[EXOFFI FREELANCE] She is Male (Chapter 2)

cover-she-is-male-chapter-2

She Is Male – Chapter 2 | Lifen

 

Title :  She Is Male

Cast :  Oh Sehun & Kim Lisa(OC)

Other Cast :  Find by yourself

Author :  Lifen

Length :  Chaptered

Genre :  Romance, Married Life, Crossdresser

Author’s note:

Hallo terimakasih sudah mau baca ff yang kurang bagus ini. Ceritanya ringan dah mudah di tebak ^^ selamat menikmati.

 

Summary :

Hal lain yang membuatnya benar-benar gila adalah menerima kenyataan bahwa ia telah menikahi seorang pemuda berwujud gadis lugu.

 

 

Sehun P.O.V

 

Aku menghempaskan diriku di kursi taman di depan kelas dan mengatur nafasku sejenak. Aku menolehkan kepalaku ke belakang, menatap anak-anak kelasku yang keluar dengan wajah yang berbinar-binar. Aku mendesis pelan. Dengan langkah riangnya mereka melangkah keluar dari kelas dan menghambur ke koridor dan serempak menuju tempat yang sama.

 

Tujuan mereka saat ini sudah dapat ku tebak dengan jelas.

 

Kantin.

 

Bagus. Aku buru-buru datang ke sini nyaris terlambat, dan sekarang? Guru Biologi yang gila itu tidak masuk kelas. Dan artinya, jam bebas untuk hari ini.

 

Aku sangat kesal.

 

Tentu saja Pak tua itu bahkan tidak tahu aku nyaris terlambat, karena Lisa lupa meletakan seragam sekolahku. Dia sangat pelupa. dan dengan bodohnya aku menumpang di mobil Jongin Hyung untuk yang ke 3 kalinya demi sampai ke kesekolah ini tepat waktu! Hasilnya tentu saja seperti apa yang ku bayangkan. Sepanjang perjalanan ku menuju kelas. aku menjadi bahan gosip terpanas. Terlihat murahan? Itu pasti. Mereka mengira aku sebagai simpanan Kim Jongin.

Sepertinya aku harus sedikit menjelaskan ke salah pahaman ini. Aku pria normal yang  menyukai crossdresser semacam hobi yang mendarah daging berubah menjadi kebiasaan. Kenapa harus menjadi seorang gadis? Aku cukup cantik dan trampil. Dan sungguh aku tidak berniat untuk menjadi transgender dan memakai pakaian berkabung di pemakaman orang tuaku, akibat serangan jantung mendadak. Dan hal yang menguntung’kan bagiku adalah aku bebas keluar masuk toilet wanita dimanapun itu. sayangnya aku juga tidak hobi mengoleksi pakaian dalam wanita. Aku tidak semesum itu.

 

Aku kembali memalingkan wajahku melihat ke belakang. Kini, ruangan kelas’ku telah diisi oleh gadis-gadis penggila gosip. Aku memutar mataku jengah. Sebenarnya aku cukup populer di kalangan namja di sekolahku. Bisa di bilang mereka tidak waras, dengan berbagai hal konyol untuk menarik perhatianku.

 

Aku cukup menderita disini.

 

Bahkan setiap hari aku hampir muntah. Aku masih ingat saat kepalaku migren. Ketika beberapa namja melakukan kolaborasi epik cheesy pick up lines klasik yang memuakan. Mereka berfikir itu sangat membuatku terkesan.Sebaliknya aku berfikir. Mereka lebih mirip spesies simpanse yang sedang melakukan pertunjukan sirkus di musim panas.

 

Situasi  mengerikan ini bahkan terjadi setiap hari.

 

 

Lagi-lagi aku menghela nafasku kesal dan meniup poniku hingga berantakan. Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada dan menyandarkan punggungku pada sandaran kursi taman. Dari jauh aku dapat melihat Byun Baekhyun datang dengan terburu-buru sembari menenteng puluhan buku yang tebalnya nyaris menyaingi buku koleksi perpustakaan. Mataku menyipit, dan ku lihat sosok itu melambai padaku.

 

Si sialan, itu tentu saja Byun Baekhyun.

 

Aku bangkit dari posisi dudukku dan langsung menghampirinya. Mengambil alih separuh buku yang dibawanya dan meletakkannya di kursi. Aku tidak habis pikir, kenapa pertumbuhan Baekhyun terlambat atau terhenti. Mungil. Bulir-bulir keringat tampak membanjiri dahinya, dan ia cukup menatapku dengan ucapan ‘terimakasih’nya yang ku anggap biasa saja.

 

Ia memandang ke arah kelas di belakangku.

 

“Kau tidak masuk kelas ?” tanyanya heran. Aku menggeleng dan mendesah kecewa.

 

“Eugh aku malas,” jawabku pura-pura lemah. Baekhyun menaikkan sebelah alisnya bingung.

 

 

“Kenapa? Jam pelajaran kosong” ia kembali bertanya dengan taraf keheranan yang sama. Aku memandang lurus ke arah taman sekolah. “Ya. maksudku kau lihat kumpulan gadis-gadis itu. mereka sangat berisik, aku tidak suka” aku menjawab enggan.

 

Baekhyun memandangku dengan tatapan tidak mengerti dan mengerutkan dahinya hingga terlihat mengerikan, aku mendesah dan menatapnya dengan tatapan tak berselera.

 

“Mereka mengira aku menjual tubuh pada ajusshi-ajusshi kaya raya.” ralatku. Baekhyun hanya mengatakan ‘oh’. Ia melirik jam tangannya dan kemudian menarik tanganku. Aku terlonjak singkat dan menatapnya dengan pandangan bertanya.

 

“Kemana?” tanyaku, Baekhyun hanya menggidikkan kepalanya ke belakang dan menyunnggingkan cengiran khas kudanya yang terlihat konyol. Tangan kirinya mengelus perutnya dan ya, aku tahu apa maksud dari temanku ini.

 

“Kau… lapar?” kataku dengan nada skeptic, lagi aku tidak yakin, tapi mungkin nada bicaraku terdengar paranoid dan was-was. Antisipasi di serang seorang pria.

 

Baekhyun mengangguk cepat, cengirannya makin melebar dan aku hanya bisa menghela nafasku pasrah. Matanya yang besar itu berbinar terang.
Mau tidak mau aku hanya bisa mengangkat bahuku dan kembali menghembuskan nafas bosan untuk yang kesekian kalinya.

 

“Baik, baik, kita ke kantin.”

 

Aku menyeruput soda dingin dengan gerakan lambat. Sementara Baekhyun sibuk melahab Ramyunnya bringas, terlihat kelaparan dan mungkin agak sedikit brutal dalam menyantap mie itu. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku menatap tingkahnya yang terbilang cukup ‘oke’.
Seorang pria jauh terlihat manusiawi jika makan dengan brutal.

 

Seperti yang sudah-sudah, Baekhyun juga adalah teman sekolahku tapi kami berbeda kelas di sini.

 

Kau tahu? Baekhyun memiliki suara emas. Itu keren menurutku. Dan Baekhyun sangat menyukai musik-SANGAT. Dan lagi dia memiliki begitu banyak hobi adalah cerita lain. Ya, Baekhyun menyukai segalanya. Sebut saja; bola basket, tenis, voli, nonton konser, musikal, sepak bola, -apapun, yang mengandung teriakan keras dan keramaian.

 

Baekhyun akan terlihat terlalu sibuk berkubang dalam dunianya. Sementara aku…jujur saja, aku tidak tertarik tentang apapun jenis kegiatan yang di sukai Baekhyun. Kecuali Musik, aku menyukainya.

 

“oke manis. aku kenyaaaaaaaang~” ku lihat Baekhyun bersandar pada kursi kantin sembari mengelus perutnya. Aku menjingitkan sebelah alisku.

Manis ? Menjijikan.

 

Tiba-tiba Baekhyun balik menatapku, dan lagi-lagi seperti yang ku lakukan, ia balik menjingitkan alisnya.

 

“Kau tidak makan?” tanyanya polos. Matanya yang bulat dan besar dengan bingkai airliner itu berbinar, mengingatkanku pada seseorang. Aku menggeleng pelan.

 

“Tidak,”

 

“Eh, kenapa, apa kau diet?” Baekhyun tampak kaget, ia mengerutkan keningnya dan menatapku serius. Aku mengerling dan menatap ke arah lain.

 

“Tidak…Baek, aku hanya tidak nafsu makan saja,” lanjutku. Baekhyun hanya menatapku dengan pandangan acuh dan kemudian menggidikkan bahunya. Ia mengambil salah satu buku yang tertumpuk di sebelah lengannya dan membukanya. Membaca baris demi baris rentetan kata yang tersusun di lembaran buku itu dengan sangat serius.

 

Dan lagi-lagi, mengabaikanku. Jika sudah seperti ini, berharap saja hingga beberapa menit ke depan agar ia mau mengalihkan pandangannya dari buku kesayangannya itu padaku. Aku berfikir dia terlalu teropsesi menjadi seorang. profesor. Lalu membuat laboratorium penelitian di bulan dengan se’ekor simpanse. Sungguh aku serius.

 

Dasar kutu buku.

 

Menit demi menit berlalu, dan Baekhyun masih berkutik dengan buku kesayangannya itu. Sedangkan aku terlalu sibuk memikirkan bahan Essay yang akan ku berikan di jam pelajaran Miss. Lee nanti.

 

Aku memandang arlojiku sekilas.

 

Sepuluh menit lagi, jam pelajaran Miss.Lee dimulai, sepertinya aku harus pergi sekarang. Ku lirik Baekhyun yang tengah membaca, kemudian menarik ujung lengan seragam yang dikenakannya. Ia menoleh.

 

“Aku pergi dulu,” pamitku, aku menenteng map di tanganku dan membenahi ponyku yang sedikit berantakan. Beakhyun mengeriyit.

 

“Tapi kau bilang jam pelajaran kosong?”

 

 

 

Aku mengambil beberapa lembar won dan meletakkannya di atas meja, “Setelah ini aku ada jam pelajaran Miss. Lee,” jelasku. Baekhyun mengangguk.

 

“oke..” Katanya tanpa berniat menginterupsiku lagi.

 

Aku segera bergegas pergi dan meninggalkan area kantin Masih sepuluh menit, setidaknya aku tidak perlu berjalan dengan langkah terburu-buru dan berlari seperti orang yang dikejar kumpulan penguntit. Dan mengingat kejadian tadi pagi saja membuatku menjadi begitu kesal. Cukup berjalan santai dan ku rasa itu cukup. Koridor dua juga jaraknya tidak terlalu jauh dari kantin.

 

Di koridor satu, yang berbatasan langsung dengan kantin ku lihat banyak siswa namja maupun yeoja yang tengah bersantai di taman sekolah. Bahkan salah satu sebagian besar dari mereka adalah teman sekelasku. Jam kosong guru biologi tampaknya menjadi sesuatu yang begitu menyenangkan di manik mereka, Entah mengapa itu pula yang menjadi hal yang memuakkan bagiku.

 

Beberapa diantara mereka menyapaku, dan aku balik membalas sapaan mereka dengan senyuman semanis mungkin dan anggukan singkat. Aku memang termasuk kalangan siswa dalam tanda kutip ‘yoeja’ Baik itu dari kalangan sebayaku ataupun hobaeku.

 

Entah ini termasuk salah satu pencapaian terbesarku atau apa, tapi mungkin, satu-satunya siswa yang telah tercatat berstatus menikah di sini hanya aku.

 

Hebat kan? Dan bersyukurnya, hanya Kris Hyung yang tidak lain adalah sepupu Lisa. Tentu hanya Kris hyung mengetahuinya. Sampai saat ini tidak ada yang mengetahui siapa istriku bahkan gender’ku yang sebenarnya. Tentu ku pastikan, jika mereka mengetahuinya, mereka akan terkena serangan jantung mendadak.

 

Bahwa Oh Sehun seorang laki-laki dengan kebiasaan aneh atau mungkin mereka berfikir, aku memiliki kelainan jiwa. Dan lagi istri seorang Oh Sehun adalah seorang wanita berusia 25 tahun. Itu jelas sebuah skandal kan? Aku tidak dapat memprediksi, apa yang akan terjadi jika seandainya seisi sekolah mengetahui skandal itu. Mungkin selama berbulan-bulan aku akan menjadi trend topic oleh kalangan para yeoja penggosip.

 

Dan kau tahu? Itu bukanlah sesuatu yang baik.

 

Pertama, aku tidak suka dibicarakan, yang kedua aku benci jika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak benar mengenaiku. Dan ketiga:

 

Aku mengutuk semua orang yang berusaha meengorek-privasi-KU!

 

 

Tentunya bukan karena tiga hal itu saja, tapi aku juga memikirkan Lisa. Walaupun dia wanita dewasa tetap saja dia memiliki perasaan yang labil dan meledak-ledak. Tentu aku terancam dikeluarkan atau mungkin akan lebih parah lagi. Dan melebihi dari apapun aku bisa menghancurkan karirnya sebagai pegawai rendahan yang sedang dirintisnya. Terlalu kejam menyebutnya begitu, bagaimana dengan pegawai biasa dan gaji minim itu terdengar cukup bagus.

 

Aku tidak bisa menebak jalan pikiran seorang Kim Lisa. Dia adik perempuan dari seorang Kim Jongin CEO muda. memiliki perusahaan  yang masuk dalam daftar perusahaan terbesar di Asia. Kim Jongin dengan ke kuasa’an layaknya Raja Mesir Kuno lengkap dengan beribu-ribu budak yang tunduk di kakinya. Ya pria  jenius yang angkuh dan berbahaya. Dan lebih mirip seorang Mafia. Ew sekarang aku sedang mengakui Kim Jongin seorang Mafia. mungkin itu salah satu alasan Lisa tidak mau bekerja di perusahaan Jongin.

 

Tentang Kim Lisa Aku sudah mulai mencintainya bahkan sangat. Mencintainya melebihi pasokan oksigen yang ku hirup setiap harinya. Bertambah setiap hari dan aku selalu ingin merasakan detakan jantung ini berpacu saat ia berada di dekatku. Dia hampir mengambil alih ke warasan’ku. Sungguh. Aku tidak bisa menahan diriku jika itu tentang Lisa. Aku menyukainya. Segalanya yang ada pada diri wanita berpenampilan biasa saja bahkan tidak menarik dengan kehidupan payahnya yang menurutku membosankan.

 

18 tahun dan 25tahun. Totalnya jarak yang tercipta antara aku dan dia adalah 7 tahun. Dan selama hampir 5 bulan. aku sudah menjalin pernikahan
ini dengannya. Terlalu dini dan kurasa ini semua terburu-buru. Tapi aku mengerti, ada alasan lain mengapa orang tuaku melakukan ini. Mungkin aku tidak tahu persis alasan apa itu, tapi aku berusaha untuk memahaminya. Tidak di pungkiri salah satunya kebiasaan anehku berpempilan layaknya seorang gadis. Membuat mereka harus minum obat sakit jantung setiap hari.

 

Aku sungguh durhaka.
Tapi aku mencintai penampilanku ini.

 

Ragu. Itu tentu saja. Saat ini bahkan aku masih berusia 18 tahun. mungkin aku tak akan mengerti dengan apa yang dimaksud dengan kehidupan pernikahan itu sendiri. Sifat Lisa mungkin masih labil kekanakan dan keras kepala Namun di saat-saat tertentu ia bahkan bisa lebih dewasa dangan usianya saat ini. Jika selama ini aku selalu berusaha melindunginya sebagai figur seorang adik, maka ia akan melindungiku sebagai suaminya. Memarahiku dengan nada tergolong protektif yang selalu ku sukai, seberapa sering pun itu.

 

Saat awal-awal pernikahan, aku seperti memasuki dunia baru. Sebuah dunia asing yang tidak ku mengerti. Segala yang ku lakukan dipenuhi oleh diri wanita itu, entah itu senyumnya, tawanya, rengekanya, cerewetnya dan pukulan legendaris di kepala yang selalu membuatku mati di setiap saat.

 

Dan Lisa merasakan shock yang berlebihan saat aku memeluknya dan itu juga membuat dentuman keras di jantungku tak kunjung berhenti. Setiap aku menyentuh kulitnya pada tubuhku, aku merasakan ada sebuah aliran listrik mistis yang membuat tubuhku terasa aneh. Aku tak ingin lepas darinya, menawan dirinya dan tetap berada dalam pelukanku. Selalu seperti itu.

Pagi hari, aku melihatnya terbaring di sebelahku. Seperti melihat sesosok malaikat rapuh yang tengah tertidur. Damai. Dan saat malam, aku kembali melihat sosoknya terbaring di sisiku. Dia… Lisa adalah sosok pertama dan sosok terakhir yang ku lihat dalam keseharianku. Percaya atau tidak, aku tidak ingin hari-hari ini berlalu dengan cepat. Aku masih ingin menikmati hari-hari indah dengannya hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan.

 

“Noona, saranghae…”

 

Itu yang selalu ku ucapkan padanya.

 

Mungkin itu hanya akan kedengaran seperti kalimat tak bermakna seorang bocah. Tapi sekali lagi tidak. Itu adalah kalimat tertulus yang pernah ku katakan. Dia mampu memenjarakanku dalam cinta tak terbatas dan menghempaskanku pada sebuah dunia asing yang sama sekali tak ku kenali. Kim Lisa Dialah wanita itu.

 

“aku sangat mencintaimu Kim Lisa”

 

lama-lama aku tersenyum. Membayangkan wajah kikuk Lisa yang merona saat aku menyatakan cinta. Terus berputar dalam ingatanku, dan tanpa ku sadari seorang wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke arahku. Memegang sebuah penggaris besar yang saling mengetuk-ketuk di tiap langkahnya.

 

 

“Miss. Oh dimana Essay’mu !”

 

Sontak aku kaget. Aku tergagap. Sialnya apa yang ku lakukan hingga aku tak menyadari bahwa ini masih di dalam kelas yang sedang berlangsung.

 

Damn it!

 

“N-ne,”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Author P.O.V

 

Kim Lisa sedikit terperanjat ketika dirinya mendapati Park Chanyeol dengan wajah angkuhnya telah berdiri di depan mejanya dengan membawa setumpuk berkas yang baru saja dia selesaikan. Lisa menatap berkas-berkas itu dan Park Chanyeol bergantian.

 

“Ini berkas-berkas untuk laporan minggu ini. Bisakah kau mengoreksi pekerjaanku? Aku harus mengerjakan yang lain.” Ujar Chanyeol cepat, ia melirik arlojinya dan kemudian meletakkan berkas-berkas itu di meja Lisa.

 

Lisa menatap Chanyeol dengan heran.

 

“Mwo- maksudku, ya sir?”

 

“Ya. Apa ada masalah Miss Kim?” Tanya Chanyeol lagi.

 

“Tidak. Tapi maaf sir… Apakah ini hukuman’ku karena insiden kemarin” tanya Lisa hati-hati.

 

Chanyeol menghela napas dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Mungkin..Bisa juga tidak. Tapi ini hasil kekacauan yang kau buat kemarin. Ini belum setengahnya.”

 

Lisa berdiri  dari kursinya lalu mengambil berkas-berkas itu dan membacanya sejenak, kemudian  Lisa menutup berkasnya. Lagi-lagi menatap Chanyeol dengan memelas.

 

“Apa kau memiliki alasan kuat untuk segala kekacauan ini?” Selidik Chanyeol.

 

“Tidak Sir.. maaf atas insiden kemarin dan kelancangan ku saat ini.” Ujar Lisa.

 

Chanyeol berdecak dan memutar bola matanya bosan. “Apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan lagi Miss Kim.” Tanya Chanyeol sekali lagi.

 

Kemudian Lisa sedikit membungkuk pada Chanyeol. “Tidak Sir. Segera akan ku kerjakan”  ujar Lisa pelan, tatapan matanya terlihat sedikit kesal.

 

Lisa memaki dalam hati. Ini mungkin lebih baik. Lisa masih bersyukur, Dia Tidak di pecat atau di tenggelamkan dalam aquarium di kantor saat ini.

 

 

Lisa tersenyum tipis. Chanyeol menatap wanita itu datar lalu ia meninggalkan meja Lisa.

 

“hampir saja” ujar Lisa lemah. Kemudian Lisa mengambil ponselnya dan segera menghubungi  Kim Jongin, dia harus mengabari Kim Jongin, bahwa dia tidak bisa makan malam bersamanya.

 

“Yoboyeso Oppa… apa kau mendengarku?”

 

“Ya.. apa ada masalah?” tanya Jongin di seberang sana.

 

Lisa mendengus, “Tidak Oppa.”

 

“lalu ?” tanya Jongin.

 

“Oppa… aku hanya ingin memberitahu jika kami tidak bisa makan malam bersamamu Oppa.”

 

“……….”

 

Dari seberang telepon, terdengar suara decakan. Lisa menghela napas berat dan menelungkupkan kepalanya di atas meja. Lisa mengangkat kepalanya dan lagi-lagi menghela napas. Paling tidak, Lisa berusaha untuk jujur.

 

“Oppa.. kau masih disana. Aku sungguh menyesal Oppa. Tapi ada beberapa hal yang harus ku selesaikan. Dan Sehun juga sibuk persiapan ujian kelulusanya Oppa”

 

“Baiklah. Aku mengerti…mungkin lain kali….sepertinya kau mengurus suami’mu dengan baik. Kalau begitu sampaikan salamku untuk Sehun.” Lisa menghela napas lega, matanya melirik beberapa berkas yang masih tertinggal di mejanya.

 

“Terimakasih Oppa.. aku menyayangi’mu”

 

“Aku juga menyayangimu Lisa. Dan bagaimana dengan calon keponakanku?”

 

Lisa terkejut, “Mwo! OPPA! tentu saja belum. Berhentilah menagih bayi dariku Oppa!”

 

“Aku mengerti, aku mengerti.” Terdengar kekehan dari Jongin. Mendengar perkataan Jongin. Lisa seperti ada di dalam sebuah adegan film horror.

 

“Baiklah, aku harus menutup telepon. Semoga harimu menyenangkan Oppa.”

 

Lisa menutup telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Di dalam benaknya, meski Lisa sering kali merasa kesal karena sehun  selalu saja membuatnya marah, dia tak pernah bisa berhenti mengkhawatirkan suaminya. Bagaimanapun juga, Sehun tetap suaminya. Lisa memiliki sejuta alasan dan ia tak akan pernah kehabisan akal untuk mengarang alasan jika itu demi mengkhawatirkan Sehun. Wanita itu melirik arlojinya, jam masih menunjukkan pukul 06.00 sore. Lisa tidak memiliki pilihan lain selain menunggu. Ini semua tentu saja karena ulah Sehun, jika saja ia tidak pergi menemui Sehun kemarin. Lisa tidak akan mendapat tuduhan mangkir dari jam kerja pasti ia akan pergi dari kantor dan makan malam dengan suami dan kakaknya saat ini.

 

Baru saja Lisa akan memejamkan matanya, tiba-tiba saja Cha Yoona dari meja resepsionis menghampiri Lisa dan mengguncang tubuhnya. Lisa mendengus dan menepis tangan Cha Yoona dari tubuhnya, “Apa yang kau inginkan Cha Yoona?”

 

Lisa hanya ingin menghabiskan sisa waktunya dengan tidur, setidaknya dia membutuhkannya sebelum memulai pekerjaanya yang membosankan. Tapi Cha Yoona jelas-jelas tidak peduli dengan alasan Lisa apa pun itu. Wanita itu justru dengan berani menarik tangan Lisa hingga ia terduduk di kursinya.

 

Lisa  menghela napas dan berkacak pinggang. Gadis berusia 21 tahun itu mengarahkan ibu jarinya ke arah lobi, “Ada orang yang mencarimu.” Ujarnya.

 

Lisa mengerutkan dahinya bingung, “Siapa?”

 

Cha Yoona mengangkat bahu, “Mana ku tahu, dia tidak memberitahuku namanya. Dia hanya ingin bertemu denganmu.”

 

Lisa menatap Cha Yoona dengan aneh, “Mungkin dia salah orang.” Kemudian ia menelungkupkan kepalanya di atas meja.

 

Cha Yoona berdecak. “Satu-satunya pegawai di tempat ini yang bernama Kim Lisa hanya kau. Mengerti? Sekarang pergilah dan temui orang itu.” Cha Yoona meninggalkan meja Lisa dan kembali ke tempatnya.

 

Lisa menghela napas dan beranjak dari mejanya, ia berjalan melintasi koridor. Tatapan Lisa tertuju pada Cha Yoona yang berada di balik mejanya. Lisa menatap Cha Yoona  dengan sinis. Seolah-olah dapat berbicara melalui pikirannya, Lisa bersumpah akan mematahkan higheels Cha Yoona karena menggangu tidurnya.  dan menggunting rambut keritingnya hingga tak tersisa. Namun Cha Yoona justru mengabaikan Lisa  dan terus mengerjakan laporannya.

 

Tanpa Lisa sadari, seorang gadis berambut hitam panjang yang sedang meniup  pony’nya hingga sedikit berantakan telah berdiri di luar gedung. Lisa melangkah keluar, ia sangat terkejut ketika melihat Sehun muncul di depan matanya masih dengan membawa beberapa buku sekolahnya.

 

Seragam sekolah itu! Rok mini itu! Ini gila.

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lisa kaget.

 

Sehun tersenyum manis,“Menjemputmu” Jawabnya jujur.

 

Seharusnya dia bisa menebak apa maksud kedatangan Sehun ke kantornya sore-sore begini. Namun tetap saja Lisa harus bertanya, setidaknya dia harus memastikan jawaban pemuda bak gadis ini sebelum ia menarik kesimpulan yang salah. Ia tidak ingin terlalu percaya diri jika Sehun memang ingin menjemputnya, namun Lisa  merasa tidak sepantasnya ia mendapatkan perlakuan ini.

 

Ada banyak orang yang memandang mereka dengan tatapan aneh, dan hal itu tidak membuat Lisa nyaman.

 

“Kau tidak perlu menjemputku Sehun,  aku bisa pulang ke apartemen sendirian. Aku masih banyak pekerjaan Sehun-ah.”

 

Sehun tersenyun manis, ia memperhatikan langit yang perlahan-lahan redup seiring hilangnya cahaya matahari. Sehun menarik Lisa makin dekat dengannya, mengabaikan protes wanita itu tentang orang-orang yang menatap mereka.

 

Mungkin Lisa menjadi gosip terpanas di kantor besok pagi.

 

“Tidak. Dan Aku tahu itu.” Sehun menangkupkan tangannya di pipi Lisa, ia menatap wanita itu lekat-lekat dengan tatapannya yang kekanakan.

 

“Aku hanya ingin lebih sering mengkhawatirkanmu. Kau tidak perlu takut dengan tatapan orang-orang itu.”

 

Ya ampun. Mereka akan beranggapan aku benar-benar memiliki  kelainan seksual. Lisa membatin.

 

Lisa menurunkan tangan Sehun dari wajahnya, wanita itu meletakkan jari telunjuknya di dahi Sehun dan mendorong wajah pemuda itu menjauh darinya.

 

“Kau ini!  apa yang kau pikirkan? Tentu saja yang harus ku khawatirkan adalah dirimu. Kau tidak akan pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita saat ini Sehun-ah!.”

 

“Memangnya apa yang mereka pikirkan? Bukankah kita memang terlihat seperti itu noona?”

 

Lisa memukul kepala Sehun. Pemuda itu meringis dan mengusap kepalanya, ia menatap Lisa kesal.

 

“Sehun-ah! kau harus mendengarkanku.”

 

Tubuh Sehun sedikit membungkuk karena ia harus menatap Lisa yang lebih pendek darinya.

 

“Chagiya, kau tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu.” Sehun tersenyum, “Mungkin di matamu, Aku selalu membuatmu cemas, membuatmu berada dalam posisi yang sulit, dan selalu bertindak kekanakan. Tapi aku hanya ingin melakukan sesuatu yang dapat ku lakukan untukmu sebagai suamimu. Karena itu, jangan pernah melarangku.” Kemudian Sehun melepaskan genggaman tangannya dari Lisa.

 

“Noona. Aku akan menunggumu di cafetaria di depan sana. Kirim pesan saat kau sudah selesai.”

 

“Tunggu dulu, Dimana jaketmu.Tutupi rok menjijikan yang kau pakai dengan itu” Lisa melempar pandangan horror pada rok sekolah Sehun 5cm di atas lutut. Yang memperlihatkan kaki jenjang dan indah itu.

 

“Noona kau lupa. Kau yang menyimpanya.” Jawab Sehun tanpa dusta.

 

“Sial! Kau benar. Sepertinya  kau membuatku harus membelikanmu rok baru yang lebih panjang.”

 

Sehun terkekeh lalu meninggalkan Lisa, Dia bahkan tak bisa mengatakan apapun saat orang-orang yang melewatinya menatap Lisa dengan aneh atau menggelikan.

 

Salah seorang petugas sekretariat yang kebetulan lewat menatap Lisa. Ia menyikut lengan rekannya, “kau lihat itu? Kasian sekali gadis itu. Apa orang tuanya tidak tahu kalau anaknya memiliki kelainan seksual? Aigo bayangkan saja gadis secantik dia seorang Lesbian.. dan berpacaran dengan Ajumma-ajumma Mesum?”

 

Gadis itu melirik Lisa sesaat, lalu ia memalingkan wajahnya. “Bora, berhentilah bergosip. Kita harus kembali.” gadis itu  menatap rekannya dengan sinis. Ia menarik tangannya dan masuk ke dalam kantor.

 

Lisa yang melihatnya hanya dapat berdecak dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dua gadis itu sudah menghilang diantara kerumunan pegawai yang keluar masuk kantor. Lisa tetap merasa jengkel karena ia sudah terang-terangan dihina. Tentu saja gadis yand dipanggil Bora itu menyadari bahwa Lisa menatap mereka dengan emosi, karena itu ia memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini. Mereka harus pergi sebelum Lisa melempar mereka sampai akhirat.

 

“Dia pria! Dia suamiku! Apa yang salah?”

 

Tentu salah! Penampilanya sebagai Crossdresser. Di dalam hati ia benar-benar tak terima dengan perlakuan gadis itu. Seandainya saja mereka berada dalam posisi Lisa, barangkali mereka tak akan pernah mengucapkan kata-kata itu. Dan tak seorang pun ingin tercebur dalam permasalahan pernikahan yang benar-benar konyol seperti ini.

 

Benar-benar tidak sopan.

 

Mereka hanya tidak tahu bertapa sulitnya hidup di satu atap yang sama dengan bocah cosplay sinting yang berusia tujuh tahun lebih muda darimu. Lalu seenaknya bergosip dan berkata bahwa kau seorang Lesbian angkut dan pedofilia yang memiliki riwayat kejahatan melebihi seorang terdakwa hukuman mati. Sungguh Lisa berusaha tidak memikirkannya.

 

07.00

Lisa masih disibukan dengan laporan yang menumpuk. Tumpukan kertas di mejanya lebih terlihat seperti gunung mini. Dia tidak sempat mengirim pesan pada Sehun seperti janjinya.

 

‘LINE’

Nada aplikasi LINE milik Lisa itu berdering berulang kali  Membuat Lisa yang sedari tadi menggigiti bibir bawahnya sedikit terkejut. Perlahan-lahan, Lisa menggeser kunci layar ponselnya, lalu membuka chatnya bersama Sehun.

Ada belasan pesan masuk dan satu voice note. Diiringi degupan jantungnya, Lisa mulai memutar rekaman suara itu.

 

“Aku mencintaimu, Oh Lisa Dan sangat sangat mencintaimu!.”

 

Lisa tak kuasa menahan senyumannya. Ia mulai terlihat salah tingkah mendengar suara berkarisma milik Suaminya. Dan belum sempat Lisa membalas, Sehun kembali mengirimnya rekaman suara.

 

“Noona! Kau selalu ada di hatiku.”

 

Oh, rasanya ada ribuan kupu-kupu yang mulai menggelitik perutnya. Lisa terus saja menggigiti bibir bawahnya, menahan pekikannya yang akan meledak karena perasaan bahagia. Ia lalu mulai membalas obrolannya dengan pemuda itu.

 

“Paboya ??”

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

13 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] She is Male (Chapter 2)

  1. Kapan sehun berubah jadi namja manly eonn? T.T
    Tp seru juga sih wkwkwk apalagi lisa dikira lesbi😄
    Bikin pihak ke3 namja dong eonn, dketin lisa biar sehun jealous kkkk~ kocak pasti

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s