SPRINGFLAKES – Slice #6 — IRISH’s Story

irish-springflakes-2

   SPRINGFLAKES  

  EXO`s Baekhyun & OC`s Chunhee 

   with EXO & iKON Members  

  adventure, slight!action, fantasy, romance, slice of life story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved

— release hurt with a truth —

Reading list:

〉〉   Slice #1Slice #2Slice #3Slice #4Slice #5 〈〈

 Slice #6

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Baekhyun’s Eyes…

Salah. Ini benar-benar salah.

Aku tak seharusnya memberitahu gadis ini tentang namaku. Dan menyetujui keinginannya untuk membawaku keluar dari istana.

Tapi ia… tak bisa ditolak.

Tanpa sadar ia membuatku begitu sulit menyembunyikan apa yang ingin aku ekspresikan. Mengapa? Karena aku mempercayainya? Karena ia mungkin bisa kupercaya? Entah. Aku bahkan tidak bisa menolak keputusan yang diambilnya.

Ya. Disinilah aku sekarang, berdiri kaku diantara manusia. Tanpa jubahku, tanpa mereka tahu bahwa aku seorang vampire. Chunhee membawaku keluar dari ruang bawah tanah yang jadi persembunyian kami tadi. Dan seperti yang kukatakan, aku tak bisa menolaknya.

Firasatku berulang kali memperingati, kalau Chunhee mungkin akan membawa masalah bagiku. Tapi ego justru memaksaku untuk menuruti sarannya, mengikuti kemana ia pergi. Tidakkah aku terlihat begitu bodoh sekarang?

“Siapa yang bersamamu Chunhee-ah?” seorang pemuda bertanya pada Chunhee, membuat Chunhee menatapku sejenak, dan memandang pemuda itu lagi.

“Menurutmu dia siapa, Hanbin-ah?” Chunhee balik bertanya, sepertinya gadis itu bingung untuk menyebutku seorang vampire, seorang pangeran dari istana ini, seorang yang sudah menandainya, atau mungkin ia akan berbohong pada orang-orang ini bahwa aku adalah seorang ma—

“Apa kau bertemu dengannya di luar istana ini Chunhee-ah? Dia berhasil kabur dari cekalan vampire kejam mana?”

Aku menoleh ke arah sumber suara.

“Bukan begitu Chanwoo-ya.” ucap Chunhee, ia masih sibuk menimang-nimang lempengan besi—heran sekali a repot-repot melakukannya sambil memandang ke arahku—sementara menyahuti pertanyaan pemuda bernama Chanwoo itu.

“Lalu?” dua pemuda bernama Hanbin dan Chanwoo itu menatapku bergiliran, memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah. Seolah mencari bukti bahwa aku orang jahat.

Hey, apa mereka menganggap vampire jahat?

Tatapanku melebar saat salah satu dari mereka melangkah mendekatiku. Sontak, aku sadar jika mereka tengah berusaha memastikan identitasku. Apa aku manusia, atau seorang vampire.

“Bisa kau buka mulutmu? Kami harus pastikan kau benar-benar manusia.”

Oh ayolah, mereka bercanda? Bukankah kilat keperakan di mataku sudah cukup jadi bukti bahwa aku bukan manusia? Mengapa mereka masih menanyakan hal bodoh seperti itu? Tapi tunggu, jika mereka melihat kilat keperakan yang ada di kedua mataku, sudah pasti mereka tidak akan bereaksi setenang ini.

Apa ritual yang kulakukan dengan Chunhee tidak membuat kami berdua ‘berbeda’ secara spesifik tapi menjadi sedikit berbeda saat manusia atau vampire lain melihat kami? Seperti yang terjadi saat ini?

“Kau mau mati?” entah sejak kapan lempengan besi yang tadi sibuk ditimang Chunhee sudah teronggok di atas meja kayu tua yang ada di dekat kami. Sekarang, Chunhee berdiri di belakang dua orang itu, dengan cukup keras memukul bagian belakang kepala mereka dengan telapak tangannya.

Walaupun tinggi Chunhee hanya sampai di bahu dua pemuda itu, tapi mereka tampak seolah tak ingin membantah Chunhee, atau melawannya. Apa sebenarnya kelebihan gadis ini hingga ia begitu berbeda?

“Aku hanya ingin memastikan saja!” ucap pemuda bernama Chanwoo itu dengan nada kesal. Ia kemudian bergerak mengusap-usap kepalanya sendiri sementara tatapannya ia tujukan pada Chunhee.

“Lagipula, kemana kau semalam? Aku melihatmu mengendap-endap keluar dari rumah.” pemuda bernama Hanbin itu lagi-lagi berucap. Ia tidak tampak kesakitan karena tindakan Chunhee tadi, tapi masih mempertanyakan kemana Chunhee pergi.

Kupikir mereka berdua punya hubungan pertemanan yang cukup dekat.

Kutahan diriku untuk tidak tersenyum geli saat kulihat bagaimana Chunhee lagi-lagi menyarangkan tepukannya di kepala pemuda bernama Hanbin itu. Memangnya siapa yang tidak merasa geli karena apa yang mereka lakukan?

“Pergi.” ucap Chunhee tanpa menjawab pertanyaan Hanbin. Dengan dagunya ia menunjuk ke arah satu-satunya pintu keluar yang ada di ruangan sempit ini.

Kupikir, dua orang itu akan menuruti Chunhee begitu saja, tapi ternyata tidak. Keduanya kini berdiri dengan ekspresi tegas, mengawasi gerak-gerik Chunhee yang lagi-lagi sibuk memilah-milah lempengan logam di sana.

“Tidak bisa. Kami tidak bisa pergi. Kau tahu kan kami bertugas untuk mengawasi siapapun orang baru yang masuk ke daerah kita?” ucapan Chanwoo berhasil membuat Chunhee menghembuskan nafas panjang.

Ia melirik sedikit ke arah dua pemuda itu, dan berdecak kesal.

“Aku sedang tidak ingin bercanda dengan kalian hari ini.” ucap Chunhee tidak lantas menggentarkan dua pemuda itu dari keinginannya. Melihat gelagatnya, mereka jelas menuntut penjelasan dari Chunhee.

Sebenarnya, mereka bisa saja meminta penjelasanku, tapi mengapa mereka tidak melakukannya? Aku bahkan berdiri diam di belakang mereka sedari tadi. Bukankah penjelasanku akan lebih mereka percaya daripada Chunhee? Mengingat bagaimana mereka kelihatannya menaruh curiga pada kami karena sama-sama berdiam.

“Apa yang ingin kalian ketahui?” aku akhirnya bersuara.

Aktivitas Chunhee sontak terhenti. Ia bahkan langsung berbalik dan menatapku tidak mengerti. Ekspresi yang ditunjukkannya sekarang jelas membuatku tahu jika ia curiga karena aku tiba-tiba saja bicara.

“Ah, kupikir kau tidak bisa bicara.”

Sialan. Sudah jelas sedari tadi mereka berdua sama-sama memancingku untuk bicara, masih saja berpura-pura lugu. Dasar manusia.

“Apa kau manusia?” tanpa menunggu sahutanku atas ucapan Chanwoo, Hanbin sudah lebih dulu bertanya. Pertanyaan paling dasar yang memang akan mereka tanyakan sudah pasti adalah hal ini.

Tapi mengapa mereka menanyakannya kalau bisa mengambil kesimpulan sendiri?

“Seperti apa aku sekarang terlihat?” tanyaku.

“Manusia.” Chanwoo menyahut.

“Kalau begitu kau sudah tahu.” kataku. Chunhee masih menyarangkan pandangan tidak mengerti padaku, hal yang kemudian kubalas dengan sebuah anggukan samar. Ia tidak perlu mengkhawatirkanku. Lagipula, pertanyaan seburuk apa yang mungkin akan mereka utarakan?

“Bagaimana aku bisa percaya kalau kau adalah seorang manusia? Benar-benar manusia, seperti kami? Ada banyak manusia di luar sana yang berusaha menjebak dan melenyapkan kami.” ucap Hanbin, dia kelihatan paling tidak menyukai keberadaanku di tempat ini, agaknya.

“Jika aku bukan manusia, lalu apa? Vampire?” tanyaku membuat tatapan Chunhee membulat. Aku bisa mengawasi ekspresinya bahkan tanpa harus menatap Chunhee. Dan melihat bagaimana ia sekarang melangkah ke arah kami, aku segera menatapnya—memberinya isyarat secara tidak langsung untuk menghentikan tindakan mencurigakannya—dan ya, Chunhee mengerti.

Langkahnya terhenti, sementara tatapannya penuh akan pertanyaan.

“Tidak. Apa kau bukan seorang manusia yang bekerja sama dengan mereka untuk menjebak kami?” tanya Hanbin, meralat pertanyaannya, mungkin.

Aku tertawa kasar. Mempercayai manusia keji yang berusaha bekerja sama dengan kami dengan iming-iming memberikan komunitas manusia mereka? Mana bisa aku mempercayai manusia-manusia seperti itu saat mereka saja berusaha mengkhianati bangsa mereka sendiri?

“Lalu menurutmu mengapa aku bersama dengan Chunhee sekarang? Tidakkah kau menuduhnya sebagia pengkhianat? Aku datang bersamanya.” mendengar kata pengkhianat yang terlontar dari bibirku, ekspresi Chunhee berubah, ada sebersit luka yang bisa kulihat dalam ekspresinya, sementara ia sendiri mengalihkan pandangan.

Kurasa aku sudah melukainya karena ucapanku. Bagaimanapun, ia adalah seorang manusia, dan aku seorang vampire. Chunhee berada di istana karenaku, secara tidak langsung, ia adalah pengkhianat bangsanya, bukan? Kupikir aku harus bicara pada Chunhee setelah ini.

“Aku tidak bicara begitu.” Hanbin akhirnya menyerah, rasa curiganya perlahan luruh karena penuturanku. Setidaknya, ia mungkin masih menaruh curiga padaku, tapi karena sekarang ia tahu aku datang bersama seorang yang dipercayainya, ia tidak ingin mempertanyakan orang itu.

Sudah bisa ditebak dengan mudah, bagaimana hubungan Hanbin dan Chunhee selama ini. Mereka pasti saling mempercayai, setidaknya sebelum Chunhee terlibat denganku.

Ah, ya. Aku bahkan ingat di itu, saat aku pertama kali mencicipi darah Chunhee, pemuda bernama Hanbin ini ada di sana bersama Chunhee.

“Kau sudah dengar yang kau ingin bukan? Sekarang bisakah kau pergi?” Chunhee akhirnya angkat bicara. Agaknya, ia masih merasa tidak nyaman karena sudah membiarkanku bicara begitu banyak, dan bahkan mengatakan pada Hanbin secara tidak langsung kalau ia adalah seorang pengkhianat bangsanya.

“Apa kau akan membuatkannya sebuah pedang? Ia tidak terlihat pandai menggunakan senjata.” Hanbin berkata, ia menepuk bahu Chanwoo—kurasa semacam isyarat untuk menyudahi aksi curiga mereka—dan melangkah ke arah Chunhee.

Chunhee sendiri enggan menatapku, ia malah menatap Hanbin dan mengangguk.

“Aku akan mengajarinya.” ucap Chunhee—tanpa menatapku.

“Kau butuh bantuan? Apa dia juga akan belajar memanah? Aku bisa mengajarinya juga kalau kau ma—”

TAK!

Auw! Kenapa kau memukulku?” Chanwoo merengut ketika ucapannya terhenti akibat pukulan kecil yang Hanbin sarangkan di kepalanya.

“Jangan bermimpi. Kau tidak lihat bagaimana Chunhee begitu melindunginya? Kupikir, kau menemukannya di tempat istimewa, bukankah begitu?” Hanbin melirikku sekilas, sebelum ia lagi-lagi menatap ke arah Chunhee.

Chunhee sendiri tersenyum kecil, dan meletakkan beberapa peralatan di atas meja.

“Aku akan mengajarkannya tentang panah juga, Chanwoo-ya. Jangan khawatir. Aku tahu kau yang terbaik tapi kupikir dia tidak perlu bimbingan dari orang terbaik.” tanpa sadar senyum kecil muncul di wajahku saat mendengar ucapan Chunhee sekarang.

Ia terdengar seolah berusaha membalas sindiran yang kuberikan. Tentu saja, ia tahu aku tidak bisa apapun tentang senjata, bukan? Dan kalimatnya barusan membuktikan bagaimana aku hanya perlu sekedar bisa menggunakan senjata-senjata yang akan ia buat.

“Aku tidak keberatan menerima bimbingan dari orang lain.” ucapku.

Lagi-lagi, aktivitas Chunhee terhenti. Masih tidak ingin menatapku, ia memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya menghembuskan nafas panjang. Sementara pemuda bernama Chanwoo itu terkekeh pelan.

“Bagus! Akhirnya ada seseorang yang bisa kuajarkan kemampuan istimewaku ini.” ujarnya bersemangat. Bisa kuduga kalau ia mungkin masih cukup muda, karena ia sama sekali tidak bisa membedakan kecanggungan yang sekarang tercipta.

Mengingat aku akan beberapa kali singgah di kediaman manusia—dan suatu hari mungkin akan keluar tanpa Chunhee—kupikir pemuda ini bukanlah seseorang yang buruk untuk dikenal.

“Jangan bermimpi, aku tidak akan mengizinkanmu.” Hanbin berucap, ditariknya bahu Chanwoo untuk melangkah mengikutinya. Dengan melemparkan sebuah tatapan tidak bersahabat padaku, ia akhirnya melangkah keluar.

“Temui aku jika kau memerlukan bantuan! Cari saja Jung Chanwoo, semua orang di sini mengenalku!” kudengar seruan Chanwoo saat ia sudah di luar ruangan.

Ya, aku pasti akan mencarinya. Setidaknya tanpa sepengetahuan Chunhee.

“Mereka teman-temanmu?” tanyaku sepeninggal dua pemuda itu.

“Hmm, teman yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri.” sahut Chunhee, kembali sibuk memilah-milah beberapa buah rantai yang ada di sana. Memangnya membuat pedang membutuhkan hal-hal aneh itu?

Kurasa tidak. Chunhee mungkin hanya berusaha menyibukkan diri karena ia masih merasa enggan untuk bicara lebih dulu padaku.

“Apa ucapanku menyinggungmu?” pertanyaanku akhirnya membuat Chunhee mengalihkan pandangan, menatapku.

“Kau sengaja mengucapkannya, bukan?” tanya Chunhee, ia pasti sudah menduga-duga sejak tadi, apa aku sengaja mengucapkan kata pengkhianat yang membuatnya menjadi seperti ini.

“Tidak. Aku hanya mengucapkannya untuk membela diri.”

“Tapi kau terdengar seolah ingin menyudutkanku, Pangeran.”

“Aku tidak berkata seperti itu.” ucapku, merasa tidak nyaman karena ia lagi-lagi menyebutku dengan nama itu, bukannya namaku.

“Tidak. Aku yakin kau berusaha menyudutkanku.” bantah Chunhee penuh keyakinan. Baiklah, ia membantahku.

“Mengapa kau membantahku?” Chunhee menutup rapat mulutnya saat aku bertanya. Melihat bagaimana reaksinya sekarang, lagi-lagi aku tergelitik untuk membuatnya makin merasa serba salah.

“Kau juga menghindariku sejak tadi. Membantahku, dan meninggikan suaramu saat bicara denganku. Meski kita sudah melakukan ritual seperti tadi, bukan berarti kita setara, bukan?” aku berucap, sementara langkahku memburu Chunhee.

Ia sendiri dengan tidak nyaman beringsut menjauh, lagi-lagi memberikanku celah untuk membuatnya benar-benar tersudut.

“Kau sekarang menjauhiku, tidakkah kau merasa jika kau sedang berusaha memberontak dariku?” sontak langkah Chunhee terhenti, dipandanginya aku sejenak sebelum ia akhirnya menghela nafas panjang.

“Apa kau akan menghukumku? Bagaimana jika aku tidak sadarkan diri, lalu Hanbin dan Chanwoo datang? Mereka akan tahu jika kau—” ucapan Chunhee terhenti saat lenganku bergerak menariknya, cukup cepat hingga ia bahkan tidak sempat memberikan perlawanan apapun dan akhirnya terkurung di antara kedua lenganku yang mengukungnya di dinding.

“Alihkan pandanganmu.” ucapku tanpa mengizinkan Chunhee untuk bicara sepatah kata pun mendahuluiku.

“Tapi apa yang sudah aku lakukan?” Chunhee bertanya dengan nada menuntut.

“Satu lagi pelanggaran kau lakukan.” sahutku.

Pasrah, Chunhee akhirnya menghembuskan nafas panjang. Ia kemudian menutup kedua matanya dan memiringkan kepalanya, membiarkanku melihat aliran darah yang mengalir dari nadinya, menghirup aroma darahnya yang menguar, menunggu taringku untuk menancap dan memuaskan keinginan monster di dalam diriku untuk merasakan darahnya.

Aku terhenti saat kudengar suara langkah samar mendekati ruangan tempat aku dan Chunhee sekarang berada. Chunhee mungkin tidak menyadarinya, tapi aku jelas mendengar apa yang terjadi di luar sana.

Jadi dengan sengaja kedua lenganku bergerak mencekal lengan Chunhee, merapatkan tubuhku ke arahnya sementara aku mendekatkan wajahku ke leher Chunhee, menunggu saat yang tepat untuk—

KRIET!

—mengecup permukaan kulit Chunhee dan menyadarkannya bahwa aku tidak sedang memberinya sebuah hukuman, melainkan sebuah peringatan, sekaligus memancing emosi seseorang untuk makin membenciku.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

IRISH’s Fingernotes:

Ya ampun. Sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku terakhir kali melepas chapter lima Springflakes? Hiks. Setelah melalui begitu banyak kegalauan untuk milih main cast, akhirnya chapter enam bisa publish, dengan main cast yang sudah jelas dan kelanjutan yang juga sudah jelas.

Mana publishnya di akhir bulan, saat readers udah sekarat kuota dan pasti engga notis ini chapter dan mungkin… udah lupa. Sedih. Salah siapa, Rish?

Ya pokoknya anggep aja udah lewat lebaran satu lagi terus udah maaf-maafan lagi karena molor. Ini enggak molor lagi, insya Allah. Kan diriku sudah bilang kalau jadwalnya nanti lebih baik lagi, aku usahain. Karena sepertinya diriku sudah begitu lama nge-PHP dan menganak-tirikan fanfiksi.

Ah~ tinggal One and Only. Semoga aja sebelum akhir tahun, tiga fanfiksi chapterred yang udah lama terbengkalai (True Lies, Springflakes, One and Only) ini bisa rampung. Supaya tahun depan udah bisa menyapa kalian dengan cerita-cerita baru yang sudah mengendap di folder. Insya Allah.

Salam kecup, Irish.

.

.

.

BANTU AKU MENEMUKAN CINTA DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [3]

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

76 thoughts on “SPRINGFLAKES – Slice #6 — IRISH’s Story

  1. Kayaknya yg masuk si hanbeen niih.. kalo chanu kok jayaknya gak mungkin ya?? Keliatan dati kelakuan chanu yg sengklek begitu *eh?🙊

    Au ah.. pokoknya saya nungguin terus ini epep.. gegara ada baek ama ada hanbin 😊😊

  2. HIYAAAAAAAA ITU YG LIAT BAEK NYIUM LEHER SI CHUNHEE HANBEEN KAN YAAH :V /maapkan caps jebol/ 😂😂
    Woooh baek suka sama chunhee yah?
    Eaa ku penasaran chap selanjutnya 😂😂😂

  3. yaampun… ampe lumutan nunggunya.. aku kira ff ni gak bakal lanjut.. seneng banget… everybody put your hands up!!!! now..1..2…3… haha..😀
    Baek suka ma chunhee? cium chunhee? vampire ada perasaanx? itu siapa yg liat mrekAa? ah terlalu banyak pertanyaan. abaikan.. yg pntg lanjutlah🙂

  4. Uwew aku malah fokus ke adegan terakhir😂bayangin posenya malah bikin aku senyum2 gaje sendiri. (Hmm jdi keinget scene kiss baek di drama jdinya duh😂..)
    Eh tapi, btw itu hanbin atau chanwoo yg dateng tiba2? Kaya nya hanbin deh ya eh tpi gatau deng 😁

  5. Wuahhhhhhhh akhirnya pangeran Baekhyun muncul juga,, irish beta sudah lama sekali nungguin springflakes ini hoho asiiik deh sekarang udah mulai lagi

    Tinggal one and only ni baru mau ditanyain tapi udah di jwab di fingernotes-nya ditunggu aja deh irish springflakes dan one and only-nya

    Ganbatte iriseu

  6. Apa kabar chunhee? Panjang umur, baru di kangenin eh langsung brojol ff nya *ini kangennya beneran loh.
    Eh tapi itu ada si chanwoo… wewen!!!!wen!!!!! Nak, ada biasmu wen!!!!! Wewen oh wewen…. biasmu di gebukin ama si chunhee, kasihan nyo…. ke sinih wen!!! Ada biasmu!!!! *Abaikan panggilan abstrak ini
    Ehem, mari kita serius, apah, kita? Lo aja kali!!*abaikan egen
    Itu kok si chunhee ama bang baek bikin iri aja!!!! Berantem tapi sweet… aduh meleleh er lelelelelele………
    Lupa lagi sama jalan ceritanya, tapi bodo amatlah lama lama juga bakal inget lagi.

    Keep writing and fighting kak irish!!

    • Chunhee cem ulang tahun aja ada panjang umurnya segala😄 wkwkwkwkwkwkwk ini wewen siapa yang dipanggil?😄😄😄 wkwkwkwkwkwkwk
      nanti insya Allah aku cepet update biar engga pada lupa lagi😄

      • Kali aja kak si chunhee jadi immortal setelah diketcup ama baekhyun*tidaak aku tertular virus mesum>_<
        Oh itu, adek tak sedarah yang terkadang durhaka pada dirikuh*jangan baca komenan ini wen, plis.
        Dia juga yang ngenalin aku sama ff nya kak irish loh*jangan ngapung wen
        Iya, semoga cepet update, da aku mah hanya readers yang bisa menunggu…

  7. Omonaaaaaaaaaaa
    Knp ending nya slalu bikin org penasarann…
    Kk jangan sering2 php in org yaaa kesiann tar mati penasarann piyeee
    Lhang dilanjut next episod nyaaa
    Keeeerreenn pokok e..

  8. Udah rindu banget ama Chunhee-Baekhyun couple, terhura springflakes update. Makin gemes ngeliat tingkat pangeran Baek sama Chunhee.
    Tinggal OAO, Baek ama Yeri ditunggu y…

  9. Huuuuuffttt penantian yg sangat panjang untuk ni epep… smga yg kau blang benar adanya Rish… gak ada lgi PHP2.an, gak ada lgi molor2.an… yg ada lnjut trussssssssss 😂😂😂

    Huaaaaa ceritanya mkin maknyus😄 paiting deh Rish buat Up klanjutannya.. 😘

  10. aku jg bakal pasrah kalo dicium baekhyun hahahaha….minta nambah malah..
    itu hanbin kan yg masuk lagi…licik banget itu baekhyun…hubungan hanbin dan chunhee itu emang gk biasa, jelassss….
    sebenernya mau kesel sama irish karna update yg lama beut…tapi karna chap ini ceritanya sungguh menarik..yaa gk jadi deh..hehehe

  11. Kalo ceritanya kak irish mah selalu tersimpan dlm memori *apalagiadapangeranmasbaeknya jd syukurlah masih bisa nyambung ingatan cerita inii, mangat lagi kakaaa 😘 selalu kutunggu anak2 kaka yg lainnya 😆

  12. Hwaaa., akhirnya di Up juga setelah sekian lama menunggu..
    Dan terbayar sudah kerinduanku..hihihi
    Uhh., Baekkie oppa😍

    Itu yg datengg siapa kak???
    Wahh., penasaran sama klanjutanya.
    Sempet lupa juga sih tadi sama ceritanya and baca lagi chap 5 di akhir..wkwkwk

    Next kak dtunggu klanjutanya..
    Fighting!!

  13. HAI HAI AKU MAMPIR LAGI RISH~ WKWK
    setelah sekian lama :v masih ingat aku kah?:’)
    yawlaaa akhirnya ini apdet juga setelah sekian lama ku senang:’) siapa tuh yang dateng? hanbinkah?
    ditunggu one and only nya rish ><

    • 😄 hai haaaii ~ beb lama tak jumpa /alibidoang/😄 wkwkwk iya masih inget laah masa aku sepelupa itu wkwkwkwkwkw one and only dari kemarin keknya dinantinanti ~

  14. KYAAAA DIRILISS JUGAAA WKWK
    Tinggal nunggu one and only, ga sabarrrr entah kenapa kalo baca ff ini sama one and only kek ada perasaan aneh gitu (?)
    Ngerti ga? Emm kek entah itu emang feelnya yg dapet banget atau apa tapi dua ff ini membekas banget (?) apa sih makin ga jelas wkwkwk
    Yowisss lah ditunggu aja lanjutan lanjutannya yoooo
    Hwaiting ^^

  15. Aaakh kangen banget ama cerita inii..😉😉😉
    Ditunggu kelanjutanya mba jangan lama lama jangan kecepetan juga kalo bisa next chap pas aku ngga sibuk eeeyaaa~~~

  16. Yeyeye di update.. hmm boleh juga t rish.. biar cepat tamat nya.. jangan lama 2 y rish.. aku tunggu next chapter nya.. semangat irish..

  17. Yaaah berarti udah mau the end dong ……
    Gak papa deh yg penting nanti happy ending yaaa please………………………………

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s