WINGS – PROLOGUE II — IRISH’s Story

altairish-wings-prologue-3

—  WINGS —

storyline by ALTAIR and IRISH; our winter collaboration project

action; adventure; fantasy; romance; school life

PG-17; chapterred

standart disclaimer applied

2016 © EXO Fanfiction Indonesia

[ Previous: Prologue I ]  —  [ Clicked: Prologue II ]

Irene hanya bisa ternganga, kala netranya menangkap gedung tinggi menjulang serupa kastil yang sekarang ada di hadapannya. Dengan sebuah gerbang besi gelap setinggi tiga meter yang dihiasi rumput menjalar dan gagang raksasanya yang berwarna emas, sungguh, gerbang masuk menuju Claris saja sudah membuat Irene terpana.

PROLOGUE II

Irene hanya bisa ternganga, kala netranya menangkap gedung tinggi menjulang serupa kastil yang sekarang ada di hadapannya. Dengan sebuah gerbang besi gelap setinggi tiga meter yang dihiasi rumput menjalar dan gagang raksasanya yang berwarna emas, sungguh, gerbang masuk menuju Claris saja sudah membuat Irene terpana.

Belum lagi, di sisi kanan dan kiri gerbang megah tersebut terdapat dua buah patung naga berwarna perak mengkilap yang Irene yakini akan memantulkan cahaya matahari dengan sangat indahnya saat musim semi datang.

Sebuah jalan setapak yang terbuat dari susunan batu melingkar menyambut ketika Irene melangkah melewati gerbang raksasa tersebut. Well, ia tidak lagi perlu khawatir tentang barang-barangnya. Semua barang milik mereka sudah diangkut oleh kereta barang yang lebih dulu masuk ke dalam Claris.

Whoah. Aku tidak tahu jika langit akan terlihat lebih indah di sini.” gumam Irene, tak hentinya bibir gadis itu menggumamkan desahan kagum lantaran kecantikan alam yang terpampang jelas di hadapannya.

Awalnya, gadis itu berpikir Claris akan terlihat menakutkan, tapi nyatanya ia seolah dibawa ke dalam sebuah gedung megah di hamparan tanah kosong.

“Selamat datang di Claris, para Ezalor muda!” sebuah teriakan berhasil merenggut perhatian Irene. Senyum gadis itu merekah kala didapatinya pemandangan sangat familiar di dalam gerbang tersebut.

Di kiri dan kanan gerbang sepanjang sisi jalan setapak tersebut, telah berjajar rapi belasan meja berwarna putih dengan taplak berwarna hijau muda, dengan beberapa orang di tiap mejanya, sibuk menarik perhatian murid-murid baru dengan kertas-kertas di tangan mereka.

“Aku tidak tahu jika di Claris juga ada hal seperti ini, sama persis seperti sekolah sungguhan, bukan?” Irene menatap ke sebelahnya, dan ya. Jangan tebak apa yang sedari tadi Irene lakukan.

Ia sudah menempel bak permen karet di lengan Kai, mencengkram erat pakaian pemuda itu sementara ia menyeret Kai untuk mengikuti kemana ia melangkah. Tidak salah jika sedari tadi Irene merasa dirinya menikmati pemandangan sendirian. Di sebelahnya, Kai sudah memasang ekspresi jengah.

“Sampai kapan kau akan menempel padaku?” tanya Kai kemudian, ingin tangan pemuda itu bergerak untuk menyingkirkan lengan Irene darinya, tapi ia tahu tindakan semacam itu tidak cukup bermoral untuk ia lakukan pada wanita.

Hey, bagaimanapun, Kai adalah seorang pria yang menghargai wanita. Bersikap kasar pada wanita tidak ada di dalam kamus pemuda itu. Karena sekali lagi, ia sangat menghargai wanita.

“Kenapa? Apa aku menganggumu?” pertanyaan Irene membuat Kai mendengus cukup keras. Demi Tuhan, apa pertanyaan Kai saja tidak cukup menjadi petunjuk bagi Irene?

“Sangat. Mengganggu.” Kai menekankan dua kata itu, berharap dengan berucap seperti itu, Irene akan peka dan—

“Kai! Lihat! Mereka keren sekali!”

—melepaskannya.

Ya, Kai sepertinya harus menunggu sampai Irene memutuskan untuk melepaskan dirinya, atau minimal, Kai harus mencari kesempatan yang tepat untuk menarik diri dari gadis itu.

“Apa yang keren dari mereka?” Kai bertanya dengan nada sarkatis ketika didapatinya hal yang menarik perhatian Irene sekarang adalah sekelompok murid yang tengah mencampur beberapa tanaman ke dalam tungku.

“Mereka pasti sedang membuat ramuan.” tatapan Kai menyipit. Tolong, bisakah ia berharap dirinya tiba-tiba bisa menghilang? Well, hal yang membuat Irene tertarik sesungguhnya dinilai Kai sebagai hal yang paling membosankan.

Kenapa begitu? Karena tidak ada seorang pun yang melihat selain mereka berdua!

“Apa menariknya?” lagi-lagi Kai bertanya. Tidak malah mendapat sahutan dari Irene, pemuda itu mendapati dirinya ditarik lebih dekat lagi ke meja tersebut oleh si gadis Bae. Hal yang akhirnya membuat Kai menyerah. Gadis itu terlalu berpendirian.

Alih-alih memperhatikan hal yang sama dengan Irene, Kai memilih untuk mengedarkan pandang, mencari hal yang mungkin bisa menarik perhatiannya. Tatapan pemuda itu tertuju pada sebuah demonstrasi berpedang yang ada di tengah lapangan. Lekat dipandanginya demonstrasi tersebut, tidak sadar jika seorang lagi sudah bergabung dengan hal membosankan yang menahannya sekarang.

Hey, aku ingin pergi ke—” ucapan Kai terhenti saat menyadari jika dirinya sudah berdiri di antara dua orang gadis yang sama-sama tertarik pada asap mengepul yang keluar dari tungku di atas meja.

Satu adalah Irene, satu lagi gadis berperawakan mungil dengan rambut berwarna cokelat tua dan sepasang kacamata bulat di wajah.

“Mereka sudah mencampurkan minyak lavender dengan madu. Katanya, mencampur putih telur dengan yogurt juga bisa membuat hal yang sama.” ucap si gadis berambut cokelat pada Irene.

“Ah, benarkah? Aku tidak tahu jika minyak lavender bisa digunakan.” Irene mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu, tatapannya begitu serius tertuju pada tungku—yang sekarang tengah mengepulkan asap berwarna hijau pupus—di hadapannya.

“Apa kau ingin tahu lebih banyak lagi? Aku punya banyak buku tentang hal-hal semacam ini.” si gadis berambut cokelat berucap.

“Benarkah? Aku akan sangat suka membacanya. Oh, omong-omong, namaku Irene.” Irene lekas mengulurkan tangan pada gadis itu.

Gotcha!

Tindakan Irene mengulurkan tangan pada si gadis secara tidak langsung membuat cekalannya pada Kai terlepas. Refleks, pemuda itu melangkah mundur beberapa kaki, menyunggingkan senyum kecil karena telah terbebas dari kungkungan si gadis yang dianggapnya orang asing.

“Namaku Wendy.” gadis berambut cokelat itu berucap, dijabatnya tangan Irene sambil membalas senyum si gadis Bae. Sementara Kai sendiri makin beringsut menjauh.

“Oh!” tidak! Tatapan Kai membulat terkejut kala Irene memutar kepala, menatap ke arahnya seolah tidak tahu jika pemuda itu tengah berusaha melarikan diri darinya.

“Dia Kai.” ucap Irene, menunjuk ke arah Kai dengan senyum ramah di wajahnya.

Sepersekian sekon, Kai terdiam. Ia tahu benar bagaimana sedari tadi ia berusaha menolak eksistensi gadis itu, tapi melihat bagaimana gadis itu masih memasang senyum yang sama padanya entah mengapa membuat Kai merasa bersalah juga karena sudah berpikir untuk meninggalkan gadis itu sendirian.

Diam-diam Kai berpikir, alasan yang membuat Irene terus menempel padanya adalah karena gadis itu sendirian.

“Ah, aku Wendy.” Wendy menatap ke arah Kai, memaksakan sebuah senyum di wajahnya, mungkin ia merasa canggung juga karena harus diperkenalkan pada seseorang yang sedari tadi bahkan tidak mengikuti konversasi mereka.

Umm, senang bertemu denganmu, Irene. Aku akan ke bagian lain gedung, semoga kita bisa berada di kelas yang sama!” ucap Wendy, melambai pada Irene sebagai ucapan selamat tinggal sebelum akhirnya ia melangkah pergi.

Tinggallah Kai bersama dengan Irene lagi. Tanpa sadar, Kai memperhatikan gadis itu. Ia memang benar-benar sendirian. Bahkan setelah beberapa orang singgah di meja yang sedari tadi menarik perhatiannya, gadis itu masih bungkam.

“Kai,” ucap Irene kemudian.

“Apa?” tanya Kai.

Irene menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum ia berucap. “Aku akan berkeliling sendiri. Kau ingin melihat demonstrasi pedang itu bukan? Tinggalkan saja aku.”

Tinggalkan saja? Ucapan Irene sekarang membuat Kai menyernyit. Melihat bagaimana keadaan gadis itu sekarang—yang berdiri diam sendirian—saja sudah membuat Kai bisa menduga dengan mudah jika tadi pasti gadis bernama Wendy itu yang memulai konversasi.

Dan juga, bagaimana jadinya Irene jika ia harus sendirian? Ugh. Kai memejamkan matanya sejenak. Sebenarnya ia sungguh merasa terganggu karena keberadaan gadis itu, tapi ia lebih merasa terganggu karena membayangkan dirinya akan jadi pria pengecut yang tanpa alasan membiarkan seorang yang bergantung padanya sendirian.

Irene hanya ingin punya teman di tempat asing yang tidak ia kenal. Dan—tunggu, apa Irene sadar jika Kai sedari tadi memperhatikan demonstrasi? Kai pikir gadis itu lebih sibuk dengan urusannya sendiri.

Hey, Irene.” panggil Kai akhirnya.

“Ya Kai?” Irene menoleh, tersenyum ketika menyadari pemuda itu baru saja menyebut namanya bukan malah meninggalkannya.

“Mau berkeliling bersama?”

~

Ada sedikit penyesalan di dalam diri Kai ketika ia putuskan untuk membawa serta si gadis dalam orientasi gedungnya hari ini. Sempat ia berpikir, meninggalkan Irene sendirian mungkin akan jadi pilihan yang lebih baik. Mengingat bagaimana Kai berulang kali terjebak dalam situasi membosankan yang sangat menarik bagi Irene.

Tapi gadis Bae itu juga agaknya tidak ingin memaksa Kai. Tiap kali Kai mengucapkan kata ‘membosankan’ atau ‘ayo kita lihat yang lain’ Irene pasti segera meninggalkan hal yang menarik perhatiannya.

Sampailah Kai pada kesimpulan bahwa Irene hanya berusaha membuat Kai merasa nyaman sementara dirinya mengekor kesana-kemari dengan mencengkram pakaian pemuda itu.

Pakaian. Ah. Kai yakin jika bagian pakaiannya yang sedari tadi Irene cengkram pasti sangatlah kusut.

“Irene, bisakah kau lepaskan peganganmu?” ucap Kai akhirnya, mereka sekarang tengah menonton sebuah demonstrasi perang di antara dua kelompok kecil.

“Bagaimana kalau kau hilang?” pertanyaan Irene membuat alis Kai bertaut bingung. “Apa maksudmu? Sudah kukatakan kita akan mengelilingi Claris bersama bukan?” ujarnya, berpikir jika Irene mungkin khawatir Kai akan merealisasikan rencananya untuk meninggalkan gadis itu.

“Tidak, Kai. Bagaimana jika saat aku tidak memegangimu seperti ini, kau tersesat dan kemudian hilang?” Kai kini mengerjap tidak percaya. Apa di mata Irene ia adalah seorang anak berusia lima tahun yang harus dipegang saat pergi kesana-kemari?

“Kalau begitu setidaknya peganglah dengan benar.” ucap Kai akhirnya, Irene sontak melepaskan cengkramannya. Benar dugaan Kai, bagian ujung pakaiannya sudah kusut karena sedari tadi Irene mencengkram bagian pakaiannya.

Kini, saat Kai membiarkan bagian itu terlepas, ukurannya sedikit lebih panjang daripada yang lain. Well, sepertinya cengkraman Irene sudah membuat pakaian Kai bertambah melar.

“Kau merusak pakaianku.” gerutu Kai, memperhatikan perubahan yang terjadi di ujung pakaiannya sementara Irene menatap dengan rasa bersalah.

“Maaf.” ucap Irene membuat pemuda tersebut menghembuskan nafas panjang.

“Pegang di sini.” Kai mengulurkan lengannya—lebih tepatnya, meminta Irene untuk mencengkram bagian lengan pakaiannya, mengingat ia mengenakan kaos oblong dengan jaket gelap yang tidak dikancingkan di bagian luar.

Lagi-lagi, senyum Irene merekah. “Terima kasih.” ucap si gadis sebelum jemarinya dengan hati-hati mencengkram jaket Kai. Kai sendiri hanya membalas dengan senyuman kecil.

“Aku ingin melihat bagian seleksi wajib. Kau ikut?” tanya Kai, mengedikkan dagunya ke satu arah di sudut ruangan besar bernuansa cokelat tua tempat mereka sekarang berdiri.

“Ya, aku ikut.” ucap Irene sambil mengangguk-angguk cepat.

Tanpa bicara apapun Kai melangkah di antara keramaian, dengan Irene mengekor tepat di belakangnya. Lagi-lagi, Irene memperhatikan gedung yang sekarang menaunginya.

Gadis itu kembali terkagum-kagum ketika memperhatikan ukiran cantik berbentuk empat ekor naga yang ada di atap melengkung ruangan tempatnya berada. Bisa Irene tebak kalau di luar sana, gedung ini pasti memiliki atap berbentuk kubah.

Sebuah lampu kristal menggantung di tengah ruangan. Dengan masing-masing kepala naga yang berada di sisinya, mengelilingi lampu kristal tersebut. Dinding-dinding ruangan di sekitarnya terbuat dari marmer mengkilap berwarna cream yang diukir membentuk beberapa membentuk sosok-sosok prajurit dengan badan separuh kuda berdiri berjajar lengkap dengan senjata mereka, dan beberapa lagi berbentuk hewan-hewan yang tidak Irene ketahui.

“Kai, kau tahu ukiran itu membentuk apa?” tanya Irene saat rasa ingin tahunya kembali mendominasi. Menyadari kemana arah Irene menunjuk ke arah dinding tersebut, Kai akhirnya buka suara.

“Prajurit-prajurit itu, Centaur. Mereka memang bukan manusia sepenuhnya, tapi mereka dikenal karena kesetiaannya pada pemimpin. Di sejarah, tidak pernah ada Centaur yang berkhianat pada kelompoknya. Lalu di sebelah mereka, Fenrir. Fenrir adalah serigala raksasa yang sangat mengerikan. Centaur dan Fenrir kudengar menjadi lambang penjaga di Claris.” Kai mengakhiri penuturannya, sementara di sebelahnya, Irene mengangguk-angguk paham.

“Lalu naga-naga itu?” Irene menunjuk ke arah atap dengan jemarinya.

“Naga adalah lambang para dewa.” ucap Kai.

“Ah, kau keren sekali. Bisa tahu banyak hal padahal kau bicara seolah tidak mau berada di sini.” ekspresi Kai lagi-lagi berubah dingin saat mendengar ucapan Irene.

“Alasanku berada di sini dan alasanku mengetahui semua itu adalah dua hal yang berbeda, Nona. Dan juga, semua orang di sini pasti tahu tentang mereka, kau lah satu-satunya yang berpikiran dangkal dan tidak tahu tentang pengetahuan mendasar seperti itu.” perkataan Kai membuat Irene bungkam dengan cukup telak.

Herannya, Irene berpikir tentang bagaimana Kai seringkali menjadi ahli menyindir. Mungkin besok-besok Irene harus berguru pada kata-kata tajam Kai jika ia punya masalah di Claris.

“Omong-omong, mengapa kau tertarik melihat seleksi wajib?” tanya Irene sejurus kemudian. Kai memutar bola mata, tahu jika gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan setelah kalah bicara.

“Semua orang pada akhirnya harus ikut seleksi wajib. Apa kau tidak bisa mengalihkan pembicaraan dengan cara lebih baik?” ucap Kai membuat Irene mengerucutkan bibirnya kesal.

Ia baru saja akan menilai Kai sebagai seorang yang sedikit baik saat pemuda itu lagi-lagi bersikap menyebalkan. Tadinya Irene sempat berpikir jika Kai akhirnya menyerah dalam menyebutnya sebagai orang asing dan akhirnya menganggap Irene sebagai temannya, tapi mungkin Irene satu-satunya yang berpikir seperti itu.

“Lihat? Ada berapa banyak orang yang tertarik pada seleksi wajib? Kau satu-satunya orang yang tertarik pada hal tidak penting sedari tadi.”

Nah, Kai lagi-lagi menyindir.

~

Whoah… Banyak sekali seleksi wajibnya.”

Irene memperhatikan kertas yang ada di tangannya. Tadi, Kai sudah berbaik hati mendaftarkan nama mereka berdua ke dalam jadwal seleksi wajib. Walau Kai jadi harus menyelipkan diri di antara orang-orang sendirian sementara Irene menunggunya di kejauhan.

Alasan Kai, tubuh Irene yang mungil akan membuatnya kesulitan menyelip di antara orang-orang, dan bisa jadi gadis itu akan terhimpit, bahkan terinjak-injak—Irene ingat benar bagaimana Kai mengucapkan kalimat itu dengan nada kejam—di gerombolan tersebut.

“Mana kertasmu?” ucap Irene, mengulurkan tangannya pada Kai.

“Untuk apa?” tanya Kai tidak mengerti.

“Biar aku bawakan. Kau sepertinya bukan seorang yang senang membawa banyak barang. Jadi, aku akan berbaik hati membawakannya, dan mengingatkanmu di hari ujian.” ucap Irene dengan nada sebijak mungkin. Tapi Kai malah tergelak karena ucapan gadis itu.

“Jangan bercanda. Kau pikir aku lelaki ceroboh yang suka menghilangkan barang-barangku? Dan juga, jangan bersikap seolah kita dekat. Aku mendaftarkanmu hanya karena aku tahu kau tidak akan mampu menyelipkan diri di antara kerumunan di sana.

“Oh, satu lagi. Tidak perlu repot-repot mengingatkan ujianku. Karena kita mendaftar bersama, kita dapat jadwal yang sama, yaitu hari ini.”

Penuturan Kai membuat Irene kembali menggembungkan pipinya, hal yang ia lakukan ketika seseorang sudah menohoknya dengan ucapan, sekaligus membuatnya kesal tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Omong-omong, Kai. Apa kau tahu kita akan beristirahat di mana?”

Kali ini Kai tergelak. Well, sepertinya Kai sudah sadar jika kata ‘omong-omong’ akan keluar dari bibir Irene ketika ia berusaha mengalihkan pembicaraan.

~

Irene dan Kai sekarang berdiri di tengah sebuah lapangan luas, dengan jajaran pohon yang tumbuh melingkar di sekitarnya. Beberapa orang juga tampak berdiri di tempat yang sama, menunggu.

“Kai, ini ujian apa?” pertanyaan Irene membuat pemuda di sebelahnya menyipitkan mata tidak percaya. Tolong, Irene sedang memegang kertas yang berisi urutan dari ujian mereka dan gadis itu malah bertanya pada Kai? Tidakkah ia bisa melihat dengan jelas kalau pemandangan di depannya ini bukan bentuk dari ujian?

“Ini bukan ujian.” bodohnya, Kai jawab juga pertanyaan Irene tadi. Padahal ia bisa saja mengatakan pada Irene untuk melihat apa yang ada di kertas ujian tersebut.

“Ah, apa kau tahu ujiannya kita setelah ini seperti apa?” lagi-lagi Irene bertanya.

“Tidak tahu.” Kai menyahut. Sahutan dinginnya juga membuat Irene menatap dengan pandang memelas. Tampaknya, Irene akan semakin banyak berceloteh ketika ia merasa gugup.

“Mengapa ada banyak senjata di depan sana? Dan itu makhluk apa, Kai? Kau tahu?” Kai memejamkan matanya sejenak.

Ia seharusnya bisa berkonsentrasi dan mendengarkan arahan yang diberikan oleh seorang pria bertubuh tambun di depan sana—yang dengan santainya mengelus-elus punggung seekor hewan yang identitasnya dipertanyakan Irene barusan—agar ia paham benar apa tujuan mereka berdiri di sini. Yang masuk ke dalam pendengarannya justru celotehan Irene.

“Diam dan dengarkan.” ucap Kai, melirik tajam Irene sebelum ia kembali memfokuskan dirinya pada ucapan pria tambun di depan sana.

“Nah! Pria bisa berbaris di barat, wanita di timur!”

“Kai!” serta-merta Irene mencicit, pasalnya, rungu gadis itu menangkap bagaimana ia harus melepaskan diri dari Kai yang sedari tadi menjadi tameng. Reaksi Kai justru lebih aneh, ia yang seharusnya merasa senang karena akhirnya terlepas dari Irene, malah merasa khawatir.

“Aku akan ada di seberang sana.” ucap Kai, mengedikkan bahunya ke tempat beberapa orang pria sekarang bergerombol.

“Tapi bagaimana kalau makhluk itu—”

“Ini bukan ujian, Irene. Kalau kau ragu, diamlah di sana dan jangan lakukan apapun. Dan juga, namanya bukan makhluk itu. Namanya Griffin, dan Griffin tidak semenakutkan kelihatannya, mengerti?” Kai melepaskan cekalan Irene darinya, sementara Irene menatap sekitarnya khawatir.

Ia baru saja mengenal tentang Griffin, dan karena sedari tadi sibuk memperhatikan alam di sekitarnya, Irene bahkan tidak tahu apa yang akan ia hadapi setelah ini, begitu pula dengan Kai.

“Aku takut.” Irene berucap.

“Lalu kau mau pulang?” tanya Kai membuat Irene bungkam. Tidak mungkin ia menyerukan ketakutannya sekarang bukan? Dan, pulang? Astaga, memangnya Irene adalah murid playgroup?

Akhirnya, dengan ragu Irene melangkah ke arah kelompok wanita yang terbentuk di dekatnya. Sementara Kai sendiri mengambil langkah cepat ke arah kelompok pria. Sempat Irene menggigiti ujung kukunya karena gugup, sementara pandangannya terus tertuju pada Kai yang tengah berbicara dengan beberapa orang di sana.

Irene diam-diam merasa heran, Kai tidak tampak khawatir sama sekali. Dan lagi, Irene memperhatikan sekitarnya. Gadis-gadis di sebelah Irene juga tidak tampak khawatir. Apa mereka semua berani menghadapi ujian yang—

“Nah, karena kalian sudah berdiri di sini. Jadi, biarkan Griffin ini memperkenalkan diri pada kalian. Satu persatu maju dan cobalah menyapa Griffin dengan sopan.”

—sial. Ternyata Irene baru saja mengkhawatirkan hal yang sebenarnya tidak perlu ia khawatirkan.

~

Tanah lapang serupa taman yang tadi sesak dipenuhi oleh murid-murid kini sudah tampak sepi. Well, setidaknya ada Irene yang masih duduk membeku di kursi yang ada di sana, bola mata indahnya kini menyorot tajam, memperhatikan gerak-gerik dari Griffin yang ia temui beberapa menit yang lalu.

“Eh… Griffin yang baik… Ah, bolehkah aku mendekat sedikit ke arahmu?

Irene berjalan mendekat, memindahkan kakinya untuk mendekat ke arah hewan itu dengan sangat berhati-hati, matanya tak lepas dan tetap menatap Griffin itu, sedang objek yang ditatapnya diam tak bergeming, memperhatikan Irene yang mendekat ke arahnya.

“Nah, sekarang aku sudah ada di depanmu. Pe-Pertama, aku akan memperkenalkan diri. Namaku Irene, aku sangat suka binatang dan aku rasa aku memiliki sedikit kemampuan un—”

“Kau adalah anak dari Bae Jung Soo?

Irene terpaku, rungunya baru saja dengan jelas mendengar mahluk yang ada di depanya ini mengucapkan sebuah kalimat dan menyebut nama Ayahnya. Demi Tuhan, Irene mungkin percaya jika hewan bisa bicara jika ia sedang berada di Wonderland atau semacamnya. Tapi di sini?

Irene menggeleng perlahan. Mungkin, karena ia tidak berada di sekolah biasa, tentu ada yang berbeda pula di sini. Kini, netra si gadis membulat penuh, menatap Griffin tersebut dengan rasa takut yang sarat di kedua matanya. Kali ini, Irene memberanikan diri untuk membalas ucapan Griffin tersebut, meskipun ia masih sedikit takut dan ragu.

“Y-Ya, aku adalah anaknya. Ba-Bagaimana kau bisa tahu?

“Ayahmu selalu menunggangiku setiap malam bulan purnama, kami bercerita banyak hal tapi yang menjadi topik favoritnya adalah Ibumu.” sang Griffin mengikis jarak di antara dia dan Irene, ia mendekatkan paruhnya kepada Irene dan menggunakan matanya untuk memberi tanda pada sang gadis agar ia bertindak untuk mengelus paruhnya. Tentu saja Irene mengerti.

“I-Ibuku? Kenapa?” tangan halus miliknya mulai mengusap paruh Griffin tersebut perlahan, penuh keraguan, Griffin tersebut juga nampaknya merasakan kekhawatiran Irene dan mendekatkan paruhnya ke tangan si gadis.

“Tenanglah Irene, aku tidak akan mematuk lenganmu seperti yang sudah aku lakukan pada siswi yang lain.” ucapan Griffin tersebut membuat Irene terdiam.

“Ah, baiklah.” Irene memberi senyuman seolah memberi tahu jika rasa takutnya mulai sedikit menghilang. Yah, ia sudah menyaksikan bagaimana seekor hewan bisa bicara. Kali ini setidaknya Irene harus percaya jika hewan tersebut tidak membohonginya.

“Akan kulanjutkan ceritaku. Ibumu selalu menjadi topik obrolan yang dibicarakan Ayahmu, ia selalu berceloteh tentang betapa cantiknya Ibumu. Saat orang tuamu menikah dan pergi ke dunia nyata,  Ayahmu memintaku untuk menjaga Ibumu yang saat itu tengah mengandungmu. Dan saat kau lahir, aku melihat di udara jika Ayah dan Ibumu tersenyum dengan bahagia.”

Irene terdiam seribu bahasa dan tersenyum tatkala hewan yang ada di hadapannya ini menceritakan kisah tentang orang tuanya saat mereka berada disini, di tempat ia berada sekarang, dan yang lebih mengejutkan adalah hewan yang ada di hadapannya ini dulu merupakan penjaganya.

“Tapi sekarang aku tidak mengerti.” lanjut sang Griffin. Irene menatap kembali ke arahnya. Irene sendiri terdiam, apa masalahnya?

“Memangnya kenapa?

“Aku yakin jika Ayah dan Ibumu sangat bahagia tinggal di dunia nyata bersama dengan dirimu. Tapi… kenapa mereka mengirimmu kesini?” pertanyaannya kali ini berhasil membuat Irene menghentikan kegiatannya—yang sedang mengelus paruh Griffin tersebut.

“Maksudmu?

Sang Griffin memberi sedikit jarak antara dia dengan Irene, dan menegapkan tubuhnya serta menggerakkan sayapnya yang lebar.

“Apa salahmu sehingga mereka mengirimmu ke tempat ini?

~

Huft…”

Irene menghembuskan nafasnya untuk yang kesekian kali, ia masih merenungkan pertanyaan dari seekor hewan campuran antara burung dan kuda yang berbicara padanya dan menghadiahkan pertanyaan yang tak masuk nalar sama sekali.

“Apa maksud pertanyaan dari hewan aneh itu? Kenapa aku di kirim kemari? Ah… aku tidak mengerti sama sekali. Dia bilang dia tidak mengerti, lalu bagaimana denganku?”

Irene mengembungkan pipinya dan menaruh dagunya di atas meja yang menjadi tempatnya menghabiskan waktu sedari tadi. Sungguh, siapapun yang melihat keadaan Irene sekarang pasti merasa iba. Bagaimana tidak, ia duduk sendirian dengan dikelilingi tas besar bawaannya, menatap kiri dan kanan seperti seorang yang hilang.

Sebenarnya, Irene sudah kelimpungan sejak tadi saat berada di taman. Ia mencari sosok Kai, namun lelaki yang dicari tak ada dalam pandangannya, bahkan batang hidungnya saja tak nampak. Diam-diam Irene mengomel dalam hati. Tadi saja, pria tersebut bicara seolah ia akan terus menemani Irene. Tapi nyatanya sekarang Irene malah sendirian.

Seluruh siswa sekarang sedang berada di aula utama, menunggu instruksi selanjutnya yang akan di arahkan kepada mereka. Beberapa siswa ada yang sedang mengobrol dengan beberapa Professor yang ada disana, ada juga yang melihat-lihat lukisan serta pajangan yang ada di sana.

Namun sepertinya, hal-hal menarik itu sama sekali tidak bisa menarik gairah Irene untuk melakukan hal yang sama. Ia hanya berdiam diri di meja dan tak melakukan aktivitas apapun selama ia duduk disana. Mung—

Hey, Irene!”

—kin kali ini dewa merasa kasihan dan membuat Irene kedatangan tamu yang mau tak mau harus ia ladeni.

“Ah, Wendy. Senang bertemu denganmu lagi.” ekspresi Irene berubah menjadi ceria ketika melihat Wendy—teman barunya­—menghampiri dan duduk di sebelahnya. Setidaknya, Irene pikir sekarang ia tidak lagi sendirian.

Wendy melempar sebuah senyuman untuk membalas ucapan Irene sebelum ia menempatkan tubuhnya di sebelah Irene dimana tak ada siapapun di sana.

“Wah, wah. Ini semua barang bawaanmu?” tanya Wendy sambil memperhatikan koper dan tas yang Irene bawa.

“Hmm, ya. Apa kau tidak membawa barang sebanyak ini?” tanya Irene, berpikir jika Wendy mungkin merasa heran karena melihat Irene membawa begitu banyak tas.

“Tidak.” Wendy menggeleng, “bawaanku bahkan dua kali lipat milikmu.” mulut Irene membulat, tapi tidak ada kata yang keluar. Ya, menurut Irene bawaannya saja sudah begitu banyak, dan sekarang ia bahkan bertemu seseorang yang membawa barang lebih banyak daripada dirinya.

“Kau sendirian? Dimana temanmu itu?” pertanyaan Wendy berikutnya membuat Irene merengut. Lagi-lagi ia ingat tentang hilangnya pemuda bernama Kai itu. Tadi Irene sebenarnya sudah berpikir, jika melepaskan Kai bisa berakibat hilangnya pemuda itu. Sekarang, ucapannya terbukti.

“Hmm, ia pasti sibuk dengan teman-teman baru.” Irene mengangguk pelan sembari menjawab pertanyaan Wendy. Sementara Wendy sendiri mengangguk-angguk, menggemakan tindakan Irene barusan.

“Lalu mengapa kau duduk diam di sini?” tanya Wendy lagi.

Irene mengangkat bahu pelan. “Ya, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi aku lebih memilih diam. Kau sendiri?”

Wendy tersenyum cerah. Agaknya, pertanyaan Irene sedari tadi sudah ia tunggu-tunggu. “Aku? Aku sedari tadi memperhatikan beberapa orang yang meracik ramuan tentang penyembuhan yang bisa di dapatkan dengan bahan yang berada di sekitar hutan sebelah timur di Claris.” ucap Wendy dengan membetulkan posisi kacamatanya. Kilatan di kedua bola mata gadis itu jelas menampakkan bagaimana cerdasnya ia.

“Kita bisa mendapatkan bahan untuk ramuan obat di hutan?” tanya Irene, well, ia terkesima. Karena ia dan Wendy sama-sama murid baru tapi Wendy sudah tahu begitu banyak hal.

“Ya, tentu saja aku tahu.” Wendy kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Irene. “Aku bahkan tahu jalan rahasia menuju hutan itu.” bisiknya berhasil membuat tatapan Irene membulat.

Sungguh, Irene sekarang yakin Wendy sudah mengenal seluruh gedung Claris dengan baik. “Benarkah? Kau harus beritahu aku tentang itu semua, Wendy!” Irene tak bisa untuk menyembunyikan semangatnya jika menyangkut masalah obat-obatan dan teknik penyembuhan.

“Pasti, akan lebih baik lagi jika kita berada dalam satu kamar!” Wendy berucap dengan penuh percaya diri, hal yang tanpa sadar membuat mereka berdua tertawa kegirangan. Sudah pasti, di dalam benak masing-masing telah mereka ciptakan ratusan rencana.

“Test! Test!

Sebuah suara menghentikan aktifitas para siswa yang berkumpul di aula utama, tak terkecuali Irene dan Wendy yang langsung menghentikan konversasi mereka.

“Ini adalah pengumuman. Jadi tolong dengarkan baik-baik. Pertama, setelah pengumuman ini berakhir semua murid akan diarahkan menuju asrama masing-masing. Kalian juga akan diarahkan menuju yang telah kami siapkan, setiap kamar akan diisi oleh tiga orang, baik untuk pria ataupun wanita.

Kedua, tolong rapikan semua barang bawaan kalian di tempat yang sudah disediakan di kamar kalian. Lalu, kalian bisa beristirahat, gerbang utama asrama akan ditutup jam 11 malam. Lewat dari itu adalah jam malam dan kalian dilarang untuk berkeliaran.

Ketiga, besok pagi jam tujuh tepat akan di adakan seleksi wajib untuk semua murid baru. Seleksi ini berguna untuk mengetahui dimana kalian akan ditempatkan di dalam kelas wajib.”

Diskusi-diskusi kecil segera tercipta saat pengumuman terdengar. Beberapa murid saling mengucap kata satu sama lain dan mulai merasa panik saat pengumuman tentang seleksi berhasil merenggut perhatian mereka. Bahkan, bahkan ada yang langsung terlihat stress. Tapi ada beberapa siswa yang malah membicarakan strategi untuk seleksi nanti yang membuat aula semakin gaduh.

“Satu hal lagi. Pastikan kalian beristirahat dengan baik malam ini dan siapkan mental kalian untuk seleksi besok. Yang paling penting adalah… jangan sampai terbunuh. Selamat malam!

tbc

FINGERNOTES

by Altair:

Jeng Jeng bumi gonjang ganjing, ternyata kita sudah ada di Claris, bung. Mungkin kalian nanya-nanya ‘Claris itu dimana sih?‘ Hmm, Claris itu ada di dunia pararel, beda ama Hogwarts yang masih di dunia yang sama. Dan kayaknya kalian semua agak kurang gereget di prolog kali ini juga. Tapi di prolog kali ini, Al dan Kak Irish mau ngajak kalian keliling Claris~ *yak, selain jadi menejernya Kak Irish, ane juga jadi jasa Tour Guide di Claris* Dan itu aja sih. Al gabisa ngomong banyak, dan pasti Kak Irish bakal ngomong panjang, so udah dulu, bye bye^^

by Irish:

Jangan mau tertipu sama gaya sok giyowo-nya Al, sesungguhnya dia itu mas-mas radio yang menyamar jadi murid SMA. Dan jangan mau tertipu sama keinginan dia jadi Tour Guide, sekali kalian ngikut dia, bakal nyesel nanti udah ikut sama KetOs! Ane peringetin dengan tulus ikhlas dunia akhirat. Tahukah kalian gimana susahnya menemukan typo ‘ai‘ yang seharusnya ‘ia‘ di 4000 kata? Tengah malem pula nyarinya, udah nyiksa sekali kan? Dan Al bisa nemu itu typo dalam sekali baca. Itu angka 127 yang disandang sama otaknya Al emang enggak salah. Nanti ane gak kaget kalo tetiba Al ada di jajaran member ilegal NCT karena itu angka 127. HIKS. NEMU SESEORANG MACEM AL ITU MACEM MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DALAM KESENGSARAAN, SIMALAKAMA SEKALI. Untung aja Al gabisa gondok meski ane sudah berceloteh macem ini… (p.s: tau gak kamis malem kemarin si Al berhasil ane buat bete dan berujung penyesalan ane sendiri. Sedih sekali. Ane dicuekin semaleman, dia balesin chat macem orang PMS, cuma gegara diriku heboh BOGUM-IRENE). Betewe lagi, abis ini emak ane ulang taun, sedih ya sebagai anak sulung ane bingung harus beliin kado apa T^T

.

.

.

BANTU AKU MENEMUKAN CINTA DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [3]

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

61 thoughts on “WINGS – PROLOGUE II — IRISH’s Story

  1. Emang dasar kai ..
    aku kok rada nggak srek ya si wendy deketin irene..
    Trus itu asramanya 1kamar itu campur cewek cowok gitu?
    Jadi claris itu tempat buat orang yg punya kesalahan gitu?

  2. bun izinkan dd komen penulisan sekali aja /cium tangan/

    kalau bisa (atau mungkin sebaiknya) dalam satu paragraf hanya ada satu orang speaker sehingga percakapannya ga rancu perihal siapa membicarakan apa. tadi ada yang kayak gitu dan sempet bikin bingung. udah, itu aja. thank you :*

    tadi ada nama-nama seperti griffin. mungkin bisa ditambahin gambar plus keterangan nama di akhir cerita supaya pembaca tau bayangannya kayak gimana (narasi aja kadang ga cukup, tingkat loading pembaca beda-beda dalam mencerna genre fantasy).

    njel sangat amat jarang baca ficnya bunda, jadi masih gatau mana bunda yang nulis mana al. hope I can recognize it soon jadi bisa tau gimana cara kalian menulis dan siapa di antara kalian yang paling bandel perihal penulisan (walaupun njel keknya dah tau jawabannya).

    oh iya, kukira kai bakalan lama luluhnya sama irene, taunya baru di prolog udah mulai muncul ketertarikan dari alam bawah sadar. mau kukomen ini juga bingung, abisnya njel gatau bakalan dibawa kayak gimana cerita ini. bisa jadi tipe yang si kai emang ga peduli dan irene mati-matian untuk deketin kai nantinya, atau malah kai gampang terpesona namun irene terlalu polos mendekati bodoh untuk sadar. or you two have another surprise beyond my expectations above? I’m waiting ya🙂

    angel.

    • Iya gapapa. Ane bisa membalas bagian komentar nazi ente juga karena akhir-akhir ini ane jadi pendukung Trump (APAHUBUNGANNYA?) dan setauku, di dalam litelatur engga ada larangan untuk menaruh dua percakapan antara dua orang yang berbeda dalam satu paragraf. Jadi maaf njel, ane pribadi lebih nyaman menaruh dua percakapan itu dalam satu paragraf ketimbang mengenternya :”) enggak tau lagi Al. Dan mungkin masalah bingung enggaknya ini terletak di masalah panjang-pendek dialognya, bakal aku perbaikin ke depannya jika aku enggak khilaf.
      Buat saran tentang gambar, ane sama Al udah pertimbangin dan yes, mungkin kedepannya bisa kami tambahin gambar, insya Allah. Semoga aja ane sebagai pihak yang bertanggung jawab posting enggak lupa buat upload gambarnya. Mohon maklum karena otak bundamu ini masih pake Pentium dan diinstalnya di Vista, kapasitasnya cuma 256 MB aja jadi banyak lupanya. Kadang-kadang, bunda lupa sama nama lengkap bunda sendiri njel. Sedih ya.
      Soal hubungan mereka entahlah, biar waktu yang menjawab njel. Atau perlu aku sewain dispatch biar kayak opparoppar koriya?

      • mereka berdua tak ada yang bener bun syudahlah perangnya juga dah selesai wkwk

        tapi… tapi… /kedip-kedip/ iya sih sabeb aja tapi kalo mau tetep kek gitu narasinya nanti diperjelas aja supaya tyda bingung /peluk/ yang nyaman belum tentu cocok bun, tiati aja HEHEHE /lalu dd baper/

        al udah pamer-pamer gambar myth creatures ke dd loh jadi harus banget ditaro itu gambarnya biar ga mubazir.

        nama lengkapmu markonah sailor moon bun, awas jan lupa lagi ya /peluk lagi/

        waktu tak bisa berbicara bun, jadi hentikanlah kelakuanmu itu untuk terus memaksanya menjawab apa yang tak mampu ia jawab…

  3. ITU KALIMAT TERAKHIR YANG BILANG JANGAN SAMPAI TERBUNUH MAKSUDNYA APAAAAA? MALAH TBC:(
    gue masih bingung sama kebingungannya mba irene yang bingung karna griffin yang juga bingung hingga gue ikut bingung wkwkw ini apaan intinya gue bingung kenapa dia bingung irene bisa dikirim kesana? seleksinya seperti apa? claris itu sebenarnya dunia yg bagaimana? kenapa kai tiap ditanya tujuannya marah? dan masih banyak lagi huhu cepetan apdet rish, al gue penasaran tingkat dewa ini wkwkk anjir panjang bgt komenan gue hmm dah ah byeee

    • 😄 kenapa harus ada kepslok diantara kita beb? kenapa?😄 wkwkwkwkwkwkwkw aduh ente nanya ane mending saat ane otaknya engga lemot beb, ini lagi lemot buanget soalnya😄

  4. Hum…aku mikir nih, apa hubungan Lex yang di teaser wings sama kairene ya alrish?
    Aku belum menemukan link kebakaran di coex mall sama claris…bisa jelasin gk?
    Aduh Irene ni emang tingkahnya bkn geleng-geleng kepala. Macam tokoh utama di drama Korea, bodoh2 ngocol.

  5. Ini bang Al/plaakk/ pasti dibilang abang preman tanah abang lagi XD/ atau kak Irish nih yg bakal balas? Soalnya kalo Al yg balas, eki niat kalem, gak usah kepslock, kalo Kak Irish wajib kepslock/PLakkk/😄
    DAN INI SEMAKIN MISTERIUSSSS…….
    SALAH KAMU APA RENE? HAYOOO? APA SALAHNYA MBAK KOK DIKIRIM KE CLARIS/PLAKK/😄
    ITU KAI, DASAR. BILANG AJA SUKA, BEUHHH//PLAKK/😄
    Udah ah, ini Eki makin gaje. Ditunggu next chapnya Kak Rish & Al.😀

  6. Alamak aku tersungging ama sindirin al. Awal baca first prolog emang kayak hary potter, tapi yang di prolog ini aku bisa bayangin sendiri kayak gimana itu claris. Dan kemudian si grifin mulai mengingatkanku akan harpot, pft. Kenapah ada grifin????????? Kenapah?????
    Omong omong grifin, kayaknya ini sekolah bahaya ya? Itu si grifin_kenal deket ama bapaknya airin_kayak nyesel si airin masuk sini. Btw pengumumannya kurang greget, “ini adalah pengumuman”. Heol, terus kalo peringatan, ini peringatan? Ampun dijeh_-

    Well, itu lambang dewa sama centaur&fenrir apa maksudnya? Kenapa claris harus dijaga ama itu mahluk dua? Dan kalo lebih di perhatiin lagi, banyak banget ukiran naga, maksudnya lambang dewa itu apa? Apakah mungkin claris tidak aman karena ada mahluk jahat yang mempunyai niat menguasai alam semesta? *apaan banget sih ini
    Kai, kemanah dirimu?
    Kira kira si airin ama kai bakal sekamar engga ya? Hm, sepertinya wendy bakal sekamar sama airin. Atau mungkin hipotesis diriku salah semua? *biarkan diri ini mengoceh tak jelas

    Keep writing and fighting kak irish & al!!!

    • Wkwk, Al senyum senyum sendiri. Wkwk perlu dikau ketahui, noonaku sayang, griffin dan hippogriff adalah dua mahluk yang berbeda. Hipppgrif itu yang di pake di harpot 😂😂😂😂 Untuk pengumuman, sepertinya dikau harus masuk ke claris dan omelin yang ngasih pengumuman 😂 Wkwk, mungkin untuk masalah Centaur dan Fenrir dikau harus menjelajah lebih jauh sendirian dalam mengetahui hewan dari semua mitologi-mitologi yang ada 😂 Karena percayalah Al sudah menjelajahi semuanya demi Wings ini 😎

  7. ini baru prolog yaa…astagahhh
    aku baru sadar…pdhl di awal udah baca judulnya, tapi pas baca isinya beuhhh lupa deh klo ini baru prolog…abisnya udah kaya chap ke seratus sekian gitu //kebanyakan!! gk sampe seratus jg kali///

    ini kolaborasi yg tiada tiganya yaa.. keastralan irish dikombinasi ke-perfeksionisan dek Al..
    ciehh dek Al…..berasa tua bngt nih, pfffttt

    irene tuh kaya aku..diem” cerewet…cerewet klo sama orng deket…diem klo sama orang/lingkungan baru… msti orng lain dlu yg mulai omong…hahaha
    entah kenapa disini aku liat kai begitu kereeennnnnnnnnn…sikapnya itulohhh gentle bngt…
    kupikir cukup utk cuap”ku..
    Irish & Altair, fighting..
    chuuu~~

    • ini apaan chapter seratus sekiannya apa banget sini kukecup😄 wkwkwwkwkwkwkwk DUH ITU APAAN KENAPA BAGIAN AKU ASTRALNYA DOANG?😄 WKWKWKWKWKWK
      sebenernya karakter2 model irene ini ada banyak ya di dunia😄 thanks btw ~ sini kukecup (2)😄😄

  8. mmm.. dibilang belum ada yg menarik emg iya diprolog ini belum ada yg menarik sih karena baru pengenalan dan kita nya yg diajak keliling claris dengan penjelasan2 yg ga bisa aku bayangin dan wlaupun claris itu dibilang beda sm hogward aku ga membenarkan karena q cuma bisa bayangin hogward jadi intinyaa ini kaya harry potter gitu kan apalagi pas bagian griffin itu. ada wendy juga jgn2 ntar mereka bertiga jd sahabat lagi kebalikannya yg ini ceweknya yg ada 2

    • Sepertinya diriku perlu bikin konferensi pers kecil di ini ~😄
      Pertama-tama, biarkan aku menjelaskan kalau aku adalah seorang harpot haters dan yang mendeskripsikan claris dalam prolog ini adalah aku, jadi… ada sedikit rasa sakit yang kau tinggalkan dihatiku karena ucapanmu sayang ~~
      Dan kedua, dunia pararel di sini berkonsep makhluk2 mitologi yunani, kalau kamu bilang keberadaan griffin serupa sama makhluk astral di harpot, maka kamu perlu membuka internet untuk memperluas pengetahuan ~ ketahuilah kalau bukan harpot doang yang bisa pake makhluk2 astral ~
      dan keberadaan wendy di sini juga karena aku yang memaksa al buat masukin dia ~ jadi… kamu sudah melukai hatiku tiga kali, duhai kasihku ~~

  9. buat yang ini aku gatau pembatasnya dimana. mungkin aku harus baca prolog sebelumnya biar tau gaya bahasa ka altair gimna. soalnya disini rasanya ka irish semua hehe ‘-‘ . setiap scene kai aku pasti ngebayangin dia yg di high cut mag baru baru ini. ganteng banget soalnya omeeeejiiiihhhh hhaaaaaaaaaaaaaaaaa *sori writernya kobam. katanya mau sekalian tidur. see ya*

  10. Yang paling penting adalah… jangan sampai terbunuh. Selamat malam!”
    Jadi keingat Danganronpa 😂😂
    Seleksinya jadinya menyeramkan ‘-‘ apakah seleksinya saling membunuh atau apa?

  11. Pas baca ; “Satu hal lagi. Pastikan kalian beristirahat dengan baik malam ini dan siapkan mental kalian untuk seleksi besok. Yang paling penting adalah… jangan sampai terbunuh. Selamat malam!” aku lngsung kepikiran nasib irene gimana?? Itu seleksi apa?
    Keren, prolog nya puanjangg. Nggk sabar nge baca chapter aslinya. Ini prolog udah brpa persen, kak irish n kak al?? Tetep semangat nulisnyaaa! Fighting!!💪💪💪

  12. Jangan sampai terbunuh.
    Waah kayak nya seleksi nya berbahaya. Tambah keren dan aku udah mulai ngerti sama jalan cerita nya. Fighting terus nulis nya

  13. Aku bingung mau momen apa 😂 masih terlalu pagi buat nyeloteh sana sini. Tapi yang jelas aku seneng banget akhirnya wings update juga. Yok yg semangat buat kalian berdua 😁😁

  14. uwa uwa uwaaaaaaaaaaaa /teriak pake toa/ prolognya aja udh keren uwaaa uwaaa uwaaaaaaaa gak tau komen apa lagi yg pasti ini keren bangeutssss uwaaa uwaaa uwaaa

    makin penasaran gmana kelanjutannya, dan penasaran apa aja yg ada si claris uwaaaa uwaaaa uwaaaaaa.
    komen aku gak berfaedah skl ya wkwk maapkeun😂😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s