Surrounded! (Chapter 02) – Shaekiran

Surrounded poster.jpg

Surrounded!

A Fanfiction By Shaekiran

Main Cast

Park Chanyeol & Son Wendy

 

Other Cast

Lee Donghae, Kim Jinwoo, Bae Irene, Kim Yeri and others.

Genres

Romance? Action? Family? Frienship? AU? Mystery? Dark?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Cerita ini merupakan sebuah hasil pengembangan ide yang tercipta di neutron otak manusia ambigu (Re:Shaekiran) yang anehnya sedang bekerja waktu itu. Hanya karangan fiksi yang jauh dari kata sempurna dan sarat akan cacat baik dalam penulisan, frasa, diksi dan banyak lagi. Selamat Membaca~

Special Note

Ini adalah sebuah fiksi yang tercipta untuk menyambut hari kelahiran bias tercinta, tersebutlah seorang lelaki kelahiran 1992 bertubuh setinggi pintu rumah lebih sedikit yang sudah memutarbalikkan dunia seorang gadis remaja polos yang kini tak polos lagi. Sebut saja dia Park Chanyeol.

 

Previous Chapter

Prolog | Chapter 1 | [NOW] Chapter 2 |

 

 

 

-Cinta seharusnya tidak melupakan-

 

 

 

 

 

 

KYAAA!

 

Chanyeol mengerjap ketika mendengar teriakan kedua barusan. Keringat mulai mengucur di pelipis lelaki yang semakin memperkeras kepalan tangannya saat menggedor pintu itu.

 

“Buka pintunya , Son Wendy!”, Chanyeol berteriak lagi, namun hasilnya masih sama. Pintu itu masih terkunci -dengan Wendy yang masih setia berteriak ketakutan.

 

“SIAL!”, pekik Chanyeol frustasi dalam hati.

 

Sepersekian detik lelaki bermarga Park itu hanya menggedor pintu dengan frustasi, barulah akhirnya dia mundur beberapa langkah, bersiap mendobrak paksa pintu rumah Wendy. Chanyeol mengambil kuda-kuda, mulai bersiap berlari dan-

 

“Apa yang kau lakukan?”,

 

-dan betapa terkejutnya Chanyeol karena sekarang Wendy sudah berdiri di depannya, lengkap dengan latar pintu rumahnya yang sudah terbuka lebar.

 

“Bu-bukannya tadi kau ber-teriak?”, Tanya lelaki itu tergagap, lengkap dengan mata memmbulat sempurna dan wajah cengo. Wendy kini nampak melipat tangannya di depan dada, kemudian bersender ke kusen pintu.

 

“Siapa bilang aku berteriak?”, tanyanya polos yang otomatis membuat Chanyeol mengedipkan matanya tak percaya. Jelas-jelas dia mendengar teriakan Wendy barusan, bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali. Lalu sekarang gadis itu dengan entengnya bilang bahwa dia sama sekali tidak berteriak?

 

“Jangan bercanda Son Wendy, jelas-jelas tadi aku mende-“

 

“Ah, jangan bilang kau mendengar teriakan ‘Kyaaa’ sebanyak 2 kali?”, potong Wendy sambil bertanya. Chanyeol lantas menganggukkan kepalanya singkat.

 

Aish, tadi aku hanya testing suara. Yah, sebagai asisten penulis script, kadang juga aku bertingkah layaknya artis dengan mencoba dialog dalam naskahku.”, demi segala Dewa Yunani, Chanyeol benar-benar mencelos sekarang setelah mendengar penjelasan tak langsung dari Wendy. Dia benar-benar tidak habis pikir, jadi dia berlari dan hampir mendobrak pintu rumah seperti orang kesetanan hanya karena testing suara?

 

“Oh ya, apa teriakanku cukup bagus Chanyeol-ssi? Apa sudah mirip dengan artis asli?”, Polisi muda itu hanya mengangguk singkat -tanpa berniat menjawab pertanyaan Wendy-, melengos kemudian pamit pergi ke mobilnya begitu saja. Wendy mengendikan bahunya melihat tingkah Chanyeol yang tidak menggubrisnya sama sekali, kemudian memasuki rumahnya dengan tertawa kecil. “Kena kau!”, batin gadis itu sambil tersenyum miring penuh kemenangan.

 

Pertanyaannya, apa kalian yakin gadis itu hanya testing suara?

 

Chanyeol masuk ke dalam mobilnya dengan lesu. Ia membaringkan badannya di kursi mobil, kemudian menaikkan kakiknya ke atas dashboard seperti semula. Chanyeol masih berpikir keras, apakah benar gadis itu hanya testing suara saja? Lama Chanyeol hanya bengong memikirkan tingkah laku Wendy, barulah beberapa sekon selanjutnya lelaki itu sadar-

 

“Sial, dia mengerjaiku!”

 

-kalau Wendy baru saja iseng mengerjainya dan dengan bodohnya Chanyeol jatuh kedalam keisengan gadis itu.

 

 

 

 

 

Sudah sekian jam Chanyeol hanya duduk kebosanan di dalam mobil. Hari bahkan sudah menunjukkan kalau malam sudah menghampiri, namun lelaki itu masih setia dengan posisinya-mengangkat kaki ke atas dashboard mobil- sambil memegangi sebungkus besar kerupuk rasa rumput laut. Chanyeol asyik mengunyah kerupuk di mulutnya, sesekali dia melirik rumah Wendy yang senantiasa sepi. Wajar mengingat gadis itu sudah tinggal sendiri sejak lulus SMA, itu menurut isi laporan yang tengah dipegangi Chanyeol sambil mengemil kerupuk.

 

Lagi-lagi Chanyeol membolak-balik laporan itu, masih mencari keganjilan lain yang mungkin bisa menjadi petunjuk baginya untuk mengungkap kebenaran kasus ini. Ingin rasanya dia pergi langsung ke TKP, membongkar semua benda di sana dan menyelidiki setiap sidik jari yang membekas dan bukannya menjaga saksi seperti ini. Namun apa dayanya, atasan Chanyeol itu malah menunjuknya melakukan tugas paling membosankan sedunia ini. Belum lagi fakta bahwa gadis bermarga Son yang harus dia lindungi itu baru saja dengan iseng mengerjainya. Kurang nikmat apalagi?

 

Tok, Tok.

 

Beberapa sekon Chanyeol terdiam dalam posisi melamun, barulah ketokan di kaca mobilnya membuatnya tersadar. Kini seorang gadis yang mengenakan hoodie abu-abu tengah mengetok kacanya tak sabaran. Sepersekian detik Chanyeol hanya memandangi gadis dengan rambut basah itu, barulah beberapa detik kemudian dia sadar dan segera menurunkan kaca mobilnya.

 

“Ada apa?”, tanyanya pada Wendy yang kini menatapnya seakan ingin memakan laki-laki itu secepatnya.

 

“Cih, kenapa lama sekali?”, jawab Wendy ketus sambil bersender di mobil Chanyeol. Lelaki itu hanya bisa mengelus dada, berusaha sesabar mungkin dengan sikap semena-mena milik gadis si saksi penting ini.

 

“Maaf, aku melamun.”, jawab Chanyeol singkat. Mendengar itu Wendy semakin mengomel. “Dasar tukang melamun.”, celanya kemudian yang hanya ditanggapi suara deheman singkat dari laki-laki yang baru saja dia sindir.

 

“Aku ingin ke minimarket.”, lapor gadis itu kemudian saat mendapati Chanyeol hanya diam sedari tadi, seakan banyak pikiran. Lelaki itu lantas menatap Wendy dengan pandangan bertanya.

 

“Kau tidak mau membuntutiku seperti biasanaya?”, tanya Wendy akhirnya karena mendapat pandangan aneh dari Chanyeol. Mendengar pertanyaan itu Chanyeol seakan mengerjap pelan. Bukankah memang seharusnya dia mengikuti Wendy kemanapun? Heol, jangan bilang Chanyeol lupa akan tugasnya.

 

“Ah, benar juga.”, kata Chanyeol kemudian saat sadar akan maksud gadis yang asyik menyender di badan mobilnya. Detektif polisi itu akhirnya membuka pintu mobil, keluar dari tempatnya mendekam selama beberapa jam itu. “Kajja, minimarket yang biasanya kan?”, Tanya Chanyeol basa-basi dan Wendy mau tidak mau hanya mengangguk ringan.

 

Sepasang manusia berbeda jenis kelamin itu berjalan perlahan di atas trotoar. Memang minimarket tujuan mereka tidak terlalu jauh dari rumah Wendy sehingga gadis itu terbiasa berjalan kaki ke sana dan Chanyeol pun mengikuti langkah gadis itu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans-nya. Wendy nampak berjalan santai sambil sesekali melirik Chanyeol yang berjalan tegap lurus di sampingnya. Demi Tuhan, apa lelaki itu pikir ini adalah pegelaran parade PBB? Kenapa dia berjalan tegap sekali dengan pandangan mata lurus ke depan seakan sedang melakukan maju jalan seperti itu? Kalau saja tangan lelaki itu tidak ada di sakunya, mungkin orang yang lewat akan percaya kalau Chanyeol sedang PBB. Membuat Wendy akward saja.

 

“Sudah sampai.”, dua patah kata singkat yang lolos dari bibir Chanyeol lantas membuat Wendy terhenyak. Sial, ternyata dia melamunkan lelaki di sebelahnya itu sedari tadi sehingga sekarang ia tertangkap basah sedang memandangi Chanyeol.

 

“Ah, ka-kau benar juga.”, kata Wendy gugup kemudian masuk ke minimarket itu dengan cepat, meninggalkan Chanyeol yang menatap punggung gadis itu bingung.

 

 

 

 

Chanyeol mengikuti langkah Wendy yang menyusuri rak demi rak minimarket sambil menenteng sebuah keranjang berwarna biru muda. Di dalam sana sudah ada sekotak tissue kering dan basah, cream pencuci wajah , dan juga… apa Chanyeol harus menyebut ini? Ah, baiklah. 2 buah kotak berisi pembalut, versi night dan day berukuran besar. Ayolah, apakah yang ini juga patut dijelaskan?

 

Sementara Wendy yang masih asyik berkeliling, Chanyeol kini sudah nampak bosan. Lelaki itu nampaknya ingin duduk saja di bangku luar minimarket daripada harus menemani Wendy meneliti isi setiap rak dan mensensus semua diskon yang ada. Toh, apa yang bisa dilakukan gadis itu? Kabur? Sepertinya mustahil mengingat ukuran minimarket yang tidak cukup luas dan tidak punya ventilasi udara sama sekali, hanya bermodalkan beberapa AC yang bertengger di dinding. Merasa aman, Chanyeol lantas melangkahkan kakinya menjauhi Wendy, hendak menuju pintu keluar dan –

 

“Bagaimana dengan ini Chanyeol-ssi? Menurutmu lebih bagus mana?”

 

-memakan beberapa ramen dan soda.

 

Namun sepertinya hal itu mustahil karena kini Wendy memanggilnya sambil mengangkat tinggi-tinggi 2 buah sayur kol yang berukuran cukup besar. Demi Tuhan, apa yang hendak dia tanyakan pada lelaki yang sama sekali tidak tau cara memasak? Kualitas sayur ,eoh? Yang benar saja.

 

“Sepertinya sama saja.”, jawab Chanyeol seadanya sementara kini gadis itu mengerucutkan bibirnya.

 

“Benar juga, untuk apa menanyai pendapat lelaki tentang sayur.”, lirih Wendy kemudian sambil meletakkan kembali kol di sebelah tangan kananya ke rak, sementara yang kiri ia masukkan ke dalam keranjang belanjaannya. What the, kalau gadis itu sudah tau, lalu untuk apa dia harus memanggil Chanyeol dan menanyai lelaki itu segala? Apa dia tidak tau kalau sekarang Chanyeol berniat menempeleng kepala si gadis dengan keranjang belanjaan yang sedang mengangggur di meja kasir?
“Oh iya Chanyeol-ssi, bisa kau bawakan satu keranjang belanjaan lagi? Sepertinya ini sudah penuh dan… agak berat.”, lanjut gadis itu lagi tanpa tau malu. Dia menyodorkan keranjang belanjaan biru muda di tangannya yang memang sudah penuh yang mau tak mau diambil alih oleh Chanyeol dan membawanya ke meja kasir, lalu meminta 1 keranjang belanjaan yang lain. Ya Tuhan, dia pasti akan jadi bahan tertawaan anggota divisnya kalau tau apa yang sedang dilakukan Chanyeol sekarang ini.

 

“Maaf, bisa minta satu keranjang lagi?”, pinta Chanyeol pada gadis kasir yang tengah mencatat sesuatu di notes sambil meletakkan keranjang Wendy yang sudah penuh di atas meja kasir. Dengan sigap kasir yang satunya lagi -yang tidak sedang sibuk- menyodorkan keranjang belanjaan kosong yang lain, kali ini berwarna merah maroon. Chanyeol tersenyum singkat, kemudian mengambil keranjang itu, hendak memberikannya pada Wendy yang masih asyik menjelajahi rak demi rak.

 

“Astaga eoniie, ternyata gadis pencari diskon itu punya suami yang baik sekali.”

 

“Tsk, ani-ya . Sepertinya mereka masih pacaran tapi tinggal bersama.”

 

“Jinja-yo eonnie? Heol, daebak..”

 

Chanyeol memegangi kupingnya yang kini terasa panas karena mendengar gunjingan 2 orang kasir sok tau itu. Dia mendengus, “Suami apanya? Yang ada dia adalah aparat Negara yanag sedang diperbudak oleh saksi. Tunggu, gadis pencari diskon? Lucu juga.”, batinnya yang kini tanpa sadar sudah tersenyum kecil.

 

Mwo? Kenapa kau memegangi kupingmu seperti itu Chanyeol-ssi?”, Tanya Wendy kala Chanyeol menyerahkan keranjang sambil tetap memegangi telinganya –dan tersenyum bodoh menuurut Wendy- tanpa sadar. Lelaki itu lantas menggeleng pelan, sementara Wendy hanya mengendikan bahunya masa bodoh, toh tadi dia hanya basa-basi saja.

 

“Cepatlah, kenapa kau belanja lama sekali?”, komentar Chanyeol akhirnya karena Wendy yang kini kembali asyik melihat-lihat kemasan shampo. Demi segala dewa, Chanyeol rasa gadis itu tengah melihat setiap detail dan komposisi tiap benda sebelum meletakkannya ke dalam keranjang. Seperti masalah shampo sekarang. Setidaknya sudah ada 5 jenis merk shampo yang gadis itu otak-atik sebelum gadis itu beranjak tanpa mengambil satu botol shampo pun. Chanyeol tentu saja melongo, untuk apa melihat jenis shampo kalau dia nyatanya tidak berniat membeli benda itu, eoh? Buang-buang waktu saja.

 

Setelah sejam lebih lelaki bermarga Park itu menemani Wendy berbelanja, akhirnya gadis itu memutuskan menyudahi kegiatannya dan pergi ke arah kasir, berniat membayar semua belanjaannya. Tak butuh waktu lama, dengan gerak cepat 2 orang kasir yang tadi mengunjingkan mereka berdua itu kini sudah mengemas semua belanjaan Wendy ke dalam 2 plastik besar dan 1 plastik sedang serta menyebutkan beberapa won yang harus gadis itu bayar.

 

Chanyeol sedikit melirik bon yang di dapat Wendy. “Heol, seperti nama gadis pencari diskon itu benar sekali.”, batinnya saat melihat banyaknya potongan harga yang gadis itu terima–bahkan hampir setiap barang yang gadis itu beli punya potongan harga alias barang yang sedang diskon.

 

Selesai dengan transaksi, Wendy lantas melirik Chanyeol yang berdiri tenang beberapa meter di sebelahnya.

 

“Chanyeol-ssi, kau tidak berniat membantuku?”, kata gadis itu lirih dengan suara yang super lembut, berbeda dengan biasanya. Chanyeol yang mendengar namanya disebut-sebut lantas menatap gadis itu bingung, sementara ekor mata Wendy kini melirik beberapa kantong belanjaan besar -yang tentunya berat- di atas meja kasir.

 

“Atau kau mau membawa yang ini saja Chanyeol-ssi?”, lanjut Wendy lagi sambil mengangkat kantongan sedang di atas meja kasir. Terpujilah manusia yang membuat plastik putih dengan warna yang hampir transparan sehingga Chanyeol bisa melihat isi sebenarnya dari plastik yang tengah diangkat gadis itu. Kumpulan box yang berisi pembalut jenis night dan day. Tidak hanya 1, tapi ada 4 box. Chanyeol geli sendiri melihatnya, sebenarnya apa mungkin gadis ini ingin berjualan pembalut di sekitar komplek rumahnya atau dia ingin men-stok persediaannya sampai tahun depan?

 

Dengan gerak cepat, Chanyeol langsung menggeleng kuat. Lebih baik baginya mengangkat 2 kantongan besar lainnya yang berisi belanjaan normal meski beratnya sungguh bisa membuat pinggang lelaki itu encok daripada menenteng plastik ringan yang isinya benar-benar tabu baginya itu. Belum lagi 2 orang kasir tukang gossip yang kini memperhatikan tiap gerak-gerik mereka berdua dengan seksama.

 

Kajja, kita pulang Wendy-ssi.”, kata Chanyeol kemudian sambil menenteng kantong belanjaan Wendy sementara si gadis kini mengekor di belakangnya dengan langkah ringan, berbeda dengan Chanyeol yang sedang memangku beban berat di tangannya hingga rasanya lengannya mau patah saja.

 

“Jadi ini alasan kau mengajakku ikut belanja? Cih.”, komentar Chanyeol tatkala mereka berdua sudah keluar dari dalam minimarket, mulai menyusuri trotoar jalanan beraspal menuju rumah Wendy yang sudah sepi pejalan kaki. Wajar, ini sudah jam 9 malam lebih.

 

“Tentu saja, memangnya apalagi? Itu sudah beruntung, padahal sebenarnya tadi aku juga berniat membeli sekarung beras. Masalahnya beras di minimarket tadi tidak punya diskon, jadi aku batal beli.”, jawab Wendy enteng tanpa merasa tersindir sama sekali, malahan kini dia sudah menghitung kira-kira biaya pengeluarannya di minimarket barusan. Chanyeol? Tentu saja dia melengos mendengar jawaban gadis pencari diskon itu. Wendy ternyata benar-benar memperbudaknya sekarang.

 

 

 

 

“Duduklah, akan kubuatkan coffee.”, kata Wendy saat Chanyeol kini memasuki rumahnya dan langsung menuju dapur, meletakkan barang belanjaan yang sedari tadi menyiksa tangannya. Mau tak mau lelaki itu kemudian pergi ke ruang tengah, kemudian duduk di atas sofa sederhana yang ada di depan TV. Setidaknya Wendy masih agak baik dengan membiarkannya masuk dan menawarkan segelas coffee sebagai ucapan terima kasih kan?

 

Chanyeol yang dasarnya tidak bisa diam dan selalu hiperaktif sejak kecil itu akhirnya merasa kebosanan setelah 10 menit hanya duduk diam di atas sofa tanpa melakukan apapun. Lelaki itu lantas beranjak dari duduknya, kemudian mulai menyusuri tiap sudut rumah Wendy. Ia memandangi setiap foto yang terpajang di dinding rumah si gadis. Tak banyak, bahkan itu bisa dihitung dengan jari. Sejauh yang bisa lelaki itu lihat, hanya ada 3 foto yang tergantung di dinding. Foto wisuda Wendy, sebuah lukisan bunga matahari dan foto seorang wanita yang mirip dengan Wendy. “Sepertinya ibunya.”, batin Chanyeol kala melihat foto terakhir, wanita yang duduk di atas kursi dengan warna hitam putih.

 

Tak sampai di situ, Chanyeol kini juga menyusuri tiap isi meja yang ada di rumah gadis itu. Kali ini dia menuju sebuah meja yang berada tak jauh dari TV, meja usang dengan sebuah laci sebagai pelengkap serta kursi kayu sederhana di depannya. Meja itu agak lapang, hanya berisi beberapa kertas yang tercecer yang Chanyeol yakini adalah naskah yang mungkin sedang gadis itu rampungkan serta beberapa alat tulis yang juga tercecer di sekitar kertas. Puas dengan meja yang cukup berantakan itu –berbeda jauh dengan isi rumah Wendy lainnya yang rapi dan bersih dari debu- ,

 

Chanyeol kini melirik laci meja. Penasaran, ia kemudian membuka laci dan betapa kagetnya ia saat mendapati sebuah bingkai foto yang dibalik di dalamnya. Semakin penasaran, lelaki itu kemudian mengambil foto itu dan membaliknya, kemudian nampaklah foto seorang gadis yang tak lain tak bukan adalah Wendy remaja yang sedang merangkul seorang laki-laki yang nampak lebih muda darinya.

 

“Siapa laki-laki ini?”, Tanya Chanyeol dalam hati. Dia memandangi foto itu lekat-lekat. Sepertinya dia tidak asing sama sekali dengan wajah lelaki yang tengah Wendy rangkul itu. Mata sipit dan lekuk wajahnya itu, sepertinya Chanyeol pernah bertemu dengannya, atau mungkin lelaki itu-

 

“Apa yang sedang kau lakukan Chanyeol-ssi?”

 

Chanyeol tentu saja mengerjap kaget saat kini Wendy menatapnya tajam sambil membawa 2 cangkir coffee di atas nampan, bahkan jika saja keseimbangan lelaki itu tidak cukup baik baik, mungkin dia sudah menjatuhkan foto di tangannya itu hingga bertubrukan dengan lantai keramik rumah Wendy yang dingin.

 

“Ah, aku hanya melihat-lihat Wendy-ssi. Kau tau, duduk diam tidak cocok untukku.”, jawab lelaki itu sambil berusaha nampak serileks mungkin. Chanyeol meletakkan foto tadi ke tempatnya, lalu menghampiri Wendy yang tengah menata 2 buah cangkir itu di atas meja depan sofa. Tak menunggu lama, Chanyeol lantas menempelkan bokongnya di atas sofa berwarna krem itu dengan canggung.

 

“Minumlah, kemudian kembali ke tempatmu.”, kata Wendy masih sama ketusnya. Kini gadis itu bahkan sudah memegang naskah yang baru saja dia print, membacanya dengan teliti.

 

“Ah, tenang. Aku akan segera pergi secepatnya Nona Son.”, balas Chanyeol kemudian sambil menekankan kata ‘Nona Son’. Yang dimaksud hanya diam, sementara Chanyeol kini mulai menyesap coffee panas itu perlahan. “Enak.”, komentarnya dalam hati karena setidaknya gadis itu tidak menaruh garam –dan bukannya gula- seperti perkiraan Chanyeol tadinya.

 

Keadaan kembali canggung, tidak ada suara sama sekali selain suara kertas yang dibalik. Chanyeol tentu saja merasa akward. Haruskah dia pergi sekarang padahal kesempatan masuk ke rumah gadis ini sangat sulit ia dapat?

 

“Mm, Wendy-ssi, soal foto tadi, itu-“, Chanyeol menggangtung kalimatanya, kemudian melirik Wendy yang masih asyik membolak-balik kertas naskah ciptaannya.

 

“Siapa orang yang ada di foto denganmu?, Tanya lelaki itu kemudian. Namun sudah beberapa detik berlalu Wendy masih belum bergeming dari aktifitasnya, dia masih saja sibuk dengan kertas HVS itu.

 

“Ah, kau tidak mau memberitahu rupa-“

 

“Dia adikku.”

 

-nya.

 

“Ah, ternyata adikmu.”, respon Chanyeol cepat saat Wendy memotong ucapannya. Gadis itu kini sudah meletakkan naskahnya di atas meja, kemudian memangku tangannya di depan dada.

 

“Kau belum selesai Chanyeol-ssi? Aku ingin tidur.”, lanjut Wendy lagi dengan nada sarkatis sambil melirik pintu rumahnya dan tentu saja Chanyeol bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti maksud gadis yang duduk di depannya itu. Secara halus, gadis itu tengah mengusirnya keluar.

 

“Ah, tentu aku sudah selesai Wendy-ssi. Kalau begitu aku pamit, semoga tidurmu nyenyak.”, permisi Chanyeol akhirnya sambil beranjak dari duduknya -lalu berjalan ke pintu rumah Wendy tanpa melirik gadis itu sedikitpun- sementara Wendy hanya mengguman datar menanggapi pamitan Chanyeol barusan.

 

Baru beberapa langkah Chanyeol berjalan, kini gadis itu sudah berulah lagi. Ntah mendapat ilham dari mana, kini Wendy memulai aksinya kembali.

 

KYAAA!

 

Otomatis, Chanyeol yang sudah memegang gagang pintu dan hendak membuka benda berwarna putiih itu langsung berbalik, berlari mengahampiri Wendy yang kini berteriak keras.

 

“Ada apa?”, Tanya lelaki Park itu khawatir sementara kini Wendy memasang ekspresi datar.

 

“Apa maksudmu Chanyeol-ssi?”, tanyanya dengan nada bingung.

 

Ya! Barusan kau berteriak ‘Kyaaa’, seperti itu. Ku pikir ada sesuatu yang terjadi padamu.”, terang lelaki itu sambil menirukan gaya teriakan Wendy namun dengan gaya lebay dan diluar batas wajar. Mendengar itu Wendy hanya terbatuk pelan.

 

Ekhmm, kupikir kau sudah keluar dari rumahku tadi. Jangan khawatir, aku hanya-“

 

“Testing suara?”, potong Chanyeol kali ini dan gadis Son itu langsung menganggukkan kepalanya cepat. “Cih, dia mengerjaiku lagi.”, putus Chanyeol dalam hati , sadar kalau gadis itu sudah iseng lagi, lagi, dan lagi dengannya.

 

“Ada dialog gadis yang ketakutan akan kecoak dan aku hanya mempraktekkannya. Bagaimana, apa sudah bagus?”, lanjut Wendy tanpa merasa bersalah sama sekali sudah membuat Chanyeol berlari kesetanan karena keisengannya, bahkan kini gadis itu menunjukkan bukti adegan teriakan kecoak itu di naskahnya.

 

“Lagipula, kalaupun ada kecoak kau tidak perlu khawatir Chanyeol-ssi, aku tidak takut kecoak.

 

Bagaikan déjà vu , kini sebuah kalimat yang sama persis terngiang di telinga Chanyeol.

 

“Lagipula, kalaupun ada kecoak kau tidak perlu khawatir sunbae, aku tidak takut kecoak.”

 

“Kau, kau Son Wendy kan?”, kali ini Chanyeol memegang kedua bahu mungil Wendy, menekannya cukup keras hingga kini gadis itu menyerngit kesakitan.

 

Ya! Lepaskan aku. Aku memang Son Wendy, kau tidak baca laporan kasusmu ,eoh? Disitu namanku tertulis dengan jelas!”, ronta gadis itu sambil melepaskan dirinya paksa dari cengkeraman Chanyeol. Lelaki Park itu melonggarkan pegangannya, kemudian menurunkan tangannya dari atas bahu Wendy.

 

“Kau benar-benar tidak mengingatku Wendy-ah?”, batin Chanyeol kemudian dalam diam sambil memandangi mata Wendy yang berkilat marah karena tingkahnya barusan. Gadis itu berdiri di depan pintu, kemudian membuka pintu rumahnya cepat. Chanyeol tau diri, dia langsung melangkah ke arah pintu itu kemudian menyambut angin malam yang kini menerpa kulitnya cepat.

 

“Selamat malam Park Chanyeol-ssi.”, Wendy menutup pintunya keras, sementara Chanyeol kini hanya berdiam diri di depan rumah gadis itu. Memandangi jendela rumah Wendy yang meremang karena gadis itu sudah mematikan lampunya, berniat untuk tidur. Angin malam yang menusuk kulit pun kembali menemani Chanyeol seperti biasanya. Namun ada yang lebih menusuk bagi Chanyeol sekarang. Kenyataan bahwa Wendy tidak mengenalinya jauh lebih mengusik rungunya, menusuk relungnya lebih dalam. Sakit, tapi tak berdarah.

 

 

 

Kantor kepolisian Seoul kini nampak sepi. Lorong-lorong lantai pertama yang biasanya penuh warga Korea yang ingin mengurus surat kependudukan ataupun memproses surat tilang kini nampak kosong. Wajar, ini jam makan siang dan divisi pelayanan masyarakat serta divisi-divisi ringan lainnya bisa pergi ke restoran terdekat untuk mendapat beberapa bulgogi sebagai makan siang. Namun tidak bagi seorang Donghae dan semua anggota sedivisinya, tidak akan pernah ada makan siang yang wajar untuk divisi kriminal kelas kakap itu.

 

Hyung, kau harus tau bagaimana menjengkelkannya gadis itu!”, kata Chanyeol menggebu-gebu pada Donghae yang tengah duduk santai di atas sofa ruangannya. Kesempatan pergi ke markas kepolisian kembali tentu tidak boleh disia-siakan oleh seorang Chanyeol berhubung Wendy sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut di ruangan lain. Selain mengambil dokumen kasus yang lebih lengkap, sesi curhat ala ia dan Donghae yang sudah seperti hyung kandungnya sendiri itu sudah seperti ritual wajib bagi Chanyeol.

 

Wae? Tidak biasanya kau merengek seperti ini Yeol-ah.”, respon Donghae kemudian. Yang dimaksud-yang tengah dalam posisi tidur di atas lantai-langsung berdiri, kemudian duduk di atas meja Donghae.

 

Hyung, dia mengerjaiku. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali hyung!”, rengeknya lagi kali ini sambil mengipas-ngipas lehernya dengan lembar kasus yang tergeletak di meja atasannya itu. “Kenapa disini panas sekali?”, komentarnya lagi di sela-sela sesi rengekannya itu.

 

Cih, pamanmu akan marah kalau kau seperti ini Yeol-ah. Semangatlah, dia itu saksi penting.”, nasihat Donghae lagi yang hanya ditanggapi kerucutan bibir Chanyeol. Memang, pamannya -adik ayahnya yang menjabat sebagai kepala Kepolisian Republik korea itu- tentu akan marah kalau tau keponakannya merengek-rengek akan kasus yang dia tangani, tidak seperti Chanyeol biasanya yang melahap semua kasus tanpa mengeluh sedikitpun.

 

“Oh iya, kau sudah mengambil file yang ku kirim ke pos di Busan kan?”, Tanya lelaki bermarga Lee itu kemudian. Chanyeol tentu saja menganguk, dia langsung pergi ke sana sedetik setelah dia menerima telfon dari Donghae waktu itu.

 

“Sudah, tapi aku tidak bisa mengambil analisis yang mumpuni. Datanya terlalu rumpang hyung. Aku perlu setidaknya lebih banyak data dari kasus itu.”, jawab Chanyeol. Mendengar itu Donghae langsung tersenyum sumringah.

 

“Sekarang data lebih lengkapnya ada di tangamu Chanyeol. Berita yang cukup menghibur kan?”, dan tentu saja lelaki itu langsung membuka laporan yang sedari tadi dia gunakan sebagai kipas itu. Benar saja, kini data rumpang yang Chanyeol maksud mungkin akan semakin terbentuk, membawanya menghasilkan analisis yang semakin sempurna.

 

“Aku harap kau bisa mendapat kebenarannya secepat mungkin Yeol-ah. Kau tau, publik masih heboh dan selalu mempertanyakan kasus ini.”, pinta Donghae kini dengan nada agak serius. Chanyeol menganguk singkat. “Tentu, aku pasti akan mendapat kebenarannya hyung. Tunggu saja.”, jawabnya mantap sambil memandangi kertas laporan itu lekat-lekat.

 

Tok ..tok…

 

Tak berselang lama, pintu ruangan itu terbuka, menampakan seorang gadis dengan kemeja merah dan celana jeans panjang yang kini membungkuk 90 derajat. “Anyeonghaseyo.”, sapanya hormat. Melihat siapa yang datang, Chanyeol langsung turun dari atas meja.

 

Hyung, seperti aku harus pergi sekarang. Terimakasih laporan kasusnya.”, pamit Chanyeol kemudian sambil menghampiri Wendy yang kini berdiri canggung di ambang pintu. Gadis itu membungkuk sekali lagi sebelum akhirnya Chanyeol menutup pintu ruangan atasannya itu sambil mengedipkan sebelah matanya yang ditanggapi dengan tawa kecil dari Donghae. Chanyeol memang benar-benar bisa menjadi kekanakan di depan atasan yang sudah dia anggap keluarganya sendiri itu.

 

“Jadi, kemana kita sekarang?”, Tanya Chanyeol kemudian saat mereka sudah memasuki lift dan menekan lantai pertama.

 

“Gangnam, tempat syutingnya di sana hari ini.”, jawab gadis itu sambil mencek jadwal di smartphone-nya, lalu mengembalikan benda persegi panjang berwarna putih itu ke dalam tas kecil yang menggantung di bahunya.

 

Ting!

 

Lift yang mereka naiki akhirnya sampai ke lantai dasar. Kini lantai pertama itu sudah penuh dengan manusia berseragam maupun warga biasa yang mondar-mandir, sepertinya jam makan siang sudah selesai dan mereka harus melanjutkan tugasnya seperti biasa. Wendy maupun Chanyeol berjalan cepat menuju pintu keluar transparan yang kini tinggal beberapa meter dari lift. Sesampainya di depan pintu, Chanyeol membukanya lalu mempersilahkan Wendy lewat terlebih dulu.

 

“Terima ka-“

 

Brughhh!

 

Belum selesai Wendy mengucapkan kalimatnya, Chanyeol sudah mendorong tubuh gadis itu hingga mereka berdua kini menyentuh tanah dengan posisi Chanyeol yang ada di atas Wendy dan tangan tangan lelaki itu di bawah kepala si gadis, melindunginya dari tubrukan keras dengan tanah.

 

Pranggg!

 

Hanya berselisih sepersekianmili sekon, kini sebuah suara kaca pecah mendominasi rungu Wendy yang masih membelalakkan matanya kaget. Hampir saja sebuah akurium menimpa kepalanya kalau saja Chanyeol tidak mendorongnya dengan cepat.

 

Gwenchana?”, Tanya Chanyeol khawatir sambil menyingkir dari posisi di atas Wendy, kemudian membantu gadis itu duduk.

 

Ne, gwengwenchana.”, jawabnya terbata-bata. Raut ketakutan masih tercetak jelas di paras cantik gadis itu sementara Chanyeol kini sudah mengambil posisi berdiri, bersiap mengejar siluet seseorang berhelm dan pakaian serba hitam yang diyakini Chanyeol sebagai dalang orang yang melempar akuarium dari atap barusan.

 

“Kau tunggu disini, aku akan-“

 

Andwae. Ku mohon, jangan kejar dia. Jebal!”, pinta Wendy yang kini sudah menarik pergelangan tangan Chanyeol, mencekram lengan itu erat.

 

“Son Wendy! Apa maksudmu dengan tidak mengejarnya eoh? Dia hampir saja membunuhmu!” , pekik Chanyeol kemudian dengan nada marah. Dia lantas berjongkok, mencekram bahu gadis itu cukup keras.

 

“Jangan mengejarnya! Kau bisa saja terbunuh olehnya Park Chanyeol!”, pekik Wendy kali ini tidak kalah keras dari Chanyeol. Mata gadis itu berkilat marah sekaligus berkaca-kaca, membuat Chanyeol kini terdiam.

 

Jebal, jangan mengejarnya..”, lirih Wendy kali ini, matanya semakin berkaca-kaca, siap menumpahkan bulir bening dari sudut matanya kapanpun juga.

 

Wae? Kenapa aku tidak bisa mengejarnya eoh?!”, Chanyeol seakan tak terima, dia kembali bertanya pada Wendy, terkesan memaksa karena kini lelaki itu kembali mencengkram bahu gadis itu kuat sehingga Wendy kesakitan.

 

“Itu..itu..”

 

Wae? Ah, apa kau mengenalnya eoh? Kau mengenal orang yang ingin membunuhmu barusan kan?!”, kata Chanyeol lagi berhipotesa. Wendy hanya terdiam, sementara kini beberapa orang mulai mengerumuni mereka.

 

“Jawab aku Son Wendy!”,pekik Chanyeol lagi seakan sebuah kata yang meluncur dari mulut gadis itu bisa merubah segalanya, seakan-akan jawaban gadis itu bisa membuat kata case closed muncul di atas laporan kasus yang membuatnya pusing setengah mati itu.

 

 

 

-To Be Continued-

 

 

 

Curcol gak penting :v

 

Haloha semuannyyaaa😀

Gimana? Apa makin greget?/plakk/😄

Makin keliatan pemecahan kasusnya? Hehehe,…:D

Eki cuman mau kasih spoiler nih,wkwkwk…

Ada yang mau spoiler buat chap depan yang semakin greget? (*gadak woi Ki -,-)

Spoilernya,

.

Jeng..jeng..jeng…

.

.

.

Flashback.

.

.

Yuhu..

Ada yang tau flashback apa yang eki maksud??😄

27 thoughts on “Surrounded! (Chapter 02) – Shaekiran

  1. Ka Eky ngodenya kurang ah. Flashback ??? Flashback yang mana ???? 😲😲😲
    Eh scene Wendy yg pilih2 sampo yg makan waktu cuma liat komposisi sama kelebihan samponya itu gw banget njir. Pokonya mendetail dah. Hahaha *eh malah curhat* pokoknya nih intinya aku selalu dukung ff dari ka Eky cocok banget buat bacaan aku. Keren dah. Ditunggu ya next chap!! Ssi helm ninja itu adiknya wendy deh yakin pokonya *jangan sotak lu vel/ah abaikan* hehe.. keep fighting ka!! Mangas!!

    • Waduh, masih kurang kodekah? Wkwkwk..😂😂
      Ntar dikodein lagi yak, wkwkkw..😂
      Hayoo, flashback yg mana? Hmmm?😂😂
      Alamak jangan” wendy disini itu kamu yak? Kok bisa samaan, wkwkwk..😂😂
      Makasih yak dukungannya, kok bisa sih tulisan astral ekj jadi bacaan kamu, wk wk wk..😂😂
      Helm ninja? Ntaps dah namanya..😂😂
      Siapa hayo? Adek wendy? Masih rahasia yakk..😂
      Ditunggu yaw next chapnya chingu, thanks for reading. Cintakuh padamuh pokoknya..❤

  2. GAK TAU
    spoiler apaan itu cuma flasback doang… hahh.. jngn bilang itu ninja hitam adiknya wendy..trus chanyeol kenal wendy dimana?? kok wendy bisa gk inget, jngn” dia dicuci otaknya…

    • Oalah, spoilernya kurang kah? Wkwkwk/plakk/😂😂
      Ninja hitam? Mantap ae namanya chingu..😂
      Hayo, apakah si ninja hitam ini adiknya Wendy? Tunggu jawabannya di next chap, yehet/plakk/😂
      Waks, ampe.dicuci otak gitu ya chingu,wkwkwk..😂😂
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintakuh padamuh.❤❤

  3. Flashback? Bentar2 itu chanyeol kenal wendy sebelumnya? Dan wendy knp ga inget diaa? Itu siapa yg ngelempar aquarium? Banyak teka teki😂 ku tunggu kelanjutannya thorrrr😘😘😘

    • Hmmm, hayoo,banyak beut pertanyaannya chingu..😂😂
      Teka-tekinya eki jawab di next chap aja yaww..😂😂/plakk/
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintakuh padamuh chingu.❤❤

    • Hayoo?? Kira-kira siapa yg berniat nyelakain wendy? Wkwkw, masih rahasia yaw/plakk/😄
      Semoga yaw makin greget kedepannya/plakk/😀
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. cintakuh padamuh❤

  4. Hahaha bang CY dikerjain 2kli lgi. Wah degdegan ntu yg lemparin akuarium ke wendy spa coba. FLASHBACK waduh ada apa gerangan????? Next part ditunggu FIGHTIIIIIINNNNGGGGGGGG THOR
    Ps:chingu line brapa soalnya aku bingung mau panggil author dgn sebutan apa??? ……

    • Ahhh, wendy jail yak, ceyenya dikerjaiin mulu, kekekek..XD
      Siapa hayoo yg ngelempar wendy?? Masih rahasia yaw /plakk/😄
      FLASHBACK apaan yah? Hehhe,, masih rajasia juga chingu/PLAKK/😄
      Ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading. Cintakuh padamuh❤

      Aku line 00 chingu,😀
      Chingu line berapa nih? Biasanya di panggil apa biar akrab?? kalo author panggil aja Eki, hehehe…XD
      Salam kenal yaw😄😄

    • Jahil ya, emesh deh/plakk/😄
      Itu kalimat terakhir maksudnya apa chingu? Typokah? Atau emang otak eki yg gak ngeh pas baca? /plakk.😄
      Siapa yg ngelempar kah maksudnya??
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintakuh padamuh❤

  5. Ternyata jiwa humornya wendy ada, biar gak chanyeol mulu yang ngejain orang. Sekali2 biar tu tiang listrik ngerasain gimna rasanya di kerjain 😂😂

    Tenyata di mbak2 penggosip gak ada di sinetron doang wkwkwk

    Itu wendy amnesia ya? Mungkin kemarin wendy kejedot tiang listrik makanya dia lupa jaman cimonnya ama si tiang Hahaha 😂😂

    Semangay terus ya kaka 😘😘
    Di tunggu next chapnya 😍😍

    • Kekekek, sekali-kali dia rasain gimana rasanya diisengin orang yekan chingu,…XD/plakk/
      Humor Wendy , mcmcm…:D
      Gak cuma sinetron kok chingu, di real banyak beuttt malah /plakk/😄
      Tsk, kejedot tiang listrik? kekekek, luupa cimonnya sama ceye kali ya/plakk/ heheh….masih rahasia itu mah knapa wendy lupa/plakkk😄
      Ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading. Cintakuh padamuh❤

  6. Aduh kesian itu bang CY dikerjain, poor buat bang CY.

    Flashback?? Duh tntg apa yaa?? Ttg masa lalu wenyeol kali yak./sok tau/ 😂

    Btw kak, tumben yaa kali ini update nya cepet. Lagi encer ya otaknya kayak bubur/plaak, dibuang ke sungai han sama ka Eky/ 😂 Pokoknya semangat deh kak nulisnya, klo bisa jgn gantungin lagi ya kek jemuran *uppss salah maksudnya kek ff abal²nya kak Eky, *eh salah lagi maksudnya kek ff bagus ff Rooftop Romance milik kak Eky yg cantik/ciiee tumben muji *plaakk/ yg udah digantungin berbulan² yg mngkin tinggal nunggu kembarannya bang MOON/duh abis diangkat trus dibanting lgi yaak, maafkan aku yg labil ini kak/

    Udahlah, bnyak bacon aja akunya dari tadi. Intinya ku tunggu kau kembali padaku 😂 *duh salah maksudnya kutunggu next chap nya.

    • Mcmcm, wendy iseng yah, jadi gemes /plakk/😂
      Hayoo,tentang apa coba?? Wenyeol kah? Wkwkwk.. 😂
      Bisa jadi,wkwk..tumben yah punya cepeg, biasanya ampe berminggu bahkan berbulan.😂
      Kamu gak aku buang kok, paling aku suruh baca sampai nih epep end /plakk/😂
      Ini kok jadi bahas EPEP sebelah jadinya?😂😂
      Rooftop romance juga up kok chingu, Wkwk.aku gak ngejemur kalian lagi, paling ntaran baru dijemur lagi..😂😂😂/plakk/😂
      Jangan nunggu eki, eki ini udah milik chanyeol seorang/plakk/😂
      Tenang aja, pasti di upnya diusahain cepet,wkwkkwk..😂
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintakuh padamuh.❤❤

  7. ITU TBCNYA TOLONG DISINGKIRKAN DEH LAGI GREGET MALAH TBC, INGIN BERKATA HALUS.
    Chanyeol dikerjain sama Wendy? Sesuatu banget aparat negara dikerjain, coba gue yang ngerjain aparat negara, nama gue udh ada di batu nisan kali 😂😂
    Itu plz mbak mbak penggosip plis deh stop bergosip karena gosip itu dosa, klo ngegosip mulu trs dosanya makin numpuk trs tiba tiba qoid? Mari kita renungkan *ditabok*
    Ini kok sesuatu banget jadi Wendy itu dedek emeshnya Chanyeol waktu jaman cinta monyet.g trs si Wendy lupa? Mungkin palanya abis kejedot angin jadi lupa.
    Adeknya Wendy pasti ada apa”nya/? /Gaya detektif/
    Itu yg ngejatuhin aquarium jangan” adeknya Wendy? Trs yg bunuh bapaknya adeknya? Ew :v
    ITU SPOILERNYA ‘FLASHBACK’ ? MAKSUDNYA APA? FLASHBACK AMA MANTAN? *mantan aja gk punya, miris emg :’*
    OH FLASHBACK PAS JAMAN CINTA MONYETNYA CHANYEOL AMA WENDY YA, YEKAN :V
    KUTUNGGU NEXTNYA EKI. L.U.V. .Y.O.U ea 😘

    • Sumpah , eki selalu termehek-mehek kalo baca komenan kak kyuntong, rasanya pengen ngakak terus nyium chanyeol aja /plakk/😂
      EKI KUDU OTTOKEH KAK? SEBENERNYA EKI JUGA BENCI 3 HURUF TBC ITU CHINGU, TAPI APA MAU DIKATA, HIKS😢😢/plakk/😂😂
      Sesuatu yah (*niru mbak syahrini.. 😂)
      Batu nisan? Hoho, kalo wendy mah mungkin bukan Batu nisan setelah ngerjain aparat Negara, Batu permata sekalian kak/plakk/ini apaan coba? 😂
      Chanyeol kesian, kayaknya Wibawa dia gak berlaku ke seorang Wendy..😂
      Hayoo mbak gossip, awas didoain koid noh/plakk/ 😂
      Dedek emeshh, oalah kata”nya kak..😂
      Kejedot angin? Kekekek, anti mainstream sekali wendynyaa..😂
      Hmm jadi apa naluri detektif kak kyuntong kini mulai ngebuat analisis epep astral ini kak?😂😂
      Adeknya wendy ada apa”nya, hoho…kita tunggu aja di next chap jawabannya kak,wkwkaka..😆😆😂
      MANTAN DIMANA? EMANG PUNYA? LANGSUNG JLEBB PAS BILANG MANTAN, HUAAA…EKI GAK PUNYA MANTAN.. 😂😂
      HAYOO, FLASHBACK APAAN HAYOO? YG PASTI BUKAN FLASHBACK KISAH EKI DAN CHANYEOL KOK CHINGU TENANG AJA/PLAKK/OPEN YOUR EYES EKI!!😂😂
      ditunggu yaw next chapnya kakak bininya bang kyungsoo, wkwk..thanks for reading.😆
      Lopyu tu kak, Cintakuh padamuh.❤❤

  8. Ehh ternyata bukan kecoa. Iseng juga ya si wendi ngerjain chanyeol. Siapa y orang yg mau nyelakain wendi tadi???
    Apa wendi bener2 g ingat ama chanyeol atau cm pura2 g inget??

    • Iseng yah, untung bias/plakk/😂
      Siapa hayoo? Monggo ditebak,wkwkw..😂
      Xixixi, wendy gak inget atau pura”? Heheh, untuk ini eki blm bisa jawab chingu, masih rahasiaaa..😂😂/plakk/
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintakuh padamuh.❤❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s