My Cinderella Chapter 10 [All With You] – HyeKim

Mycinderellacover

My Cinderella Chapter 10

└ All With You ┘

A fanfiction Written by HyeKim ©2016

Starring With : Hyerim (OC) as Oh Hyerim || Luhan as Xi Luhan || Victoria f(x) as Victoria Song  || Changmin TVXQ as Shim Changmin || Yuri SNSD as Kwon Yuri || L INFINITE as Kim Myungsoo

Genre : Romance, Comedy, School life, Friendship || Rating : PG-15 || Lenght : Multi Chapter

Summary :

Bagi Luhan, Hyerim adalah Cinderella dalam hidupnya. Cinderella yang terlahir dari keluarga berada, mempunyai ibu dan sudara tiri yang menyayanginya. Tapi, Sang Cinderella merasa kesepian. Apakah bisa perbedaan antara Luhan dan Hyerim menyatukan keduanya dalam hubungan cinta?

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


“Karena aku merasa bahagia jika bersamamu. Jika kita berdua kelelahan karena menjalani semuanya, mari tetap bersama dan jangan lepas genggamanku…”


PREVIOUS : 

Teaser || Chapter 1 The Rich Girl] ||  Chapter 2 [Be Her (boy)friend] || Chapter 3 [I’ll Protect you || Chapter 4 [What’s Wrong With Her?]  || Chapter 5 [Perfect Guy For Her] || Chapter 6 [Love and Friendship] || Chapter 7 [Behind Story of Cinderella] || Chapter 8 [Sound of Heart] || Chapter 9 [Who Will You Choose?]

RECOMENDATION SONG :

HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

‘Aku ingin mengatakan bila dirimu mempunyai sebuah rasa padaku, pergilah ke taman bermain di daerah Insadong blok B. Aku menunggu di sini’ [To : Oh Hyerim – 07.39 PM]

Terus saja Luhan menatapi layar ponselnya yang berisikan pesan pada Hyerim tersebut. Tidak ada balasan membuatnya menghela napas lalu menaruh ponselnya ke saku jaketnya dengan kecewa. Luhan menggerakan kakinya hingga menyebabkan ayunan yang ia naiki bergerak pelan.

“Luhan bodoh, kalau Hyerim ternyata tak memiliki perasaan padamu lalu mengabaikan pesan tadi dan tidak ke sini maka wajahmu akan di kemanakan?” gumam Luhan merutuki kebodohannya dengan perasaan kesal.

Luhan masih setia menunduk lesu disertai gerakan pelan ayunan yang ia naiki. Tanpa sepengetahuannya, sosok gadis dengan piyama berwarna merah jambu terlihat berjalan dengan tergesa menuju taman tempatnya dengan mengedarkan pandangan ke sana-ke sini. Hyerim, itulah nama gadis yang berusaha menemukan sosok pria yang membuatnya ke sini. Tatkala bola matanya melihat punggung seorang yang sedang duduk di sebuah ayunan, bola matanya lantas membola dengan degup jantung yang mulai menggila.

“Luhan…” gumaman pelan lolos dari bibir manis Hyerim dan dirinya langsung berlari menuju ayunan yang ia yakini dinaiki oleh sosok Luhan. “Luhan!” seru Hyerim berniat mengalihkan antensi Luhan terarah padanya.

Mendengar suara Hyerim membuat Luhan mengerjap antara percaya juga tidak percaya. Luhan pun menoleh ke belakang dan mendapati sosok Hyerim berlari kepadanya sampai finalnya berada di hadapan Luhan yang entah sejak kapan sudah berdiri secara otomatis. Napas Hyerim terengah ketika memberhentikan lari di depan Luhan lalu dirinya menatap bola mata Luhan yang melihatkan sebuah keheranan. Kemudian senyum terukir diwajah manis Hyerim lalu dirinya menarik kerah jaket Luhan hingga badan lelaki tersebut menunduk ke arahnya menyebabkan wajah keduanya berdekatan, langsung saja Hyerim mencium bibir Luhan tanpa ragu. Hasilnya mata Luhan membola seketika atas serangan tiba-tiba tadi setelah akhirnya membalas ciuman Hyerim.

Entah sejak kapan tangan Hyerim melingkar dileher Luhan diiringi kepala keduanya bergerak secara belawanan disertai lemutan lembut yang berasal dari bibir keduanya. Ditengah ciuman tersebut kepingan putih dari langit turun menyelimuti bumi. Salju pertama tahun ini turun disaat kedua insan tersebut berciuman walau bukan untuk pertama kalinya. Luhan pun menjauhkan wajahnya dan menatap Hyerim yang tampak memejamkan mata lalu membukanya ketika ciuman tadi berhenti.

“Aku sudah tahu jawabannya sekarang,” ucap Luhan pelan dan hanya dapat didengar Hyerim.

Senyum tipis Hyerim lihatkan dengan pandangan menerawang ke bawah, tepat ke tanah yang mulai terselimuti salju putih. “Aku pun sudah tahu kamu tidak menolakku.”

Sekarang giliran Luhan yang tersenyum tipis. Hyerim mengangkat pandangannya memandang Luhan dan ikut tersenyum sedikit lebih lebar. Entah sejak kapan Luhan sudah memeluk pinggang Hyerim lalu menariknya untuk lebih mendekat ke arahnya agar sensasi dingin akan turunnya salju dapat berkurang dengan dekapan hangat keduanya. Luhan menempelkan ujung hidungnya keujung hidung Hyerim yang mendongakan kepalanya untuk bertatapan dengannya.

“Bodoh, kenapa tidak memakai jaket?” ucap Luhan dan Hyerim hanya meringis tanpa dosa.

“Karena aku langsung berlari untuk menemuimu,” kepala Hyerim ia miringkan dengan senyum lembutnya.

“Berarti sekarang kita sudah…”

“Luhan-neun naekkoya jigeum, (Luhan miilikku sekarang)” potong Hyerim membuat perasaan bahagia meletup dari diri Luhan diiringi jantungnya yang berdentum keras.

Setelah itu dengan senyum gembiranya, Luhan mendaratkan bibirnya dibibir Hyerim menyebabkan bibir keduanya berpangutan kembali dengan lumatan lembut yang tercipta disela-sela kecupan tersebut. Hyerim makin melingkarkan tangannya dileher Luhan dan mendorongnya hingga Luhan memperdalam ciuman keduanya. Di sisi lain, di balik sebuah pohon yang tak jauh dari tempat Hyerim dan Luhan memulai hubungan, seorang Kwon Yuri sudah menjadi penonton dan dirinya menjadi salah satu saksi kedua pasangan baru tersebut menjalin kasih.

Terlihat Yuri tersenyum perih dengan raut kosong, hatinya tercebik dengan bola mata berair. “Sudah kuduga hatimu miliknya,” setelah menggumam demikian, Yuri angkat kaki tanpa sanggup melihat adegan tersebut lebih lama.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Walau malam terus berjalan, Hyerim masih terjaga sambil tersenyum-senyum dengan posisi tidur menyamping. Hari pertama menjalin kasih dengan ciuman dibawah salju pertama turun. Memikirkannya membuat Hyerim tersenyum-senyum sendiri lalu menutupi wajahnya dengan bantal sembari bergerak-gerak tak jelas di ranjang.

Tanpa diduga pun, hal tersebut terjadi pada Luhan. Parasnya tersiram sinar ponsel miliknya yang melihatkan foto-fotonya bersama Hyerim. Senyumnya kian melebar ketika mengingat adegan beberapa waktu lalu dibawah salju pertama yang turun.

Oppa! Berhenti terkekeh aneh seperti itu, berisik!” ucapan adiknya, Yoonra terdengar jengkel. Anak gadis itu tiba-tiba datang ke kamar Luhan dan ingin tidur bersama dengan alasan sedang takut sendirian.

Luhan menengokan kepala ke belakang dan terlihat adiknya menatapnya jengkel dengan mata ngantuknya. Sungguh dirinya lupa akan Yoonra yang menumpang di kamarnya. Akan tetapi wajah jengkel adiknya luntur dengan wajah terkagum-kagum lantaran foto Hyerim yang terlihat dilayar ponsel kakaknya.

“Eh Hyerim unni! Cantik sekali!” tiba-tiba saja Yoonra merebut ponsel Luhan. Luhan hanya mendengus sebal tapi akhirnya tersenyum tipis tatkala adiknya menatapi foto Hyerim dengan mata berbinar. “Benar-benar cantik seperti Cinderella. Hyerim unni memang Cinderella.”

Dahi Luhan berkerut aneh mendengar gumaman Yoonra. Lantas Luhan pun berkata, “Cinderella dari mananya? Dia itu bukan seperti Cinderella. Dia kaya, ada lelaki yang menggilainya tapi ia tolak, punya kakak dan ibu tiri yang sangat sayang padanya. Dia juga…” ucapan Luhan terhenti dengan wajah kasmarannya, lalu Luhan pun melanjutkan. “… cantik.” Luhan mengakhiri kata-katanya barusan dengan senyum malu-malu, membayangkan wajah kekasihnya itu. Iya, sekarang keduanya kekasih bukan lagi sahabat.

“Iya aku tahu! Tapi Hyerim unni sendiri yang bilang bahwa dirinya Cinderella versi lain!” Yoonra seketika sewot. Seperti biasa, pertengkaran tak mutu adik dan kakak pada umumnya dengan pendirian dirinya yang paling benar.

Tapi bukan balas sewot seperti adiknya, Luhan malah bergeming dengan pikirannya sendiri. Cinderella versi lain? Kalau dipikir, Luhan pun juga pernah memikirkan itu tentang Hyerim. Cinderella yang berbeda.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Tadi malam salju turun, salju pertama tahun ini. Indah sekali tapi sekarang saljunya sudah berhenti berjatuhan dan hanya meninggalkan bekas di jalanan. Ah, andai tadi malam aku menciptakan kenangan manis saat salju turun.” gumaman Joohyun saat jam istirahat terdengar.

Dirinya lebih memilih diam diri di dalam kelas bersama Hyerim dan daritadi dirinya terus menatap keluar jendela, mengamati sisa salju yang semalam turun. Tampak di sebelah Joohyun, Hyerim sedang menopang dagu sambil tersenyum-senyum tidak jelas. Kenangan indah saat salju pertama turun. Ya, Hyerim sudah membuatnya.

“Kamu kenapa?” Joohyun sudah menatap temannya itu dengan bola mata khawatir.

Hyerim yang mendengar pertanyaan itupun menoleh pada Joohyun dan masih setia dengan senyumannya, persis orang-orang dimabuk asmara. “Joohyun-ah, aku sudah menciptakan kenangan manis saat salju turun tadi malam.”

Tentu saja Joohyun penasaran level kuadrat mendengar kata-kata Hyerim apalagi wajah berseri-seri Hyerim membuat Joohyun tahu betapa manisnya kenangan tersebut. “Kenangan bagaimana?”

Wajah antusias Seo Joohyun tak bisa direm dan Hyerim tampak menatapnya dengan senyuman misterius. Tangan Hyerim bergerak-gerak menyuruh Joohyun mendekat lalu Joohyun menurutinya dengan menyodorkan telinganya. Langsung saja Hyerim membisikan perihal dirinya dan Luhan tadi malam, informasi tersebut membuat mata Joohyun membola dengan raut kagetnya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Berita miring antaranya dengan Hyerim tidak membuat Luhan untuk berhenti bahagia hari ini. Dirinya berjalan di koridor sambil memasukan tangan ke saku celana juga bersiul. Semalam memang benar-benar malam paling bahagia untuknya dan pertama kalinya salju pertama turun menjadi salah satu hal yang ia sukai.

“Sepertinya kekasih Hyerim di sebelahku sedang senang sekali,” goda Jonghyun walau sebenarnya Luhan belum memberitahukan hubungannya dan Hyerim sekarang.

Luhan menjadi salah tingkah dan memilih memandang arah lain tanpa menyahuti godaan Jonghyun. Keduanya masih setia berjalan di koridor, hingga tiba-tiba Jonghyun berbeo lagi. “Lu, aku ingin bertanya.”

Mutlak langkah keduanya terhenti karena ucapan Jonghyun tersebut. Luhan menoleh padanya dengan dahi berkerut, tampak Jonghyun mengatur napasnya untuk mengungkapkan apa yang ingin ia tanyakan kemudian dirinya menoleh kepada Luhan dengan raut ragu-ragu sembari menggaruk belakang kepalanya ketika siap melayangkan pertanyaannya.

“Emmm… bagaimana ya caranya mengungkapkan perasaan kepada wanita? Aku ingin mengungkapkan perasaanku pada Joohyun.”

Lantas Luhan melongo mendengarnya. Jonghyun Si Playboy cap ikan teri di depannya ingin mengakui perasaannya secara serius kepada Joohyun? Bisa dilihat Jonghyun sangat serius akan perasaannya pada Joohyun melalui tingkahnya sekarang.

“Kamu peramal ya? Bagaimana bisa kamu tahu bahwa baru saja aku mengungkapkan perasaanku pada Hyerim.”

Gantian Jonghyun yang melongo, Luhan dan Hyerim resmi berpacaran? Apa telinganya tidak salah dengar? Mata Jonghyun mengerjap beberapa kali mendengarnya seakan tak percaya.

“A…pa? Kamu dan Hyerim? Berpacaran?!” pekik Jonghyun dan Luhan menampilkan senyum miringnya disertai anggukan bangganya.

“Hebat bukan kita sekarang sudah resmi? Dibanding lelaki yang sering menggoda dan memacari wanita namun belum bisa meresmikan hubungannya,” terselip sindiran dari ucapan Luhan tersebut. Jonghyun pun mencibir menyadarinya.

“Tapi sungguh aku ingin menyatakan perasaanku,” kata Jonghyun dengan wajah putus asa lantaran bingung. Luhan ingin sekali terbahak melihatnya, padahal Luhan yakin Jonghyun lebih berpengalaman darinya masalah mendapatkan hati wanita. “Han, bagaimana dirimu saat mengungkapkan perasaanmu pada Hyerim?”

Senyum misterius Luhan tampilkan lagi pada Jonghyun yang tampak penasaran. Luhan menggumam pelan lalu berkata, “Kami berciuman dibawah salju yang turun tadi malam. Sudah itu saja.”

Mata Jonghyun mengerjap dengan raut cengonya. “Ciuman? Dibawah salju?” Luhan mengangguk. “Kenapa romantis sekali? Aku harus bagaimana?” Jonghyun mendesah sementara Luhan terkekeh di tempatnya lalu menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.

“Jujurlah akan perasaanmu dan yakinkan Joohyun bahwa dirimu tulus. Pasti Joohyun akan menerimamu. Cinta yang tulus akan diterima sepenuh hati, percayalah padaku.”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Bahagia dan tersenyum sudah menjadi sahabat baru bagi Hyerim. Dirinya selama ini hanya dihantui oleh kepedihan yang sebenarnya ia buat sendiri. Tapi bila dilihat dari lain sisi, Hyerim seperti itu memanglah wajar. Dirinya sempat jatuh dan menutup diri hingga sekarang menemukan kebahagian serta senyuman dari seorang Luhan. Seharian ini gadis tersebut tidak bisa berhenti tersenyum seperti sekarang, Hyerim sedang menonton televisi dengan Changmin dan Victoria yang duduk di sebelahnya. Namun terlihat Hyerim menopang dagu dengan posisi duduk membungkuk disertai senyuman lebarnya, layaknya orang kasmaran pada umumnya.

“Hyerim kenapa?” bisik Victoria sambil melihati Hyerim yang tampak bahagia sekali.

Bisikan Victoria mengundang Changmin melirik adik tirinya dan dirinya pun keheranan juga. Changmin mengangkat bahu tanda tidak tahu lalu balas berbisik. “Entah, mungkin ada sesuatu terjadi.”

Ditengah kegiatan menonton televisi itu, ponsel Hyerim berdering dan langsung saja Hyerim membukanya. Terlihat satu pesan masuk dengan nama kontak Luhan, dengan senangnya Hyerim langsung membuka pesan tersebut.

‘Taman biasa pukul 19.30, bisa?’ [From : Luhan, 06.45 PM]

Terlihat Hyerim melirik sebentar Changmin dan Victoria yang tertawa melihat adegan di drama yang sangat lucu, kemudian Hyerim kembali mengalihkan intensinya pada layar ponselnya dan mulai mengetik balasan untuk Luhan.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Makan malam di rumah keluarga Oh sudah terlewati dan jarum jam menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit. Hyerim tampak menggunakan jaketnya dan mengendap-ngendap keluar rumah melalui pintu belakang. Dirinya berdalih ingin tidur seusai makan malam, padahal Haera─ibunya, ingin menceritakan cerita baru yang beliau dapat. Hyerim memang suka didongengkan oleh ibu tirinya itu, cerita apapun yang ibunya dongengkan selalu Hyerim suka walau dirinya sudah beranjak dewasa seperti sekarang, dongeng favorit Hyerim yang jelas adalah Cinderella.

Akhirnya Hyerim lolos keluar dari rumahnya, dirinya merapatkan jaket guna melawan hawa dingin dan langsung menaiki bus yang kebetulan langsung ada ketika dirinya singgah di halte bus. Perjalanan yang ditempuh memakan waktu lima belas menit, langsung saja Hyerim turun dengan langkah tergesa menuju taman yang dimaksudkan Luhan.

Senyum kian terukir dibibir Hyerim ketika mendapati punggung Luhan sedang duduk di bangku taman sambil meneguk segelas espresso hangat. Hyerim melangkah perlahan mendekati Luhan, ketika sampai di belakang kekasihnya, senyum jahil tersungging dibibir Hyerim dan dengan perlahan Hyerim melayangkan tangan hendak memukul bahu Luhan.

“Bodoh, kamu sudah tertangkap basah tahu.” perkataan Luhan itu menimbulkan tangan Hyerim yang hendak memukul bahunya langsung terhenti diudara dengan wajah cengo. Perlahan Luhan menolehkan kepala ke belakang dan tersenyum geli. “Ke marilah, bukannya dingin?” Luhan mengibaskan tangan kanannya agar Hyerim mendekat ke arahnya.

Hyerim mencibir sebentar kemudian tersenyum malu dan langsung menuju ke arah Luhan juga duduk di sebelahnya. Setelah itu Hyerim menyenderkan badannya kebadan Luhan dan meletakan kepalanya dibahu Luhan dan Luhan pun mengelus pelan surai hitam panjang milik gadisnya sambil memeluk tubuh Hyerim, menyalurkan rasa hangat yang keduanya miliki. Obsidian keduanya menatapi bekas salju kemarin malam.

“Besok hari pasti saljunya sudah mencair total.” ucap Hyerim masih terfokus pada sisa serpihan salju beberapa meter di hadapannya.

Luhan mengangguk seraya masih setia mengusap lembut puncuk kepala Hyerim. “Hye, orang-orang masih saja mengatakan hal miring tentang kita.” Hyerim lantas teringat akan perjodohannya dengan Myungsoo juga orang-orang yang mengunjingnya dengan Luhan, mengingatnya membuat Hyerim membatu. Terdengar Luhan menghela napasnya. “Aku sebenarnya tidak masalah tapi aku tidak suka ketika mereka menghinamu seenaknya seakan tahu segalanya.”

Hyerim tersenyum tipis dan mendongakan kepalanya, saat itu juga Luhan menatapnya dengan binar lembut serta senyum yang sama lembutnya. “Selama aku masih bisa bersama denganmu, itu tidak jadi masalah,” diraihlah tangan Luhan oleh Hyerim lalu mengamitnya serta meremasnya lembut.

Ketika atmosfer hangat tercipta diantara keduanya dengan saling lempar senyum dan berpandangan, serpihan salju turun kembali menyentuh ujung rambut Luhan dan Hyerim lalu menyentuh pundak keduanya. Kepala keduanya mendongak dengan mata menyipit memperhatikan gumpalan berwarna putih nan dingin tersebut.

“Indahnya,” gumam Hyerim dengan wajah takjub.

Luhan melirik Hyerim yang masih setia memandangi salju dengan muka takjub. Lalu Luhan berdiri dari duduknya membuat Hyerim menatapnya heran. Seakan tahu gadisnya bingung, Luhan berbalik sambil mengulurkan tangannya dan berucap. “Ingin berjalan di salju?”

Tawaran Luhan disambut senang hati oleh Hyerim yang mengangguk dan meraih tangan Luhan yang langsung menariknya berdiri. Keduanya pun berjalan di atas salju dengan hati-hati, masih juga dengan tangan yang berpegangan. Hyerim terus memperhatikan langkahnya, takut bila salah langkah akan terjatuh begitu saja. Ditengah kegiatannya itu, Luhan menoleh ke belakang dan menyunggingkan senyum melihat aksi Hyerim.

“Ikuti saja langkahku,” ucap Luhan dan Hyerim tampak mendongkan kepala untuk menatapnya. “Aku tidak akan membiarkanmu terjatuh. Kamu percaya padaku kan?” anggukan dan senyum mantap Hyerim lihatkan.

Keduanya kembali berjalan dengan Hyerim yang memijaki bekas jejak kaki Luhan dengan hati-hati. Hyerim terus terfokus pada langkah kakinya hingga tidak tahu menahu akan Luhan yang sudah memberhentikan langkah dan seperti yang diprediksikan bahwa Hyerim menabrak tubuh Luhan sampai nyaris terjungkal jatuh namun untungnya Luhan menahan tubuh Hyerim dengan memegang bahu gadisnya. Hyerim yang tersentak kaget pun menatap Luhan yang malah menampilkan senyum tenang.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita berdua kedepannya. Yang kuinginkan adalah melakukan semua hal denganmu. Dan apakah kamu tahu kenapa aku memilihmu dibanding Yuri nuna?” Hyerim termangu di tempatnya disertai gelengan pelan, Luhan masih menatapnya lurus dengan kedua tangan dikedua sisi lengan Hyerim. “Karena aku merasa bahagia jika bersamamu. Jika kita berdua kelelahan karena menjalani semuanya, mari tetap bersama dan jangan lepas genggamanku. Kamu janji?”

Perkataan Luhan tadi diakhiri dengan senyum lembut nan menghangatkannya. Hyerim termangu kembali. Namun perlahan Hyerim mengangguk menimbulkan senyum Luhan yang kian lebar disertai Luhan yang menarik Hyerim kedalam pelukannya. Meski pikirannya bercabang ke mana-mana, Hyerim membalas pelukan Luhan. Karena Hyerim sadar betul bahwa apa yang terjadi selanjutnya antara dirinya dan Luhan tidak akan mudah.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Dulu sekali, Luhan tidak begitu menyukai salju dan hawa dingin. Namun tahun ini, kedua momen berharganya terjadi dibawah turunnya salju. Senyum bahagia terus Luhan lihatkan, tak pernah ia merasa sebahagia ini ketika jatuh cinta. Dirinya merasa kebahagiannya dengan Hyerim akan terus berjalan, bahkan Luhan sudah tidak mengingat hambatan apa saja yang terjadi bila keduanya bersama.

“Yo, Lu!” sapaan riang dari Jonghyun menyapa telinga Luhan. Lantas Luhan menoleh dan mendapati Jonghyun berdiri di samping kirinya dan merangkul bahunya semangat.

“Eo? Kamu kelihatan bahagia sekali,” teliti Luhan karena senyum Jonghyun sangat lebar dibanding senyum bahagianya beberapa menit kebelakang.

Tampak Jonghyun menatap Luhan yang penasaran, ditampilkan olehnya deretan giginya yang rapi masih dengan muka gembiranya. “Asal kamu tahu saja. Joohyun menerima cintaku. Yuhuuu!” sorak Jonghyun dengan satu tangan menggepal ia dorong ke atas sambil mendongak dengan wajah berbinar.

Untuk sejenak Luhan melihatkan muka cengonya kemudian dirinya melihatkan wajah bahagia untuk sahabatnya itu. “Wah akhirnya playboy cap ikan teri Shinhwa sudah menemukan cinta sejati,” ledek Luhan dengan nada sarkastik. Jonghyun pun jadi mendorong belakang kepalanya karena hal tersebut dan Luhan pun meringis dengan wajah kesal.

Mereka berdua masih saja bersiteru ketika berjalan di koridor menuju kelas keduanya. Sekarang ini masih pagi dan belum juga kegiatan belajar-mengajar dimulai, namun Luhan dan Jonghyun sudah saja ribut sambil terkekeh bersama. Ketika keduanya berpas-pasan dengan dua siswi, Luhan maupun Jonghyun berhenti dengan raut kosong mendengar perkataan yang dilontarkan salah satu siswi itu.

“Kamu sudah dengar? Hyerim dan Myungsoo akan bertunangan. Shinhwa’s Emperor selaku perusahaan ayah Oh Hyerim sudah mengumumkan pertunangan Hyerim dengan Kim Myungsoo, pewaris tunggal KMS Group.”

Siswi tadi berlalu meninggalkan Luhan yang seakan disiram penuh seember air es membuat tubuhnya membeku. Di sebelahnya Jonghyun menatap Luhan dengan wajah khawatir. Perlahan Luhan menoleh ke arah Jonghyun dengan ekspresi kosong.

“Jong, apa kamu dengar─”

“Tidak, aku tidak dengar apapun,” sangkal Jonghyun segera hanya untuk membuat Luhan tidak mengalami mental breakdown atau semacamnya.

Sangkalan Jonghyun itu tak berarti apapun untuk Luhan yang sudah tahu kebenarannya. Luhan tersenyum pahit kemudian berjalan duluan meninggalkan Jonghyun yang berdiam diri dan menatap punggungnya miris.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Kim Myungsoo lepaskan! Kau tuli? Kubilang lepas!” teriakan Hyerim mengawali paginya.

Salahkan saja Kim Myungsoo yang main menariknya dan mencengkram tangan Hyerim sangat kuat. Tentu Hyerim berontak dengan terus berteriak namun Myungsoo malah terus menariknya hingga ke parkiran dan berada di dekat mobilnya. Beberapa siswa hanya menontonnya tanpa berani mengusik keduanya. Myungsoo pun membuka salah satu pintu mobilnya dan mendorong paksa Hyerim masuk ke dalam lalu gantian dirinya yang masuk di kursi pengemudi. Hyerim melipat tangan didepan dada sambil menghujani Myungsoo dengan tatapan tajam. Namun lelaki itu dengan lagak santai menjalankan mobilnya keluar area sekolah.

“Pakai sabuk pengamanmu.” Myungsoo bersuara tanpa mengalihkan fokus dari jalanan. Namun Hyerim tak menuruti titahan Myungsoo dan masih menghujaninya tatapan tajam.

“Satu, kau main menarikku paksa dan itu sama saja pelecehan. Dua, kau mengajakku membolos sekolah sekarang tanpa mengikuti satu pelajaranpun. Ahaha, kau benar-benar brengsek,” ucap Hyerim dengan tawa sinisnya. Myungsoo bersikap tenang akan ucapan Hyerim itu dan masih sibuk menyetir.

“Kita akan memilih gaun pertunangan dan kepala sekolah sudah memberikan izin,”

Kepala Hyerim yang tadi tertoleh ke jendela di sebelahnya, kembali menoleh pada Myungsoo dengan mata membola. “Apa katamu?” terlihat Myungsoo tersenyum miring dan Hyerim masih setia dengan wajah syoknya. “Aku tidak mau bertunangan denganmu!” seru Hyerim tegas dengan rahang mengeras dan tangan terkepal diatas pahanya juga diiringi roknya yang ia remas kuat.

“Ingin memperjuangkan hubunganmu dan Luhan?” kata Myungsoo dengan nada menyindir dan melirik Hyerim sebentar dengan pandangan meremehkan. Hasilnya Hyerim memandangnya geram.

“Aku yakin kamu sudah tahu hubunganku dengan Luhan…”

“Oh ya tentu saja. Untuk apa aku terlahir kaya dengan kekuasaan yang kupunya bila mengorek informasi seperti itu saja aku tidak bisa?” langsung saja Myungsoo menyela dengan terselip nada angkuh. Hyerim tambah naik pitam dengan tingkahnya, namun sebisa mungkin Hyerim tidak bertindak diluar nalar detik ini.

“Aku menentang keras pertunangan ini, jadi lebih baik turunkan aku di sini,” ucapan yang keluar dari Hyerim penuh dengan penekanan. Tetapi Myungsoo seperti kambing tuli sekarang dengan menutup telinganya rapat-rapat dan terus mengemudi. Hyerim melirik Myungsoo jengkel. “Berhentikan mobilnya!”

“Aku tidak mau!” seru Myungsoo mulai terpancing emosi dan menatap Hyerim geram.

Napas keduanya tersenggal-senggal. Detik ini Myungsoo sudah fokus kembali menatap jalanan tapi Hyerim mulai sibuk membuka pintu mobil. Gerakan bising itu mengundang Myungsoo menatap ke arah Hyerim lalu tanpa pikir panjang, Myungsoo sedikit menarik diri sampai bisa meraih kedua bahu Hyerim hingga badan gadis itu memutar kembali dan menatapnya. Bola mata Hyerim maupun Myungsoo melihatkan kobaran amarah.

“Lepas!” teriak Hyerim ketika dirinya merasakan Myungsoo meremas kasar kedua bahunya. “Aku tidak mau bertunangan denganmu! Aku tidak pernah mencintaimu!” ditegaskan kembali oleh Hyerim hal tersebut.

Rahang Myungsoo mengeras mendengar penegasan Hyerim. “KAU HARUS MENJADI MILIKKU!” teriakan Myungsoo meledak membuat Hyerim memejamkan kedua matanya.

‘Tiinnn!’

Suara nyaring klakson satu truk barang terdengar nyaring karena mobil Hyundai i30 berwarna silver milik Myungsoo berada di jalur yang salah karena setir kemudi yang tidak dikendalikan daritadi. Ketika Hyerim dan Myungsoo menoleh ke depan, truk tersebut sudah berada beberapa jengkal di hadapan keduanya dan tabrakan tersebut terjadi menyebabkan gulingan yang untungnya hanya satu kali terjadi pada mobil Myungsoo. Hyerim yang tidak menggunakan sabuk pengamanlah yang mengalami benturan sebanyak tiga kali dan sangat keras hingga darah bercucuran dari kedua sisi kepalanya. Pandangan mata Hyerim mulai mengabur ke arah jalanan yang mulai diramaikan oleh segorombolan manusia yang berbondong-bondong menghampiri mobil Myungsoo. Ditengah kesadarannya yang mulai terengut, Hyerim mengingat sosok Luhan yang mana malah membuat kepalanya berdenyut parah.

“Luhan-ah,” bayangan Luhan yang tersenyum di depannya langsung hilang bak serpihan debu terbawa angin.

Setelah menggumamkan nama kekasihnya, Hyerim mutlak menutup kedua matanya dan tak mempedulikan orang-orang yang mulai mengetuk-ngetuk kaca mobil milik Myungsoo untuk sekedar memastikan keadaan keduanya yang terlihat mengenaskan.

─To Be Continued─

hdr2


BARAKALAH KARENA PENGEN NGEBET CEPET END JADI AKU TULIS RADA NGEBUT WKWKWK dan sori ya kalo ada typo ._. Dan maaf update lama di sini ;’v

Btw, itu foto yang abis tulisan TBC aslinya foto buat header blog aku ahahaha tapi berhubung bagus keliatannya jadi pajang di mari ahahahah.

Maafkan kalo semisal ini bertele-tele serius deh kayaknya My Cinderella gak akan end di chapter 11 -_- karena kerangka cerita yang aku buat menuju ending ada beberapa step lagi. Sabar ya :’v sebenernya pengen cepet kelarin tapi yasudahlah….

Kira-kira apa yang akan terjadi sama Hyerim pasca kecelakaan tersebut? /sok misterius/

Kalo pen nebak silahkan dan bisa search Cinderella Twist in Time.

Film Cinderella yang lain kwkwkwk macem sequel tapi…. :v kalo udah nonton itu pasti tau dan mungkin bisa nebak apa yang akan terjadi sama Hyerim setelahnya dan bagaimana dengan Luhan ahahah. Oh ya di sini aku pake backsound Taeyeon – All With You karena lagi suka sama ost.nya Scarlet Heart ahahah dan bisa klik itu tautan youtubenya dan mungkin kalian akan ngerti kenapa aku kasih all with you ketika liat arti liriknya di tautan youtube itu. Sedikit menggambarkan antara Luhan sama Hyerim di sini. Akhirnya dijadiin subtitle chapter ini juga buakakak.

Berhubung My Cinderella  mau end aku pun meluncurin FF baru, mungkin aku pernah bilang ini di FFku yang sebelah. Jadi aku mau promate mendadak sekarang.

This Love

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

 ♫

Gimana? Gimana? Kalian tertarik? Kwkwkwk itu terinspirasi dari DOTS jadi wajar aja ya. Jika kalian berniat baca silahkan (klik..)

See you ^^

-HyeKim-

18 thoughts on “My Cinderella Chapter 10 [All With You] – HyeKim

  1. Akhirnya luhan dan hyerim resmi pacaran 😂😂

    Tpi kenapa disaat mereka lagi mesra2nya myungsoo selalu merusak suasana bahagia..

    Myungsoo benar2 sudah terobsesi ama hyerim, dia bukan cinta lagi ama hyerim tapi udah obsesi yang berlebihan

    Dan myungsoo buat hyerim kecelakaan, semoga aja hyerim gak papa, kan kasihan luhan 😭😭

    Semangat ya thorr buat next chapnya
    Fighting 😍😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s