatangan Myungsoo lalu Luhan beralih menatap Myungsoo yang mulai berjalan mendekati Hyerim dengan senyum menawannya. Ketika lelaki itu melewati Luhan, Luhan dapat melihat senyum miring yang mengejeknya diberikan Myungsoo.

“Aku dengar kamu juga kecelakaan bersamaku, apakah kamu terluka parah?” Hyerim mulai melontarkan pertanyaannya ketika Myungsoo mulai duduk di sisi ranjangnya dan mengacak rambutnya gemas tak lupa diiringi senyum lembutnya.

“Aku baik-baik saja, Cinderellaku…” kata Myungsoo dengan intonasi manis dan Hyerim terkekeh mendengarnya.

“Masih saja memanggilku seperti itu,” senyum geli Hyerim berikan pada Myungsoo yang sekarang mengelus-elus rambutnya. Keduanya seakan melupakan kehadiran Luhan yang terus menatapi mereka dengan pandangan kosong.

“Tentu, karena sesungguhnya kita akan bertunangan,”

Secara bersamaan Luhan dan Hyerim menatap Myungsoo dengan pandangan kaget serta mata melebar. Bedanya Hyerim memang sangat terkejut sampai tidak bisa memikirkan apapun dan menggerak-gerakan bola matanya sambil mengerjap-ngerjap. Sementara Luhan menggepalkan tangan kanannya untuk menahan diri dengan tidak memukul Myungsoo yang pasti memanfaatkan hilang ingatan Hyerim. Luhan berusaha tidak melakukan hal tidak-tidak karena pasti Hyerim malah tidak menyukainya nanti dan akan makin sulit membuat ingatan gadisnya kembali bila gitu.

“Hah? Apa?” ujar Hyerim dengan raut tak yakin.

Tangan Myungsoo perlahan turun kepipi Hyerim lalu mengelusnya lembut. Dirinya mengangguk dengan tenang lalu berkata. “Kita kecelakaan saat dalam perjalanan untuk fitting gaun pertunangan kita. Itu kelalaianku ketika menyetir.”

Hyerim menggigit bibir bawahnya ketika mendengar perkataan Myungsoo dan Luhan tambah diliputi rasa marah walau kata-kata Myungsoo tidak sepenuhnya karangan. “Tapi Myung, mungkinkah kita bisa─”

“Jadi kamu menolak bertunangan denganku?” sela Myungsoo segera dan Hyerim pun bungkam seketika dengan memandang Myungsoo serba salah. “Kamu ingin menyakitiku?” Myungsoo menatap Hyerim dengan kornea mata memancarkan perasaan luka.

Mata Hyerim terpejam sesaat lalu dirinya menghembuskan napas berat kemudian dirinya menatap Myungsoo dengan perasaan ragu. “Baiklah, aku mau bertunangan denganmu.”

Perkataan Hyerim membuat Myungsoo tersenyum sangat lebar dan mencubit hidungnya gemas. Hyerim tertawa pelan lalu dirinya teringat sosok Luhan yang mungkin jadi penguping obrolannya bersama Myungsoo. Hyerim pun menoleh ke tempat Luhan terakhir kali namun dirinya tidak menemukan lelaki itu yang entah sejak kapan hilang. Kepala Hyerim tanpa sadar bergerak mencari-cari Luhan. Hatinya seperti kehilangan sesuatu ketika Luhan pergi begitu saja.

Sementara Luhan sendiri sedang berjalan di koridor rumah sakit dengan perasaan campur aduk dan tangan mengepal kuat. Sesak sekali rasanya melihat adegan yang terjadi di kamar inap Hyerim tadi. Luhan merasa waktu sedang dibalik saat ini ketika Hyerimnya lebih memilih Myungsoo ketimbang dirinya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Satu minggu berlalu dan Hyerim sudah keluar dari rumah sakit. Tidak ada yang menjenguknya karena memang selama ini Hyerim menutupi diri dari siapapun kecuali Luhan, Joohyun, dan Jonghyun. Ngomong-ngomong masalah Joohyun, dirinya ingin menjenguk Hyerim bersama Jonghyun dan Luhan tapi Luhan mengatakan itu percuma karena Hyerim tidak akan mengingatnya. Masalah Hyerim yang kehilangan ingatan sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah.

“Selamat pagi.” Hyerim menyapa riang ketika masuk ke kelasnya dengan senyum lebar pagi ini. Seluruh kelas menatapnya heran karena Hyerim melakukan hal yang bukan Hyerim sama sekali.

Tapi Hyerim tidak peka akan orang-orang yang mulai berbisik akan tingkah anehnya. Dengan santai Hyerim berjalan menyusuri kelas untuk menuju bangkunya atau lebih tepatnya mencari yang mana bangkunya. Sedari Hyerim masuk, Luhan pura-pura sibuk membaca buku not balok musik dan mengabaikan Jonghyun yang menyikut lengannya sambil bisik-bisik.

“Hyerim sudah masuk sekolah, sapalah dia,” bisik Jonghyun sambil melirik Luhan sekilas lalu melirik Hyerim yang sedang menyebar senyum dan masih mencari bangkunya. “Peringai Hyerim bagus sekarang semenjak hilang ingatan, cepat sapa dia dan buat dia mengingatmu lagi.” Jonghyun berbisik gemas sambil menatap Luhan tak kalah gemas tapi Luhan malah sibuk membuka halaman selanjutnya dibuku miliknya.

‘Buk!’

“Aduh.”

Suara gaduh tersebut menarik perhatian seluruh penjuru kelas tak terkecuali Luhan yang daritadi sok sibuk. Semuanya pun mendapati tubuh Hyerim tersungkur jatuh di lantai dengan muka kesakitan sambil meringis. Sementara Oh Seungah tampak menatapnya dengan senyum jahatnya dan dengan santainya menarik kaki kanannya yang tadi berada di jalan Hyerim, sudah diduga dirinyalah yang sengaja membuat Hyerim jatuh.

“Ups, maaf. Kakiku gatal untuk tidak menghalangi jalanmu,” ucap Seungah santai dan Hyerim tampak memandangnya dengan wajah penuh kesabaran. “Ah, Oh Hyerim yang lugu sudah kembali.” Seungah berucap lagi dengan senyum piciknya dan tampak Hyerim mengerutkan dahinya. “Awas ya dirimu memakai topeng lugumu lagi untuk menindas anak-anak yang lain.”

Kusuk-kusuk yang lain mulai terdengar dan Hyerim tampak mengatur napasnya menahan amarah. Menindas? Kapan Hyerim menindas orang lain? Memang dirinya dulu pernah menindas orang? Luhan sudah berdiri dari duduknya dan hendak menghampiri Seungah untuk membela Hyerim bila saja Joohyun tak datang dan langsung membela Hyerim menggantikan Luhan.

“Oh Seungah cukup! Jaga mulutmu dan jangan katakan hal-hal aneh pada Hyerim.” ucap Joohyun sambil melangkah lebar menuju tempat kejadian.

Ribut-ribut teman sekelas makin menjadi dengan tatapan penasaran akan apa yang terjadi selanjutnya dan Jonghyun tampak resah juga, khawatir Joohyun akan diapa-apakan oleh Seungah.

“Berdirilah.” ujar Joohyun dengan senyum tulusnya sambil mengulurkan satu tangannya pada Hyerim yang menatapi tangan itu sejenak lalu menerima ulurannya lantas saja Joohyun menariknya berdiri.

“Aku hanya ingin mencoba membuat Hyerim mengingat dia dulu pernah jadi tukang bully,” kata-kata Seungah terdengar lagi dengan lagak santai dan raut acuh. Hyerim menatapnya dalam ketika Seungah mengatakan dirinya tukang bully dan Joohyun pun tampak geram saat ini.

Namun bell masuk membuat pertikaian hebat yang mungkin terjadi terhenti. Beberapa siswa tampak kecewa sambil menghela napas karena sudah memperkirakan adanya pertikaian hebat. Sementara Jonghyun menghela napas lega lalu menarik Luhan untuk duduk kembali juga menenangkannya.

Joohyun pun menatap Hyerim lalu menyunggingkan senyum. Hyerim tampak kikuk membalas senyuman Joohyun dengan anggukan pelannya. “Kau duduk denganku, Hyerim. Jadi ikuti aku, ya.” tangan Joohyun yang daritadi mengenggam tangan Hyerim pun ia gerakan untuk menarik Hyerim ke bangku keduanya.

Pelajaran pun dimulai. Guru Kwon pun memasuki kelas dan melempar senyuman ke anak-anak muridnya. Beliau juga sempat tersenyum hangat pada Hyerim sambil mengatakan selamat kembali ke sekolah pada gadis itu. Dan pelajaran bahasa pun dimulai, ketika Hyerim sedikit menunduk untuk menulis tulisan di papan tulis, dirinya tak sengaja mencium parfum yang digunakan siswa yang duduk didepannya. Ketika Hyerim melirik siapa gerangan pemilik wangi parfum ini, Hyerim pun hapal betul bahwa orang yang duduk di hadapannya adalah lelaki tempo itu yang ada di rumah sakit. Luhan. Wangi parfumnya membuat Hyerim kecanduan seketika seakan dirinya pernah menghirup wangi ini dari dekat. Apakah… lelaki di hadapannya ini orang yang berarti untuknya? Lelaki yang mungkin baru ia temui akhir-akhir ini dan menciptakan kenangan indah dengannya beberapa waktu terakhir. Hyerim tak ingat sama sekali dan hanya menatap lekat punggung Luhan.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Ahahaha.” tawa yang berasal dari meja kantin yang ditempati oleh Victoria, Changmin, Myungsoo, juga Hyerim terdengar.

Keempat sekawan tersebut serasa ditarik ke masa lalu dimana keempatnya bergabung serta membuat iri orang lain akan persahabatan yang mereka jalin. Hyerim lah yang tersenyum paling lebar di situ. Dirinya merasa bahagia walau beberapa keping memori hilang entah berantah. Seketika ujung mata Hyerim menangkap sosok Luhan yang berada tak jauh darinya, senyum lebar Hyerim pupus sudah digantikan mata menelisik sosok Luhan yang menurutnya memperhatikan dirinya. Kerutan didahi Hyerim kian tercipta ketika Luhan malah berbalik lalu berjalan tergesa.

“Senangnya bisa berkumpul seperti ini lagi,” suara Changmin terdengar membuat Hyerim mengalihkan antensi pada dirinya dan menyunggingkan senyum.

“Walau Hyerim kehilangan beberapa ingatannya, sepertinya menguntungkan juga,” ucap Myungsoo seraya merangkul bahu calon tunangannya tersebut.

Kepala Hyerim menoleh pada Myungsoo dengan muka bingung. “Memangnya bila ingatanku tidak hilang, tidak menguntungkan?”

Senyum ditiga kawannya itu langsung luntur mendengar ucapan Hyerim, sepertinya Myungsoo salah berbicara barusan. Ketiga orang tersebut menatap Hyerim agak resah dan ragu. Pasalnya tidak mungkin ketiganya mengatakan selama beberapa tahun terakhir Hyerim sangat membenci mereka bertiga. Ketiganya tidak ingin Hyerim mengingat akan rasa benci yang ia tanamkan itu.

“Em… Hyerim, begini, maksud Myungsoo walaupun kamu hilang ingatan kamu tetap bisa bersenang-senang dengan kami,” Victoria sedikit memberi sebuah pencerahan agar Hyerim tidak berpikir aneh.

Pandangan Hyerim teralih pada Victoria yang melihatnya takut-takut. Akhirnya Hyerim memilih mengangguk-anggukan kepalanya perlahan walau terselip perasaan aneh dalam hatinya. Perlahan Hyerim menyingkirkan tangan Myungsoo yang merangkulnya dan berdiri dari duduknya.

“Aku ingin ke kamar mandi.” izin Hyerim disambut anggukan ketiganya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Sambil duduk termenung di tempat yang tersedia di koridor, Luhan mengigit roti yang sempat dibelinya di kantin. Napasnya terhela lelah, dirinya lelah berpura-pura tegar atau sebangsanya. Hyerim melupakannya dan akan segera bertunangan. Hati pria mana yang tidak merasa remuk jika gadisnya melupakannya dan malah akan bersama pria lain? Tatkala larut akan kesedihannya, sosok lain ikut duduk di sebelah Luhan sambil memandangnya prihatin. Menyadari sosok lain hadir di sebelahnya, Luhan menoleh dan terkonfrimasilah bahwa Yuri yang duduk di sampingnya kini. Senyum tipis Luhan berikan pada sosok yang dahulu sempat singgah direlung hatinya meskipun muka Yuri tak berubah serta masih sama memandangnya khawatir.

“Lu… apa─”

“Aku tidak baik-baik saja, nuna.” potong Luhan segera karena tahu apa yang akan Yuri tanyakan. Dirinya menunduk dengan lesu dan menghela napasnya kembali. “Baru beberapa hari kita resmi bersama, malah datang bencana yang lain. Aku ingin terus megenggamnya namun secara lembut Hyerim menyentaknya.”

Perlahan tangan Yuri bergerak mengelus punggung Luhan disertai senyum perihnya. “Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tahu hatimu sekarang miliknya, maka aku hanya ingin mengatakan bahwa aku akan ada di sini jikalau kamu membutuhkanku.”

Perkataan Yuri sekiranya membuat Luhan tenang dan mengangkat tubuhnya yang tertunduk untuk membalas senyuman sosok kakak perempuan yang selama ini berada didalam hidupnya. Keduanya saling bertatapan sambil melempar senyum sampai tak menyadari sosok Hyerim yang melangkah hendak melewati mereka, Hyerim langsung memberhentikan langkah ketika matanya melihat Yuri dan Luhan yang masih bertatapan dengan senyum dikedua curva bibir masing-masing. Hyerim sedikit menyipitkan mata melihat adegan itu. Perasaan asing menghampiri hatinya ketika melihat keduanya. Entah kenapa Hyerim ingin sekali marah detik ini.

“Siapa dia sebenarnya?” gumam Hyerim sambil melayangkan tatapan pada Luhan.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Cantik.” lontaran pujian yang spontan itu keluar dari mulut Myungsoo yang memasang wajah terpesona ketika Hyerim berdiri di hadapannya memakai gaun yang akan dikenakan gadis tersebut diacara pertunangan mereka.

Hyerim berhenti memutar tubuhnya dan memandang Myungsoo dengan senyum senang. Kemudian dirinya melirik Victoria dan Changmin yang tampak terkagum-kagum. “Oppa, unni, apa benar aku terlihat cantik sekarang?”

Secara kompak pasangan tersebut mengangguk dengan wajah penuh keyakinan menatap Hyerim. “Sangat, kamu layaknya bidadari,” puji Changmin sukses membuat Hyerim tersipu sambil tersenyum malu.

“Padahal kalian hanya bertunangan tapi kenapa seperti menikah,” suara Haera, ibu tiri Hyerim, terdengar. Beliau sendirilah yang merancang gaun Hyerim, sekarang dirinya pun menatap Hyerim lembut. “Kamu sangat cantik, sayang.”

“Ini karena ibu sendiri yang merancang gaunnya,” balas Hyerim lalu memeluk Haera dengan perasaan gembira. “Terimakasih, Bu. Dua hari lagi aku pasti tampil sangat cantik berkat gaun ini.”

Haera merasa terharu ketika putrinya menyukai rancangannya, tangannya pun membalas pelukan Hyerim sambil mengelus punggung Hyerim dengan penuh kasih sayang. “Terimakasih kembali, sayang. Sekarang ganti bajumu, Myungsoo juga gantilah tuxedomu.”

Dengan enggan Hyerim melepaskan pelukannya dan kembali masuk ke change room. Myungsoo pun melakukan hal serupa. Ketika dua orang tersebut sibuk berganti pakaian, Haera berbalik dan melempar senyum pada Victoria dan Changmin.

“Min-ah, lamarlah Victoria nanti agar ibu bisa merancang baju pegantin kalian berdua,” goda Haera dengan senyum usilnya. Changmin tampak terkekeh tanpa suara sambil menunduk sementara Victoria sudah tersipu malu.

Omoni bisa saja, kami bahkan belum lulus sekolah,” sahut Victoria dengan senyum malunya.

“Tenang saja, Bu. Aku tidak ingin dilangkahi oleh Hyerim dan Myungsoo,” balas Changmin membuat Victoria menatapnya tanpa berkedip juga hati berdesir. Pertanda bahwa Changmin berjanji akan melamarnya nanti membuat Victoria bahagia.

“Baiklah, sekarang ibu harus mengurus yang lain. Tunggulah adik-adik kalian selesai, oke?” keduanya mengangguk kemudian Haera pun pergi untuk melakukan pekerjaannya yang lain.

Selagi menunggu Hyerim dan Myungsoo, Victoria mengajak Changmin duduk di sofa yang tersedia di butik Haera sambil menatap ruang ganti berharap salah satu dari Hyerim atau Myungsoo keluar. Terlihat Victoria menatap ruang ganti itu dengan lesu, entah mengapa, Changmin yang menoleh padanya dan melihat tatapan Victoria pun jadi heran.

“Kamu kenapa? Tidak senang Hyerim dan Myungsoo bertunangan?” tanya Changmin dengan heran.

Pertanyaan Changmin itu disambut oleh Victoria yang menunduk dan tampak bimbang. “Aku senang bila Hyerim senang…” ucapnya sembari menatapi lantai dengan kaki yang bergerak-gerak. “Akan tetapi bukannya hatinya sudah milik… Luhan?” gumam Victoria dan nadanya semakin memelan diakhir kalimat.

Hati Changmin seakan tertampar sebuah kenyataan yang diingatkan oleh Victoria itu, dirinya pun menatap ruang ganti yang barusan Hyerim masuki dengan tatapan penuh arti. “Aku senang Hyerim kembali seperti dulu. Berbagi bersama kita, namun… hatinya mencintai pria lain, Min. Aku bahkan pernah menjadi sosok egois karena cinta yang membutakan serta menulikan segalanya. Bagaimana perasaan Hyerim saat bertunangan dengan Myungsoo nanti? Dan bagaimana perasaan Luhan saat melihat Hyerim bersama dengan Myungsoo nanti? Pasti keduanya tidak bahagia dan merasa sesak kan? Walau ingatan Hyerim hilang, hatinya tidak bisa melenyapkan perasaannya itu pada Luhan.”

Sambil berkata panjang lebar, Victoria terus memandangi lantai juga kakinya yang bergerak-gerak tak tenang dengan pandangan mata perih seakan dirinya yang tersakiti saat ini. Changmin hanya menatapnya dalam lalu menghela napas, dirinya pun  mengangkat tangan untuk mengelus punggung Victoria.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan, Vic. Ayah tiriku pun sudah menyetujui dan merencanakan pertunangan ini.”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Hari bergulir kembali. Tinggal menghitung dua puluh empat jam kedepan maka resmilah besok hari yang merupakan hari pertunangan Hyerim disambut oleh Luhan. Sekon ini Luhan sedang menidurkan tubuhnya di bangku panjang yang ada di atap sekolah dengan lengan yang ia balikan dan ditaruh dikeningnya, layaknya seseorang yang frustasi juga putus asa. Beberapa meter di depannya, berdiri Joohyun dan Jonghyun yang sibuk memperhatikan pemandangan di bawah sambil menaruh kepala dibahu masing-masing. Luhan layaknya obat nyamuk diantara pasangan tersebut.

“Heh Lu, ke marilah,” ajak Jonghyun sambil melirik sebentar Luhan.

Napas Luhan ia buang melalui mulut dengan kasar, ia pun menyahut. “Malas, yang ada aku jadi obat nyamuk.”

“Eiy, aku hanya berusaha menghiburmu jadi…”

Langsung saja Joohyun meletakan telunjuk didepan mulut Jonghyun sambil menggeleng agar kekasihnya berhenti mengoceh dan membiarkan Luhan menjernihkan pikirannya. “Lebih baik kita pergi dan tinggalkan Luhan sendiri. Dia perlu menenangkan diri.”

Sebenarnya Jonghyun engan sekali menyetujui ucapan Joohyun. Namun dirinya tak bisa menolak ketika Joohyun mengenggam tangannya lembut dan menariknya turun dari atap. Luhan pun tampak acuh dan memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya juga mengistirahatkan otaknya yang terus-menerus terpikirkan akan sosok Hyerim.

“Kenapa kembali lagi? Aku sedang tidur siang, pergilah.” kata Luhan saat seseorang main duduk di sebelah kepalanya, dirinya tak berniat membuka mata untuk melihat orang tersebut karena sudah mengira Jonghyun lah pelakunya.

Tak ada sahutan dari orang yang Luhan usir tadi dan Luhan pun bersikap tak peduli dengan masih setia memejamkan matanya sambil menenangkan pikirannya. Akan tetapi gerakan tangan orang di sebelah kepalanya membuat Luhan terkejut lantaran orang tersebut memindahkan kepala Luhan untuk tidur dipahanya. Sebuah elusan lembut diterima langsung oleh Luhan membuat dirinya membuka mata dan seketika matanya pun membulat mendapati sosok Hyerim yang menunduk juga tersenyum padanya. Tak bisa dipungkiri jantungnya sudah marathon detik ini.

“Ada ya orang tidur tapi berbicara dan mengusir orang seperti tadi?” kata Hyerim dengan senyum gelinya. Luhan pun meringis malu mendengarnya dan tubuhnya menjadi kaku seketika apalagi Hyerim yang masih mengelus kepalanya dan sesekali mengacak-acak rambutnya. “Sepertinya kau banyak pikiran, ya.”

Lagi-lagi Luhan meringis malu dengan wajah salah tingkah. “Hehehe, begitulah,” respon Luhan dengan tawa hambar, Hyerim makin tersenyum lembut membuat Luhan mengumpat dalam hati betapa cantik kekasihnya ini. Entahlah Hyerim masih bisa dianggap kekasihnya atau bukan saat ini.

“Kenapa kau ke sini?” Luhan bertanya pada akhirnya dan lantas membuat penggerakan tangan Hyerim yang mengelus rambutnya  terhenti. Gadis itu pun menatap Luhan lekat dan membuat Luhan salah tingkah.

“Aku ingin bertanya padamu…” alis Luhan mengerut bingung mendengarnya. “Apa kita ini sangat dekat sebenarnya?” tanya Hyerim dengan binar mata penasaran.

Pertanyaan Hyerim membuat hati Luhan tergetar. Dekat? Bahkan keduanya sangatlah dekat dan sudah menyatu sama lain. Ingin sekali Luhan bangun dan memeluk Hyerim kemudian mengatakan bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih yang saling mencintai bukan sekedar dekat saja. Tapi yang Luhan lakukan sekarang hanyalah tersenyum pada Hyerim yang kentara penasaran.

“Tentu saja kita dekat, kita ini teman sekelas.” tapi jawaban Luhan membuat Hyerim tidak puas sama sekali dan melihatkan muka kecewanya. “Kita sering berbicara karena kau adalah sosok yang riang. Joohyun adalah kekasih Jonghyun, sahabatku dan dirimu adalah teman sebangku Joohyun. Tak heran kita berempat sering bersama,” tambah Luhan tapi muka Hyerim menampakan dirinya masih tak puas akan perkataan Luhan itu.

“Jadi kita bersama dengan Jonghyun juga Joohyun itu teman dekat di kelas?” kepala Luhan mengangguk karena memang faktanya begitu. Mata Hyerim bergerak-gerak sebentar lalu kembali menatap Luhan yang masih tiduran dipahanya. “Aku tidak mengingatnya sama sekali, bisakah kau membantuku untuk mengingatnya?”

Kelihatan Luhan sedang berpikir lalu sekon kedepannya dirinya bangun dari posisi tidurannya serta duduk di sebelah Hyerim yang terus menatapinya. Luhan pun menoleh pada Hyerim yang balas menatapnya. Selama beberapa menit kedua kornea tersebut saling pandang dan larut akan keindahan obsidian yang tersuguhkan saat ini. Hingga akhirnya Luhan tersenyum tipis dan tanpa pikir dua kali, Luhan menarik wajah Hyerim juga mendekatkan wajahnya hingga kedua bibir tipis itu saling menyapa. Mata Hyerim membola sambil mengerjap beberapa kali, dirinya bahkan tak menolak ciuman tersebut dan hatinya berdesir hebat disertai perasaan hangat menyusuri seluruh tubuhnya. Luhan yang memejamkan matanya tidak menggerakan bibirnya sama sekali, dirinya hanya membiarkan bibirnya dan bibir Hyerim saling menempel. Luhan hanya berharap bahwa Hyerim akan mengingatnya karena hal ini, tidak peduli bila gadis itu pada akhirnya menamparnya karena lancang sebab Luhan ingin menyentuh bibir manis gadisnya sebelum esok gadisnya ini menjadi milik orang lain.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Gugup sepertinya bisa menggambarkan dengan jelas perasaan Hyerim hari ini. Beberapa detik kedepan, Hyerim akan melaksanakan pertunangannya dengan Myungsoo dan sekarang dirinya sedang berada di ruangan rumahnya yang menjadi tempat digelarnya pertunangannya, ruangan yang Hyerim isi sekarang merupakan ruang tunggu untuknya. Berulang kali dirinya menarik napas dan menghembuskannya tetapi perasaan gugupnya tak hilang-hilang.

“Ya ampun.” Hyerim mendesah tak tenang. Hyerim bergerak-gerak tak tenang dalam duduknya, disaat perasaan gugup menggerogotinya makin dalam, adegan Luhan menciumnya di atap sekolah melintas dibenaknya membuat Hyerim memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. “Gila! Kenapa aku malah mengingat itu sekarang?” gumam Hyerim sambil memukuli kepalanya berusaha menghilangkan adegan yang malah membuat jantungnya bergetar hebat tatkala mengingatnya.

Perlahan dirinya berdiri dari duduknya dan berjalan-jalan di dalam ruangan sambil melirik pemandangan yang disuguhkan di luar jendela guna menenangkan pikirannya yang kacau. Pemandangan di luar yang merupakan taman rumahnya yang sangat indah mengundang Hyerim untuk melangkahkan kaki di taman kehijauan yang dihiasi bunga berwarna-warni yang sekarang penuh dengan daun berguguran dan tanpa sadarlah Hyerim keluar dari ruang tunggunya menuju taman tersebut. Layaknya sosok dari negri dongeng, Hyerim yang mengenakan gaun tanpa lengan berwarna putih keabu-abuan dengan manik-manik mendominasi, menapaki jalan bebatuan di taman rumahnya yang di pinggirnya dihiasi tanaman yang melingkari sebuah tiang yang layaknya sebuah lorong kecil di taman, namun sebagian besarnya sudah menguning dan gugur lantaran musim dingin. Senyum Hyerim mengembang sempurna sambil melontarkan kekagumannya akan keindahan taman ini walau sudah berupa hutan yang gundul lantaran musim yang kian berganti. Senyum Hyerim seketika hilang saat melihat sosok gadis kecil beberapa jengkal di hadapannya. Perasaan penasaran bercampur waspada melekat pada diri Hyerim ketika melihat sosok tersebut yang main berada di hadapannya.

“Emm… maaf, kau siapa?” tanya Hyerim dengan raut hati-hati.

Si Gadis Kecil yang daritadi menatapnya sayu pun mengangkat sebuah undangan berwarna cream yang merupakan undangan pertunangan Hyerim dan Myungsoo. Karena hal itu Hyerim menghela napas lega karena tahu gadis kecil ini merupakan tamunya.

“Kenapa kamu bisa ada di sini?” Hyerim bertanya lagi dengan muka yang sudah mulai tenang namun Si Gadis masih terus menatapnya lekat.

“Hyerim unni…” panggil gadis tersebut membuat hati Hyerim tersentak mendengarnya. Obsidian gadis itu menatapnya nanar meninggalkan kesan membekas dihati Hyerim dan menghantarkan Hyerim pada sebuah memori dalam lingkup otaknya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Berjalannya waktu menandakan acara pertunangan Myungsoo dan Hyerim akan segera terlaksana, tapi Hyerim belum juga menampakan dirinya. Myungsoo selaku salah satu peran utama pria hari ini tampak resah dan menatap arlojinya dengan perasaan tak tenang. Kemudian dirinya menengok ke sana-ke sini untuk mencari keberadaan Hyerim.

“Kenapa Hyerim belum datang?” gumam Victoria yang entah sejak kapan berdiri di sebelah Myungsoo, dengan nada heran dan pandangan ke sana-ke sini.

Myungsoo meremas kedua tangannya resah dengan bola mata bergerak-gerak. Karena perasaannya makin tak tenang, Myungsoo melangkah lebar-lebar menuju ruang tunggu Hyerim. Victoria yang melihatnya pun mengikuti Myungsoo. Masih dengan perasaan tak tenangnya, Myungsoo sampai di depan pintu ruang tunggu Hyerim. Sebelum membukanya, Myungsoo menarik napas dan menghembuskannya guna menenangkan dirinya. Di sebelahnya, Victoria menatapnya khawatir. Lalu Myungsoo pun mulai meraih gagang pintu dan membukanya perlahan.

“Hyerim-ah─” mulut Myungsoo bungkam seketika mendapati pemandangan di dalam ruang tunggu tersebut. Pandangan yang terpancar dimatanya sangatlah kosong. Penasaran dan khawatir, Victoria ikut melirik ruang tunggu dan langsung saja membulatkan matanya.

─To Be Continued─

hdr2


Jeng… Jeng…. barokah Chapter 11 udah kelar, tadinya mau diterbitin pas Chapter 12 udah selesai. Ya aku tau ini alur jadi agak ke mana-mana -___- percayalah ini udah aku rangka dari awal. Dan aku ngasih tau bahwa Chapter 12 itu pre-final dan finalnya akan ada di Epilognya. Jadi nantikan saja ya kawan, sesungguhnya aku juga mau nyelesein ini cepet-cepet biar bisa nuntasi FF sebelah yang main castnya bukan Hyerim-Luhan /batuk/

DAN AKU SEDANG DILANDA STRESS KAWAN. AKU BARU BERES UTS WALAU UTSNYA NYONTEK GUGEL, KERJA SAMA, JUGA BISA OPEN BOOK DAN NGERJAINNYA LEWAT MS.WORD LALU NGIRIM LEWAT EMAIL DAN BOLEH MELOR SAMPE BESOK STRESS BUKAN KARENA UTS SEPERTI APA KATAKU

TAPI INI KARENA LAPTOP ANE VIRUSAN ATAU APALAH ENTAH MENGAPA (LAPTOP ENTE MASALAH MULUK ELS) dimulai disaat anak unyu ini mau UTS dan tetiba laptop ane sedikit masalah dan ane ngasih tau bapake, dan bapak bilang coba ke settign lalu recovery dan restart. Eh nyatanya masih begono, kemudian pilihan terakhir intruksi bapak adalah reset. ANJIRRR SEKALIIIIIII PROBLEM NOT SOLVED DAN FILE ANE ILANG /MEWEK KEJER/ UNTUNG FILE MACEM FOTO, VIDEO, LAGU, DAN FF-FF NISTA GAK ILANG. TAPI…. TAPI…. MS.WORD ANE ILANG ANJIRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR /RNYA PANJANG SAMPE KORIYA/ DAN PAS MAU REINSTALL ITU SUSAH BINGITS BAHKAN GOOGLE CHROME AJA ILANG. GEWLA LAPTOP ANE VIRUSAN.

Lalu ini ane bisa publish FF gimana? Karena ane minta itu laptop diservice dan takutnya diback up macem hp (iyedah Elsa mah barang elektroniknya masalahan mele -__- ) jadi FF-FF yang on going ane pindahin ke google document, bisa dibuka lewat hp juga. Dan tentunya aman selama ane gak kepencet delete file. Gak semua FF, hanya FF yang belum publish dan gak aku simpen di mana-mana. Termasuk My Cinderella Chapter 11 & 12 (walau 12 baru setengah jadi)

Jadi ane pun bisa lanjutin FF lewat laptop bapak hohohohoho, publish juga bisa kwkwkwkwkw. Jadi bisa ditebak laptop bapake lah yang ane pake nista-nistaan (plis di Spanyol itu lagi libur kawan sampe hari selasa, ane merana gak bisa streaming drama)

Ya udah curcolnya gitu ajha yaw! Nantikan 2 bagian dari My Cinderella maka dari itu kalian akan berpisah dengan storyline Cinderella ala HyeKim.

P.s : Hanya sekali edit dan agak ngebut soalnya males. Ada typo? Anggap aja penghias fiksi gak jelas bin astral ini

-Luhan’s Future Wendy, HyeKim-

8 thoughts on “My Cinderella Chapter 11 [A Twist in Time] – HyeKim

  1. Kira2 kenapa ya Hyerim kok Myungso dan Victoria bisa terkejut ampe segitunye?

    Semoga ingatan Hyerim balik, biar luhan gak sedih sedih terus…amin….

    Kak Hyekim tolonglah buat ff ini happy ending.

    Semangat nulis lagi ya kak, dan semoga laptop nya cepet sembuh dr berbagai virus.
    Fighting 😊😊

    • Apa hayo….
      Semoga ya kkkk~~~
      Ada istilah di dongeng ‘Mereka hidup bahagia selamanya’ tema ff inipun seperti dongeng Cinderella tapi dibalik. Mungkin happy atau sad kita liat nanti 😂😂

      Iya makasih buat supportnya❤❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s